comments 2

Den Haag, Setelah Tujuh Tahun

Di malam bulan Desember yang dingin, yang anginnya membuat pipi terasa kebas, Maesy berjalan kaki menjauhi stasiun Den Haag Central sambil menangis. Ia bersedih karena hari-hari perkuliahannya di Belanda akan segera berakhir. Malam-malam tanpa tidur menjelang ujian, senda gurau tengah malam di kamar asrama bersama kawan dekat, pesta dadakan dengan pakaian sembarangan di Prins, atau restoran pizza murah pereda lapar, semua kembang api itu akan segera menjadi kenangan. Pelan-pelan redup, lalu hilang. Atau tidak.

Saya berjalan di jalanan yang sama, tujuh tahun kemudian, di antara orang-orang jangkung yang menaiki sepeda kumbang. Dan Maesy, ia kembali ada di sini, menggandeng tangan saya.

“Akhirnya aku bisa menyelundupkanmu ke asramaku. Aih, butuh tujuh tahun!” katanya bercanda. Ia jelas sedang mencerna emosi yang dirasakan; nostalgia, sisa kesedihan, atau keriangan karena akhirnya kembali ke kotanya yang lain. Di kereta tadi saya sempat menggodanya bahwa reuni dengan Den Haag akan membuat air matanya bercucuran. Ia memasang wajah tak setuju, walau tak yakin sepenuhnya.

“Kau lihat menara gereja di ujung itu? Di dekat sana ada Pavlov, bar kesukaanku. Tempatnya di taman gereja, sesekali ada jazz. Di musim panas kau bisa duduk-duduk berselonjor sambil minum anggur. Tapi kita nggak langsung ke sana ya, kita ambil jalan memutar, lihat-lihat yang lain dulu.”

“Jangan bayangkan ini seseru Dubrovnik, atau seanggun Salzburg, Den Haag biasa banget. Tapi ini kotaku, kau ikut saja.”

Anak ini cerewet sekali.

Telah lama saya mendengar cerita tentang kehidupan kuliahnya di Den Haag, salah satu masa terindah. Suatu masa ketika di punggungnya tumbuh sepasang sayap.

“Tentu saja Den Haag penting untukmu.” Suatu kali saya mencandainya. “Ini kota yang bikin gadis katolik lugu itu minum wiski dan memasang tato.”

Saat ia memasang wajah sebal saya buru-buru menambahkan, “Ya, ya, selain menjadi lulusan terbaik, tentu saja, juga ketemu teman-teman asyik.”

Dan siang itu, tujuh tahun kemudian, sesuai ajakannya, ya saya ngintil-ngintil saja.

Kami berjalan di pinggir danau di dekat gedung parlemen, di mana bebek-bebek berenang bergerombol. Di sini ia sering berjalan sendiri, mengosongkan pikirannya di kala ruwet; urusan esai-esai, hal-hal emosional, atau apalah, atau untuk sekadar duduk-duduk sambil makan buah apel. Entah untuk alasan apa, saya kerap geli membayangkan wajahnya saat sedang menggigit apel dan mengunyah dengan mulut penuh. Terkadang saya menyebutnya anak kelinci, atau anak tupai. Kami mampir ke Albert Heijn, toko kelontong langganannya, membeli sekotak susu kacang. Dulu Maesy selalu ke sini berburu daging-daging yang nyaris kedaluarsa untuk ia masak. Karena nyaris busuk, daging itu jadi murah, dan ia tetap bisa makan enak.

“Maklum, mahasiswa miskin,” katanya nyengir.

Di lorong gerbang asramanya saya sedikit menggigil oleh angin yang bertiup. Demi Tuhan, ini musim panas! Maesy tertawa dan bercerita lorong gerbang ini selalu berangin, kapan pun. Angin Den Haag, di segala musim, selalu dingin. Asrama Dorus sedang sepi waktu itu. Semua penghuni tampaknya sedang libur musim panas. Kami hanya melongok-longok di bawah. Ia menunjuk jendela kamar Ana, salah satu kawannya di lantai dua. Jika sedang berjalan di halaman asrama, Maesy terkadang bisa melihat Ana sedang melakukan sesuatu atau melamun di sana. Maesy juga menunjukkan pada saya jendela kamarnya dulu. Kami menempelkan wajah di dinding kaca yang menatap ruang cuci pakaian. Mesin cuci di sana terlalu sedikit untuk jumlah penghuni asrama. Karena itu Maesy sering memilih bangun dini hari, mengendap-endap ke ruang cuci membawa buntelan berisi pakaian. Pada jam itu mencuci bisa lebih tenang (Suatu kali, saat ruang cuci benar-benar kosong, ia pernah memasukkan sepatu kets ke mesin). Sekali waktu ia bertemu rekan asrama yang memilih waktu yang sama. Dan mereka akan duduk-duduk di sana, berbicara kesana kemari di dini hari yang sepi, sambil melihat pakaian berputar-putar di dalam mesin cuci yang mengeluarkan bunyi geluduk-geluduk.

Kami memasuki kampus ISS dan ia mulai menunjuk-nunjuk ke sana kemari, menerangkan macam-macam sambil mengenang masa lalu. Ini perpustakaanku dulu, ini kantin yang murah tapi bising, ini meja tempatku menulis sebagian besar esaiku. Karena sedang libur, hanya ada sedikit mahasiswa kelas musim panas yang sedang mondar-mandir. Kami melewati dinding-dinding dengan kalimat-kalimat Martin Luther King, atau selebaran ajakan berdebat soal kebijakan adopsi anak, atau undangan diskusi makalah soal kekerasan terhadap perempuan. Di salah satu ruang baca Maesy menunjuk sebuah peta dunia yang digantung. Salah satu temannya pernah membalik pajangan peta di ruangan itu karena bentuk Amerika Selatan terlihat terlalu kecil dibanding Amerika Utara. Menurut temannya itu, si pembuat peta jenis orientalis yang ngawur.

Maesy duduk tenang-tenang di bangku di seberang kampusnya, di depan kanal. Saya menyusulnya setelah berpisah sebentar karena saya numpang kencing di toilet kampus. Saya jumpai wajahnya sedang diliputi nostalgia.

“Jadi, bagaimana perasaanmu?” tanya saya.

Ia menampilkan wajah orang yang sedang mencoba merangkai berbagai pemikiran dalam dua tiga kalimat pendek. Tak berhasil tentu. Ia mulai berkata tentang betapa ia senang menemukan banyak hal yang masih sama, hal-hal yang menelusupkan melankolia. Namun, tentu saja, banyak yang telah berubah. Studio tempatnya membuat tato burung hantu di punggung kini telah menjadi toko kosmetika. Tadi kami mampir minum kopi di kedai-kedai yang sepertinya baru muncul dua tiga tahun belakangan. Jenis kedai kopi dengan pengunjung yang rewel soal keasaman kopi, yang memasang wajah berpikir keras sesudah satu seruput, atau yang bertanya-tanya apa roti yang mereka makan betulan bebas gluten atau tidak. Sementara itu, Prins Bar sekarang bernama Springbok, dengan desain interior yang lebih mutakhir. Toko buku di De Passage kini adalah Apple Store. Namun, di atas semuanya, saya sempat memperhatikan saat Maesy memandangi jendela kamar asrama Ana. Jendela yang kosong. Ada hal yang jelas tidak akan pernah sama lagi, ini bukan lagi kota tempat kawan-kawan terdekatnya berada.

“Banyak yang sudah berubah, “ujarnya, lalu diam sejenak, lalu bicara lagi.  “Tapi kalau dipikir, aku pun tak lagi sama.”

Saya teringat toko buku kecil kami di Jakarta. Tempat kami bergembira di akhir pekan. Salah satu yang perlahan membuatnya kembali mencintai Jakarta, yang menjadikan Jakarta kotanya. Saya mendesaknya untuk menuliskan hal-hal yang ia rasakan, tentang bagaimana dirinya sekarang melihat dirinya dan kotanya yang dulu, tentang pertanyaan yang selalu menggantung: bagaimana hidup akan bergerak jika pilihan-pilihan lain yang diambil. Saya pikir itu bisa jadi tulisan yang bagus. Tapi ia menolak. Walau terkadang cerewet, ia anak yang tertutup untuk hal-hal yang paling pribadi.

Kami memperhatikan beberapa perahu turis yang melintasi kanal. Pemandu berdiri di ujung, memberi keterangan tentang segala sesuatu yang dijumpai. Tangannya menunjuk ke kiri dan ke kanan. Maesy menarik saya untuk kembali berkeliling, berjalan-jalan santai keluar masuk jalanan kecil, menyusuri pinggir kanal, perumahan, jajaran restoran. Kami berhenti di sebuah toko barang antik di Spekstraat. Berit Mol, perempuan tua pemilik toko itu ramah sekali. Ia membiarkan kami membongkar-bongkar koleksi sketsa dan foto lamanya. Saat saya memperhatikan sebuah lukisan kakek perlente yang sedang mengamat-amati bingkai yang dibawa pemuda berpakaian kumal, Berit bercerita itu lukisan karya Willy Sluiter. Lukisan itu bercerita tentang kakek kaya yang gemar membeli dengan harga murah lukisan seniman-seniman melarat dengan bakat besar. Sementara itu Maesy tekun memilah-milah foto-foto tua yang disimpan Berit di kaleng biskuit. Ia berhenti dan tertegun saat tiba pada sebuah foto hitam putih pemandangan kota Den Haag tahun 1920-an. Terlihat di sana kanal di dekat kampusnya, tempat kami duduk tadi.

“Pemandangannya masih sama,” kata Maesy, matanya masih memandang foto itu lekat-lekat. Hanya tangannya yang menjawil lengan saya.

Banyak tempat di Eropa yang tak berubah bahkan sesudah ratusan tahun, kami tahu. Tapi tampaknya menemukan foto sebuah tempat yang dekat di hatinya, yang tak pernah berubah dari dulu hingga sekarang, dan mungkin untuk waktu yang sangat panjang, menimbulkan haru di dalam dirinya. Ia menyampaikan pada Berit keinginannya untuk membeli foto itu. Berit mengangguk sambil tersenyum dan Maesy memasukkannya ke sela-sela halaman buku yang ia pegang.

Matahari musim panas Den Haag masih bersinar terang di pukul sembilan malam. Kami kembali berjalan bersisian melewati danau di pinggir gedung parlemen, di mana beberapa turis sedang berfoto di jembatan di dekatnya, dengan latar semacam bunga kembang sepatu. Di sebuah taman kecil beberapa pedagang barang kerajinan Asia sedang merapikan mejanya. Mungkin ini hari dengan penjualan yang baik, mungkin tidak. Kami terus berjalan hingga tiba di Pavlov, di bangku tamannya yang ada di halaman gereja. Tak ada jazz malam itu, tapi bangku-bangku tertata persis sama seperti terakhir kali diingat Maesy. Kami memesan anggur putih dan bersulang untuk banyak hal. Di atas meja, di dekat siku Maesy, ujung foto hitam putih kanal depan kampus itu terlihat menyembul.

IMG_7675 (1)

 

 

 

Advertisements
comments 3

15/5

Candice menyebut Milan Kundera saat saya bertanya padanya penulis yang ia rekomendasikan bagi pengunjung POST.

“Tapi Candice, pembaca Kundera di Indonesia lumayan banyak, kok. Beberapa malah sudah diterjemahkan.”

“Aduh, begini ya, jumlah pembacanya tidak akan pernah cukup. Ia sebagus itu,“ Candice berkeras.

Jika penjaga toko buku mendesak-desak dengan gigih seperti ini, ya, saya sebaiknya menurut saja. Saya mengambil Festival of Insignificance dari rak. Candice tersenyum senang. Saya membuat pengakuan padanya bahwa saya belum pernah membaca Kundera. Ia melempar pandangan tak habis pikir seperti bertanya-tanya bagaimana hidup saya jalani selama ini, lalu mulai bicara soal karya-karya Kundera yang lain. Saya teringat bagaimana Nick Ward si penunggu Infinity Book ceramah soal Coetze. Para penjaga toko buku ini terkadang menyebalkan juga. Saat bertemu orang yang belum membaca karya yang mereka suka, kelakuan mereka mulai seperti sedang menyelamatkanmu dari kehilangan besar. Heroik sekali. Candice yang malang, saya menggoyang-goyangkan Festival of Significance di depan mukanya, lalu pamit ke sudut untuk membaca.

“Kamu tidak akan menyesal,” katanya.

Saya berjalan ke bangku di bagian belakang toko, di dekat jendela di mana sinar matahari masuk menyinari barisan buku di atas meja panjang  — di mana ada cahaya yang menghujam tepat ke buku berjudul ‘Dead Feminists”– dan mulai membaca. Selang berapa lama, dua penjaga toko menata bangku-bangku di sekitar saya. Rupanya siang nanti akan ada obrolan buku. Toko buku Politics and Prose ini hebat sekali, hampir setiap hari mereka punya acara; obrolan buku, atau pembacaan karya. Sekali waktu bahkan dua sampai tiga acara dalam sehari. Karenanya, selain Kramerbooks di Dupont Circle, para kutu buku Washington senang main-main ke Politics and Prose. (Politics and Prose, namanya Washington sekali, ya?)

Saya pindah ke tempat baca yang lebih tenang, di ruang sebelah, di dekat rak buku-buku puisi. Beberapa petugas toko, juga pelanggan, masih mondar-mandir. Beberapa orang lanjut usia berdatangan, sepertinya mereka akan ikut obrolan buku. Senang melihat toko buku independen sehidup ini. Tadi, sebelum buka pada pukul sembilan, beberapa pengunjung sudah duduk-duduk di dekat pintunya. Mereka makan roti lapis, minum kopi dengan gelas styrofoam, membaca, atau menggoda bayi di kereta dorong yang baru bangun tidur. Begitu toko buka, orang-orang hilir mudik. Beberapa sudah tahu apa yang mereka cari, yang lain menghabiskan waktu untuk melihat-lihat dan membaca.

IMG_4835

Festival of Insignificance menuturkan sekawanan pria yang menjalani hari-hari di Paris. Mereka saling berbicara, sibuk dengan dirinya sendiri, atau melakukan hal-hal yang – sesuai judulnya – seakan perayaan soal-soal sepele. Banyak bagiannya yang saya sukai, misalnya cerita tentang Caliban, pemain sandiwara tak laku yang menyibukkan diri dengan mengaku-ngaku sebagai orang Pakistan lalu menciptakan bahasa sendiri yang ia karang sekenanya. Pada mulanya orang-orang menganggapnya serius, menggemaskan bahkan, tetapi lama-lama bosan juga, dan ia berbicara sendiri saja tanpa ada yang betul-betul menanggapi. Caliban, ia kembali menjadi pemain sandiwara tanpa penonton.

Saat tiba di obrolan tentang Stalin, saya teringat Candice sempat bercerita betapa Kundera senang meledek-ledek Rusia. Diceritakan bagaimana Stalin senang membual tetapi tak seorang pun berani terang-terangan menyanggah. Ada cerita Stalin berburu ke tengah hutan menemukan 24 ayam hutan bertengger di dahan pohon, namun senapannya hanya berisi 12 peluru. Jadi ia menembak 12 ekor dulu (kena semua tentunya!), lalu balik lagi ke rumah mengambil 12 peluru lagi. Saat kembali ke hutan, 12 ayam hutan itu tentu masih bertengger dan Stalin menghabisi mereka dengan 12 peluru tambahan.  Kurang konyol apa coba? Dan tak ada yang menentangnya! Seorang pegawai rendahan, Kalinin yang punya masalah kandung kemih, bahkan menahan kencingnya mati-matian untuk membiarkan Stalin menyelesaikan cerita. Stalin memberinya penghargaan dengan menamai sebuah kota dengan namanya, Kaliningrad.

Asyik juga sih, jadi saya lanjut membaca. Beberapa bagian menceritakan pemikiran-pemikiran kecil yang berujung pada hal-hal fundamental. (Kalau mendengar cerita Candice, badan Kundera sepertinya akan gatal-gatal kalau tidak mencoba menyiratkan pemikiran-pemikiran mendalam). Saat berjalan-jalan di Paris, tokoh Alain melihat semua perempuan yang dipapasnya mengenakan pakaian yang memperlihatkan pusar. Alain bertanya-tanya apakah daya tarik seksual perempuan bergeser ke pusar, bukan lagi dada, bokong, atau paha? Alain kemudian mulai merepet kepada Charles, temannya. Menurutnya dada, bokong, dan paha itu unik, tak seorang perempuan pun yang punya bentuk yang sama, tapi pusar, pusar sama semua! Alain mengeluh betapa dunia sudah menghilangkan keunikan manusia, keunikan tiap individu, dan membuatnya seragam. Bahkan daya tarik seksual pun digeser ke titik yang dari ujung dunia ke ujung dunia bentuknya begitu-begitu saja. Oh!

Buku ini tipis saja, hanya 115 halaman. Saya menyelesaikannya dalam sekali duduk di Politics and Prose. Lucu dan menyenangkan, serta menyampaikan soal-soal mendalam melalui hal-hal subtil dan sepele. Sepertinya, sih, jauh lebih banyak masalah fundamental yang dibahas dari yang berhasil saya tangkap. Mungkin nanti akan saya baca lebih dekat, atau bertanya pada Maesy. Dia ini pintar membaca simbol-simbol atau hal-hal subtil dalam cerita. Saya akan mendesaknya untuk membaca dan menerangkannya.

IMG_4836

 

Obrolan buku sudah dimulai di ruang tengah Politics and Prose. Robert Pearl, penulis yang juga CEO perusahaan farmasi besar menulis tentang betapa kacau balau jaminan kesehatan di Amerika. Kombinasi harga yang mahal, akses yang sulit, dan kualitas yang payah membuat Amerika ada di kelompok terbawah dalam pelayanan kesehatan dibanding negara-negara industri lain. “Warga harus meminta lebih!” begitu saya dengar ia berseru.  Menarik juga, sebetulnya, tapi saya sedang ingin duduk bersantai dan membaca saja. Saya membaca cerita-cerita pendek Lesley Arimah, penulis keturunan Nigeria. Tadi Candice sempat berkata bahwa Arimah menulis seperti petasan.

Menjelang sore saya bergerak keluar. Obrolan buku Robert Pearl baru saja selesai. Beberapa orang merubungnya untuk meminta tanda tangan atau ngobrol-ngobrol. Saya lihat Candice juga sedang berbicara dengan beberapa orang di dekat rak buku anak-anak.  Saya menghampirinya untuk pamit dan mengatakan Kundera bagus. Ia tertawa lebar sambil bertepuk tangan.  Saya turun sebentar ke kedai kopi Politics and Prose yang ada di lantai dasar, membeli kopi untuk bekal, lalu berjalan ke luar. Di dekat pintu keluar saya berpapasan dengan seorang lanjut usia dengan wajah menggerutu dan hendak masuk ke Politics and Prose. Ia bertanya apa obrolan buku Robert Pearl sudah selesai. Saya katakan sudah, tapi si penulis masih di dalam. Si orang tua bergegas masuk tanpa bicara lagi pada saya. Pak tua itu, sepertinya banyak hal yang akan ia keluhkan.

Matahari bersinar terang dan udara sedang sejuk. Sesekali agak dingin saat angin bertiup. Saya berjalan kaki di sepanjang Connecticut Avenue dengan kopi panas di tangan kiri. Beberapa bar, juga kedai kopi, berjajar di pinggir trotoar. Banyak anak muda berjalan, beberapa sendiri, beberapa bergerombol, atau menarik anjing peliharaannya. Ada yang saling memeluk saat bertemu temannya. Perempuan-perempuan yang saya papas mengenakan pakaian yang terlalu rapi untuk akhir pekan (semacam pengingat bahwa ini Washington), atau dengan baju musim panas bermotif bunga, atau dengan kaos bertuliskan kelompok musik metal. Tak seorang pun menampilkan pusarnya. Saya melihat sebuah kedai dengan meja-meja tertata di luar. Seorang pria menuangkan segelas anggur putih kepada pasangannya lantas bersulang. Menarik juga. Saya masuk ke kedai, memesan segelas anggur putih dan membawanya duduk di luar, membaca sebentar sebelum menutup buku dan memasukkannya ke dalam tas. Saya putuskan untuk duduk-duduk dan memperhatikan orang-orang lewat saja.

comments 3

A Tale of Two Sundays

On a Sunday afternoon three weeks after I arrived in Bangalore, I found myself sitting in a tea house, feeling that, for the first time since I landed in India, I did not want to order masala chai. The tea house was the one in Cunningham Road, the same tea house I went to yesterday and the day before, all day last week and three times the week before that. It was a fairly quiet place and centrally located, a convenient place to do interviews for my research.

I know the masala chai served there by heart. It comes in a tall tin pot and small round cup with sugar cubes on the side, smelling more of cardamom pods than the ginger and cinnamon that also flavor the tea. The people I met always smile when I tell them how much I love masala chai, whether it’s the tea house version or the street side kind served in chai wallah stalls. How the powdered mix I’ve tasted elsewhere pales in comparison to the Indian tradition of brewing the tea in milk and spices, and how I could never get enough of it. As it turned out, there is such thing as having too much of a good thing.

I was daydreaming of a plain cup of English Breakfast on my way there, the closest thing to the Sariwangi I could find outside of Indonesia. I was also daydreaming of a leisurely Sunday, where I could spent hours at the used bookshop a couple of blocks away, the way I would spend Sundays at home going to a bookstore. As exciting as my research in India had been, the time had come when I yearned for a taste of home while I travel. If I could not have my bookshop Sunday ritual right then, well, at least I could get myself the tea that reminds me of home.

I signaled for the waiter to come, but the family a few tables away caught his attention first. A man and a woman were already studying the extensive tea list when I came in, while another woman was putting a baby in a stroller. The woman with the baby was wearing a printed cotton saree, while the other woman and man were wearing silk. I assumed that she was the aayah, the term for housemaid and nanny in India.  

The father ordered first. He wanted the smoky Lapsang Souchong from China. His wife wanted to try Rooibos from South Africa. I wondered which tea the aayah would order out of all the possibilities in the menu. Would it be fruit tea, green tea, or perhaps like me, an English Breakfast?

“Masala chai,” she said in a soft voice.

As the waiter walked past me, I found myself staring at the aayah. At the red bindi on her forehead, at the few strands of white hair on her bun, at the smile lines around her mouth, at the plastic bangles that jingled as she rocked the stroller forward and backward to put the baby to sleep. Out of all the tea in the menu, why would she pick the tea she most likely makes and drinks every day?

The husband and wife started chatting in English. I could hear them talking about a new play in the theatre on the other side of the city. The aayah started humming a lullaby in Kannada, the local dialect in Bangalore, while staring on a blank spot above a poster on the wall that says, “Women are like tea bags, they don’t know how strong they are until they get into hot water”. Her gaze softened as her hum grew louder. I saw the beginning of a smile forming on the corner of her mouth, and I could tell she was no longer in the tea house.

The aayah was daydreaming.

She was daydreaming of another Sunday, one where she was either taking a stroll at Cubbon Park, shopping at MG Road, watching the new movie starring the Tamil Nadu superstar Rajinikanth, or perhaps staying at home and sharing a meal with her own family. Like me, she wanted a Sunday of her own. I knew when mine will come; I would be wrapping up my research in two weeks and fly back home. It was only two more Sundays until I could spend a Sunday going from bookstore to bookstore again, stopping in a café on my way home for a cup of tea as I start reading a new book. But what about her? When would she get the Sunday she was daydreaming about?

From what I know, a live-in aayah in Bangalore is not any different from a housemaid in Indonesia. They live with their employer seven days a week and only get to go home a couple of times in a year. They spend their Sundays the way they spend their Mondays to Saturdays: doing what their employers need them to do. Her current Sunday was her routine, her every Sunday. She was dreaming for an exceptional Sunday, while my current Sunday was an exception from my routine. We were two women sharing the same daydream in a tea house once upon a Sunday, but that was all we shared.

The waiter came to my table, blocking the aayah from my sight. “What would you like, Ma’am? The usual pot of masala chai?”

Thoughts rushed in at once. Bangalore, home, Sundays, routines, daydreams, and tea. Black and plain, milk and spiced. For me, masala chai is a symbol of adventure and English Breakfast is a reminder of home. Perhaps, for her, masala chai too is a reminder of home. A drink that she serves for the family she works for is the same one she enjoys with her family and friends, on any given day of the week. A source of comfort, an anchor in her universe.

I found myself nodding.

“Yes, please.”

DSC00588

I unearthed this story from my files, written last year for Hanny and Clara‘s dream of a print magazine that eventually found a life online first, Secret Sunday. The photos are from 2010, when I was still horrible at taking photos, but they are from that very Sunday I wrote about, so the sentiment is perfect! – Maesy

comments 8

Frere Lampier yang Menyalakan Lampu di Malam Hari

Sudah lewat tengah malam saat George Whitman berjalan tertatih di ruang tengah toko bukunya. Malam itu ia sulit tidur. George — yang rambut putihnya tergerai awut-awutan — berjingkat-jingkat di antara belasan anak muda yang tidur bergelimpangan, beberapa di antara mereka penulis petualang, yang lain pejalan miskin yang mencari penginapan cuma-cuma. Saat itu awal periode 2000-an, usia George delapan puluhan. Ia tua dan rapuh, serapuh toko buku Shakespeare and Company miliknya. Di antara gelimpangan para penginap, George melihat toko buku yang gelap dan pengap, tumpukan buku berdebu dengan sampul mengelupas, kertas-kertas yang berserak, tembok dengan rembesan air – beberapa cukup banyak sehingga menciptakan genangan di lantai– juga tangga kayu sempit dan lapuk yang membuat banyak orang hampir terjungkal.

Malam itu, dan malam-malam lain sebelumnya, pikiran George kalut. Kekhawatirannya semakin menjadi; bahwa Shakespeare and Company — toko buku yang ia bangun dan rawat dengan penuh cinta nyaris sepanjang hidupnya itu — tidak akan bertahan.

Shakespeare and Company sudah melewati banyak hal; larangan berjualan oleh pemerintah, dimata-matai agen anti komunis, kebakaran, hingga para pengutil. Namun, di usia senjanya George sudah tak lagi tangkas. Jaman pun seolah bergerak jauh meninggalkannya (saat itu abad dua puluh satu dan Shakespeare and Company tidak memiliki telepon!). Tagihan semakin menumpuk, beberapa penerbit mengancam untuk menghentikan kiriman buku, bangunan dan koleksi bukunya berdebu, dan laba-laba mulai senang bersarang di banyak sudut.  George bersedih akan kemungkinan yang semakin nyata di depannya, bahwa Shakespeare and Company akan mati bersamanya.

Belum pernah ia merasa sesendiri itu.

***

George Whitman tiba di Paris pada musim gugur tahun 1946 untuk belajar di Universitas Sorbonne. Saat itu ia baru saja menyelesaikan masa wajib militernya. Selain belajar, George mendapat uang tambahan dari menyewakan dan menjual buku-bukunya yang bertumpuk hingga langit-langit kamar kosnya. Dari jual beli buku dan sisa simpanan dari masa wajib militer, ia membeli bekas toko kelontong orang Aljazair di Rue de la Bucherie dan mendirikan toko buku berbahasa Inggris. Saat itu tahun 1951 dan ia menamai toko bukunya Le Mistral. Soal asal-usul nama ini, George pernah bercerita macam-macam. Ia pernah menyebutnya sebagai nama sebuah angin di Prancis Selatan, atau nama penyair asal Cili kesukaannya, atau untuk mengenang nama gadis cinta pertamanya. Sebagai satu-satunya toko buku berbahasa Inggris di Paris saat itu, Le Mistral mulai dikenal dan menjadi tempat berkumpul para penulis, pembaca, dan para bohemian.

Le Mistral membawanya berkenalan dengan Sylvia Beach, sesama warga Amerika yang pada periode 1920-1940-an memiliki toko buku berbahasa Inggris pertama di Paris, Shakespeare and Company. George menganggumi bagaimana Sylvia menjadikan toko bukunya rumah untuk para penulis, termasuk penulis-penulis “The Lost Generation”; Ernest Hemingway, F. Scott Fitzgerald, hingga Gertrude Stein. Sylvia bahkan menjadi yang pertama menerbitkan Ulysses karya James Joyce saat tak ada yang mau menerbitkannya. Pada 1964, dua tahun sesudah Sylvia meninggal, George mengganti nama Le Mistral menjadi Shakespeare and Company untuk mengenangnya.

Semangat Sylvia diteruskan George untuk Shakespeare and Company-nya. Ia membuka pintu bagi para penulis petualang yang memerlukan tempat menginap cuma-cuma. Syaratnya hanya mereka mau membantu George menjaga toko dua jam sehari dan membuat paling tidak satu tulisan selama masa tinggalnya. George menyebut mereka tumbleweed-nya, perumpamaan yang diambil dari sejenis spora kering yang diterbangkan angin.

Dan cerita Shakespeare and Company terus berjalan; puluhan ribu penulis pengembara pernah menginap di sana, di kursi-kursi yang berubah menjadi tempat tidur di malam hari. Ada yang beberapa hari, ada yang hingga berbulan-bulan. Mereka menulis, membaca, berdiskusi, membacakan puisi, memasak semur, minum bir, pesta minum teh di hari Minggu, melamun di jendela yang menatap sungai Seine, menyapa orang asing, minum scotch, menulis, menulis, menulis.

Para penulis generasi Beat juga sempat menghabiskan sebuah masa dalam petualangan tulis menulisnya di Shakespeare and Company dan menjalin persahabatan dengan George. Di sana, William S. Burrough menulis banyak bagian dari novel Naked Lunch-nya, atau Allen Ginsberg membacakan Howl di sebuah siang di bulan April 1958. Ada pula Gregory Corso yang selain menulis puisi juga kerap meminjam uang pada George dengan menjadikan naskah bukunya yang belum terbit sebagai jaminan. Naskah yang kemudian — saat ia betul-betul bokek — ia curi kembali.

Mereka, para Generasi Beat ini, tentu membawa kisah-kisah eksentrik. Suatu kali, dalam acara pembacaan puisi bersama sekelompok penyair lain, Corso protes dan menghina puisi-puisi mereka sebagai bukan puisi sesungguhnya. Saat itu ia sedang, tentu saja, teler berat. Ketika balik ditanya seperti apa puisi yang sesungguhnya, Corso melepas semua pakaian dan mulai mendeklamasikan puisinya. Corso punya dua kawan bertubuh sangat besar dengan jenggot dan rambut tubuh yang lebat. Dua begundal itu berjaga di dekat pintu dan mengancam akan membogem siapa pun yang berani meninggalkan ruangan saat Corso sedang membacakan puisi sambil telanjang bulat.

“Itu malam yang heboh,” begitu Gregory Corso mengenangnya.

Kisah-kisah romantik tentu juga terjadi di antara rak-rak buku Shakespeare and Company. Pemuda Ian Sommerville, seorang tumbleweed, sedang tekun membaca saat sebuah buku jatuh dari rak dan menimpa kepalanya, Naked Lunch karya William S. Burrough. Beberapa hari kemudian, kejadian timpa menimpa buku ini terjadi lagi. Kali ini Ian Sommervile sedang berdiri di atas tangga, merapikan buku di rak teratas, saat tanpa sengaja ia membuat sebuah buku terpelanting dan mendarat di kepala seorang pria yang sedang melintas di bawahnya. Pria tersebut adalah William S. Burrough. Kejadian itu menjadi awal perkenalan yang membawa mereka pada percintaan yang panas.

Sophie Kho, pemudi Kuala Lumpur, bertualang ke Paris mendambakan sebuah kehidupan bohemian. Ia menginap di Shakespeare and Company dan berkenalan dengan Phillip, seorang tumbleweed lain, dua hari sebelum Phillip harus meninggalkan Paris. Mereka menghabiskan hari berjalan-jalan di sepanjang sungai Seine, minum anggur Prancis, mengudap keju di taman, menari-nari bersama musisi jalanan, berbicara panjang lebar soal buku-buku indah, juga filosofi, juga film dokumenter yang ingin dibuat Phillip. Pada dini hari – saat itu Shakespeare and Company sudah gelap — Shophie Kho berjalan mengendap-endap lalu berbaring di sisi Phillip dan menciumnya.  Mereka berciuman tipis saja, lebih tidak. Keesokan harinya, saat mengantar ke stasiun metro, kembali mereka – dua remaja pemalu itu — berpelukan dan berciuman tipis. Sampai menjelang Phillip benar-benar berlalu, Sophie akhirnya berseru memanggilnya kembali. Phillip menjatuhkan koper, menyongsong Sophie, dan mereka berciuman lagi, kali ini panas, dan berlama-lama, di antara lalu lalang manusia di stasiun metro.

“Mungkin karena ini Paris, atau karena Shakespeare,” tulis Sophie Kho di catatan yang kemudian ia tinggalkan di Shakesepeare and Company.

Puluhan ribu orang datang dan pergi, sebagian dari mereka datang lagi, dan lagi. Dari penulis-punulis tak dikenal sampai nama-nama besar seperti Henry Miller, Julio Cortazar, Adolfo Bioy Casares, hingga Anais Nin. Anais Nin bahkan begitu mencintai toko buku itu, juga George Whitman, sampai-sampai Nin meninggalkan wasiatnya di bawah tempat tidur George.

Maka kisah-kisah dituliskan, romansa merebak di udara, gelas anggur didentingkan, puisi-puisi diciptakan dan dibacakan, pertemanan dibuat, kalimat-kalimat indah dirayakan.

Dan semua itu berpusat pada George, si pria Amerika berjenggot kambing.

***

George Whitman adalah pribadi yang eksentrik. Ia senang membuatkan sarapan panekuk untuk tamu-tamunya, ia mencukur rambut dengan membakarnya dengan lilin, ia kerap mengundang orang-orang – baik yang ia kenal maupun tidak — untuk sebuah pesta minum teh atau anggur. Walaupun, di tengah-tengah pesta, George sering tiba-tiba menghilang ke belakang, membaca buku sendirian. Ia begitu menyukai penulis-penulis yang ia anggap berbakat. Walau Gregory Corso kerap mengutil, George selalu menganggapnya kawan dekat dan menerimanya dengan tangan terbuka, kapan pun. Namun demikian, George sesekali meminta salah satu tumbleweed mengawasi Corso. Saat suatu hari Henry Miller putar-putar Paris dan mampir di toko bukunya pada pukul dua dini hari, George membangunkan semua tumbleweed yang tidur, memberi mereka anggur, dan memaksa mereka mendengarkan Henry Miller ceramah soal buku.

Keseharian George yang eksentrik adalah juga hal yang dikenang manis oleh teman-temannya. Erica Lowe, seorang tumbleweed, bercerita soal pertemuannya dengan George. Saat itu ia sedang celingak-celinguk melihat buku ketika George menghampiri dan menawarkan es krim stroberi yang baru saja dibuatnya. Belum sempat Erica Lowe menjawab, George sudah berlalu dan kembali dengan segelas es krim dan sendok. Sambil menyerahkan es krim, George berkata,

”Nah, sekarang tugasmu menjaga toko. Aku perlu pergi ke beberapa tempat untuk mengambil buku. Sore nanti aku kembali.”

Erica Lowe kebingungan dan hanya sanggup menerima saat diserahi beberapa kunci, mungkin kunci laci uang atau apa, sambil memperhatikan George berlalu. Beberapa saat kemudian kepala George muncul lagi dari balik pintu.

“Dan katakan pada semua yang datang, besok malam ada pesta minum teh di sini.“ Lalu ia pergi lagi.

Penulis Christopher Cook Gilmore juga menulis tentang pertemuan pertamanya dengan George. Saat itu tahun 1968, di Prancis sedang terjadi revolusi kebudayaan dan Christopher adalah bagian dari para demonstran, pemuda-pemuda dengan semangat meledak-ledak itu. Christopher muda sedang lari terbirit-birit oleh kejaran aparat yang mementungi para demonstran dan menghujaninya dengan gas air mata. Saat ia berbelok ke Rue de La Bucherie ia melihat toko buku kecil dengan lampu yang masih menyala dan seorang pria berjengot kambing di dalamnya. Christopher menggedor pintu dan George membukakannya, menggiringnya masuk lalu mematikan lampu. Dari dalam mereka memperhatikan polisi yang melewati jalanan dengan perisai dan pentungan. Nafas Christopher memburu dan ia merasakan pundaknya disentuh dari belakang.

“Bukankah ini, anak muda, momen paling dahsyat dalam hidupmu?” Kata George.

Shakespeare and Company sempat menghadapi musibah kebakaran pada tahun 1990. Tak ada yang betul-betul menjelaskan asal mulanya, tetapi api menjalar lalu membakar sebagian besar bangunan dan buku-bukunya. George sempat demikian patah hati melihat buku-buku yang menjadi abu, kertas-kertas hangus yang basah tersiram air, pecahan kaca yang bertebaran, langit-langit yang berlubang, dan bangunan yang nyaris runtuh. Dalam kesedihannya ia berkata pada semua orang bahwa malam itu ia akan tetap tidur di dalam bangunan dengan bekal satu kantung tidur saja. Keesokan harinya, dibantu beberapa tumbleweed yang sedang ada di sana, George memilah buku-buku yang masih tersisa dan menjemurnya di bawah matahari. Sehari sesudah kebakaran, Shakesepeare and Company tetap buka, walau sedang sangat koyak.

Saat itu kecintaan orang-orang pada George dan toko bukunya terlihat. Tak lama berbagai kegiatan penggalangan dana untuk membangun kembali Shakespeare and Company merebak. Ratusan penulis bergerak melakukan pembacaan karya. Allen Ginsberg memelopori acara di New York. Sahabat George, Lawrence Ferlinghetti – pendiri toko buku City Lights – melakukan inisiatif di San Fransisco.  Berbagai kegiatan serupa juga dilakukan di Boston, Paris, dan London, juga penerbitan beberapa jurnal sastra yang pendapatannya seluruhnya digunakan untuk membangun kembali Shakespeare and Company dan mengembalikan koleksi buku-bukunya. Perlahan, George bersama sahabat-sahabatnya berhasil membuat Shakespeare and Company kembali berjalan normal.

Pada tahun 1994 Allen Ginsberg melakukan pembacaan terakhir karya-karyanya di pintu depan toko buku. George memberi sambutan yang emosional sebelum pembacaan dilakukan Allen, sahabatnya yang pertama kali mebacakan puisinya di sana empat puluh tahun sebelumnya. Lebih dari seribu orang memadati Rue de la Bucherie malam itu.

Namun, menjelang periode sembilan puluhan berakhir, usia semakin menggerogoti George, juga toko bukunya. Sahabat-sahabatnya banyak yang telah meninggalkannya. Allen Ginsberg meninggal pada 1997, juga William S. Burrough pada tahun yang sama. George mulai khawatir akan kelanjutan Shakespeare and Company. Ia sempat menawarkan toko bukunya pada milyuner George Soros, sempat pula nyaris membiarkan toko bukunya digabungkan dengan yayasan City Lights milik Lawrence Ferlinghetti. Tapi George pada dasarnya tidak ingin Shakespeare and Company tamat atau pun menjadi milik orang lain. Maka tinggallah ia sendiri, dengan wajah keriput dan rambut putih awut-awutan, bersama toko bukunya yang berdebu, dengan kertas berserakan, tangga rapuh, dan tembok dengan rembasan air.

Hingga sebuah musim panas saat Sylvia Whitman akhirnya pulang.

***

Putri George satu-satunya, Sylvia Whitman (tentu saja George menamainya Sylvia) lahir pada 1981 dan tumbuh di tengah keriuhrendahan Shakespeare and Company. Sylvia kecil berbagi es krim dengan Allen Ginsberg, atau menyantap panekuk buatan George bersama paman Gregory Corso yang masih belum betul-betul sadar dari pesta semalam suntuk. Di pagi hari ia mengekor saat George membangunkan para tumbleweed yang masih bergelimpangan saat matahari sudah tinggi. Dan di malam hari ia duduk di kursi kecil melihat orang-orang yang memandang kagum penulis entah siapa yang membacakan karyanya dan berdiskusi kesana-kemari di antara denting-denting gelas anggur. Sylvia melihat begitu banyak orang yang mondar mandir, datang dan pergi, di toko buku sekaligus tempat tinggalnya bersama sang ayah.

Sylvia bergembira akan banyak teman baru yang ia temui. Seperti terhadap toko bukunya, George terkadang menitipkan Sylvia dengan seenaknya pada pengunjung kebingungan yang baru tiba. Namun, Sylvia masih terlalu muda untuk segala keeksentrikan dan ketidakteraturan itu. Orang-orang yang datang dan pergi, pintu-pintu yang selalu terbuka dan meniadakan privasi, teman-teman baru yang harus pergi meninggalkannya beberapa bulan saja sesudah Sylvia mulai merasa dekat, semua itu perlahan membuat hidupnya tak tenang dan bingung. Saat menginjak remaja, Sylvia memutuskan untuk menetap di Inggris, bersekolah di sana dan menciptakan kehidupannya sendiri. Ia menginginkan kehidupan di mana setiap pagi ia tidak harus menemukan hippie Skandinavia entah siapa sedang terkapar di ruang tengahnya. Perlahan jarak menjauhkan mereka secara emosional. George memendam keinginan agar Shakespeare and Company bisa diteruskan Sylvia, tetapi ia tak berani berharap, dan perlahan mulai putus asa.

Namun, bersama semakin senjanya usia George, Sylvia mulai berkeinginan untuk — selagi bisa– lebih dekat dengan sang ayah. Pada awal tahun 2000, Sylvia menghabiskan libur musim panasnya di Shakespeare and Company. Rencana kepulangan yang hanya untuk menghabiskan libur berkembang menjadi lebih lama. Suatu pagi, Sylvia secara tak sengaja menemukan tumpukan surat George untuknya. Surat-surat itu tak pernah terkirim. Di sana ia menyadari bahwa George ingin untuk lebih dekat dengannya, walau – dengan segala kerumitan cara berpikir George – urung untuk ia tunjukkan. Maka Sylvia memutuskan untuk tinggal lebih lama, menghabiskan lebih banyak waktu bersama George, mengenal lebih dekat ayahnya sebagai dua orang dewasa.

Perlahan Sylvia menyadari bahwa George dan toko bukunya adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Mengenal dan mencintai George adalah juga berarti mengenal dan mencintai Shakesepeare and Company. Sylvia mulai mengulurkan tangan membantu George membawa keteraturan kembali ke dalamnya dan mencoba mencegah kerja cinta seumur hidup sang ayah hilang begitu saja.

Salah satu yang dilakukan Sylvia di periode awalnya di sana adalah hal-hal mendasar seperti memasang telepon, membeli komputer, memperbaiki toilet dan tangga, dan memasang mesin pembayaran kartu kredit (George selama ini masih menelepon penerbit di Amerika dengan telepon umum dan menggunakan kartu kredit bekas hanya untuk mengakali pintu yang tak sengaja terkunci). Saat merapikan pembukuan, Sylvia menemukan data penjualan dari tanggal 30 dan 31 Februari.  Sylvia juga memastikan semua uang kas masuk brankas. Dulu George kerap menaruh uang di antara halaman buku dan melupakannya begitu saja. Suatu kali seorang pelanggan membeli buku yang murah dan menemukan berlembar-lembar uang terselip di dalam saat ia membacanya di rumah.

George pada awalnya menolak segala perubahan yang dibuat Sylvia, memakinya dengan sebutan Margareth Thatcher, walau akhirnya mengalah juga. Transisi ini jelas tidak melulu mulus. Saat Sylvia merapikan letak buku-buku, George kerap bangun tengah malam dan mengembalikannya ke posisi semula. Saat Sylvia memindahkan buku-buku penulis Rusia dari dekat jendela yang memandang sungai Seine, George memaksa untuk mengembalikannya dan mengatakan buku-buku Rusia itu cocok berada di sebuah sudut yang romantis. Saat Sylvia mengambil buku-buku yang tercecer dan menambah jumlah tumpukan buku di rak lorong toko, George menghardiknya,

“Kalau kau menumpuknya seperti itu, orang tidak akan bisa melihat pengunjung lain di lorong seberang dan jatuh cinta. Kau menghilangkan romansa yang mungkin terjadi!”

George bergembira akan datangnya Sylvia, juga akan harapan yang didapat kembali oleh Shakespeare and Company. Namun, George tak pernah terang-terang mengatakannya, mungkin ia takut menumpuk harapan. Pada masa awal kedatangan Sylvia, George bahkan memperkenalkan Sylvia sebagai pemain teater dari Inggris yang sedang berkunjung. Tentu tak seorang pun percaya, wajah Sylvia jelas mirip dengan foto gadis cilik berambut keriting yang dipajang George di berbagai sudut. George terus menentang setiap kali Sylvia mengemukakan ide-ide perbaikan toko buku. Sampai pada suatu malam di bulan Desember 2005, di perayaan ulang tahunnya yang ke-92 di lantai dasar Shakespeare and Company, George mengucapkan pidato yang emosional,

“Jauh pada tahun 1600-an, bangunan ini adalah sebuah biara bernama La Maison du Mustier. Setiap biara selalu punya Frere Lampier, seseorang yang bertugas menyalakan lampu saat malam tiba. Aku sudah melakukannya selama lebih dari lima puluh tahun, dan kini, giliran putriku.”

Dan George Whitman menyerahkan secara penuh Shakespeare and Company – buah cinta seumur hidupnya — kepada putrinya, Sylvia Whitman.

***

Sylvia betul-betul meneruskan semangat ayahnya. Setelah hal-hal dasar dirapikan, pembukuan, toilet, rak-rak buku, dan sejenisnya, Sylvia menggagas FestivalandCo, sebuah festival sastra selama delapan hari bertutut-turut. Tema festival pertama itu “Lost, Beat, and New”, adalah untuk merayakan generasi-generasi penulis yang memiliki hubungan dekat dengan Shakespeare and Company. Festival yang digagas Sylvia sukses besar dan menghubungkan kembali toko bukunya dengan generasi penulis yang lebih baru, mulai dari Dave Eggers, Jonathan Safran Foer, Craig Taylor, hingga Zadie Smith.

Shakespeare and Company kembali bergairah, ia juga menjadi tempat ayah dan anak membagi momen intimnya. Sekali waktu George masih turun dari kamarnya di lantai atas toko buku, dengan piyama dan rambut putih awut-awutannya, memberi perintah kepada para tumbleweed yang berkeliaran, sementara Sylvia memandanginya sambil tersenyum geli. Sylvia pun, saat sedang ruwet dengan urusan toko buku, naik ke kamar George pada malam hari, berbaring di sampingnya, saling berbicara atau membacakan buku. Untuk Sylvia Ini menjadi semacam meditasi.

“Momen-momen ini mengingatkanku kembali ke hal-hal sederhana yang penting: cinta, senda gurau, dan buku-buku,” ujar Sylvia.

George Whitman meninggal dengan tenang di kamar tidurnya pada bulan Desember 2011, dua hari sesudah ulang tahunnya yang ke-98. Ia dikuburkan di Pere Lachaise, salah satu tempat paling romantis di Paris, berdekatan dengan kuburan Jim Morrison. Berita meninggalnya George memancing reaksi haru dari berbagai belahan dunia. Surat ucapan bela sungkawa dan pesan cinta berdatangan dari mana-mana. Shakespeare and Company adalah rumah yang begitu dicintai puluhan ribu pembaca dan penulis yang pernah bersinggungan dengannya. Begitu banyak kisah manis, eksentrik, dan mengharukan yang muncul di dalamnya. Banyak yang tertulis dalam jurnal-jurnal yang berceceran di sana, lebih banyak lagi yang diceritakan dari mulut ke mulut. Shakespeare and Company dilahirkan, dan dirawat oleh seorang yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk toko buku dan karya-karya indah. George ingin menjadikannya sebagai – dalam istilahnya – dunia sosialis utopis dalam wujud sebuah toko buku.

Dan ia berhasil.

Sepeninggal George, Sylvia masih terus bergerak, mengabdikan hidupnya untuk toko buku peninggalan ayahnya. Di sana pula ia berkenalan dengan David Delannet yang pertama kali melihat Sylvia dari balik kaca jendela Shakespeare and Company. Sylvia dan David menikah, dan bersama-sama merawat toko buku itu. Bersama Sylvia, Shakespeare and Company tidak lagi sebohemian dulu. Ia dan David menghadirkan keteraturan di sana, sesuatu yang mungkin dibutuhkan untuk bertahan di masa sekarang. Mereka meneruskan tradisi pembacaan karya, mengelola festival dua tahunan, memperbesar bangunan toko buku, menerbitkan jurnal, hingga menggagas penghargaan untuk karya novela, The Paris Literaray Prize. Sylvia mempertahankan tradisi tumbleweed George, walau jumlahnya lebih dibatasi sekitar enam penulis pada saat yang sama.

Sylvia dan David juga mendirikan sebuah kafe di sisi toko buku, dengan jendela yang menghadap gereja Notre-Dame. Suatu hari, saat Sylvia dan David membuka-buka berkas, mereka menemukan sebuah wawancara George dengan majalah Holiday edisi 1969, di mana George menyatakan cita-citanya untuk suatu hari mendirikan semacam Literary Cafe di dekat toko bukunya.

“Semua makanan akan dimasak di bawah pengawasanku. Karena, kau tahu, hanya ada satu saja cara membuat pie lemon yang enak,” kata George saat itu.

Shakespeare and Company masih berjalan, masih akan menciptakan kisah-kisah manis, dan merayakan kecintaan akan karya-karya indah. Sylvia misalnya, sering meminta pengunjung untuk menuliskan kalimat-kalimat alasan mengapa sebuah buku menarik. Di kemudian hari, Sylvia menyelipkan catatan itu di antara halaman jika judul yang sama dipesan oleh pembeli lain di luar negeri.

Sylvia berkata, setiap pagi saat membuka toko bukunya, ia membayangkan sosok ayahnya sedang berdiri di dekat jendela, memandangi kota Paris di pagi hari. Kemudian sang ayah berpaling ke arahnya lalu berkata sambil mengerling, “Kekacauan apa yang akan kita buat hari ini?”

___

 George Whitman

 

Tulisan pertama kali dimuat di Pocer.co

Foto fitur diambil dari situs Washington Post. Foto George Whitman muda diambil dari buku “The History of the Rag and Bone Shop of the Heart”.