comments 4

A Hideaway in the Mountains

“Our brains are wired to nature’s frontiers, not man-made borders,” said our friend Najib.

We definitely found some truth in his words, since our tired brains immediately relaxed and recharged the moment we stepped into Tanakita camping ground, our hideaway in the mountains of Sukabumi for the long weekend. All four of us had worked hard at our day jobs and moonlight passions since the year began, so we longed for a chance to move our bodies and put our minds at ease.

But we too are creatures of comfort, too used to the inventions of humankind to fully enjoy nature in all its wilderness. We loved spotting marsupilami on our hike to the waterfall, the adrenaline rush from the motorbike ride along a tiny dirt road with a gaping abyss on its side, the Bach-serenaded rowboat ride in the crystalline lake, and the adrenaline from surviving a leech-infested trek in pitch-black darkness. But truth be told, it was moments of togetherness on the camping ground that I cherished the most. Moments when Colin Meloy’s Under Wildwood was read next to Homer’s The Iliad and Seno Gumira’s Kentut Kosmopolitan, when Payung Teduh and Billie Holiday took turns with T.A.T.U, when we sat in our morning spot overlooking the mountains with warm enamel cups of tea and coffee, when we fell asleep under the sun after a comfortable meal, when we danced the night away by the bonfire.

The Dusty Sneakers I Tanakita 1

The Dusty Sneakers I Tanakita 2

The Dusty Sneakers I Tanakita I 3

The Dusty Sneakers I Tanakita 4

The Dusty Sneakers I Tanakita 5

The Dusty Sneakers I Tanakita 6

The Dusty Sneakers I Tanakita 7

The Dusty Sneakers I Tanakita 8

The Dusty Sneakers I Tanakita 9

The Dusty Sneakers I Tanakita 10

Speaking of hideaways, we recently shared another of our favorite hideaway in the mountains over at the DEW (Dream Explore Wander) Traveler blog. Head over to dreamexplorewander.com to find out ten more tranquil hideaways. Thank you for inviting us to share our writing hideaway, Aggy!

Cheers,
A refreshed Gypsytoes

P.S.: A special thank you for our friend Najib, who brilliantly captured my blissful morning reading ritual and the four of us sitting by the bonfire.

P.P.S: In case you’re wondering, the teak serving board and napkins are by Kemala Home Living. It’s the brainchild of Dian, our friend and camping buddy.

P.P.P.S: check out our Instagram for more pictures of Tanakita, the waterfall and the lake in Sukabumi.

comments 2

Tur Kartini: Catatan Akhir

“Kartini adalah sosok yang melakukan‘bunuh diri kelas’. Ia ingin dipanggil dan dilihat sebagai Kartini saja, tanpa embel-embel keningratan.” Demikian JJ Rizal, sejarawan muda yang penuh semangat itu, memulai diskusi.

Sore itu di Museum Nasional, sehari sesudah hari Kartini, Gypsytoes dan saya berada di panel yang sama dengannya dalam diskusi seputar Kartini. Diskusi ini merupakan penutup dari rangkaian acara Festival Seperlima yang diselenggarakan Pamflet. Saat itu sang sejarawan sebenarnya baru saja dari dokter gigi. Konon gigi depannya harus dicabut dan gigi baru belum kunjung dipasang. Perkara yang membuat wajahnya sering tampak ganjil saat berbicara. Tentu diam-diam kami mentertawainya. Namun JJ Rizal, sejarawan muda yang penuh semangat itu, adalah seorang penutur yang baik sekali. Betapapun wajahnya yang belum terbiasa tanpa gigi depan itu tampak serba salah, ia mengupas berbagai dimensi kehidupan kartini dengan keahlian seorang tukang cerita ulung. Kami dan juga mereka yang datang sore itu mengikuti penuturannya seolah sedang mendengar dongeng yang mendayu.

“Kartini mungkin meninggal pada usia muda, sekolahnya memang akhirnya tidak berlanjut, namun ide adalah benda ajaib yang memiliki sayap,” begitu kurang lebih salah satu kisahnya. “ Ide dan pemikiran Kartini terbang menembus jaman dan menjadi bagian penting dari kesadaran berkebangsaan kita.”

Belakangan ini, bersama semakin kritisnya kalangan muda, ketokohan Kartini juga makin kerap dipertanyakan. Kepahlawanannya dibandingkan dengan tokoh perempuan lain yang dirasa lebih layak untuk dikedepankan. Perannya dalam perjalanan bangsa dipertanyakan, bahkan beberapa komentar yang terkesan mengejek pun kerap muncul; betapa Kartini tak lebih dari seorang perempuan yang hanya berkeluh kesah semata. Oh, betapa yang terakhir ini adalah kesinisan yang serampangan. Kami percaya, untuk dapat berkomentar penuh akan seseorang, kita perlu untuk mengenalnya dengan lebih mendalam, dan tidak hanya meneruskan hal-hal yang didengar sambil lalu. Untuk mengenal Kartini kita perlu membaca dengan cermat segala tulisannya, mengenali konteks lingkungan di mana ia hidup, dan menyelami bagaimana dampak yang diciptakan sosoknya jauh sesesudah ia tiada.

Dan itulah yang coba kami lakukan sejak Februari yang lalu. Kami membaca karyanya dan tulisan-tulisan tentangnya, menelusuri tempat-tempat yang dekat di hatinya, dan berdiskusi akan sosoknya. Dan akhirnya, kami berbahagia telah menemukan teladan dalam diri Kartini, perempuan muda yang bergelora itu. Di mana saat manusia masih terbungkuk-bungkuk di hadapan manusia lain, ia berbicara kesetaraan. Saat perempuan jauh di belakang, ia berbicara akses pendidikan dan berbagai hal di seputar kemanusiaan. Ide-ide Kartini dan kesadarannya yang tinggi akan kemanusiaan adalah warisan paling berharga dari Kartini. Warisan yang menginspirasi gerakan kebangsaan, kesetaraan gender, dan persamaan derajat. Kami senang bisa berbagi sentimen yang sama dengan JJ Rizal, sejarawan muda yang kami hormati itu, yang menuturkan kisah kartini dengan sangat baik, seganjil apapun wajahnya yang baru saja dari dokter gigi itu.

Sore itu, hujan turun deras di Jakarta, kami lanjut berbincang di antara sudut-sudut Museum Nasional yang dihiasi karya seni rupa bertemakan Kartini oleh para seniman muda IKJ. Beberapa karya membuat kami tergetar juga. Tampak wajah Kartini yang berdampingan dengan lukisan Butet Manurung dan Marsinah. Ada pula sketsa Kartini yang mencoba menyampaikan betapa ia juga merupakan perempuan biasa yang bisa datang bulan ataupun bergundah hati. Selama empat hari Pamflet menyelenggarakan festival Seperlima yang mencoba bersama-sama menggali kembali inspirasi yang ditebarkan Kartini. Selain karya-karya interpretasi Kartini dari seniman muda IKJ, diselenggarakan pula lokakarya puisi dengan bahan surat-surat kartini, diskusi dengan para penulis perempuan, hingga diskusi akhir bersama JJ Rizal di mana kami juga berbagi pengalaman menyusuri jejak Kartini di Jepara dan Rembang. Kami senang menjadi bagian dari acara ini, yang bersama perjalanan ke Jepara dan Rembang telah semakin mendekatkan hati kami dengan perempuan muda yang semangatnya menyala-nyala itu. Seperti yang dikatakan Gypsytoes pada akhir diskusi,

“Ia mungkin pahlawan, mungkin tidak, ia mungkin tidak terlalu memperdulikannya. Namun untuk mengenalnya, bacalah surat-suratnya secara seksama dan silahkan menyimpulkan sendiri siapa Kartini. Untuk kami, ia anak muda yang jauh melebihi jamannya, ia seorang penebar inspirasi.”

Twosocks

P.S

Catatan lengkap Tur Kartini sekarang sudah bisa diunduh di sini. Terimakasih teman-teman Pamflet untuk perjalanan yang menyenangkan ini.

– Mengenai JJ Rizal, seminggu setelah diskusi sore itu, kami bertemu lagi dengannya di hajatan seorang kawan penulis. Saat itu gigi baru telah dipasang dan ia sudah bisa kembali tersenyum lebar-lebar. Manis betul.

comment 1

Mencari Ingatan Akan Kartini

Kalian tahu itu apa?” tanya saya pada sekelompok siswa Taman Kanak-Kanak yang sedang duduk-duduk menikmati semacam es lilin.

“Itu tempat ari-ari Kartini,” kata salah satu dari mereka, mulutnya tampak dipenuhi lelehan gula-gula.

Ia menjawab dengan benar. Saat itu kami berada di Desa Mayong, 25 kilometer dari pusat kota Jepara. Di sinilah dulu Kartini dilahirkan sang ibu, Ngasirah, salah satu dari dua istri Bupati Jepara, R.M.A.A Sosroningrat. Sayang tanda-tanda bekas rumah kelahirannya sudah tidak tampak lagi. Namun penanda tempat ari-ari beliau ditanam masih tampak di mana di atasnya didirikan sebuah monumen. Saat itu kami berada di sana, di dekat monumen ari-ari Kartini. TK Pertiwi Kartini, tempat anak-anak tadi bersekolah, berada tepat di depan monumen itu.

“Kalian tahu Kartini itu siapa?” tanya saya lagi.

“Tahu. Dia pahlawan perempuan,“ jawab anak tadi yang masih menyedot-nyedot es-nya. Sementara kawannya yang lain memandang kami dengan pandangan yang tampak sedikit heran. Mungkin ia berpikir, siapa ini orang besar tanya-tanya soal Kartini?

“Memangnya Kartini bikin apa kok dia bisa jadi pahlawan?” Fani nimbrung bertanya.

“Dia bikin perempuan-perempuan bisa sekolah. Dia pahlawan pendidikan,” kawan anak yang menyedot es itu yang sekarang menjawab. Mungkin dalam hati ia berkata lagi, tentu kami tahu siapa Kartini, sekolah kami persis di depan ari-arinya.

The Dusty Sneakers I Tur Kartini I 3

Kami berlima senang sekali menemukan anak-anak TK ini tahu siapa Kartini. Walaupun kemudian mereka tidak bisa menjawab saat kami tanya lebih dalam seperti bagaimana sejarah hidupnya, apa saja yang ia ajarkan di sekolahnya, dan banyak lagi, kami rasa itu wajar. Mereka toh masih siswa taman kanak-kanak. Di usianya, bahwa mereka masih mengenang Kartini sebagai tokoh kemajuan perempuan saja kami rasa sudah sangat membanggakan.

Kami tertarik dengan eksperimen ini, di sepanjang sisa perjalanan kami kerap bertanya bagaimana warga Jepara mengingat Kartini. Saat sedang duduk-duduk di alun-alun kota Jepara yang berangin sejuk itu, kami berbicara soal Kartini dengan kelompok-kelompok remaja yang juga sedang bersantai di sana. Kami juga bertanya mengenai Kartini kepada anak-anak sekolah menengah yang sedang bermain-main di sekitar Pantai Bandengan.

Ternyata kami menemukan pengetahuan mereka mengenai Kartini tidak lebih mendalam dari siswa taman kanak-kanak tadi. Mereka hanya akan menjelaskan Kartini sebagai pahlawan perempuan yang memperjuangkan pendidikan bagi kaumnya. Tidak lebih. Peringatan hari kelahirannya pun dilakukan di Jepara dengan cara yang sebagian besar sama saja dengan daerah lain di Indonesia, lomba kebaya, memasak, bersanggul, dan sejenisnya. Mereka semua bangga terlahir di tempat yang sama dengan kartini, mereka hormat kepada Kartini sebagai pejuang kaum perempuan, namun tidak banyak detail yang lebih mendalam yang bisa diceritakan.

Sejujurnya, sebelum ke Jepara ini kami pun tidak tahu banyak mengenai beliau. Ketidaktahuan itulah yang mendorong kami untuk membaca lebih banyak akannya dan melihat jejaknya di tanah kelahirannya ini. Baru menjelang keberangkatan ke Jepara-lah kami tahu lebih mendetail akan jalan hidupnya, perdebatan soal sosoknya, dan juga betapa ia begitu peka akan isu-isu sosial di sekitarnya. Kami baru tahu bahwa beliau ternyata antropolog pertama di Indonesia saat tulisannya mengenai pernikahan suku Koja dimuat di Jurnal Humaniora dan Ilmu Pengetahuan Sosial Asia Tenggara dan Oseania di Belanda tahun 1898. Saat itu ia baru berusia 19 tahun saja. Kami baru tahu bahwa ia juga berjasa mengangkat kesejahteraan pengerajin ukir Jepara dan menemukan ukiran motif macan kurung khas Jepara. Kami baru tahu bahwa isu yang diperjuangkannya lebih dari soal pendidikan perempuan semata namun juga soal kesetaraan manusia, poligami, kolonialisme, bahkan isu opium di tanah Jawa.

Namun mau tak mau kami sedikit kaget juga menemukan bahwa seperti daerah lain di Indonesia, di Jepara pun, di tanah kelahirannya, sosok Kartini tidak benar-benar dikenal secara mendalam. Padahal Jepara dikenal sebagai kota Kartini. Ia adalah sosok kebanggaan Jepara, sosok yang begitu dicintai sehingga namanya diabadikan menjadi banyak sekali hal di kota ini. Sekolah, alun-alun, pantai, rumah sakit, gelanggang olah raga, jalan, dan banyak lagi. Wajar karenanya anak-anak pun telah diperkenalkan soal Kartini semenjak dini. Namun pengetahuan akannya sepertinya tidak berkembang jauh.

The Dusty Sneakers I Tur Kartini I 5

Riza Khairul Anwar, penjaga museum Kartini Jepara, mengatakan pada kami bahwa para siswa di Jepara kebanyakan hanya mengenal Kartini sebatas bahwa ia pahlawan pendidikan kaum perempuan. Tidak lebih. Tidak banyak keingintahuan yang lebih yang ia temui.

“Padahal banyak sekali keteladanan Kartini yang bisa dicontoh para pemuda bangsa kita sekarang ini,“ sambungnya. “Kalau saja pemikiran Kartini soal kesetaraan diketahui banyak orang, keinginannya yang besar untuk menuntut ilmu setingginya itu diresapi banyak pemuda, ia bisa jauh lebih menginspirasi dibandingkan sekarang.”

Inilah potret penghargan kita terhadap sejarah yang masih menyisakan begitu banyak pekerjaan rumah. Proses mencintai bangsa juga adalah proses mengenal secara lebih mendalam orang-orang yang berjasa membentuknya. Menghargai perjuangan pahlawan jauh lebih dari mengabadikan namanya sebagai nama jalan, gedung, menghormat pada peringatan kelahirannya, atau menirukan bagaimana ia berpakaian. Menghargainya adalah dengan mengenal lebih jauh sosoknya, jalan hidupnya, pemikirannya, dilema-dilema yang dihadapinya, hingga pergolakan batinnya. Kami pun merasa kami begitu banyak tertinggal dalam hal ini. Saya yang terlahir di Bali tidak benar-benar tahu mendalam mengenal sosok I Gusti Ngurah Rai, atau Gypsytoes yang terlahir di Jakarta tidak benar-benar tahu apa yang dulu dilakukan Si Pitung.

Dengan mengenal mereka yang membentuk bangsa ini, pemikiran-pemikiran mereka, idealisme mereka, hingga kegelisahan mereka, kita akan dapat lebih menghargai apa yang diperjuangkannya. Setelah beranjak dari Jepara, setelah membaca dan berdiskusi banyak akan Kartini, kami sekarang mengenalnya sebagai sosok perempuan perkasa dengan cita-cita nan mulia yang jauh lebih dari sekedar foto Ibu berwajah sejuk dan berkebaya yang kami hormati setiap tanggal 21 April.

Saat bergerak menjauhi Jepara kami saling pandang satu sama lain dan saling bertanya, siapa tokoh berikut yang akan kami telusuri jejaknya? Rohana Kudus? Dewi Sartika?

The Dusty Sneakers I Tur Kartini I 4

Twosocks

Catatan ini adalah artikel kedelapan dari Seri Tur Kartini, inisiatif kolaborasi The Dusty Sneakers dan Pamflet, organisasi anak muda yang berbasis di Jakarta, untuk mengenal sosok dan pemikiran Kartini lebih jauh dengan melakukan perjalanan ke Jepara dan Rembang. Kumpulan catatan perjalanan Tur Kartini dapat diunduh di sini.

comments 5

Suatu Sore di Makam Kartini

Belum dua menit kami turun dari mobil, seorang perempuan berambut putih menghampiri dan menyodorkan beberapa kantung plastik berisi kelopak bunga. “Untuk nyekar,” bisik Fani saat melihat ekspresi saya yang kebingungan. Kami memutuskan untuk membeli dua kantung, lalu menyerahkan selembar sepuluh ribuan yang langsung dimasukkan perempuan tadi ke kantong daster batiknya. Ia lalu berjalan kembali ke tempat duduknya, yang ternyata adalah sebuah kios peralatan masak. Wajahnya menghilang di balik panci, wajan, dan centong yang menggantung di kios tersebut. Kami terdiam, saling bertatapan dan meringis. Siapa yang menyangka akan menemukan kios peralatan masak tepat di depan Makam Kartini?

Kartini dimakamkan di kompleks makam keluarga suaminya, yang terletak di atas sebuat bukit di Desa Bulu, Kecamatan Rembang. Menurut cerita Ibu Penjaga Museum di Museum Kartini Rembang, makam ini adalah objek wisata Kartini yang paling populer, walau sore itu hanya kami berlima yang ada di sana. Begitu masuk ke rumah joglo tempat pusara keluarga Djojoadhiningrat, kami harus membangunkan bapak penjaga makam yang sedang berbaring pulas di lantai makam. Sambil mengucek-ucek mata mengusir kantuk, ia mempersilakan kami untuk nyekar. “Pusaranya yang paling kanan. Itu yang di dalam teralis,” katanya serak.

Pusara Kartini berada di tengah joglo, berdampingan dengan dua istri utama Bupati Djojoadhiningrat lainnya. Tidak seperti makam lain yang polos, pusara Kartini dan teralis di sekelilingnya dipenuhi hiasan. Ada karangan bunga di atas nisan, beberapa lukisan potret Kartini di teralis sekitar, juga spanduk dari salah satu stasiun televisi swasta nasional yang mengumumkan rencananya menayangkan napak tilas perjuangan Kartini dalam program fashion dan gaya hidup.

The Dusty Sneakers I Makam Kartini I 4

Bapak penjaga makam tampak lebih segar sesudah kami selesai nyekar dan berkeliling makam. Pak Sahid, begitu ia memperkenalkan namanya. Ia duduk tegak di balik meja penerima tamu sambil menghisap rokok kretek. Dengannya kami berbicara ke sana ke mari.

Pak Sahid bercerita bahwa ia kelelahan setelah kunjungan karya wisata 50 siswa Taman Kanak-Kanak di Kota Rembang sebelum kami datang. “Sejak saya bekerja di sini tahun 1979, setiap hari ada saja yang berziarah ke sini. Biasanya yang datang ibu-ibu Dharma Wanita atau anak sekolah dari kota-kota sekitar, tapi dalam satu bulan pasti ada saja yang datang dari Jakarta atau kota di luar Jawa. Dulu, ketika masih zaman Pak Harto, pernah ada wisatawan asing dari Belanda bahkan dari Afrika.”

“Makam ini termasuk Taman Makam Pahlawan, jadi banyak sekali Presiden dan Ibu Negara yang berkunjung ke sini. Ibu Tien secara langsung memerintahkan pemugaran makam ini. Putranya, Tommy, juga menyumbang untuk pemugaran makam ini tahun 2004. Pemerintah tahu bahwa Kartini adalah pahlawan penting bangsa ini, karena itu hampir semua Presiden dan Ibu Negara pernah berkunjung ke sini.”

“Hampir semua?” saya bertanya.

Pak Sahid tersenyum simpul. “Hampir semua, kecuali Presiden kita yang sekarang. Sejak Pak SBY menjabat sepuluh tahun yang lalu, tak pernah sekali pun ia atau istrinya berkunjung ke sini.” Pak Sahid kemudian menceritakan kekecewaannya. Menurutnya, tokoh sepenting Kartini, pahlawan pemberdayaan perempuan Indonesia, tidak sepatutnya dilupakan oleh pemimpin negara.

“Sebenarnya, saya juga merasa kalau pemberdayaan perempuan jauh lebih kuat ketika zaman Ibu Tien,” lanjut Pak Sahid.

“Kenapa begitu, Pak?”

“Karena anggota PKK lebih banyak yang berkunjung ke sini. Zaman dulu, PKK terorganisir dengan lebih baik, lebih banyak kegiatannya.”

The Dusty Sneakers I Makam Kartini I 3

Saya teringat kios peralatan masak di depan makam. Mungkin kios itu sengaja didirikan untuk merespon potensi pasar dalam bentuk ibu-ibu PKK dan Dharma Wanita yang berkunjung ke makam. Walau menurut Pak Sahid jumlah pengunjung sudah berkurang, pasti masih cukup banyak yang tertarik membeli wajan atau panci sehingga perempuan tua tadi masih mempertahankan kiosnya.

Saya hanya samar-samar mengikuti obrolan selanjutnya. Saya masih mencerna apa yang dikatakan Pak Sahid tadi. Pendapatnya bahwa pemberdayaan perempuan adalah ranah anggota PKK dan Dharma Wanita sungguh pendapat yang dibentuk Orde Baru. Sebagai satu-satunya saluran aktivitas perempuan yang didukung orde baru, rezim ini berusaha meredam gerakan perempuan yang bersifat politis dengan mengembalikan mereka ke urusan rumah tangga. Untuk negara seperti Indonesia, di mana angka kematian ibu dan bayi masih merupakan salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara, jelas PKK punya peran penting dalam melalukan penyuluhan gizi dan kesehatan dalam keluarga. Namun gerakan perempuan Indonesia sungguh lebih beragam, terutama sejak reformasi. Ada banyak kelompok perempuan pedesaan yang berjuang agar suara mereka bisa dipertimbangkan dalam Musyawaran Perencanaan Pembangunan di Tingkat Desa, ada banyak organisasi yang memberikan pendampingan dan bantuan hukum bagi perempuan yang menjadi korban kekerasan, dan lebih banyak lagi perempuan yang ikut memperjuangkan isu lingkungan, pendidikan, atau hak asasi manusia.

Kartini pasti bangga mengetahui betapa pesat kemajuan perempuan Indonesia dan berbagai bentuk gerakannya. Meski demikian, saya juga sadar bahwa banyak permasalahan yang diangkat Kartini masih menjadi permasalahan hingga sekarang. Poligami, isu yang sering dibicarakan Kartini dalam surat-suratnya, masih banyak dilaksanakan di Indonesia. Kartini pernah mengkritik fanatisme agama yang berujung pada perang atau penindasan. Ia pasti akan frustasi dengan tingginya angka kasus kekerasan berbasis agama di Indonesia beberapa tahun terakhir. Kasus-kasus yang bahkan sampai menarik perhatian internasional. Kartini akan merasa senang dengan turunnya angka kemiskinan nasional Indonesia saat ini, namun ia tidak akan tinggal diam melihat kesenjangan yang makin meluas di berbagai wilayah Indonesia.

The Dusty Sneakers I Makam Kartini I 2

Saya mungkin tidak sepakat dengan pendapat Pak Sahid bahwa penghormatan pada pahlawan harus ditunjukkan dengan mengunjungi makamnya, tapi saya sungguh setuju bahwa pemimpin negara harus senantiasa menunjukkan penghargaannya pada keteladanan yang ditunjukkan para pahlawan yang membentuk bangsa ini. Para pamimpin bangsa harus senantiasa menjadi teladan untuk terus menghidupkan semangat juang pahlawan-pahlawan bangsa di waktu kini. Dalam hal Kartini, semangatnya tidak akan lestari hanya melalui lomba peragaan kebaya, memasak, atau keterampilan tangan. Pemikiran-pemikiran Kartini dan semangatnya untuk memajukan derajat kaumnya adalah sesuatu yang seharusnya senantiasa dikedepankan. Semangat Kartini hanya akan menyala bila surat-suratnya terus dibaca, bila pemikiran-pemikirannya terus didiskusikan dalam konteks kekinian bangsa ini.

Saya teringat apa yang pernah dikatakan oleh Pramoedya Ananta Toer, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” Amanat Pak Pram untuk menulis sungguh baik, tapi bila tulisan yang baik setinggi langit tidak dibaca, ia pun akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

Gypsytoes

Catatan ini adalah artikel ketujuh dari Seri Tur Kartini, inisiatif kolaborasi The Dusty Sneakers dan Pamflet, organisasi anak muda yang berbasis di Jakarta, untuk mengenal sosok dan pemikiran Kartini lebih jauh dengan melakukan perjalanan ke Jepara dan Rembang. Kumpulan catatan perjalanan Tur Kartini dapat diunduh di sini.