comments 9

Yogyakartralala

Hubungan saya dengan Yogyakarta bisa dikatakan naik turun. Pertemuan awal terjadi lebih dari dua puluh tahun lalu. Saat itu saya anak tengik yang berjongkok kagum di emperan Malioboro melihat pelukis jalanan yang sedang membuat sketsa wajah ayah saya. Itu pertama kali saya melihat langsung pelukis wajah. Lirak lirik, goras gores, jadi! Hebat sekali. Walau tidak mirip benar, saya tetap takjub. Buktinya, hingga sekarang wajah ajik (sebutan ayah di Bali) yang terlalu kurus dan sedikit miring di sana sini itu masih terbingkai rapi di rumah di Bali. Itu juga masa awal saya mendengar beberapa kisah kerajaan selain kisah dunia pewayangan yang memenuhi masa-masa kecil dahulu. Walau agak samar, di sana pertama kali saya mendengar dari ajik soal bagaimana kesultanan Yogyakarta menjadi bagian penting dari berdirinya republik ini. Di sana saya menjadi bagian dari barisan yang memandang segan sekaligus haru pria-pria tua yang menjadi pasukan kerajaan keraton. Kawan saya Najib menyebut mereka, soldiers of past glories. Sebutan yang penuh cerita.

Kekaguman atas kebersahajaan kota ini sedikit terganggu dalam sebuah kunjungan di awal masa kuliah. Saat itu saya menghabiskan malam dengan duduk di angkringan bersama beberapa aktivis dan pemain teater mahasiswa Yogyakarta. Diperkenalkan sebagai mahasiswa dari Jakarta ternyata tidak membuat malam saya begitu nyaman. Beberapa dari mereka mulai berbicara kepada saya dengan logat betawi yang dibuat-buat dan dengan nada yang sedikit merendahkan. Setiap saat mereka seolah menyampaikan bahwa mahasiswa Jakarta adalah mereka yang sok kota dan mengadu pada orang tua saat kesulitan hidup datang. Bahkan sampai beberapa saat kemudian ketika mereka mendengar logat Bali saya yang masih kental. Mahasiswa Yogyakarta dikenal sebagai mahasiswa yang pintar tetapi sederhana, tidak mengutamakan penampilan luar, dan merakyat. Namun saat itu untuk pertama kalinya saya menemukan bahwa untuk beberapa orang kesederhanaan adalah identitas yang juga merupakan strata sosial. Terkadang menjadi sederhana dan menggembel ternyata bisa merupakan label yang memberi legitimasi untuk merendahkan orang lain. Malam itu tidak terlalu menyenangkan.

Namun di atas semuanya, Yogyakarta tetap adalah kota dengan sejarah tradisi yang kuat yang menciptakan wibawa di setiap sudutnya. Berjalanlah di sepanjang jalannya, jalan utama maupun gang-gang pemukiman, kenali orangnya, dengarkan kisah-kisahnya, maka tak mungkin kita tak menaruh hormat padanya. Kota Yogyakarta juga selalu dipenuhi mahasiswa. Pemuda-pemuda dengan mimpi dan kebebasan tak terbatas. Selalu menyenangkan melihat mereka duduk di sana sini, di ruang-ruang terbuka kotanya, berbicara, berdiskusi, berpacaran, membaca, tergelak. Ia kota yang juga romantis.

Minggu lalu saya menikmati pertemanan di kota ini. Tanpa direncanakan saya berada di kota yang sama dengan dua kawan lama, Bram dan Arip. Pertemuan yang tak direncanakan. Kami memutuskan menghabiskan malam bersama-sama, berjalan kesana kemari, berbicara-bicara. Bercerita tentang banyak soal, masa lalu, petualangan Bram, keresahan Arip, hal-hal penting, hal-hal remeh. Makan gudeg, minum ronde, makan jagung rebus. Saya bercerita tentang para peternak kambing di Magelang yang saya temui siang hari sebelumnya. Bram bercerita tentang hal-hal yang dihadapi yayasan anak wayang, LSM yang ia gagas di Belanda sana. Lalu Arip yang mengajak kami mengenang masa-masa awal kami berteman belasan tahun lalu. Masa-masa yang penuh tenaga. Kami berbicara, berjalan, dan sesekali berhenti untuk minum teh atau ronde dan mendengarkan para pengamen yang menciptakan suasana khas Yogyakarta. Tembang tak henti mengalir, mulai dari lagu-lagu campur sari yang kadang manis kadang nyeleneh, lagu-lagu tua John Denver, sampai lagu sepanjang masa, Fly me to the moon. Ada kendang, ada ukulele. Ada pengamen tua, ada pengamen muda. Rangkaian kesenian diakhiri oleh Arip yang bergabung bersama para pengamen di alun-alun dan ikut menyanyi suka-suka.

Bersama waktu, kami adalah anak-anak yang mulai tumbuh dewasa dan berumur. Perlahan kami mulai berjalan sendiri-sendiri, dalam hidup masing-masing. Bahkan untuk Bram, ia memulainya jauh sebelum kami. Karena itulah, bertemu kembali di saat yang tidak terduga di tempat yang bersahaja seperti Yogyakarta sungguh sebuah momen berharga. Dan saya yakin, malam itu di depan benteng Vredeburg, bukan hanya spesial untuk kami. Kami sempat berkenalan dengan pasangan yang sedang menghabiskan malam terakhir pertemuan mereka di Yogyakarta. Si perempuan kuliah di Yogyakarta sementara si pria akan berangkat keesokan paginya untuk bertugas di Lampung. Mereka memutuskan menghabiskan malam terakhir mereka dengan duduk-duduk di jalanan depan benteng tua itu. Keesokan paginya, saat si pria berjalan ke terminal, atau saat si perempuan berjalan ke kampus, mereka pasti terkenang akan malam terakhirnya, lalu senyum-senyum sendiri. Di ujung perempatan, kami juga melihat sekumpulan mahasiswa yang sedang berkumpul dan tergelak-gelak. Juga beberapa anak berdandan punk yang saling bercanda. Sungguh bebas dan bahagia. Bertahun tahun dari sekarang, tentu mereka akan mengenang malam-malam seperti ini dan menjadi melankolis. Malam yang bahagia.

Dan kami masih berjalan, melihat-lihat, omong-omong, sampai akhirnya tak tahan oleh kantuk dan kembali ke penginapan. Bagaikan babi besar, Arip tidur membabi buta. Bram yang malang, ia tak berdaya meringkuk di pojokan. Pemandangan langka yang membahagiakan. Sebenarnya saat itu belum terlalu pagi di Yogyakarta, mungkin baru pukul dua. Tukang ronde masih berjaga, pemuda-pemuda masih bercanda, kehidupan masih berjalan. Ah sudahlah, sudah saya katakan tadi, perlahan kami mulai tua.

Twosocks, Oktober 2011

comments 13

Wajah Indonesia yang Murung Sebelah

Indonesia adalah rumah dari mereka yang gemar tertawa besar-besar. Rumah untuk mereka yang bernyanyi tanpa lelah. Tanah dengan budaya kaya dan alam cantik. Namun, dalam perjalanan delapan jam melintasi Sampit dari Palangkaraya menuju Kuala Pembuang, ada wajah lain yang melintas. Ia juga tanah yang menuturkan sejarah kekerasan yang panjang. Di antara hutannya yang rimbun, jika tidak digunduli, tersembul sejarah panjang kekerasan politik, agama, hingga etnis. Mulai dari gambar suram tahun 60an saat ratusan ribu orang dibunuh karena label komunis di dadanya, sadar maupun tidak, api yang menyala-nyala dari konflik agama di Ambon, jamaah Ahmadiyah yang dibantai dengan keji di Cikeusik, pemerkosaan atas etnis Tionghoa saat kerusuhan Jakarta, dan deret panjang kebengisan yang secara tidak terduga muncul dari orang-orang yang sehari-harinya begitu santun.

Melalui tutur Pak Jaka, pria Dayak Katingan yang menemani saya dalam perjalanan delapan Jam di Kalimantan Tengah ini, cerita kekerasan Sampit sepuluh tahun lalu kembali terbayang.  Pak Jaka yang sejak kecil tinggal di Sampit menceritakan kisah-kisah kekejaman yang langsung ia saksikan. Mungkin karena terlalu sering menuturkannya, ia bercerita seolah dengan tanpa beban. Namun, kengerian yang diciptakannya besar. Sebuah puncak dari kekerasan antar etnis yang terjadi sejak berpuluh tahun sebelumnya. Kepala-kepala yang terpenggal, anak kecil yang tertusuk tombak, perut yang terburai, rumah yang dibakar. Kisah tentang sekelompok pria dayak berkuping panjang yang turun gunung dan keluar hutan untuk melakukan pembantaian paling biadab. Dengan mata merah kesurupan, mereka tidak berkata banyak. Bergerak taktis hanya dengan satu tujuan, membunuh etnis lawan. Banyak yang bahkan memakan hati korbannya mentah-mentah. Berbekal ilmu gaib yang diberikan sebelum turun bertempur, mereka melakukan tindakan jauh di luar kemanusiaan. Konon banyak diantara mereka yang menjadi gila setelah konflik mereda. Terguncang setelah menyadari kekejian yang dilakukannya sendiri. Tergetar oleh lumuran darah di sekujur tubuhnya. Saat kami melintas sungai Mentaya, pak Jaka  mengisahkan dahulu sungai itu dipenuhi mayat yang bagaikan rakit mengalir dari hulu di tengah hutan. Begitu banyak kisah biadab yang diceritakan. Termasuk kisah memalukan saat aparat keamanan berkelahi satu sama lain untuk berebut melindungi pengungsi Madura di pelabuhan demi setoran uang perlindungan.

Kisah-kisah yang membuat saya termenung-menung sepanjang jalan. Indonesia tanah yang luas. Ini berkah yang terkadang berujung pada hilangnya kepekaan, rasa keterikatan. Sebuah kejadian yang begitu menyedihkan yang terjadi di satu bagian sering tidak cukup mengusik naluri kemanusiaan mereka yang ada di wilayah lainnya. Saat saudara-saudara Ahmadiyah dibantai dengan kejam di Cikeusik, beberapa anggota DPRD memilih untuk berkeras mendapat mobil dinas baru. Saat korban lumpur Lapindo masih terlunta tak mendapat dana kompensasi lima tahun setelah musibah yang menimpanya, banyak yang memandang kagum pernikahan mewah putri dari orang yang paling bertanggung jawab akannya. Saat begitu banyak orang terusir dari tanahnya di NTB karena kepercayaan yang mereka anut, tak banyak yang benar-benar mencari informasi bagaimana perkembangan mereka hingga kini. Di masyarakat luas di bagian lain Indonesia, mereka sering hanya menjadi pembicaraan sambil lalu. Diantara kopi hangat, creambath yang menenangkan, atau benar-benar pupus diantara lampu klab malam. Dahulu saat konflik Sampit meletus, saya mungkin sedang duduk-duduk di sebuah warung Indomie di sudut Bintaro dan berbicara tentang hal-hal remeh. Indonesia yang indah  juga selalu memberikan wajah-wajahnya yang suram. Anak yang meringis kehilangan masa kanak-kanaknya, ibu-ibu yang kalap dalam putus asa karena hartanya yang disita paksa, wajah-wajah bengis pria yang datang menerjang. Mungkin jika kita setidaknya aktif mencari tahu dan mengikuti perkembangan hal-hal yang mengusik kemanusiaan di sekitar, paling tidak akan terbangun kepekaan yang kemudian berpengaruh terhadap pilihan-pilihan tindakan yang kita ambil sehari-hari. Terkadang pilihan-pilihan yang sungguh sederhana. Seperti kata seorang rekan pekerja pembangunan yang suatu hari memutuskan untuk tinggal di kantor lebih lama,”Tak apa-apalah bekerja lebih lama, hal-hal sedang tidak terlalu baik untuk Indonesia.”

Kami meluncur terus menembus malam dan jalan yang bergelombang. Melewati Sampit, menuju Kuala Pembuang. Saat ini, sepuluh tahun setelah konflik berdarah itu,  Sampit sudah aman dan perlahan mengubur segala kenangan kelamnya. Senyum sudah muncul di wajah-wajah yang saya temui. Warung kopi sudah dipenuhi gelak tawa. Anak-anak berlari bertelanjang dada dan terkikik-kikik. Namun ada satu yang tak berani saya tanyakan pada Pak Jaka di sepanjang perjalanan kami, saat konflik antar etnis yang melanda kampungnya dulu, apakah ia benar-benar hanya menyaksikan?

Twosocks, Mei 2011

comments 6

A Bit of Luxury for the Homeless of Ubud

Pada sebuah masa yang tidak terduga, seseorang akan berjalan dengan alur yang jauh di luar rencana semula atau dengan gaya yang sama sekali berbeda dari kebiasaannya. Backpacker yang akhirnya ikut dalam rombongan tur dengan jadwal yang tertata rapi, mereka yang untuk pertama kali harus terhimpit di kereta malam antar kota yang pengap, atau pendaki gunung yang menikmati matahari terbenam sambil minum segelas anggur di atas yacht. Kebanyakan perjalanan saya dilalui dengan celana yang jarang diganti, tidur di tempat yang sederhana, dan buang air di sembarang tempat. Kombinasi sifat yang bersahaja dengan pelit, sok proletar, serampangan dan sejumlah sifat tercela lainnya.

Namun hal-hal sedikit berbeda dalam perjalanan ke Ubud beberapa waktu yang lalu. Saya dan Gypsytoes begitu bersemangat untuk menghabiskan akhir pekan di Ubud  dengan segudang rencana; trekking ke hutan dan desa-desa di pagi hari, melihat pentas calonarang di malam hari, mengagumi karya-karya lukis, berjalan ke sana kemari, berbicara dengan semua orang.  Namun saat melewati daerah Nyuh Kuning, sebuah keputusan impulsive membawa kami berbelok ke sebuah villa yang tampak begitu sejuk. Kami tahu harganya jauh diatas anggaran penginapan kami namun tidak ada salahnya sedikit bergaya. Kami berpura-pura menanyakan harga untuk sekedar melihat-lihat dan mengagumi arsitekturnya.  Sales managernya yang santun membawa kami melihat semua villa di sana. Villa-villa dengan pemandangan sawah yang sejuk, teras dan balai-balai yang ramah, tata lampu yang lembut, suara angklung sayup-sayup, dan infinty pool yang begitu menggoda. Bahkan di unit terbaiknya, terdapat bath tub di tempat terbuka yang dipenuhi bunga, in door dan out door shower, out door kitchen, dua balai-balai empuk di pinggir private pool nya yang sangat nyaman untuk sekedar leyeh-leyeh membaca. Dan di atas semuanya, arsitektur yang di dominasi kayu membuat semuanya terasa begitu sejuk.  Setelah cukup bergaya melihat-lihat dan hendak pamit pulang, sang sales manager mengatakan sesuatu yang membuat kepala kami berkunang dan lidah kami terjulur-julur. Karena saat itu sedang low season, ia menawarkan villa terbaik mereka spesial untuk kami dengan sewa permalam hanya sepertiga harga atau sama dengan harga villa termurahnya. Waduh. Kami bertatapan dan menyimpulkan betapa ini adalah tawaran yang menggoda. Namun betapapun kami menginginkannya, harganya tetap di atas anggaran menginap kami bahkan sama dengan seluruh anggaran liburan kali ini. Dengan setengah mati mencoba mengontrol gejolak emosi oleh godaan maha besar ini, kami mengatakan hendak makan siang di luar dulu dan akan konfirmasi kemudian. Dan kami pun berlalu, tidak menoleh ke belakang, mencoba mengenyahkan godaan duniawi itu. We are bums, that is who we are, and that is what we do!

Siang itu kami makan Bebek Bengil, salah satu makanan yang bersama sambal matahnya saya tempatkan sebagai makanan terenak di dunia. Namun saya temukan diri saya hanya makan seadanya. Di ujung meja Gypsytoes juga tampak melamun. Ia adalah salah satu anak terbawel di dunia, namun siang itu ia hanya memandangi sawah-sawah. Pikirannya tampak menerawang. Kami adalah dua orang yang tak pernah kehabisan bahan pembicaraan, tapi sepanjang makan siang kami hanya bicara seadanya. Hening. Sampai kemudian kami menyimpulkan bahwa pikiran kami telah diracuni oleh godaan untuk menghabiskan malam di villa tadi. Godaan untuk sekali-kali dalam hidup kami yang menggembel ini merasakan sedikit kemewahan. Tiba-tiba pentas calonarang, galeri-galeri lukisan, perjalanan ke tengah hutan terasa tidak semenarik nikmatnya kemanjaan di villa tadi. Setelah hampir setengah jam termenung-menung dan memainkan tulang bebek, kami tertawa terkikik-kikik dan berkata, “f*ck it!! We’ll spend the night there!!” Jadi itulah yang kami lakukan.  Karena anggaran liburan akan tersedot ke tempat menginap dan kami hanya akan memiliki 24 jam maka segala yang lain harus dilupakan. Lupakan menghabiskan waktu di galeri atau di jalanan sawah, lupakan makan malam enak.  Kita akan menumpuk perbekalan dan mengurung diri di villa. Maka backpack pun dipenuhi dengan makanan murah cukup unuk semalaman dan kami berangkat. Kepada sang sales manager kami berkata  dengan suara paling elegan yang kami miliki: “We’re  taking it”.

Dan disanalah kami menghabiskan malam, duduk melihat sawah,  membaca, berenang,  berbicara tak henti sambil minum teh beras, termenung dengan musik angklung yang terdengar sayup, tidur di ranjang bertirai yang luar biasa empuk. Saya, anak tak terurus yang suka berlibur ke tengah hutan ini, bahkan mandi dengan air bunga. Norak minta ampun. Malam harinya kami diberikan compliment berupa chocolate cake dengan tulisan ‘happy honeymoon’. Kami dikira pasangan yang sedang berbulan madu. Kami pun terkikik-kikik geli dan makan dengan lahap.

Seperti yang dulu pernah kami katakan, para pejalan sungguh tidak bisa dikotak-kotakkan dalam label-label.  Terlebih lagi dalam hirarki-hirarki. Turis, backpacker, atau apapun. Satu dan lain waktu kita akan berada pada’kotak-kotak’ yang lain itu. Alur liburan dapat begitu berubah hanya dari keputusan untuk berbelok di sebuah tempat di jalan Nyuh Kuning. Apalagi, bukankah kita berjalan karena kejutan-kejutan yang tak henti ditawarkannya?

Twosocks, April 2011

comments 7

Wake Up You Lazy Bum!

Terkadang kita menemukan betapa kita ini pemalas yang membosankan. Hal-hal menakjubkan di sekitar tanpa sadar terlewatkan begitu saja. Banyak diantara kita yang menghabiskan berminggu-minggu di Aceh namun tak sekalipun menyeberang dan berenang di Sabang. Mereka yang menghabiskan masa remajanya di Malang namun terlalu malas untuk menembus hutan dan gila-gilaan di pulau Sempu. Mereka yang bepergian ke Banjarmasin, namun tak kuasa bangun sedikit lebih pagi untuk minum teh di tengah pasar terapung atau bermain dengan kera-kera di pulau Kembang. Saya pun tak terkecuali.  Saya baru terkagum-kagum melihat matahari terbit dari puncak gunung Batur setelah lebih dari satu dasa warsa saya meninggalkan pulau Bali. Setelah lama di Jakarta, tak sekalipun saya bermain ke kepulauan Seribu. Dan sampai sekarang saya belum pernah mampir dan menonton pertunjukkan di teater Salihara sejak ia pindah dari Utan Kayu. Kemana saja saya selama ini, ya? Bahkan  awal 2011 lalu saya baru menyadari bahwa dari bagian timur Bali,  Padangbai tepatnya,  kita bisa langsung menyeberang ke pulau Gili Trawangan. Pulau yang membuat kita bersantai dalam arti sesungguhnya. Makan pancake, duduk membaca, bersepeda, lalu berenang, melihat laut, duduk membaca lagi, nonton DVD di pinggir laut, berenang lagi, makan pancake lagi. Sungguh terkadang saya adalah pemalas yang membosankan. Hari sabtu pagi sering saya tergoda untuk menghabiskannya hanya dengan menonton DVD di rumah, episode demi episode, tanpa mandi, dengan makanan pesan antar yang dimakan langsung dari bungkusnya agar tak usah mencuci piring. Kawan-kawan, ingatkan saya untuk menggantung diri saya jika saya melakukan hal tadi paling tidak tiga weekend berturut-turut. Saya serius.

Saya harus mengingatkan diri mengenai beberapa hal yang sering berhasil mencegah penyakit malas saya.  Hal-hal yang membantu saya mengatakan persetan dengan semuanya dan terus berjalan. Mungkin ini juga berguna bagi kalian yang, seperti saya, mulai tua dan letih. Pertama, buatlah keputusan dan jangan biarkan hal-hal menggoyahkannya. Sedikit keras kepala dan tak tahu diri terkadang ada gunanya. Tangan saya terkilir akibat permainan basket dua hari sebelum saya dan Gypsytoes pergi ke Gili Trawangan. Saya memutuskan untuk tetap pergi dan kami mensyukuri keputusan itu. Pulau kecil itu menjadi salah satu tempat liburan terbaik yang pernah saya miliki. Pantai, buku, hammock, pancake, dan seterusnya. Dalam pendakian ke Merbabu tempo lalu, keraguan sempat muncul karena cuaca yang agak buruk. Tapi saat tim kecil kami dengan keras kepala memutuskan tetap berjalan, menembus hujan, dan berhasil menaklukkan Merbabu, jadilah kami gerombolan basah kuyup yang kegirangan luar biasa. Saat beberapa kawan batal ikut ke Baduy, perjalanan tetap dilakukan dan pertemuan dengan penduduk Baduy yang indah selalu saya kenang dengan bahagia. Saat usia mulai berkepala tiga, perasaan malas sering muncul saat hal-hal tidak berjalan sesuai rencana. Saat ia dikesampingkan, percayalah, hal-hal akan berjalan baik.

Kedua, berangkatlah pagi-pagi saat matahari baru terbit dan ingatlah untuk mandi terlebih dahulu. Saya selalu merasa segar dan memiliki semangat berlipat saat memulai petualangan di pagi buta. Teh hangat di pagi hari di bandara bersama kawan perjalanan selalu memberi semangat yang tak terkira. Bahkan di beberapa road trip, kami mulai berjalan dini hari dan perjalanan selalu menjadi menyenangkan. Pagi-pagi saat matahari malu-malu muncul di timur selalu menjadi salah satu bagian terbaik.

Ketiga, milikilah pakaian perjalanan favorit. Centil ya? Tapi sudahlah, it works for me. Saya mempunyai celana pendek cargo hijau yang mulai dekil yang sangat saya sukai. Mengenakannya di pagi hari, bersama dengan sneakers, sembarang kaos, dan tas punggung selalu membuat saya merasa gagah sekali. Siap dengan petualangan-petualangan tak terbatas. Dan ingat, berangkatlah pagi-pagi. Dan mandi.

Keempat, di hari biasa sempatkanlah untuk mengikuti foto atau kisah perjalanan kawan-kawanmu. Mendengar perjalan-perjalanan Gypsytoes yang menakjubkan, atau melihat salah satu kawan saya, Paul Lemaistre, mencapai puncak Kinabalu dan mengibarkan sang merah putih,  selalu membuat saya bersemangat untuk juga berjalan. Melihat petualangan kawan-kawan dan para pejalan lain selalu membuat saya tersadar betapa di luar sana kejutan seolah tak pernah berhenti.  Puncak gunung, terumbu karang, manusia-manusia ajaib, pentas tari, warung kopi, hutan, dan banyak lagi. Saya jadi bersemangat dan kaki terasa ringan.

Mungkin kita dibesarkan dengan budi pekerti yang begitu halus, sehingga jarang sekali berkata persetan pada kehidupan dan mulai berjalan ke hutan. Mungkin tidaklah salah jika sesekali pada sebuah weekend kita sedikit berbuat dosa, mengambil sedikit tabungan masa depan, mengaku sakit pada atasan, dan terus melangkah ke arah matahari terbit. Percayalah, Tuhan maha pemaaf. Kalaupun tidak, liburan akan terlalu menyenangkan sehingga sedikit tambahan dosa rasanya setimpal.  Pada hari Selasa pagi, saya akan berjalan pincang ke kantor, bokek, meminta maaf karena baru sembuh dari sakit (tentu dengan beberapa tambahan bumbu) lalu  terduduk di ruang kerja. Di sana saya menghela napas dengan wajah paling puas di dunia dan bergumam,”It’s all worth it..”

So, next destination?

Twosocks, February 2011