comments 3

Saat Portland Berwarna Pelangi

Pria dengan gaun bermotif bunga sepanjang lutut maju ke depan mimbar. Rambutnya pirang, panjang, dibiarkan tak diikat. Bibirnya bergincu merah. Di mimbar ia membacakan puisi karyanya. Puisi tentang seseorang yang perlahan bangkit dan membebaskan diri dari keharusan menjadi pribadi yang bukan dirinya. Puisinya biasa saja, sebetulnya, tapi jujur. Gaya deklamasinya yang terkadang merintih terkadang melolong itu pun tidak istimewa, tapi sungguh-sungguh. Di akhir puisi, saat ia mendeklarasikan bahwa ia sekarang manusia bebas, hadirin bertepuk tangan riuh.

Saya dan Maesy menonton sambil bersandar di sebuah pohon taman, ikut bertepuk tangan. Bersama perempuan berbaju gombrong bertuliskan “I’m not your threesome”,pasangan pria yang memegang spanduk “Love conquers hate”, seseorang yang entah perempuan entah lelaki yang bahunya sedang menjadi sandaran bagi pasangannya, dan banyak lagi.

Siang itu di taman kota Portland, Oregon, suasana sedang semarak dengan warna-warni dan ungkapan cinta. Cinta yang menembus batas-batas.

Itu adalah akhir pekan di bulan Juni saat Portland semarak oleh Pride Festival. Saat jalan-jalan utamanya dipenuhi pawai komunitas lesbian, gay, biseksual, transgender, queerquestioning,intersex, hingga aseksual. Tidak hanya mereka, ini adalah perayaan bagi semua yang merayakan persamaan hak bagi siapa pun tanpa memandang orientasi seksualnya. Berbagai kelompok aktivis hak asasi manusia ikut berpawai, juga kelompok seniman, kepanduan, hingga veteran. Kami juga bertemu kelompok Raging Grannies, para nenek aktivis yang bergerak mengkampanyekan berbagai isu kemanusiaan.

Pride Festival adalah perayaan tahunan di berbagai kota yang dilakukan untuk memperingati Stonewall Riots, sebuah titik balik pergerakan LGBT di Amerika Serikat saat kontak fisik antara aktivis dan polisi meluas dalam demonstrasi spontan di New York pada Juni 1969.

Portland
Setelah pembacaan puisi tadi, seorang pemuda kurus maju ke depan. Ia pemuda dengan wajah yang terus-terusan memasang senyum. Ia menyebarkan informasi bahwa asuransi negara bagian telah juga mencakup operasi cuma-cuma bagi penduduk berpenghasilan rendah yang ingin menjalani prosedur ganti kelamin. Ia lantas mengacungkan spanduk dengan nomor telepon hotline yang bisa dihubungi untuk keterangan lebih lanjut. Ia meninggalkan mimbar diikuti sorak sorai gembira para penonton.

Kami berjalan ke dekat mimbar untuk berbicara lebih lanjut dengan Sean, si pemuda kurus tadi. Kepadanya kami ucapkan selamat atas kemajuan gerakan yang demikian pesat ini. Sean pemuda yang ramah, ia bisa berbicara dengan senyum yang tetap mengembang di wajah. Kami sempat omong-omong tentang gerakan persamaan hak di Amerika. Betapa ini adalah perjuangan dengan jejak yang panjang. Bagaimana hingga tahun 1960-an polisi masih kerap melakukan sweeping pada tempat-tempat kaum LGBT biasa berkumpul. Polisi menahan, bahkan mempermalukan mereka di depan publik. Tindakan opresif yang justru membuat gerakan semakin solid.  Baru pada tahun 1972 aktivitas homoseksual tidak lagi dikriminalkan di negara bagian Oregon.

Namun tantangan masih terus mendera. Epidemi AIDS pada periode 1980an memojokkan kaum LGBT saat penyakit ini sering dianggap kutukan atas perilaku mereka. Gerakan persamaan hak terus digencarkan melawan stigma sosial dan hambatan hukum hingga akhirnya pemerintah negara bagian melegalkan pernikahan sesama jenis pada 2014.

“Tapi perjuangan masih jauh dari selesai, Bung. Walaupun penerimaan legal sudah ada, penerimaan sosial masih menjadi pekerjaan rumah yang panjang,” begitu kata Sean sebelum kami berpisah.

Terbersit di kepala saya orang-orang yang masih beranggapan homoseksualitas adalah penyakit yang harus disembuhkan.

Pride Festival tahun 2015 pun menjadi istimewa bagi kota Portland karena untuk pertama kalinya ia diresmikan oleh Kate Brown, gubernur pertama di Amerika Serikat yang secara terbuka mengumumkan bahwa dirinya seorang biseksual.

Dari taman kota kami berjalan ke daerah Pearl District, salah satu pusat keramaian festival. Di sana jalan-jalan semakin semarak dengan warna-warni pelangi. Musik berdentum di beberapa sudut. Orang-orang berparade dengan ekspresi warna-warni sebebasnya. Tak ada aturan berpakaian. Semua bebas menjadi dirinya. Pemuda, pemudi, anak-anak, kakek-nenek, semua mengungkapkan betapa cinta tidak mengenal batasan. Betapa semua perbedaan seharusnya bisa berdampingan. Kami ikut berjalan dalam keramaian, berparade, bernyanyi, menari mengikuti musik, menyapa orang asing, bergembira.

Di antara kemeriahan itu, kami berhenti di sebuah sisi jalan di mana garis batas polisi membentang. Di sana, sekelompok lain juga sedang berdemonstrasi. Kelompok ini mengacung-acungkan spanduk mengutuk segala tindakan homoseksual dan semacamnya. Mereka berteriak betapa kebebasan yang sedang ramai-ramai dirayakan ini hanya akan berujung pada api neraka.

“Hei homo! Tahukah kalian bahwa kalian akan dilaknat? Bahwa kalian akan ramai-ramai masuk neraka? Ya, ya, sana rayakan kebebasan kalian, sialan! Nanti kalian akan tahu sendiri!” begitu seorang pria gempal berteriak-teriak ke arah keramaian. Kencang sekali teriakannya sampai urat lehernya menonjol dan air liurnya sesekali menyembur.

Parade tetap berlangsung melewatinya. Beberapa orang berhenti sejenak, beberapa berlalu saja. Seorang peserta parade, pria berpakaian perempuan dengan rambut warna-warni, menghampiri dan menari-nari dengan gaya mengejek di dekat si pria gempal. Ia meletakkan tangannya di telinga, mendoyongkan ke dekat wajah si pria gempal, berpura-pura kesulitan mendengar teriakannya.

Beberapa peserta parade yang lain juga berhenti dan terlibat perdebatan dengan demonstran rekan-rekan si pria gempal. Mereka saling berdebat, beberapa sangat sengit, dengan hanya dibatasi garis polisi. Betapa pun sensitif isu yang diperdebatkan, dan nada bicara kian meninggi, tak sekali pun kontak fisik terjadi. Kedua kelompok hanya dibatasi garis polisi, tak satu polisi pun terlihat di sekitar. Pun demikian, semua tetap berjalan teratur. Tanpa benturan.

Amerika masih memiliki banyak pekerjaan rumah perihal kemanusiaan, tentu, tapi hari itu kami melihat betapa hukum dihormati dan kebebasan berpendapat terletak di tempat yang tinggi.

Parade LGBT Portland

Seorang pemuda tanggung menghampiri demonstran anti parade. Ia berjalan mendekat sambil menjilat-jilat es krim. Salah satu demonstran, pria tua yang memegang spanduk bertuliskan daftar perilaku berdosa, berkata padanya, “Hei, anak muda, masih ada waktu untukmu untuk bertobat. Bertobatlah.”

Pemuda tanggung memandang pria tua lalu berkata, “Ah sudahlah, Pak. Aku tak mau berdebat denganmu, percuma. Kita berbeda. Kau di sana, aku di sini. Dan tak ada yang bisa kita lakukan soal itu.”

Si pemuda mengangguk hormat, lalu berjalan menjauh, tetap menjilat es krimnya yang mulai meleleh. Keramaian masih berjalan, musik masih berdentum, spanduk masih diacung-acungkan, Portland masih berwarna-warni.

Twosocks

(Tulisan ini pertama kali dipublikasikan di Magdalene.co )

comments 17

New York Blues

Seorang kawan pernah berkata, New York adalah kota yang indah untuk jatuh cinta. Kota dengan alunan terompet yang merayap-rayap di antara gedung-gedungnya. Berjalanlah di antara gemerlap Manhattan, di sepanjang Brooklyn Bridge, rasakan denyut mereka para New Yorker. “The glamour of it all!!”  seru Charlie Chaplin. New York menyimpan fantasi untuk begitu banyak orang. Pemuda yang datang hanya dengan sebuah gitar dan cinta yang baru saja kandas, pengarang tanpa uang sepeser pun dan ide cerita yang hanya samar-samar, mereka yang datang dengan mimpi-mimpi besar. Ia adalah kota para radikal, oportunis, seniman, petualang, pedagang, penyendiri, pemberontak. Kota para eksentrik.

New York hidup di masa lalu dan masa kini secara bersamaan. Di Lower Manhattan, kamu akan melihat pub tempat dulu Jack Kerouac menggoret-goret tembok toilet dengan puisi-puisi yang ia karang dalam keadaan mabuk. Sementara di sudut jalan tak jauh dari sana, kamu akan melihat Apple Store yang membawamu melompat beberapa generasi ke depan.

“Apa hal tertentu dari New York yang membuatmu jatuh cinta padanya?” tanya kawan yang lain.

Seperti saat jatuh cinta pada seseorang, sering kita tak bisa mengurai betul penyebab utamanya, bukan? Ini pun begitu, sulit menyebut film apa yang paling New York, atau buku, atau lagu, atau kisah apa. Ia adalah gabungan dari semua itu. Dari Sinatra, hingga Jay Z, hingga Bob Dylan. Dari hiruk pikuk Broadway hingga semangat para aktivis muda di toko buku Bluestockings.

New York

Betapa hal-hal indah dan puitis sering diciptakan oleh kegilaan-kegilaan. Dan New York, kota dengan gemerlap yang tak pernah berhenti itu, juga rumah untuk mereka yang gila. “I hold a beast, an angel, and a madman in me,” bunyi salah satu puisi Dylan Thomas. Dulu, ia mendeklamasikannya di jalanan New York, di mana ia menerima sedekah dari orang-orang, dan menghabiskannya malam itu juga dengan bergelas-gelas bir di pub-pub di Greenwich Village.

Saya dan Maesy menyusuri jalan-jalan Manhattan dengan gembira, persimpangan dunia itu. Semua orang datang dari segala tempat, semua orang pernah berada di tempat lain. Ada tingkat anonimitas yang membuat siapa pun bisa menyelip dengan mudah di antara hiruk pikuknya.

Navigating New York

Kami menghabiskan hari-hari di sana dengan banyak kekaguman, tentu. Namun New York, seperti banyak fantasi yang lain, adalah juga sebuah ironi.

Kami teringat kelompok pemain akrobat berkulit hitam yang memberi pertunjukan jalanan di salah satu sudut Central Park. Saat melakukan pemanasan sebelum pertunjukan, salah satu dari mereka berseru kepada kelompok pengunjung,

“You white people look nervous. Come on, we are only six black man. We can’t hurt all of you — AT THE SAME TIME.”

“You will see a black man put up a show, running so fast and jumping without any police chasing him! New, huh?”

Kami tertawa agak canggung saat itu. Tentu pemain akrobat itu sedang melucu, tapi ia juga menunjukkan betapa rasisme masih merupakan isu yang belum tuntas. Walau peraturan dan norma sosial telah demikian maju, bias ras yang halus masih tetap menghantui. Dan ini kerap lebih sulit untuk ditangani. Maesy bercerita tentang sebuah penelitian yang menunjukkan betapa mantan narapidana kulit putih memiliki kemungkinan diterima kerja yang lebih tinggi dari warga kulit hitam yang bahkan tidak memiliki catatan kriminal sama sekali. Ada pula eksperimen yang dilakukan dengan mengirimkan 5000 lamaran kerja fiktif pada 1300 iklan lowongan. Kualifikasi semua pelamar dibuat serupa, dengan hanya satu pembeda: sebagian pelamar memiliki nama kaukasia seperti “Brenda”, sementara yang lain memiliki jenis nama warga kulit hitam seperti “Jamaal”. Pelamar dengan nama kaukasia memiliki kemungkinan diterima yang jauh lebih besar.

Kami ingat sebuah siang saat duduk-duduk di Washington Square Park. Terlepas dari betapa ia adalah taman yang menyenangkan, dengan rumput yang halus, sinar matahari yang hangat, dan musik jazz sebagai latar, kami sulit untuk tidak memperhatikan beberapa ironi di dalamnya. Mereka yang siang itu duduk-duduk bersantai di dekat air mancur, atau tidur-tiduran di rumput sambil makan sandwich, adalah mereka yang berasal dari kelas menengah berkulit putih. Sementara para pemungut sampah, pengamen saxophone, dan mereka yang tak kuasa mendapat waktu bersantai di siang hari karena harus bekerja adalah mereka yang berkulit gelap. Pernah saya membaca, Long Island di New York konon adalah daerah pemukiman di Amerika dengan tingkat segregasi ras yang paling tinggi.

Bersama keindahan imajinasi akannya, New York juga akan menamparmu dengan kenyataan-kenyataan. Di antara segala kisah cinta itu, segala kisah romantis film Annie Hall itu, bukankah di sana juga ada kantung-kantung ketimpangan ekonomi dan segregasi ras? Di antara kemajuannya, bukankah di sana juga terdapat gedung-gedung tinggi di mana perusahaan-perusahaan yang pernah mengobrak-abrik sistem perekonomian dunia berkantor? Di antara karya-karya indah yang pernah dihasilkan kampung seniman di Greenwich Village, bukankah gentrifikasi telah membuat tempat itu begitu mahal sehingga seniman berkantung tipis hampir mustahil untuk tinggal dan berkesenian lagi di sana? Sehingga cerita generasi Beat yang menggelandang di sana menjadi cerita romantis masa lalu yang masih diulang-ulang dengan penuh nostalgia saja?

New York Subway

Petang itu kami duduk-duduk di Bryant Park, di dekat kami dua remaja sedang bercumbu. Di belakang kami gedung perpustakaan kota New York berwarna keemasan karena pendar lampu taman.  Di sisi lain terdengar musik swing yang mengiringi beberapa pasangan menari Lindy. Maesy duduk tenang-tenang di rumput sambil menulis di buku catatan kecilnya. Saya mengintip beberapa corat-coretnya. Beberapa adalah hal getir yang ia lihat.

“Late night train to the Bronx. You can count the number of white people with one hand.”

Beberapa yang lain adalah ungkapan cintanya pada kota ini.

“When it comes to loving a space, what matters most to you? Is it a space that provides you with companionable silence? A space that bring the extrovert in you? Never have I instantly felt at home in a new place as much as I am in New York. There is a self-confidence I feel in navigating subways, ease of being in my clothes as I walk down the street, feeling one with the pulse. People talk about the New Yorker walk, but I feel that even with my excited tourist tinted glasses, my feet fell into rhythm. “

Brooklyn Bridge

New York, kota yang indah untuk jatuh cinta itu, juga adalah kota yang begitu kompleks. Ia gaduh sekaligus tenang, ia gembira sekaligus sedih, ia indah sekaligus suram. Apa pun opinimu tentangnya adalah benar, sama benarnya dengan opini yang bertentangan dengannya.

Bukankah jatuh cinta juga seperti itu? Ia adalah konsep yang membawamu tumbuh besar dengan berbunga-bunga, untuk kemudian dibuat rumit saat kenyataan-kenyataan menjejakkan kakimu di tanah?

“Ia tidak membuat keindahannya berkurang, “begitu kata Maesy. “Hanya membuatnya lebih nyata.”

comments 17

A Remedy for Loneliness

“Did you know that Tolkien had a drinking club? He used to invite some writer friends to his parlor to drink and write for an evening.”

Overheard at Jarndyce Antiquarian Booksellers in London, from a staff member to an antique bookseller who was visiting from the U.S. Yes, I am sure he is from the U.S. That Texan accent can’t lie. 

London Review Bookshop, Bloomsbury

London Review Bookshop, Bloomsbury

“If you’re not too attached to that particular title, I suggest this one by the same author. That book is an absolute dud.”

Overheard at the London Review Bookshop, from a staff member at the cash register to a customer. I immediately approached him afterwards to ask for book recommendations.

Persephone Books, Lamb's Conduit Street

Persephone Books, Lamb’s Conduit Street

“I am glad my daughter broke her arm. She may only be seven years old, but now she knows the worst thing in the world from trying something out is to get herself broken, but she will turn out to be okay.”

Overheard at Persephone’s Bookshop, a feminist publishing house that reprints books from selected British female authors, when the cashier asked about the customer’s daughter while wrapping a book she bought.

Hatchard, St. Pancras Station

Hatchard, St. Pancras Station

“We’re out of snickerdoodles, would you like a can of Coca Cola instead? It is also from the U.S.”

Overheard at Hatchard bookstore at St. Pancras station. It celebrated the release of Harper Lee’s Go Set a Watchman by offering “authentic American snickerdoodles” to customers.

The Economist's Bookshop, London School of Economics

The Economist’s Bookshop, London School of Economics

“We’re out of coffee. I repeat, we’re out of coffee!

Overheard at The Economist Bookshop, which promised free coffee to customers who bought Go Set a Watchman.

Waterstone's, Piccadilly

Waterstone’s, Piccadilly

“I just started chapter one in between my break. I haven’t read any of the reviews for Go Set a Watchman, but I think the book will be all right.”

Overheard behind the counter at Waterstone’s, Piccadilly. She was spared the agony I felt after I read Michiko Kakutani’s review of the book, just a few hours before.

Stanford's Bookshop, Covent Garden

Stanford’s Bookshop, Covent Garden

“Oh shit. Oooooh. Shit. Oh shit oh shit oh shit oh shit!!!!”

Overheard at Stanford’s, a travel-themed bookshop at Covent Garden. Two men in their twenties, both staff members, were talking about Go Set a Watchman and one of them decided to skip ahead to the middle of the book.  I hadn’t read the book at that time, but now that I have, I think I had the same expression on my face as the lad who skipped to the middle of the book.

 ***

There is no shortage of bookshops with character in London. I found a map of 104 independent bookstores in London at Cecil Court on my last day there, but even without that map I managed to stumble into bookshops that are taken care of by people who seem to genuinely love books. I have many reasons to visit bookshops when I travel. To find books that I don’t know about, books that I don’t get to see in Indonesia, books that I’d like to bring back to POST. To get to know the place better, for independent bookshops always carry the city’s psyche and let you in as if you’re one of its own. To dream about what POST could be one day and what we can start doing tomorrow, little by little. However, during that one week in London, my main reason to visit bookshops was to feel less lonely.

Traveling solo is not always easy for me. I enjoy my own company and very often travel alone for work, but at times my thoughts would run so fast they’d leave me feeling anxious and overwhelmed. Having a friend when I travel helps to ground the avalanche of thoughts, I can’t help feeling lonely when I am by myself for a long period of time. Going to independent bookshops is a way for me to feel less alone. I would find friends on the shelves; authors that I know and trust, books that I would like to get to know better. I find peace in the hum of a bookshop, eavesdropping on the conversations of people who love books as much as I do and feel a human connection.

Daunt Books, Maryleborne

Daunt Books, Maryleborne

During that one week in London, I could relate to the panic of running a bookshop, the desire to steer a customer away from bad books, the feeling that some customers have grown to be more than people who buy books from you. I felt as gleeful when I heard about Tolkien’s drinking club as a fan would when they found out about the pre-concert ritual of their rock star idols. Strangers we may be, but we are bound by stories and love for the written word.

Most of all, I was grateful for all the people who was as shaken by Go Set a Watchman as I was. Like so many bookworms in the world, I have read To Kill a Mockingbird in my childhood and loved it to pieces. Atticus Finch is the father figure I wish I had. Growing up, I have asked myself “What would Atticus do?” when facing a dilemma, just as Scout does. Like so many readers, I rejoiced when HarperCollins announced that Harper Lee has allowed the first draft of the book that would then become To Kill a Mockingbird to be published. I read enough to know that the circumstances behind the publication is murky, that it is unedited, and also that Go Set a Watchman is not a sequel, although it deals with the same characters and is set years after To Kill a Mockingbird.

However, no amount of reading and mental preparation could have eased the shock I felt when Michiko Kakutani casually dropped that Atticus Finch is a racist in Watchman. Her review of the book was published by the New York Times only one day before all the bookshops in the world celebrated the release with midnight parties and snickerdoodles and free coffee. I was ready to jump into the party, but once I read her review I mourned instead. I knew that a part of my childhood would be turned upside down and I longed for a friend who would understand. It wasn’t until I overheard people talking about the book in the bookshops that I felt less alone. Atticus Finch was a work of fiction, but he had become real to so many people and all of us have to deal with the loss of the Atticus Finch we had in our lives.

The Dusty Sneakers I Go Set a Watchman

Thank you, independent bookshops of London, for making a woman feel less lonely in your cold British summer.

Gypsytoes

 

comments 19

Pada Akhirnya, Ia Adalah Hal-Hal yang Berkecamuk di Kepalamu

Perempuan Navajo itu memberi petunjuk yang — dalam situasi lain– akan terdengar absurd. “Ikuti jalan tak berujung ini, terus ke sana, kalau kau beruntung ketemu ujung, beloklah ke kiri. Di tempat di mana dua gunung mengapitmu, akan tampak olehmu bangunan dengan tulisan berbahasa Navajo. Tak usah dipikirkan tulisan itu. Kau tak mungkin ingat, apalagi mengerti. Lupakan! Lupakan! Ia menyerupai motel kosong, tapi itu sebuah kedai, sebetulnya. Di sana kau bisa makan masakan Navajo. Enak. Sungguh. Kalau tidak, kau boleh bikin ribut di situ. Itu kalau kau berani.”

Petunjuk itu kami dapatkan di pinggiran kota Page, Arizona, dalam perjalanan menuju Estes Park, Colorado.

Saya memacu kendaraan mengikuti jalan lurus yang seolah tak ada habisnya itu. Kencang tidak, pelan tidak, melewati padang gersang di mana di kejauhan terlihat bukit-bukit berwarna cokelat muda. Maesy ada di samping, duduk tenang-tenang. Sebagai penunjuk jalan ia tak banyak kerja. Jalanan lurus saja, tak ada persimpangan yang membingungkan. Sekali waktu kami bicara-bicara, di waktu lain diam-diam saja.

Di radio terdengar lagu-lagu country dengan sengau kental dari radio lokal bernama Jack FM. Radio dengan slogan yang disampaikan dengan bangga oleh penyiar bersuara berat, “Kuputarkan lagu-lagu kesayanganmu, hingga nanti saat sapi-sapimu pulang.” Kami tertawa geli mendengar slogan itu. Saya ingat radio memutar lagu tentang gembala muda yang meminta pertolongan ibunya karena kisah cintanya berujung runyam. Sebagian besar lagu diisi dengan si gembala yang melolong-lolong memanggil sang ibu. Di lain waktu terdengar telepon dari pendengar yang mencurahkan hatinya. Si penelepon adalah perempuan yang pikirannya sedang ruwet. Semua itu karena pacarnya, seorang gembala tentu, akan pergi ke kota melamar pekerjaan menjadi badut.

Telah lama kami memimpikan perjalanan ini. Perjalanan darat di Amerika Serikat, menyusuri ribuan mil dari Arizona, Colorado, Montana, dan berakhir di Utah. Menyusuri jalanan lapang, pegunungan bersalju, kota-kota kecil dengan nama asing, padang tandus, padang rumput, dan kemungkinan tak terbatas. Hanya kami, jalanan, musik, dan hal-hal di antaranya.

Tentu banyak kekaguman yang timbul dari hal-hal baru yang kami lihat. Kekaguman akan lembah-lembah berwarna kemerahan di Grand Canyon, di mana sesekali burung elang terbang rendah, atau kambing gunung muncul dan memasang pandangan menyelidik. Ia juga berisi kekaguman akan sungai Colorado yang bergerak tenang di antara karang-karang yang memantulkan gema jika kami berteriak sedikit keras. Atau kepada gunung-gunung di Rocky Mountains yang tetap bersalju pada musim panas. Salju yang kami sambut dengan menari gila-gilaan, tertawa-tawa, dan menggelepar-gelepar.

Rocky Mountains

Jalanan masih terus lurus. Tak banyak kendaraan yang kami papas, satu dua saja. Perlahan hari mulai gelap. Maesy memandang bukit-bukit di kejauhan yang mulai menjadi siluet dengan latar warna merah. Dahinya menempel di kaca jendela. Hal-hal sedang lewat di kepalanya sepertinya. Hal-hal juga lewat di kepala saya, tentu. Saat tanganmu ada di kemudi tanpa banyak berbelok, dan laju kendaraan bisa dipertahankan sebegitu-begitu saja, maka berbagai soal akan muncul di pikiranmu. Ada yang rumit, ada yang tidak. Di antara macam-macam hal, muncul pula pikiran seputar perasaan bebas yang timbul selama perjalanan itu. Saya teringat akan siang sebelumnya, saat kami melompat ke sungai Colorado yang suhunya sembilan derajat saja. Tentu kami gemetaran karena dingin yang menusuk, tapi saat melompat itu, di antara umpatan-umpatan, ada perasaan yang begitu lepas sekaligus menenangkan. Seperti air yang menciprat kesana kemari untuk kemudian sepi kembali.

Perjalanan darat di Amerika bukan saja tentang kekaguman akan hal-hal baru, ia juga pemenuhan ide-ide petualangan yang telah lama ada di kepala. Sejak dulu, dari pengaruh buku dan film sepertinya, ia adalah ide petualangan yang penuh melankolia. Ide tentang berada di jalanan lapang dengan kekasih dan teman-temanmu, menginap di motel kecil di kota yang tak kau kenal namanya, berhenti di sebuah bukit yang terlihat menarik lalu dengan spontan mendakinya, menyanyi-nyanyi konyol sambil menjulurkan kepala keluar jendela, mengisi bahan bakar di pompa bensin yang sepi di mana tak seorang lain pun terlihat selain seorang tua berjanggut putih, bersepatu bot, dan bertopi gembala. Lelaki tua yang saat kau sapa akan mengangguk sambil mengangkat topi, lalu lanjut duduk sendiri di depan sebuah kedai lapuk.

Bukankah perjalanan juga adalah tentang memenuhi hal-hal yang ada di kepalamu?

Dan di jalanan itu, ide-ide tentang menjadi bebas itu menangkapmu bulat-bulat. Saya pikir jalanan lapang, hamparan rumput atau tanah gersang, serta langit biru yang luas seperti kubah adalah terapi yang baik untuk orang yang jalan pikirannya semrawut. Hanya dirimu dan jalanan, tak ada yang mengejarmu, menuntut hal-hal, atau mengatur pilihanmu. Kau seolah punya kendali akan jalan yang hendak diambil. Kau dikelilingi pemandangan indah dan pertemanan yang hangat. Kau bebas, lepas, spontan, dan mengetahui penuh bahwa saat bangun tidur esok pagi, kau masih akan ada di kebebasan yang sama.

Saya tahu, saya tahu, perkara bebas itu tidak sepenuhnya benar. Sering itu hanya ide yang ada di kepalamu sendiri, dalam konteks waktu dan kondisi tententu. Tak lebih. Bahkan sisi jalan mana yang harus kau gunakan pun ada yang mengatur. Tapi sudahlah. Seperti saya katakan tadi, segala sesuatunya sering adalah hal yang ada di kepalamu saja. Usai perjalanan ini, saya akan diingatkan kembali akan ikatan-ikatan sosial dan kompromi-kompromi yang harus dibuat, terhadap norma, kewajiban, dan semacamnya. Namun di sana, di belakang kemudi itu, dalam perjalanan berjam-jam itu, dalam jalur yang lapang itu, saya merasa lepas. Kau tahu, seperti anak burung yang melihat matahari baru setiap harinya.

Sungai Colorado

road trip

Saya teringat adegan film ‘Boyhood’ karya Richard Linklater. Menjelang akhir film, Mason, si tokoh utama, mengemudikan truknya melintasi jalanan antar kota Amerika. Usianya delapan belas saat itu, dan ia akan memulai kehidupan sebagai mahasiswa di kota baru, jauh dari masa lalunya. Ia meninggalkan masa kecilnya untuk menyambut dunia baru di depan, dunia dimana ia betul-betul akan menjadi pria dewasa. Adegan film menampilkan truk berwarna biru menyusuri jalanan lurus, sendiri saja, dan Mason ada di belakang kemudi, menatap ke depan dengan pandangan bahwa dia, dan hanya dia, yang akan menentukan jalan hidupnya nanti. Betulkah ia manusia bebas? Mungkin tidak. Bukankah usia dewasa juga dipenuhi ikatan-ikatan sosial yang juga dapat mengungkungmu? Namun saat itu, di jalanan itu, di dalam kepalanya, Mason adalah pria yang bebas, yang siap akan kemungkinan-kemungkinan tak terbatas di depan.

Teringat pula saya akan Christopher McCandless, saat ia membakar semua sisa uang dan identitas yang dimiliki, mencampakkan kendaraannya, dan berjalan kaki ke utara, seorang diri saja, menuju alam liar Alaska. Ia melepaskan diri dari segala hubungan antar manusia yang ia rasa kejam dan palsu. Banyak yang memuja keberaniannya, banyak yang mengutuknya sebagai kebodohan. Di kemudian hari, ia pun tak betul-betul bahagia, sebetulnya. Bukankah di antara kesepiannya ia menulis dengan tangan gemetar – Kebahagian hanya nyata saat ia dinikmati bersama- ?  Tapi saat ia mencampakkan segala miliknya dan berjalan kaki ke alam liar itu, di dalam kepalanya, ia adalah manusia bebas. Dan pada momen itu, ia berbahagia.

Saya berpikir, betapa pentingnya untuk sekali waktu merasa bebas. Tidak betul-betul bebas, mungkin, tapi merasa bebas. Mendapatkan dirimu berada di sebuah tempat, suatu waktu, saat dirimu, dan hanya dirimu yang membuat keputusan tentang segala sesuatunya.

Bukankah perjalanan, pada akhirnya, adalah tentang hal-hal yang berkecamuk di kepalamu?

Road Trip USA

Hari sudah gelap saat kami tiba di kedai masakan Navajo itu, beberapa ratus mil kemudian. Ia memang seolah terjepit di antara dua gunung, sendiri. Nama kedai itu Anasazi, artinya The Ancient Ones. Bukan nama yang sulit untuk diingat. Mungkin seperti halnya saya, perempuan Navajo tadi juga gemar bikin hal-hal terkesan dramatis. Soal apa makanannya enak atau tidak, saya tak ingat betul. Saya terlalu lapar untuk itu. Apalagi kami masih perlu banyak tambahan energi.  Perjalanan ke Estes Park masih panjang dan tak mungkin dilakukan malam itu juga. Setelah beres makan kami akan mencari motel di sebuah kota kecil bernama Monticello, sekitar tiga jam dari sana, sebelum melanjutkan perjalanan keesokan paginya.

Saat menunggu makanan siap, ketika lampu kedai menerangi kami, Maesy menertawakan wajah saya yang lecek dengan bibir kering, rambut tak rapi, dan pakaian yang telihat sembrono. Ini hari menyetir yang cukup menguras tenaga, dimulai pagi-pagi di Arizona saat matahari belum terbit, dan dengan segala selingan mencebur ke sungai itu.

“Mikir apa sih tadi di mobil?” tanyanya sambil mengusap rambut saya.

“Yah, kau tahulah, hal-hal acak saja.” Jawab saya, menertawai wajahnya yang sebetulnya tak kalah semrawut.

Ia tidak bertanya lebih lanjut, hanya mengusap kepala saya sambil senyum-senyum. Ia tahu saya sedang berbahagia.

 

Saya bikin video kecil tentang beberapa momen dalam perjalanan itu. Silahkan melihatnya di sini.