comments 21

Mendadak Road Trip

“Pesawatnya sudah terbang dari tadi. Mas sudah ditinggal.” kata penjaga gerbang kepada saya yang mematung tak percaya.

Pada sebuah masa yang tidak diinginkan, kalian akan melakukan kebodohan-kebodohan semacam ini. Saya menoleh ke samping, menatap Arip Syaman dengan sengit. Tentu ini bukan semata kesalahannya. Tapi sudahlah, menyalahkan Arip punya semacam efek terapis. Kami sedang transit di Makasar menunggu keberangkatan pesawat ke Mamuju, Sulawesi Barat. Diantara bercangkir-cangkir kopi dan obrolan sana-sini, kami tak sadar kalau panggilan untuk berangkat sudah berdengung-dengung. Bodoh sekali.

Saat itu, di siang yang terik di Makasar, kami tertinggal satu-satunya pesawat tujuan Mamuju. Padahal kami harus memulai sebuah pekerjaan di sana keesokan paginya. Satu-satunya pilihan adalah perjalanan darat dengan kendaraaan sewaan. Dan dimulailah perjuangan itu. Para burung nasar penyedia jasa sewa mobil di bandara Sultan Hasannudin menawarkan harga yang bikin kami naik pitam. Karena sewa kendaraan tak mungkin ditagihkan ke kantor, kami menjadi manusia-manusia kikir. Setelah memaki, memohon, menggertak, dan meratap, kami berhasil. Seorang bapak tua bersedia menjadi supir dan menyewakan kendaraannya dengan harga yang terjangkau. Jadi naiklah kami.

“Berapa jam kira-kira perjalanan ke Mamuju Pak?” tanya saya basa basi saat kendaraan mulai melaju.

“Paling lambat 9 jam lah. Paling cepat sekitar 12 jam.” kata pak Rusli sang supir yang uzur.

Ada sesuatu yang salah dengan bagaimana si Bapak tua ini berpikir.

“Bapak sudah sering ke sana?” tanya Arip mulai ragu.

“Belum.” katanya sambil lalu.Sialan betul.

Tentu dengan harga yang disepakati kami tak bisa berharap banyak. Seperti pak Rusli, mobil yang kami tumpangi juga berusia tua, dengan pendingin yang tidak bekerja, dan beberapa jendela yang tidak bisa dibuka. Beberapa kali kami juga harus menutup semua jendela dan menunduk jika sedang melewati patroli polisi. Kata Pak Rusli mobilnya berplat hitam jadi dilarang untuk disewakan. Saya coba menyarankan agar kami diakui sebagai saudara jauh saja. Pak Rusli menepisnya dan mengatakan tak mungkin ada yang percaya. Mungkin ia berpikir dirinya terlalu tampan untuk menjadi paman jauh kami. Polisi disini rakus minta ampun, kita akan dibuatnya melarat kalau ketahuan melanggar, begitu kurang lebih ia menambahkan.

Perjalanan ini agak panjang, dan saya bersama Arip Syaman, kawan yang selalu mengalami hal-hal ganjil. Tentu pernik-pernik perjalanan tidak akan berhenti di sana. Pak Rusli dengan semena-mena mengajak pula istrinya di mobil besama kami. Agar ia ada teman, begitu katanya. Sungguh ia bapak tua yang kurang ajar, tak hanya kami tak cocok dianggapnya saudara, kami pun tidak pantas untuk menemaninya sebagai kawan berjalan. Setelah lima jam berjalan sang istri mulai mabuk darat. Ia muntah membabi buta dan membuat kendaraan dipenuhi bau sangit. Saya dan Arip hanya tertawa-tawa miris. Untuk melengkapi semuanya, beberapa saat kemudian hujan mulai turun. Membuat kami ada dalam pilihan yang sulit, membuka jendela dan terciprat air atau menutup jendela dan membiarkan diri kepanasan diantara bau sangit. Kejutan terakhir adalah saat di tengah perjalanan Pak tua Rusli mulai mengantuk dan tak kuasa menyetir. Beruntunglah Arip adalah supir yang handal, ia maju ke belakang kemudi dan saya ada disampingnya sebagai penyemangat. “Just like the old days” begitu kata saya pada Arip. Dan kami terus merayap ke utara.

Terlepas dari hal-hal ganjil tadi dan bahwa kami harus melupakan rencana snorkeling sore itu di Mamuju, ada beberapa hal yang cukup menyenangkan. Dalam perjalanan menyusuri pantai barat Sulawesi ini kami sempat menikmati indahnya matahari terbenam bersama langitnya yang memerah. Di kejauhan kami melihat perahu-perahu yang tampak sebagai siluet. Saat pak Rusli tertidur di belakang dan sang istri juga tergeletak teler, saya dan Arip berbagi cerita, beberapa sedikit personal. Tentang kerinduan kami pada mendiang ayah masing-masing, tentang keinginan-keinginan kami saat tua nanti, tentang gunung-gunung yang ingin kami daki, dan banyak lagi. Tentu tak lupa kami berbagi cerita tak senonoh. Walaupun saat saya mulai membabi buta, Arip akan memaki saya, “Jaga mulutmu monyet! Tadi siang gara-gara mulut kotormu kita dikutuk sampai ketinggalan pesawat!” Dan kami terus berjalan, menyusuri pesisir barat Sulawesi. Sampai lewat tengah malam saat kami mencapai Mamuju. Kelelahan dan bau minta ampun.

Saya menulis catatan ini lima hari setelah perjalanan darat mendadak itu. Lima hari kami menjelajah wilayah Mamuju, Majene, sampai kota Pasang Kayu. Saat ini saya duduk menulis di Bandara Sultan Hasannudin menunggu pesawat kembali ke Jakarta. Arip duduk di depan saya dengan wajah yang walaupun lelah tampak berseri gembira. Ia rindu akan istrinya, begitu katanya. Manis sekali. Ini adalah perjalanan yang menyenangkan, sudah lama sekali sejak terakhir saya berjalan bersama Arip untuk urusan pekerjaan. Sejak kami menyusuri pantai-pantai timur Aceh seputar enam tahun yang lalu. Perjalanan darat dadakan lima hari yang lalu menjadi bumbu yang menyenangkan untuk reuni kami ini. Seolah mengingatkan saya, ini adalah perjalanan bersama sang Arip Syaman, bagaimanapun hal-hal ganjil tentu akan ada di dalamnya.

Twosocks, Oktober 2013

comments 14

Bali: When Enough Should Be Enough

“Saya tinggal 200m dari pantai Kuta. Saya ingat sebuah masa saat di malam hari saya hanya mendengar suara ombak yang sangat menenangkan di laut yang hening. Sekarang yang saya dengar adalah gerombolan turis mabuk yang berteriak f**k off! “ — Jering , musisi rock asal Bali

Gambar-gambar eksotis pulau Bali mulai menarik para pejalan nun di Eropa sana pada awal 1900an. Sebuah pulau kecil asing yang menggoda, dengan keseniannya yang indah, ritual yang misterius, dan penduduk santun yang tinggal di nirwana berpasir putihnya. Tahun 1969 saat bandar udara Ngurah Rai mulai dibuat, semakin banyak pejalan yang singgah di Bali melihat sawah-sawahnya yang berjajar rapi, merahnya matahari terbenam , atau khidmatnya perayaan Galungan.

Sekarang, hal-hal telah berubah.

Lonjakan turis dan modernisasi telah menggerus pulau nan elok ini. Turisme massal dan terpadu telah menggantikan turisme budaya yang dulu memashyurkannya. Setiap tahun di 700 hektar tanah dibangun hotel, restoran, dan perumahan baru. Jumlah kendaraan terus tumbuh tidak seimbang dengan daya tampung jalannya. Setiap hari 13,000 meter kubik sampah dihasilkan dengan hanya kurang dari setengahnya yang terdaur ulang. Konsumsi air dengan jumlah tak terkira pun menguras cadangan air Bali. Saat setiap penduduk lokal hanya mengkonsumsi 150 liter air perhari, turis di hotel-hotel menghabiskan 1500 liter per hari nya. Pengerusakan garis pantai terus meningkat dimana saat ini 437 km garis pantai pulau ini telah dalam keadaan rusak. Setiap tahun jutaan wisatawan lokal dan mancanegara menawarkan insentif ekonomi untuk Bali dengan mengorbankan lingkungan, budaya, dan masa depannya.

Turisme massal menempatkan pergerakan yang masif dan efisien dari para pengunjung di tempatnya yang teratas. Banyaknya pengunjung yang dijaring menjadi kepentingan yang mengalahkan kelestarian lingkungan, budaya, dan ekonomi lokal. Maka muncullah wajah murung Bali yang menjadi korban dari dirinya sendiri. Tumpukan sampah yang sungguh tak elok, macet dan polusi yang menghiasi wajah sehari-harinya, pedagang cinderamata di pasar lokal yang semakin sepi pengunjung terkalahkan oleh pusat-pusat cinderamata milik investor besar, sawah yang tak lagi terairi dan tergantikan bangunan hotel atau perumahan.

Dalam perjalanan ke utara Bali, seorang kerabat mengatakan ia telah menjual sebagian besar sawahnya yang telah kesulitan air. Harga tanah yang melambung tentu jauh lebih menggiurkan dari sawah yang tak lagi memberinya penghasilan cukup. Sungguh ironis karena sang kerabat dulu adalah ketua subak di desa asalnya di Tabanan, salah satu lumbung padi utama Bali. Pemerintah Bali mencoba mengerem pengerusakan dengan moratorium pembangunan hotel tahun 2011 lalu namun tidak kuasa menjalankannya secara konsisten. Masih banyak bermunculan hotel-hotel baru di wilayah selatan Bali yang semakin sesak termasuk hotel Mulia yang megah dengan 700 kamarnya di Nusa dua. Pemerintah Bali sendiripun masih kerap mengingkari komitmennya menjaga lingkungan termasuk dengan keluarnya ijin pengelolaan 100 hektar hutan mangrove Tahura oleh investor terlepas dari gelombang tentangan dari masyarakat sipil yang khawatir akan kerusakan lingkungan yang diakibatkannya.

Selain pengerusakan lingkungan dan kegiatan perekonomian yang lebih menguntungkan investor besar, turisme massal juga mengancam budaya Bali. Turisme massal membuat segala kegiatan disesuaikan dengan kebutuhan para pengunjung. Maka kita akan bisa melihat tarian sakral Barong yang kehilangan ruh nya karena harus tampil setiap hari memenuhi permintaan paket-paket tur. Jika dulu pengunjung harus pergi ke desa-desa menyaksikan pertunjukan tari pendet sekaligus berinteraksi dengan masyarakat lokal maka kini mereka bisa menyaksikannya setiap hari di hotel-hotel berbintang tempatnya menginap. Tarian sakral yang disesuaikan sedemikian rupa guna memenuhi selera pengunjung. Saat kemudahan pengunjung di tempatkan di tempat teratas maka rasa hormat terhadap budaya lokal pun akan perlahan berkurang. Kuta adalah simbol terdepan dari hilangnya penghargaan kepada nilai luhur Bali yang santun dan menjunjung rasa hormat. Jalanan Kuta yang selalu dipenuhi turis mabuk bertelanjang dada dan berteriak-teriak tak senonoh dan merasa bisa melakukan apapun semaunya. Atau sekelompok pejalan, lokal maupun mancanegara, yang dengan bangga mengenakan t-shirt bertuliskan, “I shit fat people”, atau “You’re fat but I’ll f**k you anyway”, yang menyampah dimana-mana, dan tetap disembah-sembah oleh pedagang pinggir jalan yang menggantungkan hidupnya pada uang dari manusia-manusia yang tak menaruh hormat ini.

Saya, seperti juga banyak pejalan lain, bukanlah seorang budayawan atau ahli manajemen pariwisata. Tapi tentu kita bisa melihat dengan mata awam bahwa ada sesuatu yang salah dengan bagaimana perilaku pariwisata di Bali dikembangkan. Sebagai sesama pejalan saya percaya kita memiliki tanggung jawab untuk memperhatikannya. Saat sebagai individu kita tidak memiliki kekuatan untuk memperbaikinya kita bisa membantu dengan tidak menjadi bagian dari masalah. Kita bisa membantu dengan berkunjung ke Bali dengan perilaku yang ramah terhadap keberlanjutan alam dan kelokalannya. Mengurangi sampah, menghemat penggunaan air, membeli cinderamata dari pedagang-pedagang di pasar tradisional, mencoba menyeimbangkan keuntungan ekonomi diluar Bali selatan, dan banyak lagi. Gaya perjalanan seseorang tentu berbeda dan itu sah-sah saja, beberapa gemar ke Bali hanya untuk menikmati hotel di wilayah selatan, minum tequila di Seminyak dan berdansa di pubnya. Ini pun tetap bisa dilakukan dengan bertanggung jawab, cari tahulah apakah hotel yang hendak ditinggali didirikan diatas tanah yang melanggar aturan jarak pantai dan bangunan atau dimiliki investor besar yang melanggar moratorium pembangunan hotel, atau oleh investor yang melakukan pembebasan lahannya dengan merugikan penduduk lokal. Dan dalam hari-hari di Bali ingatlah untuk mengurangi sampah dan konsumsi air.

Mempromosikan kegiatan berwisata di Bali yang ramah budaya dan lingkungan melalui media sosial dan sejenisnya juga bisa membantu. “It’s cool to travel responsibly” harus menjadi trend berikutnya dari trend jalan-jalan yang sekarang begitu menjamur. Para penggiat perjalanan bisa membantu dengan menginformasikan tips-tips menikmati Bali dengan cara yang ramah budaya dan lingkungan. Selera dan perilaku para pejalanlah yang banyak mempengaruhi rusaknya pariwisata Bali, maka selera dan perilaku para pejalan pulalah yang juga bisa membantu memperbaikinya. Kekuatan para pejalan terkadang memang begitu kuat, lihatlah tripadvisor yang bisa membuat restoran lokal yang tidak memiliki kekuatan pemasaran bisa mendapatkan pengunjung yang banyak sementara ulasan buruk para pejalan terhadap hotel terkenal dengan pelayanan buruk bisa begitu menghancurkannya. Masyarakat memiliki kekuatan yang bisa sangat besar dalam meluruskan hal-hal. Saatnya semua orang, para pejalan, masyarakat sipil, media, akademisi, masyarakat adat berkata kepada Bali, enough is enough, O my beautiful island, atau Bali akan menjalani takdir seperti sebuah kalimat tua di dunia para pejalan “no paradise has a future

Twosocks, Agustus 2013

comments 4

Cups Of Japanese Tea

Pagi itu saya dan Gypsytoes duduk bersebelahan di kereta yang bergerak menjauhi Kyoto. Kami berbicara hal-hal ringan dengan bahu yang saling bersentuhan. Tentang bunga sakura, teh Jepang, kisah-kisah Kenshin Himura, dan segala rencana dalam perjalanan dua minggu kami di negeri Sakura. Kereta masih melaju melewati barisan persawahan saat seorang ibu Jepang menghampiri kami. Ia menyodorkan sebuah lipatan kertas yang ternyata sebuah origami. Menurutnya itu adalah origami berbentuk kepala panda yang baru saja ia buat dan ingin ia berikan untuk kami. Cantik sekali. Tentu kami tidak memahami bahasa Jepang yang disampaikannya. Namun kami menebak-nebak bahwa ia memperhatikan kami, dua anak yang jelas datang entah dari mana, dan tergerak untuk memberikan sedikit sentuhan keramahan khas Jepang. Terharu rasanya mendapat kejutan kecil yang manis ini. Berkali-kali kami mengangguk hormat pada sang Ibu saat kami berpisah dengannya di stasiun Nara.

Dan begitulah, perjalanan dua minggu di Jepang dipenuhi ketakjuban akan mereka yang kami temui. Tentu kami juga terkagum-kagum akan keindahan alam saat berjalan kaki di pegunungan Japan Alps, atau saat duduk berselonjor di tepi sungai di Arashiyama, namun persinggungan dengan karakter-karakter orang Jepanglah yang begitu menyentuh kami. Mereka yang melakukan segala kesehariannya dengan kesempurnaan, disiplin, estetika, dan penghormatan. Bagaimana mereka memasak makanannya (Gypsytoes berkata mereka membuat setiap sajiannya tampak bagaikan puisi), bagaimana mereka menata rumahnya (selalu ada tempat untuk tanaman yang cantik dan sentuhan kesenian sesempit apa pun areanya), bagaimana mereka mengatur transportasinya (setiap bus dan kereta yang selalu tepat waktu. Tanpa kecuali), dan bagaimana mereka menjaga budaya bersihnya. Di Kyoto, Osaka, sampai kota-kota kecil seperti Kawagoe atau Takayama, bahkan di tengah hutan di Kibune dan Kamikochi, kami tidak pernah menemukan satu pun sampah yang berserakan. Betapa ini adalah negara dimana semua pejalan, dari mana pun asalnya, paling tidak sekali waktu dalam perjalanannya akan bergumam, “I wish they could do it this way back in my country

Saat di banyak tempat lain keramahtamahan sering berkaitan dengan harapan untuk mendapatkan tambahan tip, di Jepang keramahan menjadi keniscayaan. Ini adalah tempat yang tidak mengenal budaya tipping, namun setiap penyedia jasa selalu dengan penuh dedikasi berusaha memberi yang terbaik untuk pelanggannya. Mereka adalah manusia-manusia indah yang selalu dipenuhi senyum dan keinginan membantu. Mulai dari penjaga toko, pelayan kedai, hostel, petugas kereta api, sampai penarik rickshaw. Semua dilakukan dengan sangat terhormat, bersahaja, tanpa terlihat sombong namun juga tidak menghamba. Setiap kondektur akan menunduk hormat saat memasuki dan keluar dari gerbong kereta, penjaga stasiun dengan senang hati mengantar ke gerbong yang benar saat ia melihat kami kebingungan di stasiun, penjaga Ryokan dengan riang menawarkan kami jas hujan cuma-cuma saat ramalan cuaca memperkirakan hari akan berhujan, seorang ibu pemilik kedai memberikan kami biskuit penutup dengan cuma-cuma saat kami beranjak dari tempatnya. Saat kami menanyakan menu restoran di daerah perbukitan Kibune, sang penjaga menjelaskan dengan bersemangat pilihan makanan yang ia punyai. Ketika kami memutuskan untuk tidak memasuki restorannya, ia tampak sangat mengerti jika kami bermasalah dengan harganya. Ia kemudian memberi kami informasi lengkap mengenai restoran lain di sekitar sana yang sedang memberikan potongan harga untuk makanan sejenis yang sama enaknya. Manis sekali.

Orang-orang Jepang menjaga kesehatan tubuhnya dengan sangat baik. Kombinasi makanan yang sehat, disiplin, keteraturan berolah raga, dan semangat yang tak mudah padam. Di banyak tempat kami bertemu dengan rombongan pejalan yang berusia cukup lanjut. Bahkan di wilayah pegunungan Japan Alps. Kami berjumpa dengan banyak rombongan usia lanjut yang dengan gagah berani masih mendaki gunung. Beberapa bahkan berjalan seorang diri. Seorang kakek tua kami jumpai sedang menata perlengkapan kempingnya untuk mendaki gunung Yari. Seorang diri. Hanya dirinya dan alam. Di salah satu lodge para pendaki di Tokusawa kami bertemu dengan empat nenek-nenek yang akan melanjutkan pendakian keesokan harinya. Di malam sebelum pendakian mereka masih sempat berkumpul dan tertawa-tawa sambil minum sake. Mereka selalu terkikik girang, termasuk saat Gypsytoes berbagi tempat bersama mereka di kolam pemandian umum. Mereka terus nyerocos dengan riang kepada Gysytoes yang kebingungan karena tidak mengerti bahasanya. Empat nenek yang bahagia. Sungguh tidak ada lagi beban di pundak mereka. Mengenangnya membuat saya malu dan mengingat kembali bagaimana rewelnya saya menyalahkan usia yang mulai menua setiap kali saya tersengal kelelahan dalam pendakian gunung.

Kunjungan ke Jepang kali ini juga mempertemukan saya kembali dengan Sri, salah satu sahabat terlama yang pernah saya miliki. Saya mengenal dan mulai berteman dengannya sejak SMU hampir delapan belas tahun yang lalu. Pertemanan yang berlanjut di masa-masa kuliah saat kami sering bersurat-suratan di tahun-tahun yang penuh tenaga itu. Sejak delapan tahun lalu ia tinggal di sebuah kota kecil bernama Kawagoe bersama Sean, yang sekarang menjadi suaminya. Bersama-sama mereka mengajar bahasa inggris di sekolah dasar dan menengah setempat. Saya dan Gypsytoes sempat menginap tiga hari di rumah mereka yang mungil di kota kecil di wilayah Mie itu. Dan kami langsung menyukainya. Setiap malam kami berempat berbicara sampai larut malam sambil minum teh buatan Sean. Mengenai perkembangan kartun Jepang, program-program mengajar Sri, hal-hal yang terjadi di Indonesia, kenangan-kenangan masa lalu, orang-orang Jepang, atau kehidupan sehari-hari Sri dan Sean di sana. Kami begitu menyukai Sri dan Sean. Menyaluti keputusan mereka untuk pindah ke sebuah kota kecil entah dimana yang damai, mengayuh sepedanya setiap hari kesekolah untuk mengajar, pulang ke rumah mungilnya yang tenang, dan melakukan kehidupan sehari-hari bersama-sama cintanya. Ide yang sangat romantis, dan bahwa mereka benar-benar melakukannya, membuat kami teramat kagum.

Dua minggu di Jepang membawa saya dan Gypsytoes melihat perjalanan sejarah panjang, kisah-kisah dari restorasi Meiji yang menggetarkan, kuil-kuil yang menyimpan segudang kisah, pemandangan alam yang membuai, sampai karakter-karakter yang membuat kami terharu. Kami mengintip penganut Shinto yang berjajar tenang menunggu giliran berdoa di Ise, kami bermain di antara taman yang tertata apik di Nara, kami melirik para Geisha yang berjalan bagaikan kisah masa lalu di Gion, kami melihat putih salju puncak gunung Yari dari Kamikochi, kami menyelip di antara perumahan-perumahan yang cantik di Kyoto maupun Sirakawago, melihat hujan rintik sambil minum Mugicha di Kibune, dan menikmati indahnya persahabatan panjang dalam obrolan dengan Sri dan Sean. Dua minggu itu dipenuhi keriaan tak henti, Obrolan intim, cekikik riang, dan sendagurau saya dengan Gypsytoes, kawan perjalanan saya yang selalu antusias itu. Kami berjalan kesana kemari dengan rasa ingin tahu dan energi yang seolah tak kunjung habis.

Setelah dua minggu di Jepang kami berjalan pulang dengan kenangan indah dan rasa kagum akannya. Di Kansai Airport, Osaka, kami sekali lagi bersinggungan dengan keramahan orang Jepang. Saat itu kami bertemu seorang kakek tua yang ternyata juga seorang petualang. Ia kegirangan saat mengetahui kami akan menuju ke Indonesia. Ia berkata ia akan menuju Medan untuk berlibur di sana. Ia mengatakan betapa ia mencintai suasana Medan. Hiruk pikuk kotanya dan keindahan danau Toba selalu membuatnya ingin kembali. Ia juga menyatakan keinginannya untuk berjalan sepanjang Sumatera. “Beruntunglah kalian, memiliki Negara yang begitu indah” begitu katanya kepada kami berdua. Saya dan Gypsytoes berpandangan dengan takjub. Terlepas dari betapa Indonesia adalah negara nan indah, Medan bukanlah destinasi favorit kami di sana. Hari itu, di hari dimana kami terkagum-kagum akan indahnya Jepang, kami bertemu dengan orang Jepang yang menyatakan kekagumannya akan Medan. Sungguh perjalanan terkadang adalah kegiatan yang misterius. Para pejalan sering menyukainya dengan cara yang berbeda. Setiap tempat memanjakan indera pengunjungnya dengan cara yang berbeda. Menjelang memasuki pesawat kami berkata pada sang pak tua petualang betapa negaranya adalah sebuah negara yang indah dan betapa kami menaruh hormat akannya. Di pesawat menuju Indonesia saya dan Gypsytoes menonton sebuah serial kartun Jepang lama yang bercerita tentang seorang remaja putri Jepang yang bersusah payah meniti karirnya di dunia hiburan. Kami berdua tertawa-tawa bahagia melihat kelucuannya yang khas. Dengan bahu yang saling bersentuhan.

Twosocks, July 2013

image (40)

comments 19

Rinjani On My Mind

Jakarta sedang mendung di sore saat saya duduk di ruang kantor, dua minggu setelah kami mendaki Rinjani. Iseng saya mendengarkan kembali sebuah audio file yang beberapa hari lalu dikirimkan Gama. File berisi suara-suara burung hutan dan jangkrik. Gama menulis dalam pesan singkatnya, “The mountain wants us back..” Kenangan akan pendakian pun bermunculan. Puncak gunung, matahari terbit, ataupun suara-suara binatang hutan.  Sayapun memutuskan untuk sedikit memanjakan diri dengan segelas teh hangat, lampu redup, dan lagu-lagu  Billie Holiday. Ini suasana yang baik untuk berkenang-kenang. Dan itulah yang saya lakukan, membiarkan ingatan akan Rinjani mengalir. Gambar demi gambar.

‘It’s happening guys!’ seru Firman Tahar, kawan baru saya yang santun. Saat itu kami baru memulai perjalanan menyusuri savannah yang menguning di kaki gunung. Pagi yang penuh semangat untuk kami bertujuh. Kami sudah memimpikan Rinjani sejak berbulan-bulan sebelumnya, dan pagi itu saat puncaknya tampak  di depan mata, kami girang sekali. Rinjani adalah perjalanan yang dipenuhi kekaguman tak henti akan keindahan. Merahnya langit saat matahari terbenam, kelip bintang yang berserakan di malam hari, matahari terbit yang keemasan, perjalanan menembus negeri atas awan, danau Segara Anakan, hangatnya berendam malam-malam di sumber air panas, sampai padang rumput berkabut yang seolah ada di alam mimpi. “Amazeballs!!” Kata Irma, kawan mendaki saya yang mungil.

Rinjani juga adalah cerita tentang kawan-kawan perjalanan yang gigih. Sering saya melupakan bagaimana sebelum perjalanan dimulai tim ini sebenarnya cukup mengkhawatirkan. Kami bertujuh terdiri dari lima orang yang belum pernah mendaki sama sekali, ditambah saya yang masih dihantui cedera lutut dari pendakian Ceremai, serta Arip Syaman yang 15 kilogram lebih berat sejak pendakian terakhirnya. Namun keajaiban gunung membuat kami menapak perlahan dengan segar bugar. Irma, Firman, dan Gama tenyata memiliki ketekunan dan kebugaran yang luar biasa. Silvan, dasar Belanda, memiliki tubuh yang luar biasa jangkung. Setiap langkahnya seolah cukup untuk melangkahi puncak gunung. Lalu Simon, pria Swiss yang tampan itu, ia begitu muda dan gesit. Kemudaannya serta wajib militer tahunannya memberinya ketahanan yang sangat baik. Kebugaran rekan-rekan seperjalanan memberi pengaruh yang baik untuk semangat saya. Secara ajaib lutut saya baik-baik saja dan saya melangkah dengan riang. Namun di atas semuanya tentu saja ada Arip Syaman. Walaupun senantiasa tertinggal jauh di belakang, dasar anak bodoh yang keras kepala, ia terus berjalan dengan membabi buta melupakan berat badannya. Selangkah demi selangkah, menapak naik. Setiap kali kami menunggunya dengan khawatir dan berpikir ia mungkin terkapar entah di mana, ia akan muncul dari balik kabut, tersenyum dengan wajah pucat dan berkata, “Dude, I can’t feel my weenie”. Atau hal-hal sejenis itu.

Tentu diantara eloknya pemandangan yang kami jumpai, ini tetap adalah perjalanan tiga hari yang tidak ringan. Konon para pendaki Rinjani yang lebih berpengalaman selalu berpetuah, “Saat kalian putus asa di Rinjani, Ingatlah bahwa perjalanan masih jauh”. Kami semua pun memiliki masa-masa terberat saat keputusasaan menghampiri. Saat batas kemampuan kami diuji. Saat lutut atau nafas tidak selalu bisa diajak bekerja sama. Semua mencoba menanganinya dengan cara masing-masing. Gama, kawan kami yang berjalan dengan kalem, selalu berkata pada dirinya, “selangkah demi selangkah Gama, selangkah demi selangkah.” Dan tanpa terasa masa-masa putus asanya terlewatkan. Di antara nafas yang tersengal, di tanjakan berpasir menjelang puncak, saya yang berjalan kelelahan bersama Irma membatin berkali-kali, “Ayo sedikit lagi, we’ll beat the bastard!”. Saya teringat wajah Irma yang saat itu tampak pucat kelelahan. Tapi sungguh ia perempuan mungil berkemauan besar. Dari belakang saya memperhatikannya menyeret langkah menembus tanjakan berpasir. Selangkah demi selangkah. Penuh determinasi. Namun yang paling menganggumkan tentu saja Arip Syaman, saat ia putus asa ia memupuk semangat membayangkan wajah saya yang menghinanya habis-habisan jika ia gagal mencapai puncak. “Lebih baik gw mati daripada monyet Bali itu kegirangan mengina-hina” begitu pikirnya. Kekuatan pun secara ajaib muncul di kakinya untuk terus menapak puncak. Dan terus menapak. Dan berhasil. Saat matahari terbit di hari kedua perjalanan, kami semua mencapai puncak dengan riang gembira. Arip Syaman tentu saja sedikit berlebihan, ia bersujud syukur segala.

Obrolan-obrolan intim dan menyenangkan antar sesama pejalan juga adalah bagian terbaik dari setiap perjalanan. Diantara kopi hangat di Plawangan Sembalun, di pagi hari di pinggir danau, atau saat menuruni bukit berbatu. Ada pembicaraan mendalam yang kontemplatif, ada diskusi tentang Indonesia yang kami inginkan, ada nostalgia mengenai masa lalu, namun tentu saja ada gurauan-gurauan kotor yang mengasyikkan. Boys will be Boys. Irma, sebagai satu-satunya perempuan dalam pendakian kali ini beberapa kali berang jika kami berbicara hal-hal tak senonoh. Saat kami bercanda dan menyebut-nyebut alat kelamin, Irma mulai protes dan memasang wajah berang. Kami pun memberinya wejangan bijak, “Irma, jika alat kelamin yang dimaksud sudah dicuci dengan bersih, itu tidak lagi menjadi obrolan yang jorok.” Tentu Irma menjadi semakin dongkol. Simon pun terkadang mendapatkan komentar-komentar tipikal karena ke Swiss-an nya. Kami berkata padanya, “Hei Simon, kamu sejak kecil tentu sudah dicekoki coklat, dilatih menggunakan pisau, mengenakan jam tangan, dan bersikap netral dalam berbagai situasi.” Simon pun meloyor pergi sambil memaki betapa lemahnya tim sepak bola Indonesia.

Perjalanan ini juga merangsang spontanitas yang tidak diduga-duga. Saat kami berada di atas salah satu bukit yang memandang ke danau dan puncak Rinjani, Irma tiba-tiba naik ke salah satu batu dan mulai menyanyi. Ia menyanyikan lagu yang mengingatkan kami akan kekaguman kanak-kanak kami pada keindahan alam,

“..memandang alam dari atas bukit…
..sejauh pandang kulepaskan…”

Ia menyanyi dengan merdu, dengan tubuh tegak dan gerak tangan yang mengingatkan kami pada siswi SD yang tertib dan tekun. Kami semua tertegun dan menikmatinya. Ini adalah momen dimana alam tiba-tiba berhenti bergerak. Setelah ia selesai barulah kami tersadar, lantas merengek memintanya menyanyi lagi agar kami bisa merekamnya. Tentu saja Irma jual mahal.

Di hari ketiga, saat hari gelap, kami akhirnya menyelesaikan pendakian di desa Senaru. Arip menjadi yang pertama mencapai garis akhir. Luar biasa anak itu. Ia yang selalu tertinggal jauh di belakang saat mendaki, berlari bagaikan kerasukan setan saat perjalanan turun. Bahkan untuk menunjukkan superioritasnya, begitu sampai desa senaru ia membeli minuman di sebuah warung dan naik lagi menyusul untuk membawakan minuman manis untuk saya. Tentu saja sambil menghina betapa lamban saya berjalan. Sungguh, anak ini keturunan setan. Namun Firman Tahar lah pahlawan dalam perjalanan turun. Kakinya cedera karena kelelahan dan ia harus berjalan terpincang pincang di belakang. Di antara putus asa ia terus berjalan, melewati batasnya sendiri. Saat akhirnya ia berhasil mencapai garis akhir, kami semua bersorak-sorak kegirangan memberinya selamat. Ini adalah pendakian yang indah dan sukses. Dengan sisa-sisa kekuatan yang ada, kami merayakannya dengan berenang di pantai Senggigi saat matahari terbit keesokan paginya.

Kami meninggalkan Lombok dengan membawa kenangan yang Indah. Silvan dan Simon membawa kenangan akan sisi Indah alam Indonesia yang akan sulit mereka lupakan. Untuk Irma, Gama, dan Firman, selain begitu bangga akan kesuksesan pendakian pertama mereka, perjalanan ini juga adalah reuni bagi pertemanan mereka sejak di bangku kuliah dahulu. Dengan riang mereka bernostalgia tentang pentas tari yang mereka lakukan dahulu atau kebodohan-kebodohan khas mahasiswa mereka. Saya dan Arip pun tentu juga berbagi momen-momen yang sentimentil. Senang sekali rasanya menemukan diri menaklukkan Rinjani bersama-sama dengan sahabat belasan tahun saya ini. Sungguh ini adalah perjalan yang begitu membekas di benak kami. Senin petang, saat berjalan kaki sepulang kantor, saya memandang gedung-gedung tinggi di Jakarta serta langitnya yang tak berbintang. Perasaan gamang pun menghujam. Saya menghubungi kawan-kawan Rinjani dan kami semua berkesimpulan hal yang sama. Kami semua kangen gunung.

Saya memandangi kembali foto-foto Rinjani, memperhatikan wajah-wajah yang tersenyum cerah, memandang alam yang seindah puisi, dan membiarkan diri saya kembali menjadi melankolis. Saat lampu-lampu Jakarta mulai menyala berbaris-baris.

Twosocks, Mei 2013

Judul tulisan terinspirasi lagu dari Ray Charles, “Georgia On My Mind”