comments 8

India: When We Were Back on the Road!

Hampir setahun sejak saya dan Gypsytoes bertualang sendiri-sendiri. Ia berjalan dan menari di pojok-pojok Eropa yang eksotis sementara saya melihat matahari terbit di sudut-sudut Indonesia yang masih selalu memberi kejutan.  Namun pada sore yang sejuk di awal bulan Agustus, kami bertemu kembali di sebuah tempat di selatan India. Gypsytoes tampak berdiri menunggu saat saya keluar dari terminal Bengaluru airport. Dengan rok selutut, anak ini tampak manis. Wajahnya pun terlihat sedikit lebih dewasa sejak terakhir saya melihatnya. Sungguh kami kegirangan bisa bertemu kembali. Kami berpelukan sampai berputar-putar segala. Sepuluh hari di awal Agustus itu, di Bangelore India, kami kembali  berjalan bersama.

Bangalore adalah salah satu kota metropolis utama India dan sebagai kota eksportir utama produk IT ia disebut the Silicon Valley of India. Namun jangan lantas terbayang sebuah kota ultra modern dengan fasilitas dan penampilan yang mutakhir. Berjalan di sebagian besar jalanan utamanya membuat kami ditarik ke sebuah era di akhir tahun tujuh puluhan.  Para pria berjalan dengan kemeja dan celana ciut brai seperti Roy Marten dalam film ‘Romantika Remaja’, iklan-iklan di jalanan mengingatkan kami pada iklan pepsodent jaman sekolah dasar dahulu, dan tata tamannya akan membuat orangtua kami teringat masa muda saat mereka berpacaran. Seperti halnya setiap perjalanan, maka tempat baru, orang-rang baru, kebudayaan baru, selalu adalah hal yang luar biasa menarik. Bangalore memiliki sejarah kebudayaan berabad-abad, salah satu pusat tari dan musik klasik India, rumah dari banyak pemikir India dan segudang intelektual muda. Di kota yang sejuk ini, setiap hari adalah petualangan yang menyenangkan.

Everyday Bangalore

Seperti yang pernah saya katakan, berbicara dengan Gypsytoes selalu menjadi bagian terbaik dari setiap perjalanan dengannya. Setiap hari kami berjalan menyusuri jalanan Bangalore dan tak henti bicara-bicara. Mengenai petualangan-petualangannya setahun terakhir, soal-soal yang terjadi di tanah air, riset yang sedang dilakukannya di India, juga hal-hal intim mengenai orang-orang yang kami sayangi, atau sekedar hal-hal ganjil yang terjadi pada Arip. Kami mengobrol sambil minum teh yang luar biasa di infinitea di Cunningham Road, di sepanjang Church Street yang padat, di antara buku-buku murah yang memabukkan di Blossom Book House, di bangku taman yang rindang di Lalbagh, atau sekedar obrolan ringan sambil sarapan saat kami sama-sama belum mandi. Bangalore yang juga memiliki sebutan City of Gardens memang selalu memberikan ruang untuk mereka yang senang untuk duduk, berbicara, atau melamun. Diantara jalanannya yang padat berhimpit, taman-taman kota tersebar di sana. Dua yang terbesar adalah Lalbagh dan Cubbon Park. Setiap hari kita akan melihat sekumpulan orang yang bercengkerama, perempuan dengan saree yang anggun bersama pasangannya yang dimabuk cinta, tuna wima yang tertidur, atau orang tua yang sekedar menyendiri melamun. Kami bahkan mengunjungi Brindavan Garden,sebuah  taman di Mysore, kota tetangga Bangalore. Taman yang hijau luas dengan tata letak yang indah. Taman ini mengingatkan kami pada film-film romantis Bolywood, di mana pasangan yang jatuh cinta menari dan menyanyi di antara pohon taman yang rindang, air mancur, dan bunga yang bermekaran. Sungguh menyenangkan duduk di bangkunya sambil minum masala chai, teh kayu manis khas India.

Dance it out!

Dan tentunya, setiap kota di India termasuk Bangalore dipenuhi kuil-kuil Hindu. Pura Siwa di Shiv Mandir dengan patung Siwa nya yang menjulang sampai pura-pura kecil semacam Muthyalamma Temple. Sungguh menyenangkan untuk memperhatikan mereka yang mempraktekkan Hindu dengan cara yang khas dan berbeda dari di mana saya berasal. Bentuk bangunan, pakaian, atau tata pemujaannya. Pendeta di Muthyalamma pun tampak senang melihat saya yang datang dari jauh. Ia berkata bahwa ini pasti buah karya para Dewa atau semacamnya lalu mengundang saya berdoa di sana. Saya bahkan diberkati dengan tanda merah di jidat. Kami sempat pula mengunjungi Iskon Temple yang megah. Ada sedikit kejadian lucu di kuil para penganut Hare Krishna ini. Saat itu para peziarah cukup banyak dan kami terhimpit dalam sebuah antrian menaiki tangga ke tempat pemujaan utama. Yang kemudian baru kami sadari adalah bahwa kami harus melafalkan doa Hare Krishna di setiap ubin dan anak tangga yang kami injak. Kami tidak bisa mundur lagi dan mau tidak mau harus berjalan perlahan bersama kerumunan dan melafalkan doa tersebut.

Hare Krishna Hare Krishna, Krishna Krishna Hare hare. Hare Rama Hare Rama, Rama Rama Hare Hare.

Benar-benar di setiap ubin! Tidak kurang dari tiga puluh menit dan tidak kurang satu ubinpun! Untuk beberapa hari ke depannya doa itu terus terngiang di kepala kami.

Devoted Souls

Bangalore juga rumah bagi mereka yang berkesenian. Salah satu yang sangat berkesan adalah Ranga Shankara, sebuah komplek kesenian semacam Salihara di Pasar Minggu. Tempat pertunjukan teater ini memiliki filosofi a play a day, artinya sepanjang tahun kita akan melihat lebih dari 300 pertunjukan! Hebat sekali. Mereka bahkan punya panggung teater untuk anak-anak. Kami sempat menonton pertunjukan berjudul Ms Meena, kisah aktris terkenal india yang pulang ke kampungnya yang melarat. Kami langsung menempatkannya sebagai salah satu pertunjukan teater favorit kami. Pertunjukannya dipenuhi gerak tari dan lagu yang ekspresif, kisah yang kuat, percakapan yang lucu, dan twist yang mencengangkan diakhir.  Walaupun disampaikan dalam bahasa Inggris, tentunya beberapa kali adegan juga diselingi dengan lelucon dalam bahasa lokal. Saat itu kami hanya akan berpandangan linglung melihat orang-orang India yang tertawa kegirangan di sekitar kami.

Sepuluh hari saya menghabiskan waktu bersama Gypsytoes di Bangalore. Setelah hampir setahun berpisah, sepuluh hari itu kami kembali berjalan, menari, dan berbicara tanpa henti.   Semua seperti terasa normal kembali. Beruntunglah mereka yang memiliki sahabat terdekatnya, yang sama sekali tidak terasa asing saat bertemu kembali setelah lama berpisah. Gypytoes masih anak yang bersemangat, lucu, dan pintar. Pada saat yang bersamaan ia pun masih tersandung di tangga atau mual di perjalanan bus malam dari Mysore ke Bangalore. Dari India saya kembali ke Jakarta sementara Gypsytoes pergi ke Taipei untuk sebuah urusan sebelum kembali ke Belanda. Namun empat bulan dari sekarang sahabat saya ini akan pulang ke Indonesia. Kali ini untuk menetap. Saat itu, di bulan Desember dimana Jakarta selalu tampak lebih indah, kami akan berjalan bersama lagi.

We walk, we dance, we write

Agustus 2010, Twosocks

comments 7

Merapi: Cerita dari Atas Awan

Sabtu pagi itu saya tiba di terminal Jombor, Yogyakarta, dan menunggu. Tak lama dua sosok yang mudah sekali dikenali itu tampak. Rambut keriting nan lebat Sinta dan tubuh jangkung Bastien. Hari itu kami bertiga sepakat untuk bertemu di terminal Jombor untuk melakukan perjalanan yang megah: mendaki puncak gunung Merapi.  Dari terminal Jombor kami naik bus jurusan Magelang turun di daerah Blabak untuk kemudian berganti angkot ke desa Telatar, lalu desa Jrakah, diakhiri menumpang pick up menuju kecamatan Selo. Walau berliku, perjalanan di pick up cukup menyenangkan karena angin yang sejuk dan pemandangan kebun tembakau yang menghijau di sepanjang jalan.

Pukul 3 sore di Selo, kami siap memulai pendakian.  Gunung yang terakhir kali meletus tahun 2006 lalu itu tampak menjulang menantang. Ransel sudah dipenuhi berliter-liter air, tenda, sleeping bag, senter, bahan makanan dan segala keperluan lain.  Ditemani pemandu setempat, mas Jarwo dan mas Trubus, kami mulai berjalan. Menapak naik melewati kebun-kebun tembakau, terus naik memasuki hutan, dan terus naik saat jalanan mulai berbatu.  Ransel kami yang menanggung beban air perlahan mulai terasa berat. Gunung Merapi memang tidak memiliki sumber air sehingga cadangan air yang cukup banyak musti disiapkan. Namun pemandangan menakjubkan yang seolah tak berhenti membuat kami lupa akan penat dan terus bersemangat berjalan ke atas. Tak terhitung berapa kali kami tertegun dan mengeluarkan suara-suara takjub. Kumpulan awan di bawah yang membuat kami seolah berada di negeri atas awan, pemandangan gunung Merbabu di kejauhan, hamparan hutan jauh di bawah, atau kumpulan bunga edelweis yang hanya tumbuh di pegunungan. Saat senja kemerahan, kami melihat matahari terbenam di balik awan sambil duduk di atas batu di sebuah tempat yang disebut Selokopo Atas. Sebuah tempat diatas awan.

Sore dari Selokopo Atas

Hawa mulai dingin saat hari perlahan gelap. Kami mulai mengenakan jaket dan terus berjalan menembus malam. Jalanan mulai lebih berbatu dan semakin terjal. Kira-kira kemiringan mencapai 50-60 derajat. Jauh di bawah tampak lampu-lampu kota Boyolali dan Magelang yang mulai menyala. Sinta tampak mulai kelelahan, napasnya mulai tersengal, tapi ia bertahan dan tetap menapak. Setelah empat jam mendaki kami sampai di hamparan lapang yang disebut pasar Bubrah. Konon pasar Bubrah ini adalah pasarnya para mahluk halus. Dedemit, memedi dan semacamnya tinggal di sana. Batu-batu di sana adalah tempat mereka berjualan dan berkehidupan. Tapi sudahlah, kami terlalu awam untuk hal-hal semacam ini. Jadi kami mencari sebuah batu yang cukup besar untuk melindungi dari angin kencang dan mulai mendirikan tenda. Setelah tenda didirikan kami mulai membuat api dan memasak makan malam. Mi instan adalah makanan paling enak di dunia. Ditemani teh hangat, kami para pendaki kelaparan ini, menikmati salah satu makan malam terbaik. Sebelum kantuk datang kami saling  berbicara tanpa henti. Saya pun sempat ngobrol banyak mas Marjo dan mas Trubus. Mereka sehari-hari adalah petani tembakau. Sepanjang malam mereka bercerita tentang kisah-kisah petani tembakau yang menakjubkan. Termasuk kisah ketika mas Marjo ditahan Polisi saat mencari bibit tembakau di Garut. Waktu itu ia membeli bibit dari seorang petani lain di sebuah desa di Garut, namun rupanya semua orang hanya boleh membeli bibit dari pengepul setempat. Membeli langsung dari petani adalah larangan dan untuk itu ia dibawa ke kantor polisi. Kami terus bertukar cerita, tentang anak-anak mas Marjo, tentang kisah-kisah pendaki Merapi, tentang macetnya jakarta, sampai kantuk datang dan kami tertidur. Angin dingin bertiup cukup kencang malam itu dan kami meringkuk dengan pulas di kantung tidur masing-masing.

Kemping di Pasar Bubrah

Pukul empat pagi kami sudah bangun dan mulai berjalan lagi. Terus mendaki dalam gelap, dingin, dan sedikit bau belerang menuju puncak Merapi. Kali ini medan yang dilalui lebih berat dan berbahaya. Kemiringan mencapai tujuh puluh derajat dan sedikit kesalahan dapat berakibat fatal. Dengan bantuan senter dan sisa cahaya bulan kami terus mendaki. Beruntung di sepanjang tebing selalu terdapat batu-batu yang kokoh untuk berpegangan atau berpijak. Saat berada dalam posisi yang cukup kokoh, beberapa kali saya melihat ke bawah atau ke kejauhan. Tampak lampu-lampu di kota Magelang dan Boyolali yang masih lelap. Setelah sejam mendaki akhirnya kami tiba di puncak merapi tepat menjelang matahari terbit. Dimanapun, matahari terbit selalu memberikan suasana yang ajaib. Menyaksikannya dari puncak gunung adalah keajaiban yang berkali lipat. Di antara angin yang berhembus dingin kami duduk di puncak Merapi menghadap ke timur. Melihat garis berpendar merah di kejauhan, yang kemudian berubah menjadi keemasan, sampai kemudian matahari sedikit demi sedikit muncul di balik awan. Bersama warna keemasan itu mulai tampak puncak gunung Merbabu, Sindoro, Sumbing, dan yang tertinggi gunung Slamet menyembul di balik awan di kejauhan. Saya teringat catatan perjalanan Soe Hok Gie yang menyebut puncak gunung Slamet sebagai ‘si Botak’. Asap dari kawah merapi yang masih aktif muncul di sisi-sisi yang berlainan.  Dan kami terus menatap takjub ke timur, diantara angin yang bertiup dingin. Negeri di atas awan, di sanalah pagi itu kami berdiri. Perasaan yang tak tergantikan.

Pagi hari dari puncak Merapi

Negeri Atas Awan

Saat matahari mulai meninggi kami turun. Membuat sarapan sebentar di tenda kami di pasar Bubrah, melipat tenda, dan berjalan turun. Seperti halnya perjalanan naik, saat turun pun kami tak henti dibuat kagum oleh alam yang dilalui. Jalanan berkarang yang malam sebelumnya kami lalui dalam gelap kali ini membentangkan keindahannya dengan gamblang. Pemandangan gunung merbabu di kejauhan, hamparan hutan dan jurang di bawah, semuanya tampak indah dari sisi yang berbeda dari saat kami naik sebelumnya.

Di Perjalanan Turun

Tapi perjalanan turun ini juga memberi tantangan yang lain. Setelah separuh jalan Sinta tampak sangat kelelahan. Kakinya gemetar dan tak kuasa diperintahnya. Setiap langkah dibuatnya dengan begitu berat. Sahabat saya ini, selamanya ia adalah pejuang yang tak kenal menyerah. Tapi kali ini ia telah mencapai ambang kekuatannya. Namun dengan keras kepala ia tetap tak menyerah. Dengan tertatih ia berjalan turun. Berkali ia harus turun dengan menyeret pantatnya. Dan Bastien, dengan penuh kasih sayang membantu menuntun Sinta. Beruntung beban di ransel sudah jauh berkurang dan karang-karang yang paling terjal sudah dilewati. Lewat tengah hari akhirnya kami semua sudah sampai di Selo untuk langsung kembali ke Jakarta. Gunung Merapi berdiri menjulang di belakang tampak makin menjauh. Walaupun lelah minta ampun, kami kembali ke Jakarta dengan senyum yang lebar luar biasa. Kami, para pendaki amatiran ini, sudah mencapai puncak Merapi.

Tim Merapi

Keesokan harinya saya berjalan ke kantor terpincang-pincang. Kaki rasanya mau lepas.

July 2010, Twosocks

comments 16

A Walk to the Past

Perjalanan kembali ke kota masa kecil selalu memberikan suasana yang melankolis. Ada suasana hati yang berbeda saat melihat kembali sudut-sudut yang menyimpan cerita masa kanak-kanak kita.  Bayangkan perasaan yang timbul saat menyusuri lagi jalanan yang dulu dilalui bersama pasangan cinta monyet kalian. Saat dengan malu-malu untuk pertama kalinya kalian bergandengan tangan. Bayangkan mengunjungi kembali sebuah pojokan tempat dulu kalian bersedih setelah dipukul oleh kakak kelas SD mu yang bengis. Beberapa tempat lebih berdebu dan letih sejak terakhir kalian melihatnya. Beberapa sudut lebih mentereng atas nama pembangunan.

Hampir empat belas tahun sejak terakhir kali saya berada di Singaraja, sebuah kota kecil di utara Bali. Kota yang membentuk masa kecil saya, orang-orang yang menciptakan aksen Buleleng saya yang kental.

Di Jl. Ngurah Rai, salah satu jalan utama kota ini, saya mampir ke SD Mutiara. Sekolah kebanggaan saya dahulu.  Bangunan yang sama, lapangan bermain yang sama. Dulu lapangan ini penuh dengan lubang-lubang kecil di tanah untuk anak-anak bermain gundu. Lubang-lubang itu tidak lagi bisa ditemui karena lapangan sudah di-paving. Sekolah sedang lenggang tanpa kegiatan, tapi saya sempat bertemu dengan Pak Wayan, sang penjaga sekolah. Selain kerut usia yang semakin jelas, ia masih Pak Wayan yang pendiam. Ia tidak lagi ingat siapa saya. Terlalu banyak anak dengan rambut terbakar matahari, berkelakuan tidak masuk akal, dan berbau keringat yang telah diurusnya. Dulu ia dan istrinya, Bu Nyoman, sering membantu saya menyeberang jalan. Bu Nyoman juga adalah orang yang membantu saat dulu saya panik karena untuk pertama kalinya hidung saya mimisan. Ia juga yang kerap membantu Aldo, kawan saya yang sering mencret di celana. Di sana, di bawah pohon sekolah, saya berbicara dengan Pak Wayan tentang guru-guru masa lalu saya. Banyak di antara mereka yang dengan penuh dedikasi melawan gerogotan usia dan masih mengajar. Ah, seandainya saya berkesempatan bertemu mereka lagi.

Sayapun sempat mampir ke rumah masa kecil saya di Jl Rajawali. Ibu Cidra, yang sekarang menempatinya adalah kenalan lama orang tua saya. Dengan senang hati beliau mengijinkan saya untuk kembali melihat sudut-sudut penuh kenangan itu. Di halaman belakang, walaupun dengan jaring yang sudah tiada, ring basket itu masih kokoh berdiri. Saya teringat betapa dulu saya sangat bahagia saat almarhum ajik (sebutan untuk ayah di Bali) membangunnya untuk saya. Dengan tangannya sendiri ia menyemen bidang di halaman belakang untuk saya menyalurkan energi berolahraga saya yang menggebu. Ring dengan  ukuran resmi 3,05m dan jaring yang gagah sekali. Jaring yang akan berbunyi wusss jika saya memasukkan bola dengan benar. Gambar-gambar masa lalu kembali muncul saat saya memandanginya. Sore-sore saat saya bermain basket dengan penuh semangat bersama ajik atau beberapa kawan sampai tiba waktunya ibu mulai sibuk menyuruh saya mandi. Saat saya memandangi ring basket ini kembali, saya berbisik kepada diri saya di masa kecil, ”it was a good game kid..”

Dan tentunya sayapun sempat bertemu beberapa kawan lama yang masih ada di kota itu. Salah satunya sahabat masa kecil saya, Oka Sanjaya. Sekarang ia adalah seorang ayah yang bahagia dan menjadi kepala cabang di PT PNM di sana. Masih seperti dulu, Keprut (demikian ia dipanggil) masih adalah sosok yang selalu yakin dengan apa yang dilakukannya dan selalu memastikan hal-hal terkontrol. Dulu saya selalu pergi kemana-mana mengendarai sepeda kebanggaan kami. Ajik dan Ibu selalu merasa tenang kalau saya pergi bersamanya. Bahkan saat kami terkadang keluyuran sampai malam di usia yang masih sangat belia. Dengan tubuhnya yang lebih besar, ia adalah anak yang dipercaya bisa menjaga saya. Dan dalam beberapa kasus memang demikian adanya. Suatu hari saya pernah dicegat dan ditantang berkelahi oleh seorang anak nakal di sekolah. Ia meyakinkan saya untuk berani dan melawan. Saya ingat ia berkata kurang lebih seperti ini, ‘Lawan gen gung, nyanan lamun kenken kenken, rage nguyeng jelemane ento’ (lawan saja, nanti kalau ada apa-apa, aku yang akan menghajar orang itu). Sepanjang senja kami ngobrol mengenang kebodohan-kebodohan masa kecil, kebebasan masa kanak-kanak.

The Sunset Kids

Perjalanan ke masa lalu selalu menciptakan perasaan melankolis. Seperti kata penulis Sam Ewing, When you finally go back to your old hometown, you find it wasn’t the old home you missed but your childhood. Gambar-gambar masa lalu akan muncul dalam gerak lamban yang hitam putih. Anak-anak yang melompat, bernyanyi, bermimpi, dan berlari ke sana kemari dengan rambut terbakar matahari. Untuk beberapa orang perasaan yang muncul adalah perasaan yang sedih atau traumatis. Tapi untuk kebanyakan orang termasuk saya, perasaan sentimentil saat melakukannya atau saat menuliskannya adalah perasaan yang indah sekali. Saya bahkan menemukan diri saya tersenyum-senyum sendiri saat menulis catatan ini. Beruntunglah mereka yang memiliki tempat-tempat masa lalunya.

Twosocks, June 2010

comments 2

World Cup Fever: Siempre Real Madrid

I have already shared that I am not a big soccer fan, yet I went to Camp Nou in Barcelona. I briefly compared the trophy gallery in Camp Nou with the one in Santiago Bernabeu as well as FC Barca’s achievements versus Real Madrid’s. I even spilled the beans on how The Human GPS cried upon seeing the Champions League trophies. Now, I am sharing with you the complete experience of my visit to Estadio Santiago Bernabeu, home of the Real Madrid, to honor the World Cup kick-off today!

Real Madrid!

It all started with The Human GPS being a very nice person. You see, the Human GPS, the Mean Girl, and I have been traveling together quite a few times and he never ceased to be nice. He went with me for a Before Sunset homage tour in Paris when others wanted to go shopping, he almost got arrested for carrying a knife in his backpack when we visited the UN headquarters in Vienna so we could have our Sacher torte, and he never asked for anything in return. So one day in Madrid, when we all wanted to do different things, I saw the twinkle in his eyes and decided that I would go with him to Santiago Bernabeu and only then visit the beautiful small town called Segovia a little outside of Madrid.

I knew that soccer fans are dedicated, but never realized how much a pilgrimage to a soccer stadium is a serious affair until that one fateful day. There was a tension in the Human GPS’ face muscles and a focus to his actions. The first order of business: buy a Real Madrid scarf. Only after that we could go inside.

Real's #1 Fan

Our tour started with an elevator ride that opened up to the top row of the stadium. It was a grey day when the wind was blowing very strongly, so that our hair was flapping about us and I felt like I was going to be swept off the railings and fell to the ground below. It was scary, but I made me ‘Wow’ out loud. There really was something grand and exciting about seeing the whole stadium, which seats 80,354 people, from up above. The Human GPS was quiet for a while, but then he got into action with his scarf and for once I acted as the photographer.

Best Club of the 20th Century!

We then descended to the Real Madrid museum, and the Human GPS narrated the team’s story to me. Real Madrid was found in 1902 and has since been at the top of Spanish football. Not only it is the richest and most successful club in Spain, it also holds the record for most wins at the Champions League and was crowned as the most successful club in the 20h century by FIFA in 2000. Although the current hype is all about Cristiano Ronaldo, Real has been the home of many of the world’s soccer legends, such as Ronaldo, Kaka, David Beckham, and one of my favorites, Zinedine Zidane. However, I believe that the true star of the team is Raul Gonzales, after spending most of my high school years listening to one of my then-closest friends, The Greenie Gonzales, marveling about his feats! She was right, actually. Raul is the top scorer of the team’s history, with 323 goals in 741 games. No wonder he has his shoe encrusted in gold and in top display!

Raul Gonzales' Golden Shoes

While the whole museum was very impressive and modern, the most jaw-dropping part is definitely its trophy room. As we walked through a corridor of trophies, Queen’s ‘We are the Champion’ welcomed us to the crux of the museum: the Champions League Trophy Gallery. Twelve silver cups (all replica, of course), nine champion cups and three runner ups, were lined in a transparent casing with a huge TV screen in the backdrop playing Real’s moments of glory. The song blared further, accompanied by the screams of celebration from the TV, and even I who never even watched a Champions League game was touched. I turned to tell the Human GPS how I felt, but I saw him standing in silence. He was staring at the Champions League trophies with tears in his eyes. For the first time ever, I saw the Human GPS cried!

The Champion League Trophies - Tearduct Triggers!

“I never thought this day would come,” he told me as he wiped his eyes. “I used to dream about being here when I watched all the games on TV and now I am finally here and it felt so surreal. You have no idea how much this means for a fan, how many people are so jealous for what we are experiencing right now.”

He was right. I had no idea until then, and although I found it interesting I doubt it meant as much for me as it would for a Real fan, like the Greenie Gonzales or the Human GPS. But I suppose I could make it more meaningful for the fans, so I let go of Segovia and took more photos of the Human GPS around the stadium, more photos of Raul for the Greenie Gonzales, and made some time to share the experience I had with you here at the Dusty Sneakers.

Soccer fans, enjoy the World Cup season!

Den Haag, 11 June 2010

Gypsytoes – of a trip in March 2010