comments 4

Cerita dari Jalan

Saya hendak lanjut membaca Daisy Jones and the Six ketika Maesy bertanya saya sudah sampai mana. Saat itu kami duduk di halaman belakang penginapan di Hokitika, di bukit dengan padang rumput luas, bunga daisy kuning di dekat kawat pagar, dan bunga mawar yang dikunjungi lebah. Saya katakan padanya ini di bagian Daisy menyanyi bersama Billy di pertujukan terakhir mereka. Oh, dari titik ini kamu ngga akan berhenti! katanya. Dan saya mulai membaca, semula Sam Cooke masih kedengaran menyanyi sayup-sayup, tapi kemudian tidak ada lagi musik, dan saya terus membaca, tidak berhenti, hingga tiba di halaman terakhir dan saya berkata pada Maesy betapa buku ini ditutup dengan indah.

Senyumnya lebar sekali saat tahu tebakannya benar.

Kami tiba di pertengahan roadtrip kedua kami di Aotearoa, dan sejauh ini, di segala macam soal, ia memang banyak benarnya. Ia memperhitungkan semua dengan baik — kapan hujan turun sehingga rencana trekking bisa disesuaikan, kapan tidur di hostel, kapan mencari penginapan yang rada nyaman karena kami tak lagi muda, kapan kotak bekal harus disiapkan dengan lebih lengkap, kapan saya menyetir jauh, kapan bisa santai golek-golek saja seperti hari ini — membaca, menunggu matahari musim panas yang terbenam di pukul sepuluh, membuka anggur murah yang kemarin dibeli di supermarket.

Saya menulis ini beberapa saat kemudian, ketika Maesy duduk mencatat di buku jurnalnya. Sudah beberapa tahun ini ia masih terus menulis di sana. Tulisan tangannya kecil seperti barisan semut, tapi sudah beberapa kali jurnal dengan sampul kulit itu penuh dan diganti baru. Kini, Maesy tak lagi menulis di blog. Mungkin bersama usia ia jadi lebih tertutup, dan ia bilang menulis di jurnal memberinya ruang untuk bisa jujur dan lebih lepas menulis hal-hal yang paling pribadi, juga kegembiraan, kecemasan, dan ketakutannya. Kali ini saya juga lumayan rajin menulis catatan harian. Mencatat-catat saja — percakapan yang kami lakukan, tawa yang kami bagi, percakapan yang kami curi dengar.

Tadi saya menulis tentang betapa gembira Maesy berenang di sungai Pororari sesudah berjalan di hari yang terik, di tengah hutan dan di antara jajaran pohon pakis. Dengan bercanda saya katakan ia seperti boneka kelinci yang cemberut, yang jadi tersenyum lebar sesudah kupingnya dipegang dan tubuhnya dicelupkan ke air. Ia senang dengan perumpamaan ini. Dan ia memang selalu gembira saat bertemu air. Ide di kepalanya tentang road trip di musim panas adalah menemukan sungai dengan air bening di pinggir jalan lapang, memarkir mobil dan berjalan turun hingga sisi sungai, lalu melompat. Di sungai di bawah jembatan Pelorus ia melompat dari batu dan tawanya kencang sekali.  Saya mencatat momen ketika kami duduk di Aoraki, makan bekal buah ceri dan crackers yang dicocol ke pesto, di pinggir danau yang terbentuk dari es yang mencair. Sesekali kami mendengar bunyi bongkahan es yang terjatuh dan nyemplung ke danau, dan di dekatnya ada bebek yang berenang tenang-tenang seolah semua dingin ini ringan saja. Saya membuka catatan beberapa hari sebelumnya dan menemukan percakapan dengan Belinda tentang toko buku kecilnya di Geraldine, toko buku yang ia buka enam minggu saja sebelum pandemi. Bagian belakang toko bahkan belum selesai ia renovasi saat pandemi tiba. Saya ikut tersenyum mencatat waktu Maesy gemetar menyeberangi jembatan gantung di hooker valley, dan ia komat kamit berdoa mengucap syukur akan limpahan kasih sayang yang ia terima, tapi kemudian pidatonya terganggu karena ada pria tua beponco polkadot hijau berjalan di belakangnya dengan langkah besar-besar yang membuat jembatan oleng. Beberapa hari kemudian, di toko buku di Twizel kami menemukan tulisan ini: “It’s beautiful here. In this small room. In this small town. In this small country at the edge of the world.”

Indah ya?

Suatu hari nanti, saat membacanya lagi, mungkin catatan lama bisa membawa kembali hal yang dulu dirasakan. Atau, kala banyak hal yang tak lagi bisa dilakukan, karena usia atau yang lain, kita akan mengenang dengan manis sebuah masa ketika kita bisa demikian berdaya, atau begitu bahagia.  Bersama waktu, memori terus bertumpuk, banyak yang terlupakan, yang lain saling tindih. Sering kali jika saya teringat sesuatu samar-samar, saya akan bertanya pada Maesy — tentang di mana suatu percakapan terjadi, tentang siapa berkata apa, tentang apa yang persisnya dikatakan seseorang di suatu waktu. Biasanya Maesy ingat, dan dengan bercanda dia bilang saya mengoutsource ingatan ke dia. Tadi saya bertanya saya merasa pernah memakai flannel yang sama dengan yang saya pakai hari ini di sebuah akhir roadtrip lain, dan ia ingat itu perjalanan yang mana, juga nama kafe yang kami singgahi waktu itu. Namanya little river, katanya, dan kamu makan pai daging lahap banget.

Beberapa hari ini kami juga sama-sama membaca Greta & Valdin, karya penulis Aotearoa, Rebecca K. Reilly. Buku ini direkomendasikan Sally, perempuan tua yang mengelola toko buku mungil di semacam kontainer di Wanaka. Saya ingat Maesy membacanya saat kami golek-golek di rumput dan ia banyak tertawa padahal ia baru saja gemetar kedinginan sesudah berenang di danau. Saya ikut membacanya dan merasa mungkin ini buku awal tahun paling segar yang pernah saya baca. Cerita tentang keseharian kakak beradik Greta dan Valdin dan keluarganya. Buku ini mengingatkan kami tentang betapa hidup sangat panjang, dan di antaranya kita mengalami masa sedih, tragedi, trauma, dan sesudah itu berlalu, hidup masih saja panjang. Dan ini cerita orang-orang di masa sesudah semua itu berlalu, bagaimana mereka tidak membiarkan rasa sedih dan tragedi masa lalu mendefinisikan mereka kini, atau hubungan mereka satu dengan yang lainnya. Dan Reilly menulis dengan lucu sekali. Beberapa kali saya membacakan lagi untuk Maesy dialog Greta dan Bapaknya, atau Valdin dan Ibunya, lalu tertawa bersama.

Buku ini juga mengingatkan kami pada hidup kami sendiri yang panjang dan masih panjang, tentang rasa frustasi masa kecil, kesedihan di usia dewasa, dan bagaimana kami melihatnya kini. Di bulan Februari nanti, kami genap menikah sepuluh tahun, dan bersama-sama lebih dari delapan belas tahun. Sudah cukup lama kami meyakini bahwa kami sudah menemukan orang yang akan menjadi teman hidup di kala tua nanti. Dan saat percakapan ini muncul, Maesy kerap berkata agar saya tak buru-buru mati, apa lagi matinya konyol-konyolan. Kita menua sama-sama ya, begitu katanya. Janji yang kami pegang bersama. Nanti, kata Maesy lagi, aku saja yang mati duluan. Sesudahnya, kamu boleh bergembira (kalau memang bisa) atau menyusulku. Saya pikir sudah lama saya ingin bisa tetap menjalani hidup seperti ini, mengupayakan untuk melakukan hal-hal yang saya sukai dengan sungguh-sungguh, agar suatu hari nanti, di usia lanjut, bisa dengan jujur berkata bahwa hidup sudah saya jalani dengan sebaiknya, bersama orang yang saya cintai. 

Kami masih duduk di teras dengan padang rumput luas dan matahari musim panas yang tak kunjung terbenam. Saya mendongak melihat burung yang terbang melingkar-lingkar sendiri. Ternyata Maesy juga melihat burung yang sama. Kami sama-sama terdiam, melihatnya terbang melingkar-lingkar, kadang sayapnya terkepak, kadang melayang saja. Maesy bilang burung itu seperti saya, tenang di sini, di masa ini, tak ingin pergi kemana-mana lagi.

Seperti tadi, kali ini ia juga benar.


comment 0

Seperti canang yang tak sengaja terinjak

Ini baru pukul delapan malam dan jalanan Seminyak sepi sekali.  Kami berpapasan dengan mobil pengangkut sampah, pasangan yang berboncengan, dan satu dua kendaraan yang segera dilupakan. Jalan motor bebek pelan, tapi dada rasanya agak tertusuk, mungkin karena tadi hujan, dan kaos yang saya pakai tipis saja dengan lubang-lubang kecil di beberapa bagian. Maesy nangkring di belakang dan saya meminta tolong padanya untuk mengancingkan kemeja flannel saya yang terbuka. Ia kesulitan dan akhirnya memegang saja dua bagian kemeja dengan posisi memeluk sehingga kaos tipis tetap terlapisi. Saat melewati restoran Vietnam yang masih buka, Maesy minta berhenti. Dia pernah dengar bun-nya enak. Motor bebek diparkir di depan dan kami masuk masih dengan helm bertengger di kepala dan mendapati cuma kami tamu malam itu. Bangku restoran ini banyak, mungkin sebelum pandemi bisnis sedang bagus. Satu kotak bun datang dengan isi dua biji, dan kami memakannya dengan mulut monyong karena masih panas. Enak, dan kami memesan satu lagi dan kakak penjaga menyambut senang. Dia memakai masker tapi saya bayangkan dia tersenyum dengan gigi kelihatan. Kembali kami berdua ngobrol tentang Canggu malam hari yang bising. Tadi kami berjalan kaki menyusuri bibir pantai Berawa, sesekali ombak dingin membenamkan mata kaki telanjang kami. Rasanya menyenangkan. Tapi saat menoleh ke kanan, rasa senang merosot. Dari sana lampu tembak menghujam ke pantai, dan terlihat gerumbulan orang-orang yang menari, terkadang terdengar teriakan orang girang, di antara musik yang berdentam-dentam. Setiap kali pulang ke Bali kami selalu ke pantai Berawa, Batu Bolong, Batu Mejan, tapi selalu di pagi hari, nyaris tak pernah di kala malam, saat sesuatu yang sama sekali asing untuknya seakan tiba-tiba terpancang saja begitu, dan bersuara saja, dan kencang-kencang, tanpa sedikit pun negosiasi. Laut di malam hari masih selalu menyimpan misteri, juga semacam kemarahan, tapi malam itu, kami membayangkan ia terlihat tak berdaya. Sewaktu kecil saya pernah dibawa almarhum ajik ke sini — sini kutunjukkan pantai rahasia, begitu dia bilang. Saya ingat dia pakai celana pendek warna merah, masih kuat lari ke tengah laut dan berenang-renang. Seperti hari ini, dulu pun ombaknya besar, jadi dia tidak bisa ngambang lama-lama seperti di pantai lain. Saat ombak tinggi datang ia masuk ke bawahnya, seperti lumba-lumba. Saya masih ingat, ia menghampiri saya yang duduk di pasir, badannya basah, napasnya terengah-engah — bagus kan, katanya. Suatu kali pernah juga dia pergi sebentar lalu datang membawa kelapa, juga golok, dan dia membelahnya lalu menyodorkan pada saya yang menyambut dengan kehausan. Ajik memang tangkas, tapi sepertinya dia tidak memanjat sendiri untuk memetik kelapa itu. Mungkin dia dapat dari orang yang sekalian meminjaminya golok, tapi saya senang membayangkan dia memanjat dengan gesit. Kini, setiap kali ke Bali saya selalu mengajak Maesy ke Canggu pagi-pagi, bersama orang-orang yang juga bangun terlalu pagi, juga anjing-anjing kecil yang menyalak-nyalak nyolot, dan anjing besar yang menggeram-geram, yang susah payah ditahan pemiliknya agar tidak menerkam si konyong. Tadi saat lewat Finn saya bilang ke Maesy, apa ya yang akan terjadi jika aku menelusup ke tempat pemutar musik dan menggantinya dengan lagu-lagu Sinatra. Maesy cuma melihat saya dengan kasihan, sepertinya untuk alasan yang berlapis. Dari restoran Vietnam kami motoran lagi sampai Legian, melewati toko-toko yang tutup, yang di depannya terpasang tanda disewakan, melewati bli-bli yang duduk-duduk di dekat trotoar. Satu bli menghisap rokok lalu menjulurkannya pada bli yang lain, tak ada lampu kelap-kelip, tak ada musik-musik yang terdengar di trotoar. Sewaktu SMA saya suka motoran sendiri ke sini, diparkir begitu saja, lalu jalan kaki sepanjang Legian, kadang mampir ke Matahari, main dingdong lalu jalan lagi, hingga ke pantai, kadang belok ke Kuta Square, melewati orang yang menawari ekstasi di dekat bar Rasa Sayang, tempat Bli Komang sering nongkrong. Sepupu saya ini kenal semua orang di sana, dia kerap mengulang cerita betapa turis-turis Jepang gemas padanya. Sekarang semuanya tidak ada, Bli Komang lenyap, musik-musik tak terdengar, yang ada toko-toko yang tutup, yang ada bli-bli duduk-duduk tanpa banyak tertawa, juga pekerja seks tua yang sendiri di pintu toko kosong dengan plang disewakan dan lampu depan yang padam. Di satu tempat ada yang masih menyajikan live music, band menyanyikan lagu Careless Whisper, seperti mencoba menahan masa yang telah lalu. Sedikit penonton duduk-duduk di depannya, meminum birnya pelan-pelan. Agak malam terdengar suara knalpot cempreng dari belakang. Beberapa anak muda berandalan trek-trekan di jalan pantai Kuta, tak satu pun pakai helm, sebagian besar nyeker, kaki-kaki mereka kerempeng. Kami minggir membiarkan mereka leluasa menguasai dunianya. Di perjalanan pulang saya masih geregetan dan nyerocos saja, bertanya bukankah pantai di malam hari menjadi indah kalau lagu yang diputar adalah” Di Wajahmu Kulihat Bulan”. Maesy berkata betapa saya beruntung karena tetap ada beberapa orang di dunia ini yang menyayangi dan menerima saya apa adanya. Kemudian dia mencubit pinggang saya. Yang terakhir ini sepertinya tanpa alasan, saat dibonceng dia senang saja sesekali main cubit. Keinginan tadi lumayan terpenuhi keesokan harinya. Saat itu tengah hari, matahari panas tapi tidak panas-panas amat, dan kami berdua berenang di pantai Batu Belig. Kami berenang lalu duduk-duduk membiarkan pasir memenuhi punggung dan pantat dan kaki, lalu berenang lagi, lalu duduk-duduk lagi. Maesy pakai bikini merah muda, dengan belang-belang kuning biru di pinggirnya. Dia berbangga pada bikini yang menurutnya bagus, dan saya iya iya saja. Sayup-sayup kami mendengar suara jazz, dan saya berjalan sedikit ke Utara, ke arah suara itu, mendapati kafe kecil berbentuk bangunan panggung dari kayu rada reot yang memutar lagu-lagu Fred Astaire. Dari dekat tangga kedai saya memesan bir bintang botol kecil pada penjaga berkaca mata gelap yang pakai baju bunga-bunga mekar. Saya bersandar di sisi panggung kedai, memegang botol bir, dan memandang ombak yang datang pergi. Ada anjing yang berjalan sendirian di bibir pantai saat Fred Astaire menyanyi Cheek to Cheek. Saya melihat Maesy di kejauhan. masih duduk di pasir dengan kaki menjulur. Di satu titik ia melihat saya lalu melambaikan tangan, meminta saya duduk di dekatnya. Saya memberinya tanda dengan memutar jari telunjuk di kuping, menunjuk ke kedai, dan menggoyangkan kepala seperti mengikuti musik pelan. Dia tersenyum dari kejauhan. Saya mengangkat botol bir dan memberi tanda bersulang padanya — untuk sisa-sisa hari yang masih baik.

comments 7

Khawatir banget ya, kemarin?

Saat terjaga pagi tadi, saya tak mendapati Maesy di kamar. Samar-samar ingatan muncul, Maesy berkata ia akan berjalan kaki di luar. Sepertinya saya sempat bilang agar ia tak bergerak terlalu banyak dan ia mengusap kepala saya, lantas berlalu, dan saya tak ingat apa-apa lagi. Saya membuka tirai, mencuci muka dan bergerak ke kulkas. Ada teko berisi sisa kopi kemarin di sana. Saya menuangnya ke gelas keramik, mencampurnya dengan susu kedelai dan mencemplungkan es batu. Sesudah meminumnya setengah, saya menuang sisa kopi hingga habis. Saat pulang nanti Maesy tentu senang jika menjumpai sisa kopi dingin, tapi saya sedang ingin menjahilinya. Sesudah delapan belas tahun, saya masih senang melihatnya pura-pura ngomel.

Dengan bekal es kopi susu, juga buku semalam yang masih tergeletak di atas meja makan, saya duduk di balkon, di pagi saat matahari belum seberapa tinggi, lalu mulai membaca. Bill Hayes menulis tentang hari-harinya di awal pandemi tahun lalu. Ia menulis tentang jalanan New York yang dulu dipenuhi kendaraan, yang kini berisi sepasang orang tua berjalan bergandengan di tengah jalan. Ia mengingat deru suara kendaraan yang kini berganti derak roda skateboard yang masih terdengar jelas dari ujung blok. Sekilas ini pemandangan yang indah, tapi saat ia menyadari dirinya, juga orang-orang yang ditemuinya mengenakan masker, ia tersadar bahwa ini seperti awal dari sesuatu yang buruk. Oh, tahukah ia saat itu bahwa itu adalah permulaan dari episode yang sangat, sangat, buruk?

Kini, lebih dari setahun sesudahnya, kita mendengar kabar sedih setiap hari, yang disusul kabar sedih lain, bahkan sebelum yang terdahulu mampu dicerna. Beberapa orang lebih beruntung merasakan kecemasan di rumah saja, yang lain harus meneguhkan diri bertaruh setiap hari di jalan. Ada yang mendengar berita sedih dari rumah, atau mengamati dari gawai. Banyak yang lain merasakannya langsung di antara antrian tabung oksigen, rumah yang sesak, bangsal IGD, parkiran rumah sakit, saat orang terdekatnya, atau dirinya, berusaha menggapai sisa-sisa udara dunia. Dan di satu tempat di langit-langit ruangan, kematian seperti bergelayut-gelayut. Inilah hari-hari ketika ketimpangan semakin menampilkan wajahnya, dan mereka yang berkuasa semakin menunjukkan wujud aslinya. Hari-hari ketika mereka yang di pinggir harus memendam rasa marah, sedih, tak berdaya sendiri saja, dan tahu bahwa jika pun episode ini bisa dilalui, ia akan meninggalkan luka yang mendalam.

Lewat dua minggu yang lalu Maesy mendapati dirinya positif. Saya masih ingat ia membaca hasil tes saat duduk di sisi tempat tidur yang menghadap jendela, sementara saya berdiri di dekat pintu. Waktu itu hati rasanya mencelos dan saya ingin meraihnya, dan memeluknya, tapi saya tahu itu tak bisa dilakukan. Maesy menangkap kegundahan ini dan ia berkata hal-hal akan baik-baik saja. Saya teringat adegan sebuah cerita saat si tokoh berkata pada maut yang menghampirinya bahwa ini belum saatnya. Dari dua ujung ruangan kami menekan kecemasan masing-masing dan berbicara bagaimana hari-hari sesudah itu akan ditangani — tentang pengaturan tidur, makan, kontrol dokter, cuci mencuci piring, kebutuhan vitamin, cadangan oksigen, kemungkinan-kemungkinan jika saya juga positif, juga rencana-rencana jika hal-hal tidak membaik. Beberapa minggu sebelumnya, saat menjaga Mamanya yang juga positif, ia sudah tahu segala yang harus disiapkan. Tapi tetap saja, ia punya asma, dan situasi di luar sedang sangat runyam dan kami tahu kami akan kesulitan jika Maesy harus dirawat di rumah sakit.

Dan hari berjalan, satu hari, dua hari, ada masa ketika nafasnya sesak, dan ia letih sepanjang hari. Enam hari, tujuh hari, ada malam ketika ia terduduk di lantai karena jantungnya berdetak jauh lebih kencang, dan ia nyaris menangis. Delapan hari, sepuluh hari, terkadang hal-hal berjalan santai dan ia duduk berjemur di balkon dan saya bercerita tentang suatu hal dengan suara lebih kencang dari meja makan, dan ia tertawa walau tak bisa terlalu kencang. Dua belas hari, dua minggu, ia masih letih tapi ia di sana, duduk di sofa dekat balkon, memasang senyum.

Lima hari lalu kami menonton film berdua di sofa, untuk pertama kalinya berdekatan sejak hari di kamar itu. Maesy benar, walau tak selalu mulus, hal-hal berjalan baik untuknya. Hari-hari dengan kecemasan itu kini ada di belakang, walau tak sepenuhnya, dan kini kami di sini, duduk di sofa dengan kaki berselonjor dan ditutupi selimut yang sama. Di tengah-tengah film Maesy mengangkat wajahnya dan mengamati wajah saya di ruang tengah yang hanya diterangi cahaya dari TV.

“Khawatir banget ya, kemarin?” tanyanya. Cahaya dari TV berpendar di wajahnya, terkadang agak biru, lalu jingga.

Biasa saja, kata saya padanya, tapi ia tahu itu ngibul. Kasihaaan, katanya sambil menepuk-nepuk pipi saya seperti berbicara dengan anak kecil. Kembali ia menyenderkan kepalanya, tangannya menyelip ke balik kaos saya, dan kami berdua menatap ke TV lagi. Saya tak betul-betul mengikuti pertunjukan di TV. Beberapa ingatan mampir di kepala, gambar-gambar yang akan terus diingat – ada pemandangan ketika Maesy tertidur kelelahan di sofa, dan saya memandanginya dari dapur, merasa lega melihat perutnya bergerak-gerak menunjukkan nafas yang teratur, juga saat ia terlihat ringkih ketika saya harus membawanya ke dokter, atau malam-malam saat punggungnya perlu digosok minyak agar nafasnya lebih lega, atau sore ketika ia harus mencereweti saya tentang bagaimana cara membuat sup dengan benar. Kini semua itu ada di belakang, dan setiap kali kesadaran itu muncul, saya meremas lengan atasnya, merasakannya benar-benar ada di sini, baik-baik saja.

Saya membaca catatan-catatan Bill Hayes agak lama, hingga matahari meninggi. Menjelang akhir buku saya disadarkan ketukan pintu dengan tempo yang familiar. Di balik pintu Maesy berdiri, tubuhnya berkeringat dan senyumnya lebar sekali. Ia bergerak ke kulkas dan bercerita tentang beberapa ribu langkahnya hari ini. Saya senang ini adalah hari ketika ia cukup kuat berjalan jauh, di hari lain ia masih kelelahan di tengah hari dan tertidur hingga sore. Saat ia mendapati es kopi sudah habis, ia tahu saya mau mengerjainya dan ia bilang saya gagal total. Sesudah jalan kaki tadi, ia mampir ke minimarket dan membeli es milo, yang ia minum sambil duduk tenang-tenang di tangga dekat salah satu pintu di GOR Sumantri. Itu salah satu tempat duduk favorit kami, satu dari sedikit tempat di Jakarta yang sepi, dengan pohon yang rindang, kodok yang melompat di rerumputan, dan suara burung yang sering terdengar.

Maesy menuangkan air dingin ke gelas lalu berjalan ke balkon. Beberapa saat kemudian, sesudah menyeduh kopi panas, saya menyusulnya. Saya ingat bulan Mei setahun yang lalu, saat juga duduk di sini, saya menulis tentang masa awal dari periode yang tak masuk akal ini. Mungkin seperti Bill Hayes, saya pun tak membayangkan pandemi ini akan menghantam kemanusiaan sehebat ini, dan betapa kerunyaman di luar sana masih terus berlanjut. Seberapa pun saya mensyukuri satu kecemasan yang baru saja berlalu, perasaan ironis akan terus menggantungi. Betapa kami bisa melaluinya dengan lebih ringan karena keleluasaan lebih yang kami miliki di dunia yang begitu timpang ini. Begitu banyak orang dengan kesulitan yang berlipat, kesedihan yang tak bisa kami bayangkan, dan dengan keteguhan hati yang tak mungkin kami miliki. Saya memandang Maesy yang duduk di samping saya, dengan wajah berkeringat, menikmati air dinginnya. Ia masih mudah letih, dan nafasnya gampang sesak, tapi kami duduk di sini, di hari ketika satu kecemasan berlalu. Di bawah sana, di jalanan Kuningan, terlihat orang-orang berjalan dari satu tempat ke tempat lain, atau duduk-duduk membiarkan tubuhnya diterpa sinar matahari. Kami duduk diam-diam saja, menikmati hari-hari yang masih bisa dinikmati, di antara episode-episode kesedihan yang masih jauh dari selesai ini.

comments 6

Bulan Maret, Setahun Kemudian

Ini hari Minggu dan kami berdua saja di toko buku, Maesy dan saya. Shinta sedang libur dan Annie minta ijin mengerjakan sesuatu untuk urusan pindah kos. Tadi siang kami datang dengan kopi panas di tangan Maesy, dan kardus besar yang membuat pinggang sakit di tangan saya. Hari toko buku dimulai – kami mencatat buku yang baru tiba, membaca pesanan, membalas permintaan rekomendasi, membungkus buku-buku yang dibeli, menuliskan beberapa ucapan di kartu. Pesanan sedang tak terlalu banyak dan semua beres di pukul empat dan kami bisa menghabiskan sisa hari melakukan apa saja. Maesy duduk di bangku dekat jendela, bersandar rileks di dinding, lalu mulai membaca. Di antaranya ia bertanya sendiri, kenapa ya hantu gentayangan di cerita selalu memburu mereka yang dulu menyakitinya? Saya mengangguk-angguk. Saat itu Roberta Flack menyanyi tentang pemuda yang kerjanya selalu sedih, dan buku-buku berjajar di rak seperti barisan penonton yang takjub mendengarkannya.

“Menurutmu apakah kebetulan ada kata trans dalam translator?” Maesy berkata lagi. “Indah, ya?”

Saya mengangguk-angguk.

“Eh mau lihat Afrizal Malna waktu masih berambut?”

Saya melongok dan memandang takjub foto Afrizal muda yang belum gundul.

Bang Anas mengetuk pintu kaca. Di dekatnya Mahira cengar cengir, tingginya sepundak bapaknya. Sejak tahun lalu Mie Chino harus tutup di pasar dan Bang Anas tak lagi menjadi tetangga kami. Tapi kami senang ia masih ada di sekitar. Sekarang ia buka kedai es durian dan mi karet di foodcourt. Jika sedang jeda saya kerap main ke sana, duduk-duduk saja, ngobrol, atau makan cendol durian (setengah porsi saja bang! kalau penuh perutku mual). Kadang dia cerita soal sekolah Mahira, kadang ia mengeluh saat dagangan sepi, atau soal kulkas di rumahnya yang tempo hari terendam banjir. Bang Anas melongok di pintu kaca dan berkata bahwa hari ini mau pulang cepat. Ia lalu menjauh sambil menggandeng Mahira. Di tangga pasar, bapak anak itu pamit ke Samson yang duduk santai di depan toko vinylnya. Samson masih begitu, dengan kumisnya itu, dan satu kaki naik di bangku. Saya senang jika turun tangga dan menjumpainya berselonjor di sana, atau melihatnya senyum-senyum di dekat jendela saat ia jalan ke toilet. Saat duduk di foodcourt, atau melewati kios yang sepi, atau bangku kayu yang bertumpuk-tumpuk di depan pintu rol yang tutup entah sudah berapa lama, saya merasa pasar agak murung, mungkin rindu melihat mereka yang dulu sering mampir. Tapi melihat wajah-wajah yang familiar ini rasanya menyenangkan — Bang Anas, atau Samson, atau Adam yang meluncur di gang-gang dengan skuternya. Seakan hari-hari gembira pasti akan kembali datang untuk semua.

Ini hari Minggu yang tak terbayangkan tahun lalu, bahwa ia adalah hari-hari membungkus pesanan, yang tak lagi diisi teman lama dan kenalan baru, atau mereka yang membuat janji bertemu, atau mereka yang memenuhi ide romantis tentang menghabiskan akhir pekan di toko buku. Tidak ada lagi Ipank dan Nesya yang suka muncul, menghabiskan mi karet dan –dengan bibir berminyak– bertanya sedang ada buku baru apa. Sudah lama kami tak menjumpai Ricky yang membaca di bangku kayu depan, hingga malam saat ia menemani Annie menutup toko. Sudah lama meja tengah tidak disulap menjadi meja makan malam bersama Mbak Reda, atau Nisya dan Ney, sebelum hari berakhir.

Tapi, di antara usaha menahan rindu akan hari yang biasa itu, ada juga hal menyenangkan yang tak kami sangka temukan dari pekerjaan bungkus membungkus hingga gempor ini. Kami kembali tersadar betapa buku masih selalu menjadi bahasa kasih sayang antar orang dekat. Kami membungkus buku yang disertai pesan manis dari dosen kepada mahasiswanya, atau dari murid kepada mantan gurunya yang menemani di saat-saat tersulitnya, atau sekelompok teman yang mengirim hadiah buku bagi salah satu anggotanya — lengkap dengan puisi-puisi yang mereka tulis dan beri judul kumpulan puisi jelek. Beberapa minggu lalu Maesy menulis pesan cinta dari seseorang yang panjangnya sampai dua lembar. Saat selesai ia melipat rapi kertas itu lalu berkata bahwa ini yang membuat hal-hal tetap menyenangkan. Saya menggodanya dengan bertanya emang ngga ada hal lain yang menyenangkan. Saat itu kami di toko hingga agak malam karena hujan. Saya membaca di dekatnya, Shinta di dalam mengetik-ngetik di komputernya, dan lagu-lagu terdengar, dan di dekat kami ada teh yang masih panas. Maesy melihat ke sekeliling lalu memasang senyum.

Menjelang pukul enam kami menutup toko. Hari masih terang di luar dan kami memutuskan untuk berjalan kaki saja. Ini menjadi ritual pulang toko kami, berjalan kaki sedikit jauh hingga hari gelap, atau hingga kaki rada pegal sebelum mencari tumpangan pulang. Kadang kami ke Blok M, melihat restoran-restoran Jepang dari luar, di lain waktu kami menelusuri Cikajang, Wolter Monginsidi, Gunawarman, SCBD. Berjalan sambil ngobrol atau diam-diam saja, melihat kota berubah dari terang menjadi gelap, melihat orang-orang duduk di balik kaca restoran, atau mendahului badut yang berjalan lesu bersama anak kecil.

Beberapa hari lalu Maesy memotong pendek rambutnya. Lebih dari sepuluh tahun sejak rambutnya sependek ini. Jika ia sedang berjalan di depan, saya bisa melihat tengkuknya. Kemarin, saat sinar matahari menerpanya dari barat saya katakan ia seperti tokoh Klara di novel Kazuo Ishiguro. Ia membentangkan tangan seperti orang yang menyambut sinar matahari, mulutnya mengeluarkan bunyi-bunyi adegan dramatis. Kami sama-sama baru menyelesaikan Klara and the Sun dan sungguh mati menyukainya. Ishiguro menulis lapisan cerita yang kompleks dengan begitu sederhana, tentang ketimpangan kelas yang bisa membuat orang melakukan hal-hal tak terbayangkan. Maesy menangis di beberapa bagian. Sebuah kalimat bagus membuat saya menggedor pintu kamar mandi dan berteriak menyampaikannya pada Maesy yang sedang mandi di dalam. Dan akhir cerita, oh adegan akhir itu, ia membuat saya menutup buku dengan perasaan kosong. Kami berhenti sejenak di trotoar di Gunawarman karena ada mobil yang keluar dari restoran. Di dalamnya ada lima orang, dan karena jendela sopir terbuka kami bisa mendengar mereka tertawa kencang sekali. Sepertinya hidup mereka sedang baik-baik saja. Setelah mobil berlalu Satpam mempersilakan kami berjalan kaki lagi, lalu ia kembali ke bangkunya, membuka masker dan duduk sendiri. Kami terus berjalan, melewati penjual taco yang sedang ramai, di dalam penuh dan di luar pengunjung ngantri dengan duduk di bangku- bangku yang diletakkan berjarak. Kita sedang ada di masa yang akan dibicarakan hingga lebih dari seratus tahun ke depan—waktu pandemi dulu, waktu lagi covid itu — ini akan menjadi kalimat pembuka banyak sekali percakapan di masa yang entah sampai kapan. Di dekat saya Maesy berjalan, menoleh ke kanan kiri sebelum mendahului menyeberang, dan saya mengikutinya. Sebuah mobil sedan memperlambat jalannya saat kami melintas, sebelum kembali melaju di jalanan yang sepi. Dan lampu-lampu jalan telah menyala semua, dan kami masih hendak berjalan sedikit lagi.