comments 8

Orangutan, Sungai, dan Ibu yang Mengubah Sejarah

Pertama kali saya dan Gypsytoes melihat orangutan adalah di pusat primata Schmutzer di Jakarta. Terlepas dari betapa taman ini dikelola dengan baik, kami tetap melihat mereka sebagai sosok yang sedikit sedih. Sejak itu kami menyimpan keinginan untuk melihat mereka di habitat aslinya. Sampai pada sebuah akhir pekan di bulan Oktober saat kami memutuskan pergi ke Tanjung Puting, Kalimantan Tengah. Ternyata ini bukan perjalanan yang sulit, penerbangan ke Pangkalan Bun hanya ditempuh dalam satu jam untuk kemudian menuju pinggir sungai di Kumai. Di sana kami memulai perjalanan dengan kelotok menuju Tanjung Puting. Tiga hari dua malam kami tinggal di kelotok, menyusuri sungai Sekonyer, menyambangi para orangutan di rumah alaminya.

Tiga hari di Tanjung Puting adalah perjalanan yang dipenuhi kekaguman akan alam, akan kemanusiaan, dan tentunya omong-omong menyenangkan saat minum kopi diatas kelotok kecil yang menyusuri sungai. Banyak bagian dari perjalanan ini  yang layak disebut sebagai bagian terbaiknya. Mulai dari melihat hutan Kalimantan yang lebat, melihat bekantan yang bergelantungan di pohon-pohon pinggir sungai saat sore menjelang, sampai bangun pagi di atas kelotok diiringi suara-suara binatang hutan. Diatas semuanya tentu saja, melihat orang utan yang bermain bebas di alamnya. Kami tertawa geli melihat perilaku lucu mereka atau menjauh takut saat menjumpai beberapa yang kurang bersahabat. Kami cukup beruntung untuk sempat bertemu dengan dua dari tiga orangutan penguasa titik-titik rehabilitasi di sana. Doyok di Pondok Tanggui dan Yani di Tanjung Harapan. Dengan tubuh paling besar dan cheek pad yang lebar sebagai lambang keperkasaan, mereka dominan dibanding yang lain. Para orangutan lain gentar berebut makanan dengan mereka. Di sana kami mendengar banyak cerita tentang mereka. Bagaimana para dominant male gemar memaksa para betina untuk kawin sehingga banyak orang utan-orang utan muda di sana adalah anak-anak mereka. Juga kisah Unyuk yang terkadang pemarah, Acong yang tampak galau, Charles yang ramah namun terkadang merampas bawaan pengunjung, atau kisah Kusasi, dominant male terdahulu yang menghilang tak tentu rimbanya.

Selain melihat orangutan di habitat aslinya, kami juga trekking beberapa jam ke tengah rimba Kalimantan. Untuk pertama kalinya melihat deretan kantung semar, mengagumi pohon-pohon besar menjulang, melihat anggrek hutan, bergelantungan di akar-akar gantung. Saat- saat di klotok pun tentu adalah salah satu bagian terbaik. Berbicara, membaca, menikmati kopi dan pisang goreng di atas kelotok menyusuri sungai menembus hutan. Gypsytoes selalu adalah teman mengobrol yang menyenangkan, apalagi kali ini ada Isai, pria Dayak pemandu kami yang punya banyak kisah seru. Selain kisah-kisah para orangutan ia juga bercerita beberapa kisah sedih. Tentang kisah rusaknya sungai Sekonyer oleh limbah sawit maupun pertambangan emas, sampai kedekatan Isai dengan tragedi Sampit yang berdarah itu. Saat sore agak memerah Isai memutarkan lagu tradisional Dayak yang diiringi alat musiknya yang khas, Sape. Alat musik yang terdengar seperti kecapi ini menyempurnakan suasana senja di atas kelotok yang menyusuri sungai Sekonyer yang berair kehitaman.

Tentu saja perjalanan melihat orangutan tak mungkin dilakukan tanpa juga mendengar kisah heroik   Birute Galdikas. Perempuan asal kanada yang 40 tahun lalu mendayung sampannya menuju pedalaman Tanjung Puting untuk menyapa makhluk yang saat itu masih merupakan misteri. Dengan hanya ditemani suaminya saat itu, Rod Brindamour, ia memperkenalkan pada dunia primata bertangan panjang dengan warna oranye kecoklatan ini. Dari Isai, kami mendengar dengan kagum kisah-kisah perempuan pemberani itu.  Bagaimana seluruh dunia berhutang budi pada sosok yang pertama kali berdiri di depan untuk melindungi satwa yang nyaris punah ini. Saat dunia masih buta akannya, ia melakukan penelitian dan memperkenalkan pada dunia luar bagaimana orangutan makan, berkembang biak, dan bersosialisasi. Saat para orangutan terhimpit karena perluasan lahan sawit, perburuan, dan lain sebagainya, ia ada di sana memberikan rumah perlindungan untuk mereka. Ia hidup di sana, bersama mereka, menjadi ibu untuk mereka.  Dari Isai pula kami mendengar bagaimana Birute melakukan pekerjaan para dewa termasuk mengubah pandangan kebanyakan pria setempat akan orang utan. Penduduk setempat yang dulu gemar memakannya kini menjadi sahabat-sahabat mereka yang baru, pelindung-pelindung mereka. Dan yang membuat kami semakin terkagum-kagum adalah konsistensinya. Sudah 40 tahun sejak ia mengayuh sampannya di sungai sekonyer, dan saat ini, dalam usianya yang ke-66, ia masih ada disana menjadi ibu bagi Doyok, Yani, Charles, Acong, Ursula, dan banyak lagi. Ia meninggalkan segala kenyamanan perkotaan, memasuki hutan, dan mengabdikan hidupnya untuk kelestarian primata yang nyaris punah ini. Pahlawan selalu tumbuh dari konsistensi perjuangannya. Kisahnya menjadi latar belakang yang mengharukan untuk perjalanan kami di Tanjung Puting.

Di Camp Leakey kami sempat melihat perempuan pengubah sejarah ini. Sang Ibu sedang menemani beberapa tamu usia lanjut melihat proses pemberian makan bagi para orangutan. Ia tampak renta. Jauh berbeda dari sosok perempuan muda perkasa saat ia pertama kali tampil di majalah National Geographic. Dari Isai kami mendengar bahwa sekarang sang Ibu sedikit pelupa. Namun demikian ia masih terus mendedikasikan sisa hidupnya untuk kelestarian satwa yang begitu ia cintai ini. Dan di usianya ini ia tetap adalah orang paling dihormati di Tanjung Puting. Saat berpapasan dengannya kami mengangguk menaruh hormat yang dalam untuk sang Ibu. Untuk ia yang mengubah sejarah.

Perjalanan pun dilanjutkan. Menyusuri sungai Sekonyer, menembus senja, mendengar suara binatang hutan, berbicara tentang alam, diiringi suara khas alat musik Sape.

Twosocks, Oktober 2012

Tulisan ini diterjemahkan dan dipublikasikan dalam The Journey Magazine edisi Maret 2013

Advertisements

8 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s