comments 4

Waktu Berhenti Pada Pukul Dua Dini Hari

Tidak ada pengunjung lain di sana, hanya perempuan tua yang bergerak ke depan begitu melihat kami masuk. Ia beranjak dari semacam meja kerja di sisi dalam bar. Gerakannya pelan sekali, tertatih-tatih, dengan punggung membungkuk.

Hari itu kami berkenalan dengan Misa, dan ia tidak mendengar apa pun yang kami ucapkan.

Saya memesan gin dan Misa mencondongkan wajahnya ke depan, meminta saya berbicara lebih kencang. Saya mengeraskan suara dan ia menggeleng — gin sedang tidak ada, katanya. Tapi saya melihat di dekat meja ada sebotol yang masih berisi. Saat saya menunjuknya, Misa tersenyum lebar dan berseru, ah ada! Ia meraih gin lantas mengambil gelas dari rak di belakangnya, menarik tempat es batu dan mulai menuang. Semua ia lakukan dengan gerakan yang begitu pelan, tangannya gemetar. Saya melirik Maesy dan kami sama-sama takut Misa ambruk.

Dari pemutar piringan hitam terdengar piano Bill Evans. Di dekat tangga, dengan sudut-sudut yang mengelupas, tersandar foto hitam putih Bill yang juga sedang main piano. Ada empat kursi saja di bar dan satu kursi lain di dekat jendela, kursi tua pendek yang kakinya seakan melesak ke lantai. Ada dua lampu berwarna kuning remang menggantung di atasnya, yang satu mati. Saat itu pukul enam lewat sedikit dan matahari belum lama terbenam. Tapi di dalam sini, waktu seakan berhenti di pukul dua dini hari, di masa yang telah lama berlalu.

Seorang ibu yang lebih muda masuk lalu menggantung mantelnya. Dari wajahnya kami langsung tahu ia dan Misa ada hubungan darah. Namanya Ako. Ia tersenyum lalu bertanya apa kami sudah memesan minum. Di balik meja bar, ibunya masih berkutat dengan gelas, es batu, dan botol-botol. Setiap gerakan ia lakukan dengan susah payah, dengan kegigihan yang mengagumkan. Kami memperhatikan Ako yang tetap membiarkan Misa menangani pesanan, tak mencoba membantu atau mengambil alih. Sepertinya ini penting untuk Misa, bahwa ia tetap bisa menangani ini sendiri.

Dan Ako, ia memberi ruang itu bagi ibunya.

Di Shimokitazawa di tahun 1973, Misa mendirikan jazz kissa bernama Posy. Semua dilakukannya sendiri saja, memutarkan piringan hitam jazz, menuang minuman bagi begitu banyak orang — warga setempat, pendatang, manusia dari berbagai belahan dunia. Di sana ia menjumpai mereka yang datang, lalu pergi, lalu kembali, lalu pergi lagi — meninggalkan sisa kenangan baik yang mengisi lapisan kayu di meja barnya, atau lorong kecil menuju toilet yang berbunyi kreot saat orang melintas. Ako mulai bantu-bantu tahun 2019, saat Misa terlalu renta untuk melakukan semua sendiri.  Minuman datang dan kami mengangkat gelas. Misa tersenyum dan menonton saya meneguk gin, lalu tersenyum lagi saat gelas diletakkan. Hanya kami pengunjung di sisa malam itu, bersama Ako, Misa, dan Bill Evans dalam suasana dini hari, di jazz kissa yang sudah lima puluh tahun berdiri.

Foto Misa saat usianya lebih muda terpasang di salah satu dinding.  Ia sedang duduk dengan senyum dan pakaian serba hitam, di bangku berwarna merah dengan bunga-bunga menggerumbul di sisinya, di dekat sebuah jazz bar di New York. Ako bercerita Misa selalu menyukai jazz. Suara trompet membuatnya bercahaya. Saat Posy libur, Misa jalan-jalan ke berbagai festival, di New York, di New Orleans, di Havana, di Madrid. Terkadang sendiri saja, di lain waktu membawa serta Ako. Di dinding kami melihat ucapan penyemangat dari pengelola jazz bar di berbagai belahan dunia untuk jazz kissa milik Misa. Saya membayangkan masa muda dengan iringan bunyi trompet dan tabuhan drum yang bertalu-talu.

Jazz kissa banyak dimulai tahun 1920an, ketika orang-orang Jepang mulai begitu menyukai musik ini. Beberapa orang memulai kissa tempat orang bisa duduk tenang-tenang menikmati musik tanpa banyak bicara, sambil minum secangkir kopi atau segelas wiski, atau dua gelas, atau tiga gelas. Jazz kissa bermunculan karena harga piringan hitam yang mahal kala itu, dan di balik meja bar, di dekat mesin pemutar, berdirilah si pemilik, biasanya seorang diri saja. Seorang kolektor yang senang menjamu tamu sambil berbagi koleksinya. Ia yang memilih lagu, yang ikut mendengar dengan mata terpejam, lalu bercerita tentang hal-hal di seputar lagu itu kepada pengunjung yang menyimak dengan tekun. Kini, saat semua lebih mudah dijangkau, dan musik jamak diputar di berbagai bar, jumlah jazz kissa berkurang. Beberapa masih berdiri, sebagian karena nostalgia, atau sebagai pegangan pada sisa-sisa dari sebuah masa ketika dunia luar belum bergerak secepat ini.

Beberapa malam kemudian, di hari terakhir di Shimokitazawa, kami mampir lagi. Ako tersenyum senang melihat kami muncul di balik pintu. Di dekatnya, sejajar dengannya, berdiri Misa yang memicingkan mata. Wajah bingungnya berubah menjadi senyum saat Ako bercerita kami dua orang yang datang tempo hari. Saya masih mengingat senyum keduanya — ibu dan anak yang berdiri berjajar, di meja bar mereka.

Kali ini ada pengunjung lain di Posy, seorang pria paruh baya bernama Nakashima. Ia mampir untuk jazz dan satu dua gelas wiski atas rekomendasi seseorang di kedai roti tak jauh dari sana. Kepada kami ia menunjukkan sebuah halaman di majalah jazz yang dipegangnya — terlihat foto Posy dan bangku tempat kami duduk saat itu. Ia lalu menunjukkan foto itu pada Ako, yang menyambutnya dengan anggukan dan kalimat Bahasa Jepang yang tak kami tangkap. Dari rencana satu dua gelas, Nakashima menghabiskan petang berbicara dengan kami, memesan beberapa kali tambahan minuman. Obrolan bergulir seperti bola pinball yang baru dilontarkan, dari jazz kissa hingga serangga dalam puisi, hingga soal Dewi Soekarno. Kepada kami, dengan keramahan pria yang sedikit mabuk, ia bertanya apa kami sungguh-sungguh menganggap Dewi Soekarno rupawan? Menurutnya Dewi biasa saja dan ia heran kenapa Soekarno menyukainya. Entahlah soal cantik, tapi saya bilang Soekarno memang mata keranjang dan ia bisa tertarik pada siapa saja.

Saat kami menceritakan rencana kami pergi ke Yamagata ia tertawa, “ngapain ke sana?” lalu ia berkata sesuatu pada Ako yang tertawa sambil menutup bibirnya. Beberapa saat kemudian Nakashima berkata ada bukit di Yamagata tempat Basho merenung dan menulis Haiku. Ia ingat satu haiku dan mengucapkannya dalam Bahasa Jepang. Lalu ia merenung sebentar dan mengucapkan haiku itu dalam Bahasa Inggris:

such stillness/ the cicadas cries/ sink into the rocks.

Di antara percakapan beberapa kali saya melirik Misa di kursinya di ujung sana. Sekekali ia memandangi kami, kadang memejamkan mata. Mungkin mengantuk, mungkin sedang mendengarkan piano jazz yang terputar, dengan suara-suara percakapan kami sebagai latar.

Bagaimana kita memulai sesuatu yang kecil, merawatnya terus bersama waktu, dan perlahan menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan siapa kita?

Saya memperhatikan setiap bagian dari jazz kissa ini, membayangkan bagaimana tempat ini melewati hari demi hari, tahun demi tahun, musim ketika orang menghangatkan diri di dekat perapian, musim saat bunga kembali bermekaran, bersama Misa yang menjalankannya, — membersihkan meja, menurunkan kursi, membersihan gelasnya, mengelap bingkai foto di dinding.

Di sisi toilet di belakang, terpasang pegangan tangan yang mungkin baru dipasang saat Misa semakin menua. Saat saya berjalan ke belakang, tak sengaja saya melirik bilik kecil tempat Misa tidur. Pintunya terbuka sedikit. Ada tatami, teko air dengan gelas yang ditelungkupkan, kain motif bunga yang dilipat rapi di dekat teko, televisi yang masih menyala tanpa suara dan menyiarkan pertunjukan drama lama – tempat yang terakhir dilihat Misa sebelum memejamkan mata, dan yang dilihat pertama saat bangun dan memulai hari. Saat berjalan kembali ke bar, saya teringat Ako berkata bahwa tempat ini — ruang kecil dengan jazz dan bunyi denting gelas ini — juga menjadi bagian hidupnya sejak kanak-kanak.  “Di sana aku belajar jalan.” Katanya menunjuk lorong kecil di antara kursi bar dan dinding, lorong yang mengeluarkan bunyi kreot saat saya melintasinya.

Bagaimana kita memulai sesuatu yang kecil, merawatnya terus bersama waktu, dan perlahan menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan siapa kita?

Di bagian belakang novel Moshi-Moshi yang latarnya juga Shimokitazawa, Banana Yoshimoto menulis kekaguman dan doa-doa baiknya bagi para pengelola usaha-usaha kecil di sana, yang menjalankan sendiri, atau bersama keluarga kecilnya, bersama waktu yang terus berjalan. Ada yang masih bertahan, sebagian besar tak lagi ada seiring jaman yang berganti.

Beberapa hari ini kami selalu tiba di tempat yang dikelola orang-orang tua, ada kedai yang beriisi jajaran manga yang dijaga seorang kakek yang membuatkan saya omurice, toko buku kepunyaan Nick di Asakusa yang kini sudah kami anggap teman, hingga yang terakhir, Posy dengan Misa dan kini Ako yang tetap menyajikan gin dan memutarkan musik bagi mereka yang datang. Maesy berkeyakinan ini semacam ramalan tentang bagaimana hari tua kami dijalani. Saya membayangkan sarapan di rumah berdua Maesy, lalu pamit untuk pergi ke toko buku untuk memulai hari, dan Maesy berkata ia akan menyelesaikan beberapa hal dulu sebelum nanti menyusul. Ia bilang akan membawakan bekal makan siang yang ia masukkan ke dalam kotak bekal yang telah kami miliki selama puluhan tahun. Saat itu kami berdua sudah tua, dan ini gambar yang indah sekali. Saat saya sampaikan ini, ia mengusap pipi saya dengan sayang.

Saya memperhatikan Misa di ujung sana, yang kemudian mohon ijin dan berjalan terhuyung ke kamarnya. Bagaimana ia bertahan di sini hingga lima puluh tahun lamanya? Saya tak membayangkan alasan lain selain rasa cinta yang begitu dalam. Sebuah tempat yang dirawat dengan kasih sayang, yang kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dengan dirinya . Sebuah tempat yang menjadi alasannya untuk dapat terus melanjutkan hidup. Beberapa tahun dari sekarang, saat saya kembali, adakah Misa masih di sini? Adakah Posy masih di sini? Saya membayangkan hari yang murung ketika Misa tak lagi ada dan Ako menutup pintu jazz kissa mendiang ibunya untuk selamanya, lalu melanjutkan hidupnya.  Bangunan kecil ini mungkin berganti dengan restoran ramen dengan bintang Michelin, atau kedai roti atau es krim dengan antrian yang mengular. Apa yang akan tersisa dari Jazz Kissa yang pernah lebih dari lima puluh tahun memutarkan lagu bagi ia yang duduk di meja barnya?

Sebelum kami pamit Ako mengganti piringan hitam dan memutarkan satu lagu lagi untuk kami. Satu sebelum pulang, katanya. Hellen Merill menyanyikan lagu karangan Cole Porter, You’d Be So Nice To Come Home To. Saya duduk di kursi dekat dinding, Maesy di bar dan Ako di depannya, berdiri dan sesekali bergerak pelan di antara bagian lagu. Ibunya sudah tidur di dalam dan Ako di sana, berdiri sendirian di balik meja bar sebelum melepas kami pergi. Kami semua diam, mendengar lagu saja, merekam momen itu untuk kami kenang hingga waktu yang lama. Malam di di Jazz Kissa, di tempat waktu berhenti pada pukul dua dini hari.

Under stars chilled by the winter
Under an August moon burning above
You’d be so nice, you’d be paradise
To come home to and love



Ditulis di Kongsi 8, ruang kecil di Jatinegara yang juga dirawat dengan penuh kasih sayang

comments 8

Cerita dari Jalan

Saya hendak lanjut membaca Daisy Jones and the Six ketika Maesy bertanya saya sudah sampai mana. Saat itu kami duduk di halaman belakang penginapan di Hokitika, di bukit dengan padang rumput luas, bunga daisy kuning di dekat kawat pagar, dan bunga mawar yang dikunjungi lebah. Saya katakan padanya ini di bagian Daisy menyanyi bersama Billy di pertujukan terakhir mereka. Oh, dari titik ini kamu ngga akan berhenti! katanya. Dan saya mulai membaca, semula Sam Cooke masih kedengaran menyanyi sayup-sayup, tapi kemudian tidak ada lagi musik, dan saya terus membaca, tidak berhenti, hingga tiba di halaman terakhir dan saya berkata pada Maesy betapa buku ini ditutup dengan indah.

Senyumnya lebar sekali saat tahu tebakannya benar.

Kami tiba di pertengahan roadtrip kedua kami di Aotearoa, dan sejauh ini, di segala macam soal, ia memang banyak benarnya. Ia memperhitungkan semua dengan baik — kapan hujan turun sehingga rencana trekking bisa disesuaikan, kapan tidur di hostel, kapan mencari penginapan yang rada nyaman karena kami tak lagi muda, kapan kotak bekal harus disiapkan dengan lebih lengkap, kapan saya menyetir jauh, kapan bisa santai golek-golek saja seperti hari ini — membaca, menunggu matahari musim panas yang terbenam di pukul sepuluh, membuka anggur murah yang kemarin dibeli di supermarket.

Saya menulis ini beberapa saat kemudian, ketika Maesy duduk mencatat di buku jurnalnya. Sudah beberapa tahun ini ia masih terus menulis di sana. Tulisan tangannya kecil seperti barisan semut, tapi sudah beberapa kali jurnal dengan sampul kulit itu penuh dan diganti baru. Kini, Maesy tak lagi menulis di blog. Mungkin bersama usia ia jadi lebih tertutup, dan ia bilang menulis di jurnal memberinya ruang untuk bisa jujur dan lebih lepas menulis hal-hal yang paling pribadi, juga kegembiraan, kecemasan, dan ketakutannya. Kali ini saya juga lumayan rajin menulis catatan harian. Mencatat-catat saja — percakapan yang kami lakukan, tawa yang kami bagi, percakapan yang kami curi dengar.

Tadi saya menulis tentang betapa gembira Maesy berenang di sungai Pororari sesudah berjalan di hari yang terik, di tengah hutan dan di antara jajaran pohon pakis. Dengan bercanda saya katakan ia seperti boneka kelinci yang cemberut, yang jadi tersenyum lebar sesudah kupingnya dipegang dan tubuhnya dicelupkan ke air. Ia senang dengan perumpamaan ini. Dan ia memang selalu gembira saat bertemu air. Ide di kepalanya tentang road trip di musim panas adalah menemukan sungai dengan air bening di pinggir jalan lapang, memarkir mobil dan berjalan turun hingga sisi sungai, lalu melompat. Di sungai di bawah jembatan Pelorus ia melompat dari batu dan tawanya kencang sekali.  Saya mencatat momen ketika kami duduk di Aoraki, makan bekal buah ceri dan crackers yang dicocol ke pesto, di pinggir danau yang terbentuk dari es yang mencair. Sesekali kami mendengar bunyi bongkahan es yang terjatuh dan nyemplung ke danau, dan di dekatnya ada bebek yang berenang tenang-tenang seolah semua dingin ini ringan saja. Saya membuka catatan beberapa hari sebelumnya dan menemukan percakapan dengan Belinda tentang toko buku kecilnya di Geraldine, toko buku yang ia buka enam minggu saja sebelum pandemi. Bagian belakang toko bahkan belum selesai ia renovasi saat pandemi tiba. Saya ikut tersenyum mencatat waktu Maesy gemetar menyeberangi jembatan gantung di hooker valley, dan ia komat kamit berdoa mengucap syukur akan limpahan kasih sayang yang ia terima, tapi kemudian pidatonya terganggu karena ada pria tua beponco polkadot hijau berjalan di belakangnya dengan langkah besar-besar yang membuat jembatan oleng. Beberapa hari kemudian, di toko buku di Twizel kami menemukan tulisan ini: “It’s beautiful here. In this small room. In this small town. In this small country at the edge of the world.”

Indah ya?

Suatu hari nanti, saat membacanya lagi, mungkin catatan lama bisa membawa kembali hal yang dulu dirasakan. Atau, kala banyak hal yang tak lagi bisa dilakukan, karena usia atau yang lain, kita akan mengenang dengan manis sebuah masa ketika kita bisa demikian berdaya, atau begitu bahagia.  Bersama waktu, memori terus bertumpuk, banyak yang terlupakan, yang lain saling tindih. Sering kali jika saya teringat sesuatu samar-samar, saya akan bertanya pada Maesy — tentang di mana suatu percakapan terjadi, tentang siapa berkata apa, tentang apa yang persisnya dikatakan seseorang di suatu waktu. Biasanya Maesy ingat, dan dengan bercanda dia bilang saya mengoutsource ingatan ke dia. Tadi saya bertanya saya merasa pernah memakai flannel yang sama dengan yang saya pakai hari ini di sebuah akhir roadtrip lain, dan ia ingat itu perjalanan yang mana, juga nama kafe yang kami singgahi waktu itu. Namanya little river, katanya, dan kamu makan pai daging lahap banget.

Beberapa hari ini kami juga sama-sama membaca Greta & Valdin, karya penulis Aotearoa, Rebecca K. Reilly. Buku ini direkomendasikan Sally, perempuan tua yang mengelola toko buku mungil di semacam kontainer di Wanaka. Saya ingat Maesy membacanya saat kami golek-golek di rumput dan ia banyak tertawa padahal ia baru saja gemetar kedinginan sesudah berenang di danau. Saya ikut membacanya dan merasa mungkin ini buku awal tahun paling segar yang pernah saya baca. Cerita tentang keseharian kakak beradik Greta dan Valdin dan keluarganya. Buku ini mengingatkan kami tentang betapa hidup sangat panjang, dan di antaranya kita mengalami masa sedih, tragedi, trauma, dan sesudah itu berlalu, hidup masih saja panjang. Dan ini cerita orang-orang di masa sesudah semua itu berlalu, bagaimana mereka tidak membiarkan rasa sedih dan tragedi masa lalu mendefinisikan mereka kini, atau hubungan mereka satu dengan yang lainnya. Dan Reilly menulis dengan lucu sekali. Beberapa kali saya membacakan lagi untuk Maesy dialog Greta dan Bapaknya, atau Valdin dan Ibunya, lalu tertawa bersama.

Buku ini juga mengingatkan kami pada hidup kami sendiri yang panjang dan masih panjang, tentang rasa frustasi masa kecil, kesedihan di usia dewasa, dan bagaimana kami melihatnya kini. Di bulan Februari nanti, kami genap menikah sepuluh tahun, dan bersama-sama lebih dari delapan belas tahun. Sudah cukup lama kami meyakini bahwa kami sudah menemukan orang yang akan menjadi teman hidup di kala tua nanti. Dan saat percakapan ini muncul, Maesy kerap berkata agar saya tak buru-buru mati, apa lagi matinya konyol-konyolan. Kita menua sama-sama ya, begitu katanya. Janji yang kami pegang bersama. Nanti, kata Maesy lagi, aku saja yang mati duluan. Sesudahnya, kamu boleh bergembira (kalau memang bisa) atau menyusulku. Saya pikir sudah lama saya ingin bisa tetap menjalani hidup seperti ini, mengupayakan untuk melakukan hal-hal yang saya sukai dengan sungguh-sungguh, agar suatu hari nanti, di usia lanjut, bisa dengan jujur berkata bahwa hidup sudah saya jalani dengan sebaiknya, bersama orang yang saya cintai. 

Kami masih duduk di teras dengan padang rumput luas dan matahari musim panas yang tak kunjung terbenam. Saya mendongak melihat burung yang terbang melingkar-lingkar sendiri. Ternyata Maesy juga melihat burung yang sama. Kami sama-sama terdiam, melihatnya terbang melingkar-lingkar, kadang sayapnya terkepak, kadang melayang saja. Maesy bilang burung itu seperti saya, tenang di sini, di masa ini, tak ingin pergi kemana-mana lagi.

Seperti tadi, kali ini ia juga benar.


comment 0

Seperti canang yang tak sengaja terinjak

Ini baru pukul delapan malam dan jalanan Seminyak sepi sekali.  Kami berpapasan dengan mobil pengangkut sampah, pasangan yang berboncengan, dan satu dua kendaraan yang segera dilupakan. Jalan motor bebek pelan, tapi dada rasanya agak tertusuk, mungkin karena tadi hujan, dan kaos yang saya pakai tipis saja dengan lubang-lubang kecil di beberapa bagian. Maesy nangkring di belakang dan saya meminta tolong padanya untuk mengancingkan kemeja flannel saya yang terbuka. Ia kesulitan dan akhirnya memegang saja dua bagian kemeja dengan posisi memeluk sehingga kaos tipis tetap terlapisi. Saat melewati restoran Vietnam yang masih buka, Maesy minta berhenti. Dia pernah dengar bun-nya enak. Motor bebek diparkir di depan dan kami masuk masih dengan helm bertengger di kepala dan mendapati cuma kami tamu malam itu. Bangku restoran ini banyak, mungkin sebelum pandemi bisnis sedang bagus. Satu kotak bun datang dengan isi dua biji, dan kami memakannya dengan mulut monyong karena masih panas. Enak, dan kami memesan satu lagi dan kakak penjaga menyambut senang. Dia memakai masker tapi saya bayangkan dia tersenyum dengan gigi kelihatan. Kembali kami berdua ngobrol tentang Canggu malam hari yang bising. Tadi kami berjalan kaki menyusuri bibir pantai Berawa, sesekali ombak dingin membenamkan mata kaki telanjang kami. Rasanya menyenangkan. Tapi saat menoleh ke kanan, rasa senang merosot. Dari sana lampu tembak menghujam ke pantai, dan terlihat gerumbulan orang-orang yang menari, terkadang terdengar teriakan orang girang, di antara musik yang berdentam-dentam. Setiap kali pulang ke Bali kami selalu ke pantai Berawa, Batu Bolong, Batu Mejan, tapi selalu di pagi hari, nyaris tak pernah di kala malam, saat sesuatu yang sama sekali asing untuknya seakan tiba-tiba terpancang saja begitu, dan bersuara saja, dan kencang-kencang, tanpa sedikit pun negosiasi. Laut di malam hari masih selalu menyimpan misteri, juga semacam kemarahan, tapi malam itu, kami membayangkan ia terlihat tak berdaya. Sewaktu kecil saya pernah dibawa almarhum ajik ke sini — sini kutunjukkan pantai rahasia, begitu dia bilang. Saya ingat dia pakai celana pendek warna merah, masih kuat lari ke tengah laut dan berenang-renang. Seperti hari ini, dulu pun ombaknya besar, jadi dia tidak bisa ngambang lama-lama seperti di pantai lain. Saat ombak tinggi datang ia masuk ke bawahnya, seperti lumba-lumba. Saya masih ingat, ia menghampiri saya yang duduk di pasir, badannya basah, napasnya terengah-engah — bagus kan, katanya. Suatu kali pernah juga dia pergi sebentar lalu datang membawa kelapa, juga golok, dan dia membelahnya lalu menyodorkan pada saya yang menyambut dengan kehausan. Ajik memang tangkas, tapi sepertinya dia tidak memanjat sendiri untuk memetik kelapa itu. Mungkin dia dapat dari orang yang sekalian meminjaminya golok, tapi saya senang membayangkan dia memanjat dengan gesit. Kini, setiap kali ke Bali saya selalu mengajak Maesy ke Canggu pagi-pagi, bersama orang-orang yang juga bangun terlalu pagi, juga anjing-anjing kecil yang menyalak-nyalak nyolot, dan anjing besar yang menggeram-geram, yang susah payah ditahan pemiliknya agar tidak menerkam si konyong. Tadi saat lewat Finn saya bilang ke Maesy, apa ya yang akan terjadi jika aku menelusup ke tempat pemutar musik dan menggantinya dengan lagu-lagu Sinatra. Maesy cuma melihat saya dengan kasihan, sepertinya untuk alasan yang berlapis. Dari restoran Vietnam kami motoran lagi sampai Legian, melewati toko-toko yang tutup, yang di depannya terpasang tanda disewakan, melewati bli-bli yang duduk-duduk di dekat trotoar. Satu bli menghisap rokok lalu menjulurkannya pada bli yang lain, tak ada lampu kelap-kelip, tak ada musik-musik yang terdengar di trotoar. Sewaktu SMA saya suka motoran sendiri ke sini, diparkir begitu saja, lalu jalan kaki sepanjang Legian, kadang mampir ke Matahari, main dingdong lalu jalan lagi, hingga ke pantai, kadang belok ke Kuta Square, melewati orang yang menawari ekstasi di dekat bar Rasa Sayang, tempat Bli Komang sering nongkrong. Sepupu saya ini kenal semua orang di sana, dia kerap mengulang cerita betapa turis-turis Jepang gemas padanya. Sekarang semuanya tidak ada, Bli Komang lenyap, musik-musik tak terdengar, yang ada toko-toko yang tutup, yang ada bli-bli duduk-duduk tanpa banyak tertawa, juga pekerja seks tua yang sendiri di pintu toko kosong dengan plang disewakan dan lampu depan yang padam. Di satu tempat ada yang masih menyajikan live music, band menyanyikan lagu Careless Whisper, seperti mencoba menahan masa yang telah lalu. Sedikit penonton duduk-duduk di depannya, meminum birnya pelan-pelan. Agak malam terdengar suara knalpot cempreng dari belakang. Beberapa anak muda berandalan trek-trekan di jalan pantai Kuta, tak satu pun pakai helm, sebagian besar nyeker, kaki-kaki mereka kerempeng. Kami minggir membiarkan mereka leluasa menguasai dunianya. Di perjalanan pulang saya masih geregetan dan nyerocos saja, bertanya bukankah pantai di malam hari menjadi indah kalau lagu yang diputar adalah” Di Wajahmu Kulihat Bulan”. Maesy berkata betapa saya beruntung karena tetap ada beberapa orang di dunia ini yang menyayangi dan menerima saya apa adanya. Kemudian dia mencubit pinggang saya. Yang terakhir ini sepertinya tanpa alasan, saat dibonceng dia senang saja sesekali main cubit. Keinginan tadi lumayan terpenuhi keesokan harinya. Saat itu tengah hari, matahari panas tapi tidak panas-panas amat, dan kami berdua berenang di pantai Batu Belig. Kami berenang lalu duduk-duduk membiarkan pasir memenuhi punggung dan pantat dan kaki, lalu berenang lagi, lalu duduk-duduk lagi. Maesy pakai bikini merah muda, dengan belang-belang kuning biru di pinggirnya. Dia berbangga pada bikini yang menurutnya bagus, dan saya iya iya saja. Sayup-sayup kami mendengar suara jazz, dan saya berjalan sedikit ke Utara, ke arah suara itu, mendapati kafe kecil berbentuk bangunan panggung dari kayu rada reot yang memutar lagu-lagu Fred Astaire. Dari dekat tangga kedai saya memesan bir bintang botol kecil pada penjaga berkaca mata gelap yang pakai baju bunga-bunga mekar. Saya bersandar di sisi panggung kedai, memegang botol bir, dan memandang ombak yang datang pergi. Ada anjing yang berjalan sendirian di bibir pantai saat Fred Astaire menyanyi Cheek to Cheek. Saya melihat Maesy di kejauhan. masih duduk di pasir dengan kaki menjulur. Di satu titik ia melihat saya lalu melambaikan tangan, meminta saya duduk di dekatnya. Saya memberinya tanda dengan memutar jari telunjuk di kuping, menunjuk ke kedai, dan menggoyangkan kepala seperti mengikuti musik pelan. Dia tersenyum dari kejauhan. Saya mengangkat botol bir dan memberi tanda bersulang padanya — untuk sisa-sisa hari yang masih baik.

comments 7

Khawatir banget ya, kemarin?

Saat terjaga pagi tadi, saya tak mendapati Maesy di kamar. Samar-samar ingatan muncul, Maesy berkata ia akan berjalan kaki di luar. Sepertinya saya sempat bilang agar ia tak bergerak terlalu banyak dan ia mengusap kepala saya, lantas berlalu, dan saya tak ingat apa-apa lagi. Saya membuka tirai, mencuci muka dan bergerak ke kulkas. Ada teko berisi sisa kopi kemarin di sana. Saya menuangnya ke gelas keramik, mencampurnya dengan susu kedelai dan mencemplungkan es batu. Sesudah meminumnya setengah, saya menuang sisa kopi hingga habis. Saat pulang nanti Maesy tentu senang jika menjumpai sisa kopi dingin, tapi saya sedang ingin menjahilinya. Sesudah delapan belas tahun, saya masih senang melihatnya pura-pura ngomel.

Dengan bekal es kopi susu, juga buku semalam yang masih tergeletak di atas meja makan, saya duduk di balkon, di pagi saat matahari belum seberapa tinggi, lalu mulai membaca. Bill Hayes menulis tentang hari-harinya di awal pandemi tahun lalu. Ia menulis tentang jalanan New York yang dulu dipenuhi kendaraan, yang kini berisi sepasang orang tua berjalan bergandengan di tengah jalan. Ia mengingat deru suara kendaraan yang kini berganti derak roda skateboard yang masih terdengar jelas dari ujung blok. Sekilas ini pemandangan yang indah, tapi saat ia menyadari dirinya, juga orang-orang yang ditemuinya mengenakan masker, ia tersadar bahwa ini seperti awal dari sesuatu yang buruk. Oh, tahukah ia saat itu bahwa itu adalah permulaan dari episode yang sangat, sangat, buruk?

Kini, lebih dari setahun sesudahnya, kita mendengar kabar sedih setiap hari, yang disusul kabar sedih lain, bahkan sebelum yang terdahulu mampu dicerna. Beberapa orang lebih beruntung merasakan kecemasan di rumah saja, yang lain harus meneguhkan diri bertaruh setiap hari di jalan. Ada yang mendengar berita sedih dari rumah, atau mengamati dari gawai. Banyak yang lain merasakannya langsung di antara antrian tabung oksigen, rumah yang sesak, bangsal IGD, parkiran rumah sakit, saat orang terdekatnya, atau dirinya, berusaha menggapai sisa-sisa udara dunia. Dan di satu tempat di langit-langit ruangan, kematian seperti bergelayut-gelayut. Inilah hari-hari ketika ketimpangan semakin menampilkan wajahnya, dan mereka yang berkuasa semakin menunjukkan wujud aslinya. Hari-hari ketika mereka yang di pinggir harus memendam rasa marah, sedih, tak berdaya sendiri saja, dan tahu bahwa jika pun episode ini bisa dilalui, ia akan meninggalkan luka yang mendalam.

Lewat dua minggu yang lalu Maesy mendapati dirinya positif. Saya masih ingat ia membaca hasil tes saat duduk di sisi tempat tidur yang menghadap jendela, sementara saya berdiri di dekat pintu. Waktu itu hati rasanya mencelos dan saya ingin meraihnya, dan memeluknya, tapi saya tahu itu tak bisa dilakukan. Maesy menangkap kegundahan ini dan ia berkata hal-hal akan baik-baik saja. Saya teringat adegan sebuah cerita saat si tokoh berkata pada maut yang menghampirinya bahwa ini belum saatnya. Dari dua ujung ruangan kami menekan kecemasan masing-masing dan berbicara bagaimana hari-hari sesudah itu akan ditangani — tentang pengaturan tidur, makan, kontrol dokter, cuci mencuci piring, kebutuhan vitamin, cadangan oksigen, kemungkinan-kemungkinan jika saya juga positif, juga rencana-rencana jika hal-hal tidak membaik. Beberapa minggu sebelumnya, saat menjaga Mamanya yang juga positif, ia sudah tahu segala yang harus disiapkan. Tapi tetap saja, ia punya asma, dan situasi di luar sedang sangat runyam dan kami tahu kami akan kesulitan jika Maesy harus dirawat di rumah sakit.

Dan hari berjalan, satu hari, dua hari, ada masa ketika nafasnya sesak, dan ia letih sepanjang hari. Enam hari, tujuh hari, ada malam ketika ia terduduk di lantai karena jantungnya berdetak jauh lebih kencang, dan ia nyaris menangis. Delapan hari, sepuluh hari, terkadang hal-hal berjalan santai dan ia duduk berjemur di balkon dan saya bercerita tentang suatu hal dengan suara lebih kencang dari meja makan, dan ia tertawa walau tak bisa terlalu kencang. Dua belas hari, dua minggu, ia masih letih tapi ia di sana, duduk di sofa dekat balkon, memasang senyum.

Lima hari lalu kami menonton film berdua di sofa, untuk pertama kalinya berdekatan sejak hari di kamar itu. Maesy benar, walau tak selalu mulus, hal-hal berjalan baik untuknya. Hari-hari dengan kecemasan itu kini ada di belakang, walau tak sepenuhnya, dan kini kami di sini, duduk di sofa dengan kaki berselonjor dan ditutupi selimut yang sama. Di tengah-tengah film Maesy mengangkat wajahnya dan mengamati wajah saya di ruang tengah yang hanya diterangi cahaya dari TV.

“Khawatir banget ya, kemarin?” tanyanya. Cahaya dari TV berpendar di wajahnya, terkadang agak biru, lalu jingga.

Biasa saja, kata saya padanya, tapi ia tahu itu ngibul. Kasihaaan, katanya sambil menepuk-nepuk pipi saya seperti berbicara dengan anak kecil. Kembali ia menyenderkan kepalanya, tangannya menyelip ke balik kaos saya, dan kami berdua menatap ke TV lagi. Saya tak betul-betul mengikuti pertunjukan di TV. Beberapa ingatan mampir di kepala, gambar-gambar yang akan terus diingat – ada pemandangan ketika Maesy tertidur kelelahan di sofa, dan saya memandanginya dari dapur, merasa lega melihat perutnya bergerak-gerak menunjukkan nafas yang teratur, juga saat ia terlihat ringkih ketika saya harus membawanya ke dokter, atau malam-malam saat punggungnya perlu digosok minyak agar nafasnya lebih lega, atau sore ketika ia harus mencereweti saya tentang bagaimana cara membuat sup dengan benar. Kini semua itu ada di belakang, dan setiap kali kesadaran itu muncul, saya meremas lengan atasnya, merasakannya benar-benar ada di sini, baik-baik saja.

Saya membaca catatan-catatan Bill Hayes agak lama, hingga matahari meninggi. Menjelang akhir buku saya disadarkan ketukan pintu dengan tempo yang familiar. Di balik pintu Maesy berdiri, tubuhnya berkeringat dan senyumnya lebar sekali. Ia bergerak ke kulkas dan bercerita tentang beberapa ribu langkahnya hari ini. Saya senang ini adalah hari ketika ia cukup kuat berjalan jauh, di hari lain ia masih kelelahan di tengah hari dan tertidur hingga sore. Saat ia mendapati es kopi sudah habis, ia tahu saya mau mengerjainya dan ia bilang saya gagal total. Sesudah jalan kaki tadi, ia mampir ke minimarket dan membeli es milo, yang ia minum sambil duduk tenang-tenang di tangga dekat salah satu pintu di GOR Sumantri. Itu salah satu tempat duduk favorit kami, satu dari sedikit tempat di Jakarta yang sepi, dengan pohon yang rindang, kodok yang melompat di rerumputan, dan suara burung yang sering terdengar.

Maesy menuangkan air dingin ke gelas lalu berjalan ke balkon. Beberapa saat kemudian, sesudah menyeduh kopi panas, saya menyusulnya. Saya ingat bulan Mei setahun yang lalu, saat juga duduk di sini, saya menulis tentang masa awal dari periode yang tak masuk akal ini. Mungkin seperti Bill Hayes, saya pun tak membayangkan pandemi ini akan menghantam kemanusiaan sehebat ini, dan betapa kerunyaman di luar sana masih terus berlanjut. Seberapa pun saya mensyukuri satu kecemasan yang baru saja berlalu, perasaan ironis akan terus menggantungi. Betapa kami bisa melaluinya dengan lebih ringan karena keleluasaan lebih yang kami miliki di dunia yang begitu timpang ini. Begitu banyak orang dengan kesulitan yang berlipat, kesedihan yang tak bisa kami bayangkan, dan dengan keteguhan hati yang tak mungkin kami miliki. Saya memandang Maesy yang duduk di samping saya, dengan wajah berkeringat, menikmati air dinginnya. Ia masih mudah letih, dan nafasnya gampang sesak, tapi kami duduk di sini, di hari ketika satu kecemasan berlalu. Di bawah sana, di jalanan Kuningan, terlihat orang-orang berjalan dari satu tempat ke tempat lain, atau duduk-duduk membiarkan tubuhnya diterpa sinar matahari. Kami duduk diam-diam saja, menikmati hari-hari yang masih bisa dinikmati, di antara episode-episode kesedihan yang masih jauh dari selesai ini.