comments 7

Banyak Kejutan di Sumba Barat!

Sumba Barat mengejutkan saya dalam beberapa hal. Pertama, bahwa ini adalah pulau yang berbeda dengan Sumbawa (ayolah, saya yakin saya tidak sendiri di sini. Pilihlah beberapa orang yang bermuka agak bodoh di jalanan Jakarta, 4 dari 5 orang diantara mereka pasti bahkan tidak tahu apakah Sumba Barat itu termasuk NTT atau NTB!) .

Kedua, berjalan di jalan-jalan pedesaan Sumba Barat sangat menyenangkan karena udaranya yang ternyata sejuk dan banyaknya warna hijau di sekitar (saya dan beberapa orang berwajah dungu tadi pasti berpikir bahwa semua tempat di NTT itu panas dan tandus minta ampun). Sungguh saya betah duduk mengobrol di teras balai kecamatan Lamboya yang tinggi dan melihat hutan-hutan di ujung selatan.  Apalagi saat itu di sana agak gerimis.

Jalanan desa sumba

Ketiga, di Sumba Barat banyak sekali anak kecil. Di sepanjang jalan pedesaan akan tampak anak kecil disana-sini. Mereka sepertinya bertebaran dimana-mana: sekedar berjalan, bermain, atau mengangkut air. Dan karena mereka anak-anak, mereka mudah sekali tertawa dan kerjanya kegirangan setiap diajak ngobrol. KB tampaknya agak terlupakan di sini. Kata salah satu penduduk desa dalam sebuah obrolan, di Sumba Barat ini udaranya dingin dan sering tidak berlistrik. Karena itu banyak diantara mereka tidak menemukan banyak pilihan lain selain bikin anak. Wah.

P6080052

Keempat, Sumba Barat ternyata memiliki masyarakat yang sangat bersemangat untuk berkesenian. Yayasan Kelola, sebuah LSM kesenian di Jakarta mencoba membangkitkan potensi budaya masyarakat di sini. Saya kebetulan datang dalam sebuah pertemuan masyarakat budaya di desa Bondo Tera. Waktu itu masyarakat desa di sana sedang membuat tim untuk mengidentifikasi dan menggagas bagaimana potensi budaya di sana bisa dikembangkan. Masyarakat desa dan kepala desanya tampak bersemangat dalam pertemuan itu. Siang sebelumnya, si kepala desa ini juga sangat bersemangat memamerkan saluran air desanya yang baru. Masyarakat Bondo Tera baru saja selesai bergotong royong membangun pipa saluran air dari gunung sehingga mereka tidak harus berjalan kaki naik turun lembah untuk mencari air. Sungguh ia bangga bercerita tentang keberhasilan penduduk di sana memasang pipa saluran di medan yang sangat berat. Selain bersemangat mereka juga sangat senang bernyanyi, hampir di setiap jeda antar pembicara akan ada kelompok penyanyi yang bernyanyi berbagai lagu Sumba. Salah satu yang bagus sekali adalah kelompok yang membawakan lagu daerah yang baru saja mereka ciptakan. Lagunya tentang kawan lama yang akhirnya pulang. Biarpun saya tidak mengerti satu katapun, tampaknya lagu ini adalah lagu yang menyentuh.

IMG_0297

Kelima, Sumba Barat punya rumah-rumah adat yang bagus dan terjaga. Tentunya dengan kuburan keluarga yang besar dan terpampang di depan rumah. Misalnya di desa adat Tarung di dekat kota Waikabubak. Di sini tinggal orang-orang suku Loli. Jalan kaki ke sana di pagi hari dan melihat-lihat sangatlah menyenangkan dan segar.

P6100032

Nah, berbicara tentang Sumba Barat, haruslah juga disinggung tentang Pashola. Tradisi Perang Lembing yang fenomenal itu. Pemuda-pemuda Sumba yang pemberani akan naik kuda dan main lempar tombak satu sama lain.  Sepertinya seru sekali.  Karena tidak pakai pelindung atau sejenisnya, permainan ini lumayan berbahaya juga. Terkadang ada yang luka parah dan pernah ada yang meninggal gara-gara kepalanya kena lembing. Setiap orang yang saya temui bercerita soal ini dengan begitu bangganya. Pashola dilakukan  di sekitar bulan Februari-Maret di Lamboya dan Wanokaka. Sayang saya tidak bisa lihat pemuda-pemuda pemberani ini karena saya di sana pada bulan Juni.

Courtesy of www.sumbabaratkab.go.id

Seperti perjalanan-perjalanan lain di Indonesia, perjalanan ke Sumba Barat membuat saya ingin melihat-lihat Indonesia lebih banyak lagi. Berbicara dengan lebih banyak manusianya dan mendengar bagaimana mereka melihat hal-hal di sekitar. Indonesia masih akan punya banyak sekali kejutan.

Jakarta, Agustus 2009

Twosocks – tentang sebuah perjalanan di bulan Juni 2009

Advertisements

7 Comments

  1. RutiKiju

    ever been to Flores?
    go ahead and try
    don’t forget to visit Lamalera for its famous whale hunt

  2. dustysneakers

    Hi Rutikiju, thanks for visiting our new blog 🙂
    we haven’t been to Flores yet. Kedengerannya fantastis ya di sana. But we don’t think we’re pro whaling. Tapi suatu hari kami akan ke Flores! Suatu Hari! (haha semangat benar). Trims utk referensinya.
    From one traveller to the other, see you on the road, mate!

  3. Alex Nanga

    sumba barat, lamboya!
    Memang indah budayanya, ramah penduduknya! Kapan bs pulkam?
    Lamboyaq tercinta!
    Gimana perkembanganmu skrg?
    Pasola, pajurra n msh byk lagi yg ingin kunikmati.
    Walaupun jauh dipelosok, disana aq dibesarkan.
    Spirit!
    Maju lamboya, tana paddu tana nyale.
    You can!

  4. Rambu Ririn

    bangga bisa jadi orang Sumba..

    Maju terus Sumba !!

    Kita bisa kok jadi yang terbaik..

    Hidup SUMBA !!!

  5. Kristoforus Bili

    Lamboya memang mantap! Tanah yang masih tak tersentuh oleh desas-desus kebisingan. Tapi, kemajuan menanti di depan mata, ketika para cendikia yang menorehkan penah dan menapaki jalan campus kembali menakar tiap ilmu tuaiannya. Semoga!!!

  6. Pingback: Banyak Kejutan di Sumba Barat – sumbabarat.info

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s