comments 9

Lubang Buaya: Tales of the Dead

Rencana saya untuk pergi ke lubang buaya menuai banyak kontroversi,

‘Ngga ah! Serem men! “ kata Biger Adzana Maghribi

‘Ngga ah! Isinya propaganda semua. Banyak  ngibul!’kata Ibnu Najib

Tapi akhirnya pada sebuah hari Minggu saya pergi ke sana ditemani Gypsytoes yang setia ngintil-ngintil. Terletak tidak jauh dari pasar Pondok Gede, di sekitar daerah Taman Mini, kompleks lubang buaya ini memang penuh kontroversi. Selain bahwa ada enam jenderal dan satu letnan yang dibunuh dan dibuat nyemplung ke sumur, cerita di sekitarnya masih misteri. Mulai dari siapa dalang sebenarnya, apakah para perwira itu sebenarnya disiksa atau tidak, sampai apakah para gerwani yang ada di sekitar sana pada malam berdarah itu sebenarnya nari-nari atau cuma plangak-plongok saja. Asvi Warman Adam, seorang peneliti LIPI pernah bilang, hasil visum cuma menunjukkan penembakkan dan tidak ada luka siksaan macam silet kemaluan atau sejenisnya. Dia juga bilang para gerwani tidak menari-nari di lubang buaya. Setelah kejadian itu mereka ditangkap, dibawa ke kantor polisi, disuruh menari, lalu dipotret buat propaganda.

Terlepas dari seberapa banyak fakta yang salah, saya pikir kompleks lubang buaya masih layak dikunjungi untuk mengingat bagaimana sebuah propaganda yang sedemikian terstruktur pernah terjadi di negeri ini. Pembunuhan besar-besaran yang terjadi setelahnya, keturunan PKI yang hak-hak sipilnya dihilangkan, guru-guru yang mewajibkan muridnya untuk menonton film G 30S PKI lengkap dengan tugas membuat  rangkuman, sampai saya dan sejuta anak ingusan di negeri ini yang selalu merinding ketakutan setiap mendengar cerita tentang PKI (jadi ingat filmnya dimana ada banyak darah, pertemuan tengah malam yang suram,  dan  tentunya bibir plus  kumis yang  keluar asap rokok, di zoom ekslusif, lalu berkata: Jawa adalah kunci!). Bukan Cuma PKI, bahkan  Soekarno pun  waktu itu saya yakini adalah bagian dari para penjahat. Museum ini merupakan bagian dari paket propaganda yang ngeri minta ampun.

Perjalanan dimulai dengan melihat-lihat gedung museumnya. Di sana ada diorama yang bercerita tentang munculnya PKI, pemberontakan Madiun, sampai tragedi 30 September.  Dipajang pula barang-barang milik para perwira seperti piyama dan seragam dengan bercak darah, surat Tendean untuk papi dan maminya, sampai tongkat golf Ahmad yani.  Juga beberapa hasil visum para jenderal, misalnya, milik Jend. Sutoyo (kalo tidak salah) yang tengkoraknya kena peluru sampai bolong. Oh, ada Juga potongan-potongan kliping Koran dari jaman itu yang cukup seram, contohnya sebuah judul berita yang bertuliskan seperti ini: ‘Bagi jang tidak perlu dibunuh, oleh mereka disediakan alat pentjukil mata’.

Satu hal yang mengganggu saya, semua informasi di sana lebih menonjolkan betapa PKI ini kejam dan kerjanya bunuh sana sini. Kurang sekali informasi tentang kenapa PKI muncul, apa yang bikin mereka besar, apa ide-ide nya yang bisa diterima begitu banyak warga Indonesia saat itu, dll. Inti dari deretan diorama dan segala pajangan itu adalah PKI itu kejam dan musti dibikin hilang. Lihat saja tulisan di pintu keluar meseumnya:

Dari gedung museumnya, perjalanan dilanjutkan ke sekitar sumur sempit berdiameter sekitar 75cm dan kedalaman 12m dimana ketujuh perwira itu dibuat nyemplung. Di sekitar sumur terdapat pondok –pondok yang dulu digunakan para pendukung PKI sebagai dapur umum, pos komando, juga tempat penyiksaan para perwira. Genteng-genteng sisa dari jaman itu masih ada di salah satu pondok. Di pondok penyiksaan terdapat manekin para perwira yang sedang disiksa. Pengunjung bisa melongok dan melihat manekin-manekin menyedihkan ini. Untuk memberikan suasana yang lebih tegang diperdengarkan suara orang-orang yang berteriak dan membentak-bentak diiringi musik dramatis. Tidak jauh dari sumur berdirilah monumen Pancasila sakti. Tujuh perwira berdiri di bawah burung Garuda. Ahmad Yani berdiri di tengah menunjuk ke arah sumur seolah-olah berkata: “di sana kami dibunuh”

Suasana di sekitar sumur dan monumen ini sebenarnya sejuk dan rindang. Banyak pohon besar di sekitarnya yang bikin saya betah ngobrol dan melihat orang-orang yang datang. Belakangan, seiring dengan mulai diragukannya kebenaran versi orde baru dari tragedi ini, orang-orang memang mulai jarang ke sini. Sudah jarang rombongan siswa SD yang datang melakukan study tour. Kunjungan ke sini memang harus digeser dari melihat kejamnya PKI menjadi untuk menghormati tujuh perwira yang gugur dan melihat bagaimana dalam sebuah masa, pemerintah melakukan propaganda dan menebar ketakutan untuk melanggengkan kekuasaannya.

Saat saya ngobrol-ngorbrol di sana, tiba-tiba angin bertiup agak kencang dibarengi beberapa daun yang gugur. Disitulah saya sadar bahwa sebentar lagi akan gelap dan suasana sudah sepi dan mulai menyeramkan. Saat kami berjalan pulang menyisiri pagar luar kompleks taman, tiba-tiba kami melihat sebuah manekin yang terikat di pohon di semak-semak samping empang. Suasananya jadi seperti ini: menjelang gelap, angin agak kencang, dan ada manekin terikat di empang. Sumpah, ini seram. Yang punya ide mengikat manekin itu di sana pasti sedikit sakit jiwa.

The Creepy Mannequin

The Creepy Mannequin

Dan kamipun pulang.

Sama seperti malam-malam tanggal 30 September di masa kecil saya, malam itupun saya ketakutan dan susah tidur.

 

Jakarta, 30 September 2009

Twosocks

comment 0

Ied in Den Haag

Take a wild guess about where these pictures were taken.

Photo courtesy of Rika Theo

At the Rawamangun terminal?

In Transjakarta?

In Transjakarta?

The answer is: neither one of them (um, I actually gave away the answer in the title of this entry, so if you couldn’t guess that, you have a problem, my friend!)!

For one day, all Indonesians in the Netherlands flocked and moved together in a neat choreography, like how the duck flew in a V-formation to the south. Our destination was one -the Indonesian ambassador to the Netherlands’ residence in Wassenar- and so was our aim –to celebrate the festivity of Ied al Fitr!

Photo courtesy of Octa Ramayana

Every year, the Ambassador hosted an all-day party to celebrate the Ied, where all Indonesians are invited to gather, eat for free, and in general make merry. This is the cherry on top of the warm gesture our Embassy in Den Haag extends to us during Ramadan, the fast-breaking dinner party on every Friday.

The Ambassador and the Embassy reps

The Ambassador and the Embassy reps

Needless to say, these events were the highlights of the week for Indonesian students. Where and when else could we feasted on our local state of the art cuisine like opor ayam or rendang for free and for such an excellent quality? We were the envy of our fellow international students all month, for no other embassies ever hosted such occasions. Some of them even felt so curious, they decided to come with us and become honorary Indonesians for the day, like our friends Wendy from Costa Rica and Yoko from Japan!

Can you spot a Costa Rican and a Japanese?

Can you spot a Costa Rican and a Japanese?

But seriously, the delight of free food aside, there was real joy to be found in celebrating the Ied together with people from your homeland. Although I am not a Moslem, I too celebrated Ied. At home, it was a celebration with your dearest friends who are mostly Moslems. This time, in my temporary home for the next year, the Ied celebration gifted me with the realization that I have a family even in the other hemisphere of the globe. And it was a nice gift indeed.

Den Haag, 28 September 2009

Gypsytoes

comments 2

Stories of the Quiet Pulau Rubiah

Photo courtesy of Gypsytoes

Yes, you’ve guessed correctly. This note is indeed about a place in Aceh, in Sabang to be exact. Sabang has been thriving as a getaway destination since the tsunami, so much that the place looks and feels like the video clip of ‘I’m Yours’ by Jason Mraz: a laid back haven full of people from a cocktail of nationalities. It is of course all well and nice, but there are parts of Sabang that are so quiet and rich of stories that might escape most people’s attention. This post is about one such place, a petite island that is most often a day-trip hop for snorkelers staying in Iboih but deserves to be a place to stay in its own right: Pulau Rubiah.

It was very quiet when we arrived. There were only three immensely tanned foreigners sitting in the only eating shack in the island, where the caretaker family also lives. The island is so small, there is only one family living in there, the family of Bapak Yahya and Ibu Amansari. They greeted us warmly with lunch, the key to our cottage, and a bunch of messages wrapped in stories.

The local legend says that the island was originally created by the Gods as an escape for Lady Rubiah and her dogs from her evil husband. They took pity on her woes, so they graced the place with astonishing sea gardens, with corals and fishes of every colour swimming here and there. The Gods also created a hidden cove in the back of the island, where the sand is soft and wonderful to bathe in, for days when she chooses to have her head above water. But still, the evil husband must be kept away, so the Gods put a lot of sharks and sea urchins (or what Indonesians call bulu babi) to keep him at bay. That’s the first message: beware of the sea urchins, although the sharks are no longer here.

Photo courtesy of Gypsytoes

The beauty of Pulau Rubiah also attracted the Dutch colonialists in the 1800s, but the remote location and the sharks disqualified it from being a leisure site. They came up with another idea instead: making the entire island a mental ward. The beauty of the place is therapeutic, they argued, and the isolated setting will enable them to roam freely without hurting anyone. The ruins of the tall colonial asylum can still be seen until today, and that may also be the case with the patients’ ghosts. That’s message number two: if you’re bored with snorkeling and swimming, there are the ruins to see.

Photo courtesy of Gypsytoes

Fast forward a couple hundred years, the Dutch is gone but peace in Aceh was still a work in progress. When the Helsinki memorandum was signed in 2005, the whole world cheered. Two foreigners from the Aceh Monitoring Mission then decided to celebrate peace in Aceh by building a wooden cottage, the biggest one in the island, as an economic facilitation project for Bapak Yahya and Ibu Amansari’s family in Rubiah and the local community in the Iboih village, 10 minutes away by speedboat. The cottage is named Anak Peneudden and was finished in December 2006. It has been a place where joys were found and memories were made ever since, as those who stayed there testified in the guest book. That’s message number three: don’t forget to fill in the guest book!

Photo courtesy of Gypsytoes

Resources are scarce in the tiny island of Rubiah, so the lights and electricity are only available in the cottages and restaurant from 6 to 12 PM. Wait, that wasn’t a story – just a plain, old, straightforward final message.

After those stories and messages, what else could we do but finish our meals quickly? There was so much for us to explore in Pulau Rubiah!

Jakarta, 21 August 2009

Gypsytoes – of a trip in February 2009

comments 6

Dilarang Bermain Kartu di Bandung

Dikelilingi buku itu selalu menyenangkan dan membuatmu merasa sedikit lebih pintar. Bahkan untuk saya yang sehari-harinya, menurut beberapa teman dekat yang cukup bosan hidup, agak penuh kekurangan. Karena itulah setiap mencapai halaman terakhir sebuah buku, hidup rasanya tidak terlalu kacau. Dan Bandung, kota yang selalu ramah itu, juga sangat ramah bagi mereka yang senang untuk sekedar duduk dan membaca.

Pagi-pagi sekali di hari Sabtu lalu saya dan Gypsytoes pergi ke Jl. Siliwangi Bandung tepatnya di dekat perempatan Ciumbeleuit. Reading Lights ada di pojokan dekat pasar di sana. Toko buku bekas, perpustakaan, dan kafe kecil ini sangat ramah dan nyaman. Mereka bahkan punya pisang goreng yang enak betul. Tentu pisang gorengnya bukan bagian terbaik dari Reading Lights. Di lantai dua, mereka punya area membaca yang membuat kami betah bukan main. Suasana rumahan yang akrab langsung terasa begitu kami masuk ke area ini. Dari rencana awal kami yang cuma hendak sarapan dan membaca sebentar, sebelum melakukan perjalanan normal kota Bandung: wisata kuliner dan belanja, akhirnya kami duduk di sana dari pagi hingga menjelang sore. Bangunannya yang tua dengan desain dan furniture yang sejuk membuat kami betah untuk berlama-lama membaca. Di sini pun sering menjadi tempat komunitas penulis kota Bandung berkumpul untuk bertukar tulisan dan berdiskusi. Saking ramahnya, di sini terkadang menjadi tempat berkumpul komunitas merajut!! Satu yang agak kurang dari Reading Lights adalah koleksi bukunya yang masih terbatas, kebanyakan fiksi roman dan hanya sedikit buku non fiksi yang menarik. Tips bagi pengunjung Reading Lights yang tidak suka fiksi roman: bawalah bukumu sendiri, pesan pisang goreng plus susu coklat, dan duduklah di  area membacanya. Kebetulan sekali saya dan Gypsytoes waktu itu membawa buku kami masing-masing. Pagi menjadi sempurna.

Oh dan satu lagi, reading area-nya juga punya board games yang akan bikin kalian tambah betah berlama-lama. Saya dan Gypsytoes sempat bermain scrabble di sana. Dan biarpun saya curang setengah mati, saya tetap kalah telak.

Keesokan paginya kami naik sedikit ke Dago Pakar dan menemukan sanctuary lain bagi mereka yang suka duduk dan membaca. Kafe Selasar di Selasar Sunaryo Art Space. Kalian yang agak berseni mungkin sudah akrab dengan tempat ini. Dulunya ini dibikin oleh Pak Sunaryo untuk memamerkan karya-karya patung dan lukisnya. Beliau ini konon seniman Bandung yang lumayan kondang . Dari tempat pameran karya pribadi, Selasar Sunaryo berkembang menjadi rumah bagi kesenian kontemporer, pameran lukisan, patung, workshop kesenian, pagelaran seni, dan semacamnya. Selain punya ruang-ruang pameran dan taman untuk workshop, mereka juga punya amphitheatre!

Dan pagi itu, saat Selasar Sunaryo sedang agak sepi, selasar kafe benar-benar menjadi bagian terbaiknya. Kafe teras ini benar-benar menjadi sanctuary untuk duduk di bangku-bangku kayu di bawah pohonnya yang rindang. Menenangkan sekali untuk minum teh longan, membaca, atau melamun melihat pemandangan perbukitan Bandung di ujung sana. Di sore hari kita bahkan akan bisa melihat matahari terbenam dari teras ini. Sebagai bagian dari kompleks kesenian, Kafe Selasar mencoba untuk terus merangsang pemikiran kreatif dari mereka yang datang. Di setiap bangku kayunya ada tulisan seperti ini: “Kami bangga bila anda tidak bermain catur atau kartu, dan lebih bangga bila anda memanfaatkan ruang ini untuk membaca, diskusi, serta kegiatan-kegiatan santai lainnya.” Jadi itulah yang kami lakukan, membaca dan berbicara-bicara.

Jadi jika pada suatu akhir pekan kalian terlalu bokek untuk berbelanja dan tidak sempat menipu uang teman kalian, jangan batalkan perjalananmu ke Bandung. Bawalah buku dan teman dekatmu. Pergilah ke Bandung untuk duduk membaca dan bicara-bicara.

Twosocks, Agustus 2009