comment 0

Menyelipkan Tari di Salihara

Tiga orang pemburu tersesat di tengah hutan yang garang. Mereka letih, lapar, dan berada di ambang keputusasaan. Mereka melolong, meratap, dan mencari titik-titik harapan. Jalan pulang, makanan untuk menyambung hari, apapun. Oh, betapa riang hatinya saat diantara lebatnya kayu-kayu hutan, tampak sebuah rumah makan. Mereka melonjak riang lantas menghambur ke dalamnya. Namun rumah makan ini sedikit aneh, untuk mendapatkan makanan mereka harus mengikuti beberapa instruksi tertulis.  Dengan patuh ketiga pemburu ini mengikuti segala instruksi tersebut. Sampai akhirnya mereka tersadarkan, alih-alih mendapatkan makanan yang sangat didamba, mereka bertigalah makanan yang akan dihidangkan untuk sang pemilik rumah makan, seekor kucing liar.

Saya, Gypsytoes, dan seorang kawan dekat, Najib, tak bergerak menikmati pertunjukan tari di Teater Salihara ini. Pertunjukan yang mengaburkan batas-batas manusia dan hewan. Pertunjukan yang menciptakan situasi di mana manusia tidak lagi dalam posisi pemegang kendali. “Restaurant of Many Orders” demikian judul pertunjukan itu. Sebuah adaptasi  dari novel Jepang karangan Kenji Miyazawa. Selain menyukai kesuraman dalam ceritanya, kami bertiga terutama begitu mengagumi tarian yang dimainkan ketiga tokohnya. Pertunjukan ini hanya dibintangi tiga penari asal Jepang yang secara konstan bergerak selama satu jam. Mereka menari, melompat, melenguh, terjengkang, dan terus bergerak dengan begitu liar menyampaikan jalan ceritanya. Terus menerus. Selama satu jam. Silih berganti berperan sebagai pemburu ataupun hewan pemangsa. Mereka mempertunjukkan sebuah koordinasi gerak yang luar biasa. Ada sebuah adegan dimana dua penari duduk bersebelahan, begitu bernafsu menyantap makanan yang terhidang, saat salah satu dari mereka tiba-tiba hendak merebut makanan sang kawan. Dalam sepersekian detik adegan, usahanya mengambil makanan dihentikan dengan ancaman pisau yang tepat berada beberapa millimeter saja di dekat leher sang kawan. Tanpa menoleh, tanpa aba-aba. Tentu adegan ini perlu koordinasi yang baik sekali. Lantas  mereka kembali menari. Dan menari. Selama satu jam.

Sungguh mereka begitu liar. Begitu bebas. Begitu mencintai apa yang sedang dilakukan. Mungkin karya tari ini juga coba menyampaikan hal-hal lain yang luput dari penangkapan kami, namun apa yang terlihat telah cukup memancing kami bertepuk tangan sambil berdiri penuh salut.

Gypsytoes dan saya adalah dua manusia awam yang sering tidak memahami karya-karya seni secara mendalam. Kerap dalam pertunjukan teater atau tari kami akan bertanya-tanya, tadi itu ceritanya apa ya? Apa ya pesan yang hendak disampaikan? Dan sejenisnya. Pada saat yang sama di Salihara juga sedang diselenggarakan pameran karya instalasi oleh Entang Wiharso. Tentu kami jauh dari mengerti tentang apa yang hendak ia sampaikan. Saat mata awam kami hanya melihat instalasi logam dan patung, Entang sebenarnya berbicara mengenai dunia yang begitu terbuka, yang tak lagi ditutup oleh berbagai batasan-batasan. Dalam sekali. Jauh dari jangkauan kami.

Terlepas dari ketidakmengertian kami akan makna sejati karya Entang, dan juga banyak karya seni lain, kami selalu mengagumi hal-hal yang dilakukan dengan penuh cinta. Hal-hal yang merangsang keliaran berpikir dan berlaku. Hal-hal yang mengedepankan kebebasan, yang merayakan kreativitas.   

Dan Salihara adalah tuan rumah untuknya.

Ia adalah tempat berkumpulnya para penggiat teater, sastrawan, koreografer, arsitek muda, pecandu filsafat, pembaca buku, aktivis keberagaman, dan mereka yang terkagum-kagum akan kebebasan berekspresi. Konon mereka bercita-cita untuk dapat memelihara kebebasan berpikir, menghormati keberagaman, dan menumbuhkembangkan kekayaan artistik serta intelektual.  Maka terhadirkanlah puluhan kegiatan kesenian tiap tahunnya. Mulai dari pertunjukan teater, musik, diskusi buku, diskusi filsafat, pemutaran film,pameran senirupa, dan banyak lagi.

Walaupun kami sudah cukup sering bermain di Salihara, saat memasuki pelatarannya kami masih selalu terkesan oleh suasana kreatif yang diciptakannya. Kedainya yang dipenuhi pembicaraan para penggiat seni, panggung teaternya yang kecil dan ramah, panggung atas atap dimana kita bisa melihat pementasan dengan latar belakang lampu-lampu kota Jakarta, galerinya yang dipenuhi karya indah, sampai berbagai sudutnya yang mengundang orang untuk sekedar duduk dan berdiskusi. Bahkan toiletnya pun memberikan kesan yang berbekas dengan kalimat menggelitik yang tertulis di depannya. Malam itu kami kembali menjelajahi sudut-sudutnya dengan bergairah. Walaupun kesenian yang ditampilkannya tidak selalu kami mengerti atau nikmati, atau diskusi yang diadakannya tidak selalu dibawakan dengan menarik, kami selalu menaruh hormat akan tempat ini. Sebuah tempat di Jakarta yang senantiasa merangsang dan menempatkan kreativitas di posisinya yang tinggi.  Saat kemonotonan begitu menggurita di kota yang berusia lanjut ini, sebuah sudut kecil di Pasar Minggu menyediakan sebuah alternatif untuk melepas dahaga akan kreasi. 

Malam itu diakhiri dengan kami menemukan sebuah studio tari yang tidak terkunci di salah satu sudutnya. Kami mengendap masuk dan mulai bermain-main. Sungguh atmosfer tempat ini bisa merangsang spontanitas setiap orang. Apalagi untuk saya, yang sering merasa spontan cukup dengan berada di sekitar orang berambut gimbal. Malam itu, saat menyelinap ke studio tari yang kosong itu, kami menari-nari dengan girang. Melompat, bersalto, berkhayal, dan tertawa-tawa seperti kanak-kanak.

Sebelum pamit, mari mengakhiri catatan ini dengan sedikit melihat bagaimana kami menyelinap untuk menyelipkan sebuah tari di Salihara, dan dengan tidak tahu diri merusak koreografi lagu La Prima Estate karya Erlend Oye.

Jakarta, November 2013

Twosocks

 

P.S.: foto pertama di catatan ini diambil dari koleksi Komunitas Salihara

P.P.S: Komunitas Salihara dapat dikunjungi di Jalan Salihara 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan dan kalender dwibulan kegiatan mereka dapat dilihat di situs salihara.org

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s