comments 2

Memori

Alex dan Adam, kakak beradik tujuh dan lima tahun, bermain-main di kebun belakang penginapan. Dari balkon kayu di teras, saya melihat mereka berkejaran, berteriak-teriak, memanjat jaring-jaring di rumah kayu mainan, berjungkir balik, berguling-guling di rumput, dan saling tertawa. Pagi itu adalah akhir pekan saat Gypsytoes dan saya menghabiskan waktu di perkebunan Portibi di Cicurug, Sukabumi. Hampir setahun lalu, saat kami menemukan perkebunan ini, kami sudah menjadikannya tempat yang akan kami datangi lagi dan lagi. Gypsytoes sedang tenggelam dalam bacaannya pagi itu dan tak betul-betul peduli dengan apa yang hendak saya katakan. Jadi saya menyeruput kopi sendiri dan memperhatikan kakak beradik Alex dan Adam yang sedang girang bermain. Kami berkenalan dengan kedua bocah itu saat sehari sebelumnya berjalan kaki menuju air terjun Cicurug bersama mereka dan bapak ibunya. Seperti kami, mereka juga sedang menginap di perkebunan Portibi. Ini perjalanan ke tengah hutan yang ringan saja, tetapi untuk kedua bocah, tentu itu menjadi pencapaian yang luar biasa. Nick, ayah mereka, adalah pria ramah yang selalu memberi semangat untuk anak-anaknya. Usia Nick sudah tidak muda lagi, mungkin pertengahan lima puluh. Ia tampak berkeinginan besar untuk memiliki pengalaman ayah anak sebanyak-banyaknya dengan kedua bocah sebelum usia benar-benar menggerogoti. “Bagus sekali, Nak.” Katanya saat Alex berhasil memanjat sebuah tanjakan berbatu. “Ayo Nak, kau bisa!” Katanya saat si kecil Adam sedikit tersengal. Sekali waktu ia memanggul Adam di kedua bahunya. Alex dan Adam masih berjumpalitan, melompat, berteriak, berlari kesana kemari. Tak berapa lama Nick ikut bergabung. Nick tampak sudah selesai mandi pagi, tetapi ia tak keberatan untuk bergulingan di rumput dan berkeringat lagi. Alex dan Adam menyambutnya seperti dua anak monyet. Saya memperhatikan mereka, ayah anak yang setiap hari memupuk kenangan manis. Momen intim yang akan dikenang suatu hari nanti, saat Adam dan Alex telah dewasa dan Nick tidak lagi bisa berguling-guling semacam itu. Saya berpikir, seberapa terang Adam dan Alex akan mengingat momen-momen saat mereka berjalan ke hutan bersama Nick? Seberapa mereka akan mengingat detail tentang pagi saat mereka berguling-guling di kebun? Bagaimana ingatan bekerja untuk bocah lima dan tujuh tahun? Portibi Farm 1 Saya mencoba mengingat hal-hal yang saya alami saat berusia lima tahun, dan itu adalah gambar yang samar-samar saja. Muncul ingatan akan sebuah sore, saat saya mengalami demam tinggi, almarhum ayah membawa pulang sebuah mainan mobil yang bisa saya kendarai. Aih, betapa saya girang sekali waktu itu. Saya langsung mengendarainya kesana-kemari seolah demam tinggi itu cerita masa kemarin belaka. Dan benar, perlahan mobil mainan baru berwarna merah itu membuat demam saya hilang. Namun, terkadang saya bingung sendiri, apakah momen itu memang saya ingat seterang itu? Apakah ia bukan gambar yang saya ciptakan sendiri karena Ibu kerap bercerita tentangnya saat kami saling mengenang masa kanak-kanak dulu? Tak lama kemudian Howie, bocah tujuh tahun lain, ikut bergabung. Ia melompat, berteriak-teriak sesukanya, dan saling kejar bersama kakak beradik Alex-Adam. Nick sudah minggir, ia membiarkan dinamo-dinamo kecil itu bermain dengan sesamanya. Howie adalah putra pemilik perkebunan Portibi yang saya kenal sejak hampir setahun lalu. Soal Howie dan memori kanak-kanak, saya juga punya kisah. Terakhir kali saya di Portibi, kami kerap bermain bersama dan begitu lengket satu sama lain. Kami saling bercerita, bermain twister, dan menggambar bersama. Howie bahkan meminta untuk ikut mengantar ke stasiun kereta saat saya pamit dulu. Namun kemarin, ketika berpapasan lagi dengannya sesudah sekian lama, reaksinya biasa-biasa saja. Saat Gypsytoes bertanya apa ia mengingat saya, ia menggeleng. Saat saya bertanya lagi untuk memastikan, ia tetap menggeleng. Gypsytoes lalu menanyakannya apakah ia ingat akan Chicken-Man, tokoh pahlawan super yang kami karang bersama terkahir kali saya ada di sana. Mata Howie membesar. Ia ingat Chicken-Man, pahlawan super organik dengan senjata telur busuk dan pisau bulu ayam. Tapi ia tetap lupa siapa saya. Sial. Entah bagaimana ingatannya bekerja. Mungkin terlalu banyak tamu perkebunan yang datang setiap akhir pekan yang diajaknya bermain. Namun perlahan, saya dan Howie akrab kembali. Sore harinya, saat Alex dan Adam telah pergi, si kecil Howie tampak tak punya banyak pilihan. Hanya ada sebuah lapangan rumput, bola sepak, dan saya. Kami pun bermain bola satu lawan satu.  Ia bersemangat sekali. Walau tingginya hanya separuh tinggi saya, ia merangsek tanpa kenal takut. Permainan itu, dalam standar bocah tujuh tahun, menjadi begitu kasar. Sebagai ganjaran karena telah melupakan saya, ia saya bantai dengan telak. Empat belas gol untuk saya, dan lima gol hiburan untuknya. Sesudah permainan usai, saat kami duduk bersebelahan sambil minum, saya menggarami ego Howie yang terluka dengan mengejek kekalahannya. Ia kesal lantas berkata, “Tunggulah saat usiaku belasan dan kau sudah menjadi tua renta. Saat itu aku akan menggasakmu.” Ujar bocah tujuh tahun itu sengit. “Mungkin, “Saya menuangkan air ke gelasnya,” tapi sampai itu betul-betul terjadi, tetaplah ingat akan hari ini. Hari saat aku yang menghajarmu.” Ia menatap dengan tatapan yang merupakan campuran kesal dan senang untuk percakapan, permainan, dan pertemanan di sore itu. Gypsytoes bergabung dan memperlihatkan sebuah foto yang diambilnya tadi. Sebuah gambar saat Howie mencoba menggasak kaki saya dari belakang. Howie tersenyum-senyum malu melihat betapa ia bermain kotor. Portibi farm - Soccer with Howie Di sisa hari, saya dan Howie sudah akrab seperti dulu. Ia sudah merasa lepas untuk melompat dan bergelantungan di atas punggung saya. Entah apakah ia masih akan mengingat saya di kemudian hari saat kami berjumpa lagi. Entah berapa banyak gambar mendetail yang akan dibawanya saat ia tumbuh besar nanti. Mungkin ia akan melupakan sore saat ia bermain bola dengan garang, mungkin banyak keriaan yang akan menjadi gambar-gambar yang kabur belaka. Untuk Howie, Alex, dan Adam, setiap hari memberikan hal-hal baru yang datang dalam jumlah yang tak kira-kira. Di usianya, setiap hari adalah petualangan baru yang tak terbatas. Twosocks

Advertisements

2 Comments

  1. Pingback: The Blue Book Travels Too | The Dusty Sneakers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s