comment 1

Jakarta Kami di Suatu Minggu

Hari itu kami bangun kesiangan. Maesy kelelahan karena sehari sebelumnya baru pulang dari Singapura untuk suatu urusan. Kami golek-golek saja, ngobrol sana-sini, terlalu malas bahkan untuk menyeduh kopi. Sinar matahari masuk menembus jendela menimpa ujung kaki Maesy yang menyembul dari balik selimut. Ia membiarkan saja kakinya di sana. Saya meraih amplop coklat di sisi tempat tidur dan membaca lagi surat yang kami terima malam sebelumnya. Surat dari Andika Budiman, kawan baru kami di Kineruku.  Dari Rani Kineruku kami pernah mendengar bahwa Andika sesekali menulis surat untuk kawan-kawannya. Surat untuk kami ini panjang, dan ditulis dengan tulisan tangan yang rapi. Ia bercerita tentang keseharian di Kineruku, hal-hal yang ia lakukan di kala bosan, pertemanan-pertemanan yang tercipta, pendapatnya soal puisi Anya Rompas dan Mikael Johani. Andika pria yang lembut sekali, tutur katanya selalu halus, demikian pula suratnya. Di satu bagian ia menulis betapa kesedihan terkadang seperti keran yang bocor, begitu sulit ditahan. Di bagian lain ia bercerita tentang penulis kesukaannya, Oliver Sacks. Andika mengagumi bagaimana Sacks menulis tentang pasiennya dengan penuh kasih sayang. Ia juga menyelipkan lukisan kecil wajah Oliver Sacks yang ia buat. Andika mengaku kesulitan saat melukis janggut Sacks. Ia menggunakan tip-ex untuk membuatnya jadi uban. Surat Andika indah sekali. Kami masih terharu bahkan saat membacanya untuk kedua kali. Sampai hari ini kami belum mulai menulis balasan untuknya (maafkan kami, Andika, kami kesulitan membuat surat yang sama indahnya dengan suratmu)

Menjelang tengah hari kami akhirnya bangun betulan, menyeduh kopi, memutar musik, mandi, lalu duduk-duduk membaca di ruang tamu. Begitu terus hingga saat kami harus berangkat ke POST. Hari ini kami ke sana sedikit lebih awal karena ada janji bertemu Tama. Dia berjanji menunjukkan beberapa foto yang ia kira cocok untuk ilustasi Semasa, naskah novela yang baru saya selesaikan bersama Maesy. Tepat pukul dua Tama muncul, tapi dasar anak sembrono, ia lupa membawa komputer. Di tangannya malah ada sekresek bahan memasak. Terlihat segenggam petai melongok dari kresek. Sambil cengengesan ia berkata akan membawakan foto untuk kami lain kali. Hari ini ia sibuk berbelanja bahan untuk sebuah acara masak-memasak malam nanti. Dengan seenaknya ia menggelar petai di meja dan mulai mengupasnya satu-satu. Kami membiarkan Tama di sana hingga aroma petai mulai memenuhi toko buku. Di titik itu semua petai harus kembali masuk kresek.

Pukul tiga POST buka. Seperti biasa beberapa kutu buku datang dan pergi, juga orang-orang yang celingak-celinguk, juga kucing-kucing. Ada kawan-kawan lama POST, ada kenalan baru. Ada Dewa yang muncul lagi sesudah dua tahun tak kelihatan. Dulu wajahnya masih culun, sekarang ia gondrong dan baru saja menerbitkan buku kumpulan cerita pendek secara mandiri. Ada Melisa yang mampir sebentar, mengaku belum menyelesaikan My Documents karya Alejandro Zambra yang terakhir dibelinya tapi tak tahan untuk membeli buku lagi (Penyakit para kutu buku yang membuat POST jalan terus). Ia menyambar Muslihat Musang Emas karya Yusi Avianto Pareanom. Lalu ada Isabella dan Bambi, temannya. Isabella seorang penjaga toko buku di Madrid yang sedang berkunjung ke Jakarta dan mencari-cari kegiatan kesusastraan. Ia mengambil buku puisi Mikael Johani, We Are Nowhere and Its Wow, membawanya ke sudut dan membaca. Ia menyukai dan membelinya. Kami katakan bahwa malam nanti Mikael dan teman-temannya mengorganisir acara puisi di Paviliun 28. Isabella antusias dan berniat datang, walau Bambi tidak menunjukkan wajah bersemangat. Belakangan saya tanya pada Mikael apa ada orang dengan ciri-ciri seperti Isabella yang muncul di Paviliun 28. Kata Mikael tak ada. Semua ini pasti gara-gara Bambi.

Hujan turun deras, beberapa pengunjung meminta kami memutarkan lagu AriReda. Kami putarkan lagu Sajak-Sajak Kecil tentang Cinta di Spotify. Orang-orang membaca, atau saling mengobrol, atau melamun tenang-tenang terbawa suasana. Sampai saat Spotify secara otomatis berpindah ke lagu Raisa. Pengunjung protes dan saya putarkan Billie Holiday demi menjaga suasana syahdu.

Sedikit lewat pukul enam, tiba-tiba muncul Yusi Avianto Pareanom, bersama Rere istrinya, juga putra bungsunya Sulaiman. Rupanya mereka baru saja putar-putar Jakarta merayakan ulang tahun pernikahan ke-25. Mbak Rere nyelonong ke dalam dan berbicara dengan Maesy, sekilas sepertinya soal keju dan tanaman. Saya, Mas Yusi, dan Sulaiman ngobrol sambil minum kopi di antara suara hujan dan musik jazz, kebanyakan seputar buku. Soal Banana yang akan menerbitkan buku puisi Bagus Takwin. Soal apakah sebuah karya harus senantiasa benar secara politis? Soal karya-karya apa yang kira-kira dibuat Abinaya saat ia tumbuh besar nanti. Soal buku baru Mas Yusi, Muslihat Musang Emas. Soal buku-buku kumpulan cerita pendek bagus lain yang baru terbit. Saya mengatakan buku Cyntha Hariadi, Manifesto Flora, bagus sekali. Mas Yusi belum membacanya, tapi ia bilang sudah membaca kumpulan puisi Cyntha dan menurutnya bagus. Sementara itu Sulaiman duduk saja di dekat kami, memasang wajah tak peduli. Ayahnya memintanya untuk ikut bercerita. Cerita apa, kek. Sulaiman bergeming. Malas katanya. Kami tertawa, memahami bahwa anak seusianya pasti sering memendam pikiran kenapa, sih, orang dewasa tidak diam saja, atau pergi jauh-jauh. Menjelang pukul tujuh malam, rombongan keluarga ini pamit hendak kembali ke Depok. Sambil mengucap selamat jalan saya teringat salah satu cerpen Yusi berjudul Suatu Hari dalam Kehidupan Seorang warga Depok yang Pergi ke Jakarta. Kali ini orang Depoknya ada tiga.

Pukul delapan, sesudah POST tutup, saya dan Maesy pergi ke Balai Budaya di Menteng. Eddie Prabu, (ingat Beps di buku Aku Meps dan Beps?) sedang pameran karya fotonya. Judul pamerannya gaya, The Magic is in The Process. Setelah melihat karyanya kami baru mengerti mengapa judul itu yang dipakai. Mas Eddie bereksperimen dengan cat air, sulur akar, dedaunan, kulit jeruk dan segala macam benda yang ia tata di cawan Pyrex lalu diberi sinar lampu sorot kecil, lalu difoto. Hasilnya corak-corak berpendar warna-warni yang indah sekali. Kami memang pernah mendengar bahwa Mas Eddie seniman foto yang bagus, tapi kami lebih mengenal sisi-sisi yang dikisahkan Soca dan Reda dalam bukunya. Sisi Beps yang gemar bikin-bikin itu. Soal ini kami betulan pernah merasakan manfaatnya, baru-baru ini ia membuatkan meja yang kokoh dari kayu-kayu bekas pakai untuk pengunjung duduk-duduk di depan POST. Sedikit lebih malam Ari dan Reda menyanyikan beberapa lagu untuk memeriahkan pameran. Saat di luar masih hujan, dan teh hangat dan kudapan kecil ada di tangan, semua orang jadi ada dalam suasana hati yang baik. Maesy yang sesudah mengagumi karya Mas Eddie sibuk mencomot kue apem dan mengunyah-ngunyah, berdiri di sisi saya, diam-diam saja mendengar dendang lagu. Kepalanya sesekali disandarkan di bahu saya.

Sebelum menghentikan taksi pulang, kami berjalan kaki dulu di sepanjang jalan Gereja Theresia, belum ingin hari segera berakhir. Tak banyak kendaraan yang melintas. Di salah satu sisi ada penjual nasi goreng yang sedang menggoreng. Suara krosek-krosek terdengar kencang dan menerbitkan lapar. Kami memesan nasi goreng dan saya duduk menunggu di undakan dekat trotoar. Karena hujan baru turun undakan masih basah. Airnya terasa merembes sedikit ke dalam celana. Saya biarkan saja. Ini hari yang menyenangkan.

 

Foto diambil oleh: Mahwari Sadewa Jalutama

Advertisements
comments 2

Den Haag, Setelah Tujuh Tahun

Di malam bulan Desember yang dingin, yang anginnya membuat pipi terasa kebas, Maesy berjalan kaki menjauhi stasiun Den Haag Central sambil menangis. Ia bersedih karena hari-hari perkuliahannya di Belanda akan segera berakhir. Malam-malam tanpa tidur menjelang ujian, senda gurau tengah malam di kamar asrama bersama kawan dekat, pesta dadakan dengan pakaian sembarangan di Prins, atau restoran pizza murah pereda lapar, semua kembang api itu akan segera menjadi kenangan. Pelan-pelan redup, lalu hilang. Atau tidak.

Saya berjalan di jalanan yang sama, tujuh tahun kemudian, di antara orang-orang jangkung yang menaiki sepeda kumbang. Dan Maesy, ia kembali ada di sini, menggandeng tangan saya.

“Akhirnya aku bisa menyelundupkanmu ke asramaku. Aih, butuh tujuh tahun!” katanya bercanda. Ia jelas sedang mencerna emosi yang dirasakan; nostalgia, sisa kesedihan, atau keriangan karena akhirnya kembali ke kotanya yang lain. Di kereta tadi saya sempat menggodanya bahwa reuni dengan Den Haag akan membuat air matanya bercucuran. Ia memasang wajah tak setuju, walau tak yakin sepenuhnya.

“Kau lihat menara gereja di ujung itu? Di dekat sana ada Pavlov, bar kesukaanku. Tempatnya di taman gereja, sesekali ada jazz. Di musim panas kau bisa duduk-duduk berselonjor sambil minum anggur. Tapi kita nggak langsung ke sana ya, kita ambil jalan memutar, lihat-lihat yang lain dulu.”

“Jangan bayangkan ini seseru Dubrovnik, atau seanggun Salzburg, Den Haag biasa banget. Tapi ini kotaku, kau ikut saja.”

Anak ini cerewet sekali.

Telah lama saya mendengar cerita tentang kehidupan kuliahnya di Den Haag, salah satu masa terindah. Suatu masa ketika di punggungnya tumbuh sepasang sayap.

“Tentu saja Den Haag penting untukmu.” Suatu kali saya mencandainya. “Ini kota yang bikin gadis katolik lugu itu minum wiski dan memasang tato.”

Saat ia memasang wajah sebal saya buru-buru menambahkan, “Ya, ya, selain menjadi lulusan terbaik, tentu saja, juga ketemu teman-teman asyik.”

Dan siang itu, tujuh tahun kemudian, sesuai ajakannya, ya saya ngintil-ngintil saja.

Kami berjalan di pinggir danau di dekat gedung parlemen, di mana bebek-bebek berenang bergerombol. Di sini ia sering berjalan sendiri, mengosongkan pikirannya di kala ruwet; urusan esai-esai, hal-hal emosional, atau apalah, atau untuk sekadar duduk-duduk sambil makan buah apel. Entah untuk alasan apa, saya kerap geli membayangkan wajahnya saat sedang menggigit apel dan mengunyah dengan mulut penuh. Terkadang saya menyebutnya anak kelinci, atau anak tupai. Kami mampir ke Albert Heijn, toko kelontong langganannya, membeli sekotak susu kacang. Dulu Maesy selalu ke sini berburu daging-daging yang nyaris kedaluarsa untuk ia masak. Karena nyaris busuk, daging itu jadi murah, dan ia tetap bisa makan enak.

“Maklum, mahasiswa miskin,” katanya nyengir.

Di lorong gerbang asramanya saya sedikit menggigil oleh angin yang bertiup. Demi Tuhan, ini musim panas! Maesy tertawa dan bercerita lorong gerbang ini selalu berangin, kapan pun. Angin Den Haag, di segala musim, selalu dingin. Asrama Dorus sedang sepi waktu itu. Semua penghuni tampaknya sedang libur musim panas. Kami hanya melongok-longok di bawah. Ia menunjuk jendela kamar Ana, salah satu kawannya di lantai dua. Jika sedang berjalan di halaman asrama, Maesy terkadang bisa melihat Ana sedang melakukan sesuatu atau melamun di sana. Maesy juga menunjukkan pada saya jendela kamarnya dulu. Kami menempelkan wajah di dinding kaca yang menatap ruang cuci pakaian. Mesin cuci di sana terlalu sedikit untuk jumlah penghuni asrama. Karena itu Maesy sering memilih bangun dini hari, mengendap-endap ke ruang cuci membawa buntelan berisi pakaian. Pada jam itu mencuci bisa lebih tenang (Suatu kali, saat ruang cuci benar-benar kosong, ia pernah memasukkan sepatu kets ke mesin). Sekali waktu ia bertemu rekan asrama yang memilih waktu yang sama. Dan mereka akan duduk-duduk di sana, berbicara kesana kemari di dini hari yang sepi, sambil melihat pakaian berputar-putar di dalam mesin cuci yang mengeluarkan bunyi geluduk-geluduk.

Kami memasuki kampus ISS dan ia mulai menunjuk-nunjuk ke sana kemari, menerangkan macam-macam sambil mengenang masa lalu. Ini perpustakaanku dulu, ini kantin yang murah tapi bising, ini meja tempatku menulis sebagian besar esaiku. Karena sedang libur, hanya ada sedikit mahasiswa kelas musim panas yang sedang mondar-mandir. Kami melewati dinding-dinding dengan kalimat-kalimat Martin Luther King, atau selebaran ajakan berdebat soal kebijakan adopsi anak, atau undangan diskusi makalah soal kekerasan terhadap perempuan. Di salah satu ruang baca Maesy menunjuk sebuah peta dunia yang digantung. Salah satu temannya pernah membalik pajangan peta di ruangan itu karena bentuk Amerika Selatan terlihat terlalu kecil dibanding Amerika Utara. Menurut temannya itu, si pembuat peta jenis orientalis yang ngawur.

Maesy duduk tenang-tenang di bangku di seberang kampusnya, di depan kanal. Saya menyusulnya setelah berpisah sebentar karena saya numpang kencing di toilet kampus. Saya jumpai wajahnya sedang diliputi nostalgia.

“Jadi, bagaimana perasaanmu?” tanya saya.

Ia menampilkan wajah orang yang sedang mencoba merangkai berbagai pemikiran dalam dua tiga kalimat pendek. Tak berhasil tentu. Ia mulai berkata tentang betapa ia senang menemukan banyak hal yang masih sama, hal-hal yang menelusupkan melankolia. Namun, tentu saja, banyak yang telah berubah. Studio tempatnya membuat tato burung hantu di punggung kini telah menjadi toko kosmetika. Tadi kami mampir minum kopi di kedai-kedai yang sepertinya baru muncul dua tiga tahun belakangan. Jenis kedai kopi dengan pengunjung yang rewel soal keasaman kopi, yang memasang wajah berpikir keras sesudah satu seruput, atau yang bertanya-tanya apa roti yang mereka makan betulan bebas gluten atau tidak. Sementara itu, Prins Bar sekarang bernama Springbok, dengan desain interior yang lebih mutakhir. Toko buku di De Passage kini adalah Apple Store. Namun, di atas semuanya, saya sempat memperhatikan saat Maesy memandangi jendela kamar asrama Ana. Jendela yang kosong. Ada hal yang jelas tidak akan pernah sama lagi, ini bukan lagi kota tempat kawan-kawan terdekatnya berada.

“Banyak yang sudah berubah, “ujarnya, lalu diam sejenak, lalu bicara lagi.  “Tapi kalau dipikir, aku pun tak lagi sama.”

Saya teringat toko buku kecil kami di Jakarta. Tempat kami bergembira di akhir pekan. Salah satu yang perlahan membuatnya kembali mencintai Jakarta, yang menjadikan Jakarta kotanya. Saya mendesaknya untuk menuliskan hal-hal yang ia rasakan, tentang bagaimana dirinya sekarang melihat dirinya dan kotanya yang dulu, tentang pertanyaan yang selalu menggantung: bagaimana hidup akan bergerak jika pilihan-pilihan lain yang diambil. Saya pikir itu bisa jadi tulisan yang bagus. Tapi ia menolak. Walau terkadang cerewet, ia anak yang tertutup untuk hal-hal yang paling pribadi.

Kami memperhatikan beberapa perahu turis yang melintasi kanal. Pemandu berdiri di ujung, memberi keterangan tentang segala sesuatu yang dijumpai. Tangannya menunjuk ke kiri dan ke kanan. Maesy menarik saya untuk kembali berkeliling, berjalan-jalan santai keluar masuk jalanan kecil, menyusuri pinggir kanal, perumahan, jajaran restoran. Kami berhenti di sebuah toko barang antik di Spekstraat. Berit Mol, perempuan tua pemilik toko itu ramah sekali. Ia membiarkan kami membongkar-bongkar koleksi sketsa dan foto lamanya. Saat saya memperhatikan sebuah lukisan kakek perlente yang sedang mengamat-amati bingkai yang dibawa pemuda berpakaian kumal, Berit bercerita itu lukisan karya Willy Sluiter. Lukisan itu bercerita tentang kakek kaya yang gemar membeli dengan harga murah lukisan seniman-seniman melarat dengan bakat besar. Sementara itu Maesy tekun memilah-milah foto-foto tua yang disimpan Berit di kaleng biskuit. Ia berhenti dan tertegun saat tiba pada sebuah foto hitam putih pemandangan kota Den Haag tahun 1920-an. Terlihat di sana kanal di dekat kampusnya, tempat kami duduk tadi.

“Pemandangannya masih sama,” kata Maesy, matanya masih memandang foto itu lekat-lekat. Hanya tangannya yang menjawil lengan saya.

Banyak tempat di Eropa yang tak berubah bahkan sesudah ratusan tahun, kami tahu. Tapi tampaknya menemukan foto sebuah tempat yang dekat di hatinya, yang tak pernah berubah dari dulu hingga sekarang, dan mungkin untuk waktu yang sangat panjang, menimbulkan haru di dalam dirinya. Ia menyampaikan pada Berit keinginannya untuk membeli foto itu. Berit mengangguk sambil tersenyum dan Maesy memasukkannya ke sela-sela halaman buku yang ia pegang.

Matahari musim panas Den Haag masih bersinar terang di pukul sembilan malam. Kami kembali berjalan bersisian melewati danau di pinggir gedung parlemen, di mana beberapa turis sedang berfoto di jembatan di dekatnya, dengan latar semacam bunga kembang sepatu. Di sebuah taman kecil beberapa pedagang barang kerajinan Asia sedang merapikan mejanya. Mungkin ini hari dengan penjualan yang baik, mungkin tidak. Kami terus berjalan hingga tiba di Pavlov, di bangku tamannya yang ada di halaman gereja. Tak ada jazz malam itu, tapi bangku-bangku tertata persis sama seperti terakhir kali diingat Maesy. Kami memesan anggur putih dan bersulang untuk banyak hal. Di atas meja, di dekat siku Maesy, ujung foto hitam putih kanal depan kampus itu terlihat menyembul.

IMG_7675 (1)

 

 

 

comments 3

15/5

Candice menyebut Milan Kundera saat saya bertanya padanya penulis yang ia rekomendasikan bagi pengunjung POST.

“Tapi Candice, pembaca Kundera di Indonesia lumayan banyak, kok. Beberapa malah sudah diterjemahkan.”

“Aduh, begini ya, jumlah pembacanya tidak akan pernah cukup. Ia sebagus itu,“ Candice berkeras.

Jika penjaga toko buku mendesak-desak dengan gigih seperti ini, ya, saya sebaiknya menurut saja. Saya mengambil Festival of Insignificance dari rak. Candice tersenyum senang. Saya membuat pengakuan padanya bahwa saya belum pernah membaca Kundera. Ia melempar pandangan tak habis pikir seperti bertanya-tanya bagaimana hidup saya jalani selama ini, lalu mulai bicara soal karya-karya Kundera yang lain. Saya teringat bagaimana Nick Ward si penunggu Infinity Book ceramah soal Coetze. Para penjaga toko buku ini terkadang menyebalkan juga. Saat bertemu orang yang belum membaca karya yang mereka suka, kelakuan mereka mulai seperti sedang menyelamatkanmu dari kehilangan besar. Heroik sekali. Candice yang malang, saya menggoyang-goyangkan Festival of Significance di depan mukanya, lalu pamit ke sudut untuk membaca.

“Kamu tidak akan menyesal,” katanya.

Saya berjalan ke bangku di bagian belakang toko, di dekat jendela di mana sinar matahari masuk menyinari barisan buku di atas meja panjang  — di mana ada cahaya yang menghujam tepat ke buku berjudul ‘Dead Feminists”– dan mulai membaca. Selang berapa lama, dua penjaga toko menata bangku-bangku di sekitar saya. Rupanya siang nanti akan ada obrolan buku. Toko buku Politics and Prose ini hebat sekali, hampir setiap hari mereka punya acara; obrolan buku, atau pembacaan karya. Sekali waktu bahkan dua sampai tiga acara dalam sehari. Karenanya, selain Kramerbooks di Dupont Circle, para kutu buku Washington senang main-main ke Politics and Prose. (Politics and Prose, namanya Washington sekali, ya?)

Saya pindah ke tempat baca yang lebih tenang, di ruang sebelah, di dekat rak buku-buku puisi. Beberapa petugas toko, juga pelanggan, masih mondar-mandir. Beberapa orang lanjut usia berdatangan, sepertinya mereka akan ikut obrolan buku. Senang melihat toko buku independen sehidup ini. Tadi, sebelum buka pada pukul sembilan, beberapa pengunjung sudah duduk-duduk di dekat pintunya. Mereka makan roti lapis, minum kopi dengan gelas styrofoam, membaca, atau menggoda bayi di kereta dorong yang baru bangun tidur. Begitu toko buka, orang-orang hilir mudik. Beberapa sudah tahu apa yang mereka cari, yang lain menghabiskan waktu untuk melihat-lihat dan membaca.

IMG_4835

Festival of Insignificance menuturkan sekawanan pria yang menjalani hari-hari di Paris. Mereka saling berbicara, sibuk dengan dirinya sendiri, atau melakukan hal-hal yang – sesuai judulnya – seakan perayaan soal-soal sepele. Banyak bagiannya yang saya sukai, misalnya cerita tentang Caliban, pemain sandiwara tak laku yang menyibukkan diri dengan mengaku-ngaku sebagai orang Pakistan lalu menciptakan bahasa sendiri yang ia karang sekenanya. Pada mulanya orang-orang menganggapnya serius, menggemaskan bahkan, tetapi lama-lama bosan juga, dan ia berbicara sendiri saja tanpa ada yang betul-betul menanggapi. Caliban, ia kembali menjadi pemain sandiwara tanpa penonton.

Saat tiba di obrolan tentang Stalin, saya teringat Candice sempat bercerita betapa Kundera senang meledek-ledek Rusia. Diceritakan bagaimana Stalin senang membual tetapi tak seorang pun berani terang-terangan menyanggah. Ada cerita Stalin berburu ke tengah hutan menemukan 24 ayam hutan bertengger di dahan pohon, namun senapannya hanya berisi 12 peluru. Jadi ia menembak 12 ekor dulu (kena semua tentunya!), lalu balik lagi ke rumah mengambil 12 peluru lagi. Saat kembali ke hutan, 12 ayam hutan itu tentu masih bertengger dan Stalin menghabisi mereka dengan 12 peluru tambahan.  Kurang konyol apa coba? Dan tak ada yang menentangnya! Seorang pegawai rendahan, Kalinin yang punya masalah kandung kemih, bahkan menahan kencingnya mati-matian untuk membiarkan Stalin menyelesaikan cerita. Stalin memberinya penghargaan dengan menamai sebuah kota dengan namanya, Kaliningrad.

Asyik juga sih, jadi saya lanjut membaca. Beberapa bagian menceritakan pemikiran-pemikiran kecil yang berujung pada hal-hal fundamental. (Kalau mendengar cerita Candice, badan Kundera sepertinya akan gatal-gatal kalau tidak mencoba menyiratkan pemikiran-pemikiran mendalam). Saat berjalan-jalan di Paris, tokoh Alain melihat semua perempuan yang dipapasnya mengenakan pakaian yang memperlihatkan pusar. Alain bertanya-tanya apakah daya tarik seksual perempuan bergeser ke pusar, bukan lagi dada, bokong, atau paha? Alain kemudian mulai merepet kepada Charles, temannya. Menurutnya dada, bokong, dan paha itu unik, tak seorang perempuan pun yang punya bentuk yang sama, tapi pusar, pusar sama semua! Alain mengeluh betapa dunia sudah menghilangkan keunikan manusia, keunikan tiap individu, dan membuatnya seragam. Bahkan daya tarik seksual pun digeser ke titik yang dari ujung dunia ke ujung dunia bentuknya begitu-begitu saja. Oh!

Buku ini tipis saja, hanya 115 halaman. Saya menyelesaikannya dalam sekali duduk di Politics and Prose. Lucu dan menyenangkan, serta menyampaikan soal-soal mendalam melalui hal-hal subtil dan sepele. Sepertinya, sih, jauh lebih banyak masalah fundamental yang dibahas dari yang berhasil saya tangkap. Mungkin nanti akan saya baca lebih dekat, atau bertanya pada Maesy. Dia ini pintar membaca simbol-simbol atau hal-hal subtil dalam cerita. Saya akan mendesaknya untuk membaca dan menerangkannya.

IMG_4836

 

Obrolan buku sudah dimulai di ruang tengah Politics and Prose. Robert Pearl, penulis yang juga CEO perusahaan farmasi besar menulis tentang betapa kacau balau jaminan kesehatan di Amerika. Kombinasi harga yang mahal, akses yang sulit, dan kualitas yang payah membuat Amerika ada di kelompok terbawah dalam pelayanan kesehatan dibanding negara-negara industri lain. “Warga harus meminta lebih!” begitu saya dengar ia berseru.  Menarik juga, sebetulnya, tapi saya sedang ingin duduk bersantai dan membaca saja. Saya membaca cerita-cerita pendek Lesley Arimah, penulis keturunan Nigeria. Tadi Candice sempat berkata bahwa Arimah menulis seperti petasan.

Menjelang sore saya bergerak keluar. Obrolan buku Robert Pearl baru saja selesai. Beberapa orang merubungnya untuk meminta tanda tangan atau ngobrol-ngobrol. Saya lihat Candice juga sedang berbicara dengan beberapa orang di dekat rak buku anak-anak.  Saya menghampirinya untuk pamit dan mengatakan Kundera bagus. Ia tertawa lebar sambil bertepuk tangan.  Saya turun sebentar ke kedai kopi Politics and Prose yang ada di lantai dasar, membeli kopi untuk bekal, lalu berjalan ke luar. Di dekat pintu keluar saya berpapasan dengan seorang lanjut usia dengan wajah menggerutu dan hendak masuk ke Politics and Prose. Ia bertanya apa obrolan buku Robert Pearl sudah selesai. Saya katakan sudah, tapi si penulis masih di dalam. Si orang tua bergegas masuk tanpa bicara lagi pada saya. Pak tua itu, sepertinya banyak hal yang akan ia keluhkan.

Matahari bersinar terang dan udara sedang sejuk. Sesekali agak dingin saat angin bertiup. Saya berjalan kaki di sepanjang Connecticut Avenue dengan kopi panas di tangan kiri. Beberapa bar, juga kedai kopi, berjajar di pinggir trotoar. Banyak anak muda berjalan, beberapa sendiri, beberapa bergerombol, atau menarik anjing peliharaannya. Ada yang saling memeluk saat bertemu temannya. Perempuan-perempuan yang saya papas mengenakan pakaian yang terlalu rapi untuk akhir pekan (semacam pengingat bahwa ini Washington), atau dengan baju musim panas bermotif bunga, atau dengan kaos bertuliskan kelompok musik metal. Tak seorang pun menampilkan pusarnya. Saya melihat sebuah kedai dengan meja-meja tertata di luar. Seorang pria menuangkan segelas anggur putih kepada pasangannya lantas bersulang. Menarik juga. Saya masuk ke kedai, memesan segelas anggur putih dan membawanya duduk di luar, membaca sebentar sebelum menutup buku dan memasukkannya ke dalam tas. Saya putuskan untuk duduk-duduk dan memperhatikan orang-orang lewat saja.

comments 3

A Tale of Two Sundays

On a Sunday afternoon three weeks after I arrived in Bangalore, I found myself sitting in a tea house, feeling that, for the first time since I landed in India, I did not want to order masala chai. The tea house was the one in Cunningham Road, the same tea house I went to yesterday and the day before, all day last week and three times the week before that. It was a fairly quiet place and centrally located, a convenient place to do interviews for my research.

I know the masala chai served there by heart. It comes in a tall tin pot and small round cup with sugar cubes on the side, smelling more of cardamom pods than the ginger and cinnamon that also flavor the tea. The people I met always smile when I tell them how much I love masala chai, whether it’s the tea house version or the street side kind served in chai wallah stalls. How the powdered mix I’ve tasted elsewhere pales in comparison to the Indian tradition of brewing the tea in milk and spices, and how I could never get enough of it. As it turned out, there is such thing as having too much of a good thing.

I was daydreaming of a plain cup of English Breakfast on my way there, the closest thing to the Sariwangi I could find outside of Indonesia. I was also daydreaming of a leisurely Sunday, where I could spent hours at the used bookshop a couple of blocks away, the way I would spend Sundays at home going to a bookstore. As exciting as my research in India had been, the time had come when I yearned for a taste of home while I travel. If I could not have my bookshop Sunday ritual right then, well, at least I could get myself the tea that reminds me of home.

I signaled for the waiter to come, but the family a few tables away caught his attention first. A man and a woman were already studying the extensive tea list when I came in, while another woman was putting a baby in a stroller. The woman with the baby was wearing a printed cotton saree, while the other woman and man were wearing silk. I assumed that she was the aayah, the term for housemaid and nanny in India.  

The father ordered first. He wanted the smoky Lapsang Souchong from China. His wife wanted to try Rooibos from South Africa. I wondered which tea the aayah would order out of all the possibilities in the menu. Would it be fruit tea, green tea, or perhaps like me, an English Breakfast?

“Masala chai,” she said in a soft voice.

As the waiter walked past me, I found myself staring at the aayah. At the red bindi on her forehead, at the few strands of white hair on her bun, at the smile lines around her mouth, at the plastic bangles that jingled as she rocked the stroller forward and backward to put the baby to sleep. Out of all the tea in the menu, why would she pick the tea she most likely makes and drinks every day?

The husband and wife started chatting in English. I could hear them talking about a new play in the theatre on the other side of the city. The aayah started humming a lullaby in Kannada, the local dialect in Bangalore, while staring on a blank spot above a poster on the wall that says, “Women are like tea bags, they don’t know how strong they are until they get into hot water”. Her gaze softened as her hum grew louder. I saw the beginning of a smile forming on the corner of her mouth, and I could tell she was no longer in the tea house.

The aayah was daydreaming.

She was daydreaming of another Sunday, one where she was either taking a stroll at Cubbon Park, shopping at MG Road, watching the new movie starring the Tamil Nadu superstar Rajinikanth, or perhaps staying at home and sharing a meal with her own family. Like me, she wanted a Sunday of her own. I knew when mine will come; I would be wrapping up my research in two weeks and fly back home. It was only two more Sundays until I could spend a Sunday going from bookstore to bookstore again, stopping in a café on my way home for a cup of tea as I start reading a new book. But what about her? When would she get the Sunday she was daydreaming about?

From what I know, a live-in aayah in Bangalore is not any different from a housemaid in Indonesia. They live with their employer seven days a week and only get to go home a couple of times in a year. They spend their Sundays the way they spend their Mondays to Saturdays: doing what their employers need them to do. Her current Sunday was her routine, her every Sunday. She was dreaming for an exceptional Sunday, while my current Sunday was an exception from my routine. We were two women sharing the same daydream in a tea house once upon a Sunday, but that was all we shared.

The waiter came to my table, blocking the aayah from my sight. “What would you like, Ma’am? The usual pot of masala chai?”

Thoughts rushed in at once. Bangalore, home, Sundays, routines, daydreams, and tea. Black and plain, milk and spiced. For me, masala chai is a symbol of adventure and English Breakfast is a reminder of home. Perhaps, for her, masala chai too is a reminder of home. A drink that she serves for the family she works for is the same one she enjoys with her family and friends, on any given day of the week. A source of comfort, an anchor in her universe.

I found myself nodding.

“Yes, please.”

DSC00588

I unearthed this story from my files, written last year for Hanny and Clara‘s dream of a print magazine that eventually found a life online first, Secret Sunday. The photos are from 2010, when I was still horrible at taking photos, but they are from that very Sunday I wrote about, so the sentiment is perfect! – Maesy