comments 4

Di Peternakan Twamley

Tiga anak kecil yang mengendarai traktor menghampiri kami. Yang paling besar, yang kemudian kami kenali bernama Thomas, bertanya apa kami tamu yang akan menginap peternakan Twamley. Begitu Maesy mengiyakan, ketiga bocah melompat dari traktor dan menunjukkan jalan. Elizabeth si pemilik peternakan sudah ada di depan rumahnya. Di sisi rumah Elizabeth ada bangunan yang disusun dari batu-batu tua. Kemudian kami tahu bangunan ini, juga peternakannya, berusia tua sekali. Ia sudah ada sejak 1842, saat pendatang awal Inggris di Tasmania tiba di daerah Buckland. Kala itu lantai bawah digunakan sebagai kandang kuda, sementara di atas menjadi tempat menyimpan gandum dan benda lain. Turun-temurun keluarga Elizabeth mengelola peternakan ini, dengan domba-domba, sapi-sapi, dan binatang-binatang piaraan. Kini, bekas kandang kuda itu ia jadikan penginapan yang bergaya. Di lantai bawah menjadi dapur, ruang duduk, dan perapian. Sementara di atas untuk ruang tidur.

Elizabeth memperkenalkan dua putranya yang tadi sudah kami temui, Ikey dan Archie, juga Thomas, teman mereka yang sedang main-main di peternakan. Sesudah semua beres Elizabeth mohon diri pergi ke kota terdekat untuk sebuah urusan. Kami duduk-duduk saja di rerumputan di dekat Ikey yang sedang memunguti daun yang berguguran. Ikey memperkenalkan kami pada hewan-hewan piaraannya. Sprocket si bayi domba, Lulu si anjing kecil, juga Poncho dan frida, dua keledai berkaki pendek. Sprocket sedang kelaparan dan Ikey membiarkan Maesy membantu memberinya susu. Si bayi domba menyambut rakus botol susu yang dijulurkan Maesy sementara Lulu melompat-lompat di sekeliling dengan ekor berkibas-kibas. Saya bertanya pada Ikey apa Lulu mengira Sprocket juga seekor anjing. Ikey kebingungan seakan baru sadar akan kemungkinan itu. Ia lalu membawa kami ke padang tempat Poncho dan Frida merumput. Ia bilang kami boleh membelai kedua keledai asal tak berdiri dibelakang mereka.

“Kau akan disepaknya,” begitu kata Ikey.

IMG_20181014_153922

Archie dan Thomas menghampiri. Ketiga anak ini sepertinya suka bertemu orang baru. Mereka menawari menemani kami keliling peternakan. Di dekat ruang pencukuran domba kami bertemu kakek tua bersuara berat dengan jabat tangan kuat. Pria itu kakek Archie dan Ikey. Dia ini bosnya peternakan, kata Thomas berbisik. Ketiga bocah membawa kami masuk ke ruang pencukuran domba. Mereka fasih sekali memberi penjelasan bagaimana proses pencukuran dilakukan. Di sudut ruangan ada bak tempat bulu-bulu hasil cukuran ditumpuk. Ketiganya ringan saja melompat ke sana. Archie naik ke undakan di sisi bak lalu melompat sambil memamerkan gaya salto. Mereka bangkit dari bak, dipenuhi buku-bulu domba, dengan mulut cengar-cengir.

Di salah satu dinding ada foto seekor domba dengan bulu yang lebatnya minta ampun. Itu Sheila, kata Thomas. Sheila sempat hilang nyaris enam tahun di hutan sampai akhirnya muncul di peternakan Twamley. Saat itu jalan Sheila berat karena bulu yang kebanyakan. Ajaib ia masih hidup. Para peternak menangkapnya dan dengan susah payah mencukur bulunya. Saat ditimbang, bulu-bulu Sheila mencapai 21 kilogram! Tak berapa lama sesudah Sheila gundul, ia menghilang lagi ke hutan. Berita soal domba yang hilang enam tahun dengan bulu 21 kilogram sempat mengisi koran lokal. Klipingnya tertempel di dinding. Thomas berkata dengan bangga bahwa bapaknya adalah peternak yang mencukur Sheila.

Ikey bertanya apa kami kepengin mendaki bukit di dekat sana. Dia bilang ibunya punya kejutan jika kami berhasil sampai puncak. Kami suka kejutan. Maka berlima kami mendaki bukit, terus ke atas melintasi padang rumput dan semak-semak, pohon-pohon yang masih tegak, juga yang tumbang karena angin kencang. Jika menoleh ke belakang akan terlihat hamparan hijau peternakan, dengan kawanan domba yang merumput di kejauhan, juga burung-burung, juga matahari yang sebentar lagi terbenam. Thomas sempat kelelahan. Kalian terus saja, biar aku mati sebentar di sini, katanya. Tapi ia tetap merangkak naik mengikuti.

5C900442-8E0A-46F3-B854-6D5C17CEE8E6

Akhirnya kami tiba di puncak dengan napas agak tesengal. Di dekat sebuah pohon tumbang terdapat lemari besi kecil. Ini dia kejutannya, kata Archie. Dari sana ia mengeluarkan sebotol Port Wine dan gelas karton. Wah! Saya dan Maesy menuang Port Wine, sementara ketiga anak hanya planga plongo di sekitar. Mereka belum cukup umur. Thomas sempat mencium botol anggur dan menarik nafas mengagumi aromanya.

“Aku pernah minum anggur, tahu,” katanya. “Tak ada masalah!”

Archie dan Ikey melotot ke arahnya dan Thomas mengembalikan botol itu kepada kami.

Angin sore bertiup agak dingin. Archie berkeliling mengumpulkan kayu kering lalu membuat api. Gerakannya tangkas. Kami berlima duduk di dekat api, memandangi hamparan peternakan di kejauhan dan ngobrol ke sana ke mari.

“Jadi Thomas ini sahabat terbaikmu ya, Ikey?” tanya saya.

Thomas mengangguk, tetapi pada saat yang bersamaan Ikey menggeleng dan berkata teman terbaiknya bernama Mark Collins.

“Memangnya kau tahu kapan si Collins ulang tahun?!” sembur Thomas.

Ikey menggeleng dan Thomas memasang wajah seolah ia baru saja membuktikan sesuatu.

“Kalian kepengin jadi apa kalau sudah besar?” tanya Maesy.

Ketiganya diam sebentar sampai Archie menjawab.

“Aku mau tinggal di semak-semak saja. Miskin dan tanpa uang. Dengan begitu aku tak harus bayar pajak.”

Saya dan Maesy saling pandang, lalu tertawa bersama-sama.

IMG_20181015_073854

Kami berjalan menuruni bukit sambil terus ngobrol soal macam-macam. Kami menyampaikan sebuah ide cerita tentang Maut yang harus memilih siapa yang akan dibawa ke alam sana, seorang pria pembuat keramik atau perempuan penyanyi di band indie. Kami bertanya jika mereka Maut, siapa yang akan dipilih. Tanpa banyak berpikir mereka sudah bersepakat. Tentu saja pembuat keramik yang mesti selamat!

“Aku bisa hidup tanpa harus mendengar lagu,” kata Thomas. “Tapi aku tak bisa tahan kalau harus makan tanpa sendok, piring, dan gelas.“

Kami berpisah dengan ketiga anak itu saat tiba di bawah. Thomas harus pulang ke rumahnya. Sebelum berpisah Thomas sempat berkata.

“Aku mungkin tak akan ketemu kalian lagi. Tapi sore ini boleh juga.”

Ia masih Sembilan tahun, tapi kami rasa Thomas akan tumbuh menjadi pria yang hangat.

Keesokan harinya saya dan Maesy bangun pagi-pagi oleh suara burung. Kami keluar kamar, mendapati peternakan yang hijau dan udara yang segar. Poncho dan Frida juga sedang berdiri tenang- tenang di balik pagar. Kami memutuskan untuk berjalan kembali ke atas bukit itu. Berdua saja. Di puncak bukit botol port wine masih ada. Kami menuangkan ke gelas masing-masing dan kembali duduk di atas pohon tumbang, memandangi pagi di peternakan Twamley. Di kejauhan, terlihat kawanan domba yang sedang merumput.

IMG_20181014_183807IMG_20181014_154225IMG_20181014_1833203BD843C4-D45C-4822-8F58-4AC884431353

Advertisements
comments 2

Dari Sisi Timur

Kami menyetir meninggalkan Hobart dalam hujan yang tak berhenti. Ini artinya Andy, si pemilik kebun anggur di Richmond, cuma asal omong. Kemarin, dengan penuh keyakinan – sambil menjabat tangan Maesy segala – Andy bilang agar kami tak percaya ramalan cuaca. Sudah berbulan-bulan Tasmania tak berhujan, katanya. Jika hari ini tak berhujan, kami berniat trekking di Taman Nasional Freycinet sebelum menginap di Bicheno. Ide trekking mesti dilupakan. Tapi bagaimana pun, ini tetap perjalanan darat yang menyenangkan. Di kanan kiri kami terlihat padang-padang rumput dengan domba-domba yang bulunya sudah dicukur, atau sapi-sapi hitam dengan moncong berwarna putih. Di mobil terdengar lagu-lagu dengan iringan akordion.

Di jalan yang berkelok, beberapa kali Maesy meringkuk ketiduran. Di sela-selanya ia terbangun dan mengomentari segala sesuatu. Saat melihat barisan pohon gundul yang ranting-rantingnya berwarna keputihan, ia menyatakan kekaguman. Ingatkan aku untuk tidak mengecat rambutku jika mulai memutih, katanya. Ini semacam penanda bahwa warna putih tetap bisa angggun, katanya lagi. Saya katakan, untuk kasusku, masih punya rambut saja sudah syukur. Ia tertawa mendengar ini.

Kami sempat berhenti di sebuah kota kecil yang kami lupa namanya untuk segelas kopi dan sepotong muffin sayuran.  Sempat terjadi ketegangan saat saya menyampaikan sebuah ide cerita untuk buku kami berikutnya. Maesy menyatakan ketidaksukaannya. Saya mulai menyerangnya dan ia, tentu saja, berkeras. Sesudah itu kami diam-diaman untuk beberapa waktu. Saat melanjutkan perjalanan saya berkata bahwa suatu hari, jika saya menulis memoar, mungkin saya akan menyebut betapa perbedaan soal ide buku ini adalah awal kerenggangan kami. Untuk itu dia menoyor kepala saya lalu berkata, dasar anak geblek ego gede, beginian doang bikin renggang. Lalu kami ketawa-ketawa.

Menjelang sore kami tiba di Bicheno dan memutuskan untuk mampir di pantai-pantai di sepanjang area Bay of Fire. Hujan sudah berhenti dan menyisakan mendung. Kami keluar dan berjalan di atas batu-batu yang berwana kemerahan. Warna ini timbul oleh semacam ganggang yang berlama-lama mendiaminya. Udara dingin sekali dan angin bertiup kencang. Kami memakai pakaian tiga lapis dengan jaket yang dikancingkan hingga dagu,  dan terus berjalan menyusuri pantai sambil sesekali berhenti melihat burung-burung camar yang terbang rendah dan berkoak-koak. Di salah satu sisi pantai seorang bapak tua asal Queensland menghampiri. Ia menjulurkan teropong dan mengatakan di salah satu batu besar di kejauhan ada sepasang singa laut. Benar, dengan teropong kami bisa melihat dua ekor singa laut sedang tidur-tiduran seolah angin dingin ini hanya soal sepele. Kami mengucapkan terima kasih ke si Bapak tua lalu saling bertukar keluhan soal cuaca yang buruk dan matahari yang tak kunjung tampak.

Malam itu kami menginap di Bicheno, di sebuah kabin dekat pantai yang dikelola pasangan tua, Basset dan Gail. Pak tua Basset sudah menunggu saat kami tiba. Logat Australianya kental dengan sengau yang membuatnya terdengar seperti erangan. Ia ramah dan tertawa setiap beberapa saat, tapi dengan sengaunya itu, saya tak seberapa paham apa yang ia katakan. Namun, saya lirik Maesy terlihat mengangguk-angguk sambil ikut tertawa dan mengucap terima kasih, jadi semestinya semua aman. Basset sudah menghidupkan api di perapian dan menunjukkan di mana kami bisa mendapat kayu bakar. Ia juga menunjukkan di mana kami bisa melihat penguin saat hari gelap. Setelah semua beres ia pergi. Saya memotong beberapa kayu bakar untuk persiapan malam nanti.

Saat hari mulai gelap kami mengikuti anjurannya untuk mencari penguin. Dengan berbekal senter kami mengikuti jalan setapak di antara semak-semak hingga tembus ke pantai. Pantai sudah gelap dan kami berdiri di atas batu memandang ke tengah, menunggu hingga tiba waktu makhluk-makhluk yang jalannya selalu tampak tergopoh-gopoh itu muncul. Angin masih bertiup kencang dan sesekali kami menggigil. Saya sempat berkata jika saat itu seorang pegulat membekuk saya, lalu menelanjangi dan mengikat saya dengan rantai di salah satu batu hingga sebagian tubuh tercelup air, saya pasti akan menangis melolong-lolong, melupakan segala ide apa yang seharusnya dilakukan lelaki macho. Nyaris tiga puluh menit berselang, penguin tak kunjung muncul. Maesy bertanya apa kita mau terus menunggu.

Kami berjalan kembali ke penginapan, melewati jalan setapak di antara semak-semak, dengan diterangi lampu senter, memutuskan untuk mengakhiri malam tidur-tiduran di dekat perapian saja. Dengan kaki berselonjor yang ditutupi rselimut kami minum anggur putih bikinan Andy. Di botolnya tertulis “every woman and her dog”. Walau untuk urusan cuaca Andy cuma asal omong, soal anggur ia bisa diandalkan. Anggur putihnya enak sekali. Kami bersulang untuknya, sebelum meringkuk tenang-tenang. Sekilas saya sempat teringat soal singa laut tadi.

 

IMG_20181008_15592427675789-AD64-4C5A-87CC-F85F4FFBCD9BC3A61F1C-9329-47BC-B37F-B52A727118A3IMG_20181009_174056

comments 2

Satu hari di San Francisco

Hari sudah terang saat saya membuka jendela kamar, meneguhkan niat untuk memulai pagi dengan membaca di balkon yang menghadap gang sempit dan tangga-tangga besi. Semalam balkon ini mengingatkan Maesy akan adegan saat Audrey Hepburn menyanyi Moonriver sambil main ukulele di Breakfast at Tiffany’s (tokoh Holly Golightly ini menyebalkan, tapi kalau dia bisa menyanyi sesyahdu itu, siapa yang tak tergerak untuk memaafkannya, coba?). Angin dingin berembus masuk begitu jendela terbuka. Buru-buru saya menutupnya kembali dan masuk ke balik selimut.

“Udara dingin ini bikin aku gentar,“ kata saya pada Maesy. Ia cekikikan lalu memeluk saya, memasukkan tangannya ke balik kaos.

Menjelang pukul sembilan, setelah malas-malasan, kami menumpang bus ke Golden Gate. Kami sempat berpikir apakah pergi ke Golden Gate ini hanya demi membuat kepergian ke San Francisco menjadi sah, seperti melihat Monas, atau Eiffel, atau patung liberty. Tapi, tokh, sampai di sana kami senang-senang saja. Itu tadi sekadar keruwetan pikir orang-orang yang merasa sudah meneguk asam garam. Dan Golden Gate memang mengagumkan. Para pencandu arsitektur dan bangunan-bangunan mencengangkan pasti terharu, yang sedikit cengeng mungkin menitikkan air mata. Ia panjang, merah, kokoh dan membuat dua daratan berjarak lebih dari dua kilometer tersambung.

Kami berjalan kaki menyusurinya, berjalan hingga seberang, melewati patung The Lone Sailor, persembahan puitis bagi para pelaut yang meninggalkan San Francisco untuk pergi perang. Patung ini mengabadikan momen ketika para pelaut menoleh ke belakang, melihat untuk kali terakhir tanah tempat mereka tumbuh besar. Kami berhenti di tempat pemberhentian bus yang terik, di dekat pohon kaktus. Bus masih agak lama, dan saya mengambil buku Kura-Kura Berjanggut dari tas, yang ternyata agak basah karena termos bocor. Saya sempat menyalahkan Maesy karena ia yang terakhir menutup termos. Belakangan kami tahu termos itu bocor betulan, tapi saya tetap berusaha mempertahankan rasa bersalah pada dirinya.

Processed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with a5 preset

Kami berhenti di tengah kota, di jalan Hyde. Supir bus, pria gundul berwajah pendiam, sedang dalam suasana hati yang baik. Ia membiarkan kami tidak membayar karena uang saya terlalu lecek untuk diterima mesin. Mungkin karena ini musim panas, semua orang jadi mudah bergembira. Walaupun saat kami keluar bus, angin dingin menerpa dan kami menggigil. Kasihan orang-orang San Francisco ini, musim panas tetap tidak menghilangkan angin yang dingin. Kami berjalan kaki menuju Haight Street, jalanan yang pada tahun 1960-an menjadi pusat pergolakan kaum hippie. Mereka menolak perang Vietnam, merayakan kebebasan indvidu, kebebasan bercinta dengan siapa pun yang cocok di hati, menghisap ganja dari pagi ke pagi, menciptakan puisi, dan musik psikedelik, dan lagu-lagu protes, dan lagu-lagu perdamaian, dan novel-novel, dan sub-kultur baru. Sisa atmosfer itu masih terasa, paling tidak dari bau ganja yang tercium di sepanjang jalan, yang terembus dari pria bertato setan, juga gadis berambut merah dengan anting di hidung, juga pria berkaki kurus yang menenteng anjing buldog sebesar sapi.

Di persimpangan Haight Street dan Ashbury sedang ada festival jazz. Sekelompok anak muda memainkan instrumen dengan tokoh utama seorang peniup trompet. Semua orang di depannya ikut bergoyang; bapak tua yang mengenakan seragam pahlawan super, gadis muda yang bergantungan di pundak pacarnya, atau sekelompok pria tua nudis dengan penis bergelantungan, yang bola-bolanya diikat ke belakang dengan semacam sabuk kulit.  San Francisco bangga menjadi tempat yang menerima siapa pun. Di banyak sudut kami mendapati bendera pelangi tanda cinta pada semua orang. Di Booksmith, toko buku independen di Haight Street, terdapat tulisan: para nudis juga boleh masuk. Kota ini bangga menjadi bagian dari perubahan-perubahan sosial signifikan dalam sejarah Amerika. Di depan Booksmith, perempuan berwajah tegas dengan tato di sekujur lengan kanan berjualan buku foto tentang Black Panther dan generasi bunga.

Processed with VSCO with a6 preset

04B8E6C0-FCEF-4B36-A8AE-73EC1562CF23

Dari Booksmith kami menuju Valencia Street. Maesy mau belanja pakaian di Everlane. Toko ini, yang konon menjunjung tinggi praktis bisnis sehat, begitu terkenal sehingga untuk masuk pengunjung  mesti antri. Saya menertawai Maesy akan kerelaannya mengantri di toko yang wajahnya menyerupai Apple Store itu. Beberapa kali orang melewati antrian kami dan menunjukkan ketidakpercayaannya betapa orang-orang rela mengantri demi sehelai pakaian kemahalan. Saat akhirnya masuk, ternyata Maesy tidak menemukan pakaian yang ia inginkan dan saya menemukan bahan tertawaan baru.

Kami berhenti di Four Barrel Coffee, memesan kopi dan membaca sebentar. Kami sempat menemukan koran The New York Times yang memasang wajah Donald Trump.  Isi beritanya soal si degil itu yang menolak segala sains dan nasihat. Ia maju ke negosiasi nuklir dengan Korea Utara tanpa dibantu satu pun ilmuwan nuklir. Ia tidak menerima nasihat dari siapa pun. Ia mengandalkan satu-satunya manusia kesayangannya, dirinya sendiri, dan sesuatu yang ia yakini lebih tajam dari segala sains di dunia, instingnya sendiri. Maesy mengambil foto tajuk utama koran. Di pinggir foto terlihat jari tengah saya menyembul.

Dari sana kami pergi ke toko buku City Lights. Perjalanan kaki yang cukup jauh tapi membawa kami melihat sore di San Francisco. Kami melewati banyak gelandangan, termasuk di kompek-komplek bisnis utama. Mereka tidak tersembunyi di penampungan-penampungan, mereka muncul menegaskan hak yang sama akan ruang publik kota. Beberapa dari mereka tampil mencolok di jalanan utama, terkadang sambil berpidato tentang suatu hal. Kami berjalan sambil ngobrol soal kota yang makin mahal dan orang-orang lama yang tergeser keluar.

Processed with VSCO with a5 preset

Processed with VSCO with c1 preset

Begitu melihat plang City Lights, juga poster di atasnya, juga jajaran buku di rak dan ruang bawah tanahnya, kami langsung tahu bahwa kami tidak akan keluar lagi sampai malam.  Di atas tokonya terpampang poster wajah-wajah imigran dan ajakan bagi warga untuk mengenal mereka lebih dekat. Kemudian kami tahu bahwa sejak tahun 2000 City Lights menempatkan poster-poster besar di atas tokonya, di salah satu sudut paling sibuk di San Francisco. Poster berisi ajakan-ajakan terkait keadilan sosial. Tentang anti gentrifikasi, pemenuhan hak-hak minoritas. Ini juga sebagai bentuk protes mereka tentang betapa ruang publik telah begitu dibanjiri iklan korporasi yang sedang menjajakan dagangan.

Kami menghabiskan waktu di sana hingga pukul setengah sebelas, beberapa saat sebelum mereka tutup. Saya sempat membaca esai-esai Jessa Crispin tentang kekesalannya pada gerakan feminisme yang dikomodifikasi, kemudian dibuat lembek dan tidak akan menghasilkan perubahan berarti. Saya juga membaca novel Dianne di Prima yang dibuka dengan adegan saat ia bangun tidur dan mendapati dirinya masih telanjang, di sisi pria bernama Ivan, pria kurus dengan kemaluan besar yang kemudian ia ajak bercinta sekali lagi. Saya juga membeli Cannery Row karya Steinbeck karena novel itu berlatar Monterey, kota kecil yang akan kami datangi dalam minggu depan. Hari diakhiri dengan minum milk shake coklat di Lori’s Diner. Kami sedang di Amerika jadi sudah semestinya pergi ke diner dan minum milk shake dengan es krim di atasnya. Maesy meminta saya memfotonya dengan segelas besar milk shake dan wajah yang tersenyum manis.

 

260D012B-D663-4E00-AC70-723032AD9AAA

 

*catatan ini ditulis malam harinya di penginapan. Saat Maesy sudah mengantuk dengan mata cuma segaris. Saya bertekad untuk membuat tulisan cepat setiap hari tentang hal-hal yang kami lihat di perjalanan tiga minggu di Amerika kali ini. Di akhir perjalanan, satu-satunya tulisan yang saya bikin selain beberapa bab naskah novel baru yang aduh jadinya bakal masih lama banget, ya, seperti yang diramalkan, cuma yang ini.

 

comments 6

Nat King Cole di Kaleng Sarden

Ketika taksi putih berhenti di depan lobi apartemen kami, seorang sopir tua menyembul. Rambut, kumis, dan janggutnya putih semua, kontras dengan kulit yang gelap. Ia membuka bagasi dan menawarkan diri membantu saya memasukkan koper. Saya menolak halus lalu memasukkannya sendiri. Koper besar ini berat sekali, penuh buku baru untuk dijual di toko buku sore itu. Pak sopir memegang tutup bagasi sementara saya menempatkan koper di antara beberapa benda yang ada di sana; ransel, kardus, kotak perkakas. Mungkin ia meleng, tutup bagasi lepas dari pegangannya dan menimpa kepala saya. Saya meringis, sakit juga. Ia buru-buru meminta maaf dan bertanya apa saya tidak apa-apa. Saya mengangguk sambil memegangi bagian belakang kepala. Di antara permintaan maafnya, ia sedikit terkekeh. Mungkin wajah saya terlihat bodoh.

Kami merayap di jalan HR Rasuna Said yang tersendat. Hawa di dalam mobil agak panas, pendinginnya sudah lemah. Ini taksi tua yang kondisinya jauh dari segar, kursi mengelupas, segala sesuatunya terlihat keropos, dasbor sepertinya dapat ambruk jika sopir tak sadar melewati polisi tidur. Gelas air mineral kosong tergeletak di bawah, sepertinya bekas penumpang terdahulu. Taksi ini mengeluarkan bunyi berdecit seakan dalam setiap geraknya. Ia mengingatkan saya akan kaleng sarden, atau tumpukan seng.  Maesy duduk di samping saya menyampaikan kekhawatiran akan terlambat tiba di tujuan. Pak sopir tua melirik dari kaca spion atas.

“Maaf ya Neng, semoga di putaran Trans, jalan sudah lancar lagi.”

Buru-buru Maesy berkata dengan nada minta maaf, bahwa ia hanya menggerundel sendiri dan tidak sedang menyalahkannya.

Setelah itu kami semua saling diam. Jalan masih macet dan tak masuk akal. Kaleng sarden masih merangkak pelan. Mobil-mobil tetap menyeberangi perempatan Kuningan, meluruk ke Jl Tendean, walau kemacetan di depan juga sama gilanya.

Sampai saat terdengar suara Nat King Cole.

Nature Boy muncul dari pemutar kaset tua di jok depan. Pemutar kaset yang sama usangnya dengan taksi ini, dengan bass yang sepertinya tak berfungsi lagi sehingga suara yang muncul sedikit cempreng. Tapi ini Nat King Cole, suaranya mungkin tetap indah walau pemutar kaset dicemplungkan ke bak mandi. Dulu saya dan Maesy sempat ngobrol kalau kami suka naskah fiksi yang dituturkan dengan jernih, yang meniti babak demi babak dengan perlahan dan halus. Begitulah Nat King Cole melantunkan lagu-lagunya. Dengan rambut klimis dan senyum lebarnya itu. Saya dan Maesy saling berpandangan, lalu melihat ke depan, mata saya bertemu dengan mata Pak Sopir tua yang melirik dari spion. Saya memberinya senyuman.

There was a boy
A very strange enchanted boy

They say he wandered very far
Very far over land and sea

“Musiknya bagus sekali, Pak,“ ujar saya saat lagu berakhir.

Musik yang membuat semua kekacauan di luar menjadi melagu. Orang-orang yang menunggu, pedagang yang mendorong gerobak, semua seperti melantunkan melodi. Pak sopir tua ini, tentu ia seorang romantis. Mengemudikan taksi tuanya, dengan rambut dan kumis putihnya itu, mengejutkan penumpang dengan lagu-lagu indah dari masa yang telah lama berlalu.

Ini gambaran yang mungkin terlalu biasa, tentang sisi romantis kota-kota semrawut. Perjumpaan tak terduga dengan sopir taksi arif bijaksana, yang mendengarkan cerita sedihmu di perjalanan tengah malam, yang tetap bertenaga di usia tua, yang menyekolahkan anaknya hingga tinggi. Ia muncul untuk membuat segala keruwetan jadi sedikit termaafkan. Cerita yang terlalu sering ditemui dalam tulisan penggugah inspirasi tapi tidak dalam kehidupan nyata. Kecuali saat kau benar-benar menemukannya. Seperti siang saat di dalam kaleng sarden itu terdengar Nat King Cole dari pemutar kaset usang milik pria tua berambut putih. Tapi karakter seperti ini pun biasanya muncul sesekali saja, lalu diceritakan kepada orang yang kamu temui sesudahnya, lalu tak lagi dijumpai, lalu lenyap, seperti asap, lalu terlupakan.

Tapi Pak Sopir tua ini, ia nyata.

Kawan kami, Ibnu Najib, suatu kali pernah berkata ia pernah menumpang taksi yang sama. Ia juga mendengar lagu tua dari pemutar rombeng dengan bass yang nyaris tiada. Ia berkata, dengan kombinasi seperti itu, lagu Nat King Cole jadi terasa lebih indah dibandingkan saat ia mendengarnya dari pengeras suara Bose-nya yang kelewat mahal itu. Belakangan kami tahu, pak Sopir tua itu memang kerap mangkal di dekat apartemen kami. Suatu kali kami berjumpa lagi dengannya (dari ribuan taksi di Jakarta, bertemu kembali dengan pengemudi yang sama tentulah istimewa). Ia masih memutar lagu-lagu lama, kaleng sardennya masih mengeluarkan bunyi berdecit seperti hendak ambruk.

Di tengah jalan ia berkata ia merasa pernah mengantarkan kami sebelumnya. Kembali kami beradu pandang dari kaca spion.

“Betul, Pak, pernah. Saya, sih, nggak mungkin lupa sama Bapak.”

Kami tidak saling memperkenalkan nama, atau berbicara hal-hal pribadi, atau soal segala sesuatu yang diurus orang-orang rakus. Hanya berbagi momen-momen sekejap ketika lagu-lagu yang dilantunkan dengan indah membuat semuanya terasa baik-baik saja. Kembali ia terkekeh. Kekehan yang sama seperti saat dulu tutup bagasi menimpa kepala saya.