comments 15

Cerita dari Puerto Princesa tentang Mereka yang di Balik Tembok

Sekumpulan petani mengerjakan sawah yang hijau menghampar, bapak paruh baya mengantar anaknya ke sekolah melewati pria yang membersihkan parit, sekelompok pemuda membuat kerajinan tangan, sedangkan yang lain duduk-duduk melihat kawannya yang berlatih menari hip hop. Aktivitas dimulai dengan biasa di sini selayaknya pemukiman pinggir kota lainnya. Kecuali bahwa ini bukan pemukiman biasa. Ini sebuah penjara.

Iwahig Prison and Penal Farm, sebuah kompleks penjara sedikit di luar kota Puerto Princesa, Filipina. Ini bukan penjara biasa, di sini para narapidana tidak dikurung sepanjang hari. Di hari terang mereka diperbolehkan luntang luntung di dalam areanya yang luas. Sebuah area yang dipenuhi hamparan sawah, perkebunan, serta pemandangan barisan gunung di sekelilingnya. Sebagian besar diajak bekerja di sawah dan kebun milik penjara. Sebagian yang lain diajarkan membuat kerajinan tangan yang kemudian dijual. Hanya mereka yang digolongkan dalam maximum security yang dikurung sepanjang hari.

Konon pada tahun 1906, John R. White, kepala penjara saat itu, muncul dengan ide memberdayakan para tawanan untuk mengerjakan lahan pertanian demi membantu pasokan bahan makanan penduduk Puerto Princesa. Hari ini, lebih dari seratus tahun kemudian, ide ini masih berlanjut. Para tawanan masih bekerja untuk menghasilkan produk pertanian dan kerajinan. Sebuah persentase yang dianggap layak dari hasil penjualan diberikan kepada mereka sesuai hasil kerjanya.

“Mereka dulu pernah berbuat buruk kepada masyarakat – mencuri, membunuh, dan macam-macam. Kurasa salah jika dana para pembayar pajak dihabiskan besar-besar untuk biaya penahanan mereka. Paling tidak dengan bekerja begini, selain bagus buat mengisi waktu, mereka ikut mambantu pasokan makanan penduduk dan ikut menyumbang biaya makan mereka sendiri,” Ujar Ramirez, salah satu penjaga.

Dan apa yang saya lihat di sana memang terkadang tidak mirip sebuah penjara. Ia seperti sebuah perkampungan kecil. Tidak ada dinding tinggi berkawat duri, tidak ada lorong gelap pekat yang mencekam. Saat bangun dari tidurnya, para napi melihat hamparan sawah dan gunung, lapangan olah raga, dan aktivitas pekerjaan untuk mengisi hari. Pagar penjara berdiri jauh di luar pandangan. Kita mungkin baru sadar bahwa ini adalah penjara saat melihat seorang penjaga dengan senjata berjaga dalam jarak pandang setiap kelompok napi minimum dan medium security yang beraktifitas. Sebagian napi kategori minimum security bahkan diperbolehkan berkeliaran di dalam kompleks tanpa harus ada penjaga dalam jarak pandang.

Tampaknya sebagian napi memang telah menganggapnya kampung sendiri. Di sisi timur areal penjara terdapat perkampungan untuk para mantan napi. Di sini mereka diperbolehkan membeli areal rumah dan petak sawah dengan perjanjian bagi hasil yang meringankan. Banyak dari mereka memboyong keluarganya untuk tinggal di sana. Di dalam kompleks luas ini bahkan ada sekolah untuk anak-anak para mantan napi dan pegawai penjara. Sandy, seorang terpidana enam tahun hukuman yang saya temui pagi itu, bercerita bahwa ia akan bebas setahun lagi. Ia bahkan telah memboyong keluarganya untuk tinggal di areal perkampungan para mantan napi itu sejak enam bulan lalu.

Penjara ini pun ramah untuk pengunjung. Jam berkunjung dibebaskan dari pagi hingga pukul lima sore, bahkan ia dibuka untuk turis yang ingin sekedar melihat aktifitas penjara dan membeli kerajinan buatan para napi. Pemeriksaan pada pengunjung pun bisa dibilang tidak ada sama sekali. Saat pagi itu saya datang sendiri dengan motor sewaan, tak sedikit pun tas yang saya bawa diperiksa. Cukup mengisi buku tamu di pintu depan, saya bisa melenggang masuk untuk melihat-lihat mereka yang bekerja di sawah atau berbicara dengan kelompok-kelompok napi di dekat area olah raga. Saat itu masih pagi sekali, belum satu pun pengunjung yang ada di sana. Karenanya saya bisa omong-omong dengan leluasa dengan Sandy, Baron, Thomas, dan beberapa yang lain. Banyak hal-hal remeh yang kami perbincangkan, namun tak terhindarkan beberapa yang personal juga muncul. Hal-hal yang masih saya kenang jauh sesudahnya.

“Dulu saat aku ditangkap karena mencuri, hidupku rasanya rusak betul,“ kisah Sandy. “Proses penangkapannya, ketakutan akan bayangan penjara, malu kepada keluarga dan anakku yang masih kecil, macam-macam. Tahun pertamaku di sini berat, tapi lama-lama terbiasa juga, Di sini aku belajar bikin kerajinan, berkebun, bahkan menari hip hop buat hibur-hibur turis.”

“Dan terutama karena si Baron ini,“ lanjutnya sambil menunjuk temannya. “Dia ini jauh lebih rusak. Dulu dia tusuk orang sampai mati, karenanya dia musti di sini delapan belas tahun. Aku jadi merasa mendingan, hahaha… Dia ini baik, sering bikin aku semangat. Bahkan Baron yang menyarankan untuk memboyong keluargaku ke sini daripada hidup mereka tidak jelas di kota sana.”

Baron, pria kurus penuh tato ini rupanya cukup disegani di sini. Saat ia berbicara, napi-napi lain yang biasanya ribut mulai diam-diam saja. Ia bercerita dulu ia memang jahat. Merampok, mencuri, dan terakhir membunuh. Namun sejak berada di sini pelan-pelan ia mulai punya hidup yang teratur. Selain menggarap sawahnya, ia yang gemar menari juga menjadi guru hip-hop untuk rekan-rekan napi yang lain. Selain Sandy, beberapa napi yang lain juga merasa semangat mereka banyak dibantu oleh Baron.

“Di luar sana aku penjahat.“ begitu Baron berkisah. “Dan orang-orang selalu melihatku sebagai penjahat walau aku manusia bebas. Di sini, walau aku sebenarnya tidak bebas, aku merasa diperlakukan sebagai orang bebas. Dipercaya untuk urus sawah dan semacamnya. Lagi pula di sini isinya bekas penjahat semua, aku jadi tak merasa spesial, hahaha…”

Saya ikut tertawa besar-besar. Tak lama tawa saya berhenti saat ia melanjutkan,

“Tapi walau sekarang aku sudah baik, aku masih tak menyesal menusuk bangsat itu. Dia anjing. Kalau kau yang kutusuk, aku pasti langsung menyesal. Kau sepertinya orang baik.“

Percakapan-percakapan yang sulit saya lupakan. Setelah omong-omong, mereka mesti berlatih menari lagi. Minggu depan akan ada sedikit pentas dari mereka untuk rombongan besar pengunjung yang hendak datang. Dan menarilah mereka, dengan lagu Bruno Mars entah apa, lucu sekali. Seseram apapun wajahnya, saat beberapa tampak kagok dan marah-marah saat mencoba menghapal gerakan, mereka tetap menjadi gerombolan yang lucu. Saya duduk sebagai satu-satunya penonton sambil tertawa-tawa geli.

Saya sempat mentraktir mereka minuman soda sesudah latihan selesai. Soal ini pun ada kejadian lucu. Saya membeli minuman soda dari penjaga mereka yang sekaligus penjaga kantin kecil di area olah raga ini. Karena tidak punya uang kembalian ia berlari menukar uang ke kantor penjara. Saya dibiarkan sendiri saja di sini hanya bersama para napi. Saya membayangkan kalau saya membawa narkoba atau senjata untuk diselipkan pada salah satu napi, tentu itu mudah sekali dilakukan. Apalagi tadi saat memasuki area penjara, tas saya sama sekali tidak diperiksa. Para napi ini mengatakan, walau hal-hal dibuat longgar di sini, kalau mereka ketahuan melanggar hukumannya tegas sekali. Thomas, salah satu napi yang bertubuh tambun, dulu pernah mencoba kabur. Saat tertangkap ia dimasukkan ke golongan maximum security selama setahun dan hukumannya digandakan menjadi enam tahun.

Pengalaman di sini mau tak mau mengingatkan saya tentang kisah-kisah penjara di tanah air. Ia selalu adalah kisah yang suram, pekat, dan kelam. Ia adalah kisah tentang lorong gelap yang membuat mereka yang halus menjadi bengis, mereka yang kelas teri menjadi bajingan kakap, mereka yang terpuruk semakin meringkuk. Lorong di mana kejahatan kerap malah semakin menjadi. Di Iwahig ini, penjara tetaplah penjara, kebebasan mereka tetap direngut karena kesalahan yang dulu mereka lakukan. Namun, di sini saya melihat sebuah kesempatan yang benar-benar ditawarkan bagi mereka untuk menjadi manusia yang utuh kembali.

Saat Sandy bercerita betapa ia senang bisa menghasilkan uang untuk keluarganya dari keringatnya di sawah, ada harga diri yang tampak ia raih kembali. Saat Baron becerita tentang koreografinya yang terkadang membuat para tamu tercengang, ada sinar yang santun dan hidup di matanya. Saat dalam perjalanan pulang saya melihat bapak-bapak yang menggandeng anaknya pulang sekolah, saya melihat seorang ayah yang penyayang. Di sini para lintah, dedemit, dan mereka yang pernah terjerembab dalam gelap memiliki kesempatan untuk menjadi manusia yang tersenyum hangat kembali.

Walau tentu saja, beberapa masih memiliki kebiasaan buruknya. Saat saya hendak beranjak pulang, Thomas yang tambun mendekati dan meminta uang dengan sedikit mendesak. Untuk rokok, katanya. Saya katakan rokok bisa bikin dia mampus, tapi ia masih mendesak juga. Untung Baron menghardiknya hingga ia pun surut. Saya mohon pamit pada Baron, Sandy, dan yang lain – termasuk Thomas yang sekarang cengar-cengir saja.

“Semoga pertunjukan kalian sukses,“ kata saya sebelum pamit.

“Yeahhh!!” kata mereka nyaris bersamaan dengan memasang gaya-gaya penari hip hop betulan.

Saya tertawa, mengangguk hormat kepada mereka, dan beranjak. Mengendarai motor sewaan saya menjauh, menyusuri barisan sawah yang menghijau, kelompok napi yang mengerjakan sawah, dan terus keluar ke jalanan lengang yang membawa saya kembali ke pusat kota Puerto Princesa.

Twosocks

Advertisements

15 Comments

  1. wow! tak terbayangkan. mengunjungi penjara di negeri orang. saya hanya baru sekali mengunjungi penjara, di Nusakambangan, itupun karena koneksi “orang dalam”

  2. Keren Maesyyyy!!! Poto-potonya juga keren2 bangett…
    Jadi inget dulu aku kerja di Lapas Singakwang, sebagian teman-teman napi disana juga bekerja, bikin kerajinan, bikin batako, benerin alat elektronik…
    Sayangnya dikit banget… coba banyak yang diberdayakan kayak gini ya… Jadi waktu yang dihabiskan lebih berarti, gak stres duduk doang dalam lapas.

    Thanks for the writing 🙂
    Febri

    • Ini yang nulis Teddy, Feb, dia lagi cengar-cengir karena dipuji 😀 Wah, cerita dari Lapas Singkawang seru juga. Selama ini kebanyakan baca tentang penjara yang tidak manusiawi di tanah air, cerita tentang lapas alternatif seperti ini sangat menyenangkan untuk didengar. 🙂

  3. Ossum… kontras sekali ya sama penjara di sini.
    Bukan hanya penjaranya saja yg suram, petinggi lembaganya juga bersikap kaku bak godfather mafia.

    Wiken ini kita mau sowan ke Dusty’s Den, nanti cerita-cerita ya… sambil menyeruput teh dan biskuit pasti lebih mantap. 🙂

  4. Anita Dwi Mulyati

    Konsep penjara yang sebenarnya dari lembaga permasyarakatan, bagaimana mengupayakan orang-orang yang pernah salah ambil jalan dalam hidup bisa kembali menjadi orang berguna dan kembali ke masyarakat. Banyaknya aktivitas produktif membuat napi lupa atau tidak ada waktu untu transaksi narkoba bahkan masih menjadi otak kejahatan yang bisa dilakukan dari dalam jeruji penjara seperti di LP Cipinang dan Tanjung Gusta misalnya. Liputan yang keren, bukan traveling biasa…

    • Halo Anita,
      Benar, penjara ini betul-betul mengingatkan bahwa seharusnyalah ia merupakan tempat di mana harapan-harapan baru dipupuk Terima kasih ya, Anita. Salam 🙂

  5. Pingback: In Between Adieu and Hello | The Dusty Sneakers

  6. Rifqy Faiza Rahman

    Anda berhasil mengupas sisi lain yang tak banyak diketahui orang 🙂

  7. isyhe

    Wah keren tulisannya.. baru baca jadi langsung suka sama blog ini… sayang baru mampir sekarang..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s