comments 25

Selamat Pagi, Bayu

Saya katakan padanya bahwa besok kita akan berangkat pagi-pagi, dan jika ia susah bangun maka kami akan mengusap air ke wajahnya lalu memeloroti celananya. Agendanya asyik, mencari sarapan enak. Bayu — keponakan tujuh tahun saya itu– mengangguk-angguk dengan mata bening yang berkilat-kilat. Mengapa anak kecil selalu punya mata bening dan berkilat-kilat, ya? Bahkan menjelang dini hari ketika jam tidurnya yang biasa jelas sudah lewat. Bayu selalu girang saat Maesy dan saya mengunjunginya ke Bali. Malam itu, menjelang tidur, Maesy menceritakan padanya penggalan cerita dua bersaudara ayam, Kuku dan Ruyu, yang selalu saja ribut di pagi buta. Meps, majikan si duo ayam, kerap uring-uringan dibuatnya. Suatu pagi Meps hilang sabar dan menyiram Ruyu dengan air yang disemprotkan dari slang. Bayu tergelak membayangkan adegan itu lalu berkata betapa kasihan si Ruyu ayam. Setelah tawanya reda ia meminta cerita lagi, dan cerita lagi. Pukul satu malam akhirnya kami putuskan Bayu betul-betul harus tidur. Kali ini tak banyak perlawanan, ia sudah sangat mengantuk. Hanya kegirangan berlebih yang membuatnya terjaga hingga larut.

Tak berapa lama setelah lampu saya matikan, dengkur halus terdengar.

Pukul enam saya terjaga dan mendapati Bayu sudah ada di sisi tempat tidur. Ia menatap kami seolah berkata, ‘kalau sudah begini, celana siapa yang akan kalian bikin melorot, heh?’ Ia bangun jauh mendahului kami, si paman dan bibi pemalas. Saat Maesy membuka mata dan kaget melihat wajah anak kecil sedang memandanginya, Bayu tergelak. Semangatnya sedang penuh.

“Ayo Om, Tante, berangkat!”

Kami memacu kendaraan ke daerah Canggu, ke sebuah kedai makanan sehat kesukaan Maesy yang buka pagi-pagi. Sepanjang jalan Maesy bercerita tentang makanan-makanan kesukaannya yang ingin ia perkenalkan kepada Bayu. Telur Shaksukha dengan keju kambing dan chorizo, atau salad dengan labu panggang madu dan daun mint.  Antusiasme Maesy menular pada Bayu, ia menunjukkan gelagat siap makan besar. Sampai, tentu saja, saat makanan-makanan itu betul-betul masuk ke mulutnya.

Baru di sendok kedua, semangat Bayu meredup. Segala keju, chorizo saus kacang merah, dan rempah-rempah ini tidak cocok dengan seleranya, bahkan susu coklatnya pun tidak ia rasa akrab di lidah. Ia terbiasa sarapan dengan nasi goreng buatan ibunya, atau neneknya, dan segelas susu milo. Lain tidak. Ia menatap saya meminta belas kasihan. Saya katakan ia boleh menyisakan sarapannya, toh ini hari libur. Maka, sementara Maesy mengunyah makanannya seperti kelinci lapar, Bayu hanya memain-mainkan sendok.

“Bayu ndak suka makanan Cina.” Katanya di satu titik.

Terhadap komentar ini Maesy dan saya tergelak lama. Hanya karena Maesy keturunan Tionghoa dan terlihat sedang makan dengan rakus, Bayu menyimpulkan makanan asing itu adalah masakan Cina. Melihat kami tertawa sebegitu bersemangat, Bayu ikut tertawa, sekali pun jelas bingung. Tak berapa lama, ia kembali mengaduk-aduk sosis berbumbu tomat di depannya dengan muka lesu.

Diam-diam ada juga rasa senang saya melihat bagaimana Bayu menangani harapannya yang kandas soal sarapan enak ini. Beberapa tahun lalu, keinginan yang tak tercapai macam begini hampir pasti membuat tangis dan rengekannya meledak. Sekarang ia lebih sabar. Semenjak memiliki adik, Bayu mulai menyadari bahwa dirinya bukan pusat segalanya. Perlahan ia mulai mampu menunjukkan tenggang rasa pada sekitarnya dan tak lagi menjadi bocah tak masuk akal. Ia tak merengek cari perhatian saat orang-orang dewasa bicara sendiri, ia tak selalu merajuk saat keinginannya tidak dikabulkan, atau ia hanya akan menatap adiknya dengan sabar saat kepalanya tiba-tiba disodok siku.

Sambil menunggui Maesy yang makan, saya bercerita ke Bayu soal asal usul Maesy. Soal ini saya karang-karang saja sekenanya. Saya katakan Maesy kecil dibawa mengungsi oleh orang tua dan neneknya dari Cina. Mereka kabur karena desanya diserang bala tentara kaisar bengis di sana. Mereka naik perahu kayu kecil berbekal beberapa potong roti dan masing-masing selembar selimut saja. Setiap malam Maesy kecil mengintip ke belakang dari balik selimutnya, takut dikejar kapal perang kaisar lalu dihujani panah. Roti dimakan sepotong kecil demi sepotong kecil agar tak lekas habis. Begitu terus selama berbulan-bulan, terombang-ambing di laut, sambil sesekali mendongak dari selimut. Bayu mendengar cerita saya dengan tekun sambil sesekali melirik Maesy. Maesy, dengan mulut penuh salad, berkata sengit betapa saya telah menipu Bayu habis-habisan.

Namun, walau tidak merengek, saya tahu Bayu kecewa karena harapannya akan pagi yang asyik berakhir begitu-begitu saja. Di mobil pulang ia memasang sabuk pengaman, duduk bersandar dengan posisi nelangsa, dan berdiam diri.

“Mau ke pantai?” tanya saya.

Di sana Bayu mendongak, setitik cahaya terlihat di matanya. Maka keputusan dibuat, kendaraan berbelok ke arah pantai. Bayu mendoyongkan tubuhnya sedikit ke depan. Kaca mobil saya buka, angin laut berhembus menerpa kepala-kepala kami.

Pantai Berawa agak berangin pagi itu. Ombak sedang cukup besar, menjadi teman bagi para peselancar. Kaki-kaki telanjang kami berlari di atas pasirnya yang lembut, yang basah oleh ombak dan sisa embun semalam. Laut sedang terlalu ganas untuk Bayu berenang, jadi kami hanya berjalan menyusuri bibir pantai. Bayu berjalan, sesekali berlari, dengan tangan yang terus menggandeng telapak tangan Maesy. Rupanya ia sedikit takut ombak menghempas dan menariknya ke tengah. Selain itu, beberapa kali ia meminta perlindungan Maesy saat sekawanan anjing liar datang mendekat.

Setiap kali ombak datang menerjang, pegangan tangannya lebih kencang. Maesy mengajarinya untuk membenamkan telapak kaki ke pasir dan sedikit memiringkan badan, dengan begitu ia tidak terhempas. Bayu menurut, dan perlahan mulai bisa menjaga keseimbangan. Saat ombak datang ia tertawa keras, saat ombak datang lebih besar, tawanya lebih besar. Mula-mula ujung celananya basah, lalu naik hingga pinggang, sampai akhirnya ia membiarkan sekujur bajunya basah kuyup oleh hempasan air laut. Beberapa cipratan ombak mengenai mukanya dan terjilat oleh lidah. Asin, katanya.

Ia mulai berani berlari sendiri dan menahan ombak. Di sana sini ia tertawa, terkadang kecil, terkadang besar-besar.

Sesekali pandangan kami bertemu, matanya yang semalam bening berkilat-kilat sudah muncul lagi. Saya mundur sedikit menjauhi bibir pantai, mengambil jarak untuk memotret mereka. Bayu kembali berlari, menggandeng tangan Maesy, dan bermain air. Badannya sudah basah betul. Saat gelombang kecil, ia memasang gaya berdiri yang gagah menahan ombak. Saat ombak besar ia berlari memegang tangan Maesy agar mampu berdiri lebih kokoh.

Dari jauh terdengar tawanya, sayup-sayup di antara teriakan Maesy, juga debur-debur ombak.  Saya bahkan tak mengingat apakah di mobil ada baju ganti untuknya atau tidak. Paginya sudah baik-baik saja, saya pikir.

534907_10151313863379081_922013355_n

 

comments 4

At the Onsen

If I was already blushing like a sakura when I untied my yukata, I am sure my face was as red as a freshly sliced tuna sashimi when I turned around and faced the breasts of a stranger. They were round with a narrow valley between them and belonged to a woman who shared a ride with me to our inn in Kiso Valley, a woman who saw my brown nipples as sure as I saw her pink ones, glistening after her soak in the onsen. She quickly grabbed her towel in the basket next to mine and I darted to the bathing area, my face warmer than the steam emanating from the hot spring bath.

I was relieved to find the bathing area empty. I knew that one can only enter an onsen in her birthday suit, yet I was definitely not ready to see a stranger in the nude. I sat on a small wooden stool and quickly showered, soaping my skin and hoping it would wash away my discomfort too.

Thoroughly cleansed of dirt and soap suds, I stepped into the shallow pool and lowered myself until my earlobes touched the hot spring mineral water. The encounter a few minutes ago came to mind again. The woman looked small the first time I saw her in the van, tucked into her puffy black jacket and leggings, but she seemed larger when we bumped into one another in the changing area. I would see her again in an hour, at dinner. She would most probably be wearing a yukata, the way I would too, and I wondered whether she would look bigger or smaller to me then.

I heard footsteps and bursts of Japanese from the changing area. More than one woman for sure. I practically jumped out of the bath and sprinted for the door to the rotemburo – open air bath. I shivered in the five degrees mountain air while trying to walk as fast as I could in the slippery stone path. I was trembling, my pores all open, when I got to the stone pool overlooking a valley. I didn’t bother splashing myself with the water first, as advised to adjust your skin to changing temperatures, and plunged myself immediately.

Aaah. The hot, gurgling water soothed my prickly skin. I listened for footsteps and chatter, and when they didn’t come, I started relaxing into the bath.

Processed with VSCO with a6 presetOnsen is a strange business, isn’t it? It is where people coexist in their most vulnerable state. Although we were born naked, it seems unnatural for us to be among strangers who are all in the nude. I would see the woman again in the dining hall, that night for dinner and the next day for breakfast. I could not un-see what I saw, especially because I had been keeping my glasses on, and I most likely would avoid looking at her in the eye.

I rested my head on the edge of the bath and floated my body up. I was surrounded by cedar and pine trees, their green scent slowly making its presence known. A lone sakura tree stood among them, its nearly white petals already blossoming. I could feel the moss on the bottom of the stone bath, hear the rhythm the streaming water, and saw a dragonfly flying nearby. I could feel my skin softening. It loved being in nature.

I understand the allure of onsen and rotemburo, but the moment was a pleasure precisely because it was mine and only mine. The Japanese do not seem to mind having this as a communal experience, they even have a term for the bonding that happens while soaking in an onsen: hadaka no tsukiai. If I was already this uncomfortable seeing and being seen naked by a stranger, I could not imagine how I would feel doing this with my family or friends.

My heart started beating faster when I rose from the rotemburo, knowing that I would be seeing more naked strangers soon. I covered my breasts as I ran up, shivering along the way and trembling so much I plunged again into the indoor bath, splashing three other women who were already bathing. I quickly offered sumimasen all around, and to my relief, they smiled back at me.

The pool was large enough for a two stroke swim across its length, so there was space for the four of us. The pool was also clear enough that there was no place to hide. I pulled my knees to my breasts and kept my gaze above water. At that moment, two more women came in. A lady in her fifties and a girl in her teens, both in my line of sight.

This time I did not immediately look away. The lady pointed at the showers and then to the pool, as if it was the girl’s first experience in an onsen. The girl helped the lady scrub her back, the lady washed her hair. The girl has round cheeks, as if some of her baby fat is too stubborn to go, her skin looked soft and young. The lady’s skin had a yellow tinge and scattered sun spots, her breasts sagging and her arms and thighs all wrinkly. They looked like a pair of grandmother and granddaughter, if not mother and daughter, and their faces looked relaxed as if seeing each other naked is as common as having breakfast together.

I looked around me. The three women were chattering in Japanese, all looking like they were in their forties. One had curly hair, another dyed hers brown, the other one donned a pixie cut. One woman had nipples pointing sideways, her friend’s right breast was bigger than her left one, and the third woman had breasts smaller than her stomach. All looked relaxed, like seeing your friends unclothed is no different than seeing their face without make-up.

I let my knees fall from my breasts, the left one slightly bigger than the right one, both of them smaller than the breasts of any of the women in the onsen. It started to feel more natural, seeing other women’s naked bodies. I grew to understand why. No one in the onsen was self-conscious because they embrace their bodies as bodies. The female bodies are too often romanticized as work of art or guardian of morality or symbol of liberation. Women have been conditioned to treat our bodies as objects of desire, so we reveal or conceal to attract or distract, to demonstrate empowerment or to keep ourselves safe. In the onsen, I saw that bodies are freed to be simply flesh and bone and fat, in different forms to fit different people, who might find that they are not that different after all, once the yukata came off.

When I rose from the onsen, I did not cover my breasts or hurried my steps. I walked as slow I could, my arms falling on my sides, feeling the water drop from all the parts of my body that I had been keeping secret: the protruding collarbone I usually cover with boat-neck and halter tops, the soft lump of fat in my belly that I hide in clothes that are loose in the middle, the owl inked to the small of my back that I very carefully choose when to reveal. I took my time drying my body with a towel instead of hurrying to cover myself in my yukata. I smiled to my fellow bathers as they came out to the changing area, still naked, while I was cooling off drinking glasses of cold spring water.

Later that evening, I saw the woman who made me blush like a tuna sashimi in the dining hall. My cheeks were red then too, but that was because of umeshu, the plum wine I had as an aperitif. I looked at her in the eye and smiled.

Processed with VSCO with a6 preset

This story was first published by The Murmur House under the title ‘The Sakura Days: Onsen’.  

comments 32

Gaijin Penjual Buku Terakhir

Jika bukan karena toko buku, Dominic Jason Ward mungkin menghabiskan hari tuanya di pantai-pantai tropis dengan botol bir di tangan dan Bob Marley yang diputar tanpa henti saat matahari terbit, matahari tinggi, matahari terbenam, bulan terang, dan bulan mati. Namun, lima belas tahun sesudah memulai Infinity Books, Nick, begitu ia dipanggil, semakin yakin cinta terbesarnya ada pada buku-buku, dan hari tuanya akan ia habiskan sendiri saja, mengelola toko bukunya itu. Apalagi selain dia, tak ada lagi Gaijin yang bertahan mengelola toko buku di Tokyo (soal ini ia sampaikan dengan bangga sekaligus sedih).

Nick menemui kami di meja bar Infinity Books sesudah ia membalas surel pemesanan buku terakhir hari itu.  Sepasang suami istri di Monbetsu, kota kecil di Hokkaido, memesan beberapa buku puisi DH Lawrence dan novel-novel John Steinbeck. Saat saya menyodorkan Almost Transparent Blue karangan Ryu Murakami, ia mengatakan buku itu adalah edisi cetak pertama dari terjemahan bahasa inggrisnya, penerbitnya pun sudah bubar.

“Ini satu-satunya yang kupunya, karena itu harganya agak mahal,” katanya. “Kau yakin?”

Saya menimbang-nimbang sebentar.

“Kupikir-pikir dululah.”

Maesy dan saya kembali putar-putar melihat koleksi toko buku Nick. Infinity Books cukup luas untuk ukuran toko buku yang dikelola sendirian pria pertengahan lima puluhan. Di rak-rak tingginya berjajar buku-buku dengan pencahayaan lampu kuning remang-remang, sebagian besar buku bekas. Sepertinya mereka sengaja tidak diatur dalam pola tertentu. Buku Charles Dickens bersisian dengan biografi Bob Dylan, juga buku kecil tentang asal usul berbagai makian bahasa Jepang.  Buku Ryu Murakami tadi, saya menemukan dihimpit semacam ensiklopedia soal tanaman merambat. Kami membawa beberapa buku ke meja bar. Nick menunggu di sana dan menawari kami minum. Untuk saya segelas besar bir Yebisu (Nick menyediakan Yebisu dalam tap) dan untuk Maesy, yang sedang dalam suasana hati yang siap bergembira, satu sloki wiski Nikka.

Nick muda, pria asli Inggris, berkeliling dunia dengan tas di punggungnya. Ia sempat tinggal beberapa bulan di Sumatera Barat. dan ia ingat saat itu selalu menyukai pemandangan pohon kelapa yang berjajar-jajar di pesisir selatan (dari sekian banyak hal, yang ia ingat justru soal pohon kelapa!). Nick selalu menjejalkan tumpukan buku di tas punggungnya, kerap terlalu banyak pada saat yang bersamaan, sehingga ia harus membuang beberapa pakaiannya. Ia berpindah-pindah di beberapa tempat di Asia tenggara sebelum mulai tinggal di Tokyo di awal 1990-an untuk mengajar bahasa Inggris, dan di sana ia memulai toko bukunya. Kami bertanya apa ia menyukai Haruki Murakami. Nick tertawa. Menurutnya Haruki menulis prosa dengan indah, tapi masih kalah dari Murakami yang lain, si Ryu itu.

“Terkadang Haruki membuatku ketakutan. Ada adegan seorang gadis ditinggal begitu saja di dalam sumur, lalu bab berpindah dan si gadis masih di sana. Hei! Apa yang terjadi dengannya? Haruki bolehlah, tapi kalian harus membaca karya Coetzee. Sesudah membacanya, banyak karya-lain jadi seperti main-main belaka.”

Nick memperoleh buku-buku bekasnya dari berbagai tempat. Banyak di antaranya ia dapat dengan harga sangat murah dari nenek-nenek tua Jepang yang ditinggal mati suami gaijin-nya. Namun demikian, tetap saja, toko buku independen bukan usaha yang betul-betul menghasilkan untuk biaya hidup di Tokyo yang menggila. Nick menutupinya dengan menyambi sebagai guru bahasa Inggris, mengurus toko bukunya tanpa karyawan, dan tidur di sana lima hari seminggu untuk menghemat karcis kereta ke rumahnya yang terletak di luar Tokyo. Ia juga mendapat penghasilan dari bar kecil yang ia buat di sisi belakang toko buku, di dekat meja kasir.

“Buku dan bergelas-gelas bir. Ini kombinasi yang tak akan mati,” katanya terkekeh.

Para penulis, juga pembaca, pada dasarnya manusia melankolis yang mudah murung atau terbawa perasaan. Begitu menurut Nick. Karenanya, menyediakan bar di toko buku adalah ide yang baik.

“Banyak pengunjung yang omong-omong denganku di sini dan ujungnya mengeluh soal macam-macam. Mereka mulai dengan buku yang dibacanya, lalu lanjut ke soal cinta, pekerjaan, begitulah. Aku sih tak keberatan, sepanjang gelas bir mereka terisi terus, itu bagus untuk bisnis.”

Saat kami bercerita tentang toko buku independen kami sendiri, Nick memberi ucapan-ucapan penyemangat. Ia bilang, toko buku independen mendatangkan orang-orang menarik dan punya sesuatu yang tak dimiliki toko buku besar, karakter. Hanya di toko buku independen, katanya, kau akan menjumpai hal-hal semacam pria tua bermulut besar di balik meja kasir, kucing liar yang menetap begitu saja, atau hantu gentayangan. Soal hantu, rupanya ia bersungguh-sungguh. Konon, bangunan tempat Infinity Books berdiri memang berhantu. Ini yang membuat harga sewanya cukup murah.

“Di mana lagi toko buku kecil bisa membayar sewa tempat di Tokyo selain di bangunan tua berhantu?” Nick kembali terkekeh.

Kami ikut tertawa, meneguk minuman, dan memintanya menceritakan lebih banyak soal hantu yang menghuni toko bukunya.

“Walau aku tak peduli dengan segala hantu, terkadang buluku merinding juga. Kalian sih enak, beres di sini pulang ke hotel, sementara aku tidur di sana,” katanya menunjuk bilik kecil di belakang meja komputer. “Tapi baiklah, kalau kalian datang lagi besok, aku akan bercerita soal hantu itu.”

Mungkin ia hanya mengulur waktu agar kami datang lagi ke sana. Tapi toh, kami berjanji untuk mampir lagi keesokan harinya, membeli lebih banyak buku, bir, wiski untuk Maesy, dan, tentu saja, mendengar cerita hantu.

Nick juga menyediakan toko bukunya untuk beberapa musisi yang ingin mengadakan pertunjukan. Malam itu, seorang pemuda dan pria paruh baya datang menenteng gitar. Kata Nick mereka akan memainkan lagu-lagu folk. Itu malam yang sepi. Selain Maesy dan saya, hanya ada tiga penonton, itu pun termasuk si tua Nick dan pemuda tanggung yang rupanya manajer band itu.

“Kalian tak usah merasa tidak enak, kami terbiasa bermain tanpa penonton.” ujar anggota band yang lebih tua sambil tertawa menghibur diri. “Kalau kalian suka lagu kami, kalian boleh membelikan kami bir, kalau tidak, ya, persetan dengan kalian, “katanya lagi, kali ini sambil menaruh jari tengahnya di dekat hidungnya sendiri.

Maka menyanyilah mereka. Lagu-lagu Neil Diamond, Simon & Garfunkel, dan semacamnya. Si pria paruh baya bermain gitar dengan mata yang ditutupi kupluk. Ini semacam ciri khasnya rupanya. Mereka sama sekali tidak payah. Saya mendengarkan sambil memukul-mukulkan tangan di atas paha. Nick juga memperhatikan sambil meneguk birnya, tenang-tenang. Saya mengisi gelas Yebisu kembali, dan Maesy meminta tambahan wiski. Terus begitu sampai malam semakin larut dan Maesy mulai ketawa-ketawa sendiri.

Processed with VSCO with a5 preset

Keesokan harinya, kami menepati janji untuk kembali datang. Nick menyambut senang dan langsung menyodorkan segelas Yebisu. Saya menenggaknya dan menagih janji Nick menceritakan soal hantu di sana. Dan berceritalah ia. Hantu di toko bukunya konon perempuan yang dulu meninggal karena sebuah bencana alam, paling tidak menurut cenayang yang pernah didatangkan kawan Jepang Nick. Nick tidak percaya hal-hal semacam itu, jadi ia membiarkan saja saat temannya mengundang cenayang pengusir hantu. Keputusan itu justru menjadi masalah, karena suatu hari, di tengah malam, tetangga Nick di lantai atas menggedor-gedor pintunya dan mengeluh karena hantu di Infinity Books pindah ke apartemennya.

“Muka anak muda itu pucat sekali. Saking paniknya, ia memintaku menelepon polisi malam itu juga. Entah apa yang dia pikir bisa dilakukan polisi dalam urusan hantu.” Nick tertawa.

Maka, pagi-pagi sesudahnya, Nick meminta teman cenayangnya menenangkan si tetangga dan mengusir hantu itu lagi. Maka jadilah, si hantu sekarang kembali tinggal di Infinity Books dan Nick memutuskan untuk tidak lagi peduli apa kata si cenayang. Ia tidak mau menghiraukan lagi soal segala hantu. Sesekali ada juga hal aneh yang terjadi, seperti musik atau komputer yang tiba-tiba menyala saat ia sedang lelap tidur. Nick tidak mau ambil pusing soal itu dan membiarkan saja si hantu, jika pun ia ada, dengan urusannya sendiri. Nick hanya akan mematikan musik, atau komputer, lalu tidur lagi.

“Seperti kubilang, hantu itu membantuku meringankan sewa, jadi ya sudahlah, biarkan dia dengan urusannya.”

Saya tertawa dan mengatakan dia gila juga. Nick menatap saya dengan kening berkerut. “Kau terlalu banyak minum,” katanya. Bergelas-gelas Yebisu membawa pembicaraan kemana-mana dalam arti sebenarnya, termasuk soal monyet yang sedang berahi.  Nick mengisi gelas birnya kembali sambil bercerita ia punya pengalaman sungguhan soal itu. Pada masa awal tinggal di Tokyo ia berkencan dengan seorang gadis di pasar hewan. Di sana si gadis menyatakan perasaan ibanya melihat seekor monyet yang berwajah murung. Untuk menarik perhatian si gadis, Nick membeli si monyet dan bertekad memeliharanya. Dibawalah si monyet tinggal di asrama sewaan Nick. Memelihara monyet ternyata tak semudah itu. Saat ditinggalkan, si monyet kerap bikin onar, mengudal-udal segala hal dan mengganggu penghuni asrama lain. Rupanya si monyet punya penciuman yang tajam dan mudah berahi pada perempuan yang sedang datang bulan. Saat ada tamu asrama yang sedang datang bulan, si monyet akan mengejarnya kesana-kemari. Kerunyaman berhenti ketika seluruh penghuni asrama memaksa Nick menjual kembali monyet itu di pasar hewan.

Kami masih omong-omong tentang beberapa soal, termasuk rencana-rencana Nick selanjutnya. Terhadap pertanyaan ini ia menghela napas panjang dan menatap ke sekeliling.

“Kau tahu, aku sudah tua dan tak butuh banyak uang. Dikelilingi buku-buku seperti ini sudah bikin aku bahagia.”

Ia kemudian bercerita soal anak laki-lakinya yang kini tinggal di London. Ia kuliah bisnis dan menetap bersama pacarnya di sana.

“Suatu hari kukatakan padanya begini: Anakku, lihatlah tumpukan buku-buku ini, semua ini suatu hari akan jadi milikmu. Maukah kau nanti meneruskan toko buku ini? Bocah itu menggeleng sambil cengengesan. Anak pintar, haha.”

Kami bersulang untuk toko bukunya, untuk buku-buku indah yang pernah ditulis (saya akhirnya membeli karya Ryu Murakami itu), dan untuk macam-macam. Menjelang tengah malam Maesy dan saya mohon pamit. Selain karena kepala yang mulai berputar, besoknya kami harus mengejar penerbangan pagi meninggalkan Tokyo.

Di dekat pintu keluar saya sempat menoleh ke belakang. Nick terlihat mengisi kembali gelas birnya. Meneguknya sendiri dalam ruangan yang remang-remang. Mungkin gelas bir terakhir sebelum ia menutup pintu Infinity Books. Besok ia akan kembali membuka toko bukunya, juga meja barnya, untuk para kutu buku yang lain, atau orang-orang lain yang sedang gundah atau sekadar butuh kawan omong-omong. Kepada mereka Nick mungkin akan bercerita hal-hal yang sama, soal karya indah Coetzee, soal hantu toko buku, atau soal monyet yang onar.

Processed with VSCO with a5 preset

comments 10

Menyeberangi Danau yang Entah Dalam, Entah Tidak

Saat penulis Jhumpa Lahiri memutuskan pindah ke Italia, lalu menghabiskan setahun berbicara dan menulis hanya dalam bahasa Italia, tentu bukan semata karena kecintaannya akan bahasa baru itu. Bahasa Italia, untuknya, bukan bahasa yang harus dikuasai. Karenanya ia menarik, dan membebaskan. Berbeda dengan bahasa Bengali yang sejak kecil dipaksakan orang tuanya, juga bahasa Inggris yang dipaksa lingkungannya. Hanya saat Lahiri menemukan dunia tulis menulis, cintanya akan bahasa Inggris mulai tumbuh. Namun, ketika buku pertamanya, Interpreter of Maladies, memenangkan Pulitzer, Lahiri berada dalam lampu sorot di usia yang cukup muda. Karya-karya si bakat baru diantisipasi dan dibicarakan dengan luas. Perlahan, kesendirian yang ia nikmati saat menulis menghilang. Saat pindah ke Italia, ia tidak hanya menemukan bahasa baru yang menarik, tetapi juga pengalaman menulis seperti bocah yang antusias lagi. Kegiatan suka-suka yang dilakukan dalam kesunyian yang menenangkan. Jauh dari lampu sorot.

Saya membaca “Ín Other Words” di antara rimbun pohon di perkebunan Portibi, di mana sesekali suara serangga hutan terdengar.  Suasana yang membuatmu mudah terbawa catatan-catatan bernada personal. Ini buku non fiksi pertama Lahiri dan ditulis dalam bahasa Italia. Ia berkisah soal perjalanannya belajar berbicara dan menulis dalam Bahasa Italia, juga perenungan-perenungan yang terjadi dalam prosesnya. Dituturkan bagaimana ia meninggalkan kematangan kepenulisannya dalam bahasa Inggris dan menggali satu demi satu kata, satu demi satu ungkapan, dan segala kerumitan nuansa dalam bahasa yang sama sekali baru. Hanya kekeraskepalaan yang cenderung obsesif yang membuat buku itu berhasil ia selesaikan. Kekeraskepalaan yang memiliki akar di wilayah yang sangat pribadi. Lahiri tumbuh sebagai sosok dengan krisis identitas yang seolah tak berkesudahan. Orang Amerika, bagaimana pun, selalu menganggapnya warga pendatang, sementara orang India menganggapnya telah berpindah identitas. Saat pergi ke Italia, Lahiri mencari identitas yang sepenuhnya ada dalam kontrol dirinya. Identitas yang tak dipaksakan orang tua dan orang di sekitarnya.

Dibandingkan ‘Interpreter of Maladies’, tentu ada kematangan kepenulisan yang belum dicapai ‘In Other Words’. Beberapa kalimat seolah merangkak tertatih, juga timbul beberapa pengulangan yang membuat kesabaran hampir hilang. Namun, amatannya akan detail, kepekaannya akan hal di sekitar, juga keindahan perumpamaan-perumpamaannya masih terlihat. Adegan pertama, misalnya, soal Lahiri yang memutuskan berenang menyeberangi sebuah danau di tengah hutan kecil. Sehari-hari ia biasa berenang di pinggir-pinggir saja, sehingga jika kelelahan ia bisa dengan mudah menepi. Soal ini menjadi perumpamaan untuk bahasa Italia dan Inggris. Saat belajar bahasa Italia di Amerika, ia seperti berenang di pinggir danau. Jika kelelahan, dengan mudah ia bisa menepi, kembali ke bahasa Inggris. Maka Lahiri pindah ke Italia, tidak lagi berbahasa Inggris, meninggalkannya sama sekali. Ia berenang menyeberangi danau yang dalam, tidak lagi bersandar pada pinggiran yang aman.

Membaca ‘In Other Words’ membawa ingatan pada orang-orang di sekitar saya yang juga melakukan keputusan besar pada suatu waktu dalam hidupnya.  Mereka yang meninggalkan titik nyaman dan mencoba sesuatu yang sama sekali baru. Saat itu di dekat saya sedang duduk tenang-tenang Ibnu Najib, seorang kawan yang dua tahun lalu meninggalkan karir di birokrasi untuk berkegiatan di soal-soal perkebunan organik.  Saat saya mengajaknya berbicara tentang apa yang dia pikir dua tahun sesudah keputusan itu, ia bilang kenikmatan terbesarnya ada pada kebebasannya melakukan apa pun yang ia sukai. Ia bisa bangun pagi dan memutuskan membuat kombucha, atau tidak membuat kombucha, atau duduk minum kopi berlama-lama, atau duduk minum kopi cepat-cepat.

Namun, perkara ini tentu tidak selalu seromantis itu. Orang lugu pun tahu, saya kira. Dalam kebebasan kerap muncul ketidakpastian, dan ketidakpastian, dalam saat-saat terendah kita, sering juga menyesakkan. Ibnu Najib, kawan saya itu, tentu juga memiliki titik-titik terendahnya, yang karena pribadinya yang tertutup enggan ia ungkapkan dengan terang-terang. Lahiri juga menuturkan keresahannya dalam kebebasan barunya ini. Bagaimana pun ia seorang penulis, dan bahasa yang tidak ia kuasai betul mau tak mau membatasi ruang gerak kepenulisannya. Berbicara dalam bahasa Italia mungkin mulai dapat ia lakukan dengan lancar,  tetapi menulis adalah wilayah dengan kerumitan yang lain. Saat berbicara, ia seperti sedang jalan-jalan pagi di taman di antara pohon-pohon yang familiar di benaknya, tetapi saat menulis, ia seperti berada di hutan belantara dengan pohon-pohon raksasa yang tak dikenalinya. Ia merasa kehilangan kendali.

“Apakah artinya untuk seorang penulis, jika ia tak memiliki kendali akan apa yang dapat ia ungkapkan? Dapatkah aku menyebut diriku penulis?” tulisnya.

Terlepas bahwa ia berbahagia menemukan tempat yang jauh dari sorot lampu lalu bergembira dalam dunia kecil barunya, rumah ini pun memiliki kerapuhan. Seperti halnya India dan Amerika yang tak pernah-benar-benar menjadi rumah tempatnya menancapkan akar, Italia seakan membangun tembok yang sama. Seberapa pun ia mendalami bahasa Italia, mengenali orang-orangnya, ia tetap seorang pengunjung, bukan salah satu dari mereka. Dalam satu bagian Lahiri patah hati saat penjaga toko memuji bahasa Italia suaminya, yang jelas-jelas lebih buruk darinya, hanya karena wajah kaukasia si suami.

“Aku seolah selalu hidup di wilayah tepi sebuah negara, juga budaya. Mungkin aku bisa merasa nyaman, tapi tak mungkin berakar. Mungkin tempatku memang di sana.” tulisnya sedih.

Keputusan pindah ke Italia, mendalami bahasa baru yang ia cintai (ia menyebutnya bayi baru yang ingin ia rawat dengan telaten), tentu adalah hal yang membahagiakan dan, dalam cara tertentu, memberikan perasaan bebas. Tapi sebagaimana banyak hal dalam hidup, kebahagiaan-kebahagian (juga kesedihan) sering hanya satu titik dalam perjalanan yang panjang. Saat di akhir buku Lahiri akhirnya kembali ke Amerika, masih belum memutuskan apakah akan tetap menulis dalam bahasa Italia atau kembali ke bahasa Inggris, kita melihat pencariannya masih akan panjang, bahkan jauh sesudah tirai ditutup.

Saya dan Ibnu Najib masih duduk-duduk di bawah pohon rindang. Saya memperhatikannya, mengira-ngira tentang keresahan-keresahan yang mungkin ia miliki, atau hal-hal yang akan ia lakukan di tahun-tahun mendatang. Tahun-tahun yang masih akan panjang sekali. Terkadang ia membaca, terkadang ia memandang pohon-pohon atau perkebunan sayur di depan. Angin bertiup lembut-lembut.

“Pohon-pohon ini penyayang, ya?” Katanya tiba-tiba.

Saya pikir hanya orang yang berbahagia dan sedang dalam suasana hati yang tenang yang bisa muncul dengan ungkapan macam begitu.  Setidaknya untuk saat ini.