comments 5

Merbabu: Dancing in the Rain. Woohooo!

“Dear Lord, don’t let me fuck up” – Shepard’s prayer.

And we didn’t!! Pada sebuah hari Minggu di bulan September, kami mencapai puncak Merbabu! Melewati hujan lebat, angin kencang, tanjakan licin, kabut tebal, kegelapan, bahkan diatas semuanya, omelan Ida!! Woohoooooo!!! Merbabu tidak securam Merapi, namun dengan cuaca seperti itu perjalanan jadi cukup berat. Dan kami berlima bertahan! Bahkan Apu, anggota termuda yang belum pernah naik gunung sama sekali.  Biarpun ia bersumpah tidak mau ikut naik gunung hujan-hujanan lagi, diam-diam ia bangga akan perjalanan ini. Ah kawan, tiba-tiba saya berpikir untuk tidak terlalu tertib dalam menulis, mungkin karena Jakarta sedang berhujan.  Jadi tak ada salahnya berteriak-teriak sebentar, Woohooooo!!!! Wihiii!!!!

Tim pendakian Merbabu cukup lengkap. Selain Apu, ada Bram, seorang kawan lama yang santun, juga Rivan yang mulutnya musti dicuci, dan Ida yang dengan menyebalkan begitu mengagumi Bram. Hujan sudah mulai turun saat perjalanan belum mencapai setengah jam. Rintik perlahan berubah menjadi deras. Dan semakin deras. Jadilah kami barisan dengan busana lucu yang berjalan terbungkuk-bungkuk. Dengan ponco dan tas besar dibelakang yang menyerupai punuk, kami seperti lima Hunchback of Notre Dame yang kekurangan pekerjaan. Tapi kami terus mendaki memasuki hutan menentang hujan. Diam-diam saya kegirangan. Ini pengalaman pertama mendaki dalam hujan!

Woohooo!! Wiihiiii!! (nyanyikan dengan nada lagu Sweet Escape dari Gwen Steffani). Wah ini menjadi salah satu tulisan saya yang paling tak beraturan. Woohoooo!! Wihiiiii!! (lagi)

Hampir dua setengah jam kami berjalan berhujan-hujan di tengah hutan. Kabut tebal mulai muncul mengaburkan pandangan. Rivan dalam jas hujannya beberapa kali tampak menyembul di balik kabut. Ia seperti hantu berjubah putih yang kurang wibawa. Ida berjalan dibelakang, mengomel kesana kemari. Bram menemaninya dengan setia. Apu dalam hening terus menapak naik. Kami mencapai sebuah padang rumput saat hujan berhenti dan kabut sempat menghilang. Pemandangan perbukitan yang hijau menguning dan basah oleh hujan seketika mempesona kami.  Sejenak, diantara jeda kabut, kami semua menghela nafas kagum. Tapi kami masih harus terus ke puncak.  Satu hal mengenai pendakian Merbabu, beberapa kali kita akan berkata, “Kita menuju ke bukit itu!’ Setelah bukit itu dicapai, kita akan berkata hal yang sama dan menunjuk ke bukit berikutnya.

.

.

Saat hari mulai gelap, pendakian terasa lebih berat. Angin bertiup kencang, medan semakin curam, licin, dan kabut bertambah tebal. Udara dingin pun menusuk. Kaki saya sempat keram sedikit karena kedinginan. Juga karena sisa letih dari bermain futsal tengah malam beberapa hari sebelumnya (terkutuklah Bharata Ramedhan dan kawan-kawan). Diantara angin kencang dan hawa dingin, kami mendirikan tenda di sebuah padang rumput.  Angin kencang membuat Indomie harus dimasak di dalam tenda.  Namun karena kelaparan,  kami tetap makan seperti babi. Malam itu kami tertidur dicekam gerimis dan angin yang semakin kencang. Sepertinya tak ada diantara kami yang benar-benar tidur. Kurang dari pukul 4.30 pagi saya terbangun dan menemukan bagian bawah sleeping bag saya sudah kemasukan air. Angin masih cukup kencang di luar. Mulai timbul sedikit keraguan. F*ck it! Pendakian dilanjutkan menuju puncak. Ida dan Apu memutuskan untuk tidak ikut dan tinggal di tenda. Perempuan-perempuan pemberani ini, pendakian dalam badai hari sebelumnya telah begitu menguras tenaga mereka. Selain itu, meringkuk di dalam sleeping bag di tengah padang rumput sungguhlah menghangatkan. Di pagi hari yang berkabut itu saya, Rivan, dan Bram menapak ke atas. Perlahan meninggalkan gelap. Di suatu tempat menjelang puncak Rivan mencapai batasnya. Ia terlalu letih dan akhirnya menyuruh kami melanjutkan ke atas. Ia bersandar di sebuah batang pohon, menunggu. He died a warrior. Pukul enam saat langit timur memerah dan matahari perlahan menyembul, saya dan Bram berada 3.142 m di atas permukaan laut, di puncak Kenteng Songo, Merbabu.  Ah Bram, hampir dua belas tahun kami berkawan, hampir tujuh tahun ia meninggalkan Indonesia.  Banyak hal telah terjadi padanya, segudang pencapaian mengagumkan sudah diraihnya, dan ia tetap sahabat saya yang santun dan sederhana. Pagi itu di puncak gunung kami duduk melihat ke timur, melihat matahari meninggi, dan bicara-bicara.

Menuliskan ini membuat saya terbawa suasana. Rasanya jadi sedikit melankolis. Sekali lagi, mungkin karena Jakarta sedang berhujan. Mari kawan-kawan, sedikit berteriak-teriak lagi, woohoooooo!!!!

Perjalanan turun dilakukan dengan ceria. Menembus kabut, melewati padang rumput yang tak berujung, melihat bunga-bunga. Satu hal yang membuat perjalanan ke gunung begitu menyenangkan adalah pemandangan indah yang tak terbatas dan tak kunjung berhenti. Dalam perjalanan yang panjang, akan  banyak sekali saat dimana kalian melihat sekeliling dan terkagum-kagum. Hutan lebat, bukit berbaris, padang rumput, kelip lampu, hamparan edelweis, matahari terbit. Walaupun disana-sini Ida berpura-pura mengutuk saya untuk membawanya mendaki gunung, percayalah, suatu hari kami akan melakukannya bersama lagi. Soal ini saya cukup yakin. Ini semacam kutukan untuknya.

Terakhir, mari kita persembahkan halaman ini untuk kawan-kawan mendaki saya yang sungguh menyenangkan:

Apu, Rivan, and the never ending savannah

Ida. This one is her happy face.

With Bram. The sweetest man alive.

We’ll see you around folks!!

Twosocks, October 2010

comments 5

The Unwitting Philosophers

Random encounters

I stumbled across this piece of wisdom, scrawled on the wall of a hostel’s toilet by a traveler with a knack for philosophy, during my break from Manuel Castells and Alain Touraine[1]. As a person who happens to despise motivational speakers, inspirational quotes, or popular leadership figures, I found wisdom through random moments in life (or fantasy books) and was immediately moved by this particular one. As I took a sip of my piping hot mint tea, scenes of my encounters with a traveler’s unwitting wisdom flashed through my mind.

The first was of a winter evening in Lisbon.

We were lounging in a pool of warm water sprinkled with salt from the Dead Sea, the last out of the four series of a hydro-treatment in a spa we found through the tourist office. I have shared the wonders of Porto and Lisbon before, but I did not tell you that the trip involved: a) 12 people, b) a stupid GPS that almost led us to Spain while searching for our hostel, c) non-stop pouring rain, d) an encounter with the police, and e) a near-death experience. So after a particularly long and difficult day, we decided to spend a small fortune and regain our sanity. ‘We’ were classmates who bonded over being hyperactive, just spent four days only being separated by bathroom breaks, and found that we actually loved each other’s company instead of wanting to shoot each other in the head. She was telling me about her crazy backpacking adventures and said, “You know how they say that you leave a little piece of you when you go somewhere? For me, traveling allows me to find myself and I collect a little piece of myself every time I go somewhere.

She was right, even though I did not know it at the time. I started to find a little piece of myself in Portugal, a piece that appreciates the art of hostels and is fond of Port wine. I collected an adventurous and life-loving piece in Sicily, where I felt reborn after going through a few very difficult months, and a calmer, more mature piece in Rome, where I learned the art of accepting things I could not change. The same goes for Bangalore, where I made perhaps one of the biggest decisions in my life, and Taipei, where I found that deep down inside I belong to my cultural heritage.

The second was of a spring night in Rome.

We were sitting on a bench in a piazza, staring at a little girl dancing to the jazz tunes played by street musicians under a full moon. ‘We’ were two completely different people from completely different countries who met in Sicily for two days, liked each other enough to actually become friends, and did not find any problems in keeping the conversation flowing. In between talking about storybook moments and finding refuge in Europe, I confided that I was having the time of my life and dreading the moment it would end. Very calmly, he said, “Isn’t it very sad to think that we only have a time of our lives? I would like to think that we have many times of our lives and that this is only one of yours.”

He was right, and I already knew it at that time. As far as my 26 years of life goes, the past year has indeed been the most incredible. But then again, during those 26 years things got progressively better each year and so does my time here, an indication that life will continue to be more exciting as long as I want it to be. I just need to be reminded by a 20 year old who was wise beyond his years.

I guess traveling does unleash the inner philosopher in people. This is one of the reasons why I love it so much that even a bed-bug incident in Rome would not deter me from traveling again. A bigger reason though, is that it allows me to really meet awesome people that leave their marks in my life. After the spa session in Portugal, she became one of those people I could not imagine living without and her wedding was the first that I actually cried in. After the piazza in Rome, he took me to this great club where I ended the night with a red rose from a drug dealer and, well, pretty much sealed that I will not forget him for the rest of my life.

Den Haag, 4 October 2010

Gypsytoes


[1] Yes, Dusty fellows, I have a very good reason behind my long overdue post: I am writing my thesis. Thank you, Twosocks, for holding down the fort. I will try to write short, simple posts more often, but if I fail to do so, I will be back in November with a vengeance!

comments 2

Island in the Sun

Written by: Rivandra Royono, a fellow traveller.

Setelah ditelantarkan oleh bintang pop Korea dan tai chi master, yang sebenarnya adalah inisiator pertama petualangan Kiluan, akhirnya gua, Duy dan Stania berhasil merapatkan barisan dan memantapkan tekad untuk berangkat.  Kami juga berhasil merekrut orang asli Lampung, Nita dan adiknya, untuk ikut berpetualang.  Mereka berdua akan kami jemput di Bandar Lampung dan lalu bersama-sama menuju Kiluan.

Berangkat Kamis pagi buta (dan definisi “pagi buta” adalah penerbangan jam 6.30 pagi, yang mengalami sedikit delay), gua, Duy dan Stania sempat terkatung-katung di langit Lampung karena, sebagaimana diterangkan oleh pilot Sriwijaya Air, visibility hanya 1 km, yang ternyata tidak cukup untuk mendaratkan pesawat di Bandara Lampung berhubung landasannya hanya sepanjang kolam renang ukuran olimpiade.  Untunglah kami mendarat dengan selamat.  Sesampai di Lampung, mobil yang kami charter datang terlambat…tentunya.  Ketika Stania menelepon mereka, jawaban yang diterima adalah, “Habis jalannya jauh Mbak, dan nanjak.”  Tampaknya sehari sebelumnya jalannya dekat dan menurun, tapi tiba-tiba saja pagi itu berubah drastis, dan itulah sebabnya mereka telat menjemput kami.  Tapi setidaknya mobil itu sudah dicharter eksklusif untuk Geng Kiluan, dan kami bertiga sudah siap untuk kalau tidak berselonjoran, ya berakrobat di dalam mobil—atau setidaknya itulah rencana kami.

Setelah menunggu selama satu setengah jam, akhirnya mobil Elf yang kami charter itu datang; dan bersama mobil itu, datang pulalah si sopir, si kenek, dan seorang gadis yang duduk di kursi depan beserta tasnya yang sebesar Duy tergeletak di kursi tengah.  Tampaknya definisi “charter eksklusif” agak berbeda di Lampung dibandingkan di belahan dunia lainnya.  Ketika Duy menanyakan siapa gerangan si gadis misterius ini, jawaban yang diperoleh dari supirnya adalah, “Oh dia adik saya, Mbak.  Mau numpang sampai ke kota.”  Karena tidak mau ribut, kami bertiga diam saja dan masuk ke dalam mobil.  Tapi Duy sempat memastikan bahwa mobil itu memang didedikasikan khusus untuk Geng Kiluan.  Si kenek meyakinkan kami dan berkata, “Oh iya Mbak.  Memang ini buat Mbak dan kawan-kawan aja.  Kami ga ngangkut orang lain.”  Dan ketika beberapa menit setelah keluar dari bandara ada orang-orang yang melambai-lambaikan tangan di pinggir jalan meminta untuk ikut naik, si kenek dengan tegas menggelengkan kepalanya.  Kami bertiga sepakat bahwa masih bisa diterimalah jika kita ditemani adik si supir beserta tasnya sepanjang perjalanan; toh cuma sampai kota saja.

Setelah 15 menit lepas dari bandara, berhentilah mobil kami di pinggir jalan, di mana segerombolan orang tengah menanti.  Si kenek turun dari mobil dan menyapa mereka semua.  Gua, Duy dan Stania saling bertatapan, dan mulai mereka-reka apa yang akan terjadi berikutnya.  Yang terjadi berikutnya tidak terlalu jauh dari rekaan kami: Sepasang suami-istri dan anak mereka yang masih bayi memanjat masuk ke dalam mobil, membawa barang-barang dagangan mereka, dan duduk di kursi paling belakang.  Meskipun tahu tidak ada gunanya, Duy sekali lagi bertanya kepada si kenek kenapa tiba-tiba ada satu keluarga beserta setengah isi rumah mereka duduk dengan manisnya di dalam mobil yang sudah kami charter itu.  Sambil tersenyum ramah, si kenek menjawab, “Oh itu saudara, Mbak.  Mereka mau numpang sampai desa sebelum Kiluan.”  Setelah memastikan tidak akan ada lagi kakak, adik, ayah, ibu, kakek, nenek, paman, bibi, atau saudara sesusu dari sepupu anak tiri paman angkat si kenek yang akan ikut lagi, mobil kembali bergerak.  Kali ini untuk mengangkut Nita dan adiknya.

Nita dan adiknya tiba di tempat pertemuan tepat ketika mobil kami datang.  Setelah melepas rindu dengan Nita, yang masih tidak mau bersentuhan dengan gua karena gua bukanlah muhrimnya, dan berkenalan dengan adiknya, Siska, yang sama ributnya dengan sang kakak, kami pun berangkat menuju Teluk Kiluan.  Perjalanan ke Kiluan bisa dibagi ke dalam tiga tahap.  Tahap pertama adalah perjalanan di dalam kota Bandar Lampung, di mana kami sempat makan siang, menurunkan adik si supir, menyadari bahwa dua dari lima anggota Geng Kiluan tidak bisa berenang, dan mengkonfirmasi bahwa gua boleh menyentuh Nita dengan tujuan untuk menyelamatkannya seandainya dia tenggelam.  Tahap kedua adalah perjalanan di luar kota Bandar Lampung, di mana jalannya mulus dan beraspal, melewati pantai Klara (singkatan dari “Klapa Rapet,” dan ya kami semua tertawa terbahak-bahak ketika Nita menjelaskan hal tersebut) yang mirip Ancol tapi airnya masih lebih bersih, dan melewati sawah-sawah menghijau di kaki bukit-bukit yang indah.  Tahap ketiga adalah perjalanan melewati berbagai perkampungan, melintasi jalanan yang sempit dan penuh lubang yang rata-rata cukup besar untuk menyembunyikan seekor anak sapi.  Bahkan kami sempat melewati satu lubang yang cukup besar untuk menyembunyikan dua ekor anak sapi, gembala mereka, dan ibu si gembala yang tengah hamil 8 bulan.  Total perjalanan: 4 jam.

Kami tiba di Teluk Kiluan sekitar jam 3.30 sore, dan harus menunggu sekitar setengah jam untuk jemputan kami datang.  Dari teluk, kami harus melintasi laut menggunakan jukung—sebuah perahu bermotor kecil—selama 15 menit untuk sampai ke Pulau Kiluan (beberapa orang menyebutnya Pulau Kelapa).  Nama Kiluan itu sendiri, yang berarti “permintaan,” datang dari hikayat yang menyebutkan seorang pangeran Banten dahulu kala pernah meminta untuk dikuburkan di atas bukit di pulau tersebut—“kiluan” dalam bahasa setempat berarti “permintaan.”

Setibanya di Pulau Kiluan, hari sudah agak sore dan langit sedikit berawan.  Kami segera ke pondok penginapan dan melepas lelah.  Pondok penginapan kami berupa rumah panggung kayu dengan enam kamar.  Semua kamar saat itu terisi, dan kami berlima menempati salah satunya.  Kamarnya sangat sederhana, hanya sekitar 3 kali 3 meter, tanpa perabotan, dan lantainya dipenuhi kasur tipis, lengkap dengan bantal.  Di depan pondok terdapat sumur yang dikelilingi kain terpal, di mana kami bisa mandi sekaligus mengencangkan otot tangan karena harus menimba air.  Toilet terletak di belakang pondok dan sangat layak.  Sore itu kami diajak Pak Chairul, pengelola pondok, untuk melihat tempat yang beliau sebut “laguna.”  Untuk mencapai tempat itu, kami harus memanjat tebing yang cukup terjal setinggi sekitar 5 meter, tepat di pinggir laut.  Dari atas tebing itu, kami bisa melihat lautan yang luas, dipenuhi pulau-pulau karang di sana-sini.  Tepat di bawah kami, air laut menderu menerjang cekukan karang; di bawah mega dan tersabut terpaan angin kencang, kami menyaksikan pemandangan yang indah dan menakutkan secara bersamaan.  Sepulang dari laguna, kami disediakan makan malam yang, menurut pendapat kami, luar biasa lezat.  Malamnya kami diajak berburu kepiting segar.  Kami diingatkan untuk hanya menangkap satu untuk tiap orang dan tidak menangkap yang masih kecil.  Kepiting-kepiting yang kami tangkap langsung dibakar di atas api unggun di tepi pantai; meskipun tanpa bumbu sama sekali, boleh dibilang itu kepiting yang paling enak yang pernah kami makan.

Keesokan harinya, kami berangkat untuk melihat lumba-lumba.  Ketika kami melihat pantai di pagi hari, barulah tampak keindahan sejati Pulau Kiluan.  Di bawah langit biru dan bersitan emas cahaya matahari, pantai pasir putih Kiluan tampak seperti pantai yang hanya bisa ada pada sebuah foto yang telah direkayasa dengan Photoshop seharian.  Lautnya pun sangat tenang dan tampak ramah mengundang semua untuk masuk.  Dengan kaki terbenam di pasir putih, gua bahkan mempertimbangkan untuk tidak pergi berburu lumba-lumba dan menghabiskan hari di pantai saja.  Untunglah akal sehat bergegas datang menghampiri.

.

Jam 7 pagi kami sudah duduk di dalam jukung dan mulai melintasi laut.  Kami menggunakan dua jukung; gua dan Duy di satu jukung, sementara Stania, Nita dan Siska di jukung yang lain.  Selama 10 menit pertama, gua dan Duy sangat menikmati perjalanan air kami.  Langit cerah, matahari bersinar, dan jukung kami bergerak melintas lautan, melewati pulau-pulau kecil di kanan-kiri kami.  Tapi tiba-tiba saja kami menyadari bahwa perahu kecil kami adalah satu-satunya benda yang berada di tengah-tengah piringan air raksasa; kami berada di laut lepas.  Di sekeliling kami hanyalah cairan biru pekat, bergelombang mengombang-ambing perahu kami.  Seringkali kami bahkan tidak bisa melihat garis cakrawala di depan karena terhalang oleh tembok air yang pada saat itu tampak sewaktu-waktu dapat menggulung kami dengan mudahnya.  Sembil terus berpegangan ke sisi perahu kuat-kuat, gua mendengar Duy menyuarakan pikiran gua, “Riv, gua ngerti sekarang kenapa kita harus pake life jacket.

Tak berapa lama, si bapak pengemudi jukung mengabarkan bahwa kami sudah sampai di tempat di mana lumba-lumba Kiluan suka berkumpul.  Gua dan Duy segera menajamkan semua panca indera untuk mendeteksi mereka.  Namun ternyata para mamalia laut itu tidak kunjung datang.  Setelah sekitar 30 menit berputar-putar di tengah lautan, kami mulai letih mencari.  Kami berpindah dari kondisi ketakutan setengah mati ke bosan setengah mati (untunglah kedua kondisi tersebut tidak mengikuti hukum penjumlahan aritmatika).  Kebosanan dan panasnya matahari juga mulai membuat kami delusional, dan seluruh percakapan di atas jukung pun menjadi seperti ini:

“Riv! Itu! Di sana, lihat!  Waaah lucunya!”

“Bukan, Duy, itu perahu nelayan.”

“Oh…”

“Lihat di sana, Duy!  Itu banyak banget!”

“Bukan Riv, itu riak ombak.”

“Oh…”

Mulai titik itu, hampir semua benda tampak seperti lumba-lumba bagi kami, termasuk seekor elang laut yang terbang melintas di atas kepala kami dan si bapak pengemudi jukung, yang tampak tidak nyaman ketika kami berdua menatapnya dengan mata berbinar-binar.

Setelah sekian lama, kondisi tidak juga membaik; kami benar-benar sudah hampir kehabisan energi dan siap untuk kembali ke pulau saja.  Tapi baru saja gua mau membuka mulut untuk meminta pengemudi jukung untuk berputar haluan, tiba-tiba saja, sekitar 10 meter di depan jukung kami, seekor makhluk meloncat dari dalam air, tubuh abu-abunya basah berkilauan, berputar-putar di udara selama beberapa detik, dan mencebur lagi ke dalam air.  Gua dan Duy bengong selama beberapa saat, dan lalu berteriak-teriak kegirangan layaknya anak umur 2 tahun yang melihat badut ditendang selangkangannya.

.

Aksi si spinner itu tampaknya jadi tuah bagi kami karena setelah itu keluarga demi keluarga lumba-lumba pun mulai berdatangan, bergelung di laut bersama-sama.  Setiap kami melihat punggung lumba-lumba yang melengkung di atas air, jukung kami langsung menghampiri.  Seringkali kami hanya melihat mereka selama beberapa detik saja, tapi ada kalanya jukung kami bergerak tepat di samping mereka untuk waktu yang cukup lama.  Bahkan ada saat di mana satu di antara mereka berenang tepat di bawah permukaan air di pinggir jukung kami; seandainya kami menceburkan kaki ke air, sudah pasti akan menyentuhnya. Kami tahu mereka adalah binatang liar, tapi ketika kami berada di dalam jukung kecil di tengah lautan luas, lumba-lumba yang berenang mendampingi kami benar-benar tampak seperti sahabat yang menemani.

Duy sang fotografer dengan sigap memotret teman-teman laut kami sampai menghabiskan sekitar 300 foto.  Untunglah dia membawa kamera andalannya, karena sangatlah sulit untuk mengambil gambar lumba-lumba yang terus bergerak setiap saat.  Dari sekian ratus foto yang Duy ambil, mungkin hanya beberapa puluh yang layak tayang.  Kami terus berputar-putar bermain bersama lumba-lumba sampai lebih dari sejam.

Setelah puas, dan letih, kami bergerak kembali ke pulau.  Di tengah jalan kami sempat menghampiri beberapa pulau tak berpenghuni, yang tampak seperti hutan-hutan rimbun mini yang terserak mengapung  di laut.  Sesampainya di pulau, kami segera disajikan makanan, yang segera kami lahap dengan rakus.  Rencana awalnya, kami ingin langsung berenang-renang; tapi matahari sudah tinggi dan kami sudah cukup letih.  Makanan yang enak pun membuat kami agak mengantuk.  Akhirnya kami hanya mengaso di pondok di siang hari itu.  Sambil menikmati angin laut dan udara pantai yang segar, kami tidur-tiduran di beranda pondok dan asik membaca buku favorit kami.  Melihat kami bersantai, pengelola pondok menawarkan untuk memetikkan kelapa muda; suatu tawaran yang langsung diterima dengan senang hati.  Untuk yang mengira kami buang-buang waktu ketika liburan, percayalah, untuk yang sehari-hari hidupnya penuh kesibukan, membaca buku favorit di rumah panggung di tepi pantai ditemani suara deburan ombak dan kelapa muda segar adalah kenikmatan surgawi.

Lewat tengah hari, kami diajak Pak Chairul untuk snorkling, tidak jauh dari pantai tempat kami menginap.  Terumbu karangnya tampak rusak; Pak Chairul menjelaskan itu karena sampai sekitar dua tahun yang lalu banyak nelayan yang mengambil ikan menggunakan peledak.  Namun sekarang kegiatan tersebut sudah dilarang dan masyarakat setempat, yang mendapatkan cukup banyak pemasukan tambahan dari para wisatawan, turut serta menegakan aturan tersebut.  Setelah puas ber-snorkling ria, kami berenang-renang di air laut yang hangat dan bermain-main di pantai.  Kami juga sempat mengubur Nita dalam pasir, tapi sayangnya Duy berpendapat bahwa kami tidak bisa pulang begitu saja dan meninggalkannya dalam keadaan terkubur.

Malam harinya kami kembali beristirahat di beranda pondok dan bertukar foto-foto yang sudah kami ambil sepanjang petualangan kami.  Nita mengklaim bahwa dia berhasil merekam beberapa lumba-lumba menggunakan fungsi video di kameranya, tetapi ketika kami lihat, lebih banyak suara pekikan pujaan kepada pencipta langit, bumi dan seisinya, daripada gambar video lumba-lumba.  Setelah puas melihat foto dan video, kami makan malam bersama terakhir di Kiluan.   Dengan tubuh yang cukup letih dan agak gosong karena terbakar matahari seharian, malam itu kami tidur dengan nyenyak.

Keesokan harinya kami dijemput pagi-pagi untuk kembali melintasi laut ke teluk.  Sesampainya di sana, kami menunggu sekitar sejam sampai mobil yang akan membawa kami ke Bandar Lampung datang.  Pagi itu gua berdiri di tepi pantai teluk, memandang Pulau Kiluan di kejauhan.  Pasir putihnya tampak menghiasi bibirnya; agak jauh di balik pulau, gua bisa membayangkan beberapa keluarga lumba-lumba tengah melintasi perairan, bermain-main dan berburu makanan.  Perahu nelayan tampak berjejer di sepanjang pantai teluk.  Matahari bersinar cerah, tergantung di langit biru yang tidak mungkin dapat disaksikan di Jakarta.  Ketika gua membalikkan badan, mobil Elf yang siap mengantar kami kembali ke Bandar Lampung sudah datang.  Gua menarik nafas dalam-dalam, menghirup udara laut.

Saatnya pulang.

comments 7

Song of the Open Road

Open road, you, and music. Kombinasi yang selalulah menarik. Beberapa lagu membuat kita mengemudi sambil menghentakkan kepala kesetanan dan berteriak ‘ and i’m freee, freee fallin..!! atau beberapa jazz lawas membuat pikiran berlari liar entah kemana saat kita meluncur menembus malam. Dalam perjalanan delapan jam yang berhujan dari Makasar ke Palopo, diantara August’s Rhapsody gubahan Mark Mancina yang mendayu, saya teringat betapa musik selalu memberi warna yang indah sekali di setiap perjalanan. Saat memandang keluar jendela, ia memberi cerita dari wajah-wajah yang kita lewati atau membawa kembali ingatan akan kisah-kisah lama. Mendengarkannya kembali lama sesudahnya mengingatkan kembali akan bau air laut yang kita lalui, obrolan kotor yang dibagi dengan kawan perjalanan, atau pertemanan yang terjalin ditengahnya.

Lagu These Street dari Paolo Nutini selalu mengingatkan saya pada road trip Pangandaran bersama Ginting dan Arip sekitar tiga tahun yang lalu. Hampir di sepanjang jalan kami mendengarnya. Berulang-ulang. Diantara dengkur Arip, diantara bualan Ginting, di antara lamunan-lamunan. Saat tertidur, saat terbangun, bahkan saat pipis di pinggir jalan. Hebatnya, saat itu adalah pertama kalinya saya mendengar nama penulis lagu muda Skotlandia ini.  Jika sekarang saya mendengarkannya kembali, akan terbayang nikmatnya kopi susu di pagi hari setelah berjalan sepanjang malam. Atau perasaan yang muncul saat memandang wajah kawan dekat yang tertidur dengan pipi menempel di jendela kaca di jalanan sepi yang terik.

.

Berbicara mengenai jalanan yang terik, lagu lama Ebiet G. Ade, Berita Pada Kawan, akan membawa ingatan saya akan perjalanan-perjalanan sepanjang pesisir timur Aceh pasca Tsunami. Mulai dari Lhokseumawe, Bireuen, Pidie, hingga Banda Aceh. Di periode 2006-2007 saya kerap melintasi jalur ini. Dulu lagu yang luar biasa ini selalu membuat saya termenung-menung. Memperhatikan daerah yang menggeliat membangun dirinya setelah luluh lantak diterjang bencana. Melihat wajah-wajah yang mengatasi pedih dari konflik yang berkepanjangan.  Sungguh lagu ini memiliki daya magisnya. Ia membuat jalanan yang dilewati serta wajah-wajah yang dilintasi bertutur lebih banyak. Syairnya  yang pedih dan nadanya yang menyayat membuat saya percaya bahwa pada momen yang tepat, lagu ini akan membuat banyak orang menangis haru.

Banyak juga lagu yang mengingatkan saya pada laut. Lagu-lagu dari Jack Johnson misalnya. Nuansa santai dan laid back yang diciptakannya selalu mengingatkan saya pada air laut yang berbuih dibelah perahu atau perasaan bebas saat meminum air kelapa di pinggir laut dengan kaki telanjang penuh pasir. Saya teringat betapa saya betah berlama-lama duduk memandangi air laut dari pinggir perahu dalam sebuah perjalanan di Ujung Kulon. Lagu-lagu seperti Good people atau We’re gonna be friends benar-benar membuat saya merasa lepas, tenang, sekaligus impulsif. Beberapa saat kemudian, ketika saya melihat pulau Badul dalam jangkauan, tanpa berpikir lagi saya melepas kaos, mencebur, dan berenang ke arahnya. Saya melompat ke laut dengan perasaan bebas luar biasa.

.

Alam dan perjalanan memang selalu memiliki nadanya. Somewhere Over the Rainbow dengan ukulele yang menenangkan dari Israel Kamakawiwo’ole membawa kenangan akan laut di saat senja, Kingston Town dari UB40 membawa kembali perasaan saat berlari di sepanjang pantai Sanur di pagi hari. Melihat matahari terbit, bapak tua yang beryoga, atau pelayan kafe pinggir pantai yang mulai menata kursi. Gie dengan petikan gitar yang memukau dari Eross akan membawa ingatan pada pendakian gunung atau perjalanan kaki menembus hutan. Perasaan nyaris putus asa dari perjalanan tak berujung, bercampur dengan kekaguman akan alam, semangat yang menggebu, kecintaan pada Indonesia, dan lamunan tak berujung.

..Akan aku telusuri, jalan yang setapak ini

Semoga kutemukan jawaban..

Dan setiap orangpun akan mempunyai lagu perjalanannya. Lagu yang membuatnya termenung, menggila, tersenyum sendiri, menerawang, dan tentunya, tetap berjalan. Menyusuri jalanan kosong yang berdebu, pinggiran laut yang membebaskan, kota yang gemerlap, atau puncak gunung yang menggoda. Selamat datang kembali dari berlebaran, kawan-kawan. Janganlah berhenti berjalan.

Twosocks, September 2010

*Judul catatan diambil dari kumpulan puisi Walt Whitman, Leaves of Grass, 1856