comments 46

Memperkenalkan: Kisah Kawan di Ujung Sana

Malam belum mencapai pukul sepuluh, Gypsytoes sudah terlelap. Sejak beberapa hari ini asmanya kambuh. Kasihan, ia kerap terbangun malam-malam karena sesak nafas. Karenanya ia kurang tidur. Hari ini suasana hati kami sebenarnya sedang baik. Baik sekali malah. Namun, ia terlalu lelah untuk merayakan hal-hal hingga larut. Saya biarkan ia tergolek begitu di sofa, dengan musik yang diputar perlahan. Bunyi terompet terdengar seperti merayap-rayap sementara saya duduk menulis di sisinya.

Sore tadi kami mendapat kabar baik. “The Dusty Sneakers: Kisah Kawan di Ujung Sana”, buku pertama kami, sudah naik cetak. Kurang sebulan dari sekarang, ia sudah bisa ditemui di toko buku. Tentu kami antusias sekali, perjalanan menuliskannya hampir setahun terakhir ini akan mencapai babak barunya. Ini perjalanan yang menyenangkan yang juga mendekatkan kami.  Bersama-sama kami membaca tulisan lama, surat-surat lama, catatan percakapan, dan membincangkan masa-masa saat kami terpisah jarak. Masa saat ia bertualang di sudut-sudut Eropa dan saya di Indonesia. Buku ini menjadi catatan tentang bagaimana kami saling menulis untuk tetap terhubung satu sama lain. Bersama-sama kami mengenang kegembiraannya saat berada di negeri dongeng Praha atau kegusaran saya saat ada di titik paling timur Indonesia . Bersama-sama kami mengenang persahabatan yang ia temui pada diri Ana dan Kiran, serta bagaimana Arip Syaman bisa membuat hidup saya tidak betul-betul nelangsa di sini.

Hal lain yang juga menyenangkan dari proses menulis ini adalah bagaimana kami bersama-sama mencoba menggali momen perjalanan-perjalanan kami saat itu. Beberapa tulisan di blog kami angkat kembali karena adanya kejadian, renungan, atau momen yang dulu tidak kami tuliskan tetapi tercecer di korespondensi kami yang lain. Perjalanan ke Baduy tidak hanya berisi penghormatan saya akan bagaimana masyarakat Baduy menjaga tradisinya, tetapi menjadi pertanyaan tentang sampai sejauh mana menjaga tradisi leluhur tidak melewati batas yang patut, dan sampai sejauh mana kebebasan setiap individu memilih jalannya harus dihormati. Perjalanan ke Taipei untuk Gypsytoes tidak hanya berisi keterpukauannya akan sebuah tempat baru tetapi membawa kenangannya akan kehidupan warga keturunan Tionghoa di Indonesia. Perjalanan di Bangalore tidak hanya menjadi tempat kami bertemu kembali setelah sekian lama, tetapi juga tempat kami bersinggungan dengan perempuan-perempuan pemberani Blank Noise yang berkampanye menentang pelecehan seksual di jalanan India.

Gypsytoes

Di antara bergelas-gelas teh dan kopi, kami berbincang, menulis, dan mengenang kembali sebuah sore di kedai di Cikini saat kami hendak berpisah dan bersepakat untuk saling menulis. Kami mengingat kembali momen-momen perjalanan sesudahnya hingga sebuah pagi di bandara Soekarno Hatta saat Gypsytoes pulang dengan koper yang lebih besar dari tubuhnya itu, saat kami berpelukan dan saling mengejek betapa sembap mata kami yang kekurangan tidur.

Namun demikian, terkadang keributan terjadi juga. Saat saya menulis tentang wajah pulau Bali yang murung sebelah, ia katakan tulisan saya terkesan berjarak. Berani betul dia. Kami bertengkar. Sampai pada suatu titik saat kalah berargumen, saya katakan padanya kata-kata semacam, “Tahu apa kau?” Gypsytoes, sahabat saya yang sedang tergolek itu, bukanlah jenis orang yang bisa kau tentang dengan membabi buta. Keributan berlanjut. Dan, seperti di pertengkaran lain, anak itu lebih sering ada di pihak yang benar. Saat akhirnya tulisan itu saya rombak dan kami berdua puas, kami berdamai. Tak lama saya telah bisa mencoel-coel pipinya saat ia mulai senyum-senyum jumawa.

Twosocks

Gypsyoes masih tergolek lemah. Terkadang ia terbatuk-batuk dan mencoba menangani sesak di dadanya. Di saat begini, ia akan senang jika punggungnya saya gosok sebentar. Barusan ia sempat terbangun dan batuk-batuk. Saya ajak ia masuk ke kamar. Sambil menata selimutnya saya katakan padanya,

“Istirahatlah, jangan kau bangun dan batuk-batuk macam begitu. Nanti mukamu kubekap dengan bantal.”

Di antara wajahnya yang lelah ia berbisik, “Coba saja kalau berani.”

Anak ini, semoga ia segera sembuh dan bisa ke sana kemari lagi. Saya tinggalkan ia sebentar untuk menuliskan bagian akhir dari catatan ini.

Sebulan dari sekarang, “Kisah Kawan di Ujung Sana” akan lahir. Apakah orang akan membacanya, kami tak tahu.  Namun, bagaimana pun, ia akan mengisi dengan manis salah satu sudut di rak buku kami yang agak miring itu. Akan banyak saat di mana Gypsytoes dan saya memandangi buku berwarna biru muda itu dengan sayang.

The Dusty Sneakers: Kisah Kawan di Ujung Sana

Baiklah, terakhir, kami hendak mengucap terima kasih kepada anda, pembaca blog The Dusty Sneakers yang kerap berkirim kabar dan kata-kata penyemangat. Salam hangat kami juga untuk kenalan-kenalan baru yang nanti membaca “Kisah Kawan di Ujung Sana”. Semoga teman-teman sekalian menikmati cerita-cerita kami seperti kami begitu menikmati menuliskannya.

Twosocks

comments 14

Menikmati Jakarta dengan Perlahan, di Minggu Saat Ia Beristirahat

Hari Minggu pagi itu dimulai lebih pagi dari biasanya. Sebelum matahari benar-benar muncul, saya sudah mulai berlari. Musik dari adegan latihan Rocky Balboa bikin saya berlari lebih kencang sekaligus merasa sedikit gagah. Baiklah, selera saya memang payah betul. Gypsytoes sering menertawakan saya soal ini. Tapi sudahlah, dentum musik itu, dan juga bayangan adegan yang menyertai memang mampu memompa semangat. Adegan Rocky Balboa yang berlari diikuti serombongan anak kecil, atau saat ia memanggil-manggil istrinya dengan muka sembab sesudah dipukuli, atau saat ia dan Apollo Creed lompat-lompat kegirangan sesudah adu lari di pantai. Adegan ini menurut saya manis sekali, dua pria gempal, saling berpelukan riang, dengan kaos singlet berwarna kuning dan hijau.

Whatever floats your boat.” Begitu Gypsytoes kerap berkata jika saya berkeras betapa selera saya ini tidaklah payah-payah benar.

Baiklah, mari sedikit beranjak, saya memang tidak hendak bercerita tentang hari berlari. Ini adalah hari terakhir sebelum Jakarta kembali ke wajah aslinya. Esok masa libur panjang lebaran akan berakhir. Wajah Jakarta yang seminggu terakhir lengang akan segera lenyap. Ia akan kembali berpeluh dan sesak. Kita akan terbangun dari mimpi untuk kembali melihat Jakarta yang sesungguhnya. Wajahnya yang bikin gerah walau terlanjur sudah dicinta. Saya tidak hendak berkeluh kesah. Sesumpek apapun kota ini, dia juga adalah kota yang dekat di hati. Di sini, saya dan jutaan yang lain pernah jatuh cinta, bergembira ria, atau merasakan hati yang remuk. Esok ia akan kembali dijejali manusia yang banyaknya tak ketulungan itu. Dan kisah-kisah baru akan kembali dicatat. Namun, seminggu terakhir ini, sang nyonya tua sempat beristirahat sejenak. Saat jalannya sepi, saat langitnya biru, saat ia mengambil napas yang sangat berhak ia dapatkan.

orang tua dan burung hantu

Di hari terakhir ini, saya memang berkeinginan memulainya lebih awal dari biasa. Setelah berlari, saya duduk di sebuah kedai kopi di Jalan Sabang bersama Gypsytoes. Wajahnya tampak masih mengantuk. Setelah saya goda dan desak-desak, akhirnya senyumnya muncul juga. Kami berbincang tentang hari-hari yang telah lewat. Seminggu terakhir tentu adalah hari yang penuh haru bagi mereka yang kembali ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga, bermaaf-maafan, dan melepas rindu. Perjalanan jauh yang sesak dan macet rela ditempuh untuk senyum orang-orang terdekat yang jarang ditemui. Bagi mereka yang di Jakarta saja, mereka memiliki nikmat tambahan, melihat Jakarta yang sedang beristirahat.

Vira dan Diyan, kawan kami yang energinya selalu berlebih, merayakan lengangnya Jakarta dengan menyambangi sudut-sudut yang jarang mereka datangi dalam situasi normal. Mereka berolah raga di pinggir pantai di Ancol atau menjelajahi wilayah barat Jakarta yang biasanya macet tak tanggung-tanggung.  Gypsytoes dan saya menikmati lengang Jakarta dengan lebih perlahan. Seperti tahun-tahun yang lain, kami hampir selalu menghabiskan hari-hari di seputar Lebaran di Jakarta berdua saja. Ini adalah hari-hari di mana kami berkeliaran dengan celana pendek, sandal jepit, dan buku untuk berpindah dari satu sudut ke sudut lain, dari satu kedai kopi ke kedai yang lain, untuk sekadar duduk minum kopi, berbincang, dan membaca. Semua terasa perlahan, tenang, dan tak banyak pikir. Kami terkadang terkagum-kagum sendiri betapa sedikitnya waktu yang diperlukan untuk berpindah dari satu titik ke titik lain. Jakarta sedang beristirahat dengan ramah sekali.

old vespa dan jl surabaya (1)

Sejak sehari sesudah lebaran sebenarnya saya sudah masuk kantor. Namun, karena sebagian besar orang sedang berlibur dan pekerjaan sedang tak banyak, banyak waktu saya habiskan untuk hal yang ringan-ringan saja. Salah satunya menjaga Sachi, gadis cilik lima tahun, putri salah satu rekan kerja.  Sachi ikut ibunya ke kantor karena pengasuhnya sedang libur. Saat itu sang Ibu sedang banyak pekerjaan, karenanya saya merelakan diri untuk menemani Sachi kecil. Lagipula, Sachi adalah anak yang riang, menjaganya tidaklah terlalu sulit. Menyenangkan malah.  Ia sedang gandrung sekali dengan film Frozen, sebuah kisah tentang seorang putri yang berjuang membebaskan kerajaannya dari musim dingin abadi. Jadi saat saya putarkan lagu dari film itu, menyanyilah ia, riang betul, lengkap dengan tari dan gerak tangan. Sebagaimana banyak anak kecil seusianya, ia pun menggemari tokoh putri yang cantik jelita dan pandai menari. Saya mencoba mencuci otaknya dengan memperkenalkan jenis tokoh perempuan idaman lain misalnya Mulan yang perkasa. Ia bergeming. Ia tetap menyukai Mulan dalam versinya sebagaimana putri kebanyakan. Ia tidak menyukai saat Mulan berpakaian seperti laki-laki dan dengan perkasa menebas para penjahat. Di akhir hari saya membuatkan sebuah tato dengan spidol di lengannya, sebuah huruf mandarin yang saya karang sekenanya. Ia senang dan bertanya apa bunyi huruf-huruf itu. Saya bingung jadi saya sebut saja huruf itu berbunyi ‘Tuan Putri’. Ia girang setengah mati dan mulai pamer kemana-mana bahwa ia punya tato bertuliskan ‘Tuan Putri’. Sachi yang malang, di usia lima tahun, pertama kalinya ia ditipu laki-laki.

Begitulah, minggu itu saya nikmati dengan perlahan. Ia dipenuhi hari-hari santai bersama Gypsytoes dan hari-hari di kantor yang saya habiskan dengan membantu Sachi menggambar-gambar tokoh kartun di papan tulis ruangan saya. Pagi itu, di hari terakhir di mana Jakarta bergerak dengan perlahan, saya menikmati sarapan bersama Gypsytoes di kedai itu hingga siang menjelang. Kami lanjut berbicara tentang hari-hari yang lewat. Suasana hati kami baik sekali saat itu. Seminggu terakhir adalah hari beristirahat yang baik, untuk kami, untuk banyak orang, untuk Jakarta. Saat berjalan ke luar, Jalan Sabang pun masih lengang, begitu juga saat kami bergandengan tangan menyusuri Thamrin. Kami masih terus menikmati Jakarta yang beristirahat. Mulai besok penduduknya akan berduyun-duyun kembali, mulai menjalani hari-harinya di kota yang dicintai sekaligus kerap membuat kesal itu. Mulai besok, Jakarta akan kembali ramai, kembali padat, kembali menjadi tuan rumah untuk banyak sekali kisah yang hendak dicatat.

Twosocks

comments 12

The City and the Bookshop Below

Upon landing in Bangalore, I could only thought of bookshops. There is of course my beloved Blossoms, which I eagerly introduced to my travel companion. He was as excited as I was when I first discovered Blossoms. We spent two hours in the three-story book warehouse, squealing upon finding the art books, the graphic novels, the books of our childhood, and the non-fictions of our young adult life. After leaving Blossoms with our wallet considerably thinner and our bags much heavier, I took him down Church Street to a place I call The Bookshop Below.

The Bookshop Below has a real name, of course. It calls itself Goobee’s, but I gave the nickname because you have to look below the street to find the bookshop on the basement. Goobee’s is much smaller in size and collection compared to Blossoms, but it has a character you won’t easily forget. For one, its full name is Goobe’s Book Republic. Don’t you wonder what kind of book the other books would elect to become a leader in their republic? For another, it lends books in addition to selling second hand ones, is graced with a chandelier made of old books, and features a happy looking owl and bright green paint for its décor.

Processed with VSCOcam with hb2 preset

More than anything though, I remember the owner. I first found Goobee’s two years ago in a desperate attempt to find an important book during a trip to Bangalore, when Blossoms failed me for the first time. The owner greeted me the moment I stepped below the stairs. Perhaps because he saw desperation written all over my face; more likely because he does that for all his customers. My book was nowhere to be found, but he took down my e-mail and promised to contact me if he managed to locate the book within the five days I was to be in Bangalore.

I didn’t have high hopes, but Goobee’s came through. His e-mail arrived on the morning of my last day and I came running to The Bookshop Below, suitcase and all, and thanked him profusely for finding the book. He told me that he got curious because I tried so hard to find it, so he started reading the book and thought it really is quite good. I looked at him as I paid, this bearded man with his cotton shirt, shorts, and glasses, and thought if only he knew how much the book meant to me. How much I had hoped for the book to help me make sense of the turmoil that I was in, how much I longed to understand.

And it did. This book, which shall remain unnamed, did help me understand and it did help me make sense. I devoured the pages during my flight back to Jakarta and landed feeling much calmer than the months before. I have never read the book again, but it now sits on my bookshelf as a reminder of my quest for calm and of The Bookshop Below.

Processed with VSCOcam with f2 preset

So it is with fondness that I returned to Goobee’s, and with a much calmer heart. My travel companion got excited once again and roamed the bookshelves hoping to find a book of old Bollywood posters for his arts collective. The owner was sitting in his corner, also in a cotton shirt and shorts, and once again he stood up to greet me.

He began telling me that he was going for a lunch break and that his assistant would help us, but then a look of recognition flashed on his face and he said, “You’ve been here before.”

I couldn’t believe what I heard. “Yes. Once, two years ago.”

“I hope you’re going to find what you’re looking for this time,” he said before waving good bye. I only smiled and waved back.

Processed with VSCOcam with hb1 preset

I wasn’t looking for anything, but at that moment I found something more precious than books.

I’ve been coming to Bangalore once every two years since 2008, initially for work and research, but increasingly for passion and friends. The more I visit, the more I think of bookshops and tea cafes than temples or museums –a sign of the city getting under my skin, of me thinking it as one of my own. And I do, for Bangalore always seems to be a place where I could look a little deeper into myself, challenge my beliefs a little bit more, and inch a little closer towards coming to terms with agonizing questions and dilemmas. Over the years, from my time in Bangalore I have learned to walk alone in the streets with my head high instead of looking down to avoid unwanted attention, that my clothes has nothing to do with how safe I am on the streets, that the best medicine is time, and that although it was difficult to accept, the right decision was to return to Jakarta. For all of those and beyond, Bangalore really feels like one of my own cities, one that I cherish as much as Jakarta and Den Haag.

I know how much Bangalore means to me, but only when Goobee’s owner recognized me I feel that it also thinks of me as one of its own. It was as if the city whispered to me, “You belong here.”

Processed with VSCOcam with a5 presetI saw him again a few nights after, in a bar called the Hummingtrees to watch Sha’iir and Func, a band that definitely sings louder than a hum. He passed me on his way to the door, paused, and came back with a handshake.

“My name is Ravi,” he said. “Did you get anything the last time you came?”

I shook my head and he shook his fore finger in return.

“The next time you come, you should get a book,” he said. And then he broke into a grin. “Kidding. I was just giving you a hard time. You are welcome to come by anytime and look at books.”

“I will,” I said with a big smile, for he was right. I am sure that there will be a next time in Bangalore, and when it comes I will come to The Bookshop Below to look at books, to buy one, and to remember that I belong.

Processed with VSCOcam with hb1 preset

Gypsytoes, July 2014

comments 12

Mengenang Prau, di Seputar Hari-Hari Gegap Gempita dan Teman yang Akan Pergi

Ada hal-hal khusus dari sebuah perjalanan yang akan kita kenang untuk waktu yang lama. Ia bisa merupakan hal-hal di seputar kebaruan, keindahan, bincang-bincang mendalam, sampai yang remeh temeh sama sekali. Pendakian Ceremai akan saya kenang sebagai hari di mana Arip Syaman memasak dengan membabi buta di puncak gunung, Curug Sawer di Sukabumi sebagai tempat Najib merenungi pohon-pohon tua,  atau Siem Reap di mana Gypsytoes bertanya bagaimana saya ingin meninggal dunia.

Saya tahu apa yang akan saya kenang dari pendakian ke puncak Gunung Prau dua minggu yang lalu. Ia adalah pendakian yang dilakukan beberapa hari menjelang pemilihan presiden yang gegap gempita itu. Menjelang pesta besar yang menimbulkan nyala gairah yang bercampur dengan harapan dan gelisah. Konon, pertaruhan yang begitu besar sedang dihadapi bangsa nan luas ini. Saat menapak puncak, di antara gumpalan-gumpalan awan, di tengah padang rumput yang luas, bayangan akan hari bersejarah beberapa hari sesudahnya tak lepas dari kepala maupun bincang-bincang sesama pendaki. Kami berbagi kecemasan di antara jeda perjalanan, kami bertukar harapan di antara api unggun yang menyala redup. Pagi hari itu, saat matahari tampak terbit di kejauhan dari puncak Prau yang berbukit-bukit, adalah pagi yang akan saya kenang untuk waktu yang lama. Ia adalah pagi saat saya mengucap doa agar pria berwajah sederhana itu menjadi pemimpin Indonesia lima tahun ke depan.

Gunung Prau

Saat itu di dekat saya ada Rivan, seorang kawan dekat. Dengan caranya, ia pun mengharapkan hal yang sama. Kami yang saat itu mencapai puncak Prau sama-sama  berpendapat bahwa pilihan dalam Pemilu ini adalah perkara yang sudah terang benderang. Namun, kami pun berbagi kecemasan saat kala itu hasil akhirnya sungguh tak bisa diprediksi. Tapi sudahlah, beberapa hari sesudah catatan ini dibuat hasil pemilihan presiden akan muncul. Jadi tak usahlah saya berpanjang-panjang tentang itu.

Ada satu lagi hal yang akan saya kenang tentang Prau. Ia juga adalah pendakian perpisahan saya dengan Rivan. Bulan Agustus nanti ia akan berangkat ke Amerika dengan niat mulia, bersekolah lagi. Kami berteman cukup lama sejak masa-masa bertenaga di bangku kuliah dulu walau berasal dari kampus yang berbeda. Saat ini ia seorang pekerja pembangunan penuh semangat yang menginginkan seluruh anak Indonesia mendapat pendidikan yang layak. Seperti halnya Najib, ia pun jenis yang beberapa kali lebih pintar dari saya. Ia mengerti fisika kuantum. Nah, itu seharusnya cukup menjelaskan. Dan walau usianya beberapa tahun di atas saya, ia masih bergairah untuk terus menuntut ilmu. Jauh dibandingkan saya yang malas tak ketulungan dalam urusan-urusan macam itu.

Gunung prau

Tapi baiklah, kita berkisah soal pendakian gunung saja. Dalam perkara ini, Rivan pun keras kepala minta ampun. Walau usia terus merayap naik, ia masih terus mendaki. Empat tahun lalu ia takluk dan gagal mencapai puncak Merbabu dalam pendakian yang dihujani badai. Namun, Ia tak surut. Dijaganya tubuhnya dengan baik untuk terus berjalan. Ia membalas kegagalan Merbabu dengan mencapai puncak Sindoro dengan gagah. Ia juga berhasil mencapai puncak Kerinci dan Rinjani walau sesudah pendakian tubuhnya berantakan. Perjalanan gunung dan momen perpisahan kawan tentu sesuatu yang membuat perasaan syahdu. Apalagi ia bisa dibilang salah satu kawan dekat. Namun, ketika catatan ini ditulis, saat saya mengingat perbincangan yang kami lakukan diluar soal-soal Pemilu tadi, yang muncul justru hal remeh temeh saja.

ooo

“Saat berjalan di belakangmu macam begini, kupikir bentuk pantatku tidaklah buruk-buruk benar,” kata saya saat berjalan di belakangnya di sebuah tanjakan.

“ Pantatmu? Pantatmu yang mana?”

Kami berdua memang terberkahi dengan bentuk pantat rata yang tidak menarik hati. Saat saya kemudian berjalan mendahuluinya, ia berkata,

“Heh! Jangan marah, kau tetap boleh berjalan di belakangku dan pandang-pandang pantatku.”

000

 “Aku senang mendaki gunung bersamamu,” katanya saat kami beristirahat dan melihat gumpalan-gumpalan awan di bawah.

“Kenapa?”

“Jalanmu lamban. Aku tak harus keteteran di belakang. “

“Anjing.”

000

Saya pun teringat kami sempat berbicara tentang betapa cerita Sangkuriang memenuhi syarat untuk masuk dalam kisah-kisah paling salah kaprah yang pernah ada. Semua urusan dimulai dari seorang putri yang saking ia malas mengambil alat tenunnya yang terjatuh, ia berjanji menikahi atau mengangkat saudara siapapun yang mengambilkan alat tenun sialan itu untuknya. Datanglah anjing. Maka kisah pun berkembang menjadi hubungan suami istri dengan binatang, keinginan bercinta dengan ibu sendiri, hingga kekerasan terhadap binatang di mana si anjing malang dibunuh anaknya sendiri yang seorang manusia. Konon, hati anjing yang juga bapaknya sendiri itu, disajikannya untuk makan malam pula.

prau2

Ini tentulah bukan hal-hal paling bermakna yang kami perbincangkan, apalagi untuk sesuatu yang sesyahdu pendakian perpisahan. Tetapi ingatan terkadang memang bekerja dengan caranya sendiri. Ia datang begitu saja. Seorang kenalan dulu bertutur, ia pernah menghabiskan berminggu-minggu berkemah dengan kelompok penjaga hutan di taman nasional Yosemite di Amerika, tetapi ia hanya ingat sebuah pembicaraan panjang tentang korek api saja. Tak lebih. Sisanya kabur dari ingatan. Pendakian Prau mungkin akan meninggalkan ingatan sebagai pendakian di seputar hari-hari Pemilu yang gegap gempita dan pendakian perpisahan untuk kawan saya Rivan.

Saat saya merenung lebih lanjut, muncul pula gambar terakhir saat sesudah pendakian Rivan dan saya berpisah di depan Benteng Vredeburg, Yogyakarta. Di sana Rivan memeluk saya dan mengucap kata-kata perpisahan yang manis. Entah apa, saya tak ingat persis, tetapi manislah pada intinya. Saya ingat ia kemudian menjauh dengan taksinya ke bandara dan saya berpaling pada Irma, kawan pendaki yang tersisa. Kami yang kelaparan kemudian menggasak gudeg masing-masing sepiring lalu putar-putar Yogyakarta sebentar sebelum saya kembali ke Jakarta dengan kereta malam. Ah, jika saja catatan ini saya tulis di kereta malam itu, mungkin akan terdapat lebih banyak catatan memori yang tersisa. Tapi sudahlah, waktu itu saya molor-semolor-molornya.

Twosocks

PS:

–  Salam manis untuk kawan-kawan mendaki Prau yang budiman semua. Irma  (2 tahun, 4 gunung, not bad, eh?) Steven (Ayo kita dekor kios di Santa, haha!) Angela dan Hindra (Kalian membuat banyak orang ingin muda dan jatuh cinta dengan malu-malu lagi) Dhika dan Sarah (Semoga tidak kapok mendaki bareng ya, kapan-kapan mari cerita-cerita kisah pewayangan lagi) Rivan (Selamat jalan, nyet!)

– Terima kasih Hindra, untuk foto malam hari yang indah betul itu