comments 10

Pagi di Balkon, Seperti Hari-Hari yang Lain.

Hari ini saya genap empat puluh tahun. Semalam Maesy bertanya bagaimana hari ini hendak dihabiskan — tentu aku tak tahu, kata saya. Anak itu berpikir sejenak, lalu menjawab dengan gaya manusia murah hati: yang pasti kau dibebaskan dari tugas mencuci piring. Kami baru bangun pukul sembilan, terlalu siang untuk lari di luar. Kami berolah raga di rumah saja, mengikuti sekelompok orang sehat di Youtube yang mengajak kita semua untuk ikut sehat seperti mereka — meninju-ninju udara, melompat-lompat, lalu tengkurap dan mamaju-mundurkan kaki.

Maesy membuat sarapan oatmeal dengan stroberi, dan saya memotong-motong pisang, mencemplungkannya ke sana, lalu mengaduknya bersama madu. Kami menggotong kopi dan bacaan ke balkon, menghabiskan pagi di sana, tempat kesukaan kami. Seperti hari-hari lain, kami duduk di bangku kayu dengan hijau-hijau tanaman di sekitar, yang hari ini punya anggota baru, kaktus yang kemarin dikirimi Nisa, dan lagu-lagu terdengar; dari Bill Callahan, juga Celeste, juga Rhye.

Di bawah, jalanan Kuningan sedang sepi. Ini hari kedua lebaran di masa-masa yang tak biasa ini. Orang-orang ada di rumah masing-masing, mungkin dalam pertemuan zoom dengan keluarga besar, saling menunjukkan opor yang baru dimasak, saling meminta maaf, membicarakan hari-hari yang tak tentu. Ini hari-hari yang rumit untuk semua, yang akan dikenang hingga lama. Mereka yang menikah di masa pandemi, mereka yang terpisah jauh dari keluarga, mereka yang kehilangan orang terdekat, mereka yang kehilangan pekerjaan. Hari-hari ketika ketimpangan kelas menampilkan wajah paling telanjangnya, beberapa orang lebih beruntung dari yang lain, beberapa orang semakin terhimpit. Bagaimana seseorang bisa merayakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil, ulang tahun, kelahiran anak, pertemuan, saat semua kebahagiaan itu hanya bisa dirasakan karena ia berada dalam kelompok yang lebih beruntung? Saat kemanusiaan sedang mendapat ujian terberatnya?

Ada ibu-ibu yang mengayuh sepedanya di bawah, sepeda dengan keranjang di depannya, pelan-pelan saja, seakan tak mengejar apa-apa, karena waktu masih panjang, dan hari berjalan perlahan. Kami memandanginya tanpa saling berbicara, dari ujung hingga akhirnya tak terlihat lagi di tikungan. Langit sedang biru, dan sesekali terdengar suara burung.

Saya membaca Just Kids, memoar Patti Smith tentang masa mudanya bersama belahan jiwanya, seniman Robert Mapplethorpe. Hari-hari ketika keduanya menata mimpi-mimpi mereka tentang karya seni yang akan diciptakan, dengan keberanian, dan keluguan, dan optimisme yang hanya dimiliki mereka yang muda.

“Nobody sees as we do, Patti,” he said again. Whenever he said things like that, for a magical space of time, it was as if we were the only two people in the world.

Kami membaca hingga siang saat matahari mulai terik, dan sinarnya merambat dari gelas-gelas kopi, hingga ujung paha, hingga tubuh kami. Tapi kami masih belum hendak beranjak. Tubuh saya masih lengket karena keringat, dan semakin basah dari keringat yang kembali mengucur. Saya membuka kaus, menggantungnya di lengan kursi, dan lanjut membaca. Dengan bercanda kami berkhayal ini adalah musim panas di bulan Juli 1969, di balkon Chelsea Hotel, di hari-hari menjelang Woodstock dimulai. Hal-hal terkadang cuma apa-apa yang ada di kepalamu, bukan?

Tentang buku ini Maesy berkomentar, walau ia suka, ia merasa Patti memiliih untuk menceritakan masa mudanya dengan lensa yang telah disaring sedemikan rupa sehingga semua terlihat seperti yang ia inginkan — dan banyak kepahitan yang tertutupi. Tapi Patti menulisnya di usia tua, kata saya, tentu ia menulis dengan cara sebagaimana ia mengenangnya. Mereka yang mulai tua cenderung meromantisir masa mudanya, beberapa membuat mereka menua dengan bahagia, beberapa membuat mereka menjadi orang uzur yang menyedihkan.

Bagaimana dengan usia tigapuluhanmu? Saya memikirkan pertanyaan ini beberapa hari terakhir, juga saat berkeringat di balkon siang ini. Saya pikir ini periode yang menyenangkan, yang dijalani nyaris tanpa banyak penyesalan. Di periode ini saya menikah dengan Maesy, orang yang saya cintai sejak dulu, membuat keputusan sadar untuk tidak memiliki anak, bersama-sama membuat toko buku dan membuat Jakarta lebih masuk akal untuk kami, dan menetapkan keyakinan untuk menjadikannya rumah. Di paruh pertama kami menulis Kisah Kawan di Ujung Sana, ucapan perpisahan kami pada masa-masa sebelum 2010. Di paruh kedua kami menulis Semasa, karya yang mendekatkan dan membantu kami mengurai hal-hal terkait keluarga kami sendiri. Di periode ini juga saya meninggalkan cita-cita dan pencapaian-pencapaian besar dari diri saya di usia dua puluhan, lalu menjalani hari-hari dengan hal-hal yang saya sukai saja — buku-buku, juga tulis menulis, juga pertemanan-pertemanan dekat. Tentu itu tidak sepenuhnya betul, dengan segala tanggung jawab, dan keterbatasan hidup, dan segala kerumitan yang ada. Namun, saya tahu saya sudah mengupayakannya sebisa mungkin, dan dengan cara itulah saya hendak mengenangnya.

Usia empat puluhan, mungkin ini juga periode saat saya mulai berpikir tentang masa-masa akhir nanti. Saat peran saya di dunia, jika ada, sudah ditetapkan, saat orang-orang yang saya cintai sudah ditemukan. Jadi bagaimana kau ingin menghabiskan masa-masa akhirmu nanti? Maesy bertanya. Ia duduk di sisi saya, dengan kaki naik ke kursi, dan lagak seenaknya, dan teko kopi di depannya sudah kosong, dan Rhye terdengar menyanyikan lagu A Whiter Shade of Gray. Di kening Maesy ada keringat yang menetes turun.

Saya menjawab dengan optimisme kanak-kanak yang saya senang masih miliki.

“Seperti hari ini.”

comments 13

Ingatan-Ingatan Aoetearoa

Dan kami kembali di sini, di jalanan lapang di antara padang rumput yang tak habis-habis, dan langit yang luas, dan biru, dan awan-awan yang menggerumbul seakan memanggil-manggil. Kami bergerak ke selatan di Aotearoa yang tetap dingin di musim panas. Maesy ada di sisi, membantu navigasi, menyusun daftar lagu, membuat obrolan, menimpali perdebatan, menyodorkan keripik ke depan bibir. Kendaraan memapas satu-satu, dalam jarak yang jarang-jarang. Maesy berkata roadtrip selalu menyenangkannya. Ia merasa seakan seseorang membelek kepalanya lalu meniupkan udara segar ke dalam. Puffffh. Pikiran-pikiran lewat dan tidak meminta dikejar, berlalu saja, seperti gerumbulan bunga lupin berwarna ungu di pinggir jalan, atau domba-domba yang merumput. Ingatan-ingatan, hal personal, hal sepele, saling bertumpuk bersama percakapan baru, candaan baru, beberapa akan diingat untuk waktu yang lama, atau dikenang kembali suatu hari nanti, dengan sayang, dalam melankolia yang biasa dimiliki mereka yang usianya terus bertumbuh.

Di dekat danau Pukaki kami menghentikan kendaraan tanpa direncanakan. Di bawah bukit terlihat telaga kecil dengan air berwarna biru muda. Tak seorang pun di sana. Kami nenuruni bukit, membuka sepatu, mencelupkan ujung kaki ke air. Dingin sekali. Dari sisa-sisa kemudaan yang enggan dilepas, saya membuka pakaian dan terus mencebur dengan kepala di bawah. Rasa dingin seperti merayapi setiap bagian kulit seperti gurita yang mendekap erat. Tak lama setelah berada di tengah dan tangan menyentuh dasar telaga, saya naik, dinginnya tak tertahankan. Maesy menyusul, berenang ke tengah beberapa saat, untuk kemudian kembali ke pinggir. Saat saya bertanya bagaimana airnya, ia mengeluarkan makian yang ditirunya dari anak-anak muda di Jakarta yang duduk-duduk di dekat minimarket,”dingin banget, anjing!”

Di lembah Tasman kami menyetir kendaraan pelan-pelan saja. Di beberapa tempat sinar matahari  menembus awan sehingga berbentuk seperti sinar lampu sorot yang menimpa bebatuan, juga padang rumput, dengan danau Pukaki terlihat di kejauhan, begitu besar, dengan warna biru muda yang tak pernah kami temui. Di belakang kami berdiri gunung Aoraki yang puncaknya seperti dilapisi es serut. Siang sebelumnya Maesy nyaris tertiup angin kencang saat kami naik ke salah satu tebingnya. Saya ingat bagaimana ia berpegangan pada batu besar dangan wajah pucat. Kendaran terus berjalan pelan. Kami tidak saling bicara, hanya melihat apa yang ada di depan.

IMG_107354145d35-24cb-4837-9816-b50c7097a9bd

Maesy jenis yang selalu terencana. Semua rencana perjalanan ia cari tahu sebelumnya, bekal-bekal disiapkan rapi di kotak-kotak biru kami; buah ceri, pisang, roti lapis, keju dan ham madu, juga kopi di termos. Ia hapal kapan hujan turun, kapan matahari terik. Tugas saya, ya, menyetir saja. Sementara itu ia klak-klik-klak-klik dengan tangan kecilnya itu dan kami tahu beberapa jam lagi akan ada telaga bernama Kali Monyet yang airnya bagus. (“Kita bisa mengisi botol-botol air di sana,” katanya, “Oh di dekat sana ada bapak tua yang berjualan kopi dalam karavan bergambar kucing. Nama kopinya, coba tebak, gampang kok, ya, tentu saja ‘coffee cat’!”) Suatu malam di Twizel, di penginapan kami yang terbuat dari bekas kontainer, saya menyeduh teh cranberry yang ternyata enak. Maesy bertanya besok pagi saya kepengin kopi atau teh cranberry saja. Saya katakan padanya bahwa saya baru kepikiran minum teh cranberry ini lima menit lalu, bagaimana mungkin saya tahu apa yang saya inginkan besok pagi. Ia memandang dengan pandangan seolah kebingungan itu tidak masuk akal.

Di kota kecil Garston kami berhenti tanpa direncanakan, membaca di rerumputan sambil makan roti perut babi. Di dekat kami ada pasangan orang tua yang main jungkat-jungkit (ah, bahagianya). Maesy membaca bacaan masa kecil yang menurutnya tetap bagus, trilogi His Dark Materials karya Phillip Pulman. Gara-gara bikin toko buku, menurutnya, kami membaca dengan cara yang berbeda. Kami membaca sambil memikirkannya secara kritis. Karakter, plot, posisi politis penulisnya, rumit sekali. Tulisan Pulman mengingatkannya lagi akan masa ketika ia tenggelam dalam petualangan fantastis Lyra Belacqua tanpa bertanya ini-itu. Saya membaca Ellena Ferante yang direkomendasikan Maesy dan Norman. Oh! Cerita Lila dan Lenu ini, dinamika pertemanan mereka, bagus sekali.

Di Arrowtown kami berjalan melewati rumah-rumah mungil dengan rimbunan pohon mawar di pagarnya. Sesekali kami mendekatkan hidung, menghirup harumnya dengan mata dipejamkan. Di rerumputan taman kami duduk membaca dengan coklat panas Patagonia. Ada anak kecil berambut pirang berguling-guling menuruni gundukan rumput sambil tertawa-tawa.

Saya kembali membeli coklat hangat Patagonia saat tiba di Queenstown. Segelas saja, agar hemat, selain tak yakin dua gelas bisa kami habiskan sekaligus. Maesy sebetulnya ingin yang ada rasa cabainya, tapi tampaknya ia tak ingin memaksa. Ia menjauh saat saya menghampiri penjual untuk memesan. Saya membawa segelas coklat panas dan kami berjalan di pinggir danau. Saat Maesy minum dan menemukan rasa cabai di dalamnya, senyumnya lebar sekali.

1F05BEB7-49F0-4CAD-923E-5C3EF1F42408C52FF0C7-090E-4126-A12B-7A6912DEBE91

Di depan teras penginapan di Te Anau, Maesy menjemur pakaian saat sinar matahari sedang bagus-bagusnya. Saya menonton saja sambil menuangkan anggur murah yang tadi kami beli di supermarket. Saat itu terdengar lagu yang judulnya The Place Where Lost Things Go. Angin meniup pakaian yang dijemur, bergoyang-goyang, seperti mengikuti lagu yang pelan. Maju-mundur-maju-mundur berpegangan pada penjepit dan tali yang membentang. Sesudahnya Maesy ikut duduk di sisi saya, minum anggur dan menonton jemuran bergoyang-goyang, juga domba-domba di balik pagar. Esok paginya, di teras yang sama, kami melihat pelangi dalam setengah lingkaran penuh.

Kami melewati jalanan tak beraspal yang dipenuhi batu saat menuju sebuah desa bernama Paradise. Desa di lembah dengan sungai, bukit, dan padang rumput tempat dulu beberapa adegan film Lord Of The Rings diambil. Di sana kami tak menjumpai manusia, hanya sapi-sapi. Kami ngobrol tentang betapa manusia, pada dasarnya, jahat semua. Wajar jika sebuah tempat bernama Paradise, yang mendiaminya sapi-sapi.

Di Doubtful Sound, saat mesin kapal dimatikan kami merasakan sepi yang menenangkan saat yang terdengar hanya suara air dan burung-burung hutan, juga embusan nafas yang mengeluarkan asap. Kami melihat sungai yang terbentuk dari es yang mencair, juga batu-batu membukit yang tak terhancurkan, juga lumut-lumut yang bertahan ratusan tahun dan menjadi dasar tertanamnya tumbuh-tumbuhan yang kemudian membentuk hutan. Maesy berdiri lama di ujung dek, angin meniup rambutnya yang tak diikat, sesekali ia mengencangkan dekapan tangannya. Saat kembali ke dalam wajahnya pucat dengan bibir pecah-pecah karena kedinginan. Saya menyodorkan padanya gelas teh panas dengan asap mengepul. Ia berkata seperti anak kecil yang menemukan kebijaksanaan baru, “Lumut itu keren banget, ya. Aku nggak akan menganggapnya benda hijau remeh lagi.”

Di Hawea kami menghabiskan hari-hari menginap di Yurt, berkenalan dengan Dexter, bocah lelaki kelas empat SD berambut gondrong. Ia mengajak kami keliling-keliling termasuk mengompori kami main trampolin yang dulu dibikin bapaknya. Saya melompat-lompat dan mencoba salto beberapa kali. Berhasil, tapi sesudahnya leher saya sakit. Kami menyukai hari-hari di sana, minum kopi di rerumputan, atau melihat sinar lampu di Yurt saat malam benar-benar gelap dengan bintang-bintang di atas. Randall si pemilik yurt, bapak si Dexter, adalah pria yang gemar bermeditasi dan berpenampilan berantakan dengan sweater yang robek di beberapa tempat. Ia ramah dan baik, membuatkan kami roti gandum dan selalu bertanya apa semua baik-baik saja. Menjelang pamit untuk perjalanan enam jam ke Akaroa ia memberi pelukan hangat dan berpesan, “Hati-hati sama sopir-sopir Kiwi itu, ya, 100 km/jam di tikungan masih terlalu pelan untuk mereka.”

Musim panas di Aotearoa, apalagi di selatan, tidak betul-betul panas. Lebih sering kami tetap mengenakan jaket dan memasukkan tangan ke saku saat angin bertiup. Di malam hari kami meringkuk dan tidur dengan kaus kaki. Tapi ada satu hari di sekitar Hawea dan Wanaka saat matahari terik sepanjang hari. Kami bergembira dengan baju selapis saja dan mencebur di mana pun genangan air dijumpai. Walau air tetap dingin, kami mencemplung ke danau Hawea, berenang di sungai Cleddau, naik sebentar agar badan hangat lalu mencemplung lagi. Gelombang di danau tenang dengan kelap-kelip pantulan sinar matahari bermunculan. Maesy mengambang telentang, tubuhnya enak saja terombang-ambing seperti kapal mainan. Banyak kerumitan dalam hidupnya belakangan ini, tapi saat mengambang begitu, semua seakan tak ada masalah. Di Yurt saya membuka kaos dan ke sana ke mari bertelanjang dada saja, memutar lagu, minum anggur, membawa pemutar lagu keluar. Di satu bagian terdengar lagu dari Badly Drawn Boys, dan saya — mungkin karena pengaruh anggur– mulai menari-nari di rerumputan. Maesy — yang selalu suka menari — langsung ikut gila-gilaan sampai napas kami sama-sama habis.

Saat ini pagi hari di Akaroa. Kami menulis di depan penginapan, belum sikat gigi, apalagi mandi. Di kejauhan terlihat beberapa kapal kecil berwarna putih yang tertambat di dekat dermaga, Maesy menulis di jurnal kecil berwarna coklatnya. Setiap hari ia menulis di sana, dengan tulisan tangannya yang kecil sehingga sulit saya baca. Hal-hal pribadi, kegembiraan-kegembiraan kecil, juga keresahan-keresahan. Siang ini kami berencana berjalan kaki ke mercusuar di dekat laut, lalu ke dermaga. Di dekat sana ada yang menjual kerang yang dibaluri anggur putih. Jika matahari sedang bagus kami akan berenang ke jeti dan melompat dari sana.

 

000

 

 

5FAFB2DC-A7A5-4701-B4E7-92F558C37D312F5BB3BB-A0FA-41EE-AA80-12B021A80BC001BB0C96-E706-4CBF-AAD6-4859EF7AA3B5531AB7B7-67CF-4EDC-968B-A8FE8310C2EF

comments 5

Dari Bangku Kayu Berwarna Biru Saat Matahari Bersinar Hangat

Usia Maesy enam tahun saat ia memasukkan kue-kue kering ke toples, juga pisang dan apel, lalu mengisi botol dengan limun dan mengajak beberapa sepupunya piknik di pinggir Danau Sunter. Dengan alas kertas koran mereka duduk menyantap bekal dan memandangi danau yang keruh. Di kepala Maesy mereka sedang piknik di pedesaan di Inggris, persis keseharian tokoh-tokoh yang ia baca di buku-buku Enid Blyton. Cerita-cerita Lima Sekawan ini, atau Malory Towers, muncul lagi di kepalanya saat kami berjalan kaki dalam hujan rintik di hutan kecil di pinggir danau Windermere. Dan Maesy menceritakannya kepada saya dengan keriangan kanak-kanak. Gadis-gadis tangkas di serial Mallory Towers juga senang main hujan, katanya. Saat tubuh mengering, rambut mereka jadi awut-awutan. Saya membiarkannya saja bercerita di antara daun-daun yang beraroma bawang putih.

Sejak minggu lalu kami menyewa kendaraan di London dan menyetir ke pedesaan di pinggir danau-danau di utara Inggris, lalu kembali ke selatan, main-main di pedesaan dengan rumah-rumah tua dari batu berwarna madu di Cotswold. Ini jenis perjalanan darat yang selalu kami sukai, melaju di jalanan lapang, mampir di desa kecil yang namanya belum pernah kami dengar, mendaki bukit berwarna hijau dengan gerombolan domba yang sedang merumput. Kami makan kue jahe dari resep ratusan tahunan di Grasmere, melihat pemuda-pemuda Wigton memasukkan botol minuman bekal malam minggu, memandang kucing yang mengintip di balik jendela kaca rumah dengan gerumbulan mawar di halaman, melihat pasangan tua bergandengan tangan di pinggir danau di Ambleside. Di pinggir danau itu pula kami merasakan melankolia saat membaca tulisan di sebuah bangku yang berbunyi: In loving memory of Linda Oxley, who loved the lakes but left too soon.

Karena Maesy tak sanggup menyetir, ia bertugas membuat semua perencanaan. Hari ini kau menyetir empat jam, karenanya kau boleh minta kopi atau makan apa pun sesukamu! Hari ini kau menyetir dua jam saja, tapi sesudahnya kita jalan kaki dari desa ke desa! Begitu. Tapi anak ini lumayan juga, dia membuat rencana perjalanan dengan baik. Kami mendapat cukup alam, kopi enak, dan waktu bengong-bengong. Di kedai teh di dekat kastil Warwick kami mendengar dua ibu yang membicarakan temannya yang kehilangan mobil. Di warung roti di Bourton-on-the-Water kami melihat remaja yang merajuk pada ibunya. Aku tak mau dekat-dekat denganmu! kata si remaja sambil mengucurkan air mata, hidupnya demikian berat. Tapi ia tak menolak saat ibunya menjulurkan tambahan roti tangkup. Kami menyimpan tawa saat anak itu membuka jaket dan tato-tato lambang pemberontakan terlihat di sepanjang lengannya. Kami teringat lagi akan anak itu saat di toko permen di kota kecil Chipping Campden, pemilik toko memajang tulisan yang berkata anak nakal akan dia bikin jadi pie.

Perjalanan darat ini memberi kami perasaan bebas yang membuat hal-hal bisa dinikmati dengan perlahan. Lihat saja Maesy yang berkomentar sambil memejamkan mata tentang tekstur meja kayu tua, atau bagaimana cahaya matahari memantul dari gelas anggurnya! Kami bisa berhenti di sembarang tempat, makan pisang dan buah plum sambil melihat kincir angin di dekat ibu-ibu tua yang menyantap makan siang ditemani anjing yang bentuknya seperti sosis. Kami juga bisa menikmati hari tanpa banyak beban. Saat salah mengambil tikungan di perjalanan kaki menuju desa Lower Slaugther, kami tenang-tenang saja. Kami mampir di sebuah peternakan dan bertemu gadis tangkas yang menuntun kuda hitam berwajah sendu dengan rambut di kaki. Dia lima belas tahun, tapi jiwanya sudah tua sejak lahir! kata si gadis peternak saat saya bertanya soal usia kudanya. Seperti kau! kata Maesy menunjuk hidung saya begitu mendengar jawaban si gadis peternak.

Kami berhenti minum kopi di mana pun, dan berlama-lama. Selalu ada buku untuk diselesaikan, bukan?  Siang tadi di kedai kopi di Hye on Wye (pagi-pagi tadi kami sampai Wales!) saya membaca memoar Deborah Levy berjudul ‘Things I Don’t Want To Know’. Di salah satu bagian ia menulis begini:  A female writer cannot afford to feel her life too clearly. If she does, she will write in a rage when she should write calmly. Kami berbicara tentang kemarahan para penulis perempuan dan betapa itu semua masuk akal. Kami juga berbicara tentang bagaimana Deborah Levy menulis dari posisi dengan privilese (ia menulis tentang masa kecilnya di Afrika Selatan di bawah Apartheid, dan ia warga kulit putih dengan pelayan yang memiliki putri bernama Thandiwee yang dipanggil Maria demi kemudahan lidah pemalas majikannya). Tulisannya juga mengingatkan kami tentang betapa hidup, saat dilihat lebih dekat, sering kacau balau belaka. Kami kembali teringat tentang bagaimana bersama umur Maesy melihat tulisan-tulisan Enid Blyton dipenuhi masalah. Lihat saja segala stereotip itu, semua penjahat berkulit hitam, dan semua anak keturunan spanyol lahir dari rombongan sirkus!

Saya menulis catatan ini di taman belakang penginapan kami di Hye on Wye, sedang sedikit gembira karena sinar matahari bersinar hangat sesudah seharian yang dipenuhi hujan. Maesy duduk di bangku kayu berwarna biru di dekat saya, membaca novel Sally Rooney sambil sesekali mengungkapkan suka citanya akan terpaan sinar matahari. Setiap beberapa saat ia menuangkan anggur murah yang kami beli di supermarket ke gelas saya, dan saya dengan patuh meminumnya sambil menulis. Minum, menulis, minum, menulis, dan botol menjadi kosong, dan Sarah Vaughan terdengar sayup-sayup menyanyi lagu cinta, dan mata mulai berkunang-kunang, dan dunia terasa menggembirakan, dan Maesy tertawa-tawa. Dan Maesy tertawa-tawa. Dan Maesy tertawa-tawa.

bangku cotswold

3a2409ed-597f-4641-a0a7-01eafb392de7

Road

268204CE-EE6F-46C8-B424-901355743F57

tembok cotswold

comments 5

Di Peternakan Twamley

Tiga anak kecil yang mengendarai traktor menghampiri kami. Yang paling besar, yang kemudian kami kenali bernama Thomas, bertanya apa kami tamu yang akan menginap di peternakan Twamley. Begitu Maesy mengiyakan, ketiga bocah melompat dari traktor lalu menunjukkan jalan. Elizabeth si pemilik peternakan sudah ada di depan rumahnya. Di sisi rumah ada bangunan yang disusun dari batu-batu tua. Kemudian kami tahu bangunan ini sudah ada sejak 1842, saat pendatang awal Inggris di Tasmania tiba di daerah Buckland. Kala itu lantai bawah adalah kandang kuda, sementara gandum dan benda lain disimpan di atas. Turun-temurun keluarga Elizabeth mengelola peternakan ini, dengan domba-domba, sapi-sapi, dan binatang-binatang piaraan. Kini, bekas kandang kuda itu ia jadikan penginapan yang bergaya. Di lantai bawah menjadi dapur, ruang duduk, dan perapian. Sementara di atas untuk ruang tidur.

Elizabeth memperkenalkan dua putranya yang tadi sudah kami temui, Ikey dan Archie, juga Thomas, teman mereka yang sedang main-main di peternakan. Sesudah semua beres Elizabeth mohon diri ke kota terdekat untuk sebuah urusan. Kami duduk-duduk saja di rerumputan di dekat Ikey yang sedang memunguti daun yang berguguran. Ikey memperkenalkan kami pada hewan-hewan piaraannya. Sprocket si bayi domba, Lulu si anjing kecil, juga Poncho dan frida, dua keledai berkaki pendek. Sprocket sedang kelaparan dan Ikey membiarkan Maesy membantu memberinya susu. Si bayi domba menyambut rakus botol susu yang dijulurkan Maesy sementara Lulu melompat-lompat di sekeliling dengan ekor berkibas-kibas. Saya bertanya pada Ikey apa Lulu mengira Sprocket juga seekor anjing. Ikey kebingungan seakan baru sadar akan kemungkinan itu. Ia lalu membawa kami ke padang tempat Poncho dan Frida merumput. Ia bilang kami boleh membelai kedua keledai asal tak berdiri dibelakang mereka.

“Kau akan disepaknya,” begitu kata Ikey.

IMG_20181014_153922

Archie dan Thomas menghampiri. Ketiga anak ini sepertinya suka bertemu orang baru. Mereka menawari menemani kami keliling peternakan. Di dekat ruang pencukuran domba kami bertemu kakek tua bersuara berat dengan jabat tangan kuat. Pria itu kakek Archie dan Ikey. Dia ini bosnya peternakan, kata Thomas berbisik. Ketiga bocah membawa kami masuk ke ruang pencukuran domba. Mereka fasih sekali memberi penjelasan bagaimana domba-domba itu digunduli. Di sudut ruangan ada bak tempat bulu-bulu hasil cukuran ditumpuk. Ketiganya ringan saja melompat ke sana. Archie naik ke undakan lalu melompat sambil memamerkan gaya salto. Mereka bangkit dari bak, dipenuhi buku-bulu domba, dengan mulut cengar-cengir.

Di salah satu dinding ada foto domba dengan bulu yang lebatnya minta ampun. Itu Sheila, kata Thomas. Sheila sempat hilang di hutan nyaris enam tahun sampai akhirnya muncul di peternakan Twamley. Saat itu jalan Sheila berat karena bulunya kebanyakan. Ajaib ia masih hidup. Para peternak menangkapnya dan dengan susah payah mencukur bulunya. Saat ditimbang, bulu-bulu Sheila mencapai 21 kilogram! Tak berapa lama sesudah Sheila gundul, ia menghilang lagi ke hutan. Berita soal domba yang hilang enam tahun dengan bulu 21 kilogram sempat mengisi koran lokal. Klipingnya tertempel di dinding. Thomas berkata dengan bangga bahwa bapaknya ikut mencukur Sheila.

Ikey bertanya apa kami kepengin mendaki bukit di dekat sana. Dia bilang ibunya punya kejutan jika kami berhasil sampai puncak. Kami suka kejutan. Maka berlima kami mendaki bukit, terus ke atas melintasi padang rumput dan semak-semak, pohon-pohon yang masih tegak, juga yang tumbang karena angin kencang. Jika menoleh ke belakang akan terlihat hamparan hijau peternakan, dengan kawanan domba yang merumput, juga burung-burung, juga matahari yang sebentar lagi terbenam. Thomas sempat kelelahan. Kalian terus saja, biar aku mati sebentar di sini, katanya. Tapi ia tetap merangkak naik mengikuti.

5C900442-8E0A-46F3-B854-6D5C17CEE8E6

Akhirnya kami tiba di puncak dengan napas tersengal. Di dekat sebuah pohon tumbang terdapat lemari besi kecil. Ini dia kejutannya, kata Archie. Dari sana ia mengeluarkan sebotol Port Wine dan gelas karton. Wah! Saya dan Maesy menuang Port Wine, sementara ketiga anak hanya planga plongo. Mereka belum cukup umur. Thomas sempat mencium botol anggur dan menarik nafas mengagumi aromanya.

“Aku pernah minum anggur, tahu,” katanya. “Tak ada masalah!”

Archie dan Ikey melotot ke arahnya dan Thomas mengembalikan botol itu kepada kami.

Angin sore bertiup agak dingin. Archie berkeliling mengumpulkan kayu kering lalu membuat api. Gerakannya tangkas. Kami berlima duduk di dekat api,  memandangi hamparan peternakan di kejauhan dan ngobrol sana-sini.

“Jadi Ikey, Thomas ini sahabat terbaikmu, ya?” tanya saya.

Thomas mengangguk, tetapi pada saat yang bersamaan Ikey menggeleng dan berkata teman terbaiknya bernama Mark Collins.

“Memangnya kau tahu kapan si Collins ulang tahun?!” sembur Thomas.

Ikey menggeleng dan Thomas memasang wajah seolah ia baru saja membuktikan sesuatu.

“Kalian kepengin jadi apa kalau sudah besar?” tanya Maesy.

Ketiganya diam sebentar sampai Archie menjawab.

“Aku mau tinggal di semak-semak saja. Miskin tanpa uang. Dengan begitu aku tak harus bayar pajak.”

Saya dan Maesy saling pandang, lalu tertawa bersama-sama.

IMG_20181015_073854

Kami berjalan menuruni bukit sambil terus ngobrol soal macam-macam. Kami menyampaikan sebuah ide cerita tentang Maut yang harus memilih siapa yang akan dibawa ke alam sana, seorang pria pembuat keramik atau perempuan penyanyi di band indie. Kami bertanya jika mereka Maut, siapa yang akan dipilih. Tanpa banyak pikir mereka sudah bersepakat. Tentu saja pembuat keramik yang mesti selamat!

“Aku bisa hidup tanpa harus mendengar lagu,” kata Thomas dengan wajah meremehkan. “Tapi aku tak bisa tahan kalau harus makan tanpa sendok, piring, dan gelas.“

Kami berpisah dengan ketiga anak itu saat tiba di bawah. Thomas harus pulang. Sebelum berpisah Thomas sempat berkata.

“Aku mungkin tak akan ketemu kalian lagi. Tapi sore ini boleh juga.”

Ia masih Sembilan tahun, tapi kami rasa Thomas akan tumbuh menjadi pria yang hangat.

Keesokan harinya saya dan Maesy terbangun pagi-pagi oleh suara burung. Kami keluar kamar, mendapati peternakan yang hijau dan udara yang segar. Poncho dan Frida juga sedang berdiri tenang- tenang di balik pagar. Kami memutuskan untuk berjalan kembali ke atas bukit itu. Berdua saja. Di puncak bukit botol port wine masih ada. Kami menuangkan ke gelas masing-masing dan kembali duduk di atas pohon tumbang, memandangi pagi di peternakan Twamley. Di kejauhan, terlihat kawanan domba yang sedang merumput.

IMG_20181014_183807IMG_20181014_154225IMG_20181014_1833203BD843C4-D45C-4822-8F58-4AC884431353