Pria setengah baya penjual nasi goreng itu mengaduk-aduk nasi goreng dengan ketangkasan yang didapat dari pengalaman bertahun-tahun. Di lehernya tergantung handuk yang sudah kecoklatan. Pada handuk itu ia mengelap keringat yang sesekali bercucuran di dahi. Saya duduk memperhatikannya. Seorang pejalan yang cekatan dalam memainkan kamera tentu akan mendapatkan momen bagus untuk mengambil gambar. Dengan sudut yang tepat, sedikit edit sana sini, ditambah kata-kata yang menggugah, akan tercipta sebuah foto wajah kemanusiaan yang dapat menerbitkan haru. Akan tampak seorang bapak pekerja keras, yang menghidupi keluarganya dengan berjualan hingga menjelang tengah malam, dengan anak-anak yang mungkin bisa disekolahkan tinggi dari hasil tabungannya berjualan nasi goreng, dan yang dari mulutnya akan muncul kebijaksanaan seorang penduduk setempat yang ramah dan bersahaja. Pak Heru, begitu namanya, memang tak berkeberatan untuk sekadar omong-omong dengan pelanggannya.
Namun, seperti banyak hal lain, kenyataan sering tak seindah gambar yang ditampilkan.
Semua dimulai dari perbincangan tentang sebuah tanda di pintu masuk komplek perumahan di seberang gerobak nasi goreng Pak Heru. Saat itu menjelang tengah malam sedikit di pinggir kota Denpasar. Di depan komplek perumahan itu terpampang tulisan besar-besar, “Pemulung dilarang masuk”. Saya ingat pernah memperhatikan tanda larangan masuk kepada pengemis, pengamen, atau penjual MLM, tetapi larangan untuk pemulung sedikit baru untuk saya. Saya bertanya kepada Pak Heru apa ada alasan khusus soal ini.
“Alasannya gampang saja, Dik. Mereka tak enak dilihat. “
Jawaban yang membuat nasi goreng yang saya kunyah terasa hambar. Ia masih melanjutkan,
“Lagipula, Dik, ini komplek perumahan, hilang asrinya kalau banyak pemulung berkeliaran.”
Pikiran saya melayang ke wajah-wajah yang saya pikir tak enak di pandang dalam arti sesungguhnya. Saya katakan padanya wajah Fadli Zon, atau Fahri Hamzah, jauh lebih menimbulkan geram dibandingkan banyak pemulung. Cukup wajahnya saja, belum kalau mereka bicara hal-hal yang membuat saya kepengin mengayunkan tinju dengan membabi buta.
“Tapi mereka itu pejabat, Dik, ya beda.” Pak Heru masih menguji kesabaran saya.
Saya terbayang jika seorang pejabat betulan datang ke komplek perumahan itu. Tentu ia akan disambut baik, sedegil apapun ia, dengan barisan pegawai pemda yang membungkuk-bungkuk, barisan hansip, kelompok petugas dengan seragam batik lengkap dengan lagak penting dan HT ditangan, atau tari-tarian anak kecil yang kemudian mengalungkan bunga.
Pembicaraan berlanjut dengan Pak Heru yang berkata bahwa konon para pemulung sering mencuri di komplek perumahan. Saya katakan maling bisa siapa saja, tukang ojek, tukang nasi goreng, pemuda pengangguran, pemuda mata keranjang, penjual parfum, macam-macam. Kalaupun ada pemulung yang mencuri, kasihan betul mereka. Kesalahan satu orang harus ditanggung seluruh kelompok. Karena nila setitik rusak susu sebelanga. Mungkin karena terlalu banyak minum kopi sebelumnya, saya jadi sedikit merangsek dengan gusar. Saya katakan pemulung justru bisa bantu-bantu urusan sampah di Bali yang semakin kacau. Setiap hari lebih dari 10,000 meter kubik sampah dihasilkan dengan hanya kurang dari setengahnya yang bisa ditangani pemda setempat. Tempat pembuangan akhir Suwung sudah semakin tak terurus. Sampah menggunung semakin tak kuasa lagi untuk dipisahkan mana yang bisa didaur ulang mana yang tidak. Semakin lama gunung sampah semakin meninggi, menimbulkan bau dan penyakit.
“Sudahlah, Dik, lagi pula, pemulung-pemulung itu pendatang semua di sini.“
Baiklah. Ini sudah semakin tak masuk akal. Urbanisasi adalah masalah sendiri yang tidak lantas membuat pelarangan masuk komplek perumahan untuk mencari rezeki menjadi patut. Bahkan Pak Heru sendiri juga adalah pendatang. Bersama keluarganya ia datang ke Bali dari Pasuruan belasan tahun lalu dan menjadikan Bali rumahnya. Lokal, non lokal, pendatang, penduduk asli, memiliki batas-batas yang semakin tipis sekarang ini. Dan mengapa ini menjadi masalah betul? Bahkan hampir seluruh penduduk Bali pun pada sebuah masa adalah pendatang.
Saya membayar nasi goreng lantas pamit. Dari jauh saya memperhatikan Pak Heru yang sedang merapikan dan mencuci piring kotor. Dari jauh, ia kembali tampak sebagai sosok pria setengah baya yang bersahaja, pekerja keras, dan akan menimbulkan haru bila difoto dengan sudut, rekayasa gambar, dan kata-kata yang tepat.
Di perjalanan pulang saya membayangkan foto seorang pemulung tua, dengan kerut di wajahnya, luka busuk di kaki, mengais sampah yang menggunung, dengan keranjang sampah yang dipanggul hingga tubuhnya membungkuk. Sebuah foto berwarna hitam putih yang dibingkai indah dan ditampilkan di sebuah galeri foto yang sangat berkelas. Pengunjung datang dengan pakaian rapi, mengamati dan memberi komentar pintar tentang teknik pengambilan foto serta wajah kemanusiaan yang ditampilkan. Di sebuah galeri indah, di antara denting sampanye dan tawa genit, sang pemulung menjadi sebuah karya indah yang dikagumi.
Saya lantas membayangkan jika sang pemulung keriput itu betul-betul muncul di galeri tersebut. Dengan pakaian seperti saat di foto, tidak mandi seperti di foto, dengan bau sampah seperti di foto, dan luka busuk di kaki yang tidak diobati. Bagaimanakah sang pengunjung akan bereaksi terhadap wujud nyata karya seni yang baru saja dikaguminya itu? Apakah sang pemulung mendapat tempat di galeri itu hanya saat ia ada di dalam bentuk foto dan ide? Karena dalam wujud sebenarnya, ia terlalu tak enak untuk dilihat.
Saya duduk di jok belakang taksi memandangi lampu jalan yang berjajar-jajar. Lampu terkadang berlalu cepat, terkadang lambat, tergantung kecepatan taksi. Pikiran saya melompat-lompat dari wajah pak Heru, wajah pemulung tua, wajah Fahri Hamzah, dan segala konsepsi soal batas-batas kepatutan dan stereotip kelompok masyarakat itu. Malam menjadi panjang karena kopi yang terlalu banyak saya minum. Sayang saya tak punya cukup kemudaan dan kemarahan untuk mencabut larangan masuk untuk pemulung di komplek perumahan tadi.
Twosocks
Foto depan diambil dari karya Rikki Riswansyah ( Rozeki.deviantart.com)