comments 7

Memperkenalkan Semasa

Semua dimulai dari sebuah kedai kopi yang kami datangi pagi-pagi sekali, di mana kantung mata barista seperti menyimpan biji kelereng akibat pesta semalam yang terlalu menggila. Kami duduk di sudut, berbicara ke sana kemari, berdua saja. Saya baru saja mengeluh soal naskah tulisan yang tak kunjung tuntas saat perhatian kami tertumbuk pada esai foto di majalah yang tergeletak di meja. Esai itu berjudul Memory Lane, tentang perjalanan darat jarak jauh sebuah keluarga dan kenangan-kenangan masa kecil. Ia ditulis dengan penuh nostalgia, dengan foto-foto yang menyejukkan hati. Ada dua bocah yang mendongak ke langit dari kaca belakang sedan tua. Ada foto bocah-bocah yang sama yang tertawa-tawa saat bersembunyi di bawah mobil dalam suatu permainan. Ada pula foto mereka main-main di sungai yang disinggahi di sela perjalanan. Kami membayangkan mereka saudara kandung, atau sepupu, atau kawan yang menjadi dekat karena orang tua masing-masing bersahabat.

Kami teringat masa kanak-kanak kami sendiri, tentang jok belakang kendaraan yang berantakan oleh remah makanan, permainan dalam mobil untuk menghabiskan waktu, atau tangan yang terjulur di jendela seolah ia burung kecil atau pesawat terbang. Kami membicarakan teman-teman lama, juga sepupu-sepupu, dan saling bertanya di mana mereka sekarang. Beberapa masih berkontak, sebagian besar jarang, atau tak berhubungan sama sekali. Kalian mungkin memiliki ceritamu sendiri, orang dekat di masa kanak-kanak yang bersama waktu perlahan merenggang, untuk kemudian tak berhubungan lagi, atau saat bertemu obrolan tidak bergerak ke mana-mana dari cerita nostalgia belaka.

Foto-foto bocah gembira itu menerbitkan sebuah bangunan cerita di kepala kami. Bagaimana kemesraan kanak-kanak itu akan berkembang bersama waktu? Saat ini mungkin mereka sudah dewasa, apakah mereka masih dekat satu sama lain? Atau menjadi sosok asing yang berjarak? Pribadi yang sama sekali berbeda? Salah satu foto menampilkan bocah lelaki yang bersiap melompat ke sungai sementara bocah perempuan berdiri canggung di atas batu di belakangnya dengan wajah cemas, mungkin takut terpeleset. Bocah lelaki sepertinya saudara tua yang tangkas sementara si perempuan adalah adik yang penggugup.

Kami berandai-andai tentang bagaimana mereka tumbuh besar. Bagaimana jika Sachi, begitu kami menamai si gadis kecil, keluar dari bayang-bayang Coro si kakak sepupu yang gesit, lalu menjalani hidupnya sendiri. Apa-apa yang dilakukan Sachi saat tumbuh dewasa, bagaimana Coro melihat Sachi, si adik sepupu canggung yang perlahan menemukan sayapnya. Lalu bagaimana Coro memandang hidupnya sendiri yang – kami andaikan – semakin ringsek.

Bagaimana jika mereka kami bawa ke dua puluh tahun sesudahnya dan bertemu kembali setelah terpisah lama? Bagaimana mereka melihat kedekatan masa lalunya, di mana tempat kenangan masa kecil itu dalam diri mereka kini? Di hari-hari sesudahnya, kami bersemangat untuk membangun cerita untuk kedua bocah itu. Hubungan mereka terhadap satu sama lain, juga dengan orang-orang di sekitarnya: Bapak, Bibi Sari, Paman Giofridis. Melalui kelompok kecil ini kami mencoba melihat hubungan sederhana yang kerap menjadi demikian rumit itu: keluarga. Ide soal keluarga sering kali ditelan mentah-mentah, seolah akan terus ada tanpa mesti dirawat. Bagaimana ia berdiri saat berhadapan dengan kenyataan-kenyataan? juga pilihan-pilihan?

Apa hal yang mendekatkan orang-orang dalam keluarga? Bagaimana jarak pelan-pelan tercipta? Ini, kami pikir, sering kali tidak mudah dijawab. Dalam salah satu bagian, Coro menulis:

Aku kembali teringat percakapan semalam, dan memikirkan mengapa aku menarik diri dari Bapak. Ini jenis soal yang tak bisa betul-betul kuuraikan, baik sebab atau kapan dimulainya. Seperti karat di pipa ledeng yang tiba-tiba saja ada, kemudian melebar dan semakin melebar. Seperti bercak cokelat gelap tanda penuaan di wajah yang muncul begitu saja, dan perlahan bertambah. Satu, dua, tiga, empat. Tak seorang pun betul-betul memikirkannya.

Keutuhan sebuah keluarga kerap dijaga oleh simbol-simbol. Makan malam tahunan di hari raya, kunjungan rutin ke makam leluhur, tradisi saling memaafkan, dan lain-lain. Apa yang dilakukan kedua bocah saat diharuskan mengucapkan selamat tinggal pada rumah masa kecil mereka? Rumah masa kecil, simbol kedekatan masa lalu yang tersisa. Bagaimana mereka mengucap selamat tinggal pada tempat di mana mereka melakukan kenakalan kanak-kanak, berbagi kegembiraan, juga bersedih bersama saat tragedi kecil terjadi? Tempat terakhir di mana kenangan akan kedekatan masa lalu diikat dengan tali yang semakin lama semakin aus.

Kami menulis, menulis, menulis. Mengenal kedua bocah lebih dekat, mengikuti mereka tumbuh dewasa, merasakan apa-apa yang menggerakkan emosi mereka, dan perlahan mulai menganggap mereka sebagai kawan dekat kami sendiri. Mungkin karena belakangan kami membaca banyak prosa dengan tokoh-tokoh yang eksentrik, juga kehidupan yang bombastis, kami lebih senang membayangkan kedua bocah, juga orang-orang di sekitar mereka, sebagai sosok-sosok yang sederhana saja, yang menjalani hidup dengan lurus tanpa kelokan yang spektakuler. Bukankah sebagian besar dari kita juga begitu? Menjalani kehidupan yang terlihat biasa-biasa saja, walau di titik yang paling pribadi, permasalahan-permasalahan keluarga selalu saja rumit. Mungkin cerita-cerita ini yang ingin kami sampaikan, narasi pribadi orang kebanyakan dengan kehidupan yang tidak hendak dijalani secara dramatis. Seperti salah satu perbincangan Coro dan Sachi di suatu tengah malam.

“Menurutmu, Coro, apa kita akan tergerak membeli rumah itu sendiri? Maksudku, bapakmu tentu senang kalau kamu yang akhirnya mengurusnya.”  

“Kurasa tidak. Aku ini lebih kere dari babi. Kau sendiri, memangnya punya uang?”

“Tidak juga.”

“Itulah. Lagi pula, hal-hal heroik seperti itu klise sekali.”

Di awal bulan Desember lalu — bulan yang intim itu — Semasa selesai ditulis. Seperti karya yang lain, menulis Semasa juga menjadi proses menyenangkan yang akan kami kenang dengan manis. Ia berisi malam-malam menulis, bertengkar, lalu saling mendiamkan, untuk kemudian bicara tenang-tenang, lalu menulis lagi. Perjalanan yang mendekatkan kami, juga membantu kami memahami hal-hal yang terjadi di sekitar keluarga kecil kami sendiri.

Beberapa hari lagi Semasa akan terbit dan bisa teman-teman baca. Semoga cerita Coro, Sachi, Bapak, Bibi Sari, dan Paman Giofridis dapat menjadi dekat di hati teman semua, seperti halnya mereka menjadi kawan-kawan yang hangat untuk kami dalam dua tahun terakhir ini.

20180108-Semasa-final (1)

 

 

* Kami mengucapkan terima kasih kepada para pembaca awal Semasa: Bram Hendrawan, Dewi Kharisma Michellia, Ibnu Najib, Mahwari Sadewa Jalutama, Syarafina Vidyadhana, dan Yuki Anggia Putri. Terima kasih khusus untuk Dewi Kharisma Michellia yang telah menyunting naskah kami, Lody Andrian dan Hengki Eko Putra untuk desain sampulnya, Mahwari Sadewa Jalutama untuk foto-foto yang menjadi ilustrasi , serta Wijaya Eka Putra yang percaya bahwa cerita ini layak diterbitkan dan dibaca.

 

** Foto depan diambil oleh Mahwari Sadewa Jalutama

 

*** Jika di akhir pekan sedang di Jakarta, Semasa bisa ditemui di toko buku POST di Pasar Santa. Ia juga bisa dipesan di toko-toko buku independen lain seperti Dema Buku (WA 08588144998), Stanbuku (089614676965), Kedai Boekoe (WA 085891444731), Mojokstore (087845801366) dll.

Advertisements

7 Comments

  1. aaah, turut bahagia buat kalian, Teddy dan Maesy, tersayang.
    semoga Semasa menjadi anak kedua yang manis dan asyik dikenang sepanjang masa. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s