comments 9

Jayapura: Orang Pintar, Orang Mabuk, dan Kopi Prima

Minggu lalu saya ke Jayapura. Karena ini urusan pekerjaan, dan itupun hanya di Jayapura, saya tidak benar-benar bisa putar-putar. Biarpun begitu, di jalan dari bandara Sentani sudah tampak betapa pulau ini indah dengan bukit-bukitnya, atau betapa danau Sentani tampak sangat menyenangkan untuk sekedar melamun. Tapi hal yang selalu menarik dari semua perjalanan adalah orang-orang yang ditemui.  Ada Pak Julius, kawan asli Papua, yang mengurusi program Bantuan Operasional Sekolah di Diknas propinsi Papua. Ia agak pemalu dan santun. Sudah dua puluh sembilan tahun di Diknas, dia mengaku belum bosan. Kerjanya senyum-senyum saja dan mengaku masih kepingin belajar banyak.  Jika kalian adalah perempuan yang mudah gemas, pasti kalian akan ingin cubit-cubit bapak kita ini. Ada pula Pak Paul, juga asli Papua, tepatnya Manokwari. Dia ini wakil kepala Dinas Pendidikan Papua. Pendiam , pintar, dan sangat tajam. Ia sangat mengerti tentang  apa yang dikerjakannya.  Selain pintar, Pak Paul ini juga agak seram. Jadi kalau hari gini masih ada yang berpikir PNS, apalagi orang Papua, pasti dungu sebaiknya mereka bertemu Pak Paul untuk sekedar digebuk olehnya.

The hamokwarong brothers

The Hamokwarong brothers

Satu lagi tentang Jayapura, jika kalian berputar-putar di sana pasti kalian akan bertemu pria mabuk di sembarang jalan. Bahkan siang hari. Di suatu sore saat saya sedang duduk sendiri di Pantai Dok-Dua, ada dua orang mabuk yang datang minta rokok. Saya tidak punya rokok tapi akhirnya kita ngobrol-ngobrol saja sambil melihat laut.  Mereka adalah kakak beradik  Hamokwarong.  Joseph Hamokwarong sang kakak ternyata sangat suka bicara. Ia cerita tentang kakeknya yang dulu teman Bung Karno saat bapak bangsa ini diasingkan di Digoel. Kemudian cerita berlanjut tentang Bung Karno yang dulu mengajarkan tentang pertanian dan nilai-nilai kesetaraan pada orang Papua. Mungkin ia agak lupa, Bung Karno tidak pernah diasingkan ke Boven Digoel. Hatta dan Sjahrir lah yang dulu terbuang ke sana. Ah sudahlah. Saat si Joseph mulai tambah mabuk, ceritanya mulai berkembang tentang bahwa burung garuda (lambang Negara RI) sebenarnya berasal dari Papua.  Ia berasal dari tokoh Papua legendaris bernama Babu Tharek yang sangat sakti dan bisa merubah rubah dirinya menjadi manusia dan burung. Si Babu Tharek inilah yang menginspirasi Soekarno untuk bikin garuda jadi lambang negara. Hebat sekali. Jika si kakak sangat gemar bercerita, si adik kerjanya cuma bertanya-tanya apa saya punya rokok atau tidak. Begitu berulang ulang. Saat saya tanya kenapa mereka siang-siang sudah mabuk, dia bilang gara-gara tadi dia bertemu dua orang kawannya. “Kalau ketemu kawan lebih dari satu ya kita mabuk saja” begitu katanya.

Selain orang-orang ajaib tadi, satu lagi khas Papua yang saya coba. Papeda. Ini adalah makanan khas orang sini. Dibuat dari semacam tepung sagu yang direbus atau entah apa. Dimakan paling enak dengan Ikan berkuah kari.  Untuk orang sakit flu ataupun malaria, makanlah Papeda ini panas-panas sampai lidah hendak melepuh. Setelah Papeda sampai di perut, kalian akan mulai kepanasan dan keluar banyak keringat. Tidak lama kalian pun akan sembuh dan bisa berlari macam kuda. Saya coba makan papeda di restoran dapur papua di pinggir danau Sentani. Dua sendok saja saya sudah trauma. Rasanya macam makan lem!

Papeda!

Papeda!

Tapi satu yang musti dicoba di Jayapura ini adalah kopi Sari Prima! Kopi Arabika ini ditanam di Wamena sana. Sungguh kopi ini enak! (Bahkan bagi saya yang bukan penggemar kopi.)  Mereka ditanam orang Wamena sama sekali tanpa pupuk kimia dan pestisida. Ini bikin kopi ini jadi tambah enak. Kata kawan disini, Starbucks baru saja beli kopi ini. Katanya USAID menjembatani petani untuk langsung menjual kopinya ke Starbucks jadi para petani tidak dirugikan. Kata Sheila, teman perjalanan saya, mata saya berbinar-binar sekali saat ia mengajak saya minum kopi ini lagi di hari terakhir kita di Jayapura.

Jakarta, Agustus 2009

Twosocks

Advertisements

9 Comments

  1. ria

    ah harusnya abang bawa lah kopi tu pulang buat dicoba orang2 di sini yg tidak seberuntung abang dapat ke papua ^^

  2. dustysneakers

    Hi Ria, Sebenarnya sempat bawa beberapa kopi Sari Prima dari sana, tapi orang2 kantor menghabisinya dengan kalap! hahaha semoga suatu hari kopi prima membanjiri Jakarta dan petani2 di Papua jadi kaya macam Sultan!

  3. Sochib

    sudah lama aku baca kopi wamena tapi blm pernah coba. Sudah tanya sana sini tapi susah banget dapetnya..

    • dustysneakers

      yah, memang sekarang cuman bisa dapatnya di papua doang. semoga segera bisa beredar lebih bebas jadi bisa minum sambil lihat hujan di jakarta

      • Roy

        Teman Teman, akhirnya kopi sari prima sudah ada tu di Jakarta. Kemaren lagi belanja di hero dan giant hypermarket….waaaa Sari Primaaaaaa…..Agaknya si baru masuk di Jakarta tu. Selamat deh untuk kopi Papua.

    • dustysneakers

      Yap, betul sekali Sen2! thanks infonya. saya ini tukang jalan dan memakan apapun itu tanpa pake mikir hahaha. kecuali tumis kangkung, belakangan ini saya sok2 belajar masak dan bikin kangkung, biarpun rasanya terkadang ancuurr!!

  4. Sen2

    Semua dimulai dr belajar kan?tulisannya bagus,terus berkarya ya,kl mo jalan sekitar jogja,silahkan kontak,barangkali bs bantu ksh info.trims

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s