comments 2

Den Haag, Setelah Tujuh Tahun

Di malam bulan Desember yang dingin, yang anginnya membuat pipi terasa kebas, Maesy berjalan kaki menjauhi stasiun Den Haag Central sambil menangis. Ia bersedih karena hari-hari perkuliahannya di Belanda akan segera berakhir. Malam-malam tanpa tidur menjelang ujian, senda gurau tengah malam di kamar asrama bersama kawan dekat, pesta dadakan dengan pakaian sembarangan di Prins, atau restoran pizza murah pereda lapar, semua kembang api itu akan segera menjadi kenangan. Pelan-pelan redup, lalu hilang. Atau tidak.

Saya berjalan di jalanan yang sama, tujuh tahun kemudian, di antara orang-orang jangkung yang menaiki sepeda kumbang. Dan Maesy, ia kembali ada di sini, menggandeng tangan saya.

“Akhirnya aku bisa menyelundupkanmu ke asramaku. Aih, butuh tujuh tahun!” katanya bercanda. Ia jelas sedang mencerna emosi yang dirasakan; nostalgia, sisa kesedihan, atau keriangan karena akhirnya kembali ke kotanya yang lain. Di kereta tadi saya sempat menggodanya bahwa reuni dengan Den Haag akan membuat air matanya bercucuran. Ia memasang wajah tak setuju, walau tak yakin sepenuhnya.

“Kau lihat menara gereja di ujung itu? Di dekat sana ada Pavlov, bar kesukaanku. Tempatnya di taman gereja, sesekali ada jazz. Di musim panas kau bisa duduk-duduk berselonjor sambil minum anggur. Tapi kita nggak langsung ke sana ya, kita ambil jalan memutar, lihat-lihat yang lain dulu.”

“Jangan bayangkan ini seseru Dubrovnik, atau seanggun Salzburg, Den Haag biasa banget. Tapi ini kotaku, kau ikut saja.”

Anak ini cerewet sekali.

Telah lama saya mendengar cerita tentang kehidupan kuliahnya di Den Haag, salah satu masa terindah. Suatu masa ketika di punggungnya tumbuh sepasang sayap.

“Tentu saja Den Haag penting untukmu.” Suatu kali saya mencandainya. “Ini kota yang bikin gadis katolik lugu itu minum wiski dan memasang tato.”

Saat ia memasang wajah sebal saya buru-buru menambahkan, “Ya, ya, selain menjadi lulusan terbaik, tentu saja, juga ketemu teman-teman asyik.”

Dan siang itu, tujuh tahun kemudian, sesuai ajakannya, ya saya ngintil-ngintil saja.

Kami berjalan di pinggir danau di dekat gedung parlemen, di mana bebek-bebek berenang bergerombol. Di sini ia sering berjalan sendiri, mengosongkan pikirannya di kala ruwet; urusan esai-esai, hal-hal emosional, atau apalah, atau untuk sekadar duduk-duduk sambil makan buah apel. Entah untuk alasan apa, saya kerap geli membayangkan wajahnya saat sedang menggigit apel dan mengunyah dengan mulut penuh. Terkadang saya menyebutnya anak kelinci, atau anak tupai. Kami mampir ke Albert Heijn, toko kelontong langganannya, membeli sekotak susu kacang. Dulu Maesy selalu ke sini berburu daging-daging yang nyaris kedaluarsa untuk ia masak. Karena nyaris busuk, daging itu jadi murah, dan ia tetap bisa makan enak.

“Maklum, mahasiswa miskin,” katanya nyengir.

Di lorong gerbang asramanya saya sedikit menggigil oleh angin yang bertiup. Demi Tuhan, ini musim panas! Maesy tertawa dan bercerita lorong gerbang ini selalu berangin, kapan pun. Angin Den Haag, di segala musim, selalu dingin. Asrama Dorus sedang sepi waktu itu. Semua penghuni tampaknya sedang libur musim panas. Kami hanya melongok-longok di bawah. Ia menunjuk jendela kamar Ana, salah satu kawannya di lantai dua. Jika sedang berjalan di halaman asrama, Maesy terkadang bisa melihat Ana sedang melakukan sesuatu atau melamun di sana. Maesy juga menunjukkan pada saya jendela kamarnya dulu. Kami menempelkan wajah di dinding kaca yang menatap ruang cuci pakaian. Mesin cuci di sana terlalu sedikit untuk jumlah penghuni asrama. Karena itu Maesy sering memilih bangun dini hari, mengendap-endap ke ruang cuci membawa buntelan berisi pakaian. Pada jam itu mencuci bisa lebih tenang (Suatu kali, saat ruang cuci benar-benar kosong, ia pernah memasukkan sepatu kets ke mesin). Sekali waktu ia bertemu rekan asrama yang memilih waktu yang sama. Dan mereka akan duduk-duduk di sana, berbicara kesana kemari di dini hari yang sepi, sambil melihat pakaian berputar-putar di dalam mesin cuci yang mengeluarkan bunyi geluduk-geluduk.

Kami memasuki kampus ISS dan ia mulai menunjuk-nunjuk ke sana kemari, menerangkan macam-macam sambil mengenang masa lalu. Ini perpustakaanku dulu, ini kantin yang murah tapi bising, ini meja tempatku menulis sebagian besar esaiku. Karena sedang libur, hanya ada sedikit mahasiswa kelas musim panas yang sedang mondar-mandir. Kami melewati dinding-dinding dengan kalimat-kalimat Martin Luther King, atau selebaran ajakan berdebat soal kebijakan adopsi anak, atau undangan diskusi makalah soal kekerasan terhadap perempuan. Di salah satu ruang baca Maesy menunjuk sebuah peta dunia yang digantung. Salah satu temannya pernah membalik pajangan peta di ruangan itu karena bentuk Amerika Selatan terlihat terlalu kecil dibanding Amerika Utara. Menurut temannya itu, si pembuat peta jenis orientalis yang ngawur.

Maesy duduk tenang-tenang di bangku di seberang kampusnya, di depan kanal. Saya menyusulnya setelah berpisah sebentar karena saya numpang kencing di toilet kampus. Saya jumpai wajahnya sedang diliputi nostalgia.

“Jadi, bagaimana perasaanmu?” tanya saya.

Ia menampilkan wajah orang yang sedang mencoba merangkai berbagai pemikiran dalam dua tiga kalimat pendek. Tak berhasil tentu. Ia mulai berkata tentang betapa ia senang menemukan banyak hal yang masih sama, hal-hal yang menelusupkan melankolia. Namun, tentu saja, banyak yang telah berubah. Studio tempatnya membuat tato burung hantu di punggung kini telah menjadi toko kosmetika. Tadi kami mampir minum kopi di kedai-kedai yang sepertinya baru muncul dua tiga tahun belakangan. Jenis kedai kopi dengan pengunjung yang rewel soal keasaman kopi, yang memasang wajah berpikir keras sesudah satu seruput, atau yang bertanya-tanya apa roti yang mereka makan betulan bebas gluten atau tidak. Sementara itu, Prins Bar sekarang bernama Springbok, dengan desain interior yang lebih mutakhir. Toko buku di De Passage kini adalah Apple Store. Namun, di atas semuanya, saya sempat memperhatikan saat Maesy memandangi jendela kamar asrama Ana. Jendela yang kosong. Ada hal yang jelas tidak akan pernah sama lagi, ini bukan lagi kota tempat kawan-kawan terdekatnya berada.

“Banyak yang sudah berubah, “ujarnya, lalu diam sejenak, lalu bicara lagi.  “Tapi kalau dipikir, aku pun tak lagi sama.”

Saya teringat toko buku kecil kami di Jakarta. Tempat kami bergembira di akhir pekan. Salah satu yang perlahan membuatnya kembali mencintai Jakarta, yang menjadikan Jakarta kotanya. Saya mendesaknya untuk menuliskan hal-hal yang ia rasakan, tentang bagaimana dirinya sekarang melihat dirinya dan kotanya yang dulu, tentang pertanyaan yang selalu menggantung: bagaimana hidup akan bergerak jika pilihan-pilihan lain yang diambil. Saya pikir itu bisa jadi tulisan yang bagus. Tapi ia menolak. Walau terkadang cerewet, ia anak yang tertutup untuk hal-hal yang paling pribadi.

Kami memperhatikan beberapa perahu turis yang melintasi kanal. Pemandu berdiri di ujung, memberi keterangan tentang segala sesuatu yang dijumpai. Tangannya menunjuk ke kiri dan ke kanan. Maesy menarik saya untuk kembali berkeliling, berjalan-jalan santai keluar masuk jalanan kecil, menyusuri pinggir kanal, perumahan, jajaran restoran. Kami berhenti di sebuah toko barang antik di Spekstraat. Berit Mol, perempuan tua pemilik toko itu ramah sekali. Ia membiarkan kami membongkar-bongkar koleksi sketsa dan foto lamanya. Saat saya memperhatikan sebuah lukisan kakek perlente yang sedang mengamat-amati bingkai yang dibawa pemuda berpakaian kumal, Berit bercerita itu lukisan karya Willy Sluiter. Lukisan itu bercerita tentang kakek kaya yang gemar membeli dengan harga murah lukisan seniman-seniman melarat dengan bakat besar. Sementara itu Maesy tekun memilah-milah foto-foto tua yang disimpan Berit di kaleng biskuit. Ia berhenti dan tertegun saat tiba pada sebuah foto hitam putih pemandangan kota Den Haag tahun 1920-an. Terlihat di sana kanal di dekat kampusnya, tempat kami duduk tadi.

“Pemandangannya masih sama,” kata Maesy, matanya masih memandang foto itu lekat-lekat. Hanya tangannya yang menjawil lengan saya.

Banyak tempat di Eropa yang tak berubah bahkan sesudah ratusan tahun, kami tahu. Tapi tampaknya menemukan foto sebuah tempat yang dekat di hatinya, yang tak pernah berubah dari dulu hingga sekarang, dan mungkin untuk waktu yang sangat panjang, menimbulkan haru di dalam dirinya. Ia menyampaikan pada Berit keinginannya untuk membeli foto itu. Berit mengangguk sambil tersenyum dan Maesy memasukkannya ke sela-sela halaman buku yang ia pegang.

Matahari musim panas Den Haag masih bersinar terang di pukul sembilan malam. Kami kembali berjalan bersisian melewati danau di pinggir gedung parlemen, di mana beberapa turis sedang berfoto di jembatan di dekatnya, dengan latar semacam bunga kembang sepatu. Di sebuah taman kecil beberapa pedagang barang kerajinan Asia sedang merapikan mejanya. Mungkin ini hari dengan penjualan yang baik, mungkin tidak. Kami terus berjalan hingga tiba di Pavlov, di bangku tamannya yang ada di halaman gereja. Tak ada jazz malam itu, tapi bangku-bangku tertata persis sama seperti terakhir kali diingat Maesy. Kami memesan anggur putih dan bersulang untuk banyak hal. Di atas meja, di dekat siku Maesy, ujung foto hitam putih kanal depan kampus itu terlihat menyembul.

IMG_7675 (1)

 

 

 

Advertisements

2 Comments

  1. Manis sekali. Seperti ikut serta bersama kalian menyusuri Den Haag. Andaikan kita bisa berpapasan di Binnenhof dan makan Ice Cream dari penjual legendaris di sana lalu duduk di bangku sambil menatap Ridderzal. Duduk depan danau Hofvijver sambil memandang burung-burung juga favoritku 😊

  2. Ah, manisnya.
    Kebayang rasa campur aduknya Maesy.
    Gue pun punya keinginan untuk ajak Diyan jalan-jalan ke kota gue juga.. :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s