comments 4

We Guest Blogged for Indohoy!

We are very excited that our article on alternative ways to experience big cities are featured in Indohoy this week!

Dusty for Indohoy

Twosocks and I have been following the travel blog for a while and really enjoy the lively, opinionated writings of the dynamic duo behind Indohoy, Vira and Mumun. If you want to read about off-beat destinations in Indonesia and how to get there, you really should check out their site. When they announced on Twitter that they are welcoming guest bloggers, I immediately got in touch with them to see whether we could contribute a post as an appreciation of the awesome blogging they have been doing over the past few years. Vira and Mumun correctly guessed that we like cities and suggested us to write some tips on how to enjoy big cities, so we both brainstormed and come up with our favorite three alternative places that you can find in any big city: universities, urban art space, and parks. You can read the full article, called Feeling the Pulse of Big Cities, in Indohoy.

Read More

comments 8

When I Think of Cyprus, I Think of Blue

Whenever I think of Cyprus, I think of the color blue.

The bold, impossible to ignore blue of the sky in the coastal town of Limassol; a stark contrast against the blindingly white sands and stones in the Greek ruins we visited.

The bright blue of the woven Nicaraguan wrap-around skirt, which Ana lent and then let me kept, because the jeans I brought from wintry The Hague suddenly became too suffocating to wear.

The audacious blue door, an absolute showstopper, we encountered on our way to Limassol’s ancient castle and tombs.

The pale blue of my dress, worn while sipping the syrupy sweet Cypriot wine and playing charades in the hotel lobby with people who were strangers a year before, and has now felt as familiar as cousins who grew up together.

But most of all, I remember the blue water of Aphrodite’s Rock, speckled with white foam from the gently splashing waves. “This is the birthplace of Aphrodite, the Greek goddess of love, and therefore it has magical powers,” our driver told us. “If a woman swims naked in the cove, she will become a virgin once more, and any man who does it will be granted eternal youth.”

All of us laughed, the girls and the boys. “Why would any woman want to be a virgin again?” asked one of the girls. “Why assume we wouldn’t prefer eternal youth instead?”

“And why tell the story at all?” asked one of the boys. “It will be fairly easy for men to swim naked, but why assume any woman would be crazy enough to try that?”

The girls stared at each other and broke into laughter once more. The boys stopped laughing, catching the mischiveous glint in the girls’ eyes. All of us were itching to get into the water, either to just dip our toes or to swim with all our might, but to be children of Aphrodite or not, that was the question.

At that moment, I thought of a dandelion. It was as if we were its florets, individual strands that momentarily came together to create the beautiful wispy flower, but will soon enough be blown to all corners of the earth by the wind. We might not stay together that much longer, but at that moment, I was grateful that we had the chance to be together at all.

In the end, all of us ran into the welcoming arms of Aphrodite’s birthplace. We came into the sea in our jeans and dresses and bikinis, some dipped their toes while others let the water splashed all the way to their shoulders. As for whether any of us swam naked or not – well, I’ll leave that to your imagination.


Gypsytoes – of a trip in November 2010
It’s been three years, my dears, but it still feels like yesterday.

comments 15

Para Pejalan yang Tertidur

Kita tentu pernah berada dalam situasi itu. Saat titik tujuan seolah tak kunjung dicapai dan kursi bus atau kereta semakin terasa tak nyaman. Saat puncak gunung masih jauh  dan kaki sudah semakin tak kuasa diajak bekerja sama. Saat penerbangan berikutnya masih terlalu lama namun menginap di hotel adalah pilihan yang sungguh memboroskan. Saat itu kita tertidur. Di kursi kereta, di sembarang padang rumput di kaki gunung, atau di bangku-bangku bandar udara. Kita tertidur. Dengan wajah yang lelah dan posisi yang ganjil serta tak nyaman.

Beberapa peristiwa tidur di sembarang tempat, jika dipikir-pikir kemudian, adalah pengalaman yang berkesan. Gypsytoes dan saya sering tidur di bandara transit sebelum melanjutkan perjalanan keesokan paginya. Saat pagi-pagi terbangun biasanya kami masih sangat bersemangat karena petualangan baru saja dimulai. Tidur di bandara atau kereta malam juga kerap dilakukan demi penghematan. Namun beberapa peristiwa lain mungkin sedikit menyiksa. Gypsytoes tentu teringat saat ia harus menghabiskan malam di stasiun kereta di Brussels dalam perjalannya menuju Bratislava. Saat itu musim dingin begitu menusuk dan stasiun itu tidak memiliki pemanas udara. Itu adalah malam yang sungguh panjang untuknya.

Beberapa yang lain adalah pengalaman tidur dengan tanpa banyak ambil pusing. Kawan saya, Arip Syaman, punya banyak cerita semacam ini. Ia bisa tidur dimana pun. Kapan pun. Tanpa beban. Tanpa banyak pikir. Saya sudah pernah melihatnya tidur di mobil, pesawat, kapal laut, kereta, bangku taman, padang rumput, dan banyak lagi. Sebagian besar memiliki pola yang sama. Mata mulai sayu, memaki-maki jika mulai diganggu, mulut yang perlahan mulai terbuka, dan sayup-sayup suara dengkur mulai terdengar. Perlahan kemudian membesar. Dengan irama yang teratur. Sedikit liur terkadang ikut mengintip di ujung bibir. Dan jika kalian sial betul, ia akan mulai kentut.

Dimana pun. Kapanpun. Tanpa beban. Tanpa banyak pikir.

Apa pun jenis tidur sembarangan yang dialami – tidur putus asa, tidur kelelahan, tidur dalam posisi yang ganjil, tidur menganga – di sebuah masa yang jauh sejak saat perjalanan itu dilakukan, melihat kembali fotonya akan membangkitkan kenangan yang utuh akan perjalanan itu. Ia adalah bagian yang membuat keseluruhan perjalanan menjadi berkesan. Sampai sekarang Arip Syaman masih akan terkikik jika melihat fotonya yang terkapar di gunung Ceremai. Sampai sekarang kami pun mengingat perjalanan itu sebagai hari di mana Arip Syaman terkapar untuk kemudian bangkit kembali dan mencapai Puncak Ceremai dengan perkasa. Jadi walaupun saat itu kalian berpura-pura sebal ketika temanmu mengambil foto tidurmu, suatu hari foto itu akan berbicara banyak tentang keseluruhan perjalanan yang dilalui. Sejelek apapun wajahmu saat itu.

Dulu almarhum ayah saya pernah berkata, jika kamu melihat wajah orang yang tidur, kamu terkadang bisa lebih melihat sisi manusiawi dari sosoknya. Walaupun kamu membencinya dalam kondisi terjaga, mereka yang sedang tertidur cenderung tampak damai dan termaafkan. Kita seolah melihat sisinya sebagai seorang anak dari orang tuanya atau kawan bagi sahabat-sahabatnya. Wajah tidurnya seolah menunjukkan seseorang dengan segala cita-cita, ketakutan, dan perasaan-perasaan manusiawi lainnya. Ia adalah sesama kita sendiri. Oleh karena itu, dulu jika saya bertengkar dengan kakak saya, saya sering memperhatikannya malam saat ia telah tertidur. Saat itu saya akan mulai memaafkannya.

Selamat tidur, para pejalan yang lelah, persilahkanlah temanmu mengambil gambarmu. Sebesar apapun mulutmu menganga.


Arip Syaman, menjelang tengah malam di atas Kereta menuju Seoul.


Gypsytoes dan kaki-kaki yang menunggu pagi, KLCC.


Arip Syaman, saat pemandangan Selat Bosphorus begitu menggoda, beliau memutuskan untuk terkapar saja.


Rivan dan Apu dalam pendakian ke puncak Merbabu.

tidur9
Malam yang panjang di stasiun yang dingin

tidur13
Banyak hal yang bisa dimanfaatkan dari kawan seperjalanan yang terlelap. Dalam bus menuju Yokkaichi.


Terlelap di perkemahan penduduk Bedouin. Foto diambil kawan setenda yang baru saya kenal keesokan paginya.