comments 4

Bulan Maret, Setahun Kemudian

Ini hari Minggu dan kami berdua saja di toko buku, Maesy dan saya. Shinta sedang libur dan Annie minta ijin mengerjakan sesuatu untuk urusan pindah kos. Tadi siang kami datang dengan kopi panas di tangan Maesy, dan kardus besar yang membuat pinggang sakit di tangan saya. Hari toko buku dimulai – kami mencatat buku yang baru tiba, membaca pesanan, membalas permintaan rekomendasi, membungkus buku-buku yang dibeli, menuliskan beberapa ucapan di kartu. Pesanan sedang tak terlalu banyak dan semua beres di pukul empat dan kami bisa menghabiskan sisa hari melakukan apa saja. Maesy duduk di bangku dekat jendela, bersandar rileks di dinding, lalu mulai membaca. Di antaranya ia bertanya sendiri, kenapa ya hantu gentayangan di cerita selalu memburu mereka yang dulu menyakitinya? Saya mengangguk-angguk. Saat itu Roberta Flack menyanyi tentang pemuda yang kerjanya selalu sedih, dan buku-buku berjajar di rak seperti barisan penonton yang takjub mendengarkannya.

“Menurutmu apakah kebetulan ada kata trans dalam translator?” Maesy berkata lagi. “Indah, ya?”

Saya mengangguk-angguk.

“Eh mau lihat Afrizal Malna waktu masih berambut?”

Saya melongok dan memandang takjub foto Afrizal muda yang belum gundul.

Bang Anas mengetuk pintu kaca. Di dekatnya Mahira cengar cengir, tingginya sepundak bapaknya. Sejak tahun lalu Mie Chino harus tutup di pasar dan Bang Anas tak lagi menjadi tetangga kami. Tapi kami senang ia masih ada di sekitar. Sekarang ia buka kedai es durian dan mi karet di foodcourt. Jika sedang jeda saya kerap main ke sana, duduk-duduk saja, ngobrol, atau makan cendol durian (setengah porsi saja bang! kalau penuh perutku mual). Kadang dia cerita soal sekolah Mahira, kadang ia mengeluh saat dagangan sepi, atau soal kulkas di rumahnya yang tempo hari terendam banjir. Bang Anas melongok di pintu kaca dan berkata bahwa hari ini mau pulang cepat. Ia lalu menjauh sambil menggandeng Mahira. Di tangga pasar, bapak anak itu pamit ke Samson yang duduk santai di depan toko vinylnya. Samson masih begitu, dengan kumisnya itu, dan satu kaki naik di bangku. Saya senang jika turun tangga dan menjumpainya berselonjor di sana, atau melihatnya senyum-senyum di dekat jendela saat ia jalan ke toilet. Saat duduk di foodcourt, atau melewati kios yang sepi, atau bangku kayu yang bertumpuk-tumpuk di depan pintu rol yang tutup entah sudah berapa lama, saya merasa pasar agak murung, mungkin rindu melihat mereka yang dulu sering mampir. Tapi melihat wajah-wajah yang familiar ini rasanya menyenangkan — Bang Anas, atau Samson, atau Adam yang meluncur di gang-gang dengan skuternya. Seakan hari-hari gembira pasti akan kembali datang untuk semua.

Ini hari Minggu yang tak terbayangkan tahun lalu, bahwa ia adalah hari-hari membungkus pesanan, yang tak lagi diisi teman lama dan kenalan baru, atau mereka yang membuat janji bertemu, atau mereka yang memenuhi ide romantis tentang menghabiskan akhir pekan di toko buku. Tidak ada lagi Ipank dan Nesya yang suka muncul, menghabiskan mi karet dan –dengan bibir berminyak– bertanya sedang ada buku baru apa. Sudah lama kami tak menjumpai Ricky yang membaca di bangku kayu depan, hingga malam saat ia menemani Annie menutup toko. Sudah lama meja tengah tidak disulap menjadi meja makan malam bersama Mbak Reda, atau Nisya dan Ney, sebelum hari berakhir.

Tapi, di antara usaha menahan rindu akan hari yang biasa itu, ada juga hal menyenangkan yang tak kami sangka temukan dari pekerjaan bungkus membungkus hingga gempor ini. Kami kembali tersadar betapa buku masih selalu menjadi bahasa kasih sayang antar orang dekat. Kami membungkus buku yang disertai pesan manis dari dosen kepada mahasiswanya, atau dari murid kepada mantan gurunya yang menemani di saat-saat tersulitnya, atau sekelompok teman yang mengirim hadiah buku bagi salah satu anggotanya — lengkap dengan puisi-puisi yang mereka tulis dan beri judul kumpulan puisi jelek. Beberapa minggu lalu Maesy menulis pesan cinta dari seseorang yang panjangnya sampai dua lembar. Saat selesai ia melipat rapi kertas itu lalu berkata bahwa ini yang membuat hal-hal tetap menyenangkan. Saya menggodanya dengan bertanya emang ngga ada hal lain yang menyenangkan. Saat itu kami di toko hingga agak malam karena hujan. Saya membaca di dekatnya, Shinta di dalam mengetik-ngetik di komputernya, dan lagu-lagu terdengar, dan di dekat kami ada teh yang masih panas. Maesy melihat ke sekeliling lalu memasang senyum.

Menjelang pukul enam kami menutup toko. Hari masih terang di luar dan kami memutuskan untuk berjalan kaki saja. Ini menjadi ritual pulang toko kami, berjalan kaki sedikit jauh hingga hari gelap, atau hingga kaki rada pegal sebelum mencari tumpangan pulang. Kadang kami ke Blok M, melihat restoran-restoran Jepang dari luar, di lain waktu kami menelusuri Cikajang, Wolter Monginsidi, Gunawarman, SCBD. Berjalan sambil ngobrol atau diam-diam saja, melihat kota berubah dari terang menjadi gelap, melihat orang-orang duduk di balik kaca restoran, atau mendahului badut yang berjalan lesu bersama anak kecil.

Beberapa hari lalu Maesy memotong pendek rambutnya. Lebih dari sepuluh tahun sejak rambutnya sependek ini. Jika ia sedang berjalan di depan, saya bisa melihat tengkuknya. Kemarin, saat sinar matahari menerpanya dari barat saya katakan ia seperti tokoh Klara di novel Kazuo Ishiguro. Ia membentangkan tangan seperti orang yang menyambut sinar matahari, mulutnya mengeluarkan bunyi-bunyi adegan dramatis. Kami sama-sama baru menyelesaikan Klara and the Sun dan sungguh mati menyukainya. Ishiguro menulis lapisan cerita yang kompleks dengan begitu sederhana, tentang ketimpangan kelas yang bisa membuat orang melakukan hal-hal tak terbayangkan. Maesy menangis di beberapa bagian. Sebuah kalimat bagus membuat saya menggedor pintu kamar mandi dan berteriak menyampaikannya pada Maesy yang sedang mandi di dalam. Dan akhir cerita, oh adegan akhir itu, ia membuat saya menutup buku dengan perasaan kosong. Kami berhenti sejenak di trotoar di Gunawarman karena ada mobil yang keluar dari restoran. Di dalamnya ada lima orang, dan karena jendela sopir terbuka kami bisa mendengar mereka tertawa kencang sekali. Sepertinya hidup mereka sedang baik-baik saja. Setelah mobil berlalu Satpam mempersilakan kami berjalan kaki lagi, lalu ia kembali ke bangkunya, membuka masker dan duduk sendiri. Kami terus berjalan, melewati penjual taco yang sedang ramai, di dalam penuh dan di luar pengunjung ngantri dengan duduk di bangku- bangku yang diletakkan berjarak. Kita sedang ada di masa yang akan dibicarakan hingga lebih dari seratus tahun ke depan—waktu pandemi dulu, waktu lagi covid itu — ini akan menjadi kalimat pembuka banyak sekali percakapan di masa yang entah sampai kapan. Di dekat saya Maesy berjalan, menoleh ke kanan kiri sebelum mendahului menyeberang, dan saya mengikutinya. Sebuah mobil sedan memperlambat jalannya saat kami melintas, sebelum kembali melaju di jalanan yang sepi. Dan lampu-lampu jalan telah menyala semua, dan kami masih hendak berjalan sedikit lagi.  

comment 0

Meng

*Cerita ini ditulis akhir tahun lalu untuk zine kucing yang bubar sebelum terbit. Karena lagi kangen toko buku dan pasar, jadi dipasang di sini. 

Henry “Hank” Chinaski terperanjat saat wajahnya disemprot air beraroma minyak eukaliptus. Ia menelusup ke bawah meja, terbirit-birit, membuat anak muda yang duduk membaca mengangkat kedua kakinya. Hank berhenti di sisi Anais yang sedang tidur-tiduran telentang. Ia menelungkup di sana, memandang ke dalam toko buku. Matanya melekat ke kolong di ruang dalam.

Meong! Sini biar aku saja yang cerita! Kalian membeli selebaran ini untuk mendengar ceritaku, bukan? Memangnya kalian mau dengar si Dorothy dan kelompoknya itu? Meong amat, sih! Dorothy, si poni itu, seenaknya main semprot, lalu senyum-senyum, menjelaskan pada orang-orang kalau sebetulnya dia suka kucing, cuma dia punya alergi. Si Dorothy ngomong terus, soal semprotan yang cuma berisi air dan minyak eukaliptus, jadi aku, atau Anais, atau Etgar, atau Don, tak akan puyeng keracunan kalau pun disemprot berkali-kali. Sesuka poninya dia hilangkan martabatku dalam hitung-hitungannya itu. Asal saja dia menamaiku Chinaski. Astaga! Aku tak sejelek si keriput itu. Iya sih, wajahku selalu teler, tapi dulu aku gagah juga, tahu! Anais senang main gila bersamaku. Sebelum anakku si Etgar jadi gede dan suka main gila sama ibunya. Dulu aku dan Anais pernah tak tahan lalu main di tengah toko buku. Waktu itu ada semacam diskusi, orang-orang saling berlomba ngomong. Melihat kami asyik main tindih, mereka ketawa kencang-kencang. Belakangan aku tahu mereka ngobrol soal buku yang judulnya Darah Muda. Waktu orang-orang ketawa, si Dorothy muncul dengan semprotan. Dorothy. Poninya. Semprotannya. Rok bola-bolanya. Ketawa cemprengnya.

Anais masih tidur-tiduran menggelempang seolah dunia tak punya masalah. Barulah dia mengeong girang saat Eisermann, antek-antek Dorothy, datang bawa makanan. Tangan Eisermann menjulur dengan tato-tato gotik yang jelek, dan banyak. Semua tukang tatonya pasti pemabuk. Dan si Eisermann ini memasang tato setiap kali dia senewen. Pernah kudengar waktu toko buku sepi dia dan Dorothy ngobrol-ngobrol soal tato, dan hati yang karut, dan tingkatan seleb twitter, dan masalah-masalah anak muda.

Si Anais lahap melibas apa pun yang dituang Eiserman ke piring kucingnya. Sesekali ia mengeongkan kata-kata pemujaan, dasar penjilat. Sementara aku masih memandangi ruang kecil di bagian belakang toko buku, tempat si Dorothy duduk-duduk cari sejuk.

Aku hidup dari satu tong sampah ke tong sampah lain. Dari Lorong pasar, ke bawah tangga WC, ke ruang penyimpanan beras jatah orang miskin. Si Ucup, penjaga ruang beras selalu menendangku kalau aku ketiduran di antara karung. Kaki si Ucup kecil, dan tak bergizi, tapi tetap saja bikin sakit. Sampai aku ketemu toko buku si Dorothy. Dia, Eisermann, dan antek-antek lainnya senang memberiku makan, di dalam mangkuk warna jambu. Jadi aku selalu ke sana, tidur-tidur di dekat pintu rol, di dekat rak buku bekas, merasakan angin dari kipas yang bunyinya kretek-kretek. Tapi mataku tak pernah bisa lepas dari ruang belakang itu, yang oleh mereka dijadikan semacam kantor. Di sana, di balik pintu kaca itu, ada penyejuk udara. Tidur di bawah meja kerja Dorothy, atau di bawah rak bukunya, tentu enak. Tapi ruang ini seolah milik Dorothy seorang. Saat malas ketemu banyak orang, kesanalah ia menyepi, menepekuri komputer, atau buku, atau utak-atik. Pernah saat pintunya sedikit terbuka aku berniat menyelinap. Tapi Dorothy bergerak cepat untuk ukuran manusia dengan poni jelek begitu. Ia menghardikku sambil menyemprot air lalu menutup pintu. Kakiku sempat terjepit dan aku mengeong kencang. Dorothy memasang wajah menyesal, mengeluarkan suara-suara lembut dan kekanak-kanakan. Eisermann ikut mengelus-elus memastikan kakiku baik-baik saja. Aku nyaris mencakar Dorothy, tapi urung. Bagaimanapun, aku takut kelaparan. Sambil terpincang-pincang aku kembali bergerak ke ruang kantor itu, berharap belas kasihan. Dorothy menyemprotku lagi. Meong!

Besoknya, gembok di pintu roling mereka kuberaki.

Suatu kali aku tidur-tiduran di dekat Etgar yang lagi main cakar-cakaran sama Don. Don ini anak si Etgar, artinya dia cucuku, tapi dia juga anak tiriku, karena ibunya Anais. Artinya, si Don sial itu juga adik si Etgar. Ruwet. Aku panggil mereka dan meminta ide bagaimana cara mengambil alih toko buku dan mengenyahkan Dorothy. Mereka mengeong-ngeong saja tanpa satu pun usulan. Kucing-kucing, orang-orang, semua suka mengeong tanpa arti. Ada kelompok orang yang datang ke toko buku dan setiap kali ngomong, obrolan pasti dibawa kemana-mana. Mereka ini jenis yang sedikit-sedikit berfilsafat, yang jempol kakinya kotor, dengan kuku tumpang tindih. Si Dorothy kesal setiap kali mereka datang. Aku juga tak seberapa suka, sebetulnya, tapi siapa pun yang bikin Dorothy kesal, mereka temanku. Etgar dan Don masih mengeong-ngeong tanpa makna. Bagaimana cara menguasai toko buku dan tidur-tiduran di ruangan adem tanpa diganggu? Meong! Tak ada ilham!

Aku kepengin berak lagi. Tapi nantilah, kutunggu Dorothy menutup toko dan memasang gembok.

Henry “Hank” Chinaski duduk di lantai luar toko buku, sesekali menjilati kaki depannya, lalu kembali menatap lurus. Kuikuti matanya, terkunci pada ruang kantor di ujung. Seperti ada yang ditunggunya akan terjadi. Seperti kucing yang menyimpan firasat, seolah segala kebijaksanaan di dunia ada di kepalanya, dan dengan cara yang hanya dia yang tahu terhubung dengan ruang berpintu kuning di ujung, dengan kolong di bawah rak buku itu.

Oi! Ngomong lagi. Meong amat, sih!

 

 

 

comments 13

Pagi di Balkon, Seperti Hari-Hari yang Lain.

Hari ini saya genap empat puluh tahun. Semalam Maesy bertanya bagaimana hari ini hendak dihabiskan — tentu aku tak tahu, kata saya. Anak itu berpikir sejenak, lalu menjawab dengan gaya manusia murah hati: yang pasti kau dibebaskan dari tugas mencuci piring. Kami baru bangun pukul sembilan, terlalu siang untuk lari di luar. Kami berolah raga di rumah saja, mengikuti sekelompok orang sehat di Youtube yang mengajak kita semua untuk ikut sehat seperti mereka — meninju-ninju udara, melompat-lompat, lalu tengkurap dan mamaju-mundurkan kaki.

Maesy membuat sarapan oatmeal dengan stroberi, dan saya memotong-motong pisang, mencemplungkannya ke sana, lalu mengaduknya bersama madu. Kami menggotong kopi dan bacaan ke balkon, menghabiskan pagi di sana, tempat kesukaan kami. Seperti hari-hari lain, kami duduk di bangku kayu dengan hijau-hijau tanaman di sekitar, yang hari ini punya anggota baru, kaktus yang kemarin dikirimi Nisa.

Di bawah, jalanan Kuningan sedang sepi. Ini hari kedua lebaran di masa-masa yang tak biasa ini. Orang-orang ada di rumah masing-masing, mungkin dalam pertemuan zoom dengan keluarga besar, saling menunjukkan opor yang baru dimasak, saling meminta maaf, membicarakan hari-hari yang tak tentu. Ini hari-hari yang rumit untuk semua, yang akan dikenang hingga lama. Mereka yang menikah di masa pandemi, mereka yang terpisah jauh dari keluarga, mereka yang kehilangan orang terdekat, mereka yang kehilangan pekerjaan. Hari-hari ketika ketimpangan kelas menampilkan wajah paling telanjangnya, beberapa orang lebih beruntung dari yang lain, beberapa orang semakin terhimpit. Bagaimana seseorang bisa merayakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil, ulang tahun, kelahiran anak, pertemuan, saat semua kebahagiaan itu hanya bisa dirasakan karena ia berada dalam kelompok yang lebih beruntung? Saat kemanusiaan sedang mendapat ujian terberatnya?

Ada ibu-ibu yang mengayuh sepedanya di bawah, sepeda dengan keranjang di depannya, pelan-pelan saja, seakan tak mengejar apa-apa, karena waktu masih panjang, dan hari berjalan perlahan. Kami memandanginya tanpa saling berbicara, dari ujung hingga akhirnya tak terlihat lagi di tikungan. Langit sedang biru, dan sesekali terdengar suara burung.

Saya membaca Just Kids, memoar Patti Smith tentang masa mudanya bersama belahan jiwanya, seniman Robert Mapplethorpe. Hari-hari ketika keduanya menata mimpi-mimpi mereka tentang karya seni yang akan diciptakan, dengan keberanian, dan keluguan, dan optimisme yang hanya dimiliki mereka yang muda.

“Nobody sees as we do, Patti,” he said again. Whenever he said things like that, for a magical space of time, it was as if we were the only two people in the world.

Kami membaca hingga siang saat matahari mulai terik, dan sinarnya merambat dari gelas-gelas kopi, hingga ujung paha, hingga tubuh kami. Tapi kami masih belum hendak beranjak. Tubuh saya masih lengket karena keringat, dan semakin basah dari keringat yang kembali mengucur. Saya membuka kaus, menggantungnya di lengan kursi, dan lanjut membaca. Dengan bercanda kami berkhayal ini adalah musim panas di bulan Juli 1969, di balkon Chelsea Hotel, di hari-hari menjelang Woodstock dimulai. Hal-hal terkadang cuma apa-apa yang ada di kepalamu, bukan?

Tentang buku ini Maesy berkomentar, walau ia suka, ia merasa Patti memiliih untuk menceritakan masa mudanya dengan lensa yang telah disaring sedemikan rupa sehingga semua terlihat seperti yang ia inginkan — dan banyak kepahitan yang tertutupi. Tapi Patti menulisnya di usia tua, kata saya, tentu ia menulis dengan cara sebagaimana ia mengenangnya. Mereka yang mulai tua cenderung meromantisir masa mudanya, beberapa membuat mereka menua dengan bahagia, beberapa membuat mereka menjadi orang uzur yang menyedihkan.

Bagaimana dengan usia tigapuluhanmu? Saya memikirkan pertanyaan ini beberapa hari terakhir, juga saat berkeringat di balkon siang ini. Saya pikir ini periode yang menyenangkan, yang dijalani nyaris tanpa banyak penyesalan. Di periode ini saya menikah dengan Maesy, orang yang saya cintai sejak dulu, membuat keputusan sadar untuk tidak memiliki anak, bersama-sama membuat toko buku dan membuat Jakarta lebih masuk akal untuk kami, dan menetapkan keyakinan untuk menjadikannya rumah. Di paruh pertama kami menulis Kisah Kawan di Ujung Sana, ucapan perpisahan kami pada masa-masa sebelum 2010. Di paruh kedua kami menulis Semasa, karya yang mendekatkan dan membantu kami mengurai hal-hal terkait keluarga kami sendiri. Di periode ini juga saya meninggalkan cita-cita dan pencapaian-pencapaian besar dari diri saya di usia dua puluhan, lalu menjalani hari-hari dengan hal-hal yang saya sukai saja — buku-buku, juga tulis menulis, juga pertemanan-pertemanan dekat. Tentu itu tidak sepenuhnya betul, dengan segala tanggung jawab, dan keterbatasan hidup, dan segala kerumitan yang ada. Namun, saya tahu saya sudah mengupayakannya sebisa mungkin, dan dengan cara itulah saya hendak mengenangnya.

Usia empat puluhan, mungkin ini juga periode saat saya mulai berpikir tentang masa-masa akhir nanti. Saat peran saya di dunia, jika ada, sudah ditetapkan, saat orang-orang yang saya cintai sudah ditemukan. Jadi bagaimana kau ingin menghabiskan masa-masa akhirmu nanti? Maesy bertanya. Ia duduk di sisi saya, dengan kaki naik ke kursi, dan lagak seenaknya, dan teko kopi di depannya sudah kosong, dan Rhye terdengar menyanyikan lagu A Whiter Shade of Gray. Di kening Maesy ada keringat yang menetes turun.

Saya menjawab dengan optimisme kanak-kanak yang saya senang masih miliki.

“Seperti hari ini.”

comments 13

Ingatan-Ingatan Aoetearoa

Dan kami kembali di sini, di jalanan lapang di antara padang rumput yang tak habis-habis, dan langit yang luas, dan biru, dan awan-awan yang menggerumbul seakan memanggil-manggil. Kami bergerak ke selatan di Aotearoa yang tetap dingin di musim panas. Maesy ada di sisi, membantu navigasi, menyusun daftar lagu, membuat obrolan, menimpali perdebatan, menyodorkan keripik ke depan bibir. Kendaraan memapas satu-satu, dalam jarak yang jarang-jarang. Maesy berkata roadtrip selalu menyenangkannya. Ia merasa seakan seseorang membelek kepalanya lalu meniupkan udara segar ke dalam. Puffffh. Pikiran-pikiran lewat dan tidak meminta dikejar, berlalu saja, seperti gerumbulan bunga lupin berwarna ungu di pinggir jalan, atau domba-domba yang merumput. Ingatan-ingatan, hal personal, hal sepele, saling bertumpuk bersama percakapan baru, candaan baru, beberapa akan diingat untuk waktu yang lama, atau dikenang kembali suatu hari nanti, dengan sayang, dalam melankolia yang biasa dimiliki mereka yang usianya terus bertumbuh.

Di dekat danau Pukaki kami menghentikan kendaraan tanpa direncanakan. Di bawah bukit terlihat telaga kecil dengan air berwarna biru muda. Tak seorang pun di sana. Kami nenuruni bukit, membuka sepatu, mencelupkan ujung kaki ke air. Dingin sekali. Dari sisa-sisa kemudaan yang enggan dilepas, saya membuka pakaian dan terus mencebur dengan kepala di bawah. Rasa dingin seperti merayapi setiap bagian kulit seperti gurita yang mendekap erat. Tak lama setelah berada di tengah dan tangan menyentuh dasar telaga, saya naik, dinginnya tak tertahankan. Maesy menyusul, berenang ke tengah beberapa saat, untuk kemudian kembali ke pinggir. Saat saya bertanya bagaimana airnya, ia mengeluarkan makian yang ditirunya dari anak-anak muda di Jakarta yang duduk-duduk di dekat minimarket,”dingin banget, anjing!”

Di lembah Tasman kami menyetir kendaraan pelan-pelan saja. Di beberapa tempat sinar matahari  menembus awan sehingga berbentuk seperti sinar lampu sorot yang menimpa bebatuan, juga padang rumput, dengan danau Pukaki terlihat di kejauhan, begitu besar, dengan warna biru muda yang tak pernah kami temui. Di belakang kami berdiri gunung Aoraki yang puncaknya seperti dilapisi es serut. Siang sebelumnya Maesy nyaris tertiup angin kencang saat kami naik ke salah satu tebingnya. Saya ingat bagaimana ia berpegangan pada batu besar dangan wajah pucat. Kendaran terus berjalan pelan. Kami tidak saling bicara, hanya melihat apa yang ada di depan.

IMG_107354145d35-24cb-4837-9816-b50c7097a9bd

Maesy jenis yang selalu terencana. Semua rencana perjalanan ia cari tahu sebelumnya, bekal-bekal disiapkan rapi di kotak-kotak biru kami; buah ceri, pisang, roti lapis, keju dan ham madu, juga kopi di termos. Ia hapal kapan hujan turun, kapan matahari terik. Tugas saya, ya, menyetir saja. Sementara itu ia klak-klik-klak-klik dengan tangan kecilnya itu dan kami tahu beberapa jam lagi akan ada telaga bernama Kali Monyet yang airnya bagus. (“Kita bisa mengisi botol-botol air di sana,” katanya, “Oh di dekat sana ada bapak tua yang berjualan kopi dalam karavan bergambar kucing. Nama kopinya, coba tebak, gampang kok, ya, tentu saja ‘coffee cat’!”) Suatu malam di Twizel, di penginapan kami yang terbuat dari bekas kontainer, saya menyeduh teh cranberry yang ternyata enak. Maesy bertanya besok pagi saya kepengin kopi atau teh cranberry saja. Saya katakan padanya bahwa saya baru kepikiran minum teh cranberry ini lima menit lalu, bagaimana mungkin saya tahu apa yang saya inginkan besok pagi. Ia memandang dengan pandangan seolah kebingungan itu tidak masuk akal.

Di kota kecil Garston kami berhenti tanpa direncanakan, membaca di rerumputan sambil makan roti perut babi. Di dekat kami ada pasangan orang tua yang main jungkat-jungkit (ah, bahagianya). Maesy membaca bacaan masa kecil yang menurutnya tetap bagus, trilogi His Dark Materials karya Phillip Pulman. Gara-gara bikin toko buku, menurutnya, kami membaca dengan cara yang berbeda. Kami membaca sambil memikirkannya secara kritis. Karakter, plot, posisi politis penulisnya, rumit sekali. Tulisan Pulman mengingatkannya lagi akan masa ketika ia tenggelam dalam petualangan fantastis Lyra Belacqua tanpa bertanya ini-itu. Saya membaca Ellena Ferante yang direkomendasikan Maesy dan Norman. Oh! Cerita Lila dan Lenu ini, dinamika pertemanan mereka, bagus sekali.

Di Arrowtown kami berjalan melewati rumah-rumah mungil dengan rimbunan pohon mawar di pagarnya. Sesekali kami mendekatkan hidung, menghirup harumnya dengan mata dipejamkan. Di rerumputan taman kami duduk membaca dengan coklat panas Patagonia. Ada anak kecil berambut pirang berguling-guling menuruni gundukan rumput sambil tertawa-tawa.

Saya kembali membeli coklat hangat Patagonia saat tiba di Queenstown. Segelas saja, agar hemat, selain tak yakin dua gelas bisa kami habiskan sekaligus. Maesy sebetulnya ingin yang ada rasa cabainya, tapi tampaknya ia tak ingin memaksa. Ia menjauh saat saya menghampiri penjual untuk memesan. Saya membawa segelas coklat panas dan kami berjalan di pinggir danau. Saat Maesy minum dan menemukan rasa cabai di dalamnya, senyumnya lebar sekali.

1F05BEB7-49F0-4CAD-923E-5C3EF1F42408C52FF0C7-090E-4126-A12B-7A6912DEBE91

Di depan teras penginapan di Te Anau, Maesy menjemur pakaian saat sinar matahari sedang bagus-bagusnya. Saya menonton saja sambil menuangkan anggur murah yang tadi kami beli di supermarket. Saat itu terdengar lagu yang judulnya The Place Where Lost Things Go. Angin meniup pakaian yang dijemur, bergoyang-goyang, seperti mengikuti lagu yang pelan. Maju-mundur-maju-mundur berpegangan pada penjepit dan tali yang membentang. Sesudahnya Maesy ikut duduk di sisi saya, minum anggur dan menonton jemuran bergoyang-goyang, juga domba-domba di balik pagar. Esok paginya, di teras yang sama, kami melihat pelangi dalam setengah lingkaran penuh.

Kami melewati jalanan tak beraspal yang dipenuhi batu saat menuju sebuah desa bernama Paradise. Desa di lembah dengan sungai, bukit, dan padang rumput tempat dulu beberapa adegan film Lord Of The Rings diambil. Di sana kami tak menjumpai manusia, hanya sapi-sapi. Kami ngobrol tentang betapa manusia, pada dasarnya, jahat semua. Wajar jika sebuah tempat bernama Paradise, yang mendiaminya sapi-sapi.

Di Doubtful Sound, saat mesin kapal dimatikan kami merasakan sepi yang menenangkan saat yang terdengar hanya suara air dan burung-burung hutan, juga embusan nafas yang mengeluarkan asap. Kami melihat sungai yang terbentuk dari es yang mencair, juga batu-batu membukit yang tak terhancurkan, juga lumut-lumut yang bertahan ratusan tahun dan menjadi dasar tertanamnya tumbuh-tumbuhan yang kemudian membentuk hutan. Maesy berdiri lama di ujung dek, angin meniup rambutnya yang tak diikat, sesekali ia mengencangkan dekapan tangannya. Saat kembali ke dalam wajahnya pucat dengan bibir pecah-pecah karena kedinginan. Saya menyodorkan padanya gelas teh panas dengan asap mengepul. Ia berkata seperti anak kecil yang menemukan kebijaksanaan baru, “Lumut itu keren banget, ya. Aku nggak akan menganggapnya benda hijau remeh lagi.”

Di Hawea kami menghabiskan hari-hari menginap di Yurt, berkenalan dengan Dexter, bocah lelaki kelas empat SD berambut gondrong. Ia mengajak kami keliling-keliling termasuk mengompori kami main trampolin yang dulu dibikin bapaknya. Saya melompat-lompat dan mencoba salto beberapa kali. Berhasil, tapi sesudahnya leher saya sakit. Kami menyukai hari-hari di sana, minum kopi di rerumputan, atau melihat sinar lampu di Yurt saat malam benar-benar gelap dengan bintang-bintang di atas. Randall si pemilik yurt, bapak si Dexter, adalah pria yang gemar bermeditasi dan berpenampilan berantakan dengan sweater yang robek di beberapa tempat. Ia ramah dan baik, membuatkan kami roti gandum dan selalu bertanya apa semua baik-baik saja. Menjelang pamit untuk perjalanan enam jam ke Akaroa ia memberi pelukan hangat dan berpesan, “Hati-hati sama sopir-sopir Kiwi itu, ya, 100 km/jam di tikungan masih terlalu pelan untuk mereka.”

Musim panas di Aotearoa, apalagi di selatan, tidak betul-betul panas. Lebih sering kami tetap mengenakan jaket dan memasukkan tangan ke saku saat angin bertiup. Di malam hari kami meringkuk dan tidur dengan kaus kaki. Tapi ada satu hari di sekitar Hawea dan Wanaka saat matahari terik sepanjang hari. Kami bergembira dengan baju selapis saja dan mencebur di mana pun genangan air dijumpai. Walau air tetap dingin, kami mencemplung ke danau Hawea, berenang di sungai Cleddau, naik sebentar agar badan hangat lalu mencemplung lagi. Gelombang di danau tenang dengan kelap-kelip pantulan sinar matahari bermunculan. Maesy mengambang telentang, tubuhnya enak saja terombang-ambing seperti kapal mainan. Banyak kerumitan dalam hidupnya belakangan ini, tapi saat mengambang begitu, semua seakan tak ada masalah. Di Yurt saya membuka kaos dan ke sana ke mari bertelanjang dada saja, memutar lagu, minum anggur, membawa pemutar lagu keluar. Di satu bagian terdengar lagu dari Badly Drawn Boys, dan saya — mungkin karena pengaruh anggur– mulai menari-nari di rerumputan. Maesy — yang selalu suka menari — langsung ikut gila-gilaan sampai napas kami sama-sama habis.

Saat ini pagi hari di Akaroa. Kami menulis di depan penginapan, belum sikat gigi, apalagi mandi. Di kejauhan terlihat beberapa kapal kecil berwarna putih yang tertambat di dekat dermaga, Maesy menulis di jurnal kecil berwarna coklatnya. Setiap hari ia menulis di sana, dengan tulisan tangannya yang kecil sehingga sulit saya baca. Hal-hal pribadi, kegembiraan-kegembiraan kecil, juga keresahan-keresahan. Siang ini kami berencana berjalan kaki ke mercusuar di dekat laut, lalu ke dermaga. Di dekat sana ada yang menjual kerang yang dibaluri anggur putih. Jika matahari sedang bagus kami akan berenang ke jeti dan melompat dari sana.

 

000

 

 

5FAFB2DC-A7A5-4701-B4E7-92F558C37D312F5BB3BB-A0FA-41EE-AA80-12B021A80BC001BB0C96-E706-4CBF-AAD6-4859EF7AA3B5531AB7B7-67CF-4EDC-968B-A8FE8310C2EF