comments 25

Geliat Kreatif di Sudut Pasar yang Sepi

Petang itu, Pasar Santa seperti biasa terlihat sepi. Tak banyak aktivitas di barisan toko yang sebagian besar tutup saat malam menjelang. Di lantai satu hanya sebuah toko kelontong dan penjahit pakaian dengan lampu yang tampak menyala. Lampu remang yang tak membuat banyak perbedaan di lorong-lorong pasar yang gelap.

Sehari-hari pasar tradisional di wilayah Kebayoran Baru ini memang relatif sepi. Saat ini, dari 1,151 kios di bangunan tiga lantai ini, 692 diantaranya kosong tanpa penyewa. Sebagian besar ditinggalkan pedagang yang konon perlahan merugi karena sepinya pengunjung. Kepala Pasar Santa, Bambang Sugiarto, pernah mengatakan menjamurnya pedagang kaki lima di Jl. Cipaku, wilayah depan pasar, serta banyaknya mini market di kawasan Kebayoran Baru membuat pasarnya selalu sepi. Dan begitulah, Pasar Santa, menjalani hari-harinya yang letih dan lengang.

Saya dan Gypsytoes malam itu berada di sana karena kebetulan saja. Setelah acara Sua Pelancong lalu, kami diundang oleh dua teman baru yang bersemangat, Intan dan Arya, untuk datang ke acara restock party di Substore, toko piringan hitam dan pakaian milik mereka di lantai dua pasar. Pasar yang sepi, apalagi setelah lewat petang, membuat mereka cukup leluasa membuat acara kumpul-kumpul. Di sana kami diminta membawakan spoken word seperti saat di Sua Pelancong. Tentu rasanya terhormat sekali. Kami para anak bawang dalam hal spoken word diminta tampil di sebuah acara anak-anak muda kreatif di sebuah pasar tradisional. Walau awalnya cukup gentar juga, hal-hal berjalan lancar sesudahnya. Apalagi semua yang hadir begitu hangat dan penuh penghargaan untuk kami yang masih canggung.

image

Selain kami, ada pula Dave Tepalawatin, pria pemetik gitar yang kemampuan menyanyinya membuat semua cakap dihentikan barang sejenak. Dinyanyikannya lagu-lagu Bob Marley atau Glen Fredly yang membuat penonton mengangguk-anggukkan kepala atau menggoyangkan ujung kaki sembari menyeruput bergelas-gelas kopi. Itu adalah pesta kecil yang yang akrab. Pesta dengan latar musik dari koleksi Substore, petik gitar Dave, bincang intim antar teman baru, kopi enak dari kedai kopi sebelah Substore,  dan ehm, sedikit puisi spoken word dari kami.

Pengalaman mencoba sebuah ekspresi kreatif baru dengan berpuisi membuat hati ini senang juga. Hingga saatnya pulang Gypsytoes dan saya masih girang berbinar-binar akan pengalaman baru itu. Namun, malam itu ada hal lain yang juga meninggalkan kesan mendalam. Di pasar tradisional yang letih ini, muncul geliat anak-anak muda yang mungkin dapat memberinya nafas baru. Substore membawa koleksi piringan hitam yang langka dengan harga lebih terjangkau ke pasar tradisional. Piringan hitam langka selama ini  identik dengan pasar loak semacam toko-toko barang antik di Jl. Surabaya. Namun, belakangan mengkoleksi piringan hitam juga menjadi sebuah kegiatan yang begitu bergaya. Kini lempeng-lempeng tua ini juga mengisi toko-toko gaya hidup di pusat-pusat perbelanjaan. Namun demikian, pengalaman mengobrak-abrik piringan hitam langka di pasar loak tetap adalah pengalaman mengasyikkan tersendiri.  Saya jelas bukan seorang kolektor, tetapi saya membayangkan jika menemukan piringan langka lagu-lagu tua Ernie Djohan setelah mengobrak-abrik pasar loak, hasil buruan itu akan saya peluk dengan jauh lebih syahdu dibanding jika menemukannya di toko-toko lucu di pusat perbelanjaan modern. Ada “rasa perburuan” yang mengasyikkan di sana. Substore tampaknya juga ingin memberikan pengalaman itu. Pengalaman berburu piringan hitam langka di sebuah toko kecil yang unik, di sudut pasar tradisional yang sepi, dengan harga yang lebih murah. Apalagi, Intan dan Arya adalah dua pribadi menyenangkan yang memberikan perasaan berkomunitas bagi pengunjungnya.

Selain koleksi piringan hitam, mereka juga memperkenalkan idealisme yang lain. Mereka memperkenalkan pakaian dengan brand “Sight from the East”, sebuah inisiatif untuk lebih memperkenalkan kain tenun NTT. Perjalanan Intan dan Arya menjelajahi NTT membuat mereka terkagum-kagum akan karya tenunnya. Saat sekarang batik begitu membahana, kain tenun dari perajin-perajin NTT memang masih berada di belakang. Selain sulit ditemui, tenun-tenun indah ini pun masih relatif mahal.  Karenanya Intan dan Arya mengakali dengan memodifikasi potongan tenun itu dengan sebuah denim dibantu seorang penjahit keliling. Jadilah ia pakaian denim yang bergaya dengan aksen tenun NTT.

Kesan berkomunitas yang hangat juga diberikan oleh kedai kopi di sebelah Substore. ABCD A Bunch Of Caffeine Dealers– begitu sebutannya. Ini adalah taman bermain para pencinta kopi di mana anak-anak muda ahli meracik kopi bergembira ria di sana. Kopi dengan racikan terbaik disajikan untuk pengunjung yang bebas membayar sesuka hati, seberapapun mereka menilai nikmat kopi yang baru saja diseruput. Penggagasnya, Hendri Kurniawan, bukan sembarang peracik kopi. Ia adalah juri kejuaran barista dunia, ia juga seorang konsultan di balik kedai-kedai kopi di banyak kota di Indonesia. Kedai ini awalnya adalah tempat persembunyiannya di mana ia berbagi hal-hal di seputar kopi dengan teman-temannya sesama penikmat kopi. Setelah setahun, ABCD semakin dikenal. Semakin banyak yang datang untuk menkmati kebersahajaan kedai ini serta nikmat kopinya. Pengelolaannya yang begitu cair menambah karakter pada tempat ini. Teman-teman Hendri dan peracik kopi lain bebas untuk bantu-bantu meracik, menyajikan kopi, bahkan mencuci gelas. Jam buka pun tegantung kesediaan waktu para peracik muda berbakat ini. Ngopi di pasar, begitu mereka menyebut aktivitas ini. Di sini dapat kita lihat penikmat kopi paling serius, petugas keamanan atau berandal pasar,  eksekutif muda dengan dagu terangkat, mahasiswa yang mencari, pemusik yang mencari tempatnya, bersama-sama menyeruput kopi-kopi paling nikmat yang pernah ada.

Petang itu, lantai dua Pasar Santa memberi kesan yang dalam untuk kami. Di antara pasar yang menyepi, muncul geliat anak-anak muda yang bergerak karena kecintaannya akan sesuatu. Hendri dan para peracik kopi dengan kecintaannya akan kopi enak, Intan dan Arya dengan kecintaannya akan musik, piringan hitam, dan Indonesia timur. Sudut Pasar Santa ini menjadi tempat mereka bebas bermain.

“Kepala pasar membebaskan kami untuk bikin acara apa pun di sini, tanpa biaya tambahan, tanpa gangguan preman,“ demikian ujar Arya kepada kami, saat sekilas terdengar lagu lama Jackson Five dari pemutar piringan hitam.

Saat berjalan pulang, Gypsytoes dan saya mengingat pembicaraan dengan Steven, seorang teman lain yang tadi juga kami temui di sana. Kami berbicara tentang nafas baru di pasar yang lengang itu. Kami membayangkan tempat itu betul-betul bisa menjadi area kreatif alternatif bagi anak-anak muda Jakarta. Kami membayangkan di tangga menuju lantai dua itu berdiri penyair muda yang membacakan puisi sementara yang lain menontonnya dari bangku-bangku kayu di depan kedai. Kami membayangkan diskusi buku yang bisa dilakukan di area sekitar tangga sambil menyeruput kopi. Kami membayangkan sebuah ruangan di mana seniman-seniman muda yang baru mulai merintis karir memamerkan karya fotografi atau lukisnya. Kami membayangkan sebuah tempat yang memberi ruang kreatif, yang akan membuat siapapun dapat menikmatinya dengan bersahaja. Kami mendengar bahwa beberapa kelompok muda memang sedang melihat kemungkinan memanfaatkan sudut pasar ini. Mungkin tak lama lagi hal itu benar-benar akan terwujud. Sebuah sudut kreatif alternatif di Jakarta, saat duduk-duduk di pasar dan berkreasi menjadi kegiatan yang nikmat dilakukan di sebuah akhir pekan. Sehingga nafas baru benar-benar akan muncul di sudut pasar yang lengang ini.

Dan saya kembali teringat saat Gypsytoes, Steven, dan saya saling memandang dan tersenyum, saat sebuah ide muncul seperti bola lampu yang menyala di atas kepala kami.

Twosocks

Advertisements

25 Comments

  1. Huaaaaa,…ted…kalo kenal mas Hendri Kurniawan, mau dooong dicolekin (pengen berguru pd beliaunya)….gw jg ngebet mau ambil kelas barista di Melbourne kalo liburan kuliah ini… 🙂

  2. thanks sob untuk postingannya…
    article yang menarik,saya tunggu article berikutnya yach.hehe..
    maju terus dan sukses selalu…
    salam kenal yach…
    kunjungi blog saya ya sob,banyak tuh article2 yang seru buat dibaca..
    http://chaniaj.blogspot.com/

  3. Kalian ini seru banget sih, bisa-bisanya selalu nemu tempat antimainstream. Ayo ayo, buku kelar tahun ini ya 🙂

    *pecut diri sendiri*

    • Anak2 Substore dan ABCD ini yang seru banget. Mereka ini motor betul.
      Terimakasih ya Adie untuk ucapan penyemangatnya, Ayo saling pecut! haha

    • Haha udah tahu aja. Paling cepat awal September sepertinya. Sekarang lagi kumpul2in ide bisa diapain aja tempatnya. Doakan ya. Nanti nongkrong2 di pasar kita!

      • iyaaa.. minggu lalu ke pasar lalu Intan cerita mau ada kios apa saja di sana, dan kesebutlah nama kalian 😀 lancar jaya ya persiapannya! nanti mau bikin acara ibupenyu ah di sana *sok*

  4. Whoa, aku belum pernah ke Pasar Santa!

    Kemarin tertarik karena diomongin ibupenyu dan makin tertarik setelah baca ini 😀

  5. Hi calon tetangga 🙂 impianmu sama dengan impianku. Bisa menikmati yg membaca puisi, diskusi, sesekali tarian, bahkan akustikan diseputaran tangga dan kita menikmatinya dari selasar pasar. Semoga..! See ya there soon..:)

    • Halo si pembuat kue yang enaknya tak ketulungan!! Soal akustikan, anak-anak substore itu juaranya, selalu bisa mendatangkan pemusik yang menyenangkan. Semoga akan semakin banyak kreasi yang bisa dihadirkan di sini. Ah, tak sabar untuk betulan mulai bertetangga dan menyikat kue-kue buatanmu 🙂

  6. Halo Twosocks. Intan dan Arya ini kesannya kreatif sekali ya. Dan sepertinya mereka juga punya tetangga dan teman-teman yang apresiatif serta kaya akan ide ‘non-linear’ yang membesarkan hati. Setahu saya sejak direnovasi Pasar Santa memang lalu jadi sepi, sama sekali tidak tahu ada yang seperti ini (sudah tidak lagi tinggal di Kebayoran sejak akhir ‘abad yang lalu’—jadi silakan kalau mau panggil saya ‘The Ancient One’ ha..ha..). Siapa tahu kalau ada jodoh tahun depan saya bisa ikut merasakan asyiknya keluyuran di Pasar Santa setelah matahari terbenam. Apapun, semoga sukses untuk ‘misi pasar’-nya.

    • Halo Skub. Iya, Intan dan Arya memang pasangan yang kreatif dan hangat sekali. Selalu menyenangkan bincang-bincang dengan mereka. Oh, mampirlah saat singgah kembali ke Jakarta, Perlahan pasar ini semakin menyenangkan,saja, Kami selalu menemukan kawan baru dan perbincangan menarik di sana. Sampai bertemu Skub!

  7. Pingback: Perayaan Kecil untuk Kisah Kawan di Ujung Sana | The Dusty Sneakers

  8. Pingback: Behind the Pages | The Dusty Sneakers

  9. Pingback: In Between Adieu and Hello | The Dusty Sneakers

  10. Pingback: Our POST at Pasar Santa | The Dusty Sneakers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s