comments 4

Kartini dan Pak Djojo

Hijau dan kuning keemasan. Kedua warna itu berulang kali menyapa saat kami dipandu mengelilingi Museum Kartini di Rembang. Bangunan tua ini dahulu merupakan rumah dinas para bupati Rembang selama satu setengah abad, termasuk ketika Adipati Djojoadhiningrat, suami Kartini, menjabat sebagai bupati di sana. Saat dialihfungsikan menjadi museum pada tahun 2004, semua pintu dan jendela di kompleks bangunan dan paviliun seluas dua hektar tersebut kembali dicat dengan warna hijau tua dan hiasan ukiran kuning keemasan seperti semasa Kartini tinggal di sana.

Kedua warna tersebut mendominasi kamar tidur Kartini, tempat tur keliling museum kami dimulai. Kamar ini, ruang pribadi Kartini semasa menjadi istri dan seorang calon ibu, kini disebut sebagai Ruang Pengabadian R.A. Kartini. Kami menengok beberapa benda peninggalannya di kamar itu. Meja rias mungil di pojok ruangan, kebaya beludru berwarna biru tua dengan potongan sederhana yang dikenakannya dalam upacara pernikahan, serta tempat tidur yang juga menjadi tempat ia menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Kedua warna tersebut kembali menyapa saat kami mengakhiri tur di beranda tempat Kartini sering menghabiskan waktu sore harinya. Saat itu angin sore berhembus meniup rumput tinggi dan bunga-bunga kuning di taman itu sehingga mereka tampak seperti menari-nari kecil. Beranda ini tampak seperti sebuah tempat yang menyenangkan untuk membaca, menulis, berpikir, atau sekadar merenung saja. Ini sudut yang terkesan jauh lebih ramah dibandingkan bagian lain dari rumah sang suami yang dipenuhi perabot yang mewah dan serius. Kami bisa membayangkan, di sinilah ia menuliskan banyak surat-suratnya yang terkenal itu.

The Dusty Sneakers - Kartini 6

“Taman ini dinamakan Taman Inspirasi, “kata Ibu Penjaga Museum. “Di sinilah Kartini banyak mendapat inspirasi. Tidak hanya untuk menulis, namun juga melukis, menggambar pola batik, dan bermain piano.”

Saya kemudian bertanya mengenai barisan kamar-kamar berukuran kecil yang berjajar tepat di seberang beranda itu. “Oh, itu adalah kamar para garwo ampil. Pak Djojo punya tiga orang istri lain.” Ibu penjaga menyampaikan informasi itu dengan nada yang biasa saja. Mungkin karena sudah demikian jamak bagi pria bangsawan Jawa masa itu untuk memiliki banyak istri. Sementara saya, di sisi lain, tetap terkesiap mendengarnya. Setiap kali Kartini berada di beranda yang memebri banyak inspirasi itu, ia akan memandang tepat ke ruangan seberang tempat perempuan-perempuan lain dalam hidup suaminya berada.

Pernikahan Kartini selalu mengundang tanda tanya untuk saya. Saat berada di bangku sekolah menengah saya mengetahui bahwa Kartini menikah dengan Bupati Rembang yang berusia dua kali dirinya dan telah memiliki tiga orang istri. Saat itu saya menganggap Kartini telah mengkompromikan cita-citanya. Saya menganggap ia telah menyerah. Namun bersama usia yang bertambah dewasa dan dan bacaan mengenai Kartini yang bertambah banyak, hal-hal terasa lebih rumit.

Adipati Djojoadhiningrat, yang oleh Ibu penjaga museum disebut dengan panggilan Pak Djojo, melamar Kartini atas permintaan almarhum Garwo Padmi-nya (istri pertama) sebelum meninggal dunia. Sang Garwo Padmi rupanya telah mendengar dan mengagumi sosok Kartini dari Jepara dan berpikir bahwa ia adalah jodoh yang pantas untuk suaminya. Kartini meminta waktu tiga hari untuk menimbang lamaran ini. Dalam waktu itu ia mencari segala informasi mengenai Pak Djojo. Ia menemukan bahwa Pak Djojo memiliki pendidikan tinggi, walaupun tidak sampai lulus dari jurusan pertanian di Wageningen, Belanda. Ia pun mendengar bahwa Pak Djojo adalah Bupati Rembang yang handal. Saat itu Kartini telah berusia 24 tahun, ia dianggap telah melewati masanya bagi perempuan untuk menikah. Penolakannya akan berbagai lamaran pernikahan kerap menimbulkan pergunjingan yang mengganggu ayah Kartini yang mulai sakit-sakitan. Ayah yang begitu ia cintai.

Pak Djojo dianggap Kartini sebagai yang terbaik diantara pelamar lain, karenanya diakhir hari ketiga ia menyanggupi lamarannya dengan beberapa persyaratan. Sang calon suami harus mendukungnya dalam mendirikan sekolah untuk perempuan pribumi di Rembang. Kartini juga akan membawa pengrajin-pengrajin handal Jepara untuk mengembangkan industri ukir. Kartini juga hanya akan berbicara dalam bahasa Jawa ngoko kepada suaminya dan bukan dalam bahasa Kromo Inggil yang begitu formal. Dan terakhir, permintaannya yang paling kontroversial untuk adat saat itu, adalah bahwa dalam upacara pernikahan ia tidak akan melakukan upacara berjalan jongkok, berlutut, dan menyembah kaki mempelai pria.

Pak Djojo menyanggupi semua persyaratan Kartini, bahkan menyatakan kesediaannya menceraikan semua Garwo Ampil-nya demi Kartini. Kartini menolak tawaran itu. Ia mengerti betapa perceraian akan menempatkan sang perempuan dan juga anak-anaknya dalam posisi ekonomi dan sosial yang lemah. Dan menikahlah mereka. Kartini mengenakan sebuah kepaya beludru biru gelap yang sederhana sebagai pakaian pengantinnya. Kebaya yang saat ini dipamerkan di Museum Kartini di Rembang.

Kebaya pernikahan Kartini

Kebaya pernikahan Kartini

“Aku tahu bahwa saat itu sangat wajar seorang bangsawan memiliki banyak istri. Namun mengingat betapa keras Kartini menyuarakan penolakannya pada poligami, apakah kalian pikir Kartini bahagia dalam pernikahannya? “ tanya saya pada kawan-kawan perjalanan.

Fani mengangguk-anggukan kepalanya, “Hmmm… ada bukti-bukti yang menunjukkan begitu. Surat-surat terakhirnya berkisah betapa ia menikmati merawat anak-anak suaminya, mendongeng untuk mereka sambil minum teh bersama sang suami. Mereka berdua pun tampaknya cukup cocok. Keduanya menyukai karya seni Jawa dan ingin mempromosikannya ke Belanda, Ibu Penjaga Museum pun mengatakan Pak Djojo pun sangat mendukung cita-cita Kartini mendirikan sekolah untuk perempuan-perempuan pribumi. Ia memberikan Kartini sebuah paviliun yang digunakannya sebagai sekolah tempat ia mengajar.”

Indah mendongak dari buku yang ia baca, ““Suamiku tidak hanya suami bagi saya. Ia juga kawanku sejiwa”, begitu ia menulis kepada Profesor Anton, seorang kawan lama keluarganya. Sepertinya Kartini memang mencintai suaminya.”

“Tapi ingatkah kalian akan surat Kartini kepada Nyonya Abendanon saat ia menemukan dirinya hamil? Walau ia bahagia akan kehamilannya, ia menulis bahwa seandainya bayinya perempuan, ia berharap sang anak tidak akan dipaksa menjalankan hal-hal di luar cita-citanya. Ia secara eksplisit menulis bahwa ia berharap sang suami akan akan selalu mendukung anak perempuannya, bahkan mengijinkan seandainya sang anak tidak ingin menikah sama sekali. Kurasa ia sedang bicara mengenai kesedihannya sendiri juga, kesedihan yang belum tuntas,” Afra menyampaikan sudut pandang yang lain.

“Ingatkah kalian, Ibu Penjaga Museum berkata bahwa sekolahnya ditutup dan tidak pernah dihidupkan lagi segera setelah Kartini meninggal?” Twosocks ikut berpendapat. “Sekolah di Rembang hanya berdiri selama delapan bulan saja. Jika Pak Djojo benar-benar mencintai Kartini, tentu ia akan berusaha untuk tetap meneruskan sekolah itu sebagai sesuatu yang begitu didamba mendiang istrinya?”

Paviliun yang menjadi lokasi Sekolah Kartini di Rembang

Paviliun yang menjadi lokasi Sekolah Kartini di Rembang

Tak satu pun dari kami berbicara lagi. Kami semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Tur Kartini membawa kami lebih mengenal sosok Kartini, namun semakin kami menelusuri langkahnya dan mengerti akan situasi yang dihadapinya, semakin kami menemukan misteri-misteri yang tak terjawab. Apakah Kartini benar-benar mencintai suaminya seperti konsep cinta yang kami ketahui sekarang? Apakah Kartini mencintai sang suami hanya sebagai bentuk penerimaannya akan situasi yang dihadapinya? Apakah ia jatuh cinta secara seketika atau setahap demi setahap? Apakah ia benar-benar bahagia di Rembang dalam pernikahan yang tidak benar-benar diinginkannya?

Mungkin kami tidak akan pernah benar-benar tahu.

Gypsytoes

Catatan ini adalah artikel keenam dari Seri Tur Kartini, inisiatif kolaborasi The Dusty Sneakers dan Pamflet, organisasi anak muda yang berbasis di Jakarta, untuk mengenal sosok dan pemikiran Kartini lebih jauh dengan melakukan perjalanan ke Jepara dan Rembang. Kumpulan catatan perjalanan Tur Kartini dapat diunduh di sini.

comments 2

Hari yang Bersedih di Pantai Bandengan

Suara ombak yang menyentuh bibir Pantai Bandengan tentu masih memperdengarkan riak yang serupa. Pasirnya yang menelan kaki yang menjejak tentu menciptakan sensasi lembut yang sama. Matahari tentu masih selalu terbenam di tempat yang sama. Lebih dari seratus tahun lalu, sore di Klein Scheveningen, begitu pantai ini dulu disebut Kartini dengan sayang, selalu membuat suasana hatinya menjadi tenteram. Di sinilah ia berbicara dari hati ke hati dengan saudaranya, di sini ia mengenang ucapan sayang dan pemberi semangat dari sahabat-sahabatnya, di sini ia memupuk mimpi-mimpinya akan kebebasan kaumnya dan martabat bangsanya. Sore ini, lebih dari seratus tahun kemudian, kami pun ada di sana, mendengar suara ombak yang sama, merasakan lembut pasir yang sama, melihat matahari terbenam yang sama.

Pantai Bandengan terletak tujuh kilometer dari pusat kota Jepara. Sebuah pantai rekreasi berpasir putih yang dapat dicapai dengan kendaraan kurang dari tiga puluh menit saja. Selain kami, banyak warga Jepara yang sore itu juga menghabiskan waktunya di sini. Bermain air, berjalan-jalan, atau sekedar duduk-duduk. Kami membayangkan sebuah gambar di mana dulu Kartini berkunjung ke sini dengan diantar kereta kuda. Kereta kuda yang akan diparkir di bawah pohon besar di pinggir jalan itu sementara beliau berjalan kaki sepanjang bibir pantai yang berpasir lembut itu.

Kami memandangi laut yang pada sebuah masa menjadi saksi dari gelora seorang perempuan yang melampaui jamannya. Namun selain saksi dari nyala semangatnya, Pantai Bandengan juga saksi akan remuk hati Kartini. Di pantai ini pulalah awal dari padamnya api yang bergolak terang benderang itu. Saat semangat Kartini yang tengah di puncak terjerembab, terhempas jatuh, hingga sang perempuan perkasa tersimpuh di kakinya. Takluk.

Saat itu, di bulan Januari 1903, semangat Kartini sedang membubung. Salah satu sahabatnya, Ir. Van Kol, seorang anggota parlemen Belanda dari partai sosialis berhasil mengusahakan beasiswa untuk Kartini melanjutkan sekolah di Belanda. Perasaan Kartini terbang ke bulan oleh suka cita. Telah lama ia mendamba kesempatan untuk menuntut ilmu di Eropa, di mana sumber-sumber ilmu pengetahuan dan kemajuan budaya bisa dikecap seluasnya. Ilmu yang akan ia gunakan untuk mendukung cita-citanya yang mulia, memajukan kaumnya di tanah air.

Kartini, seorang perempuan pribumi, akan bersekolah tinggi. Berita besar! Tidak sembarang sekolah tinggi, namun sekolah tinggi di Belanda. Tentu ini bukan hal biasa dalam sebuah bangsa yang terpuruk dan budaya feodal yang begitu menghimpit perempuan. Tentangan pun muncul dari mana-mana. Kerabat sesama bangsawan kerap mengkritik bahwa tak pantas seorang perempuan bersekolah tinggi-tinggi apalagi ia belum bersuami di usia yang lebih dari dua puluh tahun. Bahkan beberapa sahabatnya pun menyatakan keberatannya termasuk Nyonya Abendanon yang mengatakan pergi ke Belanda hanya akan membuat Kartini lupa akan cita-citanya. Namun Semangat Kartini tidak surut, ia selalu meyakinkan semua orang bahwa ini dilakukannya bukan untuk kepentingan pribadinya, namun untuk dia bisa kembali dengan bekal yang cukup untuk memajukan kaum perempuan di Hindia Belanda. Semangat yang menyala-nyala. Kemauan yang begitu keras. Ia seorang batu karang.

Sampai hari di pantai Bandengan itu.

Hari itu J.H. Abendanon, sang Direktur Departemen Pendidikan, Agama, dan Industri Hindia Belanda, datang ke Jepara khusus untuk menemui Kartini. J.H. Abendanon, seorang penyokong politik etis, adalah sosok yang dekat di hati Kartini. Ia adalah salah satu kawan diskusi Kartini mengenai soal-soal pendidikan perempuan. Bahkan J.H. Abendanon sempat begitu terinspirasi oleh pemikiran Kartini sehingga mengirimkan edaran bagi Bupati-Bupati di tanah Jawa untuk membuat sekolah-sekolah untuk perempuan. Walau budaya feodal masih begitu kuat sehingga edaran J.H. Abendanon ini belum mendapat sambutan, Kartini tetap begitu menghormatinya. Saat J.H. Abendanon datang tanpa pemberitahuan ke Jepara dan mengajak Kartini berbicara di pantai Bandengan, timbul semangat Kartini. Sungguh di luar dugaannya, di pantai Bandengan J.H. Abendanon bukan memberinya kata-kata penguat untuk kelanjutan cita-citanya, namun justru bujukan agar Kartini membatalkan keberangkatannya ke Belanda.

J.H. Abendanon mengemukakan beberapa alasan mengapa Kartini sebaiknya tidak ke Belanda. Jika ia pergi ke Belanda ia akan dilupakan oleh bangsanya dan bahkan hanya akan dianggap Nona Belanda saja, jika ke Belanda maka ia akan mengalami banyak kesusahan hidup, dan terakhir, betapa kasihan jika ayah Kartini yang telah mulai sakit-sakitan ditinggal belajar jauh. Ini tentu bukan argumen baru bagi Kartini. Ia tentu sudah sadar bahwa keputusan pergi ke Belanda akan berat dan untuk cita-cita besarnya banyak pengorbanan yang harus dilakukan. Selama ini Kartini selalu tegar dan tetap kokoh. Ia yakin bahwa untuk bisa mencapai cita-citanya ia harus menuntut ilmu yang tinggi dari sekolah. Ia pun ingin menimba pengalaman dari pergaulan dengan sahabat-sahabatnya di Belanda yang memiliki pemikiran maju mengenai perlindungan hak-hak kaum perempuan dan soal-soal kemanusiaan lain. Namun hari itu di Pantai Bandengan, segala argumen J.H. Abendanon dan juga iming-imingnya untuk segera bisa mendirikan sekolah di sini berhasil menundukkan Kartini. Kartini menurut.

“Aku masih tak bisa mengerti,“ kata Fani saat kami berlima sama-sama duduk memandang laut. “Kartini adalah seorang dengan kemauan yang begitu keras dan keyakinan yang besar akan langkahnya mencapai cita-cita. Kenapa ia tunduk akan permintaan J.H. Abendanon ini, ya?

Dari buku biografi Kartini karya Sitisoemandari kami menemukan kemungkinan-kemungkinan penjelasannya. Disebutkan bahwa Kartini meyakini J.H. Abendanon adalah sosok yang selalu mendukung cita-citanya. Ia begitu menghormati sosok J.H. Abendanon laksana seorang ayah, sehingga kata-kata J.H. Abendanon akan didengarkan betul-betul dan walau pun berat akan tetap ditelannya. Tak sedikit pun Kartini menaruh prasangka buruk kepadanya. Selain itu, kedatangan J.H. Abendanon yang tba-tiba dan dengan pesan yang mengagetkan ini membuat Kartini limbung, tak siap, dan akhirnya tunduk.

“Tapi aneh juga J.H. Abendanon ini,“ ujar Afra. “Sebelumnya ia selalu mendukung Kartini, kenapa sekarang ia malah menghalanginya?”

Di sinilah konon kepentingan politis pemerintah Hindia Belanda ikut bermain. Ir. Van Kol, tokoh yang mengusahakan beasiswa untuk Kartini, adalah anggota parlemen Belanda dan tokoh golongan sosialis. Kedekatan langsung Kartini dengan Ir. Van Kol dan juga tokoh sosialis lain seperti Stella Zeehandelaar akan dapat mengganggu pemerintahan Belanda sekarang, apalagi posisi Ir. Van Kol sebagai anggota parlemen yang bertugas mengawasi jalannya pemerintahan. Kartini dikenal kritis dan begitu awas akan keadaan sekelilingnya. Ia tahu banyak keadaan di Hindia Belanda dan kekurangan-kekurangan pemerintah Belanda di sini. Ia tahu mengenai panen yang gagal, kelaparan yang terjadi, salah urus saluran air bagi petani, termasuk kesewenang-wenangan banyak pejabat Belanda di Hindia Belanda. Jika Kartini berangkat ke Belanda dan dekat dengan tokoh-tokoh sosialis, dikhawatirkan banyak kebobrokan yang bisa dibeberkan Kartini pada pihak-pihak yang berseberangan dengan pemerintah Belanda saat itu.

J.H. Abendanon mendukung agar Kartini cukup terpelajar sebagai salah satu simbol keberhasilan politik etis, namun ia tidak boleh terlalu maju sehingga dapat terlalu kritis terhadap pemerintah Belanda apalagi mendapat banyak dukungan lawan politik pemerintah. Karenanyalah J.H. Abendanon berkeyakinan kepergian Kartini ke Belanda perlu untuk dicegah.

Dan begitulah, hari itu di Pantai Bandengan, api Kartini yang menyala-nyala itu tidak dibiarkan untuk lebih membara lagi. J.H. Abendanon memadamkannya. Inilah yang dalam buku biografi Kartini tulisan Sitisoemandari disebut sebagai sebagai “tragik Kartini”. Sebuah lembaran paling hitam dalam riwayatnya. Sebuah kejadian yang secara psikis demikian besar pengaruhnya dan terus ia bawa hingga akhir hayatnya.

Kami berlima termenung dengan pikiran masing-masing. Memandangi laut dan langit di kejauhan yang perlahan memerah. Membayangkan sebuah hari yang bersedih lebih dari seratus tahun lalu di tempat yang sama dengan tempat kami duduk ini. Terbayangkan seorang gadis muda idealis sedang tertunduk di bibir pantai dengan pikiran yang berkecamuk.

“Orang mungkin menganggap tunduknya Kartini sebagai kelemahan di sisinya,” Maesy memecah kesunyian. “Tapi aku tetap menganggapnya perempuan pemberani. Itu hanya menunjukkan betapa ia juga manusia biasa.“

Kami mengangguk sepakat. Mengingat situasi saat itu, di mana budaya feodal masih begitu kuat, di mana posisi perempuan begitu lemah, di mana manusia masih harus berjalan membungkuk-bungkuk tunduk pada manusia dan bangsa lain, apa yang dilakukan Kartini sejauh itu telah begitu mencengangkan. Ia berani menggantungkan cita-citanya begitu tinggi dan mulia, ia berani menghadapi tentangan dari kerabat dan kawan-kawan yang mencegah kepak sayapnya. Bahwa ia kemudian tidak siap menghadapi orang yang begitu dihormatinya memadamkan apinya, itu hanya membuatnya menjadi manusia biasa. Seorang pejuang yang sendiri. Ia tetap seorang anak muda dengan pemikiran yang demikian maju dan bergelora di sebuah zaman yang begitu mengungkung. Bahkan sesudahnya, walau ia menyesali keputusannya, ia pantang menarik keputusan yang telah dibuatnya di depan J.H. Abendanon itu. Hal yang menunjukkan betapa ia juga seorang ksatria.

Gelap mulai benar-benar merangkul Pantai Bandengan. Di dekat kami sebuah keluarga tampak baru menyambut ikan bakar pesanan yang baru datang. Sang ibu memanggil anak-anak mereka yang bermain-main di bibir pantai. Anak-anak berlarian ceria menuju meja makan untuk menyantap ikan yang mengepul-ngepul itu. Ah, begitu banyak wajah kemanusiaan yang telah disaksikan pantai ini. Keriangan dan kesedihan Kartini lebih dari seratus tahun lalu, perasaan haru yang kami rasakan saat mengenangnya di sini, canda tawa keluarga kecil di dekat kami yang menikmati ikan bakarnya yang tampak begitu lezat.

Dan matahari masih terbenam di tempatnya yang sama, suara riak ombak masih terdengar serupa, dan lembut pasir masih terasa sama saat kaki menjejak di atasnya. Dan masih akan begitu untuk waktu-waktu yang lama dari sekarang.

Twosocks

Catatan ini adalah artikel kelima dari Seri Tur Kartini, inisiatif kolaborasi The Dusty Sneakers dan Pamflet, organisasi anak muda yang berbasis di Jakarta, untuk mengenal sosok dan pemikiran Kartini lebih jauh dengan melakukan perjalanan ke Jepara dan Rembang. Kumpulan catatan perjalanan Tur Kartini dapat diunduh di sini.

comment 0

Ia yang Disayang Setiap Generasi

Terik di Jepara sedang membakar bagai panggangan yang menyala penuh. Bagian belakang leher kami terasa seperti tertempel bara. Kami duduk di bangku taman di seberang Museum Kartini, menyegarkan diri dengan susu dingin dari penjaja keliling. Di sini pohon-pohon tumbuh rindang dan angin bertiup semilir. Sepanjang pagi hingga siang itu kami menyusuri tanah yang mengisi masa kecil dan remaja Kartini itu. Melihat halaman belakang rumah Bupati Jepara di mana dulu Kartini membangun sekolahnya yang pertama, melihat kamar tempatnya dipingit, hingga melihat foto-foto tua hitam putih yang penuh kenangan di museumnya. Di antara teduhnya pohon-pohon taman, dengan tenggorokan yang tersegarkan oleh kucuran minuman dingin, kami berbicara mengenai sudut-sudut kota Jepara pada masa yang lebih dari seratus tahun lalu itu. Kami membayangkan saat Kartini menuliskan surat-suratnya di antara temaram lampu minyak, saat ia beristirahat sesudah hari pengajaran yang antusias, saat ia bersedih akan segala ketidakmungkinan yang membelenggu cita-cita nan besarnya, atau saat dengan tekun ia membaca buku Max Havelaar di sudut ruang pingitnya. Itulah hari-hari yang dikenang, dibicarakan, diperdebatkan untuk waktu yang begitu lama sesudahnya.

“Aku selalu mengagumi perempuan-perempuan muda yang keras hati,” kata Gypsytoes. “Saat itu ia ada di lingkungan yang begitu feodal, di mana garis keturunan menentukan derajatmu, di mana perempuan ditempatkan jauh di belakang. Walau tertatih-tatih, ia terus berusaha menggugat.”

Kami teringat akan pembicaraan dengan Riza Khairul Anwar, penjaga Museum Kartini Jepara, yang bercerita bahwa Kartini adalah sosok perempuan muda yang selalu menggugat berbagai tradisi feodal. Ia tak memperbolehkan adiknya menyembah atau berjalan jongkok di dekatnya. Saat menikah pun ia menolak untuk berjongkok dan menyembah sang suami. Sikap-sikap yang begitu tak lazim ditunjukkan seorang perempuan pada zamannya. Cita-citanya akan pendidikan bagi perempuan dan persamaan derajat sesama manusia telah menjadikannya sosok yang begitu dicintai jauh sesudah ia tiada.

“Ia perempuan pemberani bercita-cita besar yang kemudian meninggal pada usia belia. Ia bisa menjadi sosok yang begitu menginspirasi. Kemudaan, idealisme dan kekerasan hatinya akan dengan mudah membuatnya dicintai siapapun. Tak heran semua berlomba menjadikannya ikon,” tukas Afra.

Kami lantas berbicara bagaimana kecintaan masyarakat akan Kartini terus dipupuk. Tidak hanya oleh pemerintah kolonial, namun juga pejuang kemerdekaan, pemerintah orde lama, hingga orde baru. Sosoknya direka ulang, disunting, dibangun oleh semua pihak, semua generasi. Pada masa kolonial, ia dijadikan ikon politik etis dalam bidang pendidikan. Saat itu ia ditonjolkan sebagai perempuan muda pribumi yang berpengetahuan luas, mencintai bacaan, dan menginginkan kemajuan pendidikan untuk kaumnya.

Melalui tulisan-tulisannya di beberapa koran, Kartini sesungguhnya telah mulai dikenal masyarakat Belanda sebelum akhirnya meninggal dunia. Namun baru sesudah buku kumpulan suratnya diterbitkan J.H. Abendanon tahun 1911-lah, narasi mengenai Kartini terus membubung. Dua tahun sesudah terbitnya buku itu, berdirilah Yayasan Kartini oleh kelompok masyarakat Belanda yang menaruh perhatian akan kemajuan pendidikan di tanah jajahan. Yayasan ini mendirikan sekolah Kartini di Semarang. Acara pendiriannya diliput besar-besaran di Belanda. Sejarawan Zen R.S. menuliskan bahwa surat kabar Der Leeuwarder Courant memuat tentang sekolah ini dalam tulisan berjudul “Kartini Scholen”. Tulisan yang mengisi penuh halaman depan koran itu. Gegap gempita kecintaan akan Kartini pun menjalar hingga ke Hindia Belanda. Kelompok-kelompok perempuan pergerakan ikut menjunjung Kartini sebagai inspirasi bangkitnya kaum perempuan. Dan narasi tentang Kartini terus didukung dengan besar-besaran oleh pemerintah Belanda. Buku-bukunya terus diterbitkan dan diperbincangkan. Melalui sosok Kartini, pemerintah Belanda mengatakan pada dunia betapa mereka telah berperan besar menciptakan pribadi-pribadi tercerahkan di Hindia Belanda.

Setelah Indonesia merdeka, narasi akan mulianya Kartini tidak berubah. Berbeda dengan narasi tokoh-tokoh lain yang bisa berubah bersama dengan pemindahan kekuasaan, Kartini tetap sosok yang dicintai. Jika Belanda menganggap Van den Bosch sebagai salah satu penyelamat kerajaan Belanda dari kebangkrutan, Indonesia menganggapnya penghisap darah dengan kebijakan tanam paksanya. Jika Belanda menganggap Diponegoro pemberontak, Indonesia menggadang-gadangnya sebagai pahlawan. Namun Kartini yang dianggap anak emas oleh Belanda, tetap merupakan panutan bagi Indonesia. Ia adalah perempuan pencerah, ia pendobrak kegelapan kaum perempuan, ia seorang penebar inspirasi.

“Kalian tahu,“ ujar Gypsytoes, “di Kongres Perempuan Nasional beberapa bulan sesudah kemerdekaan, para pesertanya berkali-kali menyanjung nama Kartini dalam pidatonya. Bulan April 1946 peringatan hari Kartini juga sudah mulai dilakukan.”

“Iya tadi aku juga dengar soal itu dari Pak Riza. Narasinya juga sama, Kartini pejuang hak pendidikan perempuan,“ kata saya sambil minum dari plastik susu dingin kedua. “Tapi baru-baru ini aku membaca dari tulisan Zen R.S. bahwa modifikasi terhadap narasi Kartini dilakukan gerakan kiri di Indonesia yang menonjolkan narasi Kartini sebagai tokoh anti feodalisme dan anti kolonialisme. “

Adalah Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) dan Gerwis (Gerakan Wanita Sadar) yang berafiliasi dengan PKI yang tanpa kenal lelah berkampanye betapa Kartini adalah tokoh yang tak hanya berjuang untuk hak pendidikan kaum perempuan, namun juga untuk tergerusnya budaya feodalisme dalam masyarakat Indonesia yang demikian kental. Ia juga disebut tokoh yang bersuara untuk enyahnya segala bentuk kolonialisme. Begitu teladannya ia, majalah perempuan yang diterbitkan Gerwani pun mengambil nama “Api Kartini”.

Gerakan kiri Indonesia benar-benar berusaha untuk mengambil narasi Kartini ini sampai akhirnya usaha untuk menjunjung tinggi perjuangan Kartini sebagai tokoh pendidikan, anti feodalisme, dan anti kolonialisme mencapai puncaknya pada tahun 1964. Saat itulah Kartini resmi menjadi seorang pahlawan nasional. Narasi Kartini sebagai tokoh anti feodalisme pun terus diperkuat. Pramoedya Ananta Toer, tokoh penting Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) memberi judul biografi Kartini yang ia tulis dengan pesan anti feodalisme yang begitu kuat, “Panggil Aku Kartini Saja.” Di situlah pemikiran Kartini yang tidak menyukai segala atribut feodal yang menciptakan kasta-kasta dalam masyarakat itu begitu ditonjolkan. Salah satu ucapan Kartini yang begitu kuat akan hal ini terkutip di sana, “Tiada yang lebih gila dan bodoh daripada melihat orang yang membanggakan asal keturunannya itu.”  Tentu ini adalah penggambaran Kartini yang jauh lebih tepat daripada terjemahan bahasa Inggris kumpulan suratnya yang diberi judul “Letters From A Javanese Princess”  yang rasanya kurang pas karena sosok KArtini justru tidak menyukai segala gelar kebangsawanan itu.  Pada masa ini,  lagu mengenai Kartini pun yang saat ditulis WR Soepratman berlirik “Raden Ajeng Kartini…” diubah menjadi “Ibu kita Kartini…” Hal ini untuk menghilangkan unsur feodal pada narasi Kartini.

“Kupikir-pikir, inilah masa di mana narasi mengenai Kartini dituturkan dengan cara yang paling lengkap,” tukas Fani.

Kami semua mengangguk sepakat.

Itulah masa di mana Kartini adalah perempuan cerdas yang berjuang untuk hak pendidikan, persamaan derajat, dan juga hilangnya penindasan manusia terhadap manusia lainnya. Dalam situasi di mana perempuan selalu pada posisi inferior, inilah narasi yang diperlukan. Kartini diteladani sebagai sosok yang begitu sadar politik. Sungguh kontras dengan bagaimana narasi Kartini begitu direduksi setelah komunis mengalamai kehancurannya di Indonesia.

Bersamaan dengan tergerusnya PKI dan juga Gerwani, gerakan perempuan pun dihalau paksa untuk kembali ke dalam rumah.

“Jika sebelumnya peran politik perempuan coba untuk terus didorong, pada masa orde baru perempuan dikembalikan ke dapur,” ujar Gypsytoes, kawan yang selalu berapi-api saat berbicara soal kesetaraan gender.

Pemerintah Orde Baru memang tidak meniadakan Kartini. Ia masih tetap dicintai. Ia tetap pahlawan nasional, tidak seperti nama Tan Malaka yang kepahlawanannya dihilangkan. Namun pada masa itu, tidak ada lagi gembar gembor akan pemikirannya yang menginspirasi tentang persamaan derajat manusia. Tidak ada lagi kisah tentang Kartini sebagai simbol perempuan yang begitu sadar politik. Keteladanan Kartini terbatas sebagai Ibu yang peduli pada isu pendidikan perempuan semata. Bahkan lebih sering, penonjolan akan ketokohannya kerap sebatas simbol seorang seorang Ibu yang berkebaya dan bersanggul saja. Seorang Ibu yang jinak. Maka tak akan kita jumpai pada masa orde baru perayaan hari Kartini yang benar-benar menghormati apa yang ada di kepalanya, namun terbatas pada apa yang dikenakannya. Ini sejalan dengan bagaimana pemerintah orde baru memang me”rumah”kan perempuan. Sebuah rezim yang meletakkan perempuan dalam konteks pendamping suami, pengasuh anak, dan pengurus rumah tangga belaka. Maka jadilah hari lahir Kartini tetap diperingati setiap tahun, namun hanya sebatas pada lomba bersanggul, berkebaya, atau masak-memasak.

“Aku jadi berpikir, Kartini ini mirip seperti Katniss Everdeen di cerita Hunger Games, ya?” kata Indah. “Ia dijadikan simbol oleh berbagai pihak untuk kepentingannya masing-masing.”

Kami tertawa sekaligus miris juga dengan analogi ini. Bersama perjalanan panjang bangsa ini, Kartini yang selalu dicinta dituturkan dengan cara-cara yang selalu berbeda, dengan kepentingannya masing-masing.

“Aku membayangkan, tentu perasaan Kartini akan semrawut juga,” kata saya. “Ia mungkin akan senang betapa hingga sekarang ia tetap dicintai. Namun ia tentu juga bersedih betapa sekarang ia tak jauh lebih dari simbol ibu berkebaya dan bersanggul. Tentu ia merasa nelangsa saat khalayak tidak lagi menghargainya atas apa yang ada di kepalanya. Padahal inilah hal yang juga selalu diperjuangkannya, agar seseorang dihormati bukan dari bagaimana ia tampil atau dari mana ia dilahirkan, namun dari apa yang ada di kepalanya dan apa yang diperbuatnya dalam hidup.”

Sore menjelang di kota Jepara. Kami semua menikmati perjalanan ini. Saat kami membaca tulisan-tulisan Kartini, mengunjungi tempat-tempat bersejarahnya, mendiskusikan pemikirannya, hingga membicarakan bagaimana orang memandangnya. Perjalanan hendak kami lanjutkan ke Pantai Bandengan, tempat di mana Kartini senang menghabiskan sore harinya. Matahari terbenam dengan indah di sana, begitu yang kami dengar. Jadi beranjaklah kami, menjauhi taman kota di depan museum Kartini itu. Menuju matahari terbenam di Pantai Bandengan.

Twosocks

Catatan ini adalah artikel keempat dari Seri Tur Kartini, inisiatif kolaborasi The Dusty Sneakers dan Pamflet, organisasi anak muda yang berbasis di Jakarta, untuk mengenal sosok dan pemikiran Kartini lebih jauh dengan melakukan perjalanan ke Jepara dan Rembang. Kumpulan catatan perjalanan Tur Kartini dapat diunduh di sini.

comment 0

Dari Sebuah Sudut Kamar di Jepara

Empat tahun dalam pingitan.

Sebagai anak yang terlahir dalam dekade 80-an, membayangkan berada dalam kungkungan tembok rumah tanpa sekali pun diperkenankan keluar sungguh berat rasanya. Satu minggu saja rasanya tak tertahankan.  Kartini harus menjalankannya selama enam tahun, mengerikan sekali.

Kami memulai Tur Kartini di ujung selatan rumah dinas Bupati Jepara, rumah masa kecil Kartini. Walau bukan tempat yang biasa dijadikan tempat wisata, Bupati Jepara membuka pintunya bagi pengunjung. Di sana pengunjung bisa melihat tempat Kartini dulu mendirikan sekolah untuk gadis pribumi dan tempat ia menuliskan surat-surat yang membuat namanya mendunia. Kami sudah pernah melihat foto-foto kamar tidur Kartini dan beranda tempatnya mengajar di salah satu buku referensi Tur Kartini, namun benar-benar berada langsung di sana tak pelak membuat saya merinding.

The Dusty Sneakers - Tur Kartini 1

Bayangan-bayangan Kartini kecil melesat di kepala saat saya melihat meja tulis dari kayu jati yang menghadap tembok di kamarnya. Saya membayangkan Kartini usia sepuluh tahun sedang tekun menggarap pekerjaan rumah dari Europhesche Lagere School, walau biasanya ia sibuk meloncat-loncat dan terbahak-bahak. Kebiasaan yang membuatnya dijuluki kuda kore di rumah. Terbayang Kartini menangis pilu, kepalanya tertumpu di atas meja dan bahunya terguncang-guncang, ketika melihat adik-adiknya pergi ke sekolah sementara ia gagal melanjutkan sekolah ke Semarang karena terjebak dalam pingitan di usia dua belas setengah tahun. Kemudian, Kartini yang sudah lelah menangis dan bertekad bangkit dari keputusasaan, duduk tegak dan membaca bertumpuk-tumpuk buku, majalah, dan koran dari leestrommel, kotak bacaan ayahnya.

Sejak pertama kali membaca Habis Gelap Terbitlah Terang di sekolah menengah dulu, saya bisa menghayati kenapa Kartini menyebut masa pingitannya “seolah hidup dalam neraka”. Saya dulu tidak habis pikir dengan keputusan ayah Kartini, Raden Mas Adipati Ario Sosrodiningrat, untuk memaksakan pingitan. Bukankah ayah yang begitu menyayangi putrinya tidak akan ragu mendobrak tradisi demi kemajuan dan kebahagiaan anak secerdas Kartini?

Baru setelah membaca referensi Tur Kartini saya bisa melihat bahwa ayahnya dihinggapi rasa bersalah. Ia pelan-pelan melunak. Ia ajak Kartini menghadiri acara pembaptisan gereja baru di Kedungpenjalin. Itulah pertama kalinya Kartini melihat dunia luar setelah empat tahun hanya menginjakkan kaki hingga serambi rumah. Sang ayah menuruti saran sahabat-sahabat Belanda-nya yang terkesan akan kecerdasan Kartini untuk membiarkan putrinya berlangganan majalah-majalah terbitan Belanda. Salah satunya De Hollandsche Lelie, majalah yang akhirnya menjadi tempat Kartini memasang iklan mencari sahabat pena. Melaluinya Kartini berkenalan dengan Estelle “Stella” Zeehandelar, nama yang begitu familiar di halaman-halaman Habis Gelap Terbitlah Terang. Akhirnya, sang Ayah mengakhiri masa pingitan Kartini walau belum ada laki-laki yang melamarnya. Setelah enam tahun, Kartini serta kedua adiknya diajak menghadiri upacara penobatan Ratu Wilhelmina di Semarang sebagai pertanda berakhirnya pingitan. Dengan caranya sendiri, Raden Mas Sosrodiningrat pun bergulat dengan tradisi Jawa.

Setelah lepas dari pingitan, Kartini semakin giat menulis. Bersama Kardinah dan Roekmini, ia menulis tentang isu sosial dan budaya untuk De Locomotief, harian terbesar di Hindia Belanda saat itu. Mereka menggunakan nama samaran Tiga Saudara dalam tulisan-tulisannya. Kartini juga menulis artikel tentang seni batik, yang kemudian diterbitkan menjadi buku pada tahun 1899.

Tur Kartini - 2

Meski demikian, waktu Kartini tidak hanya dihabiskan di balik meja belajar. Bersama Roekmini dan Kardinah, ia sibuk menjalankan cita-cita yang mereka bertiga bangun selama terkungkung di rumah. Ketiga saudari memanfaatkan koneksi ayah mereka untuk mempromosikan seni ukir Jepara dan meningkatkan kesejahteraan para pengrajin yang selama ini dibayar rendah. Kardinah dan Roekmini menyurati kawan-kawan mereka untuk menawarkan mebel dengan mode terbaru, lalu mengurus pemesanan kepada pengrajin dan melakukan pengiriman ke Batavia, Demak, Semarang, bahkan juga ke Belanda dan Jerman. Kartini turun tangan mendesain berbagai motif ukir, termasuk motif macan kurung yang kemudian menjadi ikon kota Jepara. Berkat upaya mereka, pesanan membanjir.

Terlepas dari kesibukan mereka menulis dan bekerja dengan pengrajin, ketiga saudari tetap merintis cita-cita utama mereka: memulai sekolah untuk gadis pribumi. Pada bulan Juni 1903, Kartini menerima siswi pertamanya. Selama empat hari dalam seminggu, dari pukul 8.00 hingga 12.30 siang, mereka mengumpulkan siswa-siswanya di beranda tempat mereka dulu belajar membatik dan mengaji. Selain membaca, menulis, menggambar, dan budi pekerti, murid-murid juga diajari merenda, memasak, menjahit, dan kerajinan tangan lainnya. Kartini menganggap bahwa keterampilan praktis penting untuk diajarkan, agar para siswi kelak mampu membiayai dirinya sendiri bila diperlukan. Sambil mengajar, Kartini pun memupuk cita-citanya sendiri untuk melanjutkan pendidikan keguruan.

Tur Kartini - 1

“Kartini bagaikan terbang setelah lepas dari pingitan,” saya bergumam saat kami beranjak ke beranda tempat sekolah Kartini dulu dilaksanakan. Beranda itu kini penuh dengan puluhan kursi yang disusun berderet-deret, menghadap ke sebuah meja besar dengan tiga kursi di baliknya. Menurut informasi dari salah satu staf, beranda ini kini sering digunakan untuk rapat PKK atau Dharma Wanita.

“Namun nasibnya sungguh malang,” bisik Twosocks. “Tak henti situasi di sekitar menekan segala idealismenya. Ia terpaksa batal bersekolah ke Belanda dan Batavia. Lima bulan setelah sekolahnya di Jepara berdiri, Ia harus pula menikah dengan Bupati Rembang yang usianya dua kali lipat umur Kartini. Satu tahun kemudian, ia meninggal.”

Kami semua terdiam. Nasib Kartini memang malang, namun sepertinya terlalu muram bila kami meninggalkan rumah masa kecilnya dengan mengenang kemalangan Kartini. Seolah membaca pikiran saya, Afra bertanya, “Seperti apa ya sepak terjang Kartini bila ia jadi bersekolah ke Belanda lalu meninggal di usia tua?”

“Oh, dia pasti akan jadi guru handal. Ia pun tentu akan mengusahakan semakin banyak sekolah untuk gadis pribumi di tanah airnya!” seru Indah bersemangat.

“Hmm, menurutku ia juga akan bergaul dengan banyak perintis perjuangan kemerdekaan di Belanda, atau malah dengan orang-orang partai sosialis Belanda yang menentang kesewenang-wenangan di Hindia. Tebakanku, Kartini akan menjauhkan diri dari politik etis dan ikut serta dalam gerakan kemerdekaan,” timpal Fani.

Kami meninggalkan rumah masa kecil Kartini, tempatnya dipingit sekaligus di mana ia merintis cita-citanya membangun sekolah bagi gadis pribumi, sambil terus berangan-angan tentang gebrakan Kartini bila ia dianugrahi umur panjang. Dengan semangat seperti yang dimilikinya, kami yakin hasil perjuangan Kartini akan jauh melampaui daya khayal kami.

The Dusty Sneakers - Tur Kartini - 1

Gypsytoes

Catatan ini adalah artikel ketiga dari Seri Tur Kartini, inisiatif kolaborasi The Dusty Sneakers dan Pamflet, organisasi anak muda yang berbasis di Jakarta, untuk mengenal sosok dan pemikiran Kartini lebih jauh dengan melakukan perjalanan ke Jepara dan Rembang. Kumpulan catatan perjalanan Tur Kartini dapat diunduh di sini.