comments 7

Khawatir banget ya, kemarin?

Saat terjaga pagi tadi, saya tak mendapati Maesy di kamar. Samar-samar ingatan muncul, Maesy berkata ia akan berjalan kaki di luar. Sepertinya saya sempat bilang agar ia tak bergerak terlalu banyak dan ia mengusap kepala saya, lantas berlalu, dan saya tak ingat apa-apa lagi. Saya membuka tirai, mencuci muka dan bergerak ke kulkas. Ada teko berisi sisa kopi kemarin di sana. Saya menuangnya ke gelas keramik, mencampurnya dengan susu kedelai dan mencemplungkan es batu. Sesudah meminumnya setengah, saya menuang sisa kopi hingga habis. Saat pulang nanti Maesy tentu senang jika menjumpai sisa kopi dingin, tapi saya sedang ingin menjahilinya. Sesudah delapan belas tahun, saya masih senang melihatnya pura-pura ngomel.

Dengan bekal es kopi susu, juga buku semalam yang masih tergeletak di atas meja makan, saya duduk di balkon, di pagi saat matahari belum seberapa tinggi, lalu mulai membaca. Bill Hayes menulis tentang hari-harinya di awal pandemi tahun lalu. Ia menulis tentang jalanan New York yang dulu dipenuhi kendaraan, yang kini berisi sepasang orang tua berjalan bergandengan di tengah jalan. Ia mengingat deru suara kendaraan yang kini berganti derak roda skateboard yang masih terdengar jelas dari ujung blok. Sekilas ini pemandangan yang indah, tapi saat ia menyadari dirinya, juga orang-orang yang ditemuinya mengenakan masker, ia tersadar bahwa ini seperti awal dari sesuatu yang buruk. Oh, tahukah ia saat itu bahwa itu adalah permulaan dari episode yang sangat, sangat, buruk?

Kini, lebih dari setahun sesudahnya, kita mendengar kabar sedih setiap hari, yang disusul kabar sedih lain, bahkan sebelum yang terdahulu mampu dicerna. Beberapa orang lebih beruntung merasakan kecemasan di rumah saja, yang lain harus meneguhkan diri bertaruh setiap hari di jalan. Ada yang mendengar berita sedih dari rumah, atau mengamati dari gawai. Banyak yang lain merasakannya langsung di antara antrian tabung oksigen, rumah yang sesak, bangsal IGD, parkiran rumah sakit, saat orang terdekatnya, atau dirinya, berusaha menggapai sisa-sisa udara dunia. Dan di satu tempat di langit-langit ruangan, kematian seperti bergelayut-gelayut. Inilah hari-hari ketika ketimpangan semakin menampilkan wajahnya, dan mereka yang berkuasa semakin menunjukkan wujud aslinya. Hari-hari ketika mereka yang di pinggir harus memendam rasa marah, sedih, tak berdaya sendiri saja, dan tahu bahwa jika pun episode ini bisa dilalui, ia akan meninggalkan luka yang mendalam.

Lewat dua minggu yang lalu Maesy mendapati dirinya positif. Saya masih ingat ia membaca hasil tes saat duduk di sisi tempat tidur yang menghadap jendela, sementara saya berdiri di dekat pintu. Waktu itu hati rasanya mencelos dan saya ingin meraihnya, dan memeluknya, tapi saya tahu itu tak bisa dilakukan. Maesy menangkap kegundahan ini dan ia berkata hal-hal akan baik-baik saja. Saya teringat adegan sebuah cerita saat si tokoh berkata pada maut yang menghampirinya bahwa ini belum saatnya. Dari dua ujung ruangan kami menekan kecemasan masing-masing dan berbicara bagaimana hari-hari sesudah itu akan ditangani — tentang pengaturan tidur, makan, kontrol dokter, cuci mencuci piring, kebutuhan vitamin, cadangan oksigen, kemungkinan-kemungkinan jika saya juga positif, juga rencana-rencana jika hal-hal tidak membaik. Beberapa minggu sebelumnya, saat menjaga Mamanya yang juga positif, ia sudah tahu segala yang harus disiapkan. Tapi tetap saja, ia punya asma, dan situasi di luar sedang sangat runyam dan kami tahu kami akan kesulitan jika Maesy harus dirawat di rumah sakit.

Dan hari berjalan, satu hari, dua hari, ada masa ketika nafasnya sesak, dan ia letih sepanjang hari. Enam hari, tujuh hari, ada malam ketika ia terduduk di lantai karena jantungnya berdetak jauh lebih kencang, dan ia nyaris menangis. Delapan hari, sepuluh hari, terkadang hal-hal berjalan santai dan ia duduk berjemur di balkon dan saya bercerita tentang suatu hal dengan suara lebih kencang dari meja makan, dan ia tertawa walau tak bisa terlalu kencang. Dua belas hari, dua minggu, ia masih letih tapi ia di sana, duduk di sofa dekat balkon, memasang senyum.

Lima hari lalu kami menonton film berdua di sofa, untuk pertama kalinya berdekatan sejak hari di kamar itu. Maesy benar, walau tak selalu mulus, hal-hal berjalan baik untuknya. Hari-hari dengan kecemasan itu kini ada di belakang, walau tak sepenuhnya, dan kini kami di sini, duduk di sofa dengan kaki berselonjor dan ditutupi selimut yang sama. Di tengah-tengah film Maesy mengangkat wajahnya dan mengamati wajah saya di ruang tengah yang hanya diterangi cahaya dari TV.

“Khawatir banget ya, kemarin?” tanyanya. Cahaya dari TV berpendar di wajahnya, terkadang agak biru, lalu jingga.

Biasa saja, kata saya padanya, tapi ia tahu itu ngibul. Kasihaaan, katanya sambil menepuk-nepuk pipi saya seperti berbicara dengan anak kecil. Kembali ia menyenderkan kepalanya, tangannya menyelip ke balik kaos saya, dan kami berdua menatap ke TV lagi. Saya tak betul-betul mengikuti pertunjukan di TV. Beberapa ingatan mampir di kepala, gambar-gambar yang akan terus diingat – ada pemandangan ketika Maesy tertidur kelelahan di sofa, dan saya memandanginya dari dapur, merasa lega melihat perutnya bergerak-gerak menunjukkan nafas yang teratur, juga saat ia terlihat ringkih ketika saya harus membawanya ke dokter, atau malam-malam saat punggungnya perlu digosok minyak agar nafasnya lebih lega, atau sore ketika ia harus mencereweti saya tentang bagaimana cara membuat sup dengan benar. Kini semua itu ada di belakang, dan setiap kali kesadaran itu muncul, saya meremas lengan atasnya, merasakannya benar-benar ada di sini, baik-baik saja.

Saya membaca catatan-catatan Bill Hayes agak lama, hingga matahari meninggi. Menjelang akhir buku saya disadarkan ketukan pintu dengan tempo yang familiar. Di balik pintu Maesy berdiri, tubuhnya berkeringat dan senyumnya lebar sekali. Ia bergerak ke kulkas dan bercerita tentang beberapa ribu langkahnya hari ini. Saya senang ini adalah hari ketika ia cukup kuat berjalan jauh, di hari lain ia masih kelelahan di tengah hari dan tertidur hingga sore. Saat ia mendapati es kopi sudah habis, ia tahu saya mau mengerjainya dan ia bilang saya gagal total. Sesudah jalan kaki tadi, ia mampir ke minimarket dan membeli es milo, yang ia minum sambil duduk tenang-tenang di tangga dekat salah satu pintu di GOR Sumantri. Itu salah satu tempat duduk favorit kami, satu dari sedikit tempat di Jakarta yang sepi, dengan pohon yang rindang, kodok yang melompat di rerumputan, dan suara burung yang sering terdengar.

Maesy menuangkan air dingin ke gelas lalu berjalan ke balkon. Beberapa saat kemudian, sesudah menyeduh kopi panas, saya menyusulnya. Saya ingat bulan Mei setahun yang lalu, saat juga duduk di sini, saya menulis tentang masa awal dari periode yang tak masuk akal ini. Mungkin seperti Bill Hayes, saya pun tak membayangkan pandemi ini akan menghantam kemanusiaan sehebat ini, dan betapa kerunyaman di luar sana masih terus berlanjut. Seberapa pun saya mensyukuri satu kecemasan yang baru saja berlalu, perasaan ironis akan terus menggantungi. Betapa kami bisa melaluinya dengan lebih ringan karena keleluasaan lebih yang kami miliki di dunia yang begitu timpang ini. Begitu banyak orang dengan kesulitan yang berlipat, kesedihan yang tak bisa kami bayangkan, dan dengan keteguhan hati yang tak mungkin kami miliki. Saya memandang Maesy yang duduk di samping saya, dengan wajah berkeringat, menikmati air dinginnya. Ia masih mudah letih, dan nafasnya gampang sesak, tapi kami duduk di sini, di hari ketika satu kecemasan berlalu. Di bawah sana, di jalanan Kuningan, terlihat orang-orang berjalan dari satu tempat ke tempat lain, atau duduk-duduk membiarkan tubuhnya diterpa sinar matahari. Kami duduk diam-diam saja, menikmati hari-hari yang masih bisa dinikmati, di antara episode-episode kesedihan yang masih jauh dari selesai ini.

comments 6

Bulan Maret, Setahun Kemudian

Ini hari Minggu dan kami berdua saja di toko buku, Maesy dan saya. Shinta sedang libur dan Annie minta ijin mengerjakan sesuatu untuk urusan pindah kos. Tadi siang kami datang dengan kopi panas di tangan Maesy, dan kardus besar yang membuat pinggang sakit di tangan saya. Hari toko buku dimulai – kami mencatat buku yang baru tiba, membaca pesanan, membalas permintaan rekomendasi, membungkus buku-buku yang dibeli, menuliskan beberapa ucapan di kartu. Pesanan sedang tak terlalu banyak dan semua beres di pukul empat dan kami bisa menghabiskan sisa hari melakukan apa saja. Maesy duduk di bangku dekat jendela, bersandar rileks di dinding, lalu mulai membaca. Di antaranya ia bertanya sendiri, kenapa ya hantu gentayangan di cerita selalu memburu mereka yang dulu menyakitinya? Saya mengangguk-angguk. Saat itu Roberta Flack menyanyi tentang pemuda yang kerjanya selalu sedih, dan buku-buku berjajar di rak seperti barisan penonton yang takjub mendengarkannya.

“Menurutmu apakah kebetulan ada kata trans dalam translator?” Maesy berkata lagi. “Indah, ya?”

Saya mengangguk-angguk.

“Eh mau lihat Afrizal Malna waktu masih berambut?”

Saya melongok dan memandang takjub foto Afrizal muda yang belum gundul.

Bang Anas mengetuk pintu kaca. Di dekatnya Mahira cengar cengir, tingginya sepundak bapaknya. Sejak tahun lalu Mie Chino harus tutup di pasar dan Bang Anas tak lagi menjadi tetangga kami. Tapi kami senang ia masih ada di sekitar. Sekarang ia buka kedai es durian dan mi karet di foodcourt. Jika sedang jeda saya kerap main ke sana, duduk-duduk saja, ngobrol, atau makan cendol durian (setengah porsi saja bang! kalau penuh perutku mual). Kadang dia cerita soal sekolah Mahira, kadang ia mengeluh saat dagangan sepi, atau soal kulkas di rumahnya yang tempo hari terendam banjir. Bang Anas melongok di pintu kaca dan berkata bahwa hari ini mau pulang cepat. Ia lalu menjauh sambil menggandeng Mahira. Di tangga pasar, bapak anak itu pamit ke Samson yang duduk santai di depan toko vinylnya. Samson masih begitu, dengan kumisnya itu, dan satu kaki naik di bangku. Saya senang jika turun tangga dan menjumpainya berselonjor di sana, atau melihatnya senyum-senyum di dekat jendela saat ia jalan ke toilet. Saat duduk di foodcourt, atau melewati kios yang sepi, atau bangku kayu yang bertumpuk-tumpuk di depan pintu rol yang tutup entah sudah berapa lama, saya merasa pasar agak murung, mungkin rindu melihat mereka yang dulu sering mampir. Tapi melihat wajah-wajah yang familiar ini rasanya menyenangkan — Bang Anas, atau Samson, atau Adam yang meluncur di gang-gang dengan skuternya. Seakan hari-hari gembira pasti akan kembali datang untuk semua.

Ini hari Minggu yang tak terbayangkan tahun lalu, bahwa ia adalah hari-hari membungkus pesanan, yang tak lagi diisi teman lama dan kenalan baru, atau mereka yang membuat janji bertemu, atau mereka yang memenuhi ide romantis tentang menghabiskan akhir pekan di toko buku. Tidak ada lagi Ipank dan Nesya yang suka muncul, menghabiskan mi karet dan –dengan bibir berminyak– bertanya sedang ada buku baru apa. Sudah lama kami tak menjumpai Ricky yang membaca di bangku kayu depan, hingga malam saat ia menemani Annie menutup toko. Sudah lama meja tengah tidak disulap menjadi meja makan malam bersama Mbak Reda, atau Nisya dan Ney, sebelum hari berakhir.

Tapi, di antara usaha menahan rindu akan hari yang biasa itu, ada juga hal menyenangkan yang tak kami sangka temukan dari pekerjaan bungkus membungkus hingga gempor ini. Kami kembali tersadar betapa buku masih selalu menjadi bahasa kasih sayang antar orang dekat. Kami membungkus buku yang disertai pesan manis dari dosen kepada mahasiswanya, atau dari murid kepada mantan gurunya yang menemani di saat-saat tersulitnya, atau sekelompok teman yang mengirim hadiah buku bagi salah satu anggotanya — lengkap dengan puisi-puisi yang mereka tulis dan beri judul kumpulan puisi jelek. Beberapa minggu lalu Maesy menulis pesan cinta dari seseorang yang panjangnya sampai dua lembar. Saat selesai ia melipat rapi kertas itu lalu berkata bahwa ini yang membuat hal-hal tetap menyenangkan. Saya menggodanya dengan bertanya emang ngga ada hal lain yang menyenangkan. Saat itu kami di toko hingga agak malam karena hujan. Saya membaca di dekatnya, Shinta di dalam mengetik-ngetik di komputernya, dan lagu-lagu terdengar, dan di dekat kami ada teh yang masih panas. Maesy melihat ke sekeliling lalu memasang senyum.

Menjelang pukul enam kami menutup toko. Hari masih terang di luar dan kami memutuskan untuk berjalan kaki saja. Ini menjadi ritual pulang toko kami, berjalan kaki sedikit jauh hingga hari gelap, atau hingga kaki rada pegal sebelum mencari tumpangan pulang. Kadang kami ke Blok M, melihat restoran-restoran Jepang dari luar, di lain waktu kami menelusuri Cikajang, Wolter Monginsidi, Gunawarman, SCBD. Berjalan sambil ngobrol atau diam-diam saja, melihat kota berubah dari terang menjadi gelap, melihat orang-orang duduk di balik kaca restoran, atau mendahului badut yang berjalan lesu bersama anak kecil.

Beberapa hari lalu Maesy memotong pendek rambutnya. Lebih dari sepuluh tahun sejak rambutnya sependek ini. Jika ia sedang berjalan di depan, saya bisa melihat tengkuknya. Kemarin, saat sinar matahari menerpanya dari barat saya katakan ia seperti tokoh Klara di novel Kazuo Ishiguro. Ia membentangkan tangan seperti orang yang menyambut sinar matahari, mulutnya mengeluarkan bunyi-bunyi adegan dramatis. Kami sama-sama baru menyelesaikan Klara and the Sun dan sungguh mati menyukainya. Ishiguro menulis lapisan cerita yang kompleks dengan begitu sederhana, tentang ketimpangan kelas yang bisa membuat orang melakukan hal-hal tak terbayangkan. Maesy menangis di beberapa bagian. Sebuah kalimat bagus membuat saya menggedor pintu kamar mandi dan berteriak menyampaikannya pada Maesy yang sedang mandi di dalam. Dan akhir cerita, oh adegan akhir itu, ia membuat saya menutup buku dengan perasaan kosong. Kami berhenti sejenak di trotoar di Gunawarman karena ada mobil yang keluar dari restoran. Di dalamnya ada lima orang, dan karena jendela sopir terbuka kami bisa mendengar mereka tertawa kencang sekali. Sepertinya hidup mereka sedang baik-baik saja. Setelah mobil berlalu Satpam mempersilakan kami berjalan kaki lagi, lalu ia kembali ke bangkunya, membuka masker dan duduk sendiri. Kami terus berjalan, melewati penjual taco yang sedang ramai, di dalam penuh dan di luar pengunjung ngantri dengan duduk di bangku- bangku yang diletakkan berjarak. Kita sedang ada di masa yang akan dibicarakan hingga lebih dari seratus tahun ke depan—waktu pandemi dulu, waktu lagi covid itu — ini akan menjadi kalimat pembuka banyak sekali percakapan di masa yang entah sampai kapan. Di dekat saya Maesy berjalan, menoleh ke kanan kiri sebelum mendahului menyeberang, dan saya mengikutinya. Sebuah mobil sedan memperlambat jalannya saat kami melintas, sebelum kembali melaju di jalanan yang sepi. Dan lampu-lampu jalan telah menyala semua, dan kami masih hendak berjalan sedikit lagi.  

comment 0

Meng

*Cerita ini ditulis akhir tahun lalu untuk zine kucing yang bubar sebelum terbit. Karena lagi kangen toko buku dan pasar, jadi dipasang di sini. 

Henry “Hank” Chinaski terperanjat saat wajahnya disemprot air beraroma minyak eukaliptus. Ia menelusup ke bawah meja, terbirit-birit, membuat anak muda yang duduk membaca mengangkat kedua kakinya. Hank berhenti di sisi Anais yang sedang tidur-tiduran telentang. Ia menelungkup di sana, memandang ke dalam toko buku. Matanya melekat ke kolong di ruang dalam.

Meong! Sini biar aku saja yang cerita! Kalian membeli selebaran ini untuk mendengar ceritaku, bukan? Memangnya kalian mau dengar si Dorothy dan kelompoknya itu? Meong amat, sih! Dorothy, si poni itu, seenaknya main semprot, lalu senyum-senyum, menjelaskan pada orang-orang kalau sebetulnya dia suka kucing, cuma dia punya alergi. Si Dorothy ngomong terus, soal semprotan yang cuma berisi air dan minyak eukaliptus, jadi aku, atau Anais, atau Etgar, atau Don, tak akan puyeng keracunan kalau pun disemprot berkali-kali. Sesuka poninya dia hilangkan martabatku dalam hitung-hitungannya itu. Asal saja dia menamaiku Chinaski. Astaga! Aku tak sejelek si keriput itu. Iya sih, wajahku selalu teler, tapi dulu aku gagah juga, tahu! Anais senang main gila bersamaku. Sebelum anakku si Etgar jadi gede dan suka main gila sama ibunya. Dulu aku dan Anais pernah tak tahan lalu main di tengah toko buku. Waktu itu ada semacam diskusi, orang-orang saling berlomba ngomong. Melihat kami asyik main tindih, mereka ketawa kencang-kencang. Belakangan aku tahu mereka ngobrol soal buku yang judulnya Darah Muda. Waktu orang-orang ketawa, si Dorothy muncul dengan semprotan. Dorothy. Poninya. Semprotannya. Rok bola-bolanya. Ketawa cemprengnya.

Anais masih tidur-tiduran menggelempang seolah dunia tak punya masalah. Barulah dia mengeong girang saat Eisermann, antek-antek Dorothy, datang bawa makanan. Tangan Eisermann menjulur dengan tato-tato gotik yang jelek, dan banyak. Semua tukang tatonya pasti pemabuk. Dan si Eisermann ini memasang tato setiap kali dia senewen. Pernah kudengar waktu toko buku sepi dia dan Dorothy ngobrol-ngobrol soal tato, dan hati yang karut, dan tingkatan seleb twitter, dan masalah-masalah anak muda.

Si Anais lahap melibas apa pun yang dituang Eiserman ke piring kucingnya. Sesekali ia mengeongkan kata-kata pemujaan, dasar penjilat. Sementara aku masih memandangi ruang kecil di bagian belakang toko buku, tempat si Dorothy duduk-duduk cari sejuk.

Aku hidup dari satu tong sampah ke tong sampah lain. Dari Lorong pasar, ke bawah tangga WC, ke ruang penyimpanan beras jatah orang miskin. Si Ucup, penjaga ruang beras selalu menendangku kalau aku ketiduran di antara karung. Kaki si Ucup kecil, dan tak bergizi, tapi tetap saja bikin sakit. Sampai aku ketemu toko buku si Dorothy. Dia, Eisermann, dan antek-antek lainnya senang memberiku makan, di dalam mangkuk warna jambu. Jadi aku selalu ke sana, tidur-tidur di dekat pintu rol, di dekat rak buku bekas, merasakan angin dari kipas yang bunyinya kretek-kretek. Tapi mataku tak pernah bisa lepas dari ruang belakang itu, yang oleh mereka dijadikan semacam kantor. Di sana, di balik pintu kaca itu, ada penyejuk udara. Tidur di bawah meja kerja Dorothy, atau di bawah rak bukunya, tentu enak. Tapi ruang ini seolah milik Dorothy seorang. Saat malas ketemu banyak orang, kesanalah ia menyepi, menepekuri komputer, atau buku, atau utak-atik. Pernah saat pintunya sedikit terbuka aku berniat menyelinap. Tapi Dorothy bergerak cepat untuk ukuran manusia dengan poni jelek begitu. Ia menghardikku sambil menyemprot air lalu menutup pintu. Kakiku sempat terjepit dan aku mengeong kencang. Dorothy memasang wajah menyesal, mengeluarkan suara-suara lembut dan kekanak-kanakan. Eisermann ikut mengelus-elus memastikan kakiku baik-baik saja. Aku nyaris mencakar Dorothy, tapi urung. Bagaimanapun, aku takut kelaparan. Sambil terpincang-pincang aku kembali bergerak ke ruang kantor itu, berharap belas kasihan. Dorothy menyemprotku lagi. Meong!

Besoknya, gembok di pintu roling mereka kuberaki.

Suatu kali aku tidur-tiduran di dekat Etgar yang lagi main cakar-cakaran sama Don. Don ini anak si Etgar, artinya dia cucuku, tapi dia juga anak tiriku, karena ibunya Anais. Artinya, si Don sial itu juga adik si Etgar. Ruwet. Aku panggil mereka dan meminta ide bagaimana cara mengambil alih toko buku dan mengenyahkan Dorothy. Mereka mengeong-ngeong saja tanpa satu pun usulan. Kucing-kucing, orang-orang, semua suka mengeong tanpa arti. Ada kelompok orang yang datang ke toko buku dan setiap kali ngomong, obrolan pasti dibawa kemana-mana. Mereka ini jenis yang sedikit-sedikit berfilsafat, yang jempol kakinya kotor, dengan kuku tumpang tindih. Si Dorothy kesal setiap kali mereka datang. Aku juga tak seberapa suka, sebetulnya, tapi siapa pun yang bikin Dorothy kesal, mereka temanku. Etgar dan Don masih mengeong-ngeong tanpa makna. Bagaimana cara menguasai toko buku dan tidur-tiduran di ruangan adem tanpa diganggu? Meong! Tak ada ilham!

Aku kepengin berak lagi. Tapi nantilah, kutunggu Dorothy menutup toko dan memasang gembok.

Henry “Hank” Chinaski duduk di lantai luar toko buku, sesekali menjilati kaki depannya, lalu kembali menatap lurus. Kuikuti matanya, terkunci pada ruang kantor di ujung. Seperti ada yang ditunggunya akan terjadi. Seperti kucing yang menyimpan firasat, seolah segala kebijaksanaan di dunia ada di kepalanya, dan dengan cara yang hanya dia yang tahu terhubung dengan ruang berpintu kuning di ujung, dengan kolong di bawah rak buku itu.

Oi! Ngomong lagi. Meong amat, sih!

 

 

 

comments 14

Pagi di Balkon, Seperti Hari-Hari yang Lain.

Hari ini saya genap empat puluh tahun. Semalam Maesy bertanya bagaimana hari ini hendak dihabiskan — tentu aku tak tahu, kata saya. Anak itu berpikir sejenak, lalu menjawab dengan gaya manusia murah hati: yang pasti kau dibebaskan dari tugas mencuci piring. Kami baru bangun pukul sembilan, terlalu siang untuk lari di luar. Kami berolah raga di rumah saja, mengikuti sekelompok orang sehat di Youtube yang mengajak kita semua untuk ikut sehat seperti mereka — meninju-ninju udara, melompat-lompat, lalu tengkurap dan mamaju-mundurkan kaki.

Maesy membuat sarapan oatmeal dengan stroberi, dan saya memotong-motong pisang, mencemplungkannya ke sana, lalu mengaduknya bersama madu. Kami menggotong kopi dan bacaan ke balkon, menghabiskan pagi di sana, tempat kesukaan kami. Seperti hari-hari lain, kami duduk di bangku kayu dengan hijau-hijau tanaman di sekitar, yang hari ini punya anggota baru, kaktus yang kemarin dikirimi Nisa.

Di bawah, jalanan Kuningan sedang sepi. Ini hari kedua lebaran di masa-masa yang tak biasa ini. Orang-orang ada di rumah masing-masing, mungkin dalam pertemuan zoom dengan keluarga besar, saling menunjukkan opor yang baru dimasak, saling meminta maaf, membicarakan hari-hari yang tak tentu. Ini hari-hari yang rumit untuk semua, yang akan dikenang hingga lama. Mereka yang menikah di masa pandemi, mereka yang terpisah jauh dari keluarga, mereka yang kehilangan orang terdekat, mereka yang kehilangan pekerjaan. Hari-hari ketika ketimpangan kelas menampilkan wajah paling telanjangnya, beberapa orang lebih beruntung dari yang lain, beberapa orang semakin terhimpit. Bagaimana seseorang bisa merayakan kebahagiaan-kebahagiaan kecil, ulang tahun, kelahiran anak, pertemuan, saat semua kebahagiaan itu hanya bisa dirasakan karena ia berada dalam kelompok yang lebih beruntung? Saat kemanusiaan sedang mendapat ujian terberatnya?

Ada ibu-ibu yang mengayuh sepedanya di bawah, sepeda dengan keranjang di depannya, pelan-pelan saja, seakan tak mengejar apa-apa, karena waktu masih panjang, dan hari berjalan perlahan. Kami memandanginya tanpa saling berbicara, dari ujung hingga akhirnya tak terlihat lagi di tikungan. Langit sedang biru, dan sesekali terdengar suara burung.

Saya membaca Just Kids, memoar Patti Smith tentang masa mudanya bersama belahan jiwanya, seniman Robert Mapplethorpe. Hari-hari ketika keduanya menata mimpi-mimpi mereka tentang karya seni yang akan diciptakan, dengan keberanian, dan keluguan, dan optimisme yang hanya dimiliki mereka yang muda.

“Nobody sees as we do, Patti,” he said again. Whenever he said things like that, for a magical space of time, it was as if we were the only two people in the world.

Kami membaca hingga siang saat matahari mulai terik, dan sinarnya merambat dari gelas-gelas kopi, hingga ujung paha, hingga tubuh kami. Tapi kami masih belum hendak beranjak. Tubuh saya masih lengket karena keringat, dan semakin basah dari keringat yang kembali mengucur. Saya membuka kaus, menggantungnya di lengan kursi, dan lanjut membaca. Dengan bercanda kami berkhayal ini adalah musim panas di bulan Juli 1969, di balkon Chelsea Hotel, di hari-hari menjelang Woodstock dimulai. Hal-hal terkadang cuma apa-apa yang ada di kepalamu, bukan?

Tentang buku ini Maesy berkomentar, walau ia suka, ia merasa Patti memiliih untuk menceritakan masa mudanya dengan lensa yang telah disaring sedemikan rupa sehingga semua terlihat seperti yang ia inginkan — dan banyak kepahitan yang tertutupi. Tapi Patti menulisnya di usia tua, kata saya, tentu ia menulis dengan cara sebagaimana ia mengenangnya. Mereka yang mulai tua cenderung meromantisir masa mudanya, beberapa membuat mereka menua dengan bahagia, beberapa membuat mereka menjadi orang uzur yang menyedihkan.

Bagaimana dengan usia tigapuluhanmu? Saya memikirkan pertanyaan ini beberapa hari terakhir, juga saat berkeringat di balkon siang ini. Saya pikir ini periode yang menyenangkan, yang dijalani nyaris tanpa banyak penyesalan. Di periode ini saya menikah dengan Maesy, orang yang saya cintai sejak dulu, membuat keputusan sadar untuk tidak memiliki anak, bersama-sama membuat toko buku dan membuat Jakarta lebih masuk akal untuk kami, dan menetapkan keyakinan untuk menjadikannya rumah. Di paruh pertama kami menulis Kisah Kawan di Ujung Sana, ucapan perpisahan kami pada masa-masa sebelum 2010. Di paruh kedua kami menulis Semasa, karya yang mendekatkan dan membantu kami mengurai hal-hal terkait keluarga kami sendiri. Di periode ini juga saya meninggalkan cita-cita dan pencapaian-pencapaian besar dari diri saya di usia dua puluhan, lalu menjalani hari-hari dengan hal-hal yang saya sukai saja — buku-buku, juga tulis menulis, juga pertemanan-pertemanan dekat. Tentu itu tidak sepenuhnya betul, dengan segala tanggung jawab, dan keterbatasan hidup, dan segala kerumitan yang ada. Namun, saya tahu saya sudah mengupayakannya sebisa mungkin, dan dengan cara itulah saya hendak mengenangnya.

Usia empat puluhan, mungkin ini juga periode saat saya mulai berpikir tentang masa-masa akhir nanti. Saat peran saya di dunia, jika ada, sudah ditetapkan, saat orang-orang yang saya cintai sudah ditemukan. Jadi bagaimana kau ingin menghabiskan masa-masa akhirmu nanti? Maesy bertanya. Ia duduk di sisi saya, dengan kaki naik ke kursi, dan lagak seenaknya, dan teko kopi di depannya sudah kosong, dan Rhye terdengar menyanyikan lagu A Whiter Shade of Gray. Di kening Maesy ada keringat yang menetes turun.

Saya menjawab dengan optimisme kanak-kanak yang saya senang masih miliki.

“Seperti hari ini.”