comments 26

Kardus Lama di Kolong Tempat Tidur

Joni sedang berbicara dengan pelanggan toko sepeda motornya saat saya menghampiri. Wajah Joni, dua puluh tahun setelah terakhir kali kami bertemu, masih wajah yang saya kenal. Rambut cepak, sedikit bekas luka di alis dan jidat, dan mata sipit yang memandang dengan cara yang mengingatkan saya pada anggota triad di film-film Hongkong lama. Tubuhnya tidak seberapa tinggi, tapi liat. Kalau di organisasi hitam, ia adalah tangan kanan utama bos. Biasanya begitu. Jagoan bertubuh besar adalah anak buah kedua, anak buah utama bertubuh kecil tapi sadis. Saya memanggilnya saat pelanggan toko beranjak. Joni menoleh, memandang saya sebentar, lalu tersenyum. Kami masih saling mengingat. Mengingat persis. Ia memanggil nama saya dengan senyum lebar. Kami bersalaman lantas berpelukan. Setelah dua puluh tahun.

Kami kawan karib saat sama-sama di sekolah dasar. Dulu Joni jago berkelahi. Ia telah menjadi jago nomor satu SD Mutiara, bahkan saat masih di kelas lima. Suatu hari ia bertanya apa saya kepengin nonton film silat sepulang sekolah. Saya mengangguk. Ternyata aktornya dia sendiri melawan Wawan, anak kelas enam. Hanya saja ini bukan film, ini perkara sungguhan. Mereka adu tinju sampai beberapa orang dewasa memisahkan. Wawan menangis dengan hidung berdarah dan wajah sembab. Sementara Joni tak kurang suatu apa. Ia terengah-engah sedikit saja dengan tangan masih mengepal. Saya tak lupa adegan itu. Saat itu Wawan bukan yang terkuat di kelas enam, ada seorang penguasa lain di sana. Tapi tampaknya Joni tak perlu menantang penguasa kelas enam untuk menjadi jago nomor satu sekolah. Adegan itu sudah cukup membuat sang jago kelas enam gentar. Mungkin benar kata orang, ketakutan terkadang lebih mujarab. Saat itu jago kelas enam ada di antara penonton. Joni memandangnya dengan sikap yang masih siaga. Sang penguasa berpaling, tak kuasa beradu mata. Sejak itu SD Mutiara menjadi milik Joni.

Di SD kami punya geng bernama “Eagle Darling”. Saya tahu, saya tahu, jika kalian menganggap nama ini norak minta ampun, percayalah, kami pun tertawa geli jika sekarang mengingatnya. Saat memutuskan nama itu kami menginginkan dua hal, pertama, nama sebaiknya pakai bahasa Inggris agar terdengar keren. Kedua, ia harus gagah dan bikin gentar tapi sekaligus sedikit melankolis bagi kawan-kawan perempuan. Karena kualitas bahasa Inggris kami masih terbatas pada “this is a dog”, “where do you come from?” atau “I live at Jalan Rajawali”, kami kesulitan. Saat entah dari mana terbersit kata eagle dan darling, maka jadilah.

Saya, Joni, dan dua anggota lain, Prendi dan Putu Kuwir menganggap geng ini serius sekali. Kami bahkan punya baju seragam yang kami bikin sendiri di pekarangan samping rumah saya. Baju diambil dari kaos putih tipis polos dari seorang kawan yang mengambilnya dari toko alat olah raga milik bapaknya. Kami membuat tulisan “Eagle Darling” di atas kertas karton prakarya lalu melubanginya. Di atasnya kami semprotkan cat semprot warna hitam. Jadilah kaos kebanggaan kami. Lengan dirobek sedikit, atau dilipat agar terlihat macho. Saat itu kami hanya bocah SD dengan rambut terbakar matahari, tapi kami merasa seperti remaja yang boleh petantang-petenteng.

Kami kerap bersepeda keliling kota bersama. Kebut-kebutan, zig-zag, dan semacamnya. Joni yang pertama punya sepeda federal, sepeda yang paling mahal saat itu. Bapaknya cukup berada. Ia cukong SDSB di Singaraja. Kalian masih ingat? Ini semacam judi toto yang dananya diniatkan untuk memajukan olah raga. Kami beberapa kali mencoba meminta nomor SDSB dari Joni, tapi tak diberi. Bapaknya tak tahu menahu, begitu katanya.

Dari Joni pula saya tahu bahwa Prendi dan Putu Kuwir juga masih di Singaraja. Mereka semua sudah berkeluarga dan punya urusan masing-masing, tetapi sekali waktu mereka tetap kumpul-kumpul, minum bir, ketawa-ketawa. Joni menghubungi keduanya untuk menghabiskan sore bersama. Ada tamu jauh, kata Joni pada yang lain.

Itu sore yang panas di Singaraja. “Eagle Darling” berkumpul lagi. Prendi datang membawa satu kresek bir dingin. Tentu kami berbicara hal-hal dari masa lalu. Bersama Prendi saya mengingat bagaimana saat di kelas enam kami sama-sama naksir dua adik kelas cantik, Dina dan Dini. Mereka saudara kembar. Saat itu kami kebingungan memutuskan siapa di antara kami mengejar yang mana. Akhirnya diputuskan  Prendi mengejar Dini karena tubuh Dini lebih tinggi dari Dina, sama seperti tubuh Prendi yang lebih tinggi dibanding saya. Dasar pembuatan keputusan dibuat mudah saja.  Cinta kami bersambut, ternyata. Walau seperti cinta monyet lain, ia kandas begitu saja. Prendi berkata sekali dua ia pernah berpapasan dengan Dini di jalan. Dini juga masih ada di Singaraja, bekerja di Bank BRI. Kalau secara kebetulan bertemu mereka senyum-senyum lucu saja, begitu kata Prendi.

Putu Kuwir adalah yang paling nakal diantara kami. Ia dulu yang paling suka rewel tapi bermulut besar. Suatu kali saya pernah berkelahi dengannya. Untuk suatu sebab, Putu Kuwir diam-diam menjerat leher saya dengan meteran jahit dari belakang. Ia menarik leher saya sampai hampir sesak nafas. Sesudah itu kami baku pukul. Kami tertawa-tawa saat sekarang mengingatnya, meski kami sama-sama lupa apa penyebab persisnya.

Kami juga berbicara tentang hal-hal di masa kini. Soal Joni yang tekun mengurus toko sepeda motornya, soal Prendi yang tempo lalu gencar kampanye untuk kakaknya yang mencoba menjadi anggota DPRD tapi gagal, atau soal istrinya yang dulu adalah mayoret marching band di masa SMP, juga soal Putu Kuwir yang melakukan hal-hal yang dilakukannya.

Saat ini Putu Kuwir sekali waktu masih membandel. Ia punya usaha percetakan kecil-kecilan tapi masih rutin menghabiskan waktu di arena sabung ayam. Ia juga cari tambahan uang sana-sini. Misalnya, ia punya inisiatif membangun plang-plang iklan untuk disewakan di tanah-tanah kosong pinggir jalan. Ia kongkalikong dengan Dinas Pendapatan Daerah dan Satpol PP. Entah bagaimana ia mengurusnya, tapi ia bisa menyewakan iklan di tanah yang bukan miliknya. Uangnya lumayan, kisahnya.

Ia jenis yang licin. Setidaknya di dalam kepalanya. Beberapa bulan lalu Putu Kuwir mencoba memasukkan anak sulungnya ke SMP negeri terbaik di Singaraja. Karena nilai anaknya pas-pasan, ia melihat kesempatan kalau syarat masuk untuk siswa miskin lebih mudah. Entah bagaimana ia bisa punya surat keterangan miskin dan mendaftar di loket untuk orang tua siswa miskin. Sial nasibnya, atau mungkin hanya karena tidak berpikir panjang, muslihatnya mudah terbongkar. Singaraja adalah kota kecil yang cukup membuat namanya dikenal. Petugas menolaknya dengan alasan Putu Kuwir tidak miskin, ia punya usaha percetakan. Putu Kuwir marah-marah dan bilang usaha percetakannya banyak utang. Namun, walau ia marah-marah sepanjang siang, hasilnya nihil. Anaknya akhirnya masuk SMP yang, dalam istilah Putu Kuwir, kelas kambing.

Kami berbicara terus hingga hari mulai gelap dan saya harus kembali ke Denpasar. Ini pertemuan yang menyenangkan. Kami banyak tertawa di dalamnya. Sebelum berpisah kami berjanji untuk sekali waktu saling mengontak. Ini bukan reuni yang disengaja, sebetulnya. Saat itu saya sedang di Bali dan punya sedikit waktu berlebih lalu memutuskan putar-putar sendiri di utara Bali, kota masa kecil saya. Saya sudah hendak pulang ke Denpasar saat secara tak sengaja melihat Joni sedang berada di toko sepeda motornya.

Di perjalanan ke Denpasar saya mengingat pertemanan masa lalu ini. Saya tidak ingat persis kenapa selepas SD kami berempat tidak lagi bermain bersama. Mungkin karena saat SMP mereka mulai belajar kebut-kebutan naik motor, sementara saya masih naik sepeda saja. Entahlah. Dan bersama waktu, kami terus saja mengambil jalan sendiri-sendiri.

“Karena kau mainnya sama anak-anak kutu buku itu. Aku tak tahu musti omong apa kalau berada di sekitar mereka,“ begitu menurut Joni saat kami bicara tentang kenapa di SMP kami tidak sering bermain bersama lagi. Tapi entahlah, kami sama-sama tak ingat betul.

Mungkin memang begitu adanya. Saya berpikir betapa bersama umur, memori menjadi unit-unit yang begitu kecil yang menempati tempatnya masing-masing dalam kumpulan ingatan yang bertumpuk-tumpuk. Ia bisa indah, bisa sedih, tapi hidup berjalan terus. Perlahan waktu menjadikan sebagian besar memori menjadi minor. Ia berada di bawah bayangan ingatan lain, semakin tak signifikan, atau hilang betul. Hidup akan memilih mana yang akan kau pegang terus menerus, mana yang akan berbekas untuk waktu lama.

Joni, Prendi, dan Putu Kuwir pun begitu. Saat kami duduk bersama mengenang masa lalu, kami saling tertawa dengan gembira, sama-sama menganggap itu adalah kenangan pertemanan yang seru. Teman saat mulai kenal cinta monyet, teman saat mulai belajar nakal, teman saat lari-lari bertelanjang kaki. Namun tempatnya di sana, di masa lalu. Lebih tidak. Ia bukan sesuatu yang sengaja dirancang begitu, ia mengalir saja, menempati tempatnya. Dan sore itu, bersama-sama kami melihatnya barang sejenak dan bergembira akannya.

Saya terbayang sebuah kardus lama di kolong tempat tidur. Kardus yang menyimpan benda-benda masa lalu. Saat membukanya, kau akan memandang mainan-mainan, robot-robotan yang satu kakinya patah, foto-foto, surat cinta, coret-coret dari masa kecil lalu tersenyum haru akannya. Ia menghadirkan lagi gambar-gambar dari masa lalu yang akan kita kenang dengan indah. Namun setelahnya semua akan kau kembalikan ke dalam kardus, menutupnya dengan perlahan, dan menaruhnya kembali di kolong tempat tidur.

Dan hidup kembali berjalan.

 

Advertisements

26 Comments

  1. Namanya jalan hidup memang tak mesti berada dalam garis yang sama terus menerus. Kadang ia paralel, kadang ia menyatu, kadang ia paralel namun satu (atau beberapa) garis membelok sehingga pada satu titik, ia padu. Bagi saya, mungkin yang paling baik adalah kita masih saling tahu kabar masing-masing, sehingga tidak kaget jika sesuatu terjadi, atau ketika garis hidup seseorang terhenti :)).

  2. adieriyanto

    Kelihatan kok kalo kecilnya itu dirimu bandel hahaha. Masih ketawa aja, bikin nama gengnya unyuk sekali :))

  3. Hidup dan memori memang benar-benar memilih yah? Layaknya proses evolusi, yang kita perlukan menetap dan yang kita tidak perlukan melipir hampir hilang. Seperti biasa Ted, ceritamu menyenangkan. Benar-benar kutunggu karya bukumu itu loh.. sepertinya satu blog update tak pernah cukup.

  4. Waktu kecil menag suka berantem, tapi aku nggak punya geng. Pokoknya satu RT itulah anggota geng kami, kalo sore main bola sambil sepedaan merek RRC hahhahaha

  5. Ariesusduabelas

    Menyenangkan membacanya. Dulu, ketika SD, saya juga punya geng, “The Gang V” namanya. Rupanya gelagat geng ini diwariskan ke adik saya yang sekarang. Hahahaha.

  6. Rifqy Faiza Rahman

    Saya, semasa sekolah dasar, malah jadi sasaran bully.Karena sudah pernah cengeng, ketika berusaha sok kuat, tetap dibully hahaha 😀

    Dan ketika kembali bertemu di masa dewasa, kami hanya tertawa mengingat kejadian-kejadian semasa dulu. Tapi unik 🙂

  7. Cerita mu menarik saya sejenak ke kardus yang juga saya punya. Sekedar beristirahat dari tumpukan tanggung jawab di masa yang jauh dari isi kardus itu. Banyak narasi pendek dan jenaka ternyata di dalamnya.. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s