comment 0

Seperti canang yang tak sengaja terinjak

Ini baru pukul delapan malam dan jalanan Seminyak sepi sekali.  Kami berpapasan dengan mobil pengangkut sampah, pasangan yang berboncengan, dan satu dua kendaraan yang segera dilupakan. Jalan motor bebek pelan, tapi dada rasanya agak tertusuk, mungkin karena tadi hujan, dan kaos yang saya pakai tipis saja dengan lubang-lubang kecil di beberapa bagian. Maesy nangkring di belakang dan saya meminta tolong padanya untuk mengancingkan kemeja flannel saya yang terbuka. Ia kesulitan dan akhirnya memegang saja dua bagian kemeja dengan posisi memeluk sehingga kaos tipis tetap terlapisi. Saat melewati restoran Vietnam yang masih buka, Maesy minta berhenti. Dia pernah dengar bun-nya enak. Motor bebek diparkir di depan dan kami masuk masih dengan helm bertengger di kepala dan mendapati cuma kami tamu malam itu. Bangku restoran ini banyak, mungkin sebelum pandemi bisnis sedang bagus. Satu kotak bun datang dengan isi dua biji, dan kami memakannya dengan mulut monyong karena masih panas. Enak, dan kami memesan satu lagi dan kakak penjaga menyambut senang. Dia memakai masker tapi saya bayangkan dia tersenyum dengan gigi kelihatan. Kembali kami berdua ngobrol tentang Canggu malam hari yang bising. Tadi kami berjalan kaki menyusuri bibir pantai Berawa, sesekali ombak dingin membenamkan mata kaki telanjang kami. Rasanya menyenangkan. Tapi saat menoleh ke kanan, rasa senang merosot. Dari sana lampu tembak menghujam ke pantai, dan terlihat gerumbulan orang-orang yang menari, terkadang terdengar teriakan orang girang, di antara musik yang berdentam-dentam. Setiap kali pulang ke Bali kami selalu ke pantai Berawa, Batu Bolong, Batu Mejan, tapi selalu di pagi hari, nyaris tak pernah di kala malam, saat sesuatu yang sama sekali asing untuknya seakan tiba-tiba terpancang saja begitu, dan bersuara saja, dan kencang-kencang, tanpa sedikit pun negosiasi. Laut di malam hari masih selalu menyimpan misteri, juga semacam kemarahan, tapi malam itu, kami membayangkan ia terlihat tak berdaya. Sewaktu kecil saya pernah dibawa almarhum ajik ke sini — sini kutunjukkan pantai rahasia, begitu dia bilang. Saya ingat dia pakai celana pendek warna merah, masih kuat lari ke tengah laut dan berenang-renang. Seperti hari ini, dulu pun ombaknya besar, jadi dia tidak bisa ngambang lama-lama seperti di pantai lain. Saat ombak tinggi datang ia masuk ke bawahnya, seperti lumba-lumba. Saya masih ingat, ia menghampiri saya yang duduk di pasir, badannya basah, napasnya terengah-engah — bagus kan, katanya. Suatu kali pernah juga dia pergi sebentar lalu datang membawa kelapa, juga golok, dan dia membelahnya lalu menyodorkan pada saya yang menyambut dengan kehausan. Ajik memang tangkas, tapi sepertinya dia tidak memanjat sendiri untuk memetik kelapa itu. Mungkin dia dapat dari orang yang sekalian meminjaminya golok, tapi saya senang membayangkan dia memanjat dengan gesit. Kini, setiap kali ke Bali saya selalu mengajak Maesy ke Canggu pagi-pagi, bersama orang-orang yang juga bangun terlalu pagi, juga anjing-anjing kecil yang menyalak-nyalak nyolot, dan anjing besar yang menggeram-geram, yang susah payah ditahan pemiliknya agar tidak menerkam si konyong. Tadi saat lewat Finn saya bilang ke Maesy, apa ya yang akan terjadi jika aku menelusup ke tempat pemutar musik dan menggantinya dengan lagu-lagu Sinatra. Maesy cuma melihat saya dengan kasihan, sepertinya untuk alasan yang berlapis. Dari restoran Vietnam kami motoran lagi sampai Legian, melewati toko-toko yang tutup, yang di depannya terpasang tanda disewakan, melewati bli-bli yang duduk-duduk di dekat trotoar. Satu bli menghisap rokok lalu menjulurkannya pada bli yang lain, tak ada lampu kelap-kelip, tak ada musik-musik yang terdengar di trotoar. Sewaktu SMA saya suka motoran sendiri ke sini, diparkir begitu saja, lalu jalan kaki sepanjang Legian, kadang mampir ke Matahari, main dingdong lalu jalan lagi, hingga ke pantai, kadang belok ke Kuta Square, melewati orang yang menawari ekstasi di dekat bar Rasa Sayang, tempat Bli Komang sering nongkrong. Sepupu saya ini kenal semua orang di sana, dia kerap mengulang cerita betapa turis-turis Jepang gemas padanya. Sekarang semuanya tidak ada, Bli Komang lenyap, musik-musik tak terdengar, yang ada toko-toko yang tutup, yang ada bli-bli duduk-duduk tanpa banyak tertawa, juga pekerja seks tua yang sendiri di pintu toko kosong dengan plang disewakan dan lampu depan yang padam. Di satu tempat ada yang masih menyajikan live music, band menyanyikan lagu Careless Whisper, seperti mencoba menahan masa yang telah lalu. Sedikit penonton duduk-duduk di depannya, meminum birnya pelan-pelan. Agak malam terdengar suara knalpot cempreng dari belakang. Beberapa anak muda berandalan trek-trekan di jalan pantai Kuta, tak satu pun pakai helm, sebagian besar nyeker, kaki-kaki mereka kerempeng. Kami minggir membiarkan mereka leluasa menguasai dunianya. Di perjalanan pulang saya masih geregetan dan nyerocos saja, bertanya bukankah pantai di malam hari menjadi indah kalau lagu yang diputar adalah” Di Wajahmu Kulihat Bulan”. Maesy berkata betapa saya beruntung karena tetap ada beberapa orang di dunia ini yang menyayangi dan menerima saya apa adanya. Kemudian dia mencubit pinggang saya. Yang terakhir ini sepertinya tanpa alasan, saat dibonceng dia senang saja sesekali main cubit. Keinginan tadi lumayan terpenuhi keesokan harinya. Saat itu tengah hari, matahari panas tapi tidak panas-panas amat, dan kami berdua berenang di pantai Batu Belig. Kami berenang lalu duduk-duduk membiarkan pasir memenuhi punggung dan pantat dan kaki, lalu berenang lagi, lalu duduk-duduk lagi. Maesy pakai bikini merah muda, dengan belang-belang kuning biru di pinggirnya. Dia berbangga pada bikini yang menurutnya bagus, dan saya iya iya saja. Sayup-sayup kami mendengar suara jazz, dan saya berjalan sedikit ke Utara, ke arah suara itu, mendapati kafe kecil berbentuk bangunan panggung dari kayu rada reot yang memutar lagu-lagu Fred Astaire. Dari dekat tangga kedai saya memesan bir bintang botol kecil pada penjaga berkaca mata gelap yang pakai baju bunga-bunga mekar. Saya bersandar di sisi panggung kedai, memegang botol bir, dan memandang ombak yang datang pergi. Ada anjing yang berjalan sendirian di bibir pantai saat Fred Astaire menyanyi Cheek to Cheek. Saya melihat Maesy di kejauhan. masih duduk di pasir dengan kaki menjulur. Di satu titik ia melihat saya lalu melambaikan tangan, meminta saya duduk di dekatnya. Saya memberinya tanda dengan memutar jari telunjuk di kuping, menunjuk ke kedai, dan menggoyangkan kepala seperti mengikuti musik pelan. Dia tersenyum dari kejauhan. Saya mengangkat botol bir dan memberi tanda bersulang padanya — untuk sisa-sisa hari yang masih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s