comments 10

Wajah Indonesia yang Murung Sebelah

Indonesia adalah rumah dari mereka yang gemar tertawa besar-besar. Rumah untuk mereka yang bernyanyi tanpa lelah. Tanah dengan budaya kaya dan alam cantik. Namun, dalam perjalanan delapan jam melintasi Sampit dari Palangkaraya menuju Kuala Pembuang, ada wajah lain yang melintas. Ia juga tanah yang menuturkan sejarah kekerasan yang panjang. Di antara hutannya yang rimbun, jika tidak digunduli, tersembul sejarah panjang kekerasan politik, agama, hingga etnis. Mulai dari gambar suram tahun 60an saat ratusan ribu orang dibunuh karena label komunis di dadanya, sadar maupun tidak, api yang menyala-nyala dari konflik agama di Ambon, jamaah Ahmadiyah yang dibantai dengan keji di Cikeusik, pemerkosaan atas etnis Tionghoa saat kerusuhan Jakarta, dan deret panjang kebengisan yang secara tidak terduga muncul dari orang-orang yang sehari-harinya begitu santun.

Melalui tutur Pak Jaka, pria Dayak Katingan yang menemani saya dalam perjalanan delapan Jam di Kalimantan Tengah ini, cerita kekerasan Sampit sepuluh tahun lalu kembali terbayang.  Pak Jaka yang sejak kecil tinggal di Sampit menceritakan kisah-kisah kekejaman yang langsung ia saksikan. Mungkin karena terlalu sering menuturkannya, ia bercerita seolah dengan tanpa beban. Namun, kengerian yang diciptakannya besar. Sebuah puncak dari kekerasan antar etnis yang terjadi sejak berpuluh tahun sebelumnya. Kepala-kepala yang terpenggal, anak kecil yang tertusuk tombak, perut yang terburai, rumah yang dibakar. Kisah tentang sekelompok pria dayak berkuping panjang yang turun gunung dan keluar hutan untuk melakukan pembantaian paling biadab. Dengan mata merah kesurupan, mereka tidak berkata banyak. Bergerak taktis hanya dengan satu tujuan, membunuh etnis lawan. Banyak yang bahkan memakan hati korbannya mentah-mentah. Berbekal ilmu gaib yang diberikan sebelum turun bertempur, mereka melakukan tindakan jauh di luar kemanusiaan. Konon banyak diantara mereka yang menjadi gila setelah konflik mereda. Terguncang setelah menyadari kekejian yang dilakukannya sendiri. Tergetar oleh lumuran darah di sekujur tubuhnya. Saat kami melintas sungai Mentaya, pak Jaka  mengisahkan dahulu sungai itu dipenuhi mayat yang bagaikan rakit mengalir dari hulu di tengah hutan. Begitu banyak kisah biadab yang diceritakan. Termasuk kisah memalukan saat aparat keamanan berkelahi satu sama lain untuk berebut melindungi pengungsi Madura di pelabuhan demi setoran uang perlindungan.

Kisah-kisah yang membuat saya termenung-menung sepanjang jalan. Indonesia tanah yang luas. Ini berkah yang terkadang berujung pada hilangnya kepekaan, rasa keterikatan. Sebuah kejadian yang begitu menyedihkan yang terjadi di satu bagian sering tidak cukup mengusik naluri kemanusiaan mereka yang ada di wilayah lainnya. Saat saudara-saudara Ahmadiyah dibantai dengan kejam di Cikeusik, beberapa anggota DPRD memilih untuk berkeras mendapat mobil dinas baru. Saat korban lumpur Lapindo masih terlunta tak mendapat dana kompensasi lima tahun setelah musibah yang menimpanya, banyak yang memandang kagum pernikahan mewah putri dari orang yang paling bertanggung jawab akannya. Saat begitu banyak orang terusir dari tanahnya di NTB karena kepercayaan yang mereka anut, tak banyak yang benar-benar mencari informasi bagaimana perkembangan mereka hingga kini. Di masyarakat luas di bagian lain Indonesia, mereka sering hanya menjadi pembicaraan sambil lalu. Diantara kopi hangat, creambath yang menenangkan, atau benar-benar pupus diantara lampu klab malam. Dahulu saat konflik Sampit meletus, saya mungkin sedang duduk-duduk di sebuah warung Indomie di sudut Bintaro dan berbicara tentang hal-hal remeh. Indonesia yang indah  juga selalu memberikan wajah-wajahnya yang suram. Anak yang meringis kehilangan masa kanak-kanaknya, ibu-ibu yang kalap dalam putus asa karena hartanya yang disita paksa, wajah-wajah bengis pria yang datang menerjang. Mungkin jika kita setidaknya aktif mencari tahu dan mengikuti perkembangan hal-hal yang mengusik kemanusiaan di sekitar, paling tidak akan terbangun kepekaan yang kemudian berpengaruh terhadap pilihan-pilihan tindakan yang kita ambil sehari-hari. Terkadang pilihan-pilihan yang sungguh sederhana. Seperti kata seorang rekan pekerja pembangunan yang suatu hari memutuskan untuk tinggal di kantor lebih lama,”Tak apa-apalah bekerja lebih lama, hal-hal sedang tidak terlalu baik untuk Indonesia.”

Kami meluncur terus menembus malam dan jalan yang bergelombang. Melewati Sampit, menuju Kuala Pembuang. Saat ini, sepuluh tahun setelah konflik berdarah itu,  Sampit sudah aman dan perlahan mengubur segala kenangan kelamnya. Senyum sudah muncul di wajah-wajah yang saya temui. Warung kopi sudah dipenuhi gelak tawa. Anak-anak berlari bertelanjang dada dan terkikik-kikik. Namun ada satu yang tak berani saya tanyakan pada Pak Jaka di sepanjang perjalanan kami, saat konflik antar etnis yang melanda kampungnya dulu, apakah ia benar-benar hanya menyaksikan?

Twosocks, Mei 2011

Advertisements

10 Comments

  1. Sepertinya sejarah indonesia yang begitu kejam dan perih suatu saat akan membawa indonesia kedalam puncak kesuksesan…amin

    salam kenal

  2. Ariesus12

    dari blog ini, saya baru tau hal ini. kecuali sampit. saya ikut perkembangannya, bahkan punya video kekerasan yang terjadi di sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s