comments 5

One Fine December in Northern Vietnam (Interview with Gypsytoes)

“I think this is the closest I’ve ever been to paradise,”  kata Gypsytoes.  Pagi itu kami sedang melamun di atas dek kapal di Halong Bay.  Saya rasa ia tak berlebihan. Barisan bukit batu yang menyembul di atas perairan, suara ombak dan angin yang pelan-pelan saja, burung elang yang sesekali terbang rendah, membuat kami berpikir mungkin seperti inilah pemandangan di sana.  Sambil berselonjor bertelanjang kaki kami melamun, mengagumi alam, dan mengingat betapa perjalanan delapan hari di Vietnam ini menyenangkan betul. Berjalan menembus perbukitan Sapa, mengunjungi suku H’Mong, minum anggur hangat di tengah musim dingin yang berkabut, berbicara dengan sesama pejalan, melihat sejarah pergolakan Vietnam, minum teh di pinggiran jalan Hanoi, tidur di kereta malam, tidur di atas dek kapal, menyanyi-nyanyi sambil minum Bia Hoi di atas dek kapal, dan banyak lagi. Kami selalu menyukai bulan Desember, dan perjalanan ke Vietnam membuat kami semakin menyukai bulan yang sejuk ini.

Ini adalah hari Natal. Sehari setelah kami kembali ke Jakarta. Bersama Gypsytoes saya duduk di Canteen, minum teh,  mendengar lagu-lagu Natal yang hangat, dan menulis. Ini siang yang tenang di Jakarta, Gypsytoes tampak sedikit mengantuk dengan wajah bahagia. Campuran sedikit cocktail Natal di siang hari, lagu yang mendayu, dan sedikit letih dari perjalanan yang menyenangkan. Saya memutuskan untuk membangunkannya dan mengajaknya terlibat dalam tulisan ini. Jadi saya mulai mewawancarainya,

Twosocks (T): Menurutmu apa bagian terbaik dari perjalanan di Vietnam?

Gypsytoes (G): Pengalaman terbaikku ada di Halong Bay. Saat menginap di kapal tongkang kayu dan berlayar di perairan yang hijau dan tenang. Rasanya menyenangkan menembus kabut dan melihat bukit-bukit tinggi itu.  Apalagi sering ada burung elang terbang ke sana-sini. Rasanya seperti di film Return of the Condor Heroes (Ia mulai menyanyikan lagu film itu – mungkin pengaruh cocktail). Dan satu lagi, aku menemukan keahlian baru, kayak! (sekadar catatan, ia tidak benar-benar mendayung, ia hanya menggerakkan sampannya ke sana kemari, sementara saya melakukan pekerjaan sesungguhnya)

T: Kita bertemu orang-orang yang cukup menyenangkan di sana. Bisa diceritakan?

G: Kawan perjalanan yang menarik selalu menjadi bagian menyenangkan dari perjalanan. Ada pasangan Amerika yang menjadi guru SMA di Korea Selatan, Thomas dan Joanna. Mereka pasangan yang ramah, aku ingat kita ngobrol macam-macam termasuk soal budaya K-Pop yang mempengaruhi anak-anak muda Korea untuk melakukan operasi plastik. Mereka juga bercerita bagaimana nenek-nenek adalah sosok yang sakral sekali di Korea. Tapi yang lebih menyenangkan lagi adalah pasangan Norwegia keturunan Iran yang kita temui di Sapa, Naseer dan Fereshta. 20 tahun lalu mereka adalah pengungsi politik Iran yang memulai hidup dari nol di Norwegia. Dan sekarang di usia lima puluhannya, mereka rutin berjalan-jalan ke tempat-tempat jauh. Mulai dari perjalanan ke Cina yang murah meriah sampai  indahnya alam di Ekuador. Naseer juga seorang penggemar filosofi yang fanatik dan pengamat politik yang tajam.  Ia bercerita tentang Foucault, Rumi, dan Rushdie.  Ia juga cukup mengikuti sejarah Indonesia dan berpendapat demokrasi yang buruk selamanya akan lebih baik dari autoritarianisme.

T: Kita sempat ke dataran tinggi Sapa, komentarmu?

G: Di Sapa, untuk pertama kalinya kami mengalami a true Asian winter. Suhunya 2-5 derajat. Dingin sekali dan berkabut. Di sana kami menemukan gluh wein (wine hangat). Enak sekali! Kami melakukan trekking menembus bukit-bukit menuju desa Lao Cai tempat suku H’Mong tinggal. Karena sedang musim dingin, pemandangan memang kurang maksimal. Padi-padi menguning yang seharusnya menjadi pemandangan terindahnya sedang tidak muncul. Perempuan-perempuan H’mong dengan pakaiannya yang begitu cantik menemani kami berjalan. Di akhir perjalanan kami memang harus membeli suvenir-suvenir dari mereka, tapi tidak apa-apa, mereka sudah menemani berjalan begitu jauh dan menolong saya melalui turunan-turunan curam.

T: Di antara sapa dan Halong Bay kita sempat menghabiskan waktu berputar-putar di Hanoi. Apa bagian yang paling berkesan untukmu?

Melihat orang berfoto pre-wedding di mana-mana, hahaha…  Di danau Hoa Kiem, di Temple of Literature, Museum of Ethnography, di pinggiran jalan saat kita sedang minum teh… Beberapa pasangan masih malu-malu, beberapa tampak rileks.  Tapi yang sangat berkesan adalah saat secara tidak sengaja kami menemukan Museum of Women yang menakjubkan, tepatnya di lantai tiga. Di beberapa tempat perempuan sering ditonjolkan sebagai penyandang budaya semata. Yang dikedepankan adalah baju tradisionalnya, peran-peran adat, dan sejenisnya. Tapi lantai tiga museum itu didedikasikan untuk perempuan Vietnam dalam masa-masa pergolakan. Disana ditampilkan wajah-wajah perempuan yang mengangkat senjata membela kehormatan bangsanya. Bukan hanya para pemimpin gerilya yang diakui, di sana ditampilkan pula wajah-wajah tanpa nama mereka yang maju ke depan berperang, menanam bom, atau membajak sawah sambil menyandang bedil dan banyak lagi. Juga tampak wajah para ibu yang kehilangan anaknya, perempuan yang menjadi suster di garis depan, dan banyak lagi. Ini agak berlawanan dengan di Indonesia dimana pejuang perempuannya sangat minim pengakuan. Yang dikedepankan sering terbatas pada kalangan ningrat seperti Kartini, Cut Nya Dien dll, sementara masih begitu banyak perempuan yang mengorbankan jiwa dan raganya untuk kehormatan Indonesia. Beberapa malah perannya sangat direduksi. Gerwani misalnya, mereka  yang sebenarnya pejuang persamaan hak perempuan malah dicap komunis, perempuan-perempuan tak bermoral dan sejenisnya.

T: Menarik sekali Gypsytoes! Selain hal-hal menyenangkan, apa yang kurang menyenangkan dari Vietnam?

Ini adalah delapan hari yang ajaib, semuanya menyenangkan dan bahkan untuk perjalan yang begitu intense, tidak sekalipun kami bersitegang. Kalau ada yang kurang menyenangkan itu adalah saat ditipu pengendara cyclo (becak). Kami diturunkan 20 menit dari tempat tujuan. Kiami selalu suka berjalan kaki, tapi perasaan yang muncul akibat terkena tipu itu sangat menyebalkan. Apalagi jalanan Hanoi Old Quarter di jam-jam sibuk  selalu kacau dalam arti sesungguhnya.  Empat juta motor di Hanoi seperti tumpah di tempat yang sama, dalam jam yang sama, tanpa mempedulikan lampu penanda jalan, dan tanpa polisi! Pejalan kakinya juga sama saja, bisa berhenti seenaknya di tengah jalan untuk foto-foto. Saya pikir saya veteran pejalan kaki, namun saya bisa diam gemetaran di tepi trotoar di Hanoi.

Hari terakhir di Vietnam kami habiskan dengan berjalan ke Hoa Lu, ibu kota tua Vietnam dan mendayung perahu kecil menyusuri sungai yang tenang di Tam Coc. Bersama tukang perahu kami menyanyikan lagu pujian terhadap Ho Chi Minh, bapak negara yang masih begitu dicintai. Perjalanan diakhiri dengan menaiki sepeda di pedesaan Tam Coc. Di jalanan yang lenggang dengan pemandangan bukit yang indah kami bersepeda dan berteriak-teriak menggila.”

Dan hari ini kami di sini, di Jakarta, kembali tersenyum-senyum mengenang perjalanan Vietnam. Sayup masih terdengar lagu-lagu Natal yang mendayu. Have Yourself a Merry Little Christmas. Saatnya bersulang untuk hari yang menyenangkan. Ah, bulan Desember selalu adalah bulan yang manis. Selamat Natal kawan-kawan. Dan selamat tahun baru! Semoga hal-hal masih selalu menyenangkan!

Desember 2011, Twosocks (dan Gypsytoes)

Advertisements

5 Comments

    • dustysneakers

      thanks ipungmbuh, selalu senang bertemu sesama pejalan. dan selamat tahun baru!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s