comments 23

Dari Mochtar Lubis Hingga Arjuna Sasrabahu di Kineruku

Mereka yang mencintai buku-buku indah tentu pernah berkeinginan untuk suatu hari mendirikan perpustakaan. Rumah buku yang dikelola dengan bersahaja, di mana siapa pun boleh datang membaca, berdiskusi, merenung, dan jatuh cinta sekaligus terbakar dengki akan bagaimana para penulis hebat merangkai narasi dengan cara  yang tak ia pikirkan sebelumnya. Perpustakaan dengan bilik beraroma buku tua, teras dengan bangku yang diposisikan tepat di mana angin bertiup semilir, dan harum kopi yang menemaninya membaca. Saat khayalan ini dibiarkan semakin menjadi, maka akan terdengar pula cicit burung di sela-sela musik masa lalu dari pemutar piringan hitam tua.

Terberkatilah Ariani Darmawan dan Budi Warsito yang — tidak seperti saya semata-mata mengkhayalkannya– benar-benar mewujudkan mimpi romantis ini. Telah sepuluh tahun rumah buku mereka, Kineruku, berdiri di jalan Hegarmanah Bandung yang rindang. Perpustakaan yang menjadi rumah bagi empat ribu lebih buku-buku sastra, sejarah, seni, hingga filsafat. Buku-buku yang dikumpulkannya dengan penuh cinta mulai dari karangan-karangan Anais Nin, J.D. Salinger, Mochtar Lubis, Abdul Muis, dan banyak lagi. Tak hanya buku, sang pendiri dan pustakawan Kineruku ini juga penggemar film. Mereka tak berkeberatan membaginya untuk siapa pun yang hendak merayakan bagaimana film-film indah pernah dihasilkan. Di raknya saya melihat To Kill a Mockingbird dari tahun 1962 di mana Gregory Peck berperan sebagai Atticus Finch yang budiman, American History X di mana Edward Norton dengan garang menginjak kepala musuhnya dari belakang setelah sebelumnya si korban malang dipaksa tengkurap dengan posisi mulut menggigit trotoar, hingga Lovely Man karya Teddy Soeriatmadja yang membuat saya dan Gypsytoes hendak menangis saja saat menontonnya.

Kineruku adalah bangunan rumah tua yang dijadikan perpustakaan. Ia menyediakan referensi buku, CD musik dan film, sekaligus toko barang antik. Ada taman belakang yang kerap dijadikan tempat duduk membaca, omong-omong, atau menonton pagelaran musik akustik.  Gypsytoes terlihat seperti anak kecil yang antusias di sini. Ia mengobrak abrik koleksi Kineruku untuk kemudian duduk di bangku di taman belakangnya. Halaman di mana sesekali terdengar cicit burung itu.

Saya pun jadi ikut-ikut antusias. Yang saya temukan pertama adalah kumpulan cerpen Yusi Avianto Pareanom berjudul “Rumah Kopi Singa Tertawa”. Judulnya betul-betul menarik hati. Isinya juga sedap.  Ada kisah di mana sang narator merawat iparnya yang sakit kanker namun ia sendiri yang akhirnya mati duluan oleh ledakan tabung gas, ada pula seseorang yang teringat dosa masa lalunya di mana ia menggetok kepala anak buta, atau tentang penulis yang karyanya hendak diluncurkan namun sedang gundah karena bentuk tubuhnya sedang memalukan. Kisah-kisahnya ditulis dengan unik, ganjil, jenaka, sekaligus membuat tercenung-cenung. Mas Yusi ini sepertinya senang mengajak kita untuk jadi sedikit nyentrik.

Saya juga menemukan  buku berusia lanjut, Catatan Subversif, karya Mochtar Lubis. Buku yang berisi catatan harian wartawan pemberani itu saat 10 tahun berada dalam tahanan rezim Soekarno. Kertas buku yang menguning dimakan usia seolah menghadirkan kembali getaran emosi penulis saat ia dulu menuliskannya. Saat ia diseret dan dibenamkan ke balik jeruji rezim yang tak henti dikritiknya itu. Saya jadi ikut bertanya-tanya, apa ya yang dirasakan manusia di detik-detik saat ia mengetahui kebebasannya sedang dirampas? Apa ya yang benar-benar dirasakan sang pengarang, atau Hatta, Sjahrir, Pram dan semua pemberani itu saat pada sebuah masa digelandang ke dalam lembabnya penjara? Gentar? Was-was? Mochtar Lubis bilang, ia merasa biasa-biasa saja. Malah ia kepingin melihat bagaimana perlakuan penjara di masa pemerintahan yang baru ini. Ah, beliau ini bergaya sekali.

Saya memesan gelas kopi kedua dan pisang goreng yang disajikan di dalam piring tua seperti yang dulu dimiliki nenek. Saat itulah mata ini tertumbuk pada komik dari masa kanak-kanak dulu. Komik wayang Arjuna Sasrabahu karya R.A. Kosasih. Saya ingat malam-malam di masa kanak-kanak saat saya mengikuti kisah-kisah wayang dengan tekun. Kisah Arjuna Sasrabahu adalah salah satu yang membuat saya menangis tersedu. Saat Arjuna Sasrabahu, titisan Wisnu ini, harus gugur dengan menyedihkan ditangan pertapa petualang Rama Bergawa, atau saat Sukasrana, titisan Batara Dharma, yang berwajah buruk namun berhati mulia harus meninggal ditangan Sumantri, kakaknya sendiri. Saya ingat bagaimana dulu bersedih saat membacanya.

Siang hari hingga menjelang gelap itu, Kineruku, seperti halnya banyak sudut Bandung, membuat saya merasa tenteram. Ia membawa saya ke kenangan masa kanak-kanak dari komik-komik R.A. Kosasih, juga ke masa-masa  bergolak dari tulisan Mochtar Lubis, hingga karya-karya baru yang segar dan ganjil ganjil dari Yusi Avianto Paraneom. Di kursi di bawah pohon sana, saya lihat Gypsytoes juga sedang asyik sendiri dengan tumpukan bukunya. Wajahnya menampilkan raut yang muncul saat suasana hatinya sedang girang. Jadi saya biarkan saja dia di sana.

“Kenapa mukamu berkerut-kerut begitu?” tanya Gypsytoes malam itu di mobil tumpangan menuju Jakarta.

“Tidak apa-apa. Aku cuma berpikir, walau tak lagi sesejuk dulu, Bandung masih saja dahsyat ya? tadi aku senang sekali di Kineruku.“

“Terberkatilah geng Kineruku itu. Setiap ke Bandung kita akan geratakan di sana.”

“Tapi mau tak mau aku merasa payah juga,” ujar saya. “Pertama, mereka betulan mewujudkan ide bikin perpustakaan. Kedua, banyak sekali buku yang sudah mereka baca. Aku langsung merasa cetek.”

Gypsytoes menunjukkan gestur menghibur namun tidak membantah betapa saya ini cetek. Anak itu kadang suka cari gara-gara. Akhirnya dari pada nelangsa, ia meminta saya menceritakan soal Arjuna Sasrabahu dan kenapa dulu kisahnya sampai bikin saya tersedu-sedu segala. Jadi itulah yang saya lakukan. Saya tuturkan padanya kisah perang tanding dahsyat Arjuna Sasrabahu dan Sumantri, juga kisah Sukasrana yang membantu memindahkan taman dari kahyangan ke mayapada, hingga kisah gugurnya mereka dengan cara-cara yang membuat pedih.

“Ah, aku tak suka,“ katanya di akhir kisah. ”Si Arjuna Sasrabahu ini kerjanya petantang petenteng saja. Sementara Sukasrana, dia seperti anak obsesif yang gemar cari sial.”

Anak itu sialan sekali. Rupanya ia memang berniat cari gara-gara. Jadilah, sepanjang perjalanan balik ke Jakarta, ia saya diamkan saja.

Twosocks

comments 13

An Afternoon in Little Netherlands

It is fun to see a place in its liveliest hour, but it could also be pleasant to get to know a place when it is at its sleepiest. Last week, we wandered around the old town area of Semarang at one of its sleepiest hours: after lunch on a Sunday. Under the scorching afternoon sun, we walked around the colonial buildings and back alleys with only a handful of other people in sight. We could see why the area is nicknamed the Little Netherlands,  but the murals we stumbled into brought some modern-day flavors into the old town.

Read More

comments 7

Siang dengan Tan Peng Liang di Dalamnya

Siang itu Pasar Welahan di Jepara sedang ribut dan bikin keringatan dan kami masuk ke Kelenteng Hian Thian Siang Tee. Setelah putar-putar melihat tempat pemujaan, tempat meramal nasib, melewati patung biksu kocak yang ketawanya besar, saya duduk di bangku kayu di dekat patung Buddha emas, tak melakukan suatu apa, hanya melamun dan mengamati sekitar.

Read More

comments 3

On Hometowns and Hangouts

The old man nodded confidently when we asked whether he could take us to Jalan Progo, so we hopped into his becak and he pedaled us away from the cheese dim sums, fried mushroom with peanut sauces, and sausage fest in Jalan Braga.

For a few minutes, we silently enjoyed the cool Bandung evening breeze on our cheeks. It had been a long day, but a wonderful one. It was our first time participating in Wego Hangout, a gathering for travel enthusiasts organized by Wego Indonesia, and apparently we were in luck because it’s the first time the event is held out of town. Read More