comments 2

Akhir Pekan Saat Kami Berjalan ke Masa Lalu

Saya adalah pria dari masa lalu. Saya kerap melihat hal-hal di sekeliling seolah dalam gambar hitam putih dengan latar belakang lagu-lagu jazz tua. Saya senang membayangkan tahun 60an sebagai masa yang romantis, saat para pemuda dan pemudi haus akan karya sastra dan The Beatles, saat mereka jauh cinta dan berbicara dengan santun, saat mereka mengenakan pakaian berwarna dengan bunga di tangannya. Tentu ini bukan gambar-gambar yang secara keseluruhan mewakili jaman terdahulu, tapi memandangnya dengan cara itu selalu membuat perasaan saya menjadi melankolis. Dan saya menyukainya.

Akhir pekan lalu, sisi saya ini seolah mendapatkan kemanjaan yang diidamkannya. Dimulai di hari Jumat malam di Tryst’s Kemang. Gypsytoes, sahabat saya yang ceria itu, mengatakan di sana sedang ada pesta bertema tahun 80 an. Mata saya lantas berbinar. Terbayanglah remaja-remaja dengan ikat kepala break dance nya, lagu ‘Jalan Sore’ Denny Malik yang menggemaskan itu, Phil Collins saat dalam formasi Genesis, dan tentu saja munculnya sekelompok pemuda nan energik New Kids on the Block! Tanpa berpikir panjang saya menyanggupi ajakan Gypsytoes untuk pergi ke Kemang.

Memasuki Tryst’s kami seolah memasuki sebuah kereta waktu penuh nostalgia. Kami disambut dengan slide show hal-hal yang begitu ikonik dari tahun-tahun itu. Gambar Koes Hendratmo yang anggun membawakan acara ‘Berpacu dalam Melodi’, foto Ralph Macchio lengkap dengan ikat kepala nya di film ‘Karate Kid’, logo siaran Dunia dalam Berita, foto Ateng dan Iskak, video game Sega, dan banyak lagi. Setiap slide berganti kami bersama- sama berteriak sambil menunjuk-nunjuk slide: Richie Ricardooo!! Gabann!! Jaka Sembungg!! Rocky Balboa!!! dan seterusnya. Dan saya semakin ke puncak saat Diskopantera, sang DJ yang eksentrik itu, memainkan lagu ‘Aku suka kamu’ dari Trio Libels. Saya berjoget dengan riang dan menyanyikan setiap liriknya dengan fasih. Sungguh saya senorak itu. Dalam acara clubbing dan sejenisnya saya biasanya adalah anak yang duduk di belakang, meminum minuman saya perlahan, dan memperhatikan sekeliling dengan tenang. Namun malam itu, saya lepas kendali. Saya nandak-nandak kegirangangan mengikuti lagu ‘Karma Chameleon’ dari Culture Club, melompat-lompat mengikuti rap Iwa K, melakukan moonwalk diantara lagu ‘Beat It’, dan menirukan suara sember Danny Wood di lagu ‘Step by Step’. Sungguh perjalanan kereta waktu ini begitu menyenangkan. Saya adalah penyanyi yang buruk dan penari yang menyedihkan, namun itu adalah malam yang penuh nostalgia. Sedikit tidak tahu malu tentu tidaklah mengapa.

Dan perjalanan waktu tidak berhenti di sana. Keesokan harinya, di Sabtu sore yang baru saja berhujan, kami ada di taman belakang Dia.Lo.Gue Kemang yang asri. Di sana kami menyaksikan konser mini White Shoes And The Couples Company. Dengan melihat gaya berpakaian retro mereka saja, kami sudah dibawa ke suasana tahun 60-70an yang berbunga. Ditambah suara tabla yang bertalu halus, alunan cello yang mendayu, dan kerlip lampu taman di kala senja membuat suasana menjadi semakin ramah. Namun suara dan gerak tubuh Sari sang vokalis lah yang sungguh membawa kami ke masa lalu yang bersahaja itu. Saat menyanyikan lagu seperti ‘Nothing to Fear’ atau ‘Kisah dari Selatan Jakarta’ , suara Sari yang begitu lembut dan gerak tangannya yang sangat anggun menciptakan suasana masa lalu yang begitu kental. Komunikasi dengan penonton pun dilakukan dengan bahasa Indonesia yang tertata rapi dan sederhana. Sungguh kami dibawa ke sebuah masa saat remaja jatuh cinta dengan santun dan terobsesi akan karya-karya seni yang indah. Sore itu kami merayakan sebuah kegiatan berkesenian yang ramah, bersahaja, anggun, dari sebuah masa yang penuh romansa. Sebuah masa yang juga melahirkan Galih dan Ratna, The Beatles, atau film ‘Annie Hall’.

Taken from WSATCC's official website

Akhir pekan itu membuat saya teringat akan film Woody Allen berjudul ‘Midnight in Paris’ dimana sang tokoh utama begitu terobsesi akan Paris masa lalu. Masa yang ia anggap mewakili segala keindahan kesenian. Sebuah perjalanan waktu membawanya kembali ke Paris di tahun 1920an dan memberinya kesempatan berinteraksi dengan Ernest Hemingway, Cole Porter, F. Scott Fitzgerald dan semua nama-nama besar itu. Film itu kemudian bercerita bagaimana masa lalu memang selalu jauh lebih indah di mata orang masa depan yang meromantisasinya. Tentu saja itu ada benarnya. Namun tentu itu juga tidak mengurangi indahnya nostalgia perjalanan waktu. Indahnya melihat kembali masa di mana ayah ibu kita pertama kali jatuh cinta, atau mendengar kembali lagu-lagu yang menghantarkan tidur saat kita dahulu membayangkan cinta monyet masa kanak-kanak. Pojok-pojok Jakarta memang selalu memberikan kejutannya. Dan akhir pekan itu ia memberikan bingkisan sepotong masa lalu untuk kami.

Februari 2013, Twosocks

Salam hangat untuk kawan-kawan perjalanan: Gypsytoes, Jurist Tan, Ben Davis, dan Soichiro Shibata

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s