comments 6

Siang dengan Tan Peng Liang di Dalamnya

Mari sedikit saya bercerita tentang sebuah kilas yang membuat sejuk di hati. Siang itu Pasar Welahan di Jepara sedang ribut dan terik betul, kami masuk ke Kelenteng Hian Thian Siang Tee yang ada di salah satu sudutnya. Setelah berputar-putar melihat tempat pemujaan, tempat meramal nasib, termasuk mengagumi patung biksu jenaka yang sedang tertawa besar-besar, saya duduk di bangku kayu di dekat sebuah patung Buddha emas. Tak melakukan suatu apa, hanya melamun dan mengamati sekitar.

Kelenteng sedang sepi tak berkegiatan. Di ujung kanan pengelihatan tampak altar dengan dupa-dupa yang berasap. Asapnya menyusup di antara tiang-tiang berwarna merah. Di ujung kiri terlihat seorang pria tua berkaos oranye sedang mengaso. Ia duduk dengan kaki naik ke kursi kayu sambil memperhatikan temannya yang masih menyapu pelataran kelenteng. Sayup-sayup terdengar lagu-lagu opera Tionghoa tua dari pemutar kaset yang tentu juga sudah berusia lanjut. Liriknya menyusup di antara tiang-tiang berwarna merah seperti asap dupa tadi. Di luar sana Pasar Welahan sedang terik dan ramai oleh pedagang yang meracau, tapi di dalam sini keributan pasar tak sedikitpun terdengar. Di sini yang terdengar adalah bunyi sapu lidi yang digunakan penyapu kelenteng, bersahutan dengan kibas daun pohon yang tertiup angin. Setelah pasar yang berisik, pemandangan yang saya hadapi membuat suasana hati jadi lebih tenteram. Kelenteng yang lengang, bapak tua yang duduk mengaso, suara opera Tionghoa tua, suara sapu lidi mengosek-osek, dan bunyi pohon yang dikibas angin.

Lalu dari sudut kanan bawah pandangan tampak kucing kecil melintas. Si kucing berjalan pelan-pelan saja seolah terbawa suasana. Kakinya melangkah satu-satu. Tik, tik, tik – seakan menimbulkan derap yang pas dengan suara sapu lidi dan opera lama Tionghoa itu. Saya mengikuti langkah si kucing sambil merasakan angin yang bertiup-tiup menghembus tengkuk. Ini siang yang tenang, begitu saya membatin. Tik, tik, tik – si kucing masih melangkah pelan.

Sambil melamun dan menikmati suasana hati yang baik begini, pikiran jadi melayang ke mana-mana. Tiba-tiba terbayang di Kelenteng ini muncul Tan Peng Liang, tokoh novel Ca-Bau-Kan karangan Remy Sylado. Hanya saja Tan Peng Liang sekarang sudah tua betul. Rupanya ia tidak mati karena diracun duren oleh Jeng Tut yang seronok itu. Ia hidup sampai tua dan gembul, wajahnya tentu tidak ciamik seperti aktor Ferry Salim yang memerankannya di film. Entah apa yang dilakukannya di kelenteng di Jepara sini, Tan Peng Liang jelas orang Semarang, tapi ia tampak bertingkah seolah ini kediamannya sendiri. Tan Peng Liang tua menggetok kepala pak tua yang sedang mengaso itu dengan tangan kirinya. Ia merepet dan menyuruh pak tua ikut bantu-bantu menyapu. Sekarang giliran Tan Peng Liang tua yang mengaso. Ia duduk dengan kaos singlet putih yang kendur, sekendur tubuh rentanya, dan mulai berkipas-kipas. Matanya terpejam-pejam menikmati lagu opera Tionghoa yang sayup-sayup itu.

Sehelai daun kering tampak tertiup angin dari pohon besar di ujung sana. Tik, tik, tik – seperti kucing kecil tadi, daun kering inipun seolah menimbulkan derapnya sendiri setiap kali ia menjejak tanah.

Tiba-tiba pikiran saya melayang lagi membayangkan sebuah kantung plastik yang diterbangkan angin di sebuah daerah barat yang liar. Suara angin terdengar lebih gaduh. Debu-debu juga ikut beterbangan. Lantas keluarlah dua orang koboi dari dalam bar. Mereka berhadap-hadapan, bersiap untuk adu jago. Kedua koboi berwajah beringas ini diam mematung dan saling menatap. Jari-jari tangannya digetar-getarkan di dekat pistol untuk menimbulkan kesan dramatis. Kantung plastik masih berlari-lari tertiup angin, satu- satunya yang tak peduli dengan suasana mencekam yang ditimbulkan kedua koboi.

“Hoi! Sedang apa kau?”

Gypsytoes datang membuyarkan lamunan. Ia cengar cengir di dekat saya seperti kembang gula. Saya tarik tangannya dan memintanya duduk di sebelah. Saya ceritakan padanya tentang suasana yang menenangkan hati ini. Suara opera tua Tionghoa, kakek yang mengaso, asap yang merayap diantara tiang-tiang, suara angin, suara sapu lidi, daun yang diterbangkan angin, dan tik tik tik derap suara kucing yang mengendap-ngendap. Ia tampaknya terbuai juga dengan tutur saya. Kami pun duduk bersisian di bangku kayu itu, melihat kucing yang berjalan menjauh. Tak lama si pak tua berbaju oranye yang sedang mengaso itu menggertak si kucing. “WHRAA!!” Kucing beringsut.

Beberapa saat melamun bersama, Gypsytoes mulai bosan. Ia mengajak saya beranjak. Sambil bangkit ia berkata agar saya tidak terlampau sering menjadi pria masa lalu yang terlalu gemar bermelankoli dan berkenang-kenang. Pret! Anak itu kurang ajar betul. Tapi saya menurut saja. Saya menyambut uluran tangannya dan berjalan menjauhi kelenteng. Pak Tua yang mengaso tak terlalu peduli dengan urusan kami. Ia masih mengaso semengaso-mengasonya.

Twosocks

Advertisements

6 Comments

  1. eh eh, tan peng liang tuh orang beneran atau tokoh fiktif sih? #salahfokus
    btw foto yg paling bawah itu apa? serem… 😐

    • Tan Peng Liang itu tokoh fiktif karangan Remy Sylado. Soal patung yang di bawah itu, konon dia pertapa yang tekun sekali dan tetap seperti itu hingga tua. Cuman gw ndak tahu juga dia siapa. Misterius betul. Gw tanya Tan Peng Liang doi pun geleng-geleng dan bikin banyak alasan haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s