comments 16

Mas Ninja dan Kawan yang Melihat Elang

Sore itu saya dan Arip Syaman duduk berdua merencanakan perjalanan ke Gunung Agung di awal bulan Februari. Ini akan jadi sedikit pemanasan untuk mendaki ke Kerinci dan Danau Gunung Tujuh di pertengahan tahun nanti. Arip Syaman, anak sombong ini, sedang sedikit berbangga diri dengan keberhasilannya mendaki Rinjani, Lawu, dan Ceremai di tahun sebelumnya. Fokus kenangannya adalah pada pencapaian puncak dan keberhasilannya mendahului saya saat menuruni gunung. Di sanalah fokusnya. Berat badannya yang sekarang sedikit menggembul dan segala ulahnya dalam pendakian sebelumnya seolah tidak dalam jangkau ingatannya.

Saya menyeruput kopi dan berkata padanya, “Ingatkah kau tentang seorang kawanku di Gunung Lawu kemarin yang nyaris pingsan kelelahan dan berhalusinasi melihat burung elang?”

“Monyet! Jangan kau mengingatkanku soal-soal begitu,” ucapnya gusar.

Namun begitulah adanya. Tak ada satupun kegiatan mendaki saat Arip Syaman turut serta di mana ia tidak berulah. Saat itu hari telah gelap di Gunung Lawu, saya dan tujuh kawan lain telah tiba di padang rumput tempat kami akan berkemah. Tenda telah didirikan, air telah direbus, makan malam telah siap disantap. Namun Arip Syaman tak kunjung tiba. Diantara dinginnya angin di gunung Lawu kami menunggu. Yue Man Lee, seorang kawan pendaki, mulai khawatir dan bertanya pada saya apa kami sebaiknya menyusulnya.

Saat khawatir mulai memuncak dan kami bersiap menyusulnya bayangan Arip Syaman muncul. Berjalan pelan, dengan tubuh penuh keringat di tengah udara yang begitu dingin, tampak begitu kelelahan lantas ambruk bagaikan rongsokan. Ia memulai ritual memaki-maki kami karena meninggalkannya di belakang bersama seorang pemandu saja. Tentu kami tak mempedulikannya. Kami sudah cukup senang dia berhasil sampai dan kami tidak usah repot menyusulnya. Ia pun terus merepet.

Setelah makiannya berhenti barulah kami mendapat cerita lengkap. Tadi Arip Syaman benar-benar kelelahan dalam berjalan lalu runtuh di sebuah tempat yang dipenuhi pohon-pohon kayu bekas terbakar. Ia telentang dengan mata berkunang-kunang. Saat itulah ia melihat burung elang yang terbang berputar-putar di atasnya. Terkadang burung itu terbang rendah seolah hendak menerkamnya.

Arip Syaman ketakutan. Ia mulai meminta Mas Ninja, pemandu kami, untuk membantunya mengusir burung itu. Tentu saja Mas Ninja diam tak bergeming. Arip Syaman semakin panik karena Mas Ninja tampak tenang-tenang saja melihatnya terkapar. Ia bertanya apakah mas Ninja tidak melihat burung itu. Yang ditanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak ada burung Elang di sana. Arip Syaman berhalusinasi belaka. Ia dibiarkan saja terlentang di sana sampai cukup kuat berjalan lagi.

Selain kisah elang Arip Syaman, pendakian Gunung lawu berjalan lancar dan nikmat. Kami mendaki melalui jalur Candi Cetho, bukan jalur Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu yang umumnya dilalui pendaki. Saat itu hanya rombongan kami yang berjalan melalui jalur Cetho. Karena itu heningnya hutan, tandusnya barisan pohon-pohon bekas terbakar, atau hijaunya padang rumput seolah kami nikmati sendiri saja. Rombongan saya kali ini lebih banyak dari biasanya. Ada delapan kawan yang ikut mendaki. Namun karena semuanya adalah pejalan yang cukup bugar dan gemar berbicara dan tertawa-tawa, perjalanan jadi semakin menyenangkan.

Kami semua sepakat, bahwa selain Arip Syaman, tokoh yang paling layak untuk diingat dari perjalanan Lawu adalah salah satu pemandu kami, Mas Ninja. Tentu nama aslinya bukan Ninja. Kami semua sepakat menyebutnya demikian karena ia mendaki dengan penampilan yang sangat serius. Pakaiannya serba hitam dengan sepatu boot tentara, celana penuh kantong, rompi penuh kantong, tas punggung, tas pinggang, sampai tas paha. Berbagai perlengkapan mendaki ia bawa di tubuhnya – tali, tongkat, berbagai pisau, obat-obatan, dan banyak lagi. Setiap kantong seolah menyimpan benda ajaib yang akan membantu pendakian kami.

Dengan segala penampilan hitamnya ini, ia begitu pendiam, selalu berjalan perlahan di belakang, memastikan semuanya terkendali. Saat Arip Syaman kelelahan pun, ia tidak banyak bicara. Ia tidak memberi semangat, tidak menginformasikan jarak, atau hal-hal semacamnya. Ia hanya duduk, menggeleng saat ditanya apa ia melihat elang, dan menunjuk arah kemana mereka harus berjalan sesudahnya.

Begitu hitam, begitu hening, begitu misterius. Bagaikan seorang Ninja.

Namun yang membuat kami mengingatnya untuk waktu lama adalah saat kami beristirahat di sebuah tempat saat kami berjalan turun. Saat itu matahari cukup terik dan Mas Ninja seperti biasa mengambil tempatnya sendiri untuk duduk menunggu. Hening seperti biasa. Di sanalah ia mengeluarkan sesuatu dari tasnya, sebuah tongkat hitam, seperti sebuah payung. Oh, ternyata itu memang sebuah payung! Mas Ninja yang misterius, yang membawa segala perlengkapan layaknya pendaki yang begitu berpengalaman, ia kepanasan oleh terik matahari di dekat puncak gunung. Ia berlindung dari panas dengan payung. Payung! Di Puncak gunung! Centil sekali. Kami tertawa melihat pemandangan manis ini dan menjadikan Mas Ninja tokoh yang sulit dilupakan.

Setelah semalaman berjalan kami berhasil menyelesaikan Lawu dengan lancar. Semua gembira walau agak lelah. Lawu bukanlah gunung yang sulit, namun pengetahuan ini justru membuat kami semua agak meremehkannya. Tak banyak persiapan fisik yang kami lakukan sebelum mendaki. Jadilah setelah pendakian selesai kami cukup kelelahan. Penerbangan ke Jakarta yang tertunda lama membuat kami yang kepayahan baru bisa mendarat di Jakarta lewat tengah malam. Namun untuk kami berdelapan , pendaki-pendaki yang normal-normal saja ini, tidak ada hal-hal istimewa yang kemudian terjadi. Keesokan harinya kami berkantor seperti biasa walau sedikit pegal masih terasa.

Namun untuk Arip Syaman, tentu cobaan tidak berhenti.

Jika setelah pendakian Ceremai terdahulu ia terkena tifus, kali ini ia mohon ijin dari kantor karena meriang yang berkepanjangan. Kami semua menggoda bahwa ia dikutuk penunggu gunung Lawu karena perbuatan tak senonohnya. Saat di Candi Cetho, menjelang pendakian dimulai, ulahnya telah dimulai. Di sebuah patung Lingga di Candi Cetho Arip Syaman berpose sedemikian rupa seolah-olah Lingga miliknya sebesar dan sekeras itu. Anak ini kurang ajar betul. Karenanya kami katakan padanya bahwa ia telah kena kutuk para penunggu Cetho. Arip yang malang, dalam meriangnya di pojokan kamarnya nun di Cileduk sana, pikirannya menjadi kacau. Tentu ia termakan godaan kami. Ia semakin menggigil.

Sore di bulan Januari itu, saya mengingatkannya lagi akan kisah-kisah Lawu itu.

“Monyet kau! Jangan kau mulai mengenang hal-hal begituan lagi. Ayo kita rencanakan gunung Agung saja untuk bulan depan!” sergah Arip Syaman murka.

Twosocks

Advertisements

16 Comments

  1. Fotonya keren-keren bangettt!
    Aku suka baca cerita tentang petualangan ke gunung. Pengennnn bisa mendaki gunung juga. But…but…but mesti latihan fisik dulu kayaknya.
    Secara udah bertahun2 olah raganya cuma mengunyah, hihihihi

    • Hola DebbZie! Ayo naik gunung! Kalau di Bali, naik gunung Batur paling gampang. Latihan ngunyah aja cukup harusnya haha. Ceritain ya kalau akhirnya memutuskan naik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s