comments 3

New Orleans Joe

America has only three cities: New York, San Francisco, and New Orleans. Everywhere else is Cleveland.  — Tennessee Williams

Saya membuka perlahan pintu putih berkaca bening itu. Ia mengeluarkan bunyi berdecit. Di daun pintu luar terdapat tulisan kecil “Faulkner House Books”. Ruangan itu tidak terlalu besar, dari lantai hingga langit-langit berjajar buku-buku di rak yang terbuat dari kayu pohon cemara. Terlihat karya-karya Flannery O’Connor, Walker Percy, juga Tennessee Williams. Selain sinar matahari yang masuk, ruangan diterangi cahaya kuning dari lampu gantung tua. Di meja kayu di tengah, di antara beberapa judul lain, terdapat buku yang sepertinya beroleh tempat khusus, Soldiers’ Pay karya William Faulkner. Lelaki tua berkaca mata menghampiri saya, jalannya pelan-pelan dengan tubuh sedikit bungkuk.

“Ada buku yang kamu cari?” tanyanya.

Saya belum pernah melihat wajah atau fotonya, tapi saya tahu ialah Joe DeSalvo. Saat saya bertanya untuk memastikan hal itu, ia mengangguk sambil tersenyum. Pada akhir periode 1980-an, Joe dan istrinya, Rosemary James, membeli bangunan apartemen yang saat itu nyaris ambruk. Mereka memugarnya, menggunakan lantai satu untuk toko buku dan lantai atas untuk tinggal. Dan Faulkner House Books berdiri, di gang kecil Pirate Alley, di French Quarter, sudut paling gegap gempita di New Orleans. Seperti banyak toko buku independen lain, Joe dan Rosemary mencintai buku-buku, juga penulis-penulis. Hingga sekarang toko buku mungil mereka menjadi tempat berkumpul para penulis New Orleans, penulis-penulis luar yang berkunjung, juga mereka yang menggemari karya-karya sastra klasik.

Sejarah bangunan tiga lantai ini sebetulnya bisa ditarik jauh ke belakang. Saat itu 1925, William Faulkner, pemuda asal Mississippi, menyewa lantai satunya untuk tinggal. Di sana Faulkner muda menulis, berpesta, bergaul dengan seniman-seniman New Orleans, dan melahirkan Soldiers’ Pay, karya pertama yang membuka jalannya menulis fiksi hingga akhirnya mendapat nobel sastra. Joe dan Rosemary begitu mencintai karya-karya Faulkner. Dulu, saat pertama kali ke New Orleans, Rosemary berkata pada Joe bahwa suatu hari ia akan membeli apartemen di Pirate Alley itu dan membuka toko buku. Mereka mewujudkannya.

new orleans 6

Joe tersenyum senang saat saya memutuskan membeli Soldiers’ Pay. Menurutnya ini bukan karya terbaik Faulkner, tapi di sana mulai tampak keahliannya membuat penggambaran, juga mengolah karakter. Dan untuk yang belum membaca Sound of Fury, ini jelas tidak serumit itu. Saya kemudian bertanya karya-karya lain yang juga ia gemari. Ia menjulurkan Moviegoers karya Walker Percy.

“Percy menceritakan dengan indah bagaimana seorang pemuda menangani zaman yang berubah,“ katanya. Lalu ia menyebut Confederacy of Dunces karya John Kennedy Toole. Saya tadi melihat buku itu di rak depan, Joe bergerak mengambilnya. “Buku ini, bagaimana aku mengatakannya ya…. Ia menyenangkan sekaligus menyedihkan. Dan ia memotret New Orleans dengan baik sekali.”

Saya bercerita tentang Maesy dan betapa ia juga menyukai Confederacy of Dunces.

“Ah, aku langsung suka pada Maesy-mu itu. Bagaimana aku mengeja namanya?” Senyum itu, ia lelaki tua yang lembut.

Pembicaraan beralih pada soal-soal tentang New Orleans. Saya turis yang baru tiba beberapa hari, karenanya tentu terkagum-kagum akan betapa kota ini begitu meriah. Musik di sana-sini, orang-orang yang bergembira di sepanjang jalan, menari dan minum seakan tanpa henti, pada saat cuaca baik, cuaca buruk, bahkan sesudah pemakaman. Dari pagi hingga pagi lagi.

Peter, kawan Joe yang membantunya menjaga toko, ikut bergabung. Kami ngobrol di meja kayu di tengah.

“Kau bicara dengan Joe, orang asli New Orleans yang bangga. Bersiaplah, dia akan menceritakan padamu banyak kisah,” kata Peter. Usianya mungkin lebih muda tujuh atau delapan tahun dari Joe.

Joe dan Peter bergantian bercerita tentang hal-hal di New Orleans yang menyenangkan mereka. Kisah-kisah New Orleans dibangun orang-orang yang datang dari berbagai tempat, Prancis, Afrika Barat, Jamaika, Spanyol. Dengan energi berkreasi meledak-ledak, mereka menciptakan campuran karya yang indah, seperti semangkuk Gumbo yang lezat. Tentu mereka bisa berkata begitu, kota ini telah memberikan kepada dunia Louis Amrstrong, atau Buddy Bolden, atau Sidney Bechet, atau William Faulkner. Di kota ini anak-anak kecil di jalanan tidak akan menyebut cita-cita mereka menjadi dokter, atau polisi, atau pengacara. Mereka ingin menjadi musisi, penulis, pelukis, pemain drama. Saya membayangkan Louis Armstrong kecil yang membeli kornet bekas di Rampart Street, menawar harganya dengan sengit, lalu menenteng-nentengnya dan berlatih di dekat dinding yang dipenuhi grafiti, atau di pinggir sungai Mississippi.

“Dan New Orleans seperti mendorongmu untuk itu, untuk menemukan tempatmu,“ kata Joe. “Kamu tahu, saat Faulkner datang kemari, dia itu penulis puisi. Di sini ia ketemu Sherwood Anderson yang mendorongnya menulis fiksi. Sherwood Anderson juga yang mengirim Soldiers’ Pay ke penerbit.“

“Dan beruntunglah dunia, karena puisi-puisi Faulkner jelek,” kata Peter sambil tertawa.

“Dan orang-orang New Orleans ini,” kata Peter lagi, “perhatikanlah, saat beraksi mereka seperti sedang di dunia lain.”

Mungkin ini tipikal orang tua yang meromantisir segala sesuatunya, mungkin juga tidak. Saya teringat kelompok musisi jalanan di Royal Street yang saya lihat sore sebelumnya. Pemimpin mereka, peniup trumpet berbadan kurus dan jangkung, meniup trumpetnya seperti dirasuki arwah musisi nyentrik yang sudah lama mati. Badannya sesekali terbungkuk-bungkuk seperti lengkungan huruf C, pada waktu lain perutnya ia busungkan seperti nyaris kayang, dan matanya selalu terpejam. Saat anggota band lainnya beraksi, ia menari-nari dengan tangan berkibas-kibas dan kepala menengadah. Matanya terbuka menatap langit biru cerah di atas, seolah ia bisa melihat surga dan bisa mencapainya dengan sekali lompat saja. Dan di bibirnya, di sana tersungging senyum. Si peniup trumpet, ia ada di suatu tempat yang lain.

new orleans 3

Ini kota para eksentrik, di hampir semua bidang. Seorang juru masak akan menyodorkan sepiring kepiting kepadamu lalu berkata sambil mengerling,

“Kau tahu, dulu kepiting ini bernama Edward.”

Bahkan politisi nyentrik pun ada, dan dikenang lama oleh warga kota. Dulu ada calon walikota bernama Rodney Fertel yang berkampanye dengan satu isu utama saja: bahwa kebun binatang Audubon perlu punya gorila! Ia berkampanye keliling kota bersama lelaki berkostum gorila yang ia kenal di perayaan Mardi Gras. Di keramaian, si lelaki berkostum memukul-mukul dadanya sendiri, sementara Rodney berteriak-teriak,

“Untuk apa kalian memilih monyet-monyet itu, hah? Kalian bisa memilih Fertel dan dapat gorilla betulan!”

Rodney Fertel kalah, tentu saja, tetapi ia tetap mendatangkan gorila ke New Orleans lalu menyumbangkannya ke kebun binatang Audubon.

“Lihat, aku satu-satunya calon walikota yang memenuhi janji kampanyeku, padahal aku kalah,” begitu Rodney Fertel berkata.

Kami terus berbicara hingga sore saat Joe berkata ia harus pergi menemui seorang kawan. Saya mohon pamit dan membayar beberapa buku. Peter membuka laci kayu dan mengeluarkan kwitansi. Mereka begitu menjaga suasana masa lalu toko buku kecilnya; perabotan tua, karya-karya yang akan bertahan menembus waktu, dan kwitansi kertas yang ditulis tangan. Tidak ada komputer tempat mencatat pembukuan atau memeriksa persediaan. Mesin penggesek kartu kredit pun tersembunyi untuk tidak merusak suasana. Dan tidak ada pernak-pernik.

“Tunggu dulu.” Joe berkata sebelum saya beranjak.

Ia mengambil buku Confederacy of Dunces, membuka halaman pertama, lalu menuliskan sesuatu di sana. Tangannya agak gemetar saat menulis. Usia sudah menggerogoti Joe tua. Ia menyerahkannya dan meminta saya memberikan buku itu kepada Maesy. Di halaman pertama ia menulis,

“Untuk Maesy. Salam dari toko buku kecilku, untuk sesama pencinta buku.”

Saya berterima kasih dan memandang haru kepadanya. Peter berdiri di sebelahnya, tersenyum lebar. Joe bercerita buku itu nyaris tidak pernah terbit. Penulisnya bunuh diri pada 1969 karena tak satu penerbit pun mau menerbitkannya. Ibu si penulis, Thelma, mengenang si anak dengan bersikeras menawarkan naskah itu dari satu penerbit ke penerbit lain. Hingga akhirnya, sebelas tahun kemudian, sebuah penerbit kecil universitas mau menerbitkannya sebanyak 800 eksemplar saja. Setahun kemudian buku itu mendapat hadiah Pulitzer, barulah 1.5 juta eksemplar dicetak dan dibaca luas.

Kembali Joe menahan saat saya hendak pamit. Ia lalu berjalan ke lantai atas. Jalannya perlahan-lahan dan terbungkuk-bungkuk. Sejenak saya takut ia terjerembab.

“Sepertinya ia menyukaimu,” kata Peter kepada saya lagi.

Joe kembali turun, napasnya terengah-engah. Ia menyerahkan sebuah benda kecil kepada saya, sebuah gantungan kunci kecil berwarna perak berbentuk buku. Buku William Faulkner, tentu saja, Soldiers’ Pay. Ia berkata toko bukunya hampir tidak pernah membuat cendera mata, tapi dulu ia pernah membuat beberapa gantungan kunci seperti ini, dan ia masih punya beberapa di kamarnya.

Saya tak tahu bagaimana mesti berterima kasih padanya, jadi saya memeluknya. Joe tersenyum dan kembali menitipkan salam untuk Maesy.

New orleans 5

Saya menjauhi Faulkner House Books. Katedral St. Louis ada di belakang, dengan ujung menaranya yang lancip dan matahari sore yang membuatnya berwarna kekuningan. Kembali terbayang obrolan-obrolan dengan Joe, Peter, juga kecintaan mereka pada New Orleans. Saya berpikir, turis mungkin melihat New Orleans dan takjub akan energinya yang besar. Tapi untuk Joe, Rosemary, juga Peter, New Orleans adalah rumah, dan kecintaan mereka tumbuh bersama waktu, bersama keseharian, menjadi kedekatan yang begitu pribadi. Dan seperti hubungan seseorang dengan rumahnya, ini hubungan yang terkadang rumit. Kami sempat berbicara tentang musibah Katrina pada 2005. Musibah yang membuat New Orleans terluka parah. Saat itu New Orleans tentu bukan persinggahan para turis. Mereka yang menjadikannya rumahlah yang tetap di sana, mengais yang tersisa, dan berusaha bangkit kembali. Faulkner House Books beruntung hanya mengalami kerusakan kecil. Saat itu, penduduk New Orleans berusaha bangkit melalui kebisaan mereka masing-masing. Joe dan Rosemary mengundang para penulis yang memiliki keterhubungan khusus dengan New Orleans untuk menuliskan kisah-kisah mereka, tentang kecintaan mereka kepadanya. Sebuah tribut untuk kota mereka. Antologi itu berjudul My New Orleans, disunting oleh Rosemary. Beberapa berkisah bagaimana kota ini berkontribusi pada penciptaan karya mereka (musisi Jazz Wynton Marsalis juga ikut menulis!), atau tentang percakapan dengan penari di Bourbon Street, atau cerita-cerita sederhana seperti menemani anjing berjalan di sepanjang sungai Mississippi.

Saya berjalan memasuki Frenchmen Street yang riuh, dengan musik jazz, reggae, country, terdengar dari barisan kafe. Saya berpapasan dengan orang-orang yang tertawa lepas, atau menggerutu, atau terhuyung-huyung, atau sedang jatuh cinta. Saya teringat sebuah tulisan Elizabeth Dewberry berjudul Cabaret Stories. Ia berkata New Orleans adalah tentang fantasi, tentang gairah dan kesadaran akan hidup yang terbatas, dan tentang bagaimana orang-orang di dalamnya menyikapi itu. Di Frenchmen Street saya berpapasan dengan turis, musisi jalanan, penyair jalanan, peramal, penjaga bar, gelandangan, pasangan bulan madu. Semua tentu memiliki fantasinya, memiliki cerita pribadinya tentang New Orleans, dan sebagian besar adalah kisah atau fantasi yang tidak akan tertuliskan. Saya menggenggam gantungan kunci dari Joe di kantung celana saya, dan memikirkan fantasi yang ia miliki, yang juga ia rawat dengan telaten sekali.

“New Orleans Joe” pertama kali ditulis untuk iwashere.id

 

new orleans 4

Advertisements
comments 6

Memperkenalkan Semasa

Semua dimulai dari sebuah kedai kopi yang kami datangi pagi-pagi sekali, di mana kantung mata barista seperti menyimpan biji kelereng akibat pesta semalam yang terlalu menggila. Kami duduk di sudut, berbicara ke sana kemari, berdua saja. Saya baru saja mengeluh soal naskah tulisan yang tak kunjung tuntas saat perhatian kami tertumbuk pada esai foto di majalah yang tergeletak di meja. Esai itu berjudul Memory Lane, tentang perjalanan darat jarak jauh sebuah keluarga dan kenangan-kenangan masa kecil. Ia ditulis dengan penuh nostalgia, dengan foto-foto yang menyejukkan hati. Ada dua bocah yang mendongak ke langit dari kaca belakang sedan tua. Ada foto bocah-bocah yang sama yang tertawa-tawa saat bersembunyi di bawah mobil dalam suatu permainan. Ada pula foto mereka main-main di sungai yang disinggahi di sela perjalanan. Kami membayangkan mereka saudara kandung, atau sepupu, atau kawan yang menjadi dekat karena orang tua masing-masing bersahabat.

Kami teringat masa kanak-kanak kami sendiri, tentang jok belakang kendaraan yang berantakan oleh remah makanan, permainan dalam mobil untuk menghabiskan waktu, atau tangan yang terjulur di jendela seolah ia burung kecil atau pesawat terbang. Kami membicarakan teman-teman lama, juga sepupu-sepupu, dan saling bertanya di mana mereka sekarang. Beberapa masih berkontak, sebagian besar jarang, atau tak berhubungan sama sekali. Kalian mungkin memiliki ceritamu sendiri, orang dekat di masa kanak-kanak yang bersama waktu perlahan merenggang, untuk kemudian tak berhubungan lagi, atau saat bertemu obrolan tidak bergerak ke mana-mana dari cerita nostalgia belaka.

Foto-foto bocah gembira itu menerbitkan sebuah bangunan cerita di kepala kami. Bagaimana kemesraan kanak-kanak itu akan berkembang bersama waktu? Saat ini mungkin mereka sudah dewasa, apakah mereka masih dekat satu sama lain? Atau menjadi sosok asing yang berjarak? Pribadi yang sama sekali berbeda? Salah satu foto menampilkan bocah lelaki yang bersiap melompat ke sungai sementara bocah perempuan berdiri canggung di atas batu di belakangnya dengan wajah cemas, mungkin takut terpeleset. Bocah lelaki sepertinya saudara tua yang tangkas sementara si perempuan adalah adik yang penggugup.

Kami berandai-andai tentang bagaimana mereka tumbuh besar. Bagaimana jika Sachi, begitu kami menamai si gadis kecil, keluar dari bayang-bayang Coro si kakak sepupu yang gesit, lalu menjalani hidupnya sendiri. Apa-apa yang dilakukan Sachi saat tumbuh dewasa, bagaimana Coro melihat Sachi, si adik sepupu canggung yang perlahan menemukan sayapnya. Lalu bagaimana Coro memandang hidupnya sendiri yang – kami andaikan – semakin ringsek.

Bagaimana jika mereka kami bawa ke dua puluh tahun sesudahnya dan bertemu kembali setelah terpisah lama? Bagaimana mereka melihat kedekatan masa lalunya, di mana tempat kenangan masa kecil itu dalam diri mereka kini? Di hari-hari sesudahnya, kami bersemangat untuk membangun cerita untuk kedua bocah itu. Hubungan mereka terhadap satu sama lain, juga dengan orang-orang di sekitarnya: Bapak, Bibi Sari, Paman Giofridis. Melalui kelompok kecil ini kami mencoba melihat hubungan sederhana yang kerap menjadi demikian rumit itu: keluarga. Ide soal keluarga sering kali ditelan mentah-mentah, seolah akan terus ada tanpa mesti dirawat. Bagaimana ia berdiri saat berhadapan dengan kenyataan-kenyataan? juga pilihan-pilihan?

Apa hal yang mendekatkan orang-orang dalam keluarga? Bagaimana jarak pelan-pelan tercipta? Ini, kami pikir, sering kali tidak mudah dijawab. Dalam salah satu bagian, Coro menulis:

Aku kembali teringat percakapan semalam, dan memikirkan mengapa aku menarik diri dari Bapak. Ini jenis soal yang tak bisa betul-betul kuuraikan, baik sebab atau kapan dimulainya. Seperti karat di pipa ledeng yang tiba-tiba saja ada, kemudian melebar dan semakin melebar. Seperti bercak cokelat gelap tanda penuaan di wajah yang muncul begitu saja, dan perlahan bertambah. Satu, dua, tiga, empat. Tak seorang pun betul-betul memikirkannya.

Keutuhan sebuah keluarga kerap dijaga oleh simbol-simbol. Makan malam tahunan di hari raya, kunjungan rutin ke makam leluhur, tradisi saling memaafkan, dan lain-lain. Apa yang dilakukan kedua bocah saat diharuskan mengucapkan selamat tinggal pada rumah masa kecil mereka? Rumah masa kecil, simbol kedekatan masa lalu yang tersisa. Bagaimana mereka mengucap selamat tinggal pada tempat di mana mereka melakukan kenakalan kanak-kanak, berbagi kegembiraan, juga bersedih bersama saat tragedi kecil terjadi? Tempat terakhir di mana kenangan akan kedekatan masa lalu diikat dengan tali yang semakin lama semakin aus.

Kami menulis, menulis, menulis. Mengenal kedua bocah lebih dekat, mengikuti mereka tumbuh dewasa, merasakan apa-apa yang menggerakkan emosi mereka, dan perlahan mulai menganggap mereka sebagai kawan dekat kami sendiri. Mungkin karena belakangan kami membaca banyak prosa dengan tokoh-tokoh yang eksentrik, juga kehidupan yang bombastis, kami lebih senang membayangkan kedua bocah, juga orang-orang di sekitar mereka, sebagai sosok-sosok yang sederhana saja, yang menjalani hidup dengan lurus tanpa kelokan yang spektakuler. Bukankah sebagian besar dari kita juga begitu? Menjalani kehidupan yang terlihat biasa-biasa saja, walau di titik yang paling pribadi, permasalahan-permasalahan keluarga selalu saja rumit. Mungkin cerita-cerita ini yang ingin kami sampaikan, narasi pribadi orang kebanyakan dengan kehidupan yang tidak hendak dijalani secara dramatis. Seperti salah satu perbincangan Coro dan Sachi di suatu tengah malam.

“Menurutmu, Coro, apa kita akan tergerak membeli rumah itu sendiri? Maksudku, bapakmu tentu senang kalau kamu yang akhirnya mengurusnya.”  

“Kurasa tidak. Aku ini lebih kere dari babi. Kau sendiri, memangnya punya uang?”

“Tidak juga.”

“Itulah. Lagi pula, hal-hal heroik seperti itu klise sekali.”

Di awal bulan Desember lalu — bulan yang intim itu — Semasa selesai ditulis. Seperti karya yang lain, menulis Semasa juga menjadi proses menyenangkan yang akan kami kenang dengan manis. Ia berisi malam-malam menulis, bertengkar, lalu saling mendiamkan, untuk kemudian bicara tenang-tenang, lalu menulis lagi. Perjalanan yang mendekatkan kami, juga membantu kami memahami hal-hal yang terjadi di sekitar keluarga kecil kami sendiri.

Beberapa hari lagi Semasa akan terbit dan bisa teman-teman baca. Semoga cerita Coro, Sachi, Bapak, Bibi Sari, dan Paman Giofridis dapat menjadi dekat di hati teman semua, seperti halnya mereka menjadi kawan-kawan yang hangat untuk kami dalam dua tahun terakhir ini.

20180108-Semasa-final (1)

 

 

* Kami mengucapkan terima kasih kepada para pembaca awal Semasa: Bram Hendrawan, Dewi Kharisma Michellia, Ibnu Najib, Mahwari Sadewa Jalutama, Syarafina Vidyadhana, dan Yuki Anggia Putri. Terima kasih khusus untuk Dewi Kharisma Michellia yang telah menyunting naskah kami, Lody Andrian dan Hengki Eko Putra untuk desain sampulnya, Mahwari Sadewa Jalutama untuk foto-foto yang menjadi ilustrasi , serta Wijaya Eka Putra yang percaya bahwa cerita ini layak diterbitkan dan dibaca.

 

** Foto depan diambil oleh Mahwari Sadewa Jalutama

 

*** Jika di akhir pekan sedang di Jakarta, Semasa bisa ditemui di toko buku POST di Pasar Santa. Ia juga bisa dipesan di toko-toko buku independen lain seperti Dema Buku (WA 08588144998), Stanbuku (089614676965), Kedai Boekoe (WA 085891444731), Mojokstore (087845801366) dll.

comment 1

Jakarta Kami di Suatu Minggu

Hari itu kami bangun kesiangan. Maesy kelelahan karena sehari sebelumnya baru pulang dari Singapura untuk suatu urusan. Kami golek-golek saja, ngobrol sana-sini, terlalu malas bahkan untuk menyeduh kopi. Sinar matahari masuk menembus jendela menimpa ujung kaki Maesy yang menyembul dari balik selimut. Ia membiarkan saja kakinya di sana. Saya meraih amplop coklat di sisi tempat tidur dan membaca lagi surat yang kami terima malam sebelumnya. Surat dari Andika Budiman, kawan baru kami di Kineruku.  Dari Rani Kineruku kami pernah mendengar bahwa Andika sesekali menulis surat untuk kawan-kawannya. Surat untuk kami ini panjang, dan ditulis dengan tulisan tangan yang rapi. Ia bercerita tentang keseharian di Kineruku, hal-hal yang ia lakukan di kala bosan, pertemanan-pertemanan yang tercipta, pendapatnya soal puisi Anya Rompas dan Mikael Johani. Andika pria yang lembut sekali, tutur katanya selalu halus, demikian pula suratnya. Di satu bagian ia menulis betapa kesedihan terkadang seperti keran yang bocor, begitu sulit ditahan. Di bagian lain ia bercerita tentang penulis kesukaannya, Oliver Sacks. Andika mengagumi bagaimana Sacks menulis tentang pasiennya dengan penuh kasih sayang. Ia juga menyelipkan lukisan kecil wajah Oliver Sacks yang ia buat. Andika mengaku kesulitan saat melukis janggut Sacks. Ia menggunakan tip-ex untuk membuatnya jadi uban. Surat Andika indah sekali. Kami masih terharu bahkan saat membacanya untuk kedua kali. Sampai hari ini kami belum mulai menulis balasan untuknya (maafkan kami, Andika, kami kesulitan membuat surat yang sama indahnya dengan suratmu)

Menjelang tengah hari kami akhirnya bangun betulan, menyeduh kopi, memutar musik, mandi, lalu duduk-duduk membaca di ruang tamu. Begitu terus hingga saat kami harus berangkat ke POST. Hari ini kami ke sana sedikit lebih awal karena ada janji bertemu Tama. Dia berjanji menunjukkan beberapa foto yang ia kira cocok untuk ilustasi Semasa, naskah novela yang baru saya selesaikan bersama Maesy. Tepat pukul dua Tama muncul, tapi dasar anak sembrono, ia lupa membawa komputer. Di tangannya malah ada sekresek bahan memasak. Terlihat segenggam petai melongok dari kresek. Sambil cengengesan ia berkata akan membawakan foto untuk kami lain kali. Hari ini ia sibuk berbelanja bahan untuk sebuah acara masak-memasak malam nanti. Dengan seenaknya ia menggelar petai di meja dan mulai mengupasnya satu-satu. Kami membiarkan Tama di sana hingga aroma petai mulai memenuhi toko buku. Di titik itu semua petai harus kembali masuk kresek.

Pukul tiga POST buka. Seperti biasa beberapa kutu buku datang dan pergi, juga orang-orang yang celingak-celinguk, juga kucing-kucing. Ada kawan-kawan lama POST, ada kenalan baru. Ada Dewa yang muncul lagi sesudah dua tahun tak kelihatan. Dulu wajahnya masih culun, sekarang ia gondrong dan baru saja menerbitkan buku kumpulan cerita pendek secara mandiri. Ada Melisa yang mampir sebentar, mengaku belum menyelesaikan My Documents karya Alejandro Zambra yang terakhir dibelinya tapi tak tahan untuk membeli buku lagi (Penyakit para kutu buku yang membuat POST jalan terus). Ia menyambar Muslihat Musang Emas karya Yusi Avianto Pareanom. Lalu ada Isabella dan Bambi, temannya. Isabella seorang penjaga toko buku di Madrid yang sedang berkunjung ke Jakarta dan mencari-cari kegiatan kesusastraan. Ia mengambil buku puisi Mikael Johani, We Are Nowhere and Its Wow, membawanya ke sudut dan membaca. Ia menyukai dan membelinya. Kami katakan bahwa malam nanti Mikael dan teman-temannya mengorganisir acara puisi di Paviliun 28. Isabella antusias dan berniat datang, walau Bambi tidak menunjukkan wajah bersemangat. Belakangan saya tanya pada Mikael apa ada orang dengan ciri-ciri seperti Isabella yang muncul di Paviliun 28. Kata Mikael tak ada. Semua ini pasti gara-gara Bambi.

Hujan turun deras, beberapa pengunjung meminta kami memutarkan lagu AriReda. Kami putarkan lagu Sajak-Sajak Kecil tentang Cinta di Spotify. Orang-orang membaca, atau saling mengobrol, atau melamun tenang-tenang terbawa suasana. Sampai saat Spotify secara otomatis berpindah ke lagu Raisa. Pengunjung protes dan saya putarkan Billie Holiday demi menjaga suasana syahdu.

Sedikit lewat pukul enam, tiba-tiba muncul Yusi Avianto Pareanom, bersama Rere istrinya, juga putra bungsunya Sulaiman. Rupanya mereka baru saja putar-putar Jakarta merayakan ulang tahun pernikahan ke-25. Mbak Rere nyelonong ke dalam dan berbicara dengan Maesy, sekilas sepertinya soal keju dan tanaman. Saya, Mas Yusi, dan Sulaiman ngobrol sambil minum kopi di antara suara hujan dan musik jazz, kebanyakan seputar buku. Soal Banana yang akan menerbitkan buku puisi Bagus Takwin. Soal apakah sebuah karya harus senantiasa benar secara politis? Soal karya-karya apa yang kira-kira dibuat Abinaya saat ia tumbuh besar nanti. Soal buku baru Mas Yusi, Muslihat Musang Emas. Soal buku-buku kumpulan cerita pendek bagus lain yang baru terbit. Saya mengatakan buku Cyntha Hariadi, Manifesto Flora, bagus sekali. Mas Yusi belum membacanya, tapi ia bilang sudah membaca kumpulan puisi Cyntha dan menurutnya bagus. Sementara itu Sulaiman duduk saja di dekat kami, memasang wajah tak peduli. Ayahnya memintanya untuk ikut bercerita. Cerita apa, kek. Sulaiman bergeming. Malas katanya. Kami tertawa, memahami bahwa anak seusianya pasti sering memendam pikiran kenapa, sih, orang dewasa tidak diam saja, atau pergi jauh-jauh. Menjelang pukul tujuh malam, rombongan keluarga ini pamit hendak kembali ke Depok. Sambil mengucap selamat jalan saya teringat salah satu cerpen Yusi berjudul Suatu Hari dalam Kehidupan Seorang warga Depok yang Pergi ke Jakarta. Kali ini orang Depoknya ada tiga.

Pukul delapan, sesudah POST tutup, saya dan Maesy pergi ke Balai Budaya di Menteng. Eddie Prabu, (ingat Beps di buku Aku Meps dan Beps?) sedang pameran karya fotonya. Judul pamerannya gaya, The Magic is in The Process. Setelah melihat karyanya kami baru mengerti mengapa judul itu yang dipakai. Mas Eddie bereksperimen dengan cat air, sulur akar, dedaunan, kulit jeruk dan segala macam benda yang ia tata di cawan Pyrex lalu diberi sinar lampu sorot kecil, lalu difoto. Hasilnya corak-corak berpendar warna-warni yang indah sekali. Kami memang pernah mendengar bahwa Mas Eddie seniman foto yang bagus, tapi kami lebih mengenal sisi-sisi yang dikisahkan Soca dan Reda dalam bukunya. Sisi Beps yang gemar bikin-bikin itu. Soal ini kami betulan pernah merasakan manfaatnya, baru-baru ini ia membuatkan meja yang kokoh dari kayu-kayu bekas pakai untuk pengunjung duduk-duduk di depan POST. Sedikit lebih malam Ari dan Reda menyanyikan beberapa lagu untuk memeriahkan pameran. Saat di luar masih hujan, dan teh hangat dan kudapan kecil ada di tangan, semua orang jadi ada dalam suasana hati yang baik. Maesy yang sesudah mengagumi karya Mas Eddie sibuk mencomot kue apem dan mengunyah-ngunyah, berdiri di sisi saya, diam-diam saja mendengar dendang lagu. Kepalanya sesekali disandarkan di bahu saya.

Sebelum menghentikan taksi pulang, kami berjalan kaki dulu di sepanjang jalan Gereja Theresia, belum ingin hari segera berakhir. Tak banyak kendaraan yang melintas. Di salah satu sisi ada penjual nasi goreng yang sedang menggoreng. Suara krosek-krosek terdengar kencang dan menerbitkan lapar. Kami memesan nasi goreng dan saya duduk menunggu di undakan dekat trotoar. Karena hujan baru turun undakan masih basah. Airnya terasa merembes sedikit ke dalam celana. Saya biarkan saja. Ini hari yang menyenangkan.

 

Foto diambil oleh: Mahwari Sadewa Jalutama

comments 2

Den Haag, Setelah Tujuh Tahun

Di malam bulan Desember yang dingin, yang anginnya membuat pipi terasa kebas, Maesy berjalan kaki menjauhi stasiun Den Haag Central sambil menangis. Ia bersedih karena hari-hari perkuliahannya di Belanda akan segera berakhir. Malam-malam tanpa tidur menjelang ujian, senda gurau tengah malam di kamar asrama bersama kawan dekat, pesta dadakan dengan pakaian sembarangan di Prins, atau restoran pizza murah pereda lapar, semua kembang api itu akan segera menjadi kenangan. Pelan-pelan redup, lalu hilang. Atau tidak.

Saya berjalan di jalanan yang sama, tujuh tahun kemudian, di antara orang-orang jangkung yang menaiki sepeda kumbang. Dan Maesy, ia kembali ada di sini, menggandeng tangan saya.

“Akhirnya aku bisa menyelundupkanmu ke asramaku. Aih, butuh tujuh tahun!” katanya bercanda. Ia jelas sedang mencerna emosi yang dirasakan; nostalgia, sisa kesedihan, atau keriangan karena akhirnya kembali ke kotanya yang lain. Di kereta tadi saya sempat menggodanya bahwa reuni dengan Den Haag akan membuat air matanya bercucuran. Ia memasang wajah tak setuju, walau tak yakin sepenuhnya.

“Kau lihat menara gereja di ujung itu? Di dekat sana ada Pavlov, bar kesukaanku. Tempatnya di taman gereja, sesekali ada jazz. Di musim panas kau bisa duduk-duduk berselonjor sambil minum anggur. Tapi kita nggak langsung ke sana ya, kita ambil jalan memutar, lihat-lihat yang lain dulu.”

“Jangan bayangkan ini seseru Dubrovnik, atau seanggun Salzburg, Den Haag biasa banget. Tapi ini kotaku, kau ikut saja.”

Anak ini cerewet sekali.

Telah lama saya mendengar cerita tentang kehidupan kuliahnya di Den Haag, salah satu masa terindah. Suatu masa ketika di punggungnya tumbuh sepasang sayap.

“Tentu saja Den Haag penting untukmu.” Suatu kali saya mencandainya. “Ini kota yang bikin gadis katolik lugu itu minum wiski dan memasang tato.”

Saat ia memasang wajah sebal saya buru-buru menambahkan, “Ya, ya, selain menjadi lulusan terbaik, tentu saja, juga ketemu teman-teman asyik.”

Dan siang itu, tujuh tahun kemudian, sesuai ajakannya, ya saya ngintil-ngintil saja.

Kami berjalan di pinggir danau di dekat gedung parlemen, di mana bebek-bebek berenang bergerombol. Di sini ia sering berjalan sendiri, mengosongkan pikirannya di kala ruwet; urusan esai-esai, hal-hal emosional, atau apalah, atau untuk sekadar duduk-duduk sambil makan buah apel. Entah untuk alasan apa, saya kerap geli membayangkan wajahnya saat sedang menggigit apel dan mengunyah dengan mulut penuh. Terkadang saya menyebutnya anak kelinci, atau anak tupai. Kami mampir ke Albert Heijn, toko kelontong langganannya, membeli sekotak susu kacang. Dulu Maesy selalu ke sini berburu daging-daging yang nyaris kedaluarsa untuk ia masak. Karena nyaris busuk, daging itu jadi murah, dan ia tetap bisa makan enak.

“Maklum, mahasiswa miskin,” katanya nyengir.

Di lorong gerbang asramanya saya sedikit menggigil oleh angin yang bertiup. Demi Tuhan, ini musim panas! Maesy tertawa dan bercerita lorong gerbang ini selalu berangin, kapan pun. Angin Den Haag, di segala musim, selalu dingin. Asrama Dorus sedang sepi waktu itu. Semua penghuni tampaknya sedang libur musim panas. Kami hanya melongok-longok di bawah. Ia menunjuk jendela kamar Ana, salah satu kawannya di lantai dua. Jika sedang berjalan di halaman asrama, Maesy terkadang bisa melihat Ana sedang melakukan sesuatu atau melamun di sana. Maesy juga menunjukkan pada saya jendela kamarnya dulu. Kami menempelkan wajah di dinding kaca yang menatap ruang cuci pakaian. Mesin cuci di sana terlalu sedikit untuk jumlah penghuni asrama. Karena itu Maesy sering memilih bangun dini hari, mengendap-endap ke ruang cuci membawa buntelan berisi pakaian. Pada jam itu mencuci bisa lebih tenang (Suatu kali, saat ruang cuci benar-benar kosong, ia pernah memasukkan sepatu kets ke mesin). Sekali waktu ia bertemu rekan asrama yang memilih waktu yang sama. Dan mereka akan duduk-duduk di sana, berbicara kesana kemari di dini hari yang sepi, sambil melihat pakaian berputar-putar di dalam mesin cuci yang mengeluarkan bunyi geluduk-geluduk.

Kami memasuki kampus ISS dan ia mulai menunjuk-nunjuk ke sana kemari, menerangkan macam-macam sambil mengenang masa lalu. Ini perpustakaanku dulu, ini kantin yang murah tapi bising, ini meja tempatku menulis sebagian besar esaiku. Karena sedang libur, hanya ada sedikit mahasiswa kelas musim panas yang sedang mondar-mandir. Kami melewati dinding-dinding dengan kalimat-kalimat Martin Luther King, atau selebaran ajakan berdebat soal kebijakan adopsi anak, atau undangan diskusi makalah soal kekerasan terhadap perempuan. Di salah satu ruang baca Maesy menunjuk sebuah peta dunia yang digantung. Salah satu temannya pernah membalik pajangan peta di ruangan itu karena bentuk Amerika Selatan terlihat terlalu kecil dibanding Amerika Utara. Menurut temannya itu, si pembuat peta jenis orientalis yang ngawur.

Maesy duduk tenang-tenang di bangku di seberang kampusnya, di depan kanal. Saya menyusulnya setelah berpisah sebentar karena saya numpang kencing di toilet kampus. Saya jumpai wajahnya sedang diliputi nostalgia.

“Jadi, bagaimana perasaanmu?” tanya saya.

Ia menampilkan wajah orang yang sedang mencoba merangkai berbagai pemikiran dalam dua tiga kalimat pendek. Tak berhasil tentu. Ia mulai berkata tentang betapa ia senang menemukan banyak hal yang masih sama, hal-hal yang menelusupkan melankolia. Namun, tentu saja, banyak yang telah berubah. Studio tempatnya membuat tato burung hantu di punggung kini telah menjadi toko kosmetika. Tadi kami mampir minum kopi di kedai-kedai yang sepertinya baru muncul dua tiga tahun belakangan. Jenis kedai kopi dengan pengunjung yang rewel soal keasaman kopi, yang memasang wajah berpikir keras sesudah satu seruput, atau yang bertanya-tanya apa roti yang mereka makan betulan bebas gluten atau tidak. Sementara itu, Prins Bar sekarang bernama Springbok, dengan desain interior yang lebih mutakhir. Toko buku di De Passage kini adalah Apple Store. Namun, di atas semuanya, saya sempat memperhatikan saat Maesy memandangi jendela kamar asrama Ana. Jendela yang kosong. Ada hal yang jelas tidak akan pernah sama lagi, ini bukan lagi kota tempat kawan-kawan terdekatnya berada.

“Banyak yang sudah berubah, “ujarnya, lalu diam sejenak, lalu bicara lagi.  “Tapi kalau dipikir, aku pun tak lagi sama.”

Saya teringat toko buku kecil kami di Jakarta. Tempat kami bergembira di akhir pekan. Salah satu yang perlahan membuatnya kembali mencintai Jakarta, yang menjadikan Jakarta kotanya. Saya mendesaknya untuk menuliskan hal-hal yang ia rasakan, tentang bagaimana dirinya sekarang melihat dirinya dan kotanya yang dulu, tentang pertanyaan yang selalu menggantung: bagaimana hidup akan bergerak jika pilihan-pilihan lain yang diambil. Saya pikir itu bisa jadi tulisan yang bagus. Tapi ia menolak. Walau terkadang cerewet, ia anak yang tertutup untuk hal-hal yang paling pribadi.

Kami memperhatikan beberapa perahu turis yang melintasi kanal. Pemandu berdiri di ujung, memberi keterangan tentang segala sesuatu yang dijumpai. Tangannya menunjuk ke kiri dan ke kanan. Maesy menarik saya untuk kembali berkeliling, berjalan-jalan santai keluar masuk jalanan kecil, menyusuri pinggir kanal, perumahan, jajaran restoran. Kami berhenti di sebuah toko barang antik di Spekstraat. Berit Mol, perempuan tua pemilik toko itu ramah sekali. Ia membiarkan kami membongkar-bongkar koleksi sketsa dan foto lamanya. Saat saya memperhatikan sebuah lukisan kakek perlente yang sedang mengamat-amati bingkai yang dibawa pemuda berpakaian kumal, Berit bercerita itu lukisan karya Willy Sluiter. Lukisan itu bercerita tentang kakek kaya yang gemar membeli dengan harga murah lukisan seniman-seniman melarat dengan bakat besar. Sementara itu Maesy tekun memilah-milah foto-foto tua yang disimpan Berit di kaleng biskuit. Ia berhenti dan tertegun saat tiba pada sebuah foto hitam putih pemandangan kota Den Haag tahun 1920-an. Terlihat di sana kanal di dekat kampusnya, tempat kami duduk tadi.

“Pemandangannya masih sama,” kata Maesy, matanya masih memandang foto itu lekat-lekat. Hanya tangannya yang menjawil lengan saya.

Banyak tempat di Eropa yang tak berubah bahkan sesudah ratusan tahun, kami tahu. Tapi tampaknya menemukan foto sebuah tempat yang dekat di hatinya, yang tak pernah berubah dari dulu hingga sekarang, dan mungkin untuk waktu yang sangat panjang, menimbulkan haru di dalam dirinya. Ia menyampaikan pada Berit keinginannya untuk membeli foto itu. Berit mengangguk sambil tersenyum dan Maesy memasukkannya ke sela-sela halaman buku yang ia pegang.

Matahari musim panas Den Haag masih bersinar terang di pukul sembilan malam. Kami kembali berjalan bersisian melewati danau di pinggir gedung parlemen, di mana beberapa turis sedang berfoto di jembatan di dekatnya, dengan latar semacam bunga kembang sepatu. Di sebuah taman kecil beberapa pedagang barang kerajinan Asia sedang merapikan mejanya. Mungkin ini hari dengan penjualan yang baik, mungkin tidak. Kami terus berjalan hingga tiba di Pavlov, di bangku tamannya yang ada di halaman gereja. Tak ada jazz malam itu, tapi bangku-bangku tertata persis sama seperti terakhir kali diingat Maesy. Kami memesan anggur putih dan bersulang untuk banyak hal. Di atas meja, di dekat siku Maesy, ujung foto hitam putih kanal depan kampus itu terlihat menyembul.

IMG_7675 (1)