comments 5

Puncak Agung Jauh di Sana

Pelajaran moral dari Gunung Agung: janganlah makan terlalu banyak lawar babi sehari menjelang pendakian. Ini adalah hari di mana saya gagal mencapai puncak karena terserang diare. Ini adalah hari di mana saya harus berdiam diri di tengah hutan yang begitu pekat. Sendiri saja.

Perjalanan ke puncak dimulai menjelang tengah malam bersama lima kawan dan dua pemandu. Kami memulainya di Pura Besakih, jalur yang lebih panjang dan terjal dibanding jalur Pura Pasar Agung. Saat itu perasaan saya sebenarnya sudah mulai tak enak. Perut terasa sedikit bergolak akibat makan terlalu banyak lawar dalam sebuah acara tradisional Bali sehari sebelumnya. Namun saya tancap saja, saya teringat sabda bersejarah Arip Syaman, “Che Guevara saja, biar bengek tetap gerilya sambil menghapal Das Kapital segala. Masa naik gunung saja gentar?” Kali ini, kawan saya ini tidak ikut mendaki. Banyak urusan, begitu ia berdalih.

Namun peran Arip Syaman tampaknya digantikan dengan baik oleh kawan saya yang lain, Ibnu Najib. Belum satu jam berjalan, ia mulai kehabisan nafas. Kawan dekat saya ini, ia salah satu kawan terpintar yang saya kenal. Ia juga pria puitis dan seorang pemikir yang kritis, namun ketahanan mendaki bukan salah satu bidangnya. Entah dari mana ia berlogika bahwa mendaki gunung itu seperti naik sepeda, sekali kita bisa melakukannya maka seumur hidup kita akan selalu bisa. Ia dengan semena-mena mengabaikan fakta bahwa terakhir kali mendaki gunung adalah saat ia duduk di bangku SMA, masa yang telah berlalu belasan tahun lamanya.

Begitulah, saat kami mulai memasuki barisan pohon lebat, Najib mohon pamit. Ia tidak kuasa lagi merayap naik. Pak Wayan, salah satu pemandu kami, bersuka ria karena bebas tugas lebih awal. Ia harus menemani Najib turun ke kaki gunung. Kami berenam lanjut menembus malam. Saya, Angela, Firman, Irma, Yue Man, dan Ketut seorang pemandu kami yang lain. Puncak Agung setinggi 3,142 mdpl ini sebenarnya bisa dicapai dalam enam jam saja, namun jalur ke atas memang cukup terjal. Secara konstan jalanan menanjak lima puluh hingga enam puluh derajat. Hampir tidak ada jeda mendatar, begitu menguras tenaga.

Setelah hampir tiga jam berjalan saya mulai keteteran. Saya tertatih-tatih di belakang dengan perut yang semakin bergolak. Di depan, kawan-kawan saya masih sangat bugar, bahkan Angela yang baru pertama kalinya mendaki gunung masih terlihat gagah. Beberapa kali Firman dan Irma berbalik untuk memastikan saya baik-baik saja. Sampai pada satu titik, di sebuah jalanan tanah menanjak, di dekat pohon-pohon cemara, dengan latar belakang lampu-lampu kota Semarapura di kejauhan, saya tak tahan lagi. Perut saya berontak, saya benar-benar diare. Banyak sekali. Berkali-kali saya memohon maaf telah menodai gunung yang agung ini, namun saya memang tidak tahan lagi. Terkutuklah segala kuman dalam lawar babi itu.

Setelah diare yang pertama itu, tubuh terasa makin lemas. Mata sedikit berkunang-kunang dan langkah mulai gontai. Saya mungkin masih bisa memaksakan berjalan barang satu dua jam. Namun saya tidak hendak mengambil resiko harus menyerah di titik yang lebih atas. Titik di mana pepohonan semakin jarang. Di sana tak akan ada lagi tempat berlindung dari angin dini hari yang tentu lebih dingin lagi. Saya memutuskan bahwa batas saya telah dicapai. Di titik ini saya menyerah. Sempat terjadi sedikit perdebatan di mana salah satu kawan yang lain hendak menemani saya di sini dan membatalkan pendakiannya. Namun saya meyakinkan mereka bahwa saya akan baik-baik saja. Naiklah terus! Gapailah puncak Agung! Saya hanya perlu mengembalikan tenaga dan menunggu hari terang. Jalur sejauh ini tidak banyak percabangan yang membingungkan, karenanya saat terang nanti jalur turun seharusnya bisa mudah saya lacak sendiri. Saya tahu, saya akan baik-baik saja. Salam kepada puncak gunung saya titipkan melalui empat kawan yang tersisa. Walau berat hati, mereka berangkat.

Dan saya pun di sana, duduk di bawah pohon besar, di tengan hutan yang gelap pekat.  Sendiri.

Saya menaburi garam di sekitar tempat saya meringkuk untuk berjaga-jaga dari ular. Saya pun bertahan untuk tidak tertidur sehingga bisa menjaga diri dari serangga yang masuk ke balik pakaian atau resiko ular yang turun dari atas pohon tanpa diketahui. Saya melamun saja, hanya dengan lampu senter, di bawah pohon-pohon besar yang melindungi dari terpa angin. Terang akan mulai muncul empat jam kemudian. Malam benar-benar gelap, hanya terdengar bunyi-bunyi binatang hutan serta suara pohon yang tertiup angin. Ini empat jam yang panjang, beberapa kali saya menggigil kedinginan. Pikiran pun menerawang kemana-mana, tentang situasi Najib di bawah, tentang Gypsytoes di Jakarta yang tentu akan mencak-mencak betapa bodohnya saya naik gunung saat diare, tentang hutan yang gelap, tentang teman-teman yang masih begitu bugar menapak naik.

Krik, krik, terkadang terdengar semacam jangkrik, entah apa.

Melamun begini di tengah hutan sebenarnya ada nikmatnya juga. Hanya saya dan gelap. Hening yang hanya diselilingi suara binatang hutan dan angin. Rasanya melankolis. Namun tidak saat dua jam kemudian diare saya datang lagi. Oh, maafkan saya gunung yang agung, atap dari pulau dewata, saya telah menodaimu lagi dan lagi. Diare kedua ini membuat tubuh semakin lemas, saya pun tergolek saja di sana, menunggu hari berganti. Saya teringat cerita rakyat Bali yang berkisah tentang Lubdaka, seorang pemburu yang tersesat sendiri di tengah hutan. Ia menunggu terang dan menghabiskan waktu dengan memetik dedaunan untuk mengusir kantuk. Bedanya, si Lubdaka ini tidak memakan terlalu banyak lawar babi sehari sebelumnya. Namun akhirnya, berbahagialah mereka yang bersabar menunggu. Matahari perlahan mengintip di timur. Walaupun masih lemas, sinar jingga jauh di timur itu secara signifikan membangkitkan semangat saya. Dengan sisa tenaga yang telah terkumpul, saya menapak turun. Tak lupa saya tinggalkan pesan di pohon kepada para kawan di atas, bahwa saya sudah turun.

Sesuai ingatan, jalan turun memang memiliki jalur yang jelas. Karenanya walau tertatih-tatih, saya turun dengan yakin. Setelah sedikit lewat dua jam berjalan, dengan jeda satu diare, saya tiba di sebuah dataran berumput di mana di ujungnya tampak seorang pria sedang berjemur santai. Ibnu Najib! Oh terberkatilah kawan saya ini! Ia sedang terlentang menikmati matahari pagi di kaki gunung. Walau sedikit khawatir setelah mendengar kisah diare dan melihat wajah pucat saya, ia menyambut saya dengan suka cita. Ia bercerita bahwa ia telah berbaring di sana sejak malam tadi, melihat bintang-bintang. Indah, begitu katanya. Hidupnya sepertinya baik-baik saja. Saya pun memutuskan ikut berbaring dengannya di sana. Merasakan sinar matahari dan memandangi puncak gunung yang gagal kami gapai di kejauhan.

Berbaring di sini rasanya menyenangkan. Lewat sudah malam yang pekat di tengah hutan, lewat sudah keharusan berjalan naik turun gunung dengan gontai. Yang terasa adalah matahari yang hangat diantara dingin udara pegunungan, pemandangan puncak gunung yang tampak diselimuti kabut, dan pertemanan dengan seorang kawan lama. Kami berbicara kesana kemari sambil menunggu mereka yang masih di puncak. Tentang pertemanan, tentang kebodohan kami, dan tentang kebugaran yang masih harus diasah. Terkadang pembicaraan benar-benar kesana kemari, entah dari mana muncul kisah tentang kucing-kucing Najib saat ia kecil dulu. Ia bercerita tentang sebuah malam berhujan di mana seekor kucingnya tiba-tiba kejang. Najib kecil panik dan memeluk kucing kesayangannya itu, kucing yang terus mengejang sakit. Si kucing kemudian meninggal di pelukannya, saat hujan turun deras dan geledek menyambar. Dramatis sekali. Malam itu juga ia menguburnya di bawah hujan, begitu Najib mengenang. Kemudian entah dari mana kami lalu berbicara tentang orang-orang Sumeria jaman dulu yang menganggap hubungan seks adalah cara mendekatkan diri dengan Tuhan. Dan karenanya, mereka yang menawarkan jasa berhubungan seks justru para pemuka agama, pria maupun perempuan. Pembicaraan yang acak bersama kawan, sambil berbaring menatap puncak gunung, sejenak membuat saya lupa akan diare yang menyerang.

Tentu saja sampai sebuah titik dimana sang diare tak bisa dilupakan lagi.

Ia datang lagi. Saya menarik Najib untuk turun ke desa mencari pinjaman toilet. Pak Wayan, pemandu yang mengantar Najib turun berbaik hati menawarkan rumahnya. Saya pun menuju ke sana, menghujani toilet pak Wayan tanpa henti, sementara Najib ke warung memberi oralit dan obat-obatan. Sepanjang hari, belasan kali saya diare, hingga sore hari saat yang lain turun dari puncak, wajah saya sudah pucat pasi kekurangan cairan. Di antara kegembiraan dan lelah pendakian, mereka memandang kasihan wajah saya yang menyedihkan.

Di perjalanan kembali ke Denpasar, kami bertukar cerita tentang pendakian barusan. Yue Man, Firman, Firman dan Angela, berhasil mencapai puncak dengan gagah berani. Namun terlepas dari perasaan bahagia berhasil mencapai puncak, mereka tak urung bersungut-sungut juga. Gunung Agung berat sekali, terutama untuk Angela yang baru pertama kali ke gunung. Apalagi saat di puncak, kabut begitu tebal sehingga mereka tidak bisa melihat pemandangan apapun selain harus begitu berhati-hati di jalanan basah, sempit, dan dikelilingi jurang. Yue Man berkata, “Di antara kita, Najiblah yang nasibnya paling baik, ia bisa bersantai di padang rumput melihat bintang sementara yang satu diare dan yang lain merangkak ke puncak untuk hanya melihat kabut.“ Najib cengengesan saja. Dan kami terus melaju ke Denpasar, memastikan saya mendapatkan perawatan yang lebih baik.

Hari ini, lewat seminggu setelah pendakian yang gagal itu. Ironis, karena ia terjadi di gunung di kampung halaman saya sendiri. Bobot saya turun tiga kilo karena diare yang begitu menguras dan baru membaik sesudah seminggu. Terkutuklah segala kuman dalam lawar babi itu. Saya punya waktu beberapa bulan hingga musim hujan benar-benar berhenti untuk menuju gunung berikutnya, Kerinci. Saat itu tiba, saya akan kembali dengan segar bugar, dengan bobot yang normal, tanpa sedikit kuman pun di perut. Semoga.

Twosocks

Advertisements

5 Comments

  1. Manusia jadi (sedikit) lebih relijius ketika berhubungan seks, ternyata manusia sumeria kuno sudah menyadari hal itu dari dulu.
    Ancient wisdom, nice!

  2. Pingback: My Fragile Borders | The Dusty Sneakers

  3. Rifqy Faiza Rahman

    Waah, saya belum sempat bertandang ke gunung suci itu….

  4. kembangbakung

    hahaha… #ups, maaf.
    saya juga pernah nanjak dan terserang diare. di gunung slamet.
    sejak itu, saya ganti ransum kalori. ngga lagi2 rakus ngantongin snic****

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s