comments 6

A Bit of Luxury for the Homeless of Ubud

Pada sebuah masa yang tidak terduga, seseorang akan berjalan dengan alur yang jauh di luar rencana semula atau dengan gaya yang sama sekali berbeda dari kebiasaannya. Backpacker yang akhirnya ikut dalam rombongan tur dengan jadwal yang tertata rapi, mereka yang untuk pertama kali harus terhimpit di kereta malam antar kota yang pengap, atau pendaki gunung yang menikmati matahari terbenam sambil minum segelas anggur di atas yacht. Kebanyakan perjalanan saya dilalui dengan celana yang jarang diganti, tidur di tempat yang sederhana, dan buang air di sembarang tempat. Kombinasi sifat yang bersahaja dengan pelit, sok proletar, serampangan dan sejumlah sifat tercela lainnya.

Namun hal-hal sedikit berbeda dalam perjalanan ke Ubud beberapa waktu yang lalu. Saya dan Gypsytoes begitu bersemangat untuk menghabiskan akhir pekan di Ubud  dengan segudang rencana; trekking ke hutan dan desa-desa di pagi hari, melihat pentas calonarang di malam hari, mengagumi karya-karya lukis, berjalan ke sana kemari, berbicara dengan semua orang.  Namun saat melewati daerah Nyuh Kuning, sebuah keputusan impulsive membawa kami berbelok ke sebuah villa yang tampak begitu sejuk. Kami tahu harganya jauh diatas anggaran penginapan kami namun tidak ada salahnya sedikit bergaya. Kami berpura-pura menanyakan harga untuk sekedar melihat-lihat dan mengagumi arsitekturnya.  Sales managernya yang santun membawa kami melihat semua villa di sana. Villa-villa dengan pemandangan sawah yang sejuk, teras dan balai-balai yang ramah, tata lampu yang lembut, suara angklung sayup-sayup, dan infinty pool yang begitu menggoda. Bahkan di unit terbaiknya, terdapat bath tub di tempat terbuka yang dipenuhi bunga, in door dan out door shower, out door kitchen, dua balai-balai empuk di pinggir private pool nya yang sangat nyaman untuk sekedar leyeh-leyeh membaca. Dan di atas semuanya, arsitektur yang di dominasi kayu membuat semuanya terasa begitu sejuk.  Setelah cukup bergaya melihat-lihat dan hendak pamit pulang, sang sales manager mengatakan sesuatu yang membuat kepala kami berkunang dan lidah kami terjulur-julur. Karena saat itu sedang low season, ia menawarkan villa terbaik mereka spesial untuk kami dengan sewa permalam hanya sepertiga harga atau sama dengan harga villa termurahnya. Waduh. Kami bertatapan dan menyimpulkan betapa ini adalah tawaran yang menggoda. Namun betapapun kami menginginkannya, harganya tetap di atas anggaran menginap kami bahkan sama dengan seluruh anggaran liburan kali ini. Dengan setengah mati mencoba mengontrol gejolak emosi oleh godaan maha besar ini, kami mengatakan hendak makan siang di luar dulu dan akan konfirmasi kemudian. Dan kami pun berlalu, tidak menoleh ke belakang, mencoba mengenyahkan godaan duniawi itu. We are bums, that is who we are, and that is what we do!

Siang itu kami makan Bebek Bengil, salah satu makanan yang bersama sambal matahnya saya tempatkan sebagai makanan terenak di dunia. Namun saya temukan diri saya hanya makan seadanya. Di ujung meja Gypsytoes juga tampak melamun. Ia adalah salah satu anak terbawel di dunia, namun siang itu ia hanya memandangi sawah-sawah. Pikirannya tampak menerawang. Kami adalah dua orang yang tak pernah kehabisan bahan pembicaraan, tapi sepanjang makan siang kami hanya bicara seadanya. Hening. Sampai kemudian kami menyimpulkan bahwa pikiran kami telah diracuni oleh godaan untuk menghabiskan malam di villa tadi. Godaan untuk sekali-kali dalam hidup kami yang menggembel ini merasakan sedikit kemewahan. Tiba-tiba pentas calonarang, galeri-galeri lukisan, perjalanan ke tengah hutan terasa tidak semenarik nikmatnya kemanjaan di villa tadi. Setelah hampir setengah jam termenung-menung dan memainkan tulang bebek, kami tertawa terkikik-kikik dan berkata, “f*ck it!! We’ll spend the night there!!” Jadi itulah yang kami lakukan.  Karena anggaran liburan akan tersedot ke tempat menginap dan kami hanya akan memiliki 24 jam maka segala yang lain harus dilupakan. Lupakan menghabiskan waktu di galeri atau di jalanan sawah, lupakan makan malam enak.  Kita akan menumpuk perbekalan dan mengurung diri di villa. Maka backpack pun dipenuhi dengan makanan murah cukup unuk semalaman dan kami berangkat. Kepada sang sales manager kami berkata  dengan suara paling elegan yang kami miliki: “We’re  taking it”.

Dan disanalah kami menghabiskan malam, duduk melihat sawah,  membaca, berenang,  berbicara tak henti sambil minum teh beras, termenung dengan musik angklung yang terdengar sayup, tidur di ranjang bertirai yang luar biasa empuk. Saya, anak tak terurus yang suka berlibur ke tengah hutan ini, bahkan mandi dengan air bunga. Norak minta ampun. Malam harinya kami diberikan compliment berupa chocolate cake dengan tulisan ‘happy honeymoon’. Kami dikira pasangan yang sedang berbulan madu. Kami pun terkikik-kikik geli dan makan dengan lahap.

Seperti yang dulu pernah kami katakan, para pejalan sungguh tidak bisa dikotak-kotakkan dalam label-label.  Terlebih lagi dalam hirarki-hirarki. Turis, backpacker, atau apapun. Satu dan lain waktu kita akan berada pada’kotak-kotak’ yang lain itu. Alur liburan dapat begitu berubah hanya dari keputusan untuk berbelok di sebuah tempat di jalan Nyuh Kuning. Apalagi, bukankah kita berjalan karena kejutan-kejutan yang tak henti ditawarkannya?

Twosocks, April 2011

Advertisements

6 Comments

  1. hehe dari ceritanya kayaknya itu villa benar² mantap dan nyaman…uhh…enaknya jadi org yang berkantong tebal…

  2. yes.. you just never know, what would come your way during a jalan2 session.
    but that’s the amazing things about bali, anything could happen.
    well.. i guess that is your lucky day.
    #kalokeubudmwsokgembelsoknyasarah….

    • This reply is 1.5 years too late, so sorry! Anything could happen should be a mantra for travelers, for something unpredictable tends to pop up in a journey 🙂

      • hahhaha, pake banget, godaan diskon kaya gini emang sering di bali ga tau kenapa. waktu itu juga pernah salah booking dari pihak hotel. padahal patungan bertiga, eh malah diupgrade ke dua rumah n private villa n pool gitu, dengan harga sama di #sanur , we were some lucky bitches *evil laugh*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s