comments 32

Perayaan Kecil untuk Kisah Kawan di Ujung Sana

Tepat satu minggu yang lalu, saya berlari pulang dan menerobos pintu apartemen dengan gegap gempita. Begitu pintu dibuka, Twosocks menyambut dengan berlari kecil dari pintu kamar bersama sebuah buku bersampul biru di tangannya. Dia acungkan buku tersebut ke wajah saya. Kami bertatapan, membelalak, lalu berteriak girang. Ribut sekali.

“Aaaaa!”

Kami berputar, berjingkrak, dan menjerit-jerit sampai akhirnya salah satu dari kami sesak nafas. Tentu kalian bisa menebak yang mana.

The Dusty Sneakers I Kisah Kawan di Ujung Sana 3

Buku pertama kami, The Dusty Sneakers: Kisah Kawan di Ujung Sana, akhirnya tiba di tangan. Jemari saya menelusuri sampulnya, telinga saya menikmati gemerisik kertas saat Twosocks membalik-balik halamannya, dan saya menghirup dalam-dalam aroma buku baru yang menguar.

Kami bertatapan, Twosocks dan saya. Salah satu dari kami masih sesak nafas dan tidak bisa banyak bicara, namun kami tahu bahwa berbagai macam rasa sedang bergolak di benak kami.

Takjub –  bagaimana bisa kami merasa seperti baru berkenalan dengan buku yang kami tulis sendiri?  Haru – kisah-kisah di buku tersebut terjadi empat tahun yang lalu, namun kini mereka seperti bernyawa dan kembali hidup. Cemas – seperti semua hal yang bernyawa, buku ini memilki nasibnya sendiri. Kami hanya bisa berharap mereka yang nanti membacanya akan menikmati buku ini seperti kami menikmati menuliskannya.

The Dusty Sneakers I Kisah Kawan di Ujung Sana 2

Seminggu sesudah siang saat kami berjingkrak hingga sesak nafas itu, kami mulai mendengar kabar dari beberapa teman yang telah membaca Kisah Kawan di Ujung Sana.

“Bab favorit saya dari Gypsytoes adalah Menemukan Persahabatan di Portugal. Bab ini spesial buat saya, dan sempat membuat mata saya berkaca-kaca ketika membacanya. Saya bisa merasakan semua yang berkecamuk dalam diri dan benak Gypsytoes saat itu; karena saya juga pernah mengalami hal serupa. Buat saya, perjalanan Portugal yang tak berjalan mulus dan penuh pergolakan itu justru menjadi pengingat bahwa perjalanan tak selamanya sebuah eskapisme. Bab favorit saya dari Twosocks adalah–tentu saja, Mencari Gypsytoes di Bangalore. Buat saya yang hopeless romantic, bab itu membuat saya ingin menendang-nendang Teddy (dan Maesy) saking gemasnya. Betapa Gypsytoes dan Twosocks adalah dua sahabat paling beruntung di dunia!” Ini kata Hanny, seorang kawan yang begitu hangat dan selalu muncul dengan berbagai ide menarik.

Kawan kami yang lain, Nita, berkata bahwa ia paling menyukai bab Antara Taipei dan Jakarta serta Wajah Bali yang Murung Sebelah. “Perasaan Gypsytoes ketika mengunjungi Taipei sama persis dengan perasaan saya sebagai orang Indonesia keturunan Tionghoa ketika tinggal di Beijing selama 9 bulan. Identitas kami tidak sempurna, baik ketika di Indonesia maupun di tanah Cina. Saya biasanya mengenal Bali dari kacamata turis, kisah Twosocks sebagai orang Bali yang membicarakan perubahan Bali dari masa ke masa membuat saya mengenal Bali dari sisi yang lain.”

Najib, kawan kami yang seperti filsuf, juga berkomentar. “Cerita Twosocks tentang Baduy dengan indah menjalin pertanyaan abadi tentang pergumulan yang ada dalam setiap budaya tentang mempertahankan yang lama dan bergerak menuju arah baru, sedangkan kisah Gypsytoes tentang Belanda menyajikan esensi rumah, yaitu hubungan batin sebagai atap dan dinding yang sesungguhnya.”

The Dusty Sneakers I Kisah Kawan di Ujung Sana 4

Hati kami kembali bergolak, tapi kali ini dengan penuh rasa terima kasih. Perjalanan buku ini masih panjang, tapi kami bersyukur ia sudah dapat menyentuh hati beberapa kawan. Kami ingin berbagi kebahagiaan dan rasa terima kasih kami, oleh karena itu kami ingin membuat sebuah perayaan kecil bagi Kisah Kawan di Ujung Sana. Hari Sabtu ini, 13 September, kami akan berbagi gambar dan cerita-cerita kecil tentang Kisah Kawan di Ujung Sana di kios POST di Pasar Santa. POST adalah hasil khayalan kami berdua dengan kawan kami, Steven, ketika bertemu di Pasar Santa tiga bulan yang lalu. Tentang ini, kami ceritakan lain kali.

Kami ingin mengundang kalian, pembaca blog The Dusty Sneakers, untuk ikut berbagi kebahagiaan dan menikmati Pasar Santa. Silakan datang kapan saja antara jam 3 hingga jam 8 malam, untuk mengobrol, mengintip koleksi buku, dan menikmati kejutan-kejutan yang ditawarkan pasar yang semakin berwarna ini.

The Dusty Sneakers book release

Sementara itu, kami akan senang sekali melihat gambar kalian saat berjalan atau membaca buku kami. Jika berkenan, gunakanlah tag #thedustysneakersbook saat mengunggah gambar kalian bersama si buku biru itu ke akun Instagram atau Twitter.

Terima kasih, kawan-kawan. Sampai bertemu hari Sabtu di POST Pasar Santa.

Salam hangat,

Gypsytoes (dan Twosocks)

Advertisements

32 Comments

  1. dear the dusty sneakers
    baruuuu aja terima kiriman foto buku biru berisi pesan untuk si tukang kubur plus tanda tangan Teddy

    bahagia itu sederhana, ketika kita bisa mensyukuri setiap langkah yang ada
    jadi nggak sabar nungguin bukunya, semoga bisa bertemu kalian esok

    thanks a lot
    saleum si penjelajah kuburan 😉

  2. Pingback: Pasar Santa, Kala Senja Mempertemukan Kita | My Passion

  3. Sangat ingin ikut hadir di Pasar Santa, namun jarak masih tak mau berdamai 🙂
    selamat yah bukunya udah lahir
    semoga cepat sampai di toko buku kota ku

    • Halo Yofangga, terima kasih ya. Kapan-kapan kalau ke Jakarta, mampirlah ke Pasar Santa. Ia selalu riang gembira.
      Oh iya, kata temanku, si buku biru sudah ada juga di Matos. Kami akan senang betul kalau penulis perjalanan yang apik seperti Yofangga ikut juga membacanya 🙂

    • Wwkwkwk Bang Yofangga sama kak Teddy sama kak Meisy is my best blogger inspirator buat nulis, kalian saling berceria sapa satu sama lain, tak ada istilah ‘benar-benar berjarak’, saat gula habis di rumah dan lupa beli teh, sebagai gantinya kuteguk kisah-kisah apik yang diramu saji sedemikian manis, segar, hangat, khas beraroma makna-makna dan pesan moral, pokoknya molto delizioso! 😀
      Aku masih dikungkung oleh keterbatasan pada apa-apa yang disebut berkekurangan sana-sini dalam diri, tapi tidak terlalu harus pintar bijak dulu untuk dengan mudahnya aku mengonsumsi tulisan-tulisan kreatif berkualitas nan keren milik kalian ini… Keep going and show on! pokoknya bang Yofangga, kak Teddy, Kak Meisy…

        • Buat kak Maesy maaf salah ketik nama 😀 sungguh terlalu semangat untuk segera pengen berkomentar tentang perasaan bahagia mengenai blog kalian!
          Bukunya udah kebeli kemaren kak, aku baca pas di tengah kepayahan ndaki Lawu, saat beradu sapa dengan sengat terik matahari siang bersama cengkerama ombak yang mendebur-debur tak kenal penatnya di Pantai Wedi Ombo Pacitan…
          Keep exploring kak! jangan kecapaian ngebagi hasil petikan kisah-kisah kalian dan unduhan makna-maknanya ya kakak-kakak 😀

          • Hi Esa, wah maaf baru melihat komentar ini setelah sekian lama. Terima kasih ya sudah mengajak si buku biru ke Lawu. Semoga pengalaman membacanya menyenangkan. Selamat tahun baru ya, dan semoga perjalanan-perjalananmu tahun depan tambah dahsyat lagi 🙂

  4. Pingback: Maesy Ang & Teddy Kusuma: On Journeys, Distance, and Friendship. | Beradadisini

  5. Hadi Wiyono

    keren Ted..ane salut ama ente…sukses selalu dalam setiap langkahmu…(Hadi STAN2001/DIV2003)

  6. Pingback: sinetron rezky aditya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s