comments 17

Akhir Pekan Hangat yang Berderet-Deret

Pengeras suara mengumandangkan penundaan keberangkatan pesawat. Itu artinya saya masih harus berada di ruang tunggu ini paling tidak satu jam ke depan. Sebenarnya saya bersungut-sungut juga. Ini adalah hari libur dan saya harus melakukan perjalanan ke luar kota untuk sebuah pekerjaan. Tidak, saya tidak membenci pekerjaan sehari-hari saya, saya mencintainya malah. Namun, saat saya meninggalkan Jakarta tadi, Gypsytoes sedang menghabiskan siang dengan salah satu cara terbaik untuk menikmati libur di kota yang berpeluh itu. Bersantai dengan bacaan, kopi, dan bincang-bincang hangat dengan beberapa teman dekat. Kehilangan kesempatan bersantai semacam itu untuk duduk sendiri di Bandara yang bising tentu sedikit banyak membuat gusar juga.

Saya menelepon Gypsytoes untuk sekadar berkeluh kesah, tapi ia menghardik agar saya tidak berlaku cengeng. Sejak kapan kau gusar jika harus melamun-lamun saja sendiri? begitu kurang lebih katanya.

“Lagi pula, kau ingat obrolan kita semalam? Tentang betapa belakangan kita kerap punya akhir pekan yang dipenuhi hal baru yang menarik? Sekali waktu, bekerja di akhir pekan seharusnya tak mengapa.” Tambahnya berlagak bijaksana.

Ini adalah salah satu momen itu. Momen di mana ia mengatakan hal-hal yang masuk akal, dan ia tahu bahwa saya tahu apa yang ia katakan adalah masuk akal. Di saat seperti ini Ia sengaja membuat nada suaranya sedikit jumawa hanya untuk menggoda saya. Tapi sudahlah, anak itu memang ada benarnya. Saya pun terkenang betapa sejak memutuskan untuk lebih rajin menulis di sini, hal-hal baru kerap mengisi hari libur atau akhir pekan kami. Beberapa adalah hal menarik yang memberi ruang untuk petualangan kreatif kami.

Di salah satu akhir pekan yang tenang kami menyelesaikan perjalanan panjang menulis manuskrip buku pertama kami. Sebuah memoar perjalanan saat Gypsytoes bertualang di Eropa dan saya di sudut Nusantara. Catatan tentang bagaimana kami saling menulis untuk tetap terhubung satu sama lain. Proses menulisnya akan saya kenang sebagai perjalanan menyenangkan yang sekaligus mendekatkan kami. Ia adalah deretan akhir pekan yang diisi menulis bersama, bincang-bincang, bergelas-gelas teh dan kopi, dan saling berkenang. Tentang pertemanan, perjalanan, kemanusiaan-kemanusiaan di sekitar, dan banyak lagi. Akhir kuartal ketiga tahun ini, saat buku itu betul-betul akan terbit, mungkin kami akan ketakutan setengah mati. Namun untuk sekarang, kami menikmati saja hari-hari girang saat menulis dan menyelesaikan “Kisah Kawan Di Ujung Sana”, begitu kami menyebutnya.

Banyak akhir pekan juga memperkenalkan kami pada kawan-kawan baru yang hangat. Saya jadi lebih mengenal anak-anak muda bergelora di Pamflet saat bersama-sama melakukan Tur Kartini. Kami juga berkenalan dan berteman dengan duo perempuan pejalan Indohoy yang selalu bersemangat menjelajah, menulis, dan berteman. Bahkan, salah satu dari mereka ternyata adalah tetangga kami. Maka kami pun menikmati saling bertandang untuk sekadar minum teh atau bertukar bacaan.

Sebuah bacaan akhir pekan apik berjudul nan indah “Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya” ternyata membawa perkenalan dengan Michel, penulisnya yang begitu belia dan cekatan. Novel apiknya ia selesaikan hanya melalui hari-hari menulis tanpa tidur selama belasan hari saja. Kebeliaannya membuat saya iri juga. Suatu kali saya katakan padanya, tanda-tanda penuaan awal adalah saat bintang sepak bola kesukaanmu berusia lebih muda darimu. Tanda-tanda penuaan tingkat lanjut adalah saat penulis kesukaanmu lebih muda darimu sepuluh tahun lebih. Tak lama untuk kami merasa dekat dengannya. Ia anak muda yang ramah, penolong, gemar berpikir, dan memiliki tutur bahasa yang santun. Saat Gypsytoes di Yogyakarta untuk sebuah urusan, Michel membawanya putar-putar termasuk menculiknya pagi-pagi buta untuk mencari sebuah mata air alami di sudut Yogyakarta.

Michel pun memperkenalkan kami dengan Mas Yusi, seorang penulis senior yang belakangan saya kagumi betul. Perkenalan dengan Mas Yusi pun terjadi dengan bersahaja, Ia mengundang kami ke acara sunatan putra keduanya. Ia katakan ia punya banyak sekali makanan enak dan bersedia dimarahi jika ternyata sajiannya tidak terbukti nikmat. Sang penulis juga ternyata seorang yang hangat. Dua pekan sesudah acara sunatan itu, kami menghabiskan lebih dari lima jam bersamanya di kedai kopi berbincang kesana kemari, atau dalam istilahnya, berbual-bual. Tentang kepenulisan, keluarga, ugal-ugalan masa muda, pertemanan, cinta, dan banyak lagi. Kami langsung menyukainya. Ia tentu seorang yang jauh lebih berpengalaman dan bijaksana dibandingkan kami, namun tak sedikitpun ia berkesan menggurui. Itu adalah perbincangan yang hangat dan setara.

Betul juga si Gypsytoes yang penuh lagak itu, akhir-akhir ini banyak hal di sekitar yang merangsang kami untuk lebih menyalurkan sisi kreatif kami. Saya bahkan iseng mulai belajar menulis cerita pendek. Sekarang saya sedang menulis kisah seorang gadis yang sedang gundah di hari terakhirnya di Jakarta. Tak akan lagi ia melihat kota yang mengisi masa kanak-kanaknya yang penuh rasa ingin tahu dan masa remajanya yang begitu menggebu. Ini adalah kota yang sontoloyo tak ketulungan, tetapi di sini pula harapan baru selalu muncul. Saat Soeharto terjatuhkan, ia berada bersama para pemuda dengan semangat menyala-nyala dan penuh harapan itu. Harapannya pun ikut redup saat melihat bagaimana “Indonesia baru”-nya banyak membawa kecewa. Ia bersemangat saat tiang monorel terpancang, dan ikut bersedih saat mereka hanya teronggok letih. Harapan muncul, untuk pupus, untuk muncul lagi. Begitu terus. Bukankah tidak ada yang lebih indah dari harapan-harapan? Begitu suatu kali ia berkata. Saya belum tahu akan ke mana kisah ini saya bawa, dan kualitasnya tentu masih jauh sekali dari matang. Namun, mencobanya saja untuk saya sudah sangat menyenangkan.

Dan panggilan untuk masuk pesawat berdengung.

Penumpang yang tak sabar sudah bergegas mengantri menuju pintu masuk pesawat. Ini hari yang membludak. Sebaiknya saya pun menghentikan dulu catatan ini dan bergegas. Hari libur ini akan diisi dengan berpindah dari satu pesawat ke pesawat lain saja, tetapi seperti yang sudah-sudah, akhir pekan di Jakarta masih akan berderet-deret. Hal-hal menarik masih akan selalu terjadi. Jika tidak, Gypsytoes akan saya marahi.

Twosocks

comment 0

A Disorderly Conversation about Kartini

“This is exactly like that scene in The Raid 2,” Twosocks gushed.

I had no idea which scene he had in mind, since I would rather curl up with Colin Meloy’s Wildwood series than watch the gory action film, but the setting for our conversation with Raka Ibrahim that day did seem like it was straight out of a crime movie.

It was half an hour after our Tur Kartini talk at Museum Nasional ended, at one of the meeting halls in the museum’s basement. The three of us sat facing one another on huge leather armchairs right in the middle of the hall, which held no other furniture. A cigar, a glass of whiskey, and a pistol wouldn’t have been out of place in that setting. Quite a whimsical setting for an interview, but then it was also one of the most intriguing interview experiences we ever had.

To begin with, Raka was interviewing us for a new webzine on music and independent culture called Disorder. He showed us one of Disorder’s articles, a fictional account of Iwan Fals – one of Indonesia’s finest folk singer – about his fiery activism in his in youth, and we were immediately hooked by the writing voice. Then Raka said that he wanted to talk about Tur Kartini, but before long, our conversation drifted to heroism, dying young, and what Kartini would be like in an alternate universe.

Our full uncensored conversation, in Bahasa Indonesia, can be read right here. Thank you for the conversation and write-up, Raka!

Cheers,
Gypsytoes

comments 2

My Fragile Borders

In our previous stories of a long weekend camping trip to Sukabumi, Twosocks and I have mentioned how much we were stunned by Ibnu Najib’s reflections on nature and humankind. In the third – and best, we’d say – installment of the camping stories, we finally have Najib himself sharing his thoughts during a solitary, pre-dawn date with nature. – Gypsytoes  

1

Despite my hate affair with morning activities while in cities, I somehow manage to always wake up very early while away from urban settings, including during that fine weekend I spent camping in the foothill of Gede-Pangrango Mountain with The Dusty Sneakers.

Sleeping late after an improvisational storytelling and karaoke by the bonfire the night before, I woke up at around 4 am. Rather sleepily peeking out from the zipper of my tent, I was greeted by a scene I can never behold in cities: sky so surreally full of stars. Even when I looked into the direction of the city who has quite intense light pollution, the stars were still vibrantly visible.

I was fully awake in an instant, with some urges to jump, run or rolling around in the wet grass. Thankfully I managed to suppress the urges and instead I decided to take a walk in the dark to a nearby lake, Situ Gunung as people calls it.

I wanna see those stars reflected in the calm water of the lake.

The distance from our campsite to the lake is only around 2 kilometres through a pathway in a quite dense rainforest. Within minutes, I could start to see the silhouette of the forest, those tall grasses surrounding the pathway, followed by even taller trees whose tops framed the starry sky into a long scroll painting above me. It made me feel small, but in a delightful way.

My sense of smell was greeted with various scents that are invigorating, mostly fragrance from night-blooming flowers (plenty of Kecubung nightshades around), and none of which are too strong.

There is a comfort that emanated from the stillness of my surroundings.

2 kilometer in the dark it turned out, was enough to expand my mind into an elastic medium in which all sort of thoughts delightfully appear.

The hilly pathway reminded me that I was walking in the foothill of Mount Pangrango, whose natural formation took hundreds or even millions of years. We were obviously not there when all of this occur, but the stories and influences from the formation of this terra firma are all embedded somewhere in our consciousness, deep within our instincts.

Our instinct are partly the essence of our ancestor’s wisdom. Whatever helped them carry on living and passed on their genes to us: their risk appetite and their passions, the food they loved, animals they avoid, how they responded to imminent dangers, all are etched somewhere in our consciousness. There’s a piece of them and the past in each of me and you.

Despite our affairs with industrial revolution, cubicles and the internet, some of our senses and instinct are still attuned to the rhythm of everything that is occurring slowly and surely in nature.

Deep down, we are forever wired to nature’s space and frontiers, not to man-made enclaves and borders.

DSC00097

2

As Twosocks has colourfully elaborated before,  I am not the fittest nor fastest of walker. By the time I reach the lake, the stars are no longer strongly visible. The night are giving away its darkness to the sun.

I decided to sit on the edge of the lake, trying to listen to the big families of beings around the lake waking up. As the lake is surrounded by hills, the sun will not be visible until quite late in the morning. The lake however was already fully showered by the secondary lights from the magenta sky.

Beyond what my senses can grasp, I knew there are countless busyness taking place within that seemingly calm morning. Nocturnal beings, big and small, were finding their shelters or changing their postures while creatures of the sunlight shaking off the morning dews.

DSC00093

As I lay down in the lake musing about what kind of language, mechanism, and society that all of the amazing creatures around the lake use to organize their complex ecosystem, I wonder whether someday our human’s understanding of nature can actually give us the knowledge of nature as she really is.

There in nature, where man-made enclaves and borders are scarce, it becomes easier to see how everything is older and wiser than us. The sounds from the water flowing in the nearby rivers, the screeching yet calming sounds from bugs in taller trees, the sounds of birds twittering, all in one peaceful hymn declaring acceptance and understanding of things as what they truly are, not as our limited intelligence and selfish self would like to understand them.

3

There is a form of soothing certainty from observing various beings around the lake that morning. The shape of various flower buds, the wetness of the grasses, the stillness of the lake, the trees whose dark skin are now golden from the sun.

This soothing certainty is less about finality than about wisdom of time: where the trees stand, how they grow, the color of their leaves, beings who resides on their branches, all of them arrived in their current configurations from a journey that precedes the creation of the first vertebral creatures, one of which millions of years later become humans. In the absence of actual knowledge about what really happened before our time, I let my imagination dance.

The trees, I believe, are among the wisest creatures on earth who has ever experienced all kinds of life form.

Starting from their humble beginnings as cyanobacteria billions of years ago, I imagined they had once been animal-like creatures (some plants do move and some of them are still carnivorous), flying in the winds (still a popular way for trees to spread their seeds), and diving deep in the oceans (planktons still do). They might have created a pan-tree imperium covering most of earth’s surface. However, at one important conjecture in their civilization, perhaps triggered by a form of global tree wars, some plant sages decides to give up what the movement world had to offer and choose to stood still in wherever soil or ecosystem that will accept them, consenting that being a still and giving tree is more noble than being part of a force whose sole aim is movements and conquest.

Stillness.

Our ambition-driven culture do not put stillness in honorable light. We see progress and achievements as honors that can only be gained through movements. Stillness equals backwardness. Yet, if we look closely to how a tree survives, we’ll soon realize how backward our technological advancement is compared to that of a still-tree.

Trees use photosynthesis in transforming sunlight, carbon dioxide and water into a form of energy it can use: chemical energy.

Behind photosynthesis, there are myriads of process including quantum entanglement, which is not far from Star-Trek-esque teleportation. Trees’ leaves use a kind of antenna capable of ‘teleporting’ light straight from the surface to its own energy generator with almost 100% efficiency.

While trees has been using this technique for billions of years, the brightest mind of current human civilization has just started to scratch the surface of quantum physics.

4

It was 7 a.m.

I made my journey back to our campsite. I wanted to rejoin Twosocks, Gypsytoes and Dian who must’ve been up. As I made my way up the hill, I passed a sign telling the passers-by that they are leaving the protected area of Mt Gede-Pangrango National Parks.

Losing most of our nature to our own expansions, we declare some enclaves as protected zone. Partly as ‘consciousness offsetting’, providing us with a sense of guardianship.

In the midst of so many unknowns, we create artificial borders.

State borders, academic silos, economic class, cultural symbols, languages, religions, all are manmade borders we erect around an isolated space where our limitations are mostly hidden so that we can temporarily be masters of our own world.

Unlike the border of the national park I encounter that morning, nature has her frontier arranged beyond our limited intelligence, surpassing all sorts of borders that we have been eagerly construct. Borders we sometimes defend wholeheartedly because we build our identities around them.

Slowly approaching the campsite that morning, I mused whether I really have enough reasons to head back to the city later when the weekend ended.

My fragile borders were starting to crumble.

_______________________

Story and photos by Ibnu Najib, who describes himself as “just another fish trying to see the water he lives in” and shares what he sees as @71b on Instagram or @ibnunajib on Twitter. Once in a while, we invite our friends who love writing as much as they love traveling to share their travel stories in The Dusty Sneakers. The repository of their travel tales is hosted in the Guest Writer category.

More on quantum entanglement in trees’ photosynthetic light harvesting complexes

comments 13

Tentang Pohon-Pohon yang Bijaksana

“Aku kembali teringat mengapa berada di hutan selalu membuatku takjub sekaligus berkecil diri.” Demikian Ibnu Najib, kawan baik saya berkata. Saat itu kami sedang berjalan menembus pohon-pohon menuju Curug Sawer di Sukabumi.

“Kenapa?”

“Di sini aku dikelilingi segala hal yang usianya lebih dari ribuan tahun, mungkin lebih dari peradaban manusia. Semua terasa tua dan bijaksana. Mereka sudah tak lagi merasa perlu mencari tempatnya di dunia. “

Kawan saya ini memang kerap mengatakan hal-hal yang membuat saya tercenung-cenung. Ia adalah jenis yang merenungkan apakah lampu-lampu jalan yang menguning dan menyendiri di jalanan itu sedang berbahagia. Ia adalah kawan yang berpendapat betapa pohon-pohon tua adalah makhluk yang paling bijaksana, di mana mereka memutuskan untuk tidak kuasa berbicara dan berpindah tempat. Mungkin pohon-pohon itu sudah menyadari betapa berjalanan atau berbicara kesana kemari tidak terlalu banyak faedahnya. Betapapun, ia adalah salah satu sahabat terpintar yang saya miliki. Jika hal-hal yang dikatakannya berada di persimpangan antara kecerdasan dan keruwetan cara berpikir, maka saya memilih meyakini bahwa yang ia sampaikan adalah kepekaan yang jauh di luar jangkau saya.

Dan kami lanjut berbincang. Betapa di kota, kami dikelilingi hal-hal yang masih begitu belia. Teknologi, tata perilaku, hingga aturan-aturan pemerintah. Semua hal yang dalam perjalanan semesta masih begitu muda dan sibuk berkutat mencari tempatnya di dalam masyarakat, di dalam sejarah peradaban. Satu norma berkutat dengan norma lain untuk dapat di terima. Norma berperilaku, ber-Tuhan, berkomunikasi, sampai hal sepele macam bersendawa. Peraturan-peraturan yang diciptakan masih begitu tertatih-tatih menemukan tempatnya. Peraturan perburuhan yang seimbang, peraturan pembebasan lahan yang berkeadilan, hingga hal yang sudah terang benderang namun masih susah payah diatur seperti jangan merokok jika di dekatmu ada balita. Banyak hal kekinian di kota yang membuat pikiran ruwet belaka. Sementara di hutan, segala norma telah terbentuk dari perjalanan ribuan tahun. Pohon-pohon sudah begitu bijaksana untuk tahu ke mana mereka harus menjalar. Untuk hidup di dalamnya apa yang bisa dimakan dan tidak telah jelas aturan mainnya. Buatlah aku gundul dan kukirim banjir untukmu, demikian Hutan bersabda dalam heningnya.

Perjalanan menembus pohon-pohon menuju Curug Sawer seharusnya dapat ditempuh dalam 45 menit saja. Namun kami menghabiskan lebih dari satu setengah jam. Kami terlalu terpukau dengan kerut-kerut di kayu pohon tua, angin yang membuat daun-daun bergoyang, atau monyet berekor panjang yang terkadang menyeruak dan ribut berkoar-koar. Dan tentu saja perenungan-perenungan Ibnu Najib yang tipis di bibir keruwetan itu. Namun perenungan mengenai betapa bijaksananya hutan yang berusia lebih tua dari peradaban manusia itu membuat saya tertarik benar. Saya membuat Ibnu Najib berjanji untuk menuliskannya untuk ditampilkan di blog ini. Karena tentu, perenungannya jauh lebih dalam dari hal-hal permukaan yang saya tangkap di sini.

“Baiklah kawan, kan kutuliskan kisahnya untukmu. “ Begitu saat itu ia menyanggupi.

Photo by: Ibnu Najib

Hari ini, seminggu setelah perjalanan ke Curug Sawer itu, saya baru saja menyelesaikan pengantar ini untuk tulisan yang sedang dibuatnya. Sementara Ibnu Najib duduk di depan saya, di sebuah kedai kopi di Jakarta, mencoba merangkai kalimat-kalimat perenungannya. Keningnya tampak berkerut di depan komputer dan gelas kopi kesekiannya. Ah kawan saya yang malang, tentu ia sedang mengurai hal-hal ruwet di kepalanya. Tak sabar saya menunggu apa yang akan muncul dari tarian jemari dan segala kerut di keningnya itu. Saya memesan gelas kopi kedua dan lanjut menunggu rampungnya tulisan Ibnu Najib dengan khusyuk.

Sementara di luar sana, Jakarta masih tertatih menemukan keseimbangannya.

Twosocks