comments 4

Menyapa Ia yang Melampaui Jamannya

Kereta malam menuju Semarang mulai berjalan perlahan meninggalkan stasiun Senen. Kami berlima duduk di gerbong bisnis dengan mata benderang membayangkan perjalanan empat hari ke depan. Setiba di Semarang nanti, kami berencana untuk langsung menuju Jepara, tanah yang juga dikenal sebagai Bumi Kartini. Sebuah obrolan kopi beberapa waktu lalu membawa kami pada pembicaraan mengenai hari Kartini April nanti. Obrolan yang juga menyadarkan betapa tak banyak hal yang kami ketahui mengenai sosok Kartini selain bahwa ia adalah wajah sejuk berkebaya yang berjasa membuat perempuan Indonesia melek pendidikan. Obrolan kopi itu disudahi dengan kesepakatan bahwa kami akan membaca lebih banyak mengenai beliau, pemikiran-pemikirannya, jalan hidupnya, hingga kontroversi akan sosoknya. Kami pun berkeinginan untuk mengunjungi jejak beliau di dua tanah yang begitu berarti untuknya, Jepara dan Rembang. Maka di sinilah kami, di kereta malam menuju Semarang, dengan surat-surat Kartini di tangan, saling berbincang akan sosoknya.

*

Kami adalah generasi yang dibesarkan di periode tahun 80-90an. Seperti kawan-kawan seusia di masa itu, tanggal 21 April adalah hari di mana kami berbaris tertib dalam sebuah upacara bendera dan memberi hormat kepada sosok ibu berkebaya dengan wajah sejuk yang fotonya dipajang di dekat tiang bendera. Kartini, begitu namanya. Konon beliau adalah inspirasi bagi segenap perempuan Indonesia. Beliaulah yang berjasa sehingga setiap perempuan Indonesia dapat lepas dari belenggu untuk dapat mengenyam bangku pendidikan. Ia adalah pahlawan yang jasanya tak ternilai untuk kemajuan kaum perempuan. Karenanya hari lahirnya diperingati sebagai hari tersendiri.

“Bahkan Hatta, Sjahrir, Dewi Sartika, Cut Nyak Dhien, dan lain-lain tidak memiliki hari sendiri!“ tukas Fani, kawan perjalanan yang berambut keriting lebat sambil meluruskan kakinya.

Kartini begitu khusus, begitu mulia. Ia bukan pahlawan sekedar pahlawan. Seperti kawan seusia dahulu, kami pun tumbuh tanpa banyak bertanya. Kami meyakininya begitu saja. Begitulah hal-hal seharusnya berjalan, begitu kami berpikir.

“Di masa itu yang kulakukan hanya upacara, memberi hormat kepada fotonya, menonton lomba busana Kartini, dan sudah, urusan selesai,” kali ini Indah yang duduk di seberang saya ikut menambahkan.

Bersama era reformasi yang mengisi masa pendewasaan kami, kami pun ikut hanyut dalam gelombang masyarakat yang semakin kritis, berani bersuara, dan terbuka akan berbagai berpendapat. Jiwa kritis dan pemikiran yang mendalam tidak hanya milik sebagian kecil kalangan terdidik yang beruntung, ia bisa dimiliki oleh siapa saja. Kami bisa memilikinya, setiap orang bebas mengekspresikannya. Ide tentang Kartini pun ternyata adalah sesuatu yang kerap diperbincangkan. Mereka yang kritis mulai mempertanyakan layakkah Kartini diangkat sebagai pahlawan yang begitu khusus? Atau bahkan, layakkah ia untuk menyandang gelar pahlawan? Gugatan-gugatan akan kepahlawanan Kartini seperti yang dilakukan Harsja W. Bachtiar tahun 1979 melalui tulisannya yang berjudul “Kartini dan Peran Wanita dalam Masyarakat Kita” semakin banyak diperbincangkan. Dan mereka bertanya bukan tanpa alasan yang kuat.

Kartini bikinan Belanda! Begitu para pengkritik menukas. Narasi mengenai Kartini konon disebut hanyalah buatan Belanda semata. Kartini menjadi begitu fenomenal hanya sesudah surat-suratnya yang penuh kekerasan hati itu diterbitkan oleh JH Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku yang menggetarkan itu, dan juga sosok Kartini, menjadi media propaganda politik etis Belanda sehingga pemerintah yang berkuasa di Belanda bisa berkata kepada kaum oposisi dan dunia bahwa mereka, para kolonialis itu, telah melahirkan sosok tercerahkan di bumi jajahannya.

Kartini tidak benar-benar berbuat banyak, begitu mereka yang mempertanyakan kepahlawanan Kartini menambahkan. Ia memang sempat mendirikan sekolah, namun hanyalah sebuah sekolah kecil di Jepara dan Rembang. Sekolah yang tak sempat bertahan lama karena ia harus menerima nasib meninggal dunia pada usia yang belia, 25 tahun. Orang kerap membandingkannya dengan Dewi Sartika yang pada masa yang sama juga mendirikan sekolah untuk perempuan Indonesia yang berkembang jauh lebih pesat dibandingkan sekolah yang didirikan Kartini. Ia juga dibandingkan dengan Rohana Kudus di Padang, yang selain mendirikan sekolah juga merupakan wartawati pertama Indonesia yang lantang menentang poligami dan penjajahan. Saat kesadaran Kartini akan nasib perempuan lebih banyak dituangkan dalam korespondensinya dengan teman-temannya di Belanda, Dewi Sartika dan Rohana Kudus berbuat dan mengaplikasikan pemikirannya. Namun keduanya selalu tenggelam dibawah bayang-bayang nama besar Kartini.

“Konon Kartini lebih dipilih Belanda untuk digembar-gemborkan karena ia dianggap relatif lebih lunak terhadap Belanda. Kritiknya terhadap pemerintah kolonial kebanyakan hanya ada di surat-suratnya. Itupun sengaja disembunyikan saat buku kumpulan suratnya diterbitkan J.H. Abendanon,“ Ujar Gypsytoes.

Kepahlawanan Kartini pun disebut tidak benar-benar teruji. Saat dihadapkan kepada pilihan-pilihan sulit Kartini surut. Saat ditekan J.H. Abendanon untuk tidak melanjutkan sekolah ke Belanda walau beasiswa sudah di tangan, Kartini tidak berontak. Kartini tidak melawan, ia hanya bersedih dan takluk. Sang pejabat Belanda yang selama ini dianggap kerabat dekat oleh Kartini ternyata adalah orang yang memupus harapannya. Saat keinginan bersekolah ke Batavia juga terpaksa tak terkabul karena keharusan menikah dengan Bupati Rembang, Kartini juga menurut. Keputusan menikah ini pun dianggap kesalahan fatal. Kartini yang merupakan pejuang hak-hak perempuan ternyata bersedia dimadu. Seorang pahlawan adalah mereka yang menabrak segala pintu baja yang menghalanginya. Mereka adalah orang yang ditekan namun tetap berdiri tegak. Hatta ditawan berkali-kali namun tak surut dalam berjuang, Sjahrir menghadapi segala hujat dan ancaman namun tak mundur setapakpun dalam memperjuangkan cita-citanya. Pahlawan adalah mereka yang tak surut oleh segala ketidakmungkinan. Kartini dianggap gagal melewati ujian-ujian itu.

“Itu argumen-argumen yang kuat dan membuatku lumayan ragu. Mengingat semua itu, ia tetap layak disebut pahlawan atau tidak ya?” Afra, kawan yang duduk dekat jendela,  bertanya.

Penjual mie rebus datang menyelamatkan kami yang sedari tadi kelaparan. Walau tidak terlalu sehat, mie rebus adalah makanan maha nikmat di malam-malam seperti ini. Setelah mangkuk mie tandas dan kami mulai menyeruput teh panas, diskusi dilanjutkan.

Kami berlima sepakat bahwa kritik-kritik itu bisa sangat berdasar dan tentu sah-sah saja. Apakah Kartini layak untuk disebut pahlawan atau tidak adalah sesuatu yang sangat bisa diperdebatkan dan setiap orang bisa memiliki opininya. Namun di atas persoalan itu tak seorang pun diantara kami menyangkal betapa Kartini adalah sosok yang jauh melampaui jamannya. Membaca surat-suratnya, kita akan melihat sebuah karya tulis nan indah. Surat-surat yang menunjukkan betapa keawasan Kartini akan isu-isu sosial di sekitarnya jauh melebihi usia dan jamannya. Surat-suratnya sarat emosi, kesedihan, kesenangan, ketakutan, kekecewaan, putus asa, dan harapan. Ia tidak hanya berbicara mengenai pendidikan kaum perempuan namun juga sikapnya akan feodalisme, poligami, kesehatan ibu dan anak, ekonomi masyarakat, seni, dan banyak lagi. Ia adalah pribadi yang menolak pembedaan manusia hanya karena status sosial atau jenis kelamin. Terhadap tata cara feodal yang ruwet dan membelenggu ia menulis kepada Estelle Zeehandelaar, salah satu sahabat penanya di Belanda, “Peduli apa aku dengan segala tata cara itu. Segala aturan itu bikinan manusia dan menyiksa diriku saja.” Sungguh progresif untuk jaman di mana perempuan terkurung jauh di belakang dan di mana derajat manusia ditentukan dari siapa ia dilahirkan.

Kartini mungkin tidak sempat melanjutkan pendidikan, ia mungkin tidak sempat memperbesar sekolah untuk kaum perempuan, namun pemikiran dalam tulisannya adalah warisan yang menggerakkan begitu banyak perempuan untuk bergerak dan memperjuangkan haknya. Ia menjadi inspirasi untuk Sujatin Kartowijono, salah seorang aktivis perempuan yang menginisiasi kongres perempuan pertama di Indonesia tahun 1928, salah satu tonggak perjuangan persamaan hak di Indonesia. Ia mungkin tidak membangun sekolah secara langsung sebanyak Dewi Sartika, ia mungkin tidak berperang dengan gagah berani seperti Cut Nyak Dhien, namun tulisan-tulisan Kartini telah berbicara begitu banyak. Ia berbicara kepada begitu banyak perempuan, kepada begitu banyak generasi, tentang hak-hak perempuan, tentang persamaan, tentang kemanusiaan. Ia menjadi inspirasi gelombang tuntutan untuk persamaan hak-hak perempuan. Dan inilah warisan terbesarnya. Ia memiliki warisan yang tidak banyak dimiliki tokoh pejuang perempuan lain pada jaman itu, tulisan. Tidak sekedar tulisan, namun tulisan-tulisan yang membius, memprovokasi, dan mengispirasi.

Mengenai gelar pahlawan, ah toh itu adalah gelar yang disematkan orang lain belaka. Kartini sendiri mungkin tidak terlalu peduli akannya, sebagaimana ia tidak gemar akan segala tetek bengek feodal itu.

*

Kereta malam masih berjalan kencang menembus malam. Masing-masing dari kami memegang buku yang berisikan surat-surat beliau. Kami saling membaca dan terkesima akan keindahan tuturnya dan terutama akan kemajuan pemikirannya. Kami makin meyakini bahwa terlepas dari segala gugatan akan kepahlawanannya, ia tetap adalah sosok perempuan luar biasa yang telah menjadi inspirasi bagi begitu banyak orang. Sungguh ia layak untuk mendapatkan tempat yang indah di hati. Tempat untuk sosok perempuan luar biasa yang jauh melampaui jamannya. Sungguh ia layak untuk mendapatkan penghormatan yang jauh lebih dari sekedar lomba berkebaya, bersanggul, atau upacara bendera. Pemikirannyalah yang harus dirayakan, bukan cara berpakaiannya.

Pukul tiga dini hari kami tiba di Semarang. Kami langsung meluncur dengan kendaraan sewaan menuju Jepara dan tiba tepat saat matahari terbit. Kami siap memulai perjalanan untuk melihat denyut Kartini di kota yang begitu dekat di hatinya ini.

Twosocks

Catatan ini adalah artikel kedua dari Seri Tur Kartini, inisiatif kolaborasi The Dusty Sneakers dan Pamflet, organisasi anak muda yang berbasis di Jakarta, untuk mengenal sosok dan pemikiran Kartini lebih jauh dengan melakukan perjalanan ke Jepara dan Rembang. Kumpulan catatan perjalanan Tur Kartini dapat diunduh di sini.

comments 9

Memperkenalkan: Tur Kartini

Konon, perjalanan adalah salah satu cara terbaik untuk benar-benar mengenal seseorang. Kami telah mengalami bagaimana perjalanan membuat kami lebih mengenal sahabat-sahabat terdekat kami. Ia juga membawa kami mengenal sisi-sisi lain di dalam diri yang tidak kami ketahui sebelumnya. Namun, belum pernah kami melakukan perjalanan untuk lebih mengenal sosok bersejarah yang sebelumnya hanya kami ketahui melalui bacaan-bacaan.

Inilah ide dasar dibalik Tur Kartini. Ide yang kami bahas bersama teman-teman dari Pamflet, sebuah organisasi anak muda berbasis di Jakarta. Kartini adalah salah satu tokoh penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Mungkin ia adalah salah satu yang paling dikenal di antara deretan pahlawan nasional perempuan. Ia begitu dipuja sampai-sampai sebuah lagu nasional didedikasikan khusus untuknya. Namun seberapa dalamkah kami mengenal beliau lebih dari keinginannya untuk memajukan pendidikan untuk perempuan? Mereka yang telah membaca surat-suratnya tentu mengetahui betapa ia adalah sosok dengan kemauan keras, cita-cita yang mulia, dan kesadaran kemanusiaan yang sangat tinggi. Namun mengapa ia tidak melanjutkan pendidikannya ke Belanda walau beasiswa sudah di tangan? Mengapa ia bersedia dipoligami seorang pria yang usianya dua kali dirinya? Dapatkah kita lebih memahami sosoknya dengan mengunjungi rumah masa kecilnya, melihat pantai yang menjadi saksi riang dan remuk hatinya, atau beranda tempat ia menghabiskan sore harinya sebagai istri Bupati Rembang?

Kami memutuskan untuk mencobanya. Dua bulan lalu, kami bersama tiga orang kawan dari Pamflet menghabiskan beberapa hari di Jepara dan Rembang, tanah kelahiran dan kota tempat tinggal Kartini sesudah menikah. Kami mencoba membaca sebanyak mungkin literatur mengenai Kartini dan melihat tempat-tempat bersejarah yang bisa dikunjungi jika kita hendak menelusuri jejak beliau. Dalam hari-hari di dua kota itu kami semakin mengenal beliau jauh dari hal-hal yang kami terima di bangku sekolah dulu. Dalam hari-hari itu kami semakin mengenal sosok Kartini jauh dari sekadar sosok ibu berkebaya dengan wajah yang sejuk.

Dalam dua minggu ke depan, kami akan membagi kisah-kisah Kartini baik secara online maupun offline. Seperti biasa, beberapa cerita akan dimuat di blog ini sementara beberapa esai foto kecil-kecilan akan diunggah di akun instagram kami. Bekerjasama dengan Pamflet, kami pun akan membuat sebuah kumpulan catatan perjalanan dari tur Kartini yang akhir bulan nanti bisa diunduh dari blog ini secara cuma-cuma. Kumpulan catatan perjalanan tersebut juga akan dicetak dan dibagikan di acara “Festival Seperlima: Merdeka untuk Setara” yang digelar di Museum Nasional pada 19-22 April 2014. Festival ini merupakan inisiatif Pamflet dalam memperingati hari Kartini. Sebagai bagian dari acara ini, kami pun akan berbagi cerita secara langsung dalam sesi diskusi “Kartini A to Z” pada hari Selasa, 22 April 2014 pukul 2 siang. Jika Anda sedang lowong, mampirlah ke Museum Nasional, karena di sana juga akan ditampilkan pameran visual mengenai interpretasi sosok Kartini buah karya para seniman muda dari Institut Kesenian Jakarta. Menarik bukan? Lagipula, Museum Nasional selalu adalah sebuah tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi.

Ah, betapa kami bersemangat akan kolaborasi dengan Pamflet ini dan juga untuk ikut mendukung acara “Festival Seperlima: Merdeka untuk Setara”. Tetaplah mengikuti blog ini dan semoga kita bertemu di Museum Nasional di akhir pekan yang panjang nanti.

Salam kami,
Gypsytoes dan Twosocks

Catatan ini adalah artikel pertama dari Seri Tur Kartini, inisiatif kolaborasi The Dusty Sneakers dan Pamflet, organisasi anak muda yang berbasis di Jakarta, untuk mengenal sosok dan pemikiran Kartini lebih jauh dengan melakukan perjalanan ke Jepara dan Rembang. Kumpulan catatan perjalanan Tur Kartini dapat diunduh di sini.

comments 15

Cerita dari Puerto Princesa tentang Mereka yang di Balik Tembok

Sekumpulan petani mengerjakan sawah yang hijau menghampar, bapak paruh baya mengantar anaknya ke sekolah melewati pria yang membersihkan parit, sekelompok pemuda membuat kerajinan tangan, sedangkan yang lain duduk-duduk melihat kawannya yang berlatih menari hip hop. Aktivitas dimulai dengan biasa di sini selayaknya pemukiman pinggir kota lainnya. Kecuali bahwa ini bukan pemukiman biasa. Ini sebuah penjara.

Iwahig Prison and Penal Farm, sebuah kompleks penjara sedikit di luar kota Puerto Princesa, Filipina. Ini bukan penjara biasa, di sini para narapidana tidak dikurung sepanjang hari. Di hari terang mereka diperbolehkan luntang luntung di dalam areanya yang luas. Sebuah area yang dipenuhi hamparan sawah, perkebunan, serta pemandangan barisan gunung di sekelilingnya. Sebagian besar diajak bekerja di sawah dan kebun milik penjara. Sebagian yang lain diajarkan membuat kerajinan tangan yang kemudian dijual. Hanya mereka yang digolongkan dalam maximum security yang dikurung sepanjang hari.

Konon pada tahun 1906, John R. White, kepala penjara saat itu, muncul dengan ide memberdayakan para tawanan untuk mengerjakan lahan pertanian demi membantu pasokan bahan makanan penduduk Puerto Princesa. Hari ini, lebih dari seratus tahun kemudian, ide ini masih berlanjut. Para tawanan masih bekerja untuk menghasilkan produk pertanian dan kerajinan. Sebuah persentase yang dianggap layak dari hasil penjualan diberikan kepada mereka sesuai hasil kerjanya.

“Mereka dulu pernah berbuat buruk kepada masyarakat – mencuri, membunuh, dan macam-macam. Kurasa salah jika dana para pembayar pajak dihabiskan besar-besar untuk biaya penahanan mereka. Paling tidak dengan bekerja begini, selain bagus buat mengisi waktu, mereka ikut mambantu pasokan makanan penduduk dan ikut menyumbang biaya makan mereka sendiri,” Ujar Ramirez, salah satu penjaga.

Dan apa yang saya lihat di sana memang terkadang tidak mirip sebuah penjara. Ia seperti sebuah perkampungan kecil. Tidak ada dinding tinggi berkawat duri, tidak ada lorong gelap pekat yang mencekam. Saat bangun dari tidurnya, para napi melihat hamparan sawah dan gunung, lapangan olah raga, dan aktivitas pekerjaan untuk mengisi hari. Pagar penjara berdiri jauh di luar pandangan. Kita mungkin baru sadar bahwa ini adalah penjara saat melihat seorang penjaga dengan senjata berjaga dalam jarak pandang setiap kelompok napi minimum dan medium security yang beraktifitas. Sebagian napi kategori minimum security bahkan diperbolehkan berkeliaran di dalam kompleks tanpa harus ada penjaga dalam jarak pandang.

Tampaknya sebagian napi memang telah menganggapnya kampung sendiri. Di sisi timur areal penjara terdapat perkampungan untuk para mantan napi. Di sini mereka diperbolehkan membeli areal rumah dan petak sawah dengan perjanjian bagi hasil yang meringankan. Banyak dari mereka memboyong keluarganya untuk tinggal di sana. Di dalam kompleks luas ini bahkan ada sekolah untuk anak-anak para mantan napi dan pegawai penjara. Sandy, seorang terpidana enam tahun hukuman yang saya temui pagi itu, bercerita bahwa ia akan bebas setahun lagi. Ia bahkan telah memboyong keluarganya untuk tinggal di areal perkampungan para mantan napi itu sejak enam bulan lalu.

Penjara ini pun ramah untuk pengunjung. Jam berkunjung dibebaskan dari pagi hingga pukul lima sore, bahkan ia dibuka untuk turis yang ingin sekedar melihat aktifitas penjara dan membeli kerajinan buatan para napi. Pemeriksaan pada pengunjung pun bisa dibilang tidak ada sama sekali. Saat pagi itu saya datang sendiri dengan motor sewaan, tak sedikit pun tas yang saya bawa diperiksa. Cukup mengisi buku tamu di pintu depan, saya bisa melenggang masuk untuk melihat-lihat mereka yang bekerja di sawah atau berbicara dengan kelompok-kelompok napi di dekat area olah raga. Saat itu masih pagi sekali, belum satu pun pengunjung yang ada di sana. Karenanya saya bisa omong-omong dengan leluasa dengan Sandy, Baron, Thomas, dan beberapa yang lain. Banyak hal-hal remeh yang kami perbincangkan, namun tak terhindarkan beberapa yang personal juga muncul. Hal-hal yang masih saya kenang jauh sesudahnya.

“Dulu saat aku ditangkap karena mencuri, hidupku rasanya rusak betul,“ kisah Sandy. “Proses penangkapannya, ketakutan akan bayangan penjara, malu kepada keluarga dan anakku yang masih kecil, macam-macam. Tahun pertamaku di sini berat, tapi lama-lama terbiasa juga, Di sini aku belajar bikin kerajinan, berkebun, bahkan menari hip hop buat hibur-hibur turis.”

“Dan terutama karena si Baron ini,“ lanjutnya sambil menunjuk temannya. “Dia ini jauh lebih rusak. Dulu dia tusuk orang sampai mati, karenanya dia musti di sini delapan belas tahun. Aku jadi merasa mendingan, hahaha… Dia ini baik, sering bikin aku semangat. Bahkan Baron yang menyarankan untuk memboyong keluargaku ke sini daripada hidup mereka tidak jelas di kota sana.”

Baron, pria kurus penuh tato ini rupanya cukup disegani di sini. Saat ia berbicara, napi-napi lain yang biasanya ribut mulai diam-diam saja. Ia bercerita dulu ia memang jahat. Merampok, mencuri, dan terakhir membunuh. Namun sejak berada di sini pelan-pelan ia mulai punya hidup yang teratur. Selain menggarap sawahnya, ia yang gemar menari juga menjadi guru hip-hop untuk rekan-rekan napi yang lain. Selain Sandy, beberapa napi yang lain juga merasa semangat mereka banyak dibantu oleh Baron.

“Di luar sana aku penjahat.“ begitu Baron berkisah. “Dan orang-orang selalu melihatku sebagai penjahat walau aku manusia bebas. Di sini, walau aku sebenarnya tidak bebas, aku merasa diperlakukan sebagai orang bebas. Dipercaya untuk urus sawah dan semacamnya. Lagi pula di sini isinya bekas penjahat semua, aku jadi tak merasa spesial, hahaha…”

Saya ikut tertawa besar-besar. Tak lama tawa saya berhenti saat ia melanjutkan,

“Tapi walau sekarang aku sudah baik, aku masih tak menyesal menusuk bangsat itu. Dia anjing. Kalau kau yang kutusuk, aku pasti langsung menyesal. Kau sepertinya orang baik.“

Percakapan-percakapan yang sulit saya lupakan. Setelah omong-omong, mereka mesti berlatih menari lagi. Minggu depan akan ada sedikit pentas dari mereka untuk rombongan besar pengunjung yang hendak datang. Dan menarilah mereka, dengan lagu Bruno Mars entah apa, lucu sekali. Seseram apapun wajahnya, saat beberapa tampak kagok dan marah-marah saat mencoba menghapal gerakan, mereka tetap menjadi gerombolan yang lucu. Saya duduk sebagai satu-satunya penonton sambil tertawa-tawa geli.

Saya sempat mentraktir mereka minuman soda sesudah latihan selesai. Soal ini pun ada kejadian lucu. Saya membeli minuman soda dari penjaga mereka yang sekaligus penjaga kantin kecil di area olah raga ini. Karena tidak punya uang kembalian ia berlari menukar uang ke kantor penjara. Saya dibiarkan sendiri saja di sini hanya bersama para napi. Saya membayangkan kalau saya membawa narkoba atau senjata untuk diselipkan pada salah satu napi, tentu itu mudah sekali dilakukan. Apalagi tadi saat memasuki area penjara, tas saya sama sekali tidak diperiksa. Para napi ini mengatakan, walau hal-hal dibuat longgar di sini, kalau mereka ketahuan melanggar hukumannya tegas sekali. Thomas, salah satu napi yang bertubuh tambun, dulu pernah mencoba kabur. Saat tertangkap ia dimasukkan ke golongan maximum security selama setahun dan hukumannya digandakan menjadi enam tahun.

Pengalaman di sini mau tak mau mengingatkan saya tentang kisah-kisah penjara di tanah air. Ia selalu adalah kisah yang suram, pekat, dan kelam. Ia adalah kisah tentang lorong gelap yang membuat mereka yang halus menjadi bengis, mereka yang kelas teri menjadi bajingan kakap, mereka yang terpuruk semakin meringkuk. Lorong di mana kejahatan kerap malah semakin menjadi. Di Iwahig ini, penjara tetaplah penjara, kebebasan mereka tetap direngut karena kesalahan yang dulu mereka lakukan. Namun, di sini saya melihat sebuah kesempatan yang benar-benar ditawarkan bagi mereka untuk menjadi manusia yang utuh kembali.

Saat Sandy bercerita betapa ia senang bisa menghasilkan uang untuk keluarganya dari keringatnya di sawah, ada harga diri yang tampak ia raih kembali. Saat Baron becerita tentang koreografinya yang terkadang membuat para tamu tercengang, ada sinar yang santun dan hidup di matanya. Saat dalam perjalanan pulang saya melihat bapak-bapak yang menggandeng anaknya pulang sekolah, saya melihat seorang ayah yang penyayang. Di sini para lintah, dedemit, dan mereka yang pernah terjerembab dalam gelap memiliki kesempatan untuk menjadi manusia yang tersenyum hangat kembali.

Walau tentu saja, beberapa masih memiliki kebiasaan buruknya. Saat saya hendak beranjak pulang, Thomas yang tambun mendekati dan meminta uang dengan sedikit mendesak. Untuk rokok, katanya. Saya katakan rokok bisa bikin dia mampus, tapi ia masih mendesak juga. Untung Baron menghardiknya hingga ia pun surut. Saya mohon pamit pada Baron, Sandy, dan yang lain – termasuk Thomas yang sekarang cengar-cengir saja.

“Semoga pertunjukan kalian sukses,“ kata saya sebelum pamit.

“Yeahhh!!” kata mereka nyaris bersamaan dengan memasang gaya-gaya penari hip hop betulan.

Saya tertawa, mengangguk hormat kepada mereka, dan beranjak. Mengendarai motor sewaan saya menjauh, menyusuri barisan sawah yang menghijau, kelompok napi yang mengerjakan sawah, dan terus keluar ke jalanan lengang yang membawa saya kembali ke pusat kota Puerto Princesa.

Twosocks

comments 8

Of Paper Flowers and Comfort Zones

“So, how did it go?” Twosocks asked after I tapped him on the shoulder. For the past three hours, he had been sitting by the window of One Fifteenth Coffee with his laptop and the café’s spectacular coffee while I spent my time upstairs making paper flowers.

Yes, paper flowers.

The Dusty Sneakers I LivingLoving 5

Earlier that week, I received an invitation for the first bloggers gathering of one of my favourite blogs, Living Loving. Of course I said yes, I love the blog’s focus on highlighting local creative products and its unique ‘One Day In’ travel features and I have been enjoying meeting bloggers offline. However, unlike most bloggers gathering where people come to talk, Nike and Miranti of Living Loving decided to bring people together in their Afternoon Delight event by learning to make something new. In this case, paper flowers.

I proudly showed him my two crepe flowers, one in cloudy pink and another in soft lavender, nestled in a clear glass bottle. He clapped, knowing that I was quite nervous when I left him for the event that took place on the café’s second floor. After all, the last time I touched crepe paper was for a school assignment in junior high and my clumsy fingers have failed me in dozens of craft-related attempts.

“It was challenging, I am not going to lie,” I said while making myself comfortable on a wooden stool and stealing some sips from his cup. “But it was lovely.”

The Dusty Sneakers I LivingLoving 4

Crafting is so out of my comfort zone, so alien, that I felt lost when we started. My hands started sweating when the instructors, Amesh and Chia from Workshop in a Box, showed us the paper flowers they pre-made. My knees started tingling when they said that we were going to make two of them. Those flowers look so beautiful, so intricate, I was overwhelmed with the idea of making them from scratch. I looked at the stack of crepe papers, masking tapes, rulers, scissors, pencils, and wires, feeling quite helpless.

When the instructions started, I felt a bit more at ease since Amesh and Chia broke down the steps into manageable small tasks. I was slow, though, so I struggled to keep up. Being a planning freak, I also tried thinking a few steps ahead. When I started tracing the petal shapes on the crepe paper, my brain told me to remember that I have to cut them next, curl them with my scissors, take another stack of paper, trace another step… so of course I felt like drowning. I decided to let go, to just focus at one step at a time and ask for help to remember the next step. As I started focusing on one task at hand, little by little I felt less like drowning and more like floating. Instead of just struggling to keep up, I started noticing things around me.

Like the paradox of crepe paper – it is strong enough to hold against the scissor blades we used to tease them to curl yet is so delicate it ripped with the slightest pressure from my forefinger. Like the way the afternoon sunlight bounced off the apothecary bottles holding a few flowers at the middle of the large wooden table, so exquisitely arranged I literally gasped when I first saw them. Like the women around me, who were as enamoured by their craft as I was. I noticed Nyanya’s perseverance, she wouldn’t give up although the crepe petals kept falling apart when they were twirled against the wire stem. I noticed Puri’s bubbliness, she kept chatting while crafting and cheerfully helped me when I, repeatedly, got confused. I noticed Vero’s creativity, she quietly picked a bright red paper while the rest of us followed the instructors’ direction to take the pink one. Her flower stood out, beautifully. These are the things I might notice less of, had we been talking instead of making something together.

Processed with VSCOcam with c1 preset

As much as I noticed things, my clumsiness did not allow me to multi-task. I did not get to talk to my new acquaintances as much as I would like – I am actually very curious to know stories behind their brilliant creative ideas – but there is always next time. After deciding to take crafting one small step at a time, I prepared double of anything instructed because I knew that I would need back-ups when I screwed up at a critical stage. When I did screw up, at several critical stages, I was glad for the extra roll of fringed crepe and the back-up purple petals. In the end, I exhaled happily. I did it – I made two paper flowers, and they were lovely.

“Crafting reminds me a bit of traveling. You know how people say that the best part of traveling is in the journey, not the destination? The same applies to crafting, I think. I started relaxing when I focused on the petals instead of obsessing over the full bloom. The process allowed me to enjoy myself and notice things around me, so I arrived at the end goal feeling happier for the whole experience,” I said, watching the setting sun casting its glow on my pink and lavender paper flowers. “It’s a good reminder to be mindful of the small things in our daily lives.”

Twosocks took back his coffee cup from my hands and nodded, his expression full of mischief. “I think it’s good that you got out of your comfort zone. You’ve become wiser, my friend.”

I grinned at him, a Cheshire kind of grin. “I am actually glad you said that. Since crafting is not your comfort zone either, I’ll sign us up for a crafting workshop the next time we travel.”

The afternoon ended with Twosocks choking on his last sip of coffee.

Photo courtesy of Living Loving

Photo courtesy of Living Loving

Gypsytoes

PS: This is not a sponsored post. I was invited to the event but the story is my own, written to share what I reflected upon during the event.

P.P.S: The last photo is a regram from @livinglovingnet.Thank you for inviting me to your lovely Afternoon Delight, Nike and Miranti!