comment 1

A Tale of Two Sundays

On a Sunday afternoon three weeks after I arrived in Bangalore, I found myself sitting in a tea house, feeling that, for the first time since I landed in India, I did not want to order masala chai. The tea house was the one in Cunningham Road, the same tea house I went to yesterday and the day before, all day last week and three times the week before that. It was a fairly quiet place and centrally located, a convenient place to do interviews for my research.

I know the masala chai served there by heart. It comes in a tall tin pot and small round cup with sugar cubes on the side, smelling more of cardamom pods than the ginger and cinnamon that also flavor the tea. The people I met always smile when I tell them how much I love masala chai, whether it’s the tea house version or the street side kind served in chai wallah stalls. How the powdered mix I’ve tasted elsewhere pales in comparison to the Indian tradition of brewing the tea in milk and spices, and how I could never get enough of it. As it turned out, there is such thing as having too much of a good thing.

I was daydreaming of a plain cup of English Breakfast on my way there, the closest thing to the Sariwangi I could find outside of Indonesia. I was also daydreaming of a leisurely Sunday, where I could spent hours at the used bookshop a couple of blocks away, the way I would spend Sundays at home going to a bookstore. As exciting as my research in India had been, the time had come when I yearned for a taste of home while I travel. If I could not have my bookshop Sunday ritual right then, well, at least I could get myself the tea that reminds me of home.

I signaled for the waiter to come, but the family a few tables away caught his attention first. A man and a woman were already studying the extensive tea list when I came in, while another woman was putting a baby in a stroller. The woman with the baby was wearing a printed cotton saree, while the other woman and man were wearing silk. I assumed that she was the aayah, the term for housemaid and nanny in India.  

The father ordered first. He wanted the smoky Lapsang Souchong from China. His wife wanted to try Rooibos from South Africa. I wondered which tea the aayah would order out of all the possibilities in the menu. Would it be fruit tea, green tea, or perhaps like me, an English Breakfast?

“Masala chai,” she said in a soft voice.

As the waiter walked past me, I found myself staring at the aayah. At the red bindi on her forehead, at the few strands of white hair on her bun, at the smile lines around her mouth, at the plastic bangles that jingled as she rocked the stroller forward and backward to put the baby to sleep. Out of all the tea in the menu, why would she pick the tea she most likely makes and drinks every day?

The husband and wife started chatting in English. I could hear them talking about a new play in the theatre on the other side of the city. The aayah started humming a lullaby in Kannada, the local dialect in Bangalore, while staring on a blank spot above a poster on the wall that says, “Women are like tea bags, they don’t know how strong they are until they get into hot water”. Her gaze softened as her hum grew louder. I saw the beginning of a smile forming on the corner of her mouth, and I could tell she was no longer in the tea house.

The aayah was daydreaming.

She was daydreaming of another Sunday, one where she was either taking a stroll at Cubbon Park, shopping at MG Road, watching the new movie starring the Tamil Nadu superstar Rajinikanth, or perhaps staying at home and sharing a meal with her own family. Like me, she wanted a Sunday of her own. I knew when mine will come; I would be wrapping up my research in two weeks and fly back home. It was only two more Sundays until I could spend a Sunday going from bookstore to bookstore again, stopping in a café on my way home for a cup of tea as I start reading a new book. But what about her? When would she get the Sunday she was daydreaming about?

From what I know, a live-in aayah in Bangalore is not any different from a housemaid in Indonesia. They live with their employer seven days a week and only get to go home a couple of times in a year. They spend their Sundays the way they spend their Mondays to Saturdays: doing what their employers need them to do. Her current Sunday was her routine, her every Sunday. She was dreaming for an exceptional Sunday, while my current Sunday was an exception from my routine. We were two women sharing the same daydream in a tea house once upon a Sunday, but that was all we shared.

The waiter came to my table, blocking the aayah from my sight. “What would you like, Ma’am? The usual pot of masala chai?”

Thoughts rushed in at once. Bangalore, home, Sundays, routines, daydreams, and tea. Black and plain, milk and spiced. For me, masala chai is a symbol of adventure and English Breakfast is a reminder of home. Perhaps, for her, masala chai too is a reminder of home. A drink that she serves for the family she works for is the same one she enjoys with her family and friends, on any given day of the week. A source of comfort, an anchor in her universe.

I found myself nodding.

“Yes, please.”

DSC00588

I unearthed this story from my files, written last year for Hanny and Clara‘s dream of a print magazine that eventually found a life online first, Secret Sunday. The photos are from 2010, when I was still horrible at taking photos, but they are from that very Sunday I wrote about, so the sentiment is perfect! – Maesy

comments 8

Frere Lampier yang Menyalakan Lampu di Malam Hari

Sudah lewat tengah malam saat George Whitman berjalan tertatih di ruang tengah toko bukunya. Malam itu ia sulit tidur. George — yang rambut putihnya tergerai awut-awutan — berjingkat-jingkat di antara belasan anak muda yang tidur bergelimpangan, beberapa di antara mereka penulis petualang, yang lain pejalan miskin yang mencari penginapan cuma-cuma. Saat itu awal periode 2000-an, usia George delapan puluhan. Ia tua dan rapuh, serapuh toko buku Shakespeare and Company miliknya. Di antara gelimpangan para penginap, George melihat toko buku yang gelap dan pengap, tumpukan buku berdebu dengan sampul mengelupas, kertas-kertas yang berserak, tembok dengan rembesan air – beberapa cukup banyak sehingga menciptakan genangan di lantai– juga tangga kayu sempit dan lapuk yang membuat banyak orang hampir terjungkal.

Malam itu, dan malam-malam lain sebelumnya, pikiran George kalut. Kekhawatirannya semakin menjadi; bahwa Shakespeare and Company — toko buku yang ia bangun dan rawat dengan penuh cinta nyaris sepanjang hidupnya itu — tidak akan bertahan.

Shakespeare and Company sudah melewati banyak hal; larangan berjualan oleh pemerintah, dimata-matai agen anti komunis, kebakaran, hingga para pengutil. Namun, di usia senjanya George sudah tak lagi tangkas. Jaman pun seolah bergerak jauh meninggalkannya (saat itu abad dua puluh satu dan Shakespeare and Company tidak memiliki telepon!). Tagihan semakin menumpuk, beberapa penerbit mengancam untuk menghentikan kiriman buku, bangunan dan koleksi bukunya berdebu, dan laba-laba mulai senang bersarang di banyak sudut.  George bersedih akan kemungkinan yang semakin nyata di depannya, bahwa Shakespeare and Company akan mati bersamanya.

Belum pernah ia merasa sesendiri itu.

***

George Whitman tiba di Paris pada musim gugur tahun 1946 untuk belajar di Universitas Sorbonne. Saat itu ia baru saja menyelesaikan masa wajib militernya. Selain belajar, George mendapat uang tambahan dari menyewakan dan menjual buku-bukunya yang bertumpuk hingga langit-langit kamar kosnya. Dari jual beli buku dan sisa simpanan dari masa wajib militer, ia membeli bekas toko kelontong orang Aljazair di Rue de la Bucherie dan mendirikan toko buku berbahasa Inggris. Saat itu tahun 1951 dan ia menamai toko bukunya Le Mistral. Soal asal-usul nama ini, George pernah bercerita macam-macam. Ia pernah menyebutnya sebagai nama sebuah angin di Prancis Selatan, atau nama penyair asal Cili kesukaannya, atau untuk mengenang nama gadis cinta pertamanya. Sebagai satu-satunya toko buku berbahasa Inggris di Paris saat itu, Le Mistral mulai dikenal dan menjadi tempat berkumpul para penulis, pembaca, dan para bohemian.

Le Mistral membawanya berkenalan dengan Sylvia Beach, sesama warga Amerika yang pada periode 1920-1940-an memiliki toko buku berbahasa Inggris pertama di Paris, Shakespeare and Company. George menganggumi bagaimana Sylvia menjadikan toko bukunya rumah untuk para penulis, termasuk penulis-penulis “The Lost Generation”; Ernest Hemingway, F. Scott Fitzgerald, hingga Gertrude Stein. Sylvia bahkan menjadi yang pertama menerbitkan Ulysses karya James Joyce saat tak ada yang mau menerbitkannya. Pada 1964, dua tahun sesudah Sylvia meninggal, George mengganti nama Le Mistral menjadi Shakespeare and Company untuk mengenangnya.

Semangat Sylvia diteruskan George untuk Shakespeare and Company-nya. Ia membuka pintu bagi para penulis petualang yang memerlukan tempat menginap cuma-cuma. Syaratnya hanya mereka mau membantu George menjaga toko dua jam sehari dan membuat paling tidak satu tulisan selama masa tinggalnya. George menyebut mereka tumbleweed-nya, perumpamaan yang diambil dari sejenis spora kering yang diterbangkan angin.

Dan cerita Shakespeare and Company terus berjalan; puluhan ribu penulis pengembara pernah menginap di sana, di kursi-kursi yang berubah menjadi tempat tidur di malam hari. Ada yang beberapa hari, ada yang hingga berbulan-bulan. Mereka menulis, membaca, berdiskusi, membacakan puisi, memasak semur, minum bir, pesta minum teh di hari Minggu, melamun di jendela yang menatap sungai Seine, menyapa orang asing, minum scotch, menulis, menulis, menulis.

Para penulis generasi Beat juga sempat menghabiskan sebuah masa dalam petualangan tulis menulisnya di Shakespeare and Company dan menjalin persahabatan dengan George. Di sana, William S. Burrough menulis banyak bagian dari novel Naked Lunch-nya, atau Allen Ginsberg membacakan Howl di sebuah siang di bulan April 1958. Ada pula Gregory Corso yang selain menulis puisi juga kerap meminjam uang pada George dengan menjadikan naskah bukunya yang belum terbit sebagai jaminan. Naskah yang kemudian — saat ia betul-betul bokek — ia curi kembali.

Mereka, para Generasi Beat ini, tentu membawa kisah-kisah eksentrik. Suatu kali, dalam acara pembacaan puisi bersama sekelompok penyair lain, Corso protes dan menghina puisi-puisi mereka sebagai bukan puisi sesungguhnya. Saat itu ia sedang, tentu saja, teler berat. Ketika balik ditanya seperti apa puisi yang sesungguhnya, Corso melepas semua pakaian dan mulai mendeklamasikan puisinya. Corso punya dua kawan bertubuh sangat besar dengan jenggot dan rambut tubuh yang lebat. Dua begundal itu berjaga di dekat pintu dan mengancam akan membogem siapa pun yang berani meninggalkan ruangan saat Corso sedang membacakan puisi sambil telanjang bulat.

“Itu malam yang heboh,” begitu Gregory Corso mengenangnya.

Kisah-kisah romantik tentu juga terjadi di antara rak-rak buku Shakespeare and Company. Pemuda Ian Sommerville, seorang tumbleweed, sedang tekun membaca saat sebuah buku jatuh dari rak dan menimpa kepalanya, Naked Lunch karya William S. Burrough. Beberapa hari kemudian, kejadian timpa menimpa buku ini terjadi lagi. Kali ini Ian Sommervile sedang berdiri di atas tangga, merapikan buku di rak teratas, saat tanpa sengaja ia membuat sebuah buku terpelanting dan mendarat di kepala seorang pria yang sedang melintas di bawahnya. Pria tersebut adalah William S. Burrough. Kejadian itu menjadi awal perkenalan yang membawa mereka pada percintaan yang panas.

Sophie Kho, pemudi Kuala Lumpur, bertualang ke Paris mendambakan sebuah kehidupan bohemian. Ia menginap di Shakespeare and Company dan berkenalan dengan Phillip, seorang tumbleweed lain, dua hari sebelum Phillip harus meninggalkan Paris. Mereka menghabiskan hari berjalan-jalan di sepanjang sungai Seine, minum anggur Prancis, mengudap keju di taman, menari-nari bersama musisi jalanan, berbicara panjang lebar soal buku-buku indah, juga filosofi, juga film dokumenter yang ingin dibuat Phillip. Pada dini hari – saat itu Shakespeare and Company sudah gelap — Shophie Kho berjalan mengendap-endap lalu berbaring di sisi Phillip dan menciumnya.  Mereka berciuman tipis saja, lebih tidak. Keesokan harinya, saat mengantar ke stasiun metro, kembali mereka – dua remaja pemalu itu — berpelukan dan berciuman tipis. Sampai menjelang Phillip benar-benar berlalu, Sophie akhirnya berseru memanggilnya kembali. Phillip menjatuhkan koper, menyongsong Sophie, dan mereka berciuman lagi, kali ini panas, dan berlama-lama, di antara lalu lalang manusia di stasiun metro.

“Mungkin karena ini Paris, atau karena Shakespeare,” tulis Sophie Kho di catatan yang kemudian ia tinggalkan di Shakesepeare and Company.

Puluhan ribu orang datang dan pergi, sebagian dari mereka datang lagi, dan lagi. Dari penulis-punulis tak dikenal sampai nama-nama besar seperti Henry Miller, Julio Cortazar, Adolfo Bioy Casares, hingga Anais Nin. Anais Nin bahkan begitu mencintai toko buku itu, juga George Whitman, sampai-sampai Nin meninggalkan wasiatnya di bawah tempat tidur George.

Maka kisah-kisah dituliskan, romansa merebak di udara, gelas anggur didentingkan, puisi-puisi diciptakan dan dibacakan, pertemanan dibuat, kalimat-kalimat indah dirayakan.

Dan semua itu berpusat pada George, si pria Amerika berjenggot kambing.

***

George Whitman adalah pribadi yang eksentrik. Ia senang membuatkan sarapan panekuk untuk tamu-tamunya, ia mencukur rambut dengan membakarnya dengan lilin, ia kerap mengundang orang-orang – baik yang ia kenal maupun tidak — untuk sebuah pesta minum teh atau anggur. Walaupun, di tengah-tengah pesta, George sering tiba-tiba menghilang ke belakang, membaca buku sendirian. Ia begitu menyukai penulis-penulis yang ia anggap berbakat. Walau Gregory Corso kerap mengutil, George selalu menganggapnya kawan dekat dan menerimanya dengan tangan terbuka, kapan pun. Namun demikian, George sesekali meminta salah satu tumbleweed mengawasi Corso. Saat suatu hari Henry Miller putar-putar Paris dan mampir di toko bukunya pada pukul dua dini hari, George membangunkan semua tumbleweed yang tidur, memberi mereka anggur, dan memaksa mereka mendengarkan Henry Miller ceramah soal buku.

Keseharian George yang eksentrik adalah juga hal yang dikenang manis oleh teman-temannya. Erica Lowe, seorang tumbleweed, bercerita soal pertemuannya dengan George. Saat itu ia sedang celingak-celinguk melihat buku ketika George menghampiri dan menawarkan es krim stroberi yang baru saja dibuatnya. Belum sempat Erica Lowe menjawab, George sudah berlalu dan kembali dengan segelas es krim dan sendok. Sambil menyerahkan es krim, George berkata,

”Nah, sekarang tugasmu menjaga toko. Aku perlu pergi ke beberapa tempat untuk mengambil buku. Sore nanti aku kembali.”

Erica Lowe kebingungan dan hanya sanggup menerima saat diserahi beberapa kunci, mungkin kunci laci uang atau apa, sambil memperhatikan George berlalu. Beberapa saat kemudian kepala George muncul lagi dari balik pintu.

“Dan katakan pada semua yang datang, besok malam ada pesta minum teh di sini.“ Lalu ia pergi lagi.

Penulis Christopher Cook Gilmore juga menulis tentang pertemuan pertamanya dengan George. Saat itu tahun 1968, di Prancis sedang terjadi revolusi kebudayaan dan Christopher adalah bagian dari para demonstran, pemuda-pemuda dengan semangat meledak-ledak itu. Christopher muda sedang lari terbirit-birit oleh kejaran aparat yang mementungi para demonstran dan menghujaninya dengan gas air mata. Saat ia berbelok ke Rue de La Bucherie ia melihat toko buku kecil dengan lampu yang masih menyala dan seorang pria berjengot kambing di dalamnya. Christopher menggedor pintu dan George membukakannya, menggiringnya masuk lalu mematikan lampu. Dari dalam mereka memperhatikan polisi yang melewati jalanan dengan perisai dan pentungan. Nafas Christopher memburu dan ia merasakan pundaknya disentuh dari belakang.

“Bukankah ini, anak muda, momen paling dahsyat dalam hidupmu?” Kata George.

Shakespeare and Company sempat menghadapi musibah kebakaran pada tahun 1990. Tak ada yang betul-betul menjelaskan asal mulanya, tetapi api menjalar lalu membakar sebagian besar bangunan dan buku-bukunya. George sempat demikian patah hati melihat buku-buku yang menjadi abu, kertas-kertas hangus yang basah tersiram air, pecahan kaca yang bertebaran, langit-langit yang berlubang, dan bangunan yang nyaris runtuh. Dalam kesedihannya ia berkata pada semua orang bahwa malam itu ia akan tetap tidur di dalam bangunan dengan bekal satu kantung tidur saja. Keesokan harinya, dibantu beberapa tumbleweed yang sedang ada di sana, George memilah buku-buku yang masih tersisa dan menjemurnya di bawah matahari. Sehari sesudah kebakaran, Shakesepeare and Company tetap buka, walau sedang sangat koyak.

Saat itu kecintaan orang-orang pada George dan toko bukunya terlihat. Tak lama berbagai kegiatan penggalangan dana untuk membangun kembali Shakespeare and Company merebak. Ratusan penulis bergerak melakukan pembacaan karya. Allen Ginsberg memelopori acara di New York. Sahabat George, Lawrence Ferlinghetti – pendiri toko buku City Lights – melakukan inisiatif di San Fransisco.  Berbagai kegiatan serupa juga dilakukan di Boston, Paris, dan London, juga penerbitan beberapa jurnal sastra yang pendapatannya seluruhnya digunakan untuk membangun kembali Shakespeare and Company dan mengembalikan koleksi buku-bukunya. Perlahan, George bersama sahabat-sahabatnya berhasil membuat Shakespeare and Company kembali berjalan normal.

Pada tahun 1994 Allen Ginsberg melakukan pembacaan terakhir karya-karyanya di pintu depan toko buku. George memberi sambutan yang emosional sebelum pembacaan dilakukan Allen, sahabatnya yang pertama kali mebacakan puisinya di sana empat puluh tahun sebelumnya. Lebih dari seribu orang memadati Rue de la Bucherie malam itu.

Namun, menjelang periode sembilan puluhan berakhir, usia semakin menggerogoti George, juga toko bukunya. Sahabat-sahabatnya banyak yang telah meninggalkannya. Allen Ginsberg meninggal pada 1997, juga William S. Burrough pada tahun yang sama. George mulai khawatir akan kelanjutan Shakespeare and Company. Ia sempat menawarkan toko bukunya pada milyuner George Soros, sempat pula nyaris membiarkan toko bukunya digabungkan dengan yayasan City Lights milik Lawrence Ferlinghetti. Tapi George pada dasarnya tidak ingin Shakespeare and Company tamat atau pun menjadi milik orang lain. Maka tinggallah ia sendiri, dengan wajah keriput dan rambut putih awut-awutan, bersama toko bukunya yang berdebu, dengan kertas berserakan, tangga rapuh, dan tembok dengan rembasan air.

Hingga sebuah musim panas saat Sylvia Whitman akhirnya pulang.

***

Putri George satu-satunya, Sylvia Whitman (tentu saja George menamainya Sylvia) lahir pada 1981 dan tumbuh di tengah keriuhrendahan Shakespeare and Company. Sylvia kecil berbagi es krim dengan Allen Ginsberg, atau menyantap panekuk buatan George bersama paman Gregory Corso yang masih belum betul-betul sadar dari pesta semalam suntuk. Di pagi hari ia mengekor saat George membangunkan para tumbleweed yang masih bergelimpangan saat matahari sudah tinggi. Dan di malam hari ia duduk di kursi kecil melihat orang-orang yang memandang kagum penulis entah siapa yang membacakan karyanya dan berdiskusi kesana-kemari di antara denting-denting gelas anggur. Sylvia melihat begitu banyak orang yang mondar mandir, datang dan pergi, di toko buku sekaligus tempat tinggalnya bersama sang ayah.

Sylvia bergembira akan banyak teman baru yang ia temui. Seperti terhadap toko bukunya, George terkadang menitipkan Sylvia dengan seenaknya pada pengunjung kebingungan yang baru tiba. Namun, Sylvia masih terlalu muda untuk segala keeksentrikan dan ketidakteraturan itu. Orang-orang yang datang dan pergi, pintu-pintu yang selalu terbuka dan meniadakan privasi, teman-teman baru yang harus pergi meninggalkannya beberapa bulan saja sesudah Sylvia mulai merasa dekat, semua itu perlahan membuat hidupnya tak tenang dan bingung. Saat menginjak remaja, Sylvia memutuskan untuk menetap di Inggris, bersekolah di sana dan menciptakan kehidupannya sendiri. Ia menginginkan kehidupan di mana setiap pagi ia tidak harus menemukan hippie Skandinavia entah siapa sedang terkapar di ruang tengahnya. Perlahan jarak menjauhkan mereka secara emosional. George memendam keinginan agar Shakespeare and Company bisa diteruskan Sylvia, tetapi ia tak berani berharap, dan perlahan mulai putus asa.

Namun, bersama semakin senjanya usia George, Sylvia mulai berkeinginan untuk — selagi bisa– lebih dekat dengan sang ayah. Pada awal tahun 2000, Sylvia menghabiskan libur musim panasnya di Shakespeare and Company. Rencana kepulangan yang hanya untuk menghabiskan libur berkembang menjadi lebih lama. Suatu pagi, Sylvia secara tak sengaja menemukan tumpukan surat George untuknya. Surat-surat itu tak pernah terkirim. Di sana ia menyadari bahwa George ingin untuk lebih dekat dengannya, walau – dengan segala kerumitan cara berpikir George – urung untuk ia tunjukkan. Maka Sylvia memutuskan untuk tinggal lebih lama, menghabiskan lebih banyak waktu bersama George, mengenal lebih dekat ayahnya sebagai dua orang dewasa.

Perlahan Sylvia menyadari bahwa George dan toko bukunya adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Mengenal dan mencintai George adalah juga berarti mengenal dan mencintai Shakesepeare and Company. Sylvia mulai mengulurkan tangan membantu George membawa keteraturan kembali ke dalamnya dan mencoba mencegah kerja cinta seumur hidup sang ayah hilang begitu saja.

Salah satu yang dilakukan Sylvia di periode awalnya di sana adalah hal-hal mendasar seperti memasang telepon, membeli komputer, memperbaiki toilet dan tangga, dan memasang mesin pembayaran kartu kredit (George selama ini masih menelepon penerbit di Amerika dengan telepon umum dan menggunakan kartu kredit bekas hanya untuk mengakali pintu yang tak sengaja terkunci). Saat merapikan pembukuan, Sylvia menemukan data penjualan dari tanggal 30 dan 31 Februari.  Sylvia juga memastikan semua uang kas masuk brankas. Dulu George kerap menaruh uang di antara halaman buku dan melupakannya begitu saja. Suatu kali seorang pelanggan membeli buku yang murah dan menemukan berlembar-lembar uang terselip di dalam saat ia membacanya di rumah.

George pada awalnya menolak segala perubahan yang dibuat Sylvia, memakinya dengan sebutan Margareth Thatcher, walau akhirnya mengalah juga. Transisi ini jelas tidak melulu mulus. Saat Sylvia merapikan letak buku-buku, George kerap bangun tengah malam dan mengembalikannya ke posisi semula. Saat Sylvia memindahkan buku-buku penulis Rusia dari dekat jendela yang memandang sungai Seine, George memaksa untuk mengembalikannya dan mengatakan buku-buku Rusia itu cocok berada di sebuah sudut yang romantis. Saat Sylvia mengambil buku-buku yang tercecer dan menambah jumlah tumpukan buku di rak lorong toko, George menghardiknya,

“Kalau kau menumpuknya seperti itu, orang tidak akan bisa melihat pengunjung lain di lorong seberang dan jatuh cinta. Kau menghilangkan romansa yang mungkin terjadi!”

George bergembira akan datangnya Sylvia, juga akan harapan yang didapat kembali oleh Shakespeare and Company. Namun, George tak pernah terang-terang mengatakannya, mungkin ia takut menumpuk harapan. Pada masa awal kedatangan Sylvia, George bahkan memperkenalkan Sylvia sebagai pemain teater dari Inggris yang sedang berkunjung. Tentu tak seorang pun percaya, wajah Sylvia jelas mirip dengan foto gadis cilik berambut keriting yang dipajang George di berbagai sudut. George terus menentang setiap kali Sylvia mengemukakan ide-ide perbaikan toko buku. Sampai pada suatu malam di bulan Desember 2005, di perayaan ulang tahunnya yang ke-92 di lantai dasar Shakespeare and Company, George mengucapkan pidato yang emosional,

“Jauh pada tahun 1600-an, bangunan ini adalah sebuah biara bernama La Maison du Mustier. Setiap biara selalu punya Frere Lampier, seseorang yang bertugas menyalakan lampu saat malam tiba. Aku sudah melakukannya selama lebih dari lima puluh tahun, dan kini, giliran putriku.”

Dan George Whitman menyerahkan secara penuh Shakespeare and Company – buah cinta seumur hidupnya — kepada putrinya, Sylvia Whitman.

***

Sylvia betul-betul meneruskan semangat ayahnya. Setelah hal-hal dasar dirapikan, pembukuan, toilet, rak-rak buku, dan sejenisnya, Sylvia menggagas FestivalandCo, sebuah festival sastra selama delapan hari bertutut-turut. Tema festival pertama itu “Lost, Beat, and New”, adalah untuk merayakan generasi-generasi penulis yang memiliki hubungan dekat dengan Shakespeare and Company. Festival yang digagas Sylvia sukses besar dan menghubungkan kembali toko bukunya dengan generasi penulis yang lebih baru, mulai dari Dave Eggers, Jonathan Safran Foer, Craig Taylor, hingga Zadie Smith.

Shakespeare and Company kembali bergairah, ia juga menjadi tempat ayah dan anak membagi momen intimnya. Sekali waktu George masih turun dari kamarnya di lantai atas toko buku, dengan piyama dan rambut putih awut-awutannya, memberi perintah kepada para tumbleweed yang berkeliaran, sementara Sylvia memandanginya sambil tersenyum geli. Sylvia pun, saat sedang ruwet dengan urusan toko buku, naik ke kamar George pada malam hari, berbaring di sampingnya, saling berbicara atau membacakan buku. Untuk Sylvia Ini menjadi semacam meditasi.

“Momen-momen ini mengingatkanku kembali ke hal-hal sederhana yang penting: cinta, senda gurau, dan buku-buku,” ujar Sylvia.

George Whitman meninggal dengan tenang di kamar tidurnya pada bulan Desember 2011, dua hari sesudah ulang tahunnya yang ke-98. Ia dikuburkan di Pere Lachaise, salah satu tempat paling romantis di Paris, berdekatan dengan kuburan Jim Morrison. Berita meninggalnya George memancing reaksi haru dari berbagai belahan dunia. Surat ucapan bela sungkawa dan pesan cinta berdatangan dari mana-mana. Shakespeare and Company adalah rumah yang begitu dicintai puluhan ribu pembaca dan penulis yang pernah bersinggungan dengannya. Begitu banyak kisah manis, eksentrik, dan mengharukan yang muncul di dalamnya. Banyak yang tertulis dalam jurnal-jurnal yang berceceran di sana, lebih banyak lagi yang diceritakan dari mulut ke mulut. Shakespeare and Company dilahirkan, dan dirawat oleh seorang yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk toko buku dan karya-karya indah. George ingin menjadikannya sebagai – dalam istilahnya – dunia sosialis utopis dalam wujud sebuah toko buku.

Dan ia berhasil.

Sepeninggal George, Sylvia masih terus bergerak, mengabdikan hidupnya untuk toko buku peninggalan ayahnya. Di sana pula ia berkenalan dengan David Delannet yang pertama kali melihat Sylvia dari balik kaca jendela Shakespeare and Company. Sylvia dan David menikah, dan bersama-sama merawat toko buku itu. Bersama Sylvia, Shakespeare and Company tidak lagi sebohemian dulu. Ia dan David menghadirkan keteraturan di sana, sesuatu yang mungkin dibutuhkan untuk bertahan di masa sekarang. Mereka meneruskan tradisi pembacaan karya, mengelola festival dua tahunan, memperbesar bangunan toko buku, menerbitkan jurnal, hingga menggagas penghargaan untuk karya novela, The Paris Literaray Prize. Sylvia mempertahankan tradisi tumbleweed George, walau jumlahnya lebih dibatasi sekitar enam penulis pada saat yang sama.

Sylvia dan David juga mendirikan sebuah kafe di sisi toko buku, dengan jendela yang menghadap gereja Notre-Dame. Suatu hari, saat Sylvia dan David membuka-buka berkas, mereka menemukan sebuah wawancara George dengan majalah Holiday edisi 1969, di mana George menyatakan cita-citanya untuk suatu hari mendirikan semacam Literary Cafe di dekat toko bukunya.

“Semua makanan akan dimasak di bawah pengawasanku. Karena, kau tahu, hanya ada satu saja cara membuat pie lemon yang enak,” kata George saat itu.

Shakespeare and Company masih berjalan, masih akan menciptakan kisah-kisah manis, dan merayakan kecintaan akan karya-karya indah. Sylvia misalnya, sering meminta pengunjung untuk menuliskan kalimat-kalimat alasan mengapa sebuah buku menarik. Di kemudian hari, Sylvia menyelipkan catatan itu di antara halaman jika judul yang sama dipesan oleh pembeli lain di luar negeri.

Sylvia berkata, setiap pagi saat membuka toko bukunya, ia membayangkan sosok ayahnya sedang berdiri di dekat jendela, memandangi kota Paris di pagi hari. Kemudian sang ayah berpaling ke arahnya lalu berkata sambil mengerling, “Kekacauan apa yang akan kita buat hari ini?”

___

 George Whitman

 

Tulisan pertama kali dimuat di Pocer.co

Foto fitur diambil dari situs Washington Post. Foto George Whitman muda diambil dari buku “The History of the Rag and Bone Shop of the Heart”.

comments 24

Selamat Pagi, Bayu

Saya katakan padanya bahwa besok kita akan berangkat pagi-pagi, dan jika ia susah bangun maka kami akan mengusap air ke wajahnya lalu memeloroti celananya. Agendanya asyik, mencari sarapan enak. Bayu — keponakan tujuh tahun saya itu– mengangguk-angguk dengan mata bening yang berkilat-kilat. Mengapa anak kecil selalu punya mata bening dan berkilat-kilat, ya? Bahkan menjelang dini hari ketika jam tidurnya yang biasa jelas sudah lewat. Bayu selalu girang saat Maesy dan saya mengunjunginya ke Bali. Malam itu, menjelang tidur, Maesy menceritakan padanya penggalan cerita dua bersaudara ayam, Kuku dan Ruyu, yang selalu saja ribut di pagi buta. Meps, majikan si duo ayam, kerap uring-uringan dibuatnya. Suatu pagi Meps hilang sabar dan menyiram Ruyu dengan air yang disemprotkan dari slang. Bayu tergelak membayangkan adegan itu lalu berkata betapa kasihan si Ruyu ayam. Setelah tawanya reda ia meminta cerita lagi, dan cerita lagi. Pukul satu malam akhirnya kami putuskan Bayu betul-betul harus tidur. Kali ini tak banyak perlawanan, ia sudah sangat mengantuk. Hanya kegirangan berlebih yang membuatnya terjaga hingga larut.

Tak berapa lama setelah lampu saya matikan, dengkur halus terdengar.

Pukul enam saya terjaga dan mendapati Bayu sudah ada di sisi tempat tidur. Ia menatap kami seolah berkata, ‘kalau sudah begini, celana siapa yang akan kalian bikin melorot, heh?’ Ia bangun jauh mendahului kami, si paman dan bibi pemalas. Saat Maesy membuka mata dan kaget melihat wajah anak kecil sedang memandanginya, Bayu tergelak. Semangatnya sedang penuh.

“Ayo Om, Tante, berangkat!”

Kami memacu kendaraan ke daerah Canggu, ke sebuah kedai makanan sehat kesukaan Maesy yang buka pagi-pagi. Sepanjang jalan Maesy bercerita tentang makanan-makanan kesukaannya yang ingin ia perkenalkan kepada Bayu. Telur Shaksukha dengan keju kambing dan chorizo, atau salad dengan labu panggang madu dan daun mint.  Antusiasme Maesy menular pada Bayu, ia menunjukkan gelagat siap makan besar. Sampai, tentu saja, saat makanan-makanan itu betul-betul masuk ke mulutnya.

Baru di sendok kedua, semangat Bayu meredup. Segala keju, chorizo saus kacang merah, dan rempah-rempah ini tidak cocok dengan seleranya, bahkan susu coklatnya pun tidak ia rasa akrab di lidah. Ia terbiasa sarapan dengan nasi goreng buatan ibunya, atau neneknya, dan segelas susu milo. Lain tidak. Ia menatap saya meminta belas kasihan. Saya katakan ia boleh menyisakan sarapannya, toh ini hari libur. Maka, sementara Maesy mengunyah makanannya seperti kelinci lapar, Bayu hanya memain-mainkan sendok.

“Bayu ndak suka makanan Cina.” Katanya di satu titik.

Terhadap komentar ini Maesy dan saya tergelak lama. Hanya karena Maesy keturunan Tionghoa dan terlihat sedang makan dengan rakus, Bayu menyimpulkan makanan asing itu adalah masakan Cina. Melihat kami tertawa sebegitu bersemangat, Bayu ikut tertawa, sekali pun jelas bingung. Tak berapa lama, ia kembali mengaduk-aduk sosis berbumbu tomat di depannya dengan muka lesu.

Diam-diam ada juga rasa senang saya melihat bagaimana Bayu menangani harapannya yang kandas soal sarapan enak ini. Beberapa tahun lalu, keinginan yang tak tercapai macam begini hampir pasti membuat tangis dan rengekannya meledak. Sekarang ia lebih sabar. Semenjak memiliki adik, Bayu mulai menyadari bahwa dirinya bukan pusat segalanya. Perlahan ia mulai mampu menunjukkan tenggang rasa pada sekitarnya dan tak lagi menjadi bocah tak masuk akal. Ia tak merengek cari perhatian saat orang-orang dewasa bicara sendiri, ia tak selalu merajuk saat keinginannya tidak dikabulkan, atau ia hanya akan menatap adiknya dengan sabar saat kepalanya tiba-tiba disodok siku.

Sambil menunggui Maesy yang makan, saya bercerita ke Bayu soal asal usul Maesy. Soal ini saya karang-karang saja sekenanya. Saya katakan Maesy kecil dibawa mengungsi oleh orang tua dan neneknya dari Cina. Mereka kabur karena desanya diserang bala tentara kaisar bengis di sana. Mereka naik perahu kayu kecil berbekal beberapa potong roti dan masing-masing selembar selimut saja. Setiap malam Maesy kecil mengintip ke belakang dari balik selimutnya, takut dikejar kapal perang kaisar lalu dihujani panah. Roti dimakan sepotong kecil demi sepotong kecil agar tak lekas habis. Begitu terus selama berbulan-bulan, terombang-ambing di laut, sambil sesekali mendongak dari selimut. Bayu mendengar cerita saya dengan tekun sambil sesekali melirik Maesy. Maesy, dengan mulut penuh salad, berkata sengit betapa saya telah menipu Bayu habis-habisan.

Namun, walau tidak merengek, saya tahu Bayu kecewa karena harapannya akan pagi yang asyik berakhir begitu-begitu saja. Di mobil pulang ia memasang sabuk pengaman, duduk bersandar dengan posisi nelangsa, dan berdiam diri.

“Mau ke pantai?” tanya saya.

Di sana Bayu mendongak, setitik cahaya terlihat di matanya. Maka keputusan dibuat, kendaraan berbelok ke arah pantai. Bayu mendoyongkan tubuhnya sedikit ke depan. Kaca mobil saya buka, angin laut berhembus menerpa kepala-kepala kami.

Pantai Berawa agak berangin pagi itu. Ombak sedang cukup besar, menjadi teman bagi para peselancar. Kaki-kaki telanjang kami berlari di atas pasirnya yang lembut, yang basah oleh ombak dan sisa embun semalam. Laut sedang terlalu ganas untuk Bayu berenang, jadi kami hanya berjalan menyusuri bibir pantai. Bayu berjalan, sesekali berlari, dengan tangan yang terus menggandeng telapak tangan Maesy. Rupanya ia sedikit takut ombak menghempas dan menariknya ke tengah. Selain itu, beberapa kali ia meminta perlindungan Maesy saat sekawanan anjing liar datang mendekat.

Setiap kali ombak datang menerjang, pegangan tangannya lebih kencang. Maesy mengajarinya untuk membenamkan telapak kaki ke pasir dan sedikit memiringkan badan, dengan begitu ia tidak terhempas. Bayu menurut, dan perlahan mulai bisa menjaga keseimbangan. Saat ombak datang ia tertawa keras, saat ombak datang lebih besar, tawanya lebih besar. Mula-mula ujung celananya basah, lalu naik hingga pinggang, sampai akhirnya ia membiarkan sekujur bajunya basah kuyup oleh hempasan air laut. Beberapa cipratan ombak mengenai mukanya dan terjilat oleh lidah. Asin, katanya.

Ia mulai berani berlari sendiri dan menahan ombak. Di sana sini ia tertawa, terkadang kecil, terkadang besar-besar.

Sesekali pandangan kami bertemu, matanya yang semalam bening berkilat-kilat sudah muncul lagi. Saya mundur sedikit menjauhi bibir pantai, mengambil jarak untuk memotret mereka. Bayu kembali berlari, menggandeng tangan Maesy, dan bermain air. Badannya sudah basah betul. Saat gelombang kecil, ia memasang gaya berdiri yang gagah menahan ombak. Saat ombak besar ia berlari memegang tangan Maesy agar mampu berdiri lebih kokoh.

Dari jauh terdengar tawanya, sayup-sayup di antara teriakan Maesy, juga debur-debur ombak.  Saya bahkan tak mengingat apakah di mobil ada baju ganti untuknya atau tidak. Paginya sudah baik-baik saja, saya pikir.

534907_10151313863379081_922013355_n

 

comments 3

At the Onsen

If I was already blushing like a sakura when I untied my yukata, I am sure my face was as red as a freshly sliced tuna sashimi when I turned around and faced the breasts of a stranger. They were round with a narrow valley between them and belonged to a woman who shared a ride with me to our inn in Kiso Valley, a woman who saw my brown nipples as sure as I saw her pink ones, glistening after her soak in the onsen. She quickly grabbed her towel in the basket next to mine and I darted to the bathing area, my face warmer than the steam emanating from the hot spring bath.

I was relieved to find the bathing area empty. I knew that one can only enter an onsen in her birthday suit, yet I was definitely not ready to see a stranger in the nude. I sat on a small wooden stool and quickly showered, soaping my skin and hoping it would wash away my discomfort too.

Thoroughly cleansed of dirt and soap suds, I stepped into the shallow pool and lowered myself until my earlobes touched the hot spring mineral water. The encounter a few minutes ago came to mind again. The woman looked small the first time I saw her in the van, tucked into her puffy black jacket and leggings, but she seemed larger when we bumped into one another in the changing area. I would see her again in an hour, at dinner. She would most probably be wearing a yukata, the way I would too, and I wondered whether she would look bigger or smaller to me then.

I heard footsteps and bursts of Japanese from the changing area. More than one woman for sure. I practically jumped out of the bath and sprinted for the door to the rotemburo – open air bath. I shivered in the five degrees mountain air while trying to walk as fast as I could in the slippery stone path. I was trembling, my pores all open, when I got to the stone pool overlooking a valley. I didn’t bother splashing myself with the water first, as advised to adjust your skin to changing temperatures, and plunged myself immediately.

Aaah. The hot, gurgling water soothed my prickly skin. I listened for footsteps and chatter, and when they didn’t come, I started relaxing into the bath.

Processed with VSCO with a6 presetOnsen is a strange business, isn’t it? It is where people coexist in their most vulnerable state. Although we were born naked, it seems unnatural for us to be among strangers who are all in the nude. I would see the woman again in the dining hall, that night for dinner and the next day for breakfast. I could not un-see what I saw, especially because I had been keeping my glasses on, and I most likely would avoid looking at her in the eye.

I rested my head on the edge of the bath and floated my body up. I was surrounded by cedar and pine trees, their green scent slowly making its presence known. A lone sakura tree stood among them, its nearly white petals already blossoming. I could feel the moss on the bottom of the stone bath, hear the rhythm the streaming water, and saw a dragonfly flying nearby. I could feel my skin softening. It loved being in nature.

I understand the allure of onsen and rotemburo, but the moment was a pleasure precisely because it was mine and only mine. The Japanese do not seem to mind having this as a communal experience, they even have a term for the bonding that happens while soaking in an onsen: hadaka no tsukiai. If I was already this uncomfortable seeing and being seen naked by a stranger, I could not imagine how I would feel doing this with my family or friends.

My heart started beating faster when I rose from the rotemburo, knowing that I would be seeing more naked strangers soon. I covered my breasts as I ran up, shivering along the way and trembling so much I plunged again into the indoor bath, splashing three other women who were already bathing. I quickly offered sumimasen all around, and to my relief, they smiled back at me.

The pool was large enough for a two stroke swim across its length, so there was space for the four of us. The pool was also clear enough that there was no place to hide. I pulled my knees to my breasts and kept my gaze above water. At that moment, two more women came in. A lady in her fifties and a girl in her teens, both in my line of sight.

This time I did not immediately look away. The lady pointed at the showers and then to the pool, as if it was the girl’s first experience in an onsen. The girl helped the lady scrub her back, the lady washed her hair. The girl has round cheeks, as if some of her baby fat is too stubborn to go, her skin looked soft and young. The lady’s skin had a yellow tinge and scattered sun spots, her breasts sagging and her arms and thighs all wrinkly. They looked like a pair of grandmother and granddaughter, if not mother and daughter, and their faces looked relaxed as if seeing each other naked is as common as having breakfast together.

I looked around me. The three women were chattering in Japanese, all looking like they were in their forties. One had curly hair, another dyed hers brown, the other one donned a pixie cut. One woman had nipples pointing sideways, her friend’s right breast was bigger than her left one, and the third woman had breasts smaller than her stomach. All looked relaxed, like seeing your friends unclothed is no different than seeing their face without make-up.

I let my knees fall from my breasts, the left one slightly bigger than the right one, both of them smaller than the breasts of any of the women in the onsen. It started to feel more natural, seeing other women’s naked bodies. I grew to understand why. No one in the onsen was self-conscious because they embrace their bodies as bodies. The female bodies are too often romanticized as work of art or guardian of morality or symbol of liberation. Women have been conditioned to treat our bodies as objects of desire, so we reveal or conceal to attract or distract, to demonstrate empowerment or to keep ourselves safe. In the onsen, I saw that bodies are freed to be simply flesh and bone and fat, in different forms to fit different people, who might find that they are not that different after all, once the yukata came off.

When I rose from the onsen, I did not cover my breasts or hurried my steps. I walked as slow I could, my arms falling on my sides, feeling the water drop from all the parts of my body that I had been keeping secret: the protruding collarbone I usually cover with boat-neck and halter tops, the soft lump of fat in my belly that I hide in clothes that are loose in the middle, the owl inked to the small of my back that I very carefully choose when to reveal. I took my time drying my body with a towel instead of hurrying to cover myself in my yukata. I smiled to my fellow bathers as they came out to the changing area, still naked, while I was cooling off drinking glasses of cold spring water.

Later that evening, I saw the woman who made me blush like a tuna sashimi in the dining hall. My cheeks were red then too, but that was because of umeshu, the plum wine I had as an aperitif. I looked at her in the eye and smiled.

Processed with VSCO with a6 preset

This story was first published by The Murmur House under the title ‘The Sakura Days: Onsen’.