comments 5

Merbabu: Dancing in the Rain. Woohooo!

“Dear Lord, don’t let me fuck up” – Shepard’s prayer.

And we didn’t!! Pada sebuah hari Minggu di bulan September, kami mencapai puncak Merbabu! Melewati hujan lebat, angin kencang, tanjakan licin, kabut tebal, kegelapan, bahkan diatas semuanya, omelan Ida!! Woohoooooo!!! Merbabu tidak securam Merapi, namun dengan cuaca seperti itu perjalanan jadi cukup berat. Dan kami berlima bertahan! Bahkan Apu, anggota termuda yang belum pernah naik gunung sama sekali.  Biarpun ia bersumpah tidak mau ikut naik gunung hujan-hujanan lagi, diam-diam ia bangga akan perjalanan ini. Ah kawan, tiba-tiba saya berpikir untuk tidak terlalu tertib dalam menulis, mungkin karena Jakarta sedang berhujan.  Jadi tak ada salahnya berteriak-teriak sebentar, Woohooooo!!!! Wihiii!!!!

Tim pendakian Merbabu cukup lengkap. Selain Apu, ada Bram, seorang kawan lama yang santun, juga Rivan yang mulutnya musti dicuci, dan Ida yang dengan menyebalkan begitu mengagumi Bram. Hujan sudah mulai turun saat perjalanan belum mencapai setengah jam. Rintik perlahan berubah menjadi deras. Dan semakin deras. Jadilah kami barisan dengan busana lucu yang berjalan terbungkuk-bungkuk. Dengan ponco dan tas besar dibelakang yang menyerupai punuk, kami seperti lima Hunchback of Notre Dame yang kekurangan pekerjaan. Tapi kami terus mendaki memasuki hutan menentang hujan. Diam-diam saya kegirangan. Ini pengalaman pertama mendaki dalam hujan!

Woohooo!! Wiihiiii!! (nyanyikan dengan nada lagu Sweet Escape dari Gwen Steffani). Wah ini menjadi salah satu tulisan saya yang paling tak beraturan. Woohoooo!! Wihiiiii!! (lagi)

Hampir dua setengah jam kami berjalan berhujan-hujan di tengah hutan. Kabut tebal mulai muncul mengaburkan pandangan. Rivan dalam jas hujannya beberapa kali tampak menyembul di balik kabut. Ia seperti hantu berjubah putih yang kurang wibawa. Ida berjalan dibelakang, mengomel kesana kemari. Bram menemaninya dengan setia. Apu dalam hening terus menapak naik. Kami mencapai sebuah padang rumput saat hujan berhenti dan kabut sempat menghilang. Pemandangan perbukitan yang hijau menguning dan basah oleh hujan seketika mempesona kami.  Sejenak, diantara jeda kabut, kami semua menghela nafas kagum. Tapi kami masih harus terus ke puncak.  Satu hal mengenai pendakian Merbabu, beberapa kali kita akan berkata, “Kita menuju ke bukit itu!’ Setelah bukit itu dicapai, kita akan berkata hal yang sama dan menunjuk ke bukit berikutnya.

.

.

Saat hari mulai gelap, pendakian terasa lebih berat. Angin bertiup kencang, medan semakin curam, licin, dan kabut bertambah tebal. Udara dingin pun menusuk. Kaki saya sempat keram sedikit karena kedinginan. Juga karena sisa letih dari bermain futsal tengah malam beberapa hari sebelumnya (terkutuklah Bharata Ramedhan dan kawan-kawan). Diantara angin kencang dan hawa dingin, kami mendirikan tenda di sebuah padang rumput.  Angin kencang membuat Indomie harus dimasak di dalam tenda.  Namun karena kelaparan,  kami tetap makan seperti babi. Malam itu kami tertidur dicekam gerimis dan angin yang semakin kencang. Sepertinya tak ada diantara kami yang benar-benar tidur. Kurang dari pukul 4.30 pagi saya terbangun dan menemukan bagian bawah sleeping bag saya sudah kemasukan air. Angin masih cukup kencang di luar. Mulai timbul sedikit keraguan. F*ck it! Pendakian dilanjutkan menuju puncak. Ida dan Apu memutuskan untuk tidak ikut dan tinggal di tenda. Perempuan-perempuan pemberani ini, pendakian dalam badai hari sebelumnya telah begitu menguras tenaga mereka. Selain itu, meringkuk di dalam sleeping bag di tengah padang rumput sungguhlah menghangatkan. Di pagi hari yang berkabut itu saya, Rivan, dan Bram menapak ke atas. Perlahan meninggalkan gelap. Di suatu tempat menjelang puncak Rivan mencapai batasnya. Ia terlalu letih dan akhirnya menyuruh kami melanjutkan ke atas. Ia bersandar di sebuah batang pohon, menunggu. He died a warrior. Pukul enam saat langit timur memerah dan matahari perlahan menyembul, saya dan Bram berada 3.142 m di atas permukaan laut, di puncak Kenteng Songo, Merbabu.  Ah Bram, hampir dua belas tahun kami berkawan, hampir tujuh tahun ia meninggalkan Indonesia.  Banyak hal telah terjadi padanya, segudang pencapaian mengagumkan sudah diraihnya, dan ia tetap sahabat saya yang santun dan sederhana. Pagi itu di puncak gunung kami duduk melihat ke timur, melihat matahari meninggi, dan bicara-bicara.

Menuliskan ini membuat saya terbawa suasana. Rasanya jadi sedikit melankolis. Sekali lagi, mungkin karena Jakarta sedang berhujan. Mari kawan-kawan, sedikit berteriak-teriak lagi, woohoooooo!!!!

Perjalanan turun dilakukan dengan ceria. Menembus kabut, melewati padang rumput yang tak berujung, melihat bunga-bunga. Satu hal yang membuat perjalanan ke gunung begitu menyenangkan adalah pemandangan indah yang tak terbatas dan tak kunjung berhenti. Dalam perjalanan yang panjang, akan  banyak sekali saat dimana kalian melihat sekeliling dan terkagum-kagum. Hutan lebat, bukit berbaris, padang rumput, kelip lampu, hamparan edelweis, matahari terbit. Walaupun disana-sini Ida berpura-pura mengutuk saya untuk membawanya mendaki gunung, percayalah, suatu hari kami akan melakukannya bersama lagi. Soal ini saya cukup yakin. Ini semacam kutukan untuknya.

Terakhir, mari kita persembahkan halaman ini untuk kawan-kawan mendaki saya yang sungguh menyenangkan:

Apu, Rivan, and the never ending savannah

Ida. This one is her happy face.

With Bram. The sweetest man alive.

We’ll see you around folks!!

Twosocks, October 2010

Advertisements

5 Comments

    • dustysneakers

      Ayo nit! go mountain climbing!! ntar kalo kita naik2 lagi, dikabarin deh (kecuali kalo lupa hehehe)

  1. (Mini) hiking dan camping yang terakhir pernah saya lakukan adalah pada waktu kuliah dulu, di Bandung dari Lembang (kalau ga salah), tiba2 muncul di Tangkuban Perahu. Seru juga loh, meski saya bukan hiker profesional/anggota klub pecinta alam.

    Ini post tentang Mt Merbabu di situs kami: http://peepindonesia.com/mount-merbabu/ (guest post oleh Astaka) Savanna-nya itu loh mengundang buat lama2 bengong hehe.. tapi dingin banget pastinya yak?

  2. dustysneakers

    Raizam: haha iya. gunung emang ga ada matinya. selalu menyenangkan buat jalan, ngelamun,dan berteman. btw, barusan liat peepindonesia.com. keren. cool initiative, guys!! Indonesia memang masih selalu punya kejutan. btw, si duy itu temen kita juga. hehe

    Bdur: ayo ajak anak2 SEC naik gunung!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s