comments 5

On a Quiet Day in West Bali

Saya akan mengenang sebuah Jumat sore di Bulan April sebagai hari dimana saya menemukan salah satu tempat yang membuat hati rasanya damai.  Tempat yang ingin saya datangi saat bersedih. Tempat dimana saya ingin melamun dan mengenang hal-hal indah.  Di sana, di sebuah teluk di Banyuwedang, dek kayu itu menjorok ke laut yang tenang.  Barisan hutan Bakau di ujung utaranya menjadikan tepian laut itu menjadi semacam laguna yang berair tenang. Di sana, di ujung dek itu, saya merasakan damai yang tak ternilai. Melihat perahu yang didayung perlahan, burung yang terbang rendah, kumpulan ikan terbang yang kerap melompat di antara air laut yang hening, warna biru kemerahan saat matahari terbenam, warna kuning kemerahan saat matahari terbit, gunung Raung yang menjulang gagah jauh di ujung utara.

Perjalanan ke ujung barat Bali ini sebenarnya cukuppenuh dan menyenangkan.  Begitu banyak yang saya dan Gypsytoes lakukan. Trekking ke tengah hutan musim di Taman Nasional Bali Barat, mendengarkan suara burung diantara gemercik sungai kecil yang mengalir di tengah hutan, atau  melihat terumbu karang sambil snorkeling di pulau Menjangan.  Namun diantara semuanya, yang paling saya nantikan dari sebuah hari adalah saat-saat saya berada di ujung dek kayu itu. Menjelang matahari terbenam saya sudah akan mandi dengan bersih dan duduk di sana melihat laut.  Sampai hari benar-benar gelap. Keesokan harinya menjelang matahari terbit saya sudah melamun di ujungnya dengan teh hangat yang nikmat.  Bagaikan anak yang penuh pengabdian. Sampai matahari benar-benar tinggi. Begitu terus sepanjang akhir pekan yang panjang itu. Sungguh hening, sungguh menenangkan.

Diantara perjalanan-perjalanan, banyak tempat yang telah memberikan perasaan damainya pada saya. Matahari terbit dari puncak gunung, suara binatang hutan, lagu merdu di jalanan yang lurus, matahari terbenam di pantai-pantai nan indah, dan banyak lagi. Namun ada sesuatu yang ajaib di ujung dek tepi laut yang biru kemerahan itu. Ada sesuatu dalam suara riak air yang terbelah dayung atau dalam siluet nelayan yang menambatkan perahunya di  teluk itu. Sesuatu yang menciptakan perasaan tenang yang belum pernah saya alami sebelumnya. Sesuatu yang tak kuasa saya jelaskan. Teduh, hening, damai. Mereka yang melankolis selalu mempunyai tempat pribadinya. Tempat yang memberinya ketenangan yang tak ternilai. Tempat untuk mereka pergi menyendiri. Senja itu, di ujung barat pulau Bali, saya menemukan tempat saya.

Twosocks, April 2012

Advertisements

5 Comments

    • dustysneakers

      Ah Bram, kalo gitu, gw jadi pengen cepet tua. Setiap hari melamun, membaca, jalan kaki, bicara-bicara … well, being old.

  1. wahh,, bener banget tuh om,, tempat atau suasana sangat mendukung suasana hati kita dan hanya orang tertentu saja yang tidak akan pernah melupakan berbagai kisah suka dukanya bersama tempat itu.. hehe.. 🙂

  2. Tiur Pasaribu

    blum menemukn tempat seperti itu, harus sering2 “kluyuran” lagi neh :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s