comments 12

Pagi di Balkon, Seperti Hari-Hari yang Lain.

Hari ini saya genap empat puluh tahun. Semalam Maesy bertanya bagaimana hari ini hendak dihabiskan — tentu aku tak tahu, kata saya. Anak itu berpikir sejenak, lalu menjawab dengan gaya manusia murah hati: yang pasti kau dibebaskan dari tugas mencuci piring. Kami baru bangun pukul sembilan, terlalu siang untuk lari di luar. Kami berolah raga di rumah saja, mengikuti sekelompok orang sehat di Youtube yang mengajak kita semua untuk ikut sehat seperti mereka — meninju-ninju udara, melompat-lompat, lalu tengkurap dan mamaju-mundurkan kaki.

Maesy membuat sarapan oatmeal dengan stroberi, dan saya memotong-motong pisang, mencemplungkannya ke sana, lalu mengaduknya bersama madu. Kami menggotong kopi dan bacaan ke balkon, menghabiskan pagi di sana, tempat kesukaan kami. Seperti hari-hari lain, kami duduk di bangku kayu dengan hijau-hijau tanaman di sekitar, yang hari ini punya anggota baru, kaktus yang kemarin dikirimi Nisa, dan lagu-lagu terdengar; dari Bill Callahan, juga Celeste, juga Rhye.

Di bawah, jalanan Kuningan sedang sepi. Ini hari kedua lebaran di masa-masa yang tak biasa ini. Orang-orang ada di rumah masing-masing, mungkin dalam pertemuan zoom dengan keluarga besar, saling menunjukkan opor yang baru dimasak, saling meminta maaf, membicarakan hari-hari yang tak tentu. Ini hari-hari yang rumit untuk semua, yang akan dikenang hingga lama. Mereka yang menikah di masa pandemi, mereka yang terpisah jauh dari keluarga, mereka yang kehilangan orang terdekat, mereka yang kehilangan pekerjaan. Hari-hari ketika ketimpangan kelas menampilkan wajah paling telanjangnya, beberapa orang lebih beruntung dari yang lain, beberapa orang semakin terhimpit. Bagaimana seseorang bisa merayakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil, ulang tahun, kelahiran anak, pertemuan, saat semua kebahagiaan itu hanya bisa dirasakan karena ia berada dalam kelompok yang lebih beruntung? Saat kemanusiaan sedang mendapat ujian terberatnya?

Ada ibu-ibu yang mengayuh sepedanya di bawah, sepeda dengan keranjang di depannya, pelan-pelan saja, seakan tak mengejar apa-apa, karena waktu masih panjang, dan hari berjalan perlahan. Kami memandanginya tanpa saling berbicara, dari ujung hingga akhirnya tak terlihat lagi di tikungan. Langit sedang biru, dan sesekali terdengar suara burung.

Saya membaca Just Kids, memoar Patti Smith tentang masa mudanya bersama belahan jiwanya, seniman Robert Mapplethorpe. Hari-hari ketika keduanya menata mimpi-mimpi mereka tentang karya seni yang akan diciptakan, dengan keberanian, dan keluguan, dan optimisme yang hanya dimiliki mereka yang muda.

“Nobody sees as we do, Patti,” he said again. Whenever he said things like that, for a magical space of time, it was as if we were the only two people in the world.

Kami membaca hingga siang saat matahari mulai terik, dan sinarnya merambat dari gelas-gelas kopi, hingga ujung paha, hingga tubuh kami. Tapi kami masih belum hendak beranjak. Tubuh saya masih lengket karena keringat, dan semakin basah dari keringat yang kembali mengucur. Saya membuka kaus, menggantungnya di lengan kursi, dan lanjut membaca. Dengan bercanda kami berkhayal ini adalah musim panas di bulan Juli 1969, di balkon Chelsea Hotel, di hari-hari menjelang Woodstock dimulai. Hal-hal terkadang cuma apa-apa yang ada di kepalamu, bukan?

Tentang buku ini Maesy berkomentar, walau ia suka, ia merasa Patti memiliih untuk menceritakan masa mudanya dengan lensa yang telah disaring sedemikan rupa sehingga semua terlihat seperti yang ia inginkan — dan banyak kepahitan yang tertutupi. Tapi Patti menulisnya di usia tua, kata saya, tentu ia menulis dengan cara sebagaimana ia mengenangnya. Mereka yang mulai tua cenderung meromantisir masa mudanya, beberapa membuat mereka menua dengan bahagia, beberapa membuat mereka menjadi orang uzur yang menyedihkan.

Bagaimana dengan usia tigapuluhanmu? Saya memikirkan pertanyaan ini beberapa hari terakhir, juga saat berkeringat di balkon siang ini. Saya pikir ini periode yang menyenangkan, yang dijalani nyaris tanpa banyak penyesalan. Di periode ini saya menikah dengan Maesy, orang yang saya cintai sejak dulu, membuat keputusan sadar untuk tidak memiliki anak, bersama-sama membuat toko buku dan membuat Jakarta lebih masuk akal untuk kami, dan menetapkan keyakinan untuk menjadikannya rumah. Di paruh pertama kami menulis Kisah Kawan di Ujung Sana, ucapan perpisahan kami pada masa-masa sebelum 2010. Di paruh kedua kami menulis Semasa, karya yang mendekatkan dan membantu kami mengurai hal-hal terkait keluarga kami sendiri. Di periode ini juga saya meninggalkan cita-cita dan pencapaian-pencapaian besar dari diri saya di usia dua puluhan, lalu menjalani hari-hari dengan hal-hal yang saya sukai saja — buku-buku, juga tulis menulis, juga pertemanan-pertemanan dekat. Tentu itu tidak sepenuhnya betul, dengan segala tanggung jawab, dan keterbatasan hidup, dan segala kerumitan yang ada. Namun, saya tahu saya sudah mengupayakannya sebisa mungkin, dan dengan cara itulah saya hendak mengenangnya.

Usia empat puluhan, mungkin ini juga periode saat saya mulai berpikir tentang masa-masa akhir nanti. Saat peran saya di dunia, jika ada, sudah ditetapkan, saat orang-orang yang saya cintai sudah ditemukan. Jadi bagaimana kau ingin menghabiskan masa-masa akhirmu nanti? Maesy bertanya. Ia duduk di sisi saya, dengan kaki naik ke kursi, dan lagak seenaknya, dan teko kopi di depannya sudah kosong, dan Rhye terdengar menyanyikan lagu A Whiter Shade of Gray. Di kening Maesy ada keringat yang menetes turun.

Saya menjawab dengan optimisme kanak-kanak yang saya senang masih miliki.

“Seperti hari ini.”

12 Comments

  1. Rome0

    Saya selalu senang membaca tulisan kalian berdua. Apalagi tulisan maesy yang menurut saya rumit tapi mudah saya pahami maksudnya. Saya mengakui selalu merindukan tulisan kalian berdua hehe.

    Selamat menikmati hari-hari yang agak berbeda dari sebelumnya, dan semoga kalian berdua tetap sehat.

  2. Ranie sary

    wow Happy birthday teddy,

    tidak menyangka ternyata kita seumuran. Menyadari kalau seumuran dengan seseorang yang tulisannya kita gemari rasanya surreal deh hehehhe

  3. Terharu membacanya. Melepas impian di usia 20an agaknya tak mudah-mudah amat bagi sebagian orang.
    Thank you untuk sharing ini Mas Teddy. Selamat ulang tahun, kiranya sehat dan sukacita selalu 🙂

Leave a Reply to morishige Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s