comments 16

The Walls of Georgetown

I am drawn to street art, enough to actually take a walk under the bridges and tunnels of Jakarta for a slow, close look at them a few years ago. I understand the resistance, the public discourse, the activism that is channeled through street art, so I kind of understand why someone was bothered enough by the commissioned murals in Georgetown, Penang, to take a stab at the public by tagging some of the most famous murals with cheeky ‘Facebook ready’ or ‘Instagram Me’ signs. I suppose that person feels that the city-commissioned murals take the politics and social commentary out of street art by turning it into photogenic tourist attractions.

When we finally walked through the streets of Georgetown, though, I actually smiled. True, the murals are definitely tourist attractions. There were long queues of people who want to take a photo with the murals and I bet these photos will make it to Facebook or Instagram, but I really couldn’t see what is wrong with that. Nobody frowned or complained about queuing under the scorching sun, you can find little children and old grandparents posing with the murals as creatively as they could. Coming from a city with dysfunctional public spaces, it is absolutely fantastic seeing people actually smiling as they are walking and riding bicycles, taking in the brilliant art gracing the walls of Georgetown.

Processed with VSCOcam with a6 preset

Processed with VSCOcam with lv03 preset

Processed with VSCOcam with a6 preset

Processed with VSCOcam with a6 preset

Processed with VSCOcam with a6 preset

Processed with VSCOcam with a6 preset

Processed with VSCOcam with a5 preset

Processed with VSCOcam with a6 preset

Processed with VSCOcam with hb2 preset

The Dusty Sneakers I Penang Murals 11

Processed with VSCOcam with a6 preset

More photos from Penang on our Instagram accounts: @thedustysneakers and @maesy_ang

comments 15

Cerita Pasar Santa yang Belum Selesai

Tempo lalu Maesy menuliskan tentang POST, ruang kreatif kecil kami di Pasar Santa yang enam bulan terakhir membuat akhir pekan kami selalu dipenuhi hal gembira. Ia adalah ruang yang mendekatkan kami dengan individu dan kelompok kreatif yang mencintai apa yang dilakukannya dan bergembira dalam membaginya. Ia juga mendekatkan kami kepada tetangga-tetangga di Pasar Santa yang berkeinginan untuk menciptakan sebuah ruang publik alternatif di mana masyarakat dari berbagai latar belakang dapat berkegiatan secara berdampingan. Sebuah ruang di mana pedagang piringan hitam, pedagang sayur, kedai kopi, tukang jahit, seniman gambar, pedagang lama, pedagang baru berkegiatan bersama-sama, saling bertukar ide dan gagasan, berteman. POST sendiri salah satunya kami gagas untuk hal tersebut.

Namun, ini adalah jenis kegembiraan yang memiliki ganjalan.

Bersama semakin ramainya Pasar Santa, ia menghadapi tantangannya. Bersama semakin banyaknya sorotan media dan pengunjung, ratusan orang siap menggelontorkan uang untuk memiliki atau menyewa kios di pasar yang sempat tujuh tahun sepi pengunjung ini. Banyaknya permintaan membuat kenaikan harga jual dan sewa kios tak terhindarkan dan mengancam kelanjutan usaha pedagang kecil yang tak kuasa bersaing dengan pemodal besar. Inilah yang membuat hari-hari Pak Sujana, pedagang pigura, belakangan menjadi tak tenang. Sewa kiosnya akan berakhir di bulan April dan untuk memperpanjangnya ia harus menyiapkan dana lebih dari dua kali lipat sewanya sekarang. Dan Pak Sujana tidak sendiri, ada Pak Hamzah, Pak Erwin, dan banyak pedagang lama di Pasar Santa yang kelanjutan usahanya ada dalam ketidakpastian.

Inilah permasalahan yang selalu menghantui di antara kegembiraan hari-hari kami di sana. Inilah yang membuat para pedagang mulai mengorganisir dirinya sejak Oktober 2014. Bersama-sama kami melakukan advokasi kepada pihak PD Pasar Jaya, pihak pengembang, dan Pemda, untuk mencegah perkembangan pasar yang justru akan mengorbankan para pedagang yang jauh lebih dulu memulai kegiatannya di sini. Dialog yang kami lakukan belum membuahkan hasil sehingga minggu lalu kami memutuskan untuk memulai gerakan #SustainableSanta secara terbuka. Selain beberapa jalur advokasi lain yang dilakukan, petisi publik juga diajukan oleh Perkumpulan Pedagang Pasar Santa kepada Gubernur DKI untuk melakukan tindakan-tindakan cepat dan tegas untuk melindungi pedagang terutama pedagang lama. Petisi ini mendapat sambutan yang cukup baik dari publik dan para pedagang berkesempatan untuk bertemu langsung dengan Gubernur dan Wakil gubernur untuk menyampaikan permasalahan yang ada. Namun demikian ini masih merupakan langkah awal, dukungan publik yang besar masih terus dibutuhkan hingga tuntutan-tuntutan konkret dalam petisi itu benar-benar bisa terwujud.

Catatan ini kami buat untuk tetap mengajak teman-teman memberikan dukungannya dengan menanda tangani petisi ini.

Saat ratusan orang siap membayar mahal untuk kios yang sekarang diisi pedagang kecil, keberlanjutan Pasar Santa sedang diuji. Ini adalah ujian apakah hukum kapitalisme dimana pemilik modal senantiasa melumat mereka yang lemah juga akan terjadi di sini. Ini juga adalah ujian untuk Jakarta, apakah wajah kota yang demikian keras ini akan kembali menelan korbannya? Apakah pedagang-pedagang kecil yang sudah memulai usaha kecilnya jauh sebelum hingar bingar Pasar Santa ini terjadi akan tergerus? Kami sadar, ini bukan hal yang mudah. Ratusan orang yang siap membayar mahal untuk sebuah kios adalah sesuatu yang begitu sulit dibendung dalam dunia di mana logika pasar demikian bermain. Namun, kami akan tetap mencoba dan kami bangga untuk menjadi bagian dari proses ini. Semoga demikian juga adanya dengan teman-teman semua.

———-

Berikut tautan untuk menandatangani petisi kami kepada Gubernur DKI Jakarta: www.change.org/SustainableSanta .

Teman-teman juga bisa mengikuti kabar terbaru tentang gerakan #SustainableSanta di http://www.pasarsantablog.wordpress.com

Photo credit: Ve Handojo

comments 13

Our POST at Pasar Santa

Nearly six months have passed since Teddy, Steven, and I raised our glass to celebrate the opening of POST, our creative space in Pasar Santa. No, we didn’t drink champagne. The three of us had been taking turns falling ill, so I mixed us a cocktail of organic wild horse milk from Sumbawa and coffee-flower honey so we could all return to being healthy as a horse. So much has happened in those six months. Weekends at the market have become our norm, we’ve met so many brilliant people, and our neighbors have grown to feel like family – but we’ve also had to adapt with the rapid growth of Pasar Santa. However, amidst all these changes, five facts remain true about POST.

The POST zombies

The POST zombies

POST is an idea that was born in Pasar Santa, for Pasar Santa

Back in July 2014, Teddy and I bumped into Steven during our first visit to Pasar Santa. We were amazed to find people who didn’t mind hanging out, sipping coffee from ABCD and leafing through records from Substore, in an otherwise deserted, dark, hot, and mosquito-filled market. We talked about our frustration with the lack of non-mall public spaces in Jakarta and how refreshing to see creative things emerging in a traditional market like Pasar Santa, and soon enough, we started imagining what kind of other initiatives would be interesting to do in the market, things that would bring new communities to come and experience it as an alternative public space.

Almost immediately, we thought of a pop up space that offers something different every time it opens. A space that could be a gallery one day and a venue for poetry slams the next, but always have good books around. We are bookworms, you see. The name POST popped up, it sounds fitting as we imagined a post for creative individuals and communities to share their work with the public, and as Steven would say, the idea to do such a thing in a traditional market is post-modern. We booked our kiosk the next week.

Steven is a veteran in Pasar Santa, he has been going there for groceries for years. He told us that there is no shortage of talent or supplies in the market, so we renovated our kiosk with the help of Pak Budi, everyone’s favorite handy man at Pasar Santa, and only buy our supplies elsewhere if we couldn’t find it in the market. You could really say that it really was Pasar Santa itself that allowed POST to come into being!

Read our very first interview, published the day POST opened, at Rappler

Hendy Adhitya is the comic artist mad enough to initiate the 24-hour comic drawing marathon!

Hendy Adhitya is the comic artist mad enough to initiate the 24-hour comic drawing marathon!

POST is a space for books, gatherings, and all things creative

Books: again, we are bookworms, you see. All of us love the experience of hunting good books and aim to create that thrill you feel when you found the only copy of a book you really want to make yours through our monthly pop-up bookshop. We hunt for new, single-copy English books, curate second hand books, and work together with Indonesian independent publishers like Banana, Indie Book Corner, Kata Bergerak, Marjin Kiri, Rabbit Hole, and Serambi to host their most interesting titles.

This interview with The Honeycombers took place on our very first pop-up bookshop! 

Tiny as our space is, there is always a room to sit and read

Tiny as our space is, there is always a room to sit and read

Gatherings: bookworms usually love writing and we too want to create gatherings where people, amateurs and pros, could write together. We call these series of gatherings #menulisdipasar. So far, it has included classes on narrative non-fiction with Windy Ariestanty, writing for children with Reda Gaudiamo, writing short stories with Dea Anugrah and Sabda Armandio, and a 4-hour writing marathon challenge.

For a taste of the writing marathon, read Ve Handojo’s experience on his blog

POST I November 2

The very first #menulisdipasarevent with Windy Ariestanty

All things creative: three weekends in a month, POST opens our doors for independent creative communities, individuals, or local start-ups to use our space as a hub to engage with the public. We’ve collaborated with artists who did their first exhibition in our space and see them invited for a bigger exhibition elsewhere, writers who held their book and blog launches, an online radio station that wanted to give live streaming a try, and non-profits’ fund raising events. There is always something new at POST, and best of all, we get to meet the interesting people behind it.

Our very first collaborator is The Laos Gang who did a Travel Sale that almost caused our space to break down. Read the story on Indohoy

The Morning Drawing community invited passersby to sit, draw, and have their pictures exhibited on the walls.

The Morning Drawing community invited passersby to sit, draw, and have their pictures exhibited on the walls.

POST mainly pops up on weekends

We want to be as hands on as possible, especially on the early days of POST, so we open mostly on weekends from 2-8pm. Recently, we’ve raised enough funds to open the bookshop on Thursdays and Fridays as well – hurray! To keep yourself updated on our events, you can follow @post_santa on Instagram and Twitter.

An interview with us and some of our favorite neighbors, Mie Chino and ABCD Coffee, at A Journey Bespoke blog

“Kiri Bang!” – our very first exhibition

POST is a non-profit space

POST applies an open contribution policy; this means that our collaborators get to decide how much money they could or would give us in return for using our space. We also apply a 30% consignment fee from independent publishers that consign their books. All the money, however, goes into the space itself and neither of us, the co-founders, receive financial compensation from POST. The small fund we make goes to maintain operations, extend our opening hours, and prepare for future rent costs. Should there be any profit, we will use it to support local charitable organizations.

A little bit more about our idealism in an interview with Business Lounge

POST I November 6

The Wonderbra performed during the launch of Bracodemag, a feminist blog

POST is a one-year experiment

The three of us committed to POST as a one year experiment. Had we focused on how POST could be sustainable and live a long life, we would have never started. Instead, we agree to think and work out loud, learning and adapting as we go along. It breaks my heart thinking of POST closing after a year, but truth be told, POST’s future depends on several things. We opened to support a traditional market that has a third of its space empty, but as Pasar Santa gains popularity, rent price has spiked up and demand has gotten so high that there is a real risk of traditional market vendors – the original traders of Pasar Santa – being sidelined by new tenants with more money. If this turns out to be case, can we still ethically be part of an ecosystem that marginalizes people who need the space the most? Can we afford to extend our rent? We honestly have no answers just now, but we do what we can in the mean time. We’ll make the one year experiment with POST a year that counts.

The happy faces of bibliophiles who came to our first pop-up bookshop

The happy faces of bibliophiles who came to our first pop-up bookshop, some of whom we’ve now called friends

So there. Finally, a long overdue story on POST at The Dusty Sneakers. You might have noticed that I’ve used Teddy instead of Twosocks, and that is because POST is a Maesy, Teddy, and Steven initiative. You can find us at POST on most weekends. Come by and say hello, we definitely have a story or two to share.

Processed with VSCOcam with m5 preset

Sincerely yours, Maesy

POST: books, gatherings, and all things creative I Pasar Santa Upper Floor (next to Mie Chino) I postpasarsanta.tumblr.com I postpasarsanta@gmail.com I Instagram: @post_santa I Twitter: @post_santa

comments 27

Tentang Saudara Tua dengan Kepribadian Rumit

Jika kamu melihat keseharian Jakarta dengan seksama, atau kamu mengingat bagaimana ia menuliskan sejarah hidupmu, terbitkah cintamu padanya?

Ojek yang saya tumpangi menyelip di antara mobil, polisi cepek, penyeberang, bus, motor lain, sampai titik di mana bahkan pengendara motor paling lihai pun harus berhenti. Kemacetan di Jl. Tendean sedang menggila. Tukang ojek menghela nafas. Ia bergumam sekilas; kampret, begitu kalau tak salah. Kami masih berhenti saat beberapa meter di belakang terdengar makian. Seorang pria membuka helmnya lalu mencerca supir mobil Kijang yang memasang wajah memelas. Rupanya mobil tak sengaja menyenggol motor. Pemilik motor murka. Dimakinya si supir dengan kemarahan yang layak dimiliki seseorang yang kepalanya dikencingi dari atas loteng. Berlebihan sekali lagaknya, memaki sambil menunjuk-nunjuk. Tak lupa bagian depan mobil digebuk dengan gaya dramatis sebelum ia melanjutkan perjalanan. Tukang ojek tertawa-tawa melihat pemandangan itu. Terhibur ia rupanya.

“Jakarta sudah normal lagi,” katanya saat motor kami kembali menyelip-nyelip.

Minggu kedua  bulan Januari, Jakarta sudah berputar dalam kecepatan penuh. Pernah saya katakan, di bulan Desember dan awal tahun wajah Jakarta selalu lebih tenang dan dipenuhi harapan baru.  Masa itu sudah berlalu. Hari ini ia kembali menampakkan wajahnya yang susah dicintai itu. Kemacetan yang brengsek, wajah bosan, orang berangasan, asap knalpot, bunyi klakson. Saya tak rela kenikmatan Desember dan awal tahun itu berlalu cepat, maka saya mencoba mencari wajah-wajah ramah di antara hal kacau balau itu. Seorang perempuan memeluk pria yang memboncengnya dengan pelukan yang jelas menunjukkan mereka sedang mabuk cinta. Remaja tanggung tertawa-tawa bersama remaja tanggung lain, entah untuk urusan apa. Saya ingat polisi cepek tadi juga berwajah bungah. Tangannya mengatur kendaraan dengan semangat penuh. Selain jadi banyak rejeki, ia sedang merasa punya peran besar.

Tukang ojek berhenti di sebelah tukang ojek lain yang rupanya berasal dari pangkalan yang sama. Sang teman sedang membonceng perempuan cantik. Tukang ojek saya berkata kepada penumpang temannya, “Kalau Mbak mulai dirayu, jangan digubris ya. Anaknya sudah setengah lusin.” Ia lantas tertawa besar-besar. Tukang ojek temannya ikut tertawa besar-besar. Perempuan cantik juga ikut tertawa, tapi kecil saja. Jika Jakarta adalah ombak yang besar, beberapa orang bisa berselancar di atasnya sambil berakrobat.

Wajah Jakarta

Saya teringat Mira, kawan baru yang baru-baru ini bikin inisiatif berjudul Poetry of Space. Ia mengajak para seniman mencari sisi-sisi puitis Jakarta dengan bereksperimen melalui intervensi-intervensi ruang publik di Jl. Sudirman. Ada yang memasang suara cicit burung di jembatan penyeberangan dan memperhatikan bagaimana para penyeberang bereaksi. Ada yang meletakkan binokular di bangku pinggir jalan dan meletakkan narasi pendek di dekatnya. Kalau tak salah narasi pendek semacam, “Di seberang sana ada seorang perempuan yang sedang menunggu”. Ia mengajak orang untuk melihat hal-hal detil di tengah keruwetan yang seakan tanpa jeda. Ada yang mengajak pejalan kaki untuk berhenti sejenak di sebuah kotak telepon umum dan mendengarkan kompilasi lagu yang menenangkan. Yang lain menempelkan kalimat-kalimat tokoh besar di berbagai tempat umum dan melihat bagaimana reaksi orang saat membacanya.

Menurut Mira, hampir semua seniman itu menawarkan “jeda” dalam karyanya. Mungkin diantara keruwetannya, di belantara Jakarta ini terdapat hal-hal subtil yang tak terlihat, yang jika kita berhenti sejenak, melihatnya lebih seksama, akan menjadikan Jakarta puitis juga.

Pernah saya dan Gypsytoes berbicara tentang betapa manusia-manusianyalah yang membuat keindahan sebuah tempat tak ada habisnya. Sebuah tempat yang indah akan menerbitkan kagum pada pengunjung karena kebaruannya, tapi pada satu titik ia akan diterima sebagai kewajaran. Tapi manusia-manusianya, kalau kamu cari dengan mata terbuka, akan sanggup mengejutkanmu lagi dan lagi. Dan Jakarta, dengan jutaan manusianya, jika dilihat dengan seksama, akan membuatmu jatuh cinta. Lagi dan lagi.  Kami kerap bersyukur dapat berkenalan dengan kawan-kawan yang selalu mengajak orang untuk menikmati keindahan sehari-hari Jakarta. Hanny, Windy, dan Novi menggagas Jakarta On Foot untuk mengajak orang berjalan kaki dan menghayati keseharian Jakarta, Popomangun menggagas kegiatan menggambar bersama di berbagai tempat publik, Rain dan Avi melahirkan The Murmur House, media bagi anak muda untuk berkarya dan menikmati karya-karya sastra, Yudhi membuat Minggu pagi di Taman Suropati bergairah dengan kegiatan yoganya, dan banyak lagi. Merekalah beberapa yang membuat sudut-sudut Jakarta menjadi riang gembira.

Jakarta memang sulit untuk dicintai, tapi mungkin. Kau bahkan mungkin sudah terlanjur mencintainya. Bagaimanapun ia juga yang menuliskan atau menjadi saksi sejarahmu sendiri. Di sana saya jatuh cinta, patah hati, jatuh cinta lagi, menemukan pertemanan, dan lain-lain. Kalau kenangan akan Jakarta disimpan dalam kaleng yang dijual, si penjual kaleng tentu sudah kaya raya. Saya ingat beberapa waktu lalu Andine, seorang kawan baru juga, mewawancarai kami tentang bagaimana kami melihat Jakarta. Pertanyaan-pertanyaannya membuat saya banyak bernostalgia. Salah satunya ia bertanya memori terawal saya akannya. Saya langsung teringat hari kedua di Jakarta saat saya bertengkar dengan seorang tukang limun di Blok M. Ia menaikkan harga dengan semena-mena hanya karena saya lupa menanyakan harga limun sialan itu sebelum membuatnya tandas. Kenangan-kenangan terus bertumpuk sesudahnya. Bersama waktu Jakarta menjadi semakin dekat di hati saya. Ia seperti saudara tua dengan kepribadian unik. Terkadang ia bikin geram, di lain waktu ia  muncul dengan kejutan manis.

Ojek berhasil menembus segala kemacetan dan tiba di rumah saya walau sedikit terlambat. Si tukang ojek minta tambahan lima ribu. Macetnya parah, begitu ia beralasan. Saat permintaannya saya penuhi, di wajahnya terbit senyum lebar. Ia pergi dengan kalimat “Terima kasih, Boooosss” dengan nada belakang yang, kamu tahu kan, dipanjang-panjangkan. Saya terbayang dia ini pemain akrobat.

Dan  Jakarta masih akan terus berjalan, mungkin merayap. Ia masih akan membawa kabar yang membuat geram. Namun, kabar baik juga akan berdatangan. Tunggulah, atau cobalah mencari dengan lebih seksama. Ia ada. Sungguh.

Twosocks

  • Poetry of Space dipamerkan di Kedai Kebun Forum, Yogyakarta pada akhir Desember lalu. Esai kuratorial Mira yang bagus itu bisa dilihat di sini
  • Wawancara oleh Andine bisa dilihat di sini (untuk saya) dan di sini (untuk Gypsytoes).
  • Semua foto diambil dari atas ojek.