comments 9

Vacation Banalities: Everyday Conversations and blah blah blah

Kami selalu menyukai suasana Jakarta saat Idul Fitri. Saat ia lengang dan tidak hiruk pikuk. Saat langit tampak lebih biru. Gypsytoes dan saya senang untuk berjalanan di jalanannya yang lenggang, makan pancake di sebuah kedai di Sarinah, pindah minum kopi di jalan Sabang, dan duduk membaca. Semua lengang, semua tenang.  Pergi keluar kota di hari lebaran selalu menjadi pilihan terakhir kami. Saya selalu mengambil cuti pulang ke kampung halaman sekitar dua minggu setelah Lebaran. Dengan begitu saya tetap bisa menikmati lengang Jakarta, tetap bisa menemui keluarga, dan dengan harga tiket yang telah jauh menurun. Namun di Lebaran kali ini ada yang sedikit berbeda, sebuah agen pariwisata menawarkan kami tiket gratis pulang pergi ke Bali tepat di hari lebaran. Tidak lama untuk saya dan Gypsytoes memutuskan untuk mengambilnya. Sedikit perubahan tidaklah mengapa. Dan ini Bali. Gratis.

Dan disinilah kami, berjalan di sepanjang garis pantai Seminyak, melihat matahari terbenam dan memperhatikan mereka yang merayakan keindahannya. Memperhatikan seorang nenek dan dua perempuan muda yang berfoto dengan membentuk posisi piramida cheerleader, sepasang ibu dan anak yang bermain tenis pantai,  pria yang berlari bersama anjingnya, anak-anak yang membangun istana pasir, dan tentunya, mereka yang melamun memandang ke barat. Melihat matahari terbenam membuat saya teringat cerita pendek Seno Gumira berjudul “Sepotong Senja untuk Pacarku”. Cerita tentang seorang pria yang mengiris merahnya senja lalu berlari memberikannya kepada sang kekasih sehingga ia bisa menikmati senja kapanpun ia mau. Kami juga berjalan melewati bar Ku de ta yang tersohor dan terlalu mahal itu. Melihat orang-orang menikmati minuman diantara dentum musik dan kekaguman akan matahari terbenam. Tidak jauh dari bar itu, sekelompok pemuda juga menjual aneka minuman dalam kotak es.  Banyak yang memilih untuk membeli minuman dari mereka dan duduk berselonjor di pantai depan Ku de ta. Dengan begitu mereka mendapatkan musik yang sama, bir yang sama, pantai yang sama, matahari terbenam yang sama, dan harga yang tentunya jauh berbeda. Ini adalah perayaan matahari terbenam. Menyenangkan berjalan di antaranya sambil memandang ke barat.

celebrating sunset

Kami terus berjalan sampai hari gelap dan memutuskan untuk duduk di sebuah pub pinggir pantai. Bersantai mendengar musik yang agak lembut dan suara ombak. Untuk merayakan liburan gratis ini kami menyepakati untuk minum sedikit cocktail. Tentu yang termurah dan dengan kesepakatan patungan yang adil. Dan itulah yang kami lakukan, duduk, mendengar ombak, melihat mereka yang lalu lalang, dan berbicara ke sana kemari. Tentang orang-orang gereja Pantekosta, tentang lagu yang akan diputar sebagai pengiring jika suatu hari saya meninggal, tentang pilkada DKI, tentang ajaibnya judul film-film horor Indonesia (judul-judul seperti “kok Setannya masih Ada?” atau “Pocong Kesurupan” yang  menurut kami jenaka sekali), dan banyak lagi. Kami juga melakukan beberapa kegiatan remeh yang menghibur.   Saat mengamati orang-orang yang lewat kami meng-google: How to tell if a woman is crazy.  Beberapa jawaban membuat kami mengangguk-angguk takjub ataupun tersenyum geli, misalnya,  jika ia memiliki rambut yang luar biasa panjang atau jika ia memilih partai Republik. Semakin malam pembicaraan semakin kesana kemari dan remeh temeh. Namun demikian, Gypsytoes mencoba mengimbangi dan memberi sedikit makna dengan sedikit bahan yang intelek. Ia bercerita bagaimana web 2.0 menghantarkan serangkaian perubahan sosial di berbagai sudut dunia. Tetapi ini tak berlangsung lama, sekejap kemudian ia sudah meracau soal runyamnya pernikahan Kim Kardhasian dan bagaimana ia berakhir dengan Kanye West. Gypsytoes masih berusaha,  ia mencoba mengajak berdiskusi mengenai paper yang sedang ia susun. Paper berjudul Subversive Banality: Everyday Politics and blah blah blah (Janganlah bertanya ini tentang apa, sudah berkali-kali saya tertidur setiap ia coba menjelaskannya). Namun inipun tak berlangsung lama, beberapa saat kemudian ia mulai melihat-lihat situs gosip selebritas. Begitulah, kami terus berbicara tentang segala hal. Tak banyak hal mendalam yang kami bicarakan. Hanya hal-hal ringan. Tentang bayi-bayi yang menangis di pesawat, tentang buku “Perahu Kertas” nya Dewi Lestari yang baru difilmkan, tentang kawan-kawan dekat. Apalagi, sedikit cocktail sudah cukup untuk membuat Gypsytoes berkunang-kunang dan meracau kesana kemari.

Lewat tengah malam kami beranjak dengan sedikit pening dan mengantuk. Sebelum tidur kami bersepakat untuk bangun pagi-pagi dan melihat matahari terbit. Tentunya kami tahu ini omong kosong belaka. Dan begitulah adanya, kami terbangun saat matahari sudah tinggi. Tapi itu tidaklah mengapa. Hari memang hendak dilanjutkan dengan bermalasan saja. Beberapa liburan memang diisi dengan semangat yang begitu menggebu; begadang semalaman, bangun pagi melihat matahari terbit, trekking ke hutan, berenang tanpa lelah, dan banyak lagi. Namun ada liburan-liburan yang diisi dengan hanya bermalas-malasan dan melakukan hal-hal remeh. Kali ini mood kami memang sedang untuk yang kedua. Sedikit bermalasan mungkin baik sebelum kembali ke Jakarta yang hiruk pikuk.

Catatan ini saya tulis di pelataran bandara Ngurah Rai Bali, saat kami menunggu pesawat ke Jakarta yang tertunda tiga jam. Bandara dipenuhi mereka yang hendak kembali ke Jakarta. Wajah-wajah yang tersegarkan. Sampai akhir Minggu ini Jakarta mungkin masih akan agak lengang sebelum benar-benar bangkit dalam gegap gempitanya. Minggu depan ia akan kembali berdenyut, klakson akan mulai disemburkan, debu akan mulai beterbangan, dan si nyonya tua benar-benar bangkit kembali. Saat itu saya dan Gypsytoes akan menjadi titik mungil di sebuah sudutnya. Selamat Idul Fitri dan selamat datang kembali di Jakarta kawan-kawan, semoga hal-hal masih selalu baik dan menyenangkan.

Twosocks, Agustus 2012

Judul terinspirasi dari judul paper Gypsytoes yang tak kunjung saya mengerti itu: Subversive Banality: Celebrities and The Politics of Everyday Practice in Web 2.0

About these ads

9 Comments

  1. Rya

    Di Bali, sunset, obrolan yang asyik, dan gratis! enak bener siih! Nice writing!

  2. Beginilah selayaknya liburan itu….”bermalas-malas ria”… hahaha !
    Maaf lahir batin ya Gypsytoes … biar “topik” lo di cuekin yg penting tetap Keren.. Hahaha.. Cheers :-))

  3. Pingback: VACATION BANALITIES: EVERYDAY CONVERSATIONS AND BLAH BLAH BLAH | GO Experience

  4. dustysneakers

    Ola Rya, Camidhonk dan Gan! Yap Sunset dan teman ngobrol yang menyenangkan selalu adalah paket yg lengkap. Oh, dan gratis pula haha maaf lahir dan bathin juga ya guys

    Oh dan Camidhonk, Gypsytoes tidak dicuekin, karena kalo dicuekin dia nabok. haha

  5. Teddyyyyyyyyyyyy, tulisanmu selalu unik!!! Good job broderrrrrrrrr…
    Salam kenal buat Gypsytoes-mu ya… Kutunggu kabar baiknya ;)

  6. dustysneakers

    Ola Ketty! Thanks ya! Ngomong2 soal kabar baik, setiap hari selalu ada kabar baik kok :) Misalnya, akhir bulan ini kami mau ke Tanjung Puting liat monyet dan tidur di klotok!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s