comments 5

New Orleans Joe

America has only three cities: New York, San Francisco, and New Orleans. Everywhere else is Cleveland.  — Tennessee Williams

Saya membuka perlahan pintu putih berkaca bening itu. Ia mengeluarkan bunyi berdecit. Di daun pintu luar terdapat tulisan kecil “Faulkner House Books”. Ruangan itu tidak terlalu besar, dari lantai hingga langit-langit berjajar buku-buku di rak yang terbuat dari kayu pohon cemara. Terlihat karya-karya Flannery O’Connor, Walker Percy, juga Tennessee Williams. Selain sinar matahari yang masuk, ruangan diterangi cahaya kuning dari lampu gantung tua. Di meja kayu di tengah, di antara beberapa judul lain, terdapat buku yang sepertinya beroleh tempat khusus, Soldiers’ Pay karya William Faulkner. Lelaki tua berkaca mata menghampiri saya, jalannya pelan-pelan dengan tubuh sedikit bungkuk.

“Ada buku yang kamu cari?” tanyanya.

Saya belum pernah melihat wajah atau fotonya, tapi saya tahu ialah Joe DeSalvo. Saat saya bertanya untuk memastikan hal itu, ia mengangguk sambil tersenyum. Pada akhir periode 1980-an, Joe dan istrinya, Rosemary James, membeli bangunan apartemen yang saat itu nyaris ambruk. Mereka memugarnya, menggunakan lantai satu untuk toko buku dan lantai atas untuk tinggal. Dan Faulkner House Books berdiri, di gang kecil Pirate Alley, di French Quarter, sudut paling gegap gempita di New Orleans. Seperti banyak toko buku independen lain, Joe dan Rosemary mencintai buku-buku, juga penulis-penulis. Hingga sekarang toko buku mungil mereka menjadi tempat berkumpul para penulis New Orleans, penulis-penulis luar yang berkunjung, juga mereka yang menggemari karya-karya sastra klasik.

Sejarah bangunan tiga lantai ini sebetulnya bisa ditarik jauh ke belakang. Saat itu 1925, William Faulkner, pemuda asal Mississippi, menyewa lantai satunya untuk tinggal. Di sana Faulkner muda menulis, berpesta, bergaul dengan seniman-seniman New Orleans, dan melahirkan Soldiers’ Pay, karya pertama yang membuka jalannya menulis fiksi hingga akhirnya mendapat nobel sastra. Joe dan Rosemary begitu mencintai karya-karya Faulkner. Dulu, saat pertama kali ke New Orleans, Rosemary berkata pada Joe bahwa suatu hari ia akan membeli apartemen di Pirate Alley itu dan membuka toko buku. Mereka mewujudkannya.

new orleans 6

Joe tersenyum senang saat saya memutuskan membeli Soldiers’ Pay. Menurutnya ini bukan karya terbaik Faulkner, tapi di sana mulai tampak keahliannya membuat penggambaran, juga mengolah karakter. Dan untuk yang belum membaca Sound of Fury, ini jelas tidak serumit itu. Saya kemudian bertanya karya-karya lain yang juga ia gemari. Ia menjulurkan Moviegoers karya Walker Percy.

“Percy menceritakan dengan indah bagaimana seorang pemuda menangani zaman yang berubah,“ katanya. Lalu ia menyebut Confederacy of Dunces karya John Kennedy Toole. Saya tadi melihat buku itu di rak depan, Joe bergerak mengambilnya. “Buku ini, bagaimana aku mengatakannya ya…. Ia menyenangkan sekaligus menyedihkan. Dan ia memotret New Orleans dengan baik sekali.”

Saya bercerita tentang Maesy dan betapa ia juga menyukai Confederacy of Dunces.

“Ah, aku langsung suka pada Maesy-mu itu. Bagaimana aku mengeja namanya?” Senyum itu, ia lelaki tua yang lembut.

Pembicaraan beralih pada soal-soal tentang New Orleans. Saya turis yang baru tiba beberapa hari, karenanya tentu terkagum-kagum akan betapa kota ini begitu meriah. Musik di sana-sini, orang-orang yang bergembira di sepanjang jalan, menari dan minum seakan tanpa henti, pada saat cuaca baik, cuaca buruk, bahkan sesudah pemakaman. Dari pagi hingga pagi lagi.

Peter, kawan Joe yang membantunya menjaga toko, ikut bergabung. Kami ngobrol di meja kayu di tengah.

“Kau bicara dengan Joe, orang asli New Orleans yang bangga. Bersiaplah, dia akan menceritakan padamu banyak kisah,” kata Peter. Usianya mungkin lebih muda tujuh atau delapan tahun dari Joe.

Joe dan Peter bergantian bercerita tentang hal-hal di New Orleans yang menyenangkan mereka. Kisah-kisah New Orleans dibangun orang-orang yang datang dari berbagai tempat, Prancis, Afrika Barat, Jamaika, Spanyol. Dengan energi berkreasi meledak-ledak, mereka menciptakan campuran karya yang indah, seperti semangkuk Gumbo yang lezat. Tentu mereka bisa berkata begitu, kota ini telah memberikan kepada dunia Louis Amrstrong, atau Buddy Bolden, atau Sidney Bechet, atau William Faulkner. Di kota ini anak-anak kecil di jalanan tidak akan menyebut cita-cita mereka menjadi dokter, atau polisi, atau pengacara. Mereka ingin menjadi musisi, penulis, pelukis, pemain drama. Saya membayangkan Louis Armstrong kecil yang membeli kornet bekas di Rampart Street, menawar harganya dengan sengit, lalu menenteng-nentengnya dan berlatih di dekat dinding yang dipenuhi grafiti, atau di pinggir sungai Mississippi.

“Dan New Orleans seperti mendorongmu untuk itu, untuk menemukan tempatmu,“ kata Joe. “Kamu tahu, saat Faulkner datang kemari, dia itu penulis puisi. Di sini ia ketemu Sherwood Anderson yang mendorongnya menulis fiksi. Sherwood Anderson juga yang mengirim Soldiers’ Pay ke penerbit.“

“Dan beruntunglah dunia, karena puisi-puisi Faulkner jelek,” kata Peter sambil tertawa.

“Dan orang-orang New Orleans ini,” kata Peter lagi, “perhatikanlah, saat beraksi mereka seperti sedang di dunia lain.”

Mungkin ini tipikal orang tua yang meromantisir segala sesuatunya, mungkin juga tidak. Saya teringat kelompok musisi jalanan di Royal Street yang saya lihat sore sebelumnya. Pemimpin mereka, peniup trumpet berbadan kurus dan jangkung, meniup trumpetnya seperti dirasuki arwah musisi nyentrik yang sudah lama mati. Badannya sesekali terbungkuk-bungkuk seperti lengkungan huruf C, pada waktu lain perutnya ia busungkan seperti nyaris kayang, dan matanya selalu terpejam. Saat anggota band lainnya beraksi, ia menari-nari dengan tangan berkibas-kibas dan kepala menengadah. Matanya terbuka menatap langit biru cerah di atas, seolah ia bisa melihat surga dan bisa mencapainya dengan sekali lompat saja. Dan di bibirnya, di sana tersungging senyum. Si peniup trumpet, ia ada di suatu tempat yang lain.

new orleans 3

Ini kota para eksentrik, di hampir semua bidang. Seorang juru masak akan menyodorkan sepiring kepiting kepadamu lalu berkata sambil mengerling,

“Kau tahu, dulu kepiting ini bernama Edward.”

Bahkan politisi nyentrik pun ada, dan dikenang lama oleh warga kota. Dulu ada calon walikota bernama Rodney Fertel yang berkampanye dengan satu isu utama saja: bahwa kebun binatang Audubon perlu punya gorila! Ia berkampanye keliling kota bersama lelaki berkostum gorila yang ia kenal di perayaan Mardi Gras. Di keramaian, si lelaki berkostum memukul-mukul dadanya sendiri, sementara Rodney berteriak-teriak,

“Untuk apa kalian memilih monyet-monyet itu, hah? Kalian bisa memilih Fertel dan dapat gorilla betulan!”

Rodney Fertel kalah, tentu saja, tetapi ia tetap mendatangkan gorila ke New Orleans lalu menyumbangkannya ke kebun binatang Audubon.

“Lihat, aku satu-satunya calon walikota yang memenuhi janji kampanyeku, padahal aku kalah,” begitu Rodney Fertel berkata.

Kami terus berbicara hingga sore saat Joe berkata ia harus pergi menemui seorang kawan. Saya mohon pamit dan membayar beberapa buku. Peter membuka laci kayu dan mengeluarkan kwitansi. Mereka begitu menjaga suasana masa lalu toko buku kecilnya; perabotan tua, karya-karya yang akan bertahan menembus waktu, dan kwitansi kertas yang ditulis tangan. Tidak ada komputer tempat mencatat pembukuan atau memeriksa persediaan. Mesin penggesek kartu kredit pun tersembunyi untuk tidak merusak suasana. Dan tidak ada pernak-pernik.

“Tunggu dulu.” Joe berkata sebelum saya beranjak.

Ia mengambil buku Confederacy of Dunces, membuka halaman pertama, lalu menuliskan sesuatu di sana. Tangannya agak gemetar saat menulis. Usia sudah menggerogoti Joe tua. Ia menyerahkannya dan meminta saya memberikan buku itu kepada Maesy. Di halaman pertama ia menulis,

“Untuk Maesy. Salam dari toko buku kecilku, untuk sesama pencinta buku.”

Saya berterima kasih dan memandang haru kepadanya. Peter berdiri di sebelahnya, tersenyum lebar. Joe bercerita buku itu nyaris tidak pernah terbit. Penulisnya bunuh diri pada 1969 karena tak satu penerbit pun mau menerbitkannya. Ibu si penulis, Thelma, mengenang si anak dengan bersikeras menawarkan naskah itu dari satu penerbit ke penerbit lain. Hingga akhirnya, sebelas tahun kemudian, sebuah penerbit kecil universitas mau menerbitkannya sebanyak 800 eksemplar saja. Setahun kemudian buku itu mendapat hadiah Pulitzer, barulah 1.5 juta eksemplar dicetak dan dibaca luas.

Kembali Joe menahan saat saya hendak pamit. Ia lalu berjalan ke lantai atas. Jalannya perlahan-lahan dan terbungkuk-bungkuk. Sejenak saya takut ia terjerembab.

“Sepertinya ia menyukaimu,” kata Peter kepada saya lagi.

Joe kembali turun, napasnya terengah-engah. Ia menyerahkan sebuah benda kecil kepada saya, sebuah gantungan kunci kecil berwarna perak berbentuk buku. Buku William Faulkner, tentu saja, Soldiers’ Pay. Ia berkata toko bukunya hampir tidak pernah membuat cendera mata, tapi dulu ia pernah membuat beberapa gantungan kunci seperti ini, dan ia masih punya beberapa di kamarnya.

Saya tak tahu bagaimana mesti berterima kasih padanya, jadi saya memeluknya. Joe tersenyum dan kembali menitipkan salam untuk Maesy.

New orleans 5

Saya menjauhi Faulkner House Books. Katedral St. Louis ada di belakang, dengan ujung menaranya yang lancip dan matahari sore yang membuatnya berwarna kekuningan. Kembali terbayang obrolan-obrolan dengan Joe, Peter, juga kecintaan mereka pada New Orleans. Saya berpikir, turis mungkin melihat New Orleans dan takjub akan energinya yang besar. Tapi untuk Joe, Rosemary, juga Peter, New Orleans adalah rumah, dan kecintaan mereka tumbuh bersama waktu, bersama keseharian, menjadi kedekatan yang begitu pribadi. Dan seperti hubungan seseorang dengan rumahnya, ini hubungan yang terkadang rumit. Kami sempat berbicara tentang musibah Katrina pada 2005. Musibah yang membuat New Orleans terluka parah. Saat itu New Orleans tentu bukan persinggahan para turis. Mereka yang menjadikannya rumahlah yang tetap di sana, mengais yang tersisa, dan berusaha bangkit kembali. Faulkner House Books beruntung hanya mengalami kerusakan kecil. Saat itu, penduduk New Orleans berusaha bangkit melalui kebisaan mereka masing-masing. Joe dan Rosemary mengundang para penulis yang memiliki keterhubungan khusus dengan New Orleans untuk menuliskan kisah-kisah mereka, tentang kecintaan mereka kepadanya. Sebuah tribut untuk kota mereka. Antologi itu berjudul My New Orleans, disunting oleh Rosemary. Beberapa berkisah bagaimana kota ini berkontribusi pada penciptaan karya mereka (musisi Jazz Wynton Marsalis juga ikut menulis!), atau tentang percakapan dengan penari di Bourbon Street, atau cerita-cerita sederhana seperti menemani anjing berjalan di sepanjang sungai Mississippi.

Saya berjalan memasuki Frenchmen Street yang riuh, dengan musik jazz, reggae, country, terdengar dari barisan kafe. Saya berpapasan dengan orang-orang yang tertawa lepas, atau menggerutu, atau terhuyung-huyung, atau sedang jatuh cinta. Saya teringat sebuah tulisan Elizabeth Dewberry berjudul Cabaret Stories. Ia berkata New Orleans adalah tentang fantasi, tentang gairah dan kesadaran akan hidup yang terbatas, dan tentang bagaimana orang-orang di dalamnya menyikapi itu. Di Frenchmen Street saya berpapasan dengan turis, musisi jalanan, penyair jalanan, peramal, penjaga bar, gelandangan, pasangan bulan madu. Semua tentu memiliki fantasinya, memiliki cerita pribadinya tentang New Orleans, dan sebagian besar adalah kisah atau fantasi yang tidak akan tertuliskan. Saya menggenggam gantungan kunci dari Joe di kantung celana saya, dan memikirkan fantasi yang ia miliki, yang juga ia rawat dengan telaten sekali.

“New Orleans Joe” pertama kali ditulis untuk iwashere.id

 

new orleans 4

Advertisements

5 Comments

  1. Dulu ketika masih belajar Fisika di bangku kuliah, suatu waktu kami belajar mengenai frekuensi alami, suatu frekuensi yang secara alamiah dimiliki oleh sistem apapun dimana osilasi yang terjadi bukanlah merupakan akibat/reaksi dari gaya eksternal. Jika salah perhitungan, frekuensi alami ini bisa menyebabkan sebuah jembatan kokoh meliuk-liuk seolah-olah badannya terbuat dari karet, bukan baja. Tapi di kala tertentu frekuensi alami ini bisa menjadi indah.

    Saya pas baca postingan ini entah kenapa teringat mengenai frekuensi alami, karena di hari itu ketika kamu berkunjung ke toko buku milik Joe DeSalvo seolah-olah frekuensi alami kalian beresonansi sehingga yang terasa adalah kehangatan dan kebaikan yang saling bertautan dan bersautan satu sama lain. Suatu peristiwa yang menurut saya agak jarang terjadi.

  2. Walaupun nggak ngerti-ngerti amat, gua suka komentarnya Bama :))

    New Orleans kalo di sini agak mengingatkan pada Bandung atau Jogja gitu ya..

    Pengen ah suatu hari ke sana :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s