comments 4

Menyapa Ia yang Melampaui Jamannya

Kereta malam menuju Semarang mulai berjalan perlahan meninggalkan stasiun Senen. Kami berlima duduk di gerbong bisnis dengan mata benderang membayangkan perjalanan empat hari ke depan. Setiba di Semarang nanti, kami berencana untuk langsung menuju Jepara, tanah yang juga dikenal sebagai Bumi Kartini. Sebuah obrolan kopi beberapa waktu lalu membawa kami pada pembicaraan mengenai hari Kartini April nanti. Obrolan yang juga menyadarkan betapa tak banyak hal yang kami ketahui mengenai sosok Kartini selain bahwa ia adalah wajah sejuk berkebaya yang berjasa membuat perempuan Indonesia melek pendidikan. Obrolan kopi itu disudahi dengan kesepakatan bahwa kami akan membaca lebih banyak mengenai beliau, pemikiran-pemikirannya, jalan hidupnya, hingga kontroversi akan sosoknya. Kami pun berkeinginan untuk mengunjungi jejak beliau di dua tanah yang begitu berarti untuknya, Jepara dan Rembang. Maka di sinilah kami, di kereta malam menuju Semarang, dengan surat-surat Kartini di tangan, saling berbincang akan sosoknya.

*

Kami adalah generasi yang dibesarkan di periode tahun 80-90an. Seperti kawan-kawan seusia di masa itu, tanggal 21 April adalah hari di mana kami berbaris tertib dalam sebuah upacara bendera dan memberi hormat kepada sosok ibu berkebaya dengan wajah sejuk yang fotonya dipajang di dekat tiang bendera. Kartini, begitu namanya. Konon beliau adalah inspirasi bagi segenap perempuan Indonesia. Beliaulah yang berjasa sehingga setiap perempuan Indonesia dapat lepas dari belenggu untuk dapat mengenyam bangku pendidikan. Ia adalah pahlawan yang jasanya tak ternilai untuk kemajuan kaum perempuan. Karenanya hari lahirnya diperingati sebagai hari tersendiri.

“Bahkan Hatta, Sjahrir, Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, dan lain-lain tidak memiliki hari sendiri!“ tukas Fani, kawan perjalanan yang berambut keriting lebat sambil meluruskan kakinya.

Kartini begitu khusus, begitu mulia. Ia bukan pahlawan sekedar pahlawan. Seperti kawan seusia dahulu, kami pun tumbuh tanpa banyak bertanya. Kami meyakininya begitu saja. Begitulah hal-hal seharusnya berjalan, begitu kami berpikir.

“Di masa itu yang kulakukan hanya upacara, memberi hormat kepada fotonya, menonton lomba busana Kartini, dan sudah, urusan selesai,” kali ini Indah yang duduk di seberang saya ikut menambahkan.

Bersama era reformasi yang mengisi masa pendewasaan kami, kami pun ikut hanyut dalam gelombang masyarakat yang semakin kritis, berani bersuara, dan terbuka akan berbagai berpendapat. Jiwa kritis dan pemikiran yang mendalam tidak hanya milik sebagian kecil kalangan terdidik yang beruntung, ia bisa dimiliki oleh siapa saja. Kami bisa memilikinya, setiap orang bebas mengekspresikannya. Ide tentang Kartini pun ternyata adalah sesuatu yang kerap diperbincangkan. Mereka yang kritis mulai mempertanyakan layakkah Kartini diangkat sebagai pahlawan yang begitu khusus? Atau bahkan, layakkah ia untuk menyandang gelar pahlawan? Gugatan-gugatan akan kepahlawanan Kartini seperti yang dilakukan Harsja W. Bachtiar tahun 1979 melalui tulisannya yang berjudul “Kartini dan Peran Wanita dalam Masyarakat Kita” semakin banyak diperbincangkan. Dan mereka bertanya bukan tanpa alasan yang kuat.

Kartini bikinan Belanda! Begitu para pengkritik menukas. Narasi mengenai Kartini konon disebut hanyalah buatan Belanda semata. Kartini menjadi begitu fenomenal hanya sesudah surat-suratnya yang penuh kekerasan hati itu diterbitkan oleh JH Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku yang menggetarkan itu, dan juga sosok Kartini, menjadi media propaganda politik etis Belanda sehingga pemerintah yang berkuasa di Belanda bisa berkata kepada kaum oposisi dan dunia bahwa mereka, para kolonialis itu, telah melahirkan sosok tercerahkan di bumi jajahannya.

Kartini tidak benar-benar berbuat banyak, begitu mereka yang mempertanyakan kepahlawanan Kartini menambahkan. Ia memang sempat mendirikan sekolah, namun hanyalah sebuah sekolah kecil di Jepara dan Rembang. Sekolah yang tak sempat bertahan lama karena ia harus menerima nasib meninggal dunia pada usia yang belia, 25 tahun. Orang kerap membandingkannya dengan Dewi Sartika yang pada masa yang sama juga mendirikan sekolah untuk perempuan Indonesia yang berkembang jauh lebih pesat dibandingkan sekolah yang didirikan Kartini. Ia juga dibandingkan dengan Rohana Kudus di Padang, yang selain mendirikan sekolah juga merupakan wartawati pertama Indonesia yang lantang menentang poligami dan penjajahan. Saat kesadaran Kartini akan nasib perempuan lebih banyak dituangkan dalam korespondensinya dengan teman-temannya di Belanda, Dewi Sartika dan Rohana Kudus berbuat dan mengaplikasikan pemikirannya. Namun keduanya selalu tenggelam dibawah bayang-bayang nama besar Kartini.

“Konon Kartini lebih dipilih Belanda untuk digembar-gemborkan karena ia dianggap relatif lebih lunak terhadap Belanda. Kritiknya terhadap pemerintah kolonial kebanyakan hanya ada di surat-suratnya. Itupun sengaja disembunyikan saat buku kumpulan suratnya diterbitkan J.H. Abendanon,“ Ujar Gypsytoes.

Kepahlawanan Kartini pun disebut tidak benar-benar teruji. Saat dihadapkan kepada pilihan-pilihan sulit Kartini surut. Saat ditekan J.H. Abendanon untuk tidak melanjutkan sekolah ke Belanda walau beasiswa sudah di tangan, Kartini tidak berontak. Kartini tidak melawan, ia hanya bersedih dan takluk. Sang pejabat Belanda yang selama ini dianggap kerabat dekat oleh Kartini ternyata adalah orang yang memupus harapannya. Saat keinginan bersekolah ke Batavia juga terpaksa tak terkabul karena keharusan menikah dengan Bupati Rembang, Kartini juga menurut. Keputusan menikah ini pun dianggap kesalahan fatal. Kartini yang merupakan pejuang hak-hak perempuan ternyata bersedia dimadu. Seorang pahlawan adalah mereka yang menabrak segala pintu baja yang menghalanginya. Mereka adalah orang yang ditekan namun tetap berdiri tegak. Hatta ditawan berkali-kali namun tak surut dalam berjuang, Sjahrir menghadapi segala hujat dan ancaman namun tak mundur setapakpun dalam memperjuangkan cita-citanya. Pahlawan adalah mereka yang tak surut oleh segala ketidakmungkinan. Kartini dianggap gagal melewati ujian-ujian itu.

“Itu argumen-argumen yang kuat dan membuatku lumayan ragu. Mengingat semua itu, ia tetap layak disebut pahlawan atau tidak ya?” Afra, kawan yang duduk dekat jendela,  bertanya.

Penjual mie rebus datang menyelamatkan kami yang sedari tadi kelaparan. Walau tidak terlalu sehat, mie rebus adalah makanan maha nikmat di malam-malam seperti ini. Setelah mangkuk mie tandas dan kami mulai menyeruput teh panas, diskusi dilanjutkan.

Kami berlima sepakat bahwa kritik-kritik itu bisa sangat berdasar dan tentu sah-sah saja. Apakah Kartini layak untuk disebut pahlawan atau tidak adalah sesuatu yang sangat bisa diperdebatkan dan setiap orang bisa memiliki opininya. Namun di atas persoalan itu tak seorang pun diantara kami menyangkal betapa Kartini adalah sosok yang jauh melampaui jamannya. Membaca surat-suratnya, kita akan melihat sebuah karya tulis nan indah. Surat-surat yang menunjukkan betapa keawasan Kartini akan isu-isu sosial di sekitarnya jauh melebihi usia dan jamannya. Surat-suratnya sarat emosi, kesedihan, kesenangan, ketakutan, kekecewaan, putus asa, dan harapan. Ia tidak hanya berbicara mengenai pendidikan kaum perempuan namun juga sikapnya akan feodalisme, poligami, kesehatan ibu dan anak, ekonomi masyarakat, seni, dan banyak lagi. Ia adalah pribadi yang menolak pembedaan manusia hanya karena status sosial atau jenis kelamin. Terhadap tata cara feodal yang ruwet dan membelenggu ia menulis kepada Estelle Zeehandelaar, salah satu sahabat penanya di Belanda, “Peduli apa aku dengan segala tata cara itu. Segala aturan itu bikinan manusia dan menyiksa diriku saja.” Sungguh progresif untuk jaman di mana perempuan terkurung jauh di belakang dan di mana derajat manusia ditentukan dari siapa ia dilahirkan.

Kartini mungkin tidak sempat melanjutkan pendidikan, ia mungkin tidak sempat memperbesar sekolah untuk kaum perempuan, namun pemikiran dalam tulisannya adalah warisan yang menggerakkan begitu banyak perempuan untuk bergerak dan memperjuangkan haknya. Ia menjadi inspirasi untuk Sujatin Kartowijono, salah seorang aktivis perempuan yang menginisiasi kongres perempuan pertama di Indonesia tahun 1928, salah satu tonggak perjuangan persamaan hak di Indonesia. Ia mungkin tidak membangun sekolah secara langsung sebanyak Dewi Sartika, ia mungkin tidak berperang dengan gagah berani seperti Cut Nyak Dhien, namun tulisan-tulisan Kartini telah berbicara begitu banyak. Ia berbicara kepada begitu banyak perempuan, kepada begitu banyak generasi, tentang hak-hak perempuan, tentang persamaan, tentang kemanusiaan. Ia menjadi inspirasi gelombang tuntutan untuk persamaan hak-hak perempuan. Dan inilah warisan terbesarnya. Ia memiliki warisan yang tidak banyak dimiliki tokoh pejuang perempuan lain pada jaman itu, tulisan. Tidak sekedar tulisan, namun tulisan-tulisan yang membius, memprovokasi, dan mengispirasi.

Mengenai gelar pahlawan, ah toh itu adalah gelar yang disematkan orang lain belaka. Kartini sendiri mungkin tidak terlalu peduli akannya, sebagaimana ia tidak gemar akan segala tetek bengek feodal itu.

*

Kereta malam masih berjalan kencang menembus malam. Masing-masing dari kami memegang buku yang berisikan surat-surat beliau. Kami saling membaca dan terkesima akan keindahan tuturnya dan terutama akan kemajuan pemikirannya. Kami makin meyakini bahwa terlepas dari segala gugatan akan kepahlawanannya, ia tetap adalah sosok perempuan luar biasa yang telah menjadi inspirasi bagi begitu banyak orang. Sungguh ia layak untuk mendapatkan tempat yang indah di hati. Tempat untuk sosok perempuan luar biasa yang jauh melampaui jamannya. Sungguh ia layak untuk mendapatkan penghormatan yang jauh lebih dari sekedar lomba berkebaya, bersanggul, atau upacara bendera. Pemikirannyalah yang harus dirayakan, bukan cara berpakaiannya.

Pukul tiga dini hari kami tiba di Semarang. Kami langsung meluncur dengan kendaraan sewaan menuju Jepara dan tiba tepat saat matahari terbit. Kami siap memulai perjalanan untuk melihat denyut Kartini di kota yang begitu dekat di hatinya ini.

Twosocks

Catatan ini adalah artikel kedua dari Seri Tur Kartini, inisiatif kolaborasi The Dusty Sneakers dan Pamflet, organisasi anak muda yang berbasis di Jakarta, untuk mengenal sosok dan pemikiran Kartini lebih jauh dengan melakukan perjalanan ke Jepara dan Rembang. Kumpulan catatan perjalanan Tur Kartini dapat diunduh di sini.

Advertisements

4 Comments

  1. Oh coba saya bisa ikut diskusi ini. Mungkin kepahlawanannya terletak di pemikirannya dan tulisannya, dibandingkan pembelaannya terhadap bangsa kita. Seperti kata Pramoedya “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

    Siapa lagi kah penulis wanita zaman itu? mungkin tidak ada maksudnya untuk menulis buku, tapi kita bisa belajar banyak tentang keadaan waktu itu dari surat2nya. Memang tidak bisa dibantah kalau kesanggupannya menulis dan memiliki pemikiran2nya karena dilahirkan dikeluarga tingkat atas, a luxury, rather than gained. Dalam sisi lain kebanyakan pemikir terkenal didunia pun lahir dari having the luxury to think. Yang kebanyakan tak dimiliki rakyat zaman itu, mereka cuman punya waktu untuk memikirkan bagaimana cara bisa survive. Wah.. sorry jadi terlalu ngelantur. Ditunggu update selanjutnya.

    • Hi Andine! Penulis perempuan zaman itu ada Rohana Kudus, beliau wartawan perempuan pertama Indonesia. Iya, waktu itu kami juga bicara2 ttg siapa yg pada masa itu memiliki pemikiran demikian maju yg tidak berasal dari golongan menengah ke atas dan belum ketemu. Rohana Kudus pun juga dari kalangan pemikir2 besar kita, ia kakak tiri Sutan Sjahrir, sepupu Agus Salim, dan bibi dari Chairil Anwar.
      O iya, mengenai kutipan Pramoedya itu, kebetulan banget, baru2 ini Gypsytoes menemukan notebook dengan kalimat itu dan juga menggunakannya dalam salah satu tulisan Kartini yg dia buat 😀

      • oh iya? saya tidak sadari kalau mereka dalam masa yang sama, saya pikir Kartini lebih dahulu. Saya kemarin mengunjungi Amai Setia tapi belum pernah baca karyanya. Kalian sudah?

  2. Waah kami belum pernah ke Amai Setia! Kami baru2 ini berhasil ketemu biografi beliau, namun belum mulai membacanya. Siapa tahu bisa menjadi kegiatan berikutnya sesudah Kartini 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s