Tidak ada pengunjung lain di sana, hanya perempuan tua yang bergerak ke depan begitu melihat kami masuk. Ia beranjak dari semacam meja kerja di sisi dalam bar. Gerakannya pelan sekali, tertatih-tatih, dengan punggung membungkuk.
Hari itu kami berkenalan dengan Misa, dan ia tidak mendengar apa pun yang kami ucapkan.
Saya memesan gin dan Misa mencondongkan wajahnya ke depan, meminta saya berbicara lebih kencang. Saya mengeraskan suara dan ia menggeleng — gin sedang tidak ada, katanya. Tapi saya melihat di dekat meja ada sebotol yang masih berisi. Saat saya menunjuknya, Misa tersenyum lebar dan berseru, ah ada! Ia meraih gin lantas mengambil gelas dari rak di belakangnya, menarik tempat es batu dan mulai menuang. Semua ia lakukan dengan gerakan yang begitu pelan, tangannya gemetar. Saya melirik Maesy dan kami sama-sama takut Misa ambruk.
Dari pemutar piringan hitam terdengar piano Bill Evans. Di dekat tangga, dengan sudut-sudut yang mengelupas, tersandar foto hitam putih Bill yang juga sedang main piano. Ada empat kursi saja di bar dan satu kursi lain di dekat jendela, kursi tua pendek yang kakinya seakan melesak ke lantai. Ada dua lampu berwarna kuning remang menggantung di atasnya, yang satu mati. Saat itu pukul enam lewat sedikit dan matahari belum lama terbenam. Tapi di dalam sini, waktu seakan berhenti di pukul dua dini hari, di masa yang telah lama berlalu.
Seorang ibu yang lebih muda masuk lalu menggantung mantelnya. Dari wajahnya kami langsung tahu ia dan Misa ada hubungan darah. Namanya Ako. Ia tersenyum lalu bertanya apa kami sudah memesan minum. Di balik meja bar, ibunya masih berkutat dengan gelas, es batu, dan botol-botol. Setiap gerakan ia lakukan dengan susah payah, dengan kegigihan yang mengagumkan. Kami memperhatikan Ako yang tetap membiarkan Misa menangani pesanan, tak mencoba membantu atau mengambil alih. Sepertinya ini penting untuk Misa, bahwa ia tetap bisa menangani ini sendiri.
Dan Ako, ia memberi ruang itu bagi ibunya.
Di Shimokitazawa di tahun 1973, Misa mendirikan jazz kissa bernama Posy. Semua dilakukannya sendiri saja, memutarkan piringan hitam jazz, menuang minuman bagi begitu banyak orang — warga setempat, pendatang, manusia dari berbagai belahan dunia. Di sana ia menjumpai mereka yang datang, lalu pergi, lalu kembali, lalu pergi lagi — meninggalkan sisa kenangan baik yang mengisi lapisan kayu di meja barnya, atau lorong kecil menuju toilet yang berbunyi kreot saat orang melintas. Ako mulai bantu-bantu tahun 2019, saat Misa terlalu renta untuk melakukan semua sendiri. Minuman datang dan kami mengangkat gelas. Misa tersenyum dan menonton saya meneguk gin, lalu tersenyum lagi saat gelas diletakkan. Hanya kami pengunjung di sisa malam itu, bersama Ako, Misa, dan Bill Evans dalam suasana dini hari, di jazz kissa yang sudah lima puluh tahun berdiri.
Foto Misa saat usianya lebih muda terpasang di salah satu dinding. Ia sedang duduk dengan senyum dan pakaian serba hitam, di bangku berwarna merah dengan bunga-bunga menggerumbul di sisinya, di dekat sebuah jazz bar di New York. Ako bercerita Misa selalu menyukai jazz. Suara trompet membuatnya bercahaya. Saat Posy libur, Misa jalan-jalan ke berbagai festival, di New York, di New Orleans, di Havana, di Madrid. Terkadang sendiri saja, di lain waktu membawa serta Ako. Di dinding kami melihat ucapan penyemangat dari pengelola jazz bar di berbagai belahan dunia untuk jazz kissa milik Misa. Saya membayangkan masa muda dengan iringan bunyi trompet dan tabuhan drum yang bertalu-talu.

Jazz kissa banyak dimulai tahun 1920an, ketika orang-orang Jepang mulai begitu menyukai musik ini. Beberapa orang memulai kissa tempat orang bisa duduk tenang-tenang menikmati musik tanpa banyak bicara, sambil minum secangkir kopi atau segelas wiski, atau dua gelas, atau tiga gelas. Jazz kissa bermunculan karena harga piringan hitam yang mahal kala itu, dan di balik meja bar, di dekat mesin pemutar, berdirilah si pemilik, biasanya seorang diri saja. Seorang kolektor yang senang menjamu tamu sambil berbagi koleksinya. Ia yang memilih lagu, yang ikut mendengar dengan mata terpejam, lalu bercerita tentang hal-hal di seputar lagu itu kepada pengunjung yang menyimak dengan tekun. Kini, saat semua lebih mudah dijangkau, dan musik jamak diputar di berbagai bar, jumlah jazz kissa berkurang. Beberapa masih berdiri, sebagian karena nostalgia, atau sebagai pegangan pada sisa-sisa dari sebuah masa ketika dunia luar belum bergerak secepat ini.
Beberapa malam kemudian, di hari terakhir di Shimokitazawa, kami mampir lagi. Ako tersenyum senang melihat kami muncul di balik pintu. Di dekatnya, sejajar dengannya, berdiri Misa yang memicingkan mata. Wajah bingungnya berubah menjadi senyum saat Ako bercerita kami dua orang yang datang tempo hari. Saya masih mengingat senyum keduanya — ibu dan anak yang berdiri berjajar, di meja bar mereka.
Kali ini ada pengunjung lain di Posy, seorang pria paruh baya bernama Nakashima. Ia mampir untuk jazz dan satu dua gelas wiski atas rekomendasi seseorang di kedai roti tak jauh dari sana. Kepada kami ia menunjukkan sebuah halaman di majalah jazz yang dipegangnya — terlihat foto Posy dan bangku tempat kami duduk saat itu. Ia lalu menunjukkan foto itu pada Ako, yang menyambutnya dengan anggukan dan kalimat Bahasa Jepang yang tak kami tangkap. Dari rencana satu dua gelas, Nakashima menghabiskan petang berbicara dengan kami, memesan beberapa kali tambahan minuman. Obrolan bergulir seperti bola pinball yang baru dilontarkan, dari jazz kissa hingga serangga dalam puisi, hingga soal Dewi Soekarno. Kepada kami, dengan keramahan pria yang sedikit mabuk, ia bertanya apa kami sungguh-sungguh menganggap Dewi Soekarno rupawan? Menurutnya Dewi biasa saja dan ia heran kenapa Soekarno menyukainya. Entahlah soal cantik, tapi saya bilang Soekarno memang mata keranjang dan ia bisa tertarik pada siapa saja.
Saat kami menceritakan rencana kami pergi ke Yamagata ia tertawa, “ngapain ke sana?” lalu ia berkata sesuatu pada Ako yang tertawa sambil menutup bibirnya. Beberapa saat kemudian Nakashima berkata ada bukit di Yamagata tempat Basho merenung dan menulis Haiku. Ia ingat satu haiku dan mengucapkannya dalam Bahasa Jepang. Lalu ia merenung sebentar dan mengucapkan haiku itu dalam Bahasa Inggris:
such stillness/ the cicadas cries/ sink into the rocks.
Di antara percakapan beberapa kali saya melirik Misa di kursinya di ujung sana. Sekekali ia memandangi kami, kadang memejamkan mata. Mungkin mengantuk, mungkin sedang mendengarkan piano jazz yang terputar, dengan suara-suara percakapan kami sebagai latar.
Bagaimana kita memulai sesuatu yang kecil, merawatnya terus bersama waktu, dan perlahan menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan siapa kita?
Saya memperhatikan setiap bagian dari jazz kissa ini, membayangkan bagaimana tempat ini melewati hari demi hari, tahun demi tahun, musim ketika orang menghangatkan diri di dekat perapian, musim saat bunga kembali bermekaran, bersama Misa yang menjalankannya, — membersihkan meja, menurunkan kursi, membersihan gelasnya, mengelap bingkai foto di dinding.
Di sisi toilet di belakang, terpasang pegangan tangan yang mungkin baru dipasang saat Misa semakin menua. Saat saya berjalan ke belakang, tak sengaja saya melirik bilik kecil tempat Misa tidur. Pintunya terbuka sedikit. Ada tatami, teko air dengan gelas yang ditelungkupkan, kain motif bunga yang dilipat rapi di dekat teko, televisi yang masih menyala tanpa suara dan menyiarkan pertunjukan drama lama – tempat yang terakhir dilihat Misa sebelum memejamkan mata, dan yang dilihat pertama saat bangun dan memulai hari. Saat berjalan kembali ke bar, saya teringat Ako berkata bahwa tempat ini — ruang kecil dengan jazz dan bunyi denting gelas ini — juga menjadi bagian hidupnya sejak kanak-kanak. “Di sana aku belajar jalan.” Katanya menunjuk lorong kecil di antara kursi bar dan dinding, lorong yang mengeluarkan bunyi kreot saat saya melintasinya.
Bagaimana kita memulai sesuatu yang kecil, merawatnya terus bersama waktu, dan perlahan menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan siapa kita?

Di bagian belakang novel Moshi-Moshi yang latarnya juga Shimokitazawa, Banana Yoshimoto menulis kekaguman dan doa-doa baiknya bagi para pengelola usaha-usaha kecil di sana, yang menjalankan sendiri, atau bersama keluarga kecilnya, bersama waktu yang terus berjalan. Ada yang masih bertahan, sebagian besar tak lagi ada seiring jaman yang berganti.
Beberapa hari ini kami selalu tiba di tempat yang dikelola orang-orang tua, ada kedai yang beriisi jajaran manga yang dijaga seorang kakek yang membuatkan saya omurice, toko buku kepunyaan Nick di Asakusa yang kini sudah kami anggap teman, hingga yang terakhir, Posy dengan Misa dan kini Ako yang tetap menyajikan gin dan memutarkan musik bagi mereka yang datang. Maesy berkeyakinan ini semacam ramalan tentang bagaimana hari tua kami dijalani. Saya membayangkan sarapan di rumah berdua Maesy, lalu pamit untuk pergi ke toko buku untuk memulai hari, dan Maesy berkata ia akan menyelesaikan beberapa hal dulu sebelum nanti menyusul. Ia bilang akan membawakan bekal makan siang yang ia masukkan ke dalam kotak bekal yang telah kami miliki selama puluhan tahun. Saat itu kami berdua sudah tua, dan ini gambar yang indah sekali. Saat saya sampaikan ini, ia mengusap pipi saya dengan sayang.
Saya memperhatikan Misa di ujung sana, yang kemudian mohon ijin dan berjalan terhuyung ke kamarnya. Bagaimana ia bertahan di sini hingga lima puluh tahun lamanya? Saya tak membayangkan alasan lain selain rasa cinta yang begitu dalam. Sebuah tempat yang dirawat dengan kasih sayang, yang kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dengan dirinya . Sebuah tempat yang menjadi alasannya untuk dapat terus melanjutkan hidup. Beberapa tahun dari sekarang, saat saya kembali, adakah Misa masih di sini? Adakah Posy masih di sini? Saya membayangkan hari yang murung ketika Misa tak lagi ada dan Ako menutup pintu jazz kissa mendiang ibunya untuk selamanya, lalu melanjutkan hidupnya. Bangunan kecil ini mungkin berganti dengan restoran ramen dengan bintang Michelin, atau kedai roti atau es krim dengan antrian yang mengular. Apa yang akan tersisa dari Jazz Kissa yang pernah lebih dari lima puluh tahun memutarkan lagu bagi ia yang duduk di meja barnya?
Sebelum kami pamit Ako mengganti piringan hitam dan memutarkan satu lagu lagi untuk kami. Satu sebelum pulang, katanya. Hellen Merill menyanyikan lagu karangan Cole Porter, You’d Be So Nice To Come Home To. Saya duduk di kursi dekat dinding, Maesy di bar dan Ako di depannya, berdiri dan sesekali bergerak pelan di antara bagian lagu. Ibunya sudah tidur di dalam dan Ako di sana, berdiri sendirian di balik meja bar sebelum melepas kami pergi. Kami semua diam, mendengar lagu saja, merekam momen itu untuk kami kenang hingga waktu yang lama. Malam di di Jazz Kissa, di tempat waktu berhenti pada pukul dua dini hari.
Under stars chilled by the winter
Under an August moon burning above
You’d be so nice, you’d be paradise
To come home to and love
—



– Ditulis di Kongsi 8, ruang kecil di Jatinegara yang juga dirawat dengan penuh kasih sayang












