Den Haag, Setelah Tujuh Tahun

Di malam bulan Desember yang dingin, yang anginnya membuat pipi terasa kebas, Maesy berjalan kaki menjauhi stasiun Den Haag Central sambil menangis. Ia bersedih karena hari-hari perkuliahannya di Belanda akan segera berakhir. Malam-malam tanpa tidur menjelang ujian, senda gurau tengah malam di kamar asrama bersama… Read More

15/5

Candice menyebut Milan Kundera saat saya bertanya padanya penulis yang ia rekomendasikan bagi pengunjung POST. “Tapi Candice, pembaca Kundera di Indonesia lumayan banyak, kok. Beberapa malah sudah diterjemahkan.” “Aduh, begini ya, jumlah pembacanya tidak akan pernah cukup. Ia sebagus itu,“ Candice berkeras. Jika penjaga toko… Read More

A Tale of Two Sundays

On a Sunday afternoon three weeks after I arrived in Bangalore, I found myself sitting in a tea house, feeling that, for the first time since I landed in India, I did not want to order masala chai. The tea house was the one in… Read More

Frere Lampier yang Menyalakan Lampu di Malam Hari

Sudah lewat tengah malam saat George Whitman berjalan tertatih di ruang tengah toko bukunya. Malam itu ia sulit tidur. George — yang rambut putihnya tergerai awut-awutan — berjingkat-jingkat di antara belasan anak muda yang tidur bergelimpangan, beberapa di antara mereka penulis petualang, yang lain pejalan… Read More

Selamat Pagi, Bayu

Saya katakan padanya bahwa besok kita akan berangkat pagi-pagi, dan jika ia susah bangun maka kami akan mengusap air ke wajahnya lalu memeloroti celananya. Agendanya asyik, mencari sarapan enak. Bayu — keponakan tujuh tahun saya itu– mengangguk-angguk dengan mata bening yang berkilat-kilat. Mengapa anak kecil… Read More

At the Onsen

If I was already blushing like a sakura when I untied my yukata, I am sure my face was as red as a freshly sliced tuna sashimi when I turned around and faced the breasts of a stranger. They were round with a narrow valley between them… Read More

Gaijin Penjual Buku Terakhir

Jika bukan karena toko buku, Dominic Jason Ward mungkin akan menghabiskan hari tuanya di pantai-pantai tropis dengan botol bir di tangan dan lagu-lagu Bob Marley yang diputar tanpa henti saat matahari terbit, matahari tinggi, matahari terbenam, bulan terang, dan bulan mati. Namun, lima belas tahun… Read More

Menyeberangi Danau yang Entah Dalam, Entah Tidak

Saat penulis Jhumpa Lahiri memutuskan pindah ke Italia, lalu menghabiskan setahun berbicara dan menulis hanya dalam bahasa Italia, tentu bukan semata karena kecintaannya akan bahasa baru itu. Bahasa Italia, untuknya, bukan bahasa yang harus dikuasai. Karenanya ia menarik, dan membebaskan. Berbeda dengan bahasa Bengali yang… Read More

A Letter for Toru

Dear Toru, I didn’t think of beauty when I first saw sakura in full bloom. I thought of you instead. We were shivering in our sweaters, unprepared for the biting cold of early spring in Tokyo and exhausted after a long train ride in the… Read More