comments 6

Nat King Cole di Kaleng Sarden

Ketika taksi putih berhenti di depan lobi apartemen kami, seorang sopir tua menyembul. Rambut, kumis, dan janggutnya putih semua, kontras dengan kulit yang gelap. Ia membuka bagasi dan menawarkan diri membantu saya memasukkan koper. Saya menolak halus lalu memasukkannya sendiri. Koper besar ini berat sekali, penuh buku baru untuk dijual di toko buku sore itu. Pak sopir memegang tutup bagasi sementara saya menempatkan koper di antara beberapa benda yang ada di sana; ransel, kardus, kotak perkakas. Mungkin ia meleng, tutup bagasi lepas dari pegangannya dan menimpa kepala saya. Saya meringis, sakit juga. Ia buru-buru meminta maaf dan bertanya apa saya tidak apa-apa. Saya mengangguk sambil memegangi bagian belakang kepala. Di antara permintaan maafnya, ia sedikit terkekeh. Mungkin wajah saya terlihat bodoh.

Kami merayap di jalan HR Rasuna Said yang tersendat. Hawa di dalam mobil agak panas, pendinginnya sudah lemah. Ini taksi tua yang kondisinya jauh dari segar, kursi mengelupas, segala sesuatunya terlihat keropos, dasbor sepertinya dapat ambruk jika sopir tak sadar melewati polisi tidur. Gelas air mineral kosong tergeletak di bawah, sepertinya bekas penumpang terdahulu. Taksi ini mengeluarkan bunyi berdecit seakan dalam setiap geraknya. Ia mengingatkan saya akan kaleng sarden, atau tumpukan seng.  Maesy duduk di samping saya menyampaikan kekhawatiran akan terlambat tiba di tujuan. Pak sopir tua melirik dari kaca spion atas.

“Maaf ya Neng, semoga di putaran Trans, jalan sudah lancar lagi.”

Buru-buru Maesy berkata dengan nada minta maaf, bahwa ia hanya menggerundel sendiri dan tidak sedang menyalahkannya.

Setelah itu kami semua saling diam. Jalan masih macet dan tak masuk akal. Kaleng sarden masih merangkak pelan. Mobil-mobil tetap menyeberangi perempatan Kuningan, meluruk ke Jl Tendean, walau kemacetan di depan juga sama gilanya.

Sampai saat terdengar suara Nat King Cole.

Nature Boy muncul dari pemutar kaset tua di jok depan. Pemutar kaset yang sama usangnya dengan taksi ini, dengan bass yang sepertinya tak berfungsi lagi sehingga suara yang muncul sedikit cempreng. Tapi ini Nat King Cole, suaranya mungkin tetap indah walau pemutar kaset dicemplungkan ke bak mandi. Dulu saya dan Maesy sempat ngobrol kalau kami suka naskah fiksi yang dituturkan dengan jernih, yang meniti babak demi babak dengan perlahan dan halus. Begitulah Nat King Cole melantunkan lagu-lagunya. Dengan rambut klimis dan senyum lebarnya itu. Saya dan Maesy saling berpandangan, lalu melihat ke depan, mata saya bertemu dengan mata Pak Sopir tua yang melirik dari spion. Saya memberinya senyuman.

There was a boy
A very strange enchanted boy

They say he wandered very far
Very far over land and sea

“Musiknya bagus sekali, Pak,“ ujar saya saat lagu berakhir.

Musik yang membuat semua kekacauan di luar menjadi melagu. Orang-orang yang menunggu, pedagang yang mendorong gerobak, semua seperti melantunkan melodi. Pak sopir tua ini, tentu ia seorang romantis. Mengemudikan taksi tuanya, dengan rambut dan kumis putihnya itu, mengejutkan penumpang dengan lagu-lagu indah dari masa yang telah lama berlalu.

Ini gambaran yang mungkin terlalu biasa, tentang sisi romantis kota-kota semrawut. Perjumpaan tak terduga dengan sopir taksi arif bijaksana, yang mendengarkan cerita sedihmu di perjalanan tengah malam, yang tetap bertenaga di usia tua, yang menyekolahkan anaknya hingga tinggi. Ia muncul untuk membuat segala keruwetan jadi sedikit termaafkan. Cerita yang terlalu sering ditemui dalam tulisan penggugah inspirasi tapi tidak dalam kehidupan nyata. Kecuali saat kau benar-benar menemukannya. Seperti siang saat di dalam kaleng sarden itu terdengar Nat King Cole dari pemutar kaset usang milik pria tua berambut putih. Tapi karakter seperti ini pun biasanya muncul sesekali saja, lalu diceritakan kepada orang yang kamu temui sesudahnya, lalu tak lagi dijumpai, lalu lenyap, seperti asap, lalu terlupakan.

Tapi Pak Sopir tua ini, ia nyata.

Kawan kami, Ibnu Najib, suatu kali pernah berkata ia pernah menumpang taksi yang sama. Ia juga mendengar lagu tua dari pemutar rombeng dengan bass yang nyaris tiada. Ia berkata, dengan kombinasi seperti itu, lagu Nat King Cole jadi terasa lebih indah dibandingkan saat ia mendengarnya dari pengeras suara Bose-nya yang kelewat mahal itu. Belakangan kami tahu, pak Sopir tua itu memang kerap mangkal di dekat apartemen kami. Suatu kali kami berjumpa lagi dengannya (dari ribuan taksi di Jakarta, bertemu kembali dengan pengemudi yang sama tentulah istimewa). Ia masih memutar lagu-lagu lama, kaleng sardennya masih mengeluarkan bunyi berdecit seperti hendak ambruk.

Di tengah jalan ia berkata ia merasa pernah mengantarkan kami sebelumnya. Kembali kami beradu pandang dari kaca spion.

“Betul, Pak, pernah. Saya, sih, nggak mungkin lupa sama Bapak.”

Kami tidak saling memperkenalkan nama, atau berbicara hal-hal pribadi, atau soal segala sesuatu yang diurus orang-orang rakus. Hanya berbagi momen-momen sekejap ketika lagu-lagu yang dilantunkan dengan indah membuat semuanya terasa baik-baik saja. Kembali ia terkekeh. Kekehan yang sama seperti saat dulu tutup bagasi menimpa kepala saya.

Advertisements

6 Comments

  1. Jadi ingat waktu naik taksi beberapa minggu yang lalu. Waktu itu sang bapak supir memulai pembicaraan terlebih dahulu dengan menceritakan pengalamannya merantau ke Manokwari, Riau, sampai Malaysia. Lalu kesempatan membawanya ke Jakarta. Dia memulai hidup di sini sebagai pekerja konstruksi, lalu ketika ada kesempatan menjadi supir taksi dia pun mengambilnya. Dia bercerita betapa dia bekerja keras setiap hari dan keluar rumah saat lebih dari separuh populasi Jakarta masih terlelap. Tapi berkat itu dia bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi.

    Sering memang mendengar cerita seperti ini di mana-mana. Tapi ketika bertemu langsung dengan seseorang yang benar-benar menjalani hidup seperti itu rasanya beruntung sekali; mood saya di hari itu menjadi sangat positif berkat obrolan beberapa menit di dalam taksi tersebut.

  2. Saya jarang sekali naik taksi, lebih sering naik gojek motor atau kalau sedang terpaksa naik gocar. Biasanya saya tidak melulu diam, sesekali mencoba berbasa-basi. Kalau sedang hoki, dapat pengemudi yang suka ngobrol juga, dan lahirlah diskusi ngalor-ngidul.

    Pengalaman paling berkesan itu waktu jam 1 pagi, ban motor gojek bocor dan akhirya kami berjalan barengan sampai menemukan tukang tambal.

    Hihii. Dari perjalanan di Jakarta ada cerita-cerita yg menarik yg bisa diambil :))

    Salam kenal ya mas Tedy dan mbak Maesy 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s