comments 2

Satu hari di San Francisco

Hari sudah terang saat saya membuka jendela kamar, meneguhkan niat untuk memulai pagi dengan membaca di balkon yang menghadap gang sempit dan tangga-tangga besi. Semalam balkon ini mengingatkan Maesy akan adegan saat Audrey Hepburn menyanyi Moonriver sambil main ukulele di Breakfast at Tiffany’s (tokoh Holly Golightly ini menyebalkan, tapi kalau dia bisa menyanyi sesyahdu itu, siapa yang tak tergerak untuk memaafkannya, coba?). Angin dingin berembus masuk begitu jendela terbuka. Buru-buru saya menutupnya kembali dan masuk ke balik selimut.

“Udara dingin ini bikin aku gentar,“ kata saya pada Maesy. Ia cekikikan lalu memeluk saya, memasukkan tangannya ke balik kaos.

Menjelang pukul sembilan, setelah malas-malasan, kami menumpang bus ke Golden Gate. Kami sempat berpikir apakah pergi ke Golden Gate ini hanya demi membuat kepergian ke San Francisco menjadi sah, seperti melihat Monas, atau Eiffel, atau patung liberty. Tapi, tokh, sampai di sana kami senang-senang saja. Itu tadi sekadar keruwetan pikir orang-orang yang merasa sudah meneguk asam garam. Dan Golden Gate memang mengagumkan. Para pencandu arsitektur dan bangunan-bangunan mencengangkan pasti terharu, yang sedikit cengeng mungkin menitikkan air mata. Ia panjang, merah, kokoh dan membuat dua daratan berjarak lebih dari dua kilometer tersambung.

Kami berjalan kaki menyusurinya, berjalan hingga seberang, melewati patung The Lone Sailor, persembahan puitis bagi para pelaut yang meninggalkan San Francisco untuk pergi perang. Patung ini mengabadikan momen ketika para pelaut menoleh ke belakang, melihat untuk kali terakhir tanah tempat mereka tumbuh besar. Kami berhenti di tempat pemberhentian bus yang terik, di dekat pohon kaktus. Bus masih agak lama, dan saya mengambil buku Kura-Kura Berjanggut dari tas, yang ternyata agak basah karena termos bocor. Saya sempat menyalahkan Maesy karena ia yang terakhir menutup termos. Belakangan kami tahu termos itu bocor betulan, tapi saya tetap berusaha mempertahankan rasa bersalah pada dirinya.

Processed with VSCO with a6 preset

Processed with VSCO with a5 preset

Kami berhenti di tengah kota, di jalan Hyde. Supir bus, pria gundul berwajah pendiam, sedang dalam suasana hati yang baik. Ia membiarkan kami tidak membayar karena uang saya terlalu lecek untuk diterima mesin. Mungkin karena ini musim panas, semua orang jadi mudah bergembira. Walaupun saat kami keluar bus, angin dingin menerpa dan kami menggigil. Kasihan orang-orang San Francisco ini, musim panas tetap tidak menghilangkan angin yang dingin. Kami berjalan kaki menuju Haight Street, jalanan yang pada tahun 1960-an menjadi pusat pergolakan kaum hippie. Mereka menolak perang Vietnam, merayakan kebebasan indvidu, kebebasan bercinta dengan siapa pun yang cocok di hati, menghisap ganja dari pagi ke pagi, menciptakan puisi, dan musik psikedelik, dan lagu-lagu protes, dan lagu-lagu perdamaian, dan novel-novel, dan sub-kultur baru. Sisa atmosfer itu masih terasa, paling tidak dari bau ganja yang tercium di sepanjang jalan, yang terembus dari pria bertato setan, juga gadis berambut merah dengan anting di hidung, juga pria berkaki kurus yang menenteng anjing buldog sebesar sapi.

Di persimpangan Haight Street dan Ashbury sedang ada festival jazz. Sekelompok anak muda memainkan instrumen dengan tokoh utama seorang peniup trompet. Semua orang di depannya ikut bergoyang; bapak tua yang mengenakan seragam pahlawan super, gadis muda yang bergantungan di pundak pacarnya, atau sekelompok pria tua nudis dengan penis bergelantungan, yang bola-bolanya diikat ke belakang dengan semacam sabuk kulit.  San Francisco bangga menjadi tempat yang menerima siapa pun. Di banyak sudut kami mendapati bendera pelangi tanda cinta pada semua orang. Di Booksmith, toko buku independen di Haight Street, terdapat tulisan: para nudis juga boleh masuk. Kota ini bangga menjadi bagian dari perubahan-perubahan sosial signifikan dalam sejarah Amerika. Di depan Booksmith, perempuan berwajah tegas dengan tato di sekujur lengan kanan berjualan buku foto tentang Black Panther dan generasi bunga.

Processed with VSCO with a6 preset

04B8E6C0-FCEF-4B36-A8AE-73EC1562CF23

Dari Booksmith kami menuju Valencia Street. Maesy mau belanja pakaian di Everlane. Toko ini, yang konon menjunjung tinggi praktis bisnis sehat, begitu terkenal sehingga untuk masuk pengunjung  mesti antri. Saya menertawai Maesy akan kerelaannya mengantri di toko yang wajahnya menyerupai Apple Store itu. Beberapa kali orang melewati antrian kami dan menunjukkan ketidakpercayaannya betapa orang-orang rela mengantri demi sehelai pakaian kemahalan. Saat akhirnya masuk, ternyata Maesy tidak menemukan pakaian yang ia inginkan dan saya menemukan bahan tertawaan baru.

Kami berhenti di Four Barrel Coffee, memesan kopi dan membaca sebentar. Kami sempat menemukan koran The New York Times yang memasang wajah Donald Trump.  Isi beritanya soal si degil itu yang menolak segala sains dan nasihat. Ia maju ke negosiasi nuklir dengan Korea Utara tanpa dibantu satu pun ilmuwan nuklir. Ia tidak menerima nasihat dari siapa pun. Ia mengandalkan satu-satunya manusia kesayangannya, dirinya sendiri, dan sesuatu yang ia yakini lebih tajam dari segala sains di dunia, instingnya sendiri. Maesy mengambil foto tajuk utama koran. Di pinggir foto terlihat jari tengah saya menyembul.

Dari sana kami pergi ke toko buku City Lights. Perjalanan kaki yang cukup jauh tapi membawa kami melihat sore di San Francisco. Kami melewati banyak gelandangan, termasuk di kompek-komplek bisnis utama. Mereka tidak tersembunyi di penampungan-penampungan, mereka muncul menegaskan hak yang sama akan ruang publik kota. Beberapa dari mereka tampil mencolok di jalanan utama, terkadang sambil berpidato tentang suatu hal. Kami berjalan sambil ngobrol soal kota yang makin mahal dan orang-orang lama yang tergeser keluar.

Processed with VSCO with a5 preset

Processed with VSCO with c1 preset

Begitu melihat plang City Lights, juga poster di atasnya, juga jajaran buku di rak dan ruang bawah tanahnya, kami langsung tahu bahwa kami tidak akan keluar lagi sampai malam.  Di atas tokonya terpampang poster wajah-wajah imigran dan ajakan bagi warga untuk mengenal mereka lebih dekat. Kemudian kami tahu bahwa sejak tahun 2000 City Lights menempatkan poster-poster besar di atas tokonya, di salah satu sudut paling sibuk di San Francisco. Poster berisi ajakan-ajakan terkait keadilan sosial. Tentang anti gentrifikasi, pemenuhan hak-hak minoritas. Ini juga sebagai bentuk protes mereka tentang betapa ruang publik telah begitu dibanjiri iklan korporasi yang sedang menjajakan dagangan.

Kami menghabiskan waktu di sana hingga pukul setengah sebelas, beberapa saat sebelum mereka tutup. Saya sempat membaca esai-esai Jessa Crispin tentang kekesalannya pada gerakan feminisme yang dikomodifikasi, kemudian dibuat lembek dan tidak akan menghasilkan perubahan berarti. Saya juga membaca novel Dianne di Prima yang dibuka dengan adegan saat ia bangun tidur dan mendapati dirinya masih telanjang, di sisi pria bernama Ivan, pria kurus dengan kemaluan besar yang kemudian ia ajak bercinta sekali lagi. Saya juga membeli Cannery Row karya Steinbeck karena novel itu berlatar Monterey, kota kecil yang akan kami datangi dalam minggu depan. Hari diakhiri dengan minum milk shake coklat di Lori’s Diner. Kami sedang di Amerika jadi sudah semestinya pergi ke diner dan minum milk shake dengan es krim di atasnya. Maesy meminta saya memfotonya dengan segelas besar milk shake dan wajah yang tersenyum manis.

 

260D012B-D663-4E00-AC70-723032AD9AAA

 

*catatan ini ditulis malam harinya di penginapan. Saat Maesy sudah mengantuk dengan mata cuma segaris. Saya bertekad untuk membuat tulisan cepat setiap hari tentang hal-hal yang kami lihat di perjalanan tiga minggu di Amerika kali ini. Di akhir perjalanan, satu-satunya tulisan yang saya bikin selain beberapa bab naskah novel baru yang aduh jadinya bakal masih lama banget, ya, seperti yang diramalkan, cuma yang ini.

 

Advertisements

2 Comments

  1. entah kenapa, tiap kali Teddy menulis tentang USA, gue selalu terangsang untuk melakukan serangan balik. maka, seperti New York Blues yang dibalas dengan Paris Blues, kali ini gue sedang membalas dengan cerita dari Los Angeles. haha, siap-siap, ya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s